← Udah, Aku di Sini

Chapter Twelve

Bab 12 — Kenzo

POV: Evan


Rumah keluarga Wiratama di Menteng punya meja makan yang bisa menampung dua belas orang, dan sudah bertahun-tahun hanya diisi empat.

Papa di kepala meja. Mama di kanannya. Aku di kiri Papa. Kenzo di sebelah Mama, di kursi yang paling jauh dari Papa, kursi yang dia pilih sendiri sejak dia pulang dari rehabilitasi tiga tahun lalu dan tidak pernah dia tinggalkan.

Delapan kursi kosong lainnya ditutupi sarung kain putih yang dicuci setiap minggu oleh Mbok Darmi, walaupun tidak pernah ada yang duduk di sana. Papa bilang meja makan harus selalu siap untuk tamu. Papa tidak pernah mengundang tamu ke meja makan. Tamu Papa diterima di ruang kerja, dengan pintu tertutup.

Makan malam hari Minggu adalah satu-satunya kewajiban keluarga yang tidak bisa ditawar. Papa yang membuat aturannya. Kalau kami tidak datang, Papa tidak marah. Papa tidak pernah marah dengan suara keras. Papa hanya diam, berminggu-minggu, dan diamnya Papa lebih berat dari teriakan siapa pun.

“Investor dari Singapura kemarin,” kata Papa sambil memotong daging di piringnya dengan presisi seorang ahli bedah, “bilang kamu bicara terlalu banyak tentang pengguna.”

“Itu pekerjaanku, Pa. Aku product manager.”

“Mereka tidak peduli pengguna. Mereka peduli angka.”

“Pengguna itu yang bikin angka, Pa.”

Papa mengunyah. Menelan. Meletakkan garpu dan pisau di piring dengan posisi sejajar, pukul empat lewat dua puluh, tanda bahwa dia sudah selesai makan walaupun piringnya masih setengah penuh.

“Kamu sudah dua puluh delapan bulan depan,” katanya.

“Iya.”

“Kantor masih menunggu.”

“Aku tahu, Pa.”

“Kursi direktur pengembangan masih kosong. Pak Hadiwijaya pensiun Desember.”

“Aku tahu, Pa.”

“Tahu,” ulang Papa, dan hanya itu. Satu kata, diucapkan dengan nada yang membuat seluruh meja makan terasa lebih dingin dari AC.

Mama menunduk ke piringnya. Mama selalu menunduk ke piringnya kalau Papa bicara dengan nada seperti itu. Mama punya rambut yang disanggul rapi dan cincin kawin yang terlalu besar untuk jarinya yang semakin kurus, dan dia tidak pernah membela siapa pun di meja makan ini, tapi dia selalu menaruh potongan daging paling empuk di piringku dan piring Kenzo sebelum Papa sempat melihat.

Kenzo makan dalam diam. Dia selalu makan dalam diam. Dua puluh dua tahun sekarang, rambut dipotong pendek, kemeja polos yang terlalu rapi, seperti orang yang sedang berusaha sangat keras terlihat seperti orang baik-baik. Dia bekerja sebagai barista di kafe kecil di Cikini, pekerjaan yang Papa sebut “fase”, dan tiga tahun ini dia tidak pernah absen satu Minggu pun.

Kenzo tidak pernah absen karena dia tahu, kalau dia absen, Papa akan bertanya kenapa. Dan pertanyaan Papa selalu berakhir di tempat yang sama.


Setelah Papa meninggalkan meja—”telepon dari Surabaya”, katanya, seperti setiap Minggu—Mama ikut berdiri untuk membuatkan teh. Tinggal aku dan Kenzo, dan delapan kursi kosong bersarung putih.

Kenzo mengaduk sisa sup di mangkuknya. Tidak memakannya. Hanya mengaduk, pelan, searah jarum jam.

“Kak,” katanya.

“Hm.”

“Kak Ryan masih pincang?”

Sendok di tanganku berhenti di udara.

Kenzo tidak menatapku. Dia menatap sup yang berputar di mangkuknya, membentuk pusaran kecil berwarna kuning.

“Kadang,” kataku. “Kalau hujan. Kalau capek.”

Kenzo mengangguk. Pelan. Pusaran di mangkuknya terus berputar.

“Aku lihat dia minggu lalu,” katanya. “Di Senopati. Malam-malam. Pas hujan.”

Aku meletakkan sendok.

“Aku lagi antar pesanan kopi ke kantor sebelah. Pakai motor. Aku berhenti di lampu merah, terus aku lihat dia di seberang. Pakai payung item gede. Dia lagi nyebrangin cewek.” Kenzo berhenti mengaduk. “Ceweknya kayak ketakutan. Kak Ryan pegang sikunya. Dia jalan di sebelah kanan, di sisi mobil-mobil.”

Aku tidak bilang apa-apa.

“Aku kenal ceweknya, Kak,” kata Kenzo, sangat pelan. “Itu Kak Nadira, kan.”

Aku menatap adikku. Dia akhirnya mengangkat kepala, dan matanya—mata yang sama dengan mata Mama, cokelat tua dan terlalu besar untuk wajahnya—menatapku dengan sesuatu yang membuat dadaku sesak. Bukan pertanyaan. Kenzo tidak sedang bertanya. Kenzo sedang mengaku bahwa dia tahu sesuatu, dan menunggu aku mengaku bahwa aku tahu dia tahu.

“Ken,” kataku.

“Dia masih takut nyebrang ya, Kak.”

Itu juga bukan pertanyaan.

Di dapur, aku mendengar bunyi ketel mulai bersiul. Di ruang kerja Papa, di ujung lorong, aku mendengar suaranya yang rendah dan rata, bicara dengan seseorang di Surabaya tentang tanah dan izin dan angka.

“Kita nggak bahas itu di sini,” kataku.

Kenzo tertawa. Pendek, tanpa suara, hanya hembusan napas dari hidung. “Kita nggak pernah bahas itu di mana-mana, Kak.”

Mama kembali dengan nampan berisi tiga cangkir teh melati. Dia menaruh satu di depan Kenzo, satu di depanku, satu di depan kursinya sendiri. Dia melihat wajah kami berdua, lalu menunduk lagi, dan duduk, dan meniup tehnya pelan-pelan seolah tidak ada yang terjadi.

Kenzo meminum tehnya. Lalu dia berdiri, mengecup pipi Mama, bilang “Aku pamit, Ma, besok buka jam enam,” dan pergi.

Dia tidak menoleh ke arahku.


Kamarku di rumah ini tidak pernah diubah sejak aku pindah ke apartemen di Kuningan empat tahun lalu.

Poster band rock yang sudah pudar. Rak berisi buku-buku kuliah yang tidak pernah kubuka lagi. Piala debat SMA. Meja belajar dengan goresan inisial Ryan dan aku, diukir dengan jangka waktu kelas sebelas, waktu kami seharusnya mengerjakan tugas fisika dan malah mengukir meja.

Dan lemari pakaian.

Aku membukanya. Lemari itu hampir kosong. Beberapa kemeja SMA yang sudah kekecilan. Jas almamater. Dan di ujung paling kanan, tergantung dalam plastik dry cleaning yang sudah menguning, jaket varsity merah.

Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak pernah menyentuhnya, sejak aku menggantungnya di sana lima tahun lalu, setelah mengambilnya dari laundry dan menemukan bahwa noda darah di bagian punggung tidak bisa hilang seluruhnya. Tukang laundry bilang mereka sudah mencoba tiga kali. Masih ada bayangan cokelat samar di sana, di bawah huruf-huruf putih nama angkatan, seperti peta pulau yang tidak bisa dihapus.

Punggung. Darahnya di punggung.

Bukan darahku. Aku tidak berdarah malam itu. Aku tidak memeluk siapa pun di jalan. Aku tidak memunggungi apa pun. Aku cuma berlari dari arah sekretariat waktu mendengar suara rem dan teriakan, dan menemukan Nadira tergeletak di trotoar dengan mata terpejam, dan menemukan jaketku tergeletak di aspal tidak jauh darinya, basah, robek, berlumur darah. Aku berlutut di sebelah Nadira. Aku menelepon ambulans. Aku memegang tangannya sampai ambulans datang.

Waktu itu aku bahkan tidak tahu Ryan ada di mana.

Zaza yang menemukannya. Di seberang jalan, di dekat got, sepuluh meter dari tempat Nadira jatuh. Terlempar. Zaza menelepon ambulans kedua. Aku baru tahu dua jam kemudian, waktu Zaza meneleponku dari rumah sakit yang berbeda dengan suara yang tidak pernah kudengar dari Zaza sebelum atau sesudahnya.

Van. Ryan. Kakinya. Van, kakinya—

Petugas ambulans yang membawa Nadira memungut jaket merah itu dari aspal dan membawanya ke rumah sakit, karena itu satu-satunya barang di lokasi yang punya nama. EVAN. Bordir kecil di dada kiri. Mereka menaruhnya di kursi samping ranjang Nadira, mengira itu milik siapa pun yang terlibat.

Dan waktu Nadira membuka mata, yang dia lihat adalah aku, dan jaket itu.

Aku tidak berbohong padanya. Aku tidak pernah bilang aku yang nyelamatin kamu. Aku cuma tidak bilang bukan aku. Dan di antara dua kalimat itu, ada jurang selebar lima tahun.


Aku menutup lemari.

Dari jendela kamar, aku bisa melihat garasi. Tiga mobil Papa berjejer rapi di sana. Sedan hitam terbaru, SUV putih, dan mobil klasik yang hanya keluar setahun sekali untuk acara keluarga.

Lima tahun lalu, ada sedan hitam yang lain di garasi itu.

Aku ingat pagi setelah malam itu. Aku pulang dari Bandung naik kereta pertama, belum tidur, masih memakai baju yang sama, masih ada darah Nadira di lengan kemejaku. Aku pulang karena Papa menelepon jam empat pagi dan menyuruhku pulang. Sekarang, katanya. Tidak ada penjelasan.

Waktu aku sampai, garasi itu hanya berisi dua mobil.

Sedan hitam itu tidak ada.

“Ke bengkel,” kata Papa waktu aku bertanya. Dia sedang duduk di ruang kerja dengan pintu terbuka, pertama kalinya aku melihat pintu ruang kerjanya terbuka. “Bengkel di Semarang. Kenalan lama. Servis besar.”

Kenapa servis ke Semarang kalau di Jakarta ada ratusan bengkel?

Aku tidak bertanya. Aku tahu, dari wajah Papa, dari caranya duduk dengan tangan terlipat di atas meja dan mata yang tidak berkedip, bahwa aku tidak boleh bertanya.

Kenzo tidak keluar dari kamarnya selama tiga hari setelah itu. Mbok Darmi mengantar makanan ke depan pintunya dan mengambil piring yang tidak tersentuh. Mama menangis di dapur waktu dia pikir tidak ada yang melihat. Papa duduk di ruang kerja dengan pintu tertutup lagi, menelepon orang-orang yang suaranya tidak pernah kudengar.

Sedan hitam itu tidak pernah kembali dari Semarang. Seminggu kemudian, ada sedan hitam baru di garasi. Model yang sama, tahun yang lebih baru.

Tiga hari setelah malam itu, aku duduk di kursi plastik di samping ranjang Ryan di rumah sakit Bandung. Kakinya digantung dengan tali. Punggungnya dijahit dua puluh tiga kali. Matanya setengah terbuka karena obat bius.

Dan dia bilang, Jangan bilang, Van. Biar dia kira kamu.

Aku menatapnya. Sahabatku, sejak umur lima belas. Laki-laki yang mengajariku fisika setiap malam di kelas sebelas supaya aku tidak tinggal kelas, tanpa pernah sekali pun membuatku merasa bodoh. Laki-laki yang kakinya tidak akan pernah sama lagi.

Aku tahu, waktu itu, kenapa aku harus bilang ya.

Bukan cuma karena dia memintaku. Bukan cuma karena dia baru habis operasi dan matanya memohon dengan cara yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Aku bilang ya karena kalau aku bilang tidak, kalau aku membuka mulut tentang malam itu, orang akan mulai bertanya. Tentang mobilnya. Tentang siapa yang menyetir. Tentang ke mana mobil itu pergi. Dan semua pertanyaan itu akan berjalan pelan-pelan, satu per satu, sampai berhenti di depan pintu kamar Kenzo yang terkunci tiga hari.

Ryan memintaku diam untuk melindungi Nadira.

Aku diam untuk melindungi adikku.

Dan aku membiarkan Ryan percaya bahwa aku cuma sahabat yang baik.


Ponselku bergetar waktu aku sedang menatap jendela.

Grup circle. Gilang mengirim foto kucing oranye gemuk yang duduk di tengah jalan, dengan keterangan “Ini kucing komplek apotekku. Namanya Pak RT. Dia menghalangi lalu lintas selama 20 menit tadi sore. Aku kasih vitamin. Dia nggak mau.”

Zaza membalas: Kamu ngasih vitamin ke kucing liar?

Gilang: Dia kelihatan defisiensi.

Zaza: Defisiensi apa?

Gilang: Defisiensi kasih sayang.

Nadira mengirim lima emoji tertawa dan satu stiker kucing memberi hormat.

Ryan mengirim satu jempol.

Aku menatap layar. Aku menatap nama Nadira. Lima emoji tertawa. Dia selalu mengirim lima, tidak pernah empat, tidak pernah enam. Aku tahu itu karena aku sudah lima tahun memperhatikan semua yang dia kirim, dengan cara orang yang memperhatikan bom waktu.

Lalu, di bawahnya, pesan pribadi.

Zaza: Van. Kamu oke?

Aku menatap pesan itu lama.

Zaza tidak pernah bertanya kamu oke. Zaza bertanya kamu bodoh ya? atau kamu mau aku pukul? atau kenapa kamu nggak bisa pesan makanan tanpa nanya ke semua orang dulu? Zaza tidak bertanya kamu oke.

Aku: Oke. Kenapa?

Zaza: Kamu duduk di ujung meja Jumat kemarin.

Zaza: Kamu nggak minum americano.

Zaza: Kamu nggak nganter Nadira.

Aku: Kamu ngitungin?

Zaza: Aku WO, Van. Kerjaanku ngitungin kursi dan siapa duduk di mana.

Zaza: Kamu mau ngomong ke dia, kan. Bukan yang dia harapin.

Aku membeku.

Aku: Kamu tahu apa, Za?

Zaza: Aku tahu kamu nggak suka dia kayak gitu. Aku tahu dari dulu.

Zaza: Dan aku tahu kamu terlalu pengecut buat nolak dia baik-baik.

Pengecut. Itu kata yang kupakai untuk diriku sendiri di rooftop parkiran dengan Ryan. Dan sekarang Zaza memakainya, dengan cara yang sama tajamnya, seolah dia mendengar dari jauh.

Aku: Mungkin.

Zaza: Bukan mungkin. Iya.

Zaza: Tapi pengecut itu bisa berubah, Van. Kamu cuma harus mutusin mau berubah atau nggak.

Aku menatap kalimat itu. Lama. Lalu aku mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Aku: Kenapa kamu peduli?

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul lagi, lama sekali, seolah dia sedang mengetik paragraf panjang.

Lalu:

Zaza: Karena Nadira sahabatku.

Zaza: Tidur, Van.

Aku menaruh ponsel di meja belajar, di atas ukiran inisial Ryan dan aku. Aku duduk di kasur masa SMA-ku yang terlalu sempit, di kamar yang tidak pernah berubah, di rumah dengan meja makan dua belas kursi yang hanya diisi empat.

Karena Nadira sahabatku.

Tiga titik itu muncul dan hilang empat kali sebelum dia mengirim kalimat sesingkat itu.

Aku tidak tahu kenapa itu yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Bukan Kenzo. Bukan sedan hitam. Bukan jaket merah di lemari.

Tapi empat kali tiga titik, dan apa pun yang Zaza ketik lalu hapus di antaranya.