Chapter Thirty
Bab 30 — Kali Ini Nggak
POV: Ryan
Evan pergi pukul sebelas lewat.
Dia berdiri di teras, di antara tiga pot anggrek, dan menatapku lama sebelum pergi. Dia tidak memelukku seperti di apotek Gilang. Dia tidak bilang maaf lagi. Dia hanya bilang, “Kalau kamu mau mukul aku, aku di apartemen. Nggak ke mana-mana.” Lalu dia berjalan ke gang, memutari gerobak bakso Pak Kasim, dengan bahu yang turun dan langkah yang lambat.
Aku menutup pintu.
Di ruang tamu, Ibu duduk di kursi rotan dengan sendok kayu masih di tangan. Dia tidak bergerak sejak Evan bilang biaya rumah sakitmu. Dia menatap rak kaca di pojok, penuh medali yang berdenting tadi waktu Nadira menabrak raknya.
Nadira berdiri di dekat jendela. Tangannya masih mengepal.
Aku mengambil kunci Si Lumut dari meja.
“Kamu mau ke mana?” tanya Nadira.
“Cikini.”
Dia berbalik. Menatapku. “Ngapain?”
“Ketemu Kenzo.”
“Ngapain, Yan?”
Aku menatap kunci di tanganku. Gantungan akrilik berbentuk peta Pulau Jawa. “Bilang ke dia nggak apa-apa.”
Nadira tidak bergerak selama tiga detik. Lalu dia berjalan melintasi ruang tamu dalam empat langkah dan berdiri di depan pintu. Punggungnya ke pintu. Kedua tangannya terbentang, memegang kusen di kiri dan kanan.
“Nggak,” katanya.
“Nad—”
“Kamu mau nyetir ke Cikini, terus masuk ke kafe tempat dia kerja, terus bilang ‘nggak apa-apa’ ke orang yang ngancurin kakimu. Iya?”
“Dia tujuh belas waktu itu.”
“Aku tahu dia tujuh belas!” Suaranya naik. “Aku dengar, Yan! Aku dengar semuanya! Aku juga kasihan sama dia! Aku juga ngebayangin anak SMA mabuk yang ketakutan dan bapaknya bilang dia nggak lihat apa-apa! Aku juga ngebayangin dia di kamar mandi!” Dia menarik napas. “Tapi itu bukan alasan buat kamu nyetir ke sana sekarang dan nanggung ini juga.”
“Aku nggak nanggung apa-apa.”
“Kamu selalu nanggung.” Matanya terbakar. “Itu yang kamu lakuin. Lima tahun. Kamu nanggung kakimu sendiri. Kamu nanggung malam itu sendiri. Kamu nanggung Evan yang ngerasa kayak maling, kamu nanggung Zaza yang nyimpen janji, kamu nanggung aku yang sayang orang yang salah. Dan sekarang kamu mau nanggung Kenzo juga. Kamu mau datang ke dia dan bilang ‘nggak apa-apa’, biar dia nggak ngerasa bersalah, biar dia bisa tidur. Terus kamu pulang dan kamu yang nggak bisa tidur.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Kali ini nggak, Yan,” katanya, lebih pelan. Tangannya masih memegang kusen pintu. “Kamu selalu nanggung sendiri. Kali ini nggak.”
“Le.”
Ibu. Dari kursi rotan. Suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat aku dan Nadira sama-sama menoleh.
“Duduk,” kata Ibu.
Aku menatapnya. Dia tidak menatapku. Dia menatap rak kaca.
“Duduk, Le. Dengerin Ibu.”
Aku duduk. Di kursi rotan di depannya. Kunci Si Lumut masih di tanganku.
Ibu meletakkan sendok kayu di meja. Pelan. Di atas taplak renda, di sebelah piring kue sus yang tidak disentuh siapa pun.
“Ibu sujud syukur,” katanya. “Di musala rumah sakit. Waktu kasirnya bilang lunas. Ibu sujud lama. Ibu nangis. Ibu bilang ke Allah, terima kasih, terima kasih, Ibu nggak tahu harus bayar pakai apa, rumah ini aja belum lunas, terus tiba-tiba lunas semua.” Suaranya bergetar. “Ibu cerita itu ke Bu Darsih. Ke ibu-ibu pengajian. Ke Bu Lurah. Lima tahun, Le. Lima tahun Ibu cerita ke semua orang soal keajaiban di rumah sakit Bandung.”
Aku menatap tanganku.
“Ternyata itu bukan keajaiban,” kata Ibu. “Itu uang. Dari orang yang nyembunyiin mobil yang nabrak anak Ibu. Biar Ibu nggak nanya.”
“Bu—”
“Ibu belum selesai.”
Aku diam.
Ibu akhirnya menoleh. Matanya merah. Bukan merah karena menangis. Merah karena sesuatu yang lain, sesuatu yang belum pernah kulihat di mata Ibu, bahkan waktu Bapak meninggal.
“Kamu mau ke Cikini bilang nggak apa-apa ke anak itu,” katanya. “Silakan. Itu hakmu. Kamu yang ditabrak. Kamu yang boleh maafin.” Dia menunjuk dadanya sendiri, di atas celemek bebek. “Tapi Ibu juga punya hak, Le. Ibu yang bolak-balik naik kereta empat bulan. Ibu yang tidur di kursi rumah sakit. Ibu yang lihat kamu belajar jalan lagi pakai tongkat. Ibu yang sujud syukur buat uang tutup mulut.”
Dia berhenti. Menarik napas.
“Ibu mau bapaknya datang ke sini,” kata Ibu. “Ke rumah ini. Duduk di kursi itu.” Dia menunjuk kursi rotan yang tadi diduduki Evan. “Dan bilang sendiri ke Ibu. Pakai mulutnya sendiri. Bukan lewat yayasan. Bukan lewat kasir.”
Aku menatap Ibu.
Lima tahun. Lima tahun aku memutuskan apa yang boleh dirasakan semua orang. Nadira. Evan. Zaza. Aku memutuskan bahwa diam adalah yang terbaik. Bahwa menanggung sendiri adalah bentuk sayang yang paling benar.
Aku tidak pernah memikirkan Ibu.
Aku tidak pernah memikirkan bahwa diamku juga diam untuk Ibu. Bahwa Ibu juga punya cerita di malam itu. Bahwa Ibu juga berhak tahu siapa yang membayar kasir di rumah sakit Bandung.
“Maaf, Bu,” kataku.
“Ibu nggak minta maaf dari kamu, Le.” Ibu mengulurkan tangan dan mengambil kunci Si Lumut dari tanganku. Pelan. Seperti mengambil mainan dari tangan anak kecil yang tertidur. “Ibu minta kamu jangan pergi ke Cikini hari ini.”
Ponselku bergetar di saku.
Evan: Yan. Aku udah telepon Papa.
Evan: Aku bilang aku mau ngomong sesuatu di makan malam Minggu.
Evan: Aku nggak bilang apa. Aku cuma bilang ada tamu.
Evan: Kalian datang ya. Kamu sama Nadira. Jam 7. Menteng.
Evan: Aku yang ngomong di depan Papa. Bukan kamu. Bukan Kenzo. Aku.
Evan: Ini yang harusnya aku lakuin lima tahun lalu.
Aku menunjukkan layar ponsel pada Ibu. Dia membacanya. Lalu dia menatapku.
“Ibu ikut?” tanyaku.
Ibu diam lama. Lalu dia menggeleng.
“Ibu nunggu di sini,” katanya. “Ibu nggak mau ke rumah orang itu. Ibu mau orang itu yang ke rumah Ibu.” Dia meletakkan kunci Si Lumut di meja, di sebelah sendok kayu. “Kalau dia orang baik, dia bakal datang. Kalau dia bukan orang baik, Ibu nggak mau duduk di meja makannya.”
Dia berdiri. Dia berjalan ke dapur. Di pintu dapur, dia berhenti dan menoleh pada Nadira, yang masih berdiri di depan pintu depan dengan tangan di kusen.
“Nduk,” kata Ibu. “Makasih udah ngehalangin pintu.”
Nadira menurunkan tangannya. Pelan.
“Sama-sama, Bu.”
“Anak Ibu itu dari kecil begitu,” kata Ibu. “Kalau ada yang sakit, dia yang lari duluan. Kalau ada yang salah, dia yang minta maaf duluan. Kalau ada yang harus ditanggung, dia yang ambil duluan.” Dia menatapku. “Ibu nggak pernah bisa ngehalangin dia. Ibu terlalu sayang.”
Dia masuk ke dapur. Pintunya tidak ditutup.
Nadira dan aku duduk di teras.
Sore. Gerobak bakso Pak Kasim sudah buka. Bau kaldu dan bawang goreng memenuhi gang. Anak-anak tetangga bermain layangan di ujung jalan, layangan merah dan kuning yang berputar-putar di langit yang mulai oranye.
Kami duduk di kursi rotan di teras. Nadira di satu kursi, aku di kursi yang lain. Di antara kami, pot anggrek yang bunganya mulai mekar, ungu dengan bintik putih.
Kami tidak bicara lama.
“Kamu marah?” tanyaku akhirnya.
“Iya.”
“Ke aku?”
“Ke kamu. Ke Evan. Ke bapaknya Evan. Ke Kenzo. Ke diriku sendiri.” Dia menatap layangan-layangan di langit. “Ke roti sobek cokelat.”
Aku tertawa. Pendek. Dia menoleh mendengarnya, dan sudut bibirnya bergerak.
“Tapi paling banyak ke bapaknya Evan,” katanya. “Kamu jangan salah paham. Aku nggak mau Kenzo masuk penjara. Aku lihat mukamu tadi, aku tahu kamu nggak mau juga. Dia udah dihukum lima tahun. Sama kayak kamu. Sama kayak Evan.” Dia menarik napas. “Tapi bapaknya. Bapaknya nggak pernah dihukum apa-apa. Bapaknya bayar kasir, beli mobil baru, terus lanjut hidup. Dan ibumu sujud syukur buat uangnya.”
“Iya.”
“Itu yang nggak bisa aku terima, Yan.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu, tapi kamu tetap mau ke Cikini bilang nggak apa-apa.”
Aku diam. Layangan merah di ujung jalan putus talinya. Melayang tinggi, berputar, lalu jatuh pelan di atap rumah seseorang.
“Itu yang aku tahu caranya,” kataku akhirnya. “Nanggung. Itu satu-satunya cara yang aku tahu.”
Nadira tidak menjawab. Dia membuka tasnya. Dia mengeluarkan sesuatu.
Buku catatan. Sampul biru. Sudutnya sedikit lecek.
Dia menyodorkannya padaku.
“Kamu bilang di teras waktu itu,” katanya, “kalau kamu baca, kamu bakal percaya.”
Aku menatap buku itu.
“Baca, Yan.”
“Nad—”
“Kamu udah bilang nggak sekali. Aku nggak nanya lagi.” Dia meletakkan buku itu di pangkuanku. “Aku cuma naruh di sini. Kamu baca atau nggak, itu pilihanmu. Aku nggak bakal mutusin buat kamu.” Dia tersenyum, sedikit. “Aku belajar itu dari orang yang salah.”
Dia berdiri. Dia berjalan ke ujung teras, berdiri di tangga, menatap anak-anak dan layangan dan gerobak bakso. Memunggungiku.
Aku menatap buku biru di pangkuanku.
Lama.
Lalu aku membukanya.
Halaman pertama. Dua kolom. Garis tengah ditarik dengan penggaris, lurus, rapi. Tulisan tangan Nadira yang miring ke kanan dan sedikit terlalu besar, seperti tulisan orang yang biasa mengetik dan jarang menulis tangan.
UTANG. BUKAN UTANG.
Aku membaca kolom kiri dulu.
Dia nyelamatin aku. Kakinya rusak karena aku. Punggungnya dijahit 23 kali karena aku. Dia kehilangan beasiswa lari karena aku. Dia wisuda pakai tongkat dan aku nggak datang. Aku ngerasa bersalah tiap lihat dia naik tangga.
Semuanya benar. Semuanya yang kutakutkan. Ini yang kulihat di matanya di lantai apotek Gilang, malam itu. Ini kenapa aku menyuruhnya pulang dari teras ini seminggu lalu.
Lalu aku membaca kolom kanan.
Tangannya di atas tanganku di persneling. Parkiran BSD. Ibu-ibu senam. Jantungku kenceng. Aku salahin kopi.
Aku berhenti. Aku membacanya lagi.
Parkiran BSD. Sabtu pertama. Aku ingat. Aku ingat tanganku di atas tangannya, dan aku ingat aku tidak bisa bernapas dengan benar selama sepuluh meter pertama Si Lumut berjalan mulus, dan aku ingat aku mengangkat tanganku pelan-pelan seperti burung yang terbang dari dahan karena kalau aku tidak mengangkatnya saat itu, aku tidak akan pernah bisa.
Jantungnya kencang. Dia salahkan kopi.
Aku membaca baris berikutnya.
Dia ketawa di parkiran stasiun Pondok Ranji. Keras. Ada suaranya. Aku belum pernah dengar. Aku pengen dengar lagi.
Baris berikutnya.
“Kamu cantik kalau nyetir.” Setirnya oleng. Mukaku panas sampai keluar tol. Aku nggak minum kopi waktu itu. Kopinya udah habis dua jam sebelumnya. Aku nggak tahu harus nyalahin apa.
Baris berikutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya.
Dia makan ayam gosongku duluan.
Tiara bikinin dia kopi tiap pagi. Aku langsung bawa termos besoknya. Aku ngerasa menang. Itu bukan perasaan sahabat.
Gladi resik. Yang keluar semuanya Ryan.
Kepalanya di bahuku di macet Puncak. Rambutnya di leherku. Aku nggak gerak sama sekali sepanjang antrean. Bahuku pegel dua hari. Aku nggak nyesel.
Tulisannya mengecil di bagian bawah. Merambat ke margin. Ke halaman sebelah. Aku membalik halaman.
Baris terakhir. Ditulis dengan tinta yang sedikit berbeda, lebih tebal, seperti ditambahkan belakangan:
Dia keluar dari lift di rooftop pakai kemeja hitam, terus berhenti, terus kue susnya jatuh, terus dia lihat aku. Jantungku ngelakuin sesuatu yang bodoh. Bukan karena Evan.
(Satu jam sebelum aspal. Satu jam sebelum aku tahu.)
Aku menatap halaman itu sampai hurufnya buram.
Aku tidak sadar aku menangis sampai sesuatu jatuh ke kertas. Satu tetes. Tepat di kata Evan, membuat tintanya sedikit melebar.
Aku menutup buku itu cepat. Aku menyeka mataku dengan punggung tangan. Kasar.
Semua itu. Semua yang dia tulis di kolom kanan. Aku ingat semuanya. Setiap Sabtu jam 05.45. Setiap kopi susu gula sedikit. Setiap lompatan kodok Si Lumut. Setiap kali aku berdiri di sisi jalan dan dia tidak menyadarinya.
Aku pikir dia tidak menyadarinya.
Dia menyadarinya. Semuanya. Dia hanya tidak tahu apa namanya.
Dan semuanya, setiap baris, setiap detak jantung yang dia salahkan pada kopi, terjadi sebelum dia tahu soal malam itu. Sebelum dia melihat punggungku. Sebelum dia punya alasan untuk berutang.
Utang tidak bisa datang sebelum kau tahu kau berutang.
Aku duduk di kursi rotan di teras rumahku, dengan buku biru di pangkuan dan mata yang tidak mau berhenti basah, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak menghitung napas.
Aku tidak perlu.
“Yan.”
Nadira masih berdiri di ujung tangga teras. Masih memunggungiku. Tapi suaranya pelan, hati-hati.
“Udah baca?”
“Udah.”
Dia diam. Bahunya naik sedikit. Aku melihatnya menarik napas, menahannya, membuangnya.
“Terus?”
Aku menatap punggungnya. Kemeja biru muda. Rambut yang diikat, dengan beberapa helai yang lepas di tengkuk, tertiup angin sore. Di bawah sana, di bagian belakang kepalanya, di bawah rambut itu, titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh. Titik yang lima tahun lalu kulindungi dengan kedua lenganku.
“Kamu salahin kopi,” kataku.
Bahunya bergetar. Dia tertawa. Pelan.
“Aku copywriter, Yan. Aku selalu nyari kambing hitam yang bagus.”
“Kopi bukan kambing hitam yang bagus.”
“Kopinya enak. Gula dikit. Ada yang tahu aku suka gula dikit.”
Aku berdiri. Kaki kiriku tidak protes sama sekali. Aku berjalan ke ujung teras, berdiri di sebelahnya, di anak tangga yang sama. Dia tidak menoleh. Dia menatap layangan kuning yang masih berputar tinggi di langit oranye.
Aku menyerahkan buku biru itu padanya.
Dia menerimanya. Dia membukanya di halaman terakhir. Halaman yang masih kosong. Putih. Bergaris biru tipis.
“Ini masih kosong,” katanya.
“Iya.”
“Aku sengaja ninggalin satu halaman.” Dia menatap halaman itu. “Buat kolom ketiga. Yang aku belum tahu judulnya.”
Dia menutup buku itu. Dia memasukkannya ke tas. Lalu, akhirnya, dia menoleh dan menatapku.
Matanya basah. Bibirnya, tanpa lipstik hari ini, tersenyum sedikit. Lesung pipi kirinya muncul.
“Halaman terakhir itu,” katanya, “aku nunggu kamu yang nulis.”
Aku menatapnya.
Aku ingin menulis di sana. Sekarang. Di tangga teras, di bawah langit oranye, dengan bau bakso Pak Kasim dan anak-anak yang berteriak dan layangan kuning. Aku ingin menulis satu kalimat yang sudah lima tahun kusimpan di bawah kasur bersama sepatu lari biru tua.
Tapi Minggu masih dua hari lagi. Dan Ibu masih duduk di dapur dengan pintu terbuka, menunggu seseorang datang ke rumahnya dan duduk di kursi rotan dan bilang sesuatu dengan mulutnya sendiri.
“Setelah Minggu,” kataku.
Nadira menatapku lama.
“Itu janji?”
“Iya.”
“Bukan ancaman?”
Aku tidak bisa menahannya. Sudut bibirku bergerak. Lebih dari dua milimeter.
“Dua-duanya,” kataku.
Dia tertawa. Keras, lepas, sampai anak-anak di ujung gang menoleh. Lalu dia turun dari tangga teras, berjalan ke gang, memutari gerobak bakso Pak Kasim. Di ujung gang, di bawah lampu jalan yang baru menyala, dia berhenti dan menoleh.
“Yan!”
“Hm?”
“Aku pakai lipstik yang itu hari Minggu!”
Pak Kasim, dari balik gerobaknya, menoleh ke arahku dengan mangkuk bakso di tangan dan alis terangkat.
Aku masuk ke rumah sebelum telingaku terbakar.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak reading
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan