← Udah, Aku di Sini

Chapter Twenty Three

Bab 23 — Lima Tahun

POV: Ryan


Zaza yang mengejar Nadira keluar. Dia mengambil kunci mobilnya dari meja, berhenti sebentar di depanku, menatapku dengan mata bengkak, dan bilang, “Aku antar dia. Kamu jangan ke mana-mana.” Lalu dia pergi.

Evan bertahan lima belas menit. Dia berdiri di dekat pintu, bersandar ke rak kardus, tidak bicara, menatapku seolah dia ingin mengatakan seribu hal dan tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya aku yang bicara.

“Pulang, Van.”

“Yan—”

“Kamu ulang tahun. Pulang. Istirahat.”

Dia menatapku lama. Lalu dia berjalan ke kursiku, membungkuk, dan memelukku. Dengan hati-hati, menghindari bahu kanan yang belum dibalut. Lengannya melingkar di leherku, kepalanya di atas kepalaku, seperti waktu kami umur lima belas dan dia baru saja berdiri di depanku di belakang kantin dan tiga anak kelas sebelah sudah pergi, dan dia gemetar, dan aku yang memeluknya waktu itu.

“Maaf,” bisiknya. “Maaf, Yan. Maaf aku nggak bilang dari dulu.”

“Aku yang minta kamu nggak bilang.”

“Aku tahu. Tapi tetap maaf.” Dia melepaskanku. Matanya merah. “Ada yang lain juga. Yang aku belum bilang. Nanti. Nggak malam ini. Tapi nanti aku bilang semuanya.”

Aku mengangguk. Aku tidak bertanya. Aku terlalu lelah untuk bertanya.

Evan pergi. Pintu rolling door berderit waktu dia menurunkannya dari luar, sampai hanya tersisa celah setinggi lutut.

Tinggal aku, Gilang, dan Pak RT.


Gilang membersihkan bahuku dalam diam.

Gilang tidak pernah diam. Gilang bicara waktu makan, waktu menyetir motor, waktu menunggu lampu merah, waktu tidur—Zaza pernah merekamnya mengigau tentang interaksi obat di villa Pangandaran. Tapi malam ini, di ruang belakang apoteknya, Gilang membersihkan luka aspal di bahu kananku dengan pinset dan kapas dan cairan antiseptik dari botol baru, dan dia tidak mengatakan apa-apa.

Kerikil-kerikil kecil satu per satu. Tring. Tring. Jatuh ke mangkuk logam di meja.

Aku menatap dinding di depanku. Dinding yang ditempeli puluhan foto lama. Foto kami berlima di sekretariat dengan atap bocor. Foto di bioskop, Nadira menangis, aku memberinya tisu. Foto di wisudaku, dengan satu tongkat, di antara Ibu dan Gilang.

Gilang menempelkan kasa di bahuku. Membalutnya dengan perban, melingkar ke ketiak, dengan gerakan yang sangat hati-hati. Lalu dia menempelkan plester di ujung perban.

Bukan plester dinosaurus kali ini. Plester biasa. Warna kulit.

Lalu dia duduk di lantai. Di depan kursiku, di ubin yang masih sedikit basah oleh antiseptik yang tumpah tadi, dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu emas yang sudah dia lepas dan sekarang tergeletak di pangkuannya seperti kupu-kupu mati.

“Ceritain, Yan,” katanya.

Aku menatapnya.

“Dari awal.” Gilang menatap dasi kupu-kupu di pangkuannya. “Aku nggak tahu apa-apa. Delapan tahun aku temenan sama kalian, dan aku satu-satunya yang nggak tahu apa-apa. Aku ketawain kakimu lima tahun. Aku bikin spreadsheet keterlambatan Evan padahal Evan... padahal kamu...” Suaranya pecah. “Ceritain. Tolong. Aku pengen tahu sekali aja. Dari awal.”

Pak RT naik ke pangkuanku. Berat, hangat, dengan dengkur yang bergetar di pahaku.

Aku menatap foto di dinding. Foto di malam keakraban tidak ada di sana. Zaza sudah menghapusnya.

Tapi aku tidak butuh foto.


Malam itu dingin untuk Bandung di bulan November.

Aku datang ke malam keakraban dengan kaos abu-abu tipis, karena aku baru selesai latihan sore di lapangan atletik dan tidak sempat pulang ganti baju. Di lapangan parkir fakultas, di bawah tenda putih besar dengan lampu-lampu kuning digantung di tiang bambu, gerimis mulai turun pukul delapan. Pukul sembilan, kaosku sudah basah sampai ke punggung.

Aku menggigil. Aku tidak mengeluh, karena aku tidak pernah mengeluh. Tapi Evan melihat.

“Ya ampun, Yan. Bibirmu biru.” Dia sudah melepas jaket varsity merahnya sebelum aku sempat menolak. Jaket yang dia sayangi, satu-satunya jaket merah di angkatan, hadiah dari Mama-nya waktu dia masuk kuliah. “Pakai.”

“Kamu kedinginan nanti.”

“Aku pakai kaos hitam. Hitam nyerap panas. Fisika. Kamu yang ngajarin aku fisika.”

“Itu bukan cara kerja fisika, Van.”

“Pakai aja, Yan.”

Aku memakainya. Jaket itu hangat, masih menyimpan panas tubuh Evan, dan wangi parfum Evan yang terlalu mahal untuk mahasiswa. Lengan jaketnya kependekan sedikit di pergelangan tanganku.

Zaza memotret kami pukul 21.24. Foto kelompok. Gilang di depan dengan tanda V. Aku di ujung kanan, di sebelah Nadira.

Nadira memakai kardigan krem. Rambutnya basah, menempel di pipinya. Dia tertawa sepanjang malam. Dia selalu tertawa. Tawanya terlalu keras, dan dia tidak peduli, dan setiap kali dia tertawa, orang-orang di sekitarnya menoleh dan ikut tersenyum tanpa tahu kenapa.

Aku sudah menyukainya waktu itu. Sudah setahun lebih. Sejak di bioskop, sejak film robot, sejak dia menangis dari menit kelima sampai lampu menyala dan aku memberinya satu bungkus tisu tanpa bicara karena aku tidak tahu harus bilang apa.

Aku tidak pernah bilang apa-apa. Aku tidak tahu caranya. Evan bilang aku harus ngomong aja, Yan, cewek itu suka cowok yang berani. Aku tidak berani. Aku hanya berdiri di sebelahnya, di foto, di sekretariat, di kantin. Aku hanya ada.

Pukul 21.35, Nadira bilang dia lapar.

“Aku mau beli roti sobek,” katanya pada Zaza. “Yang cokelat. Di minimarket depan.”

“Ujan, Nad.”

“Gerimis. Bentar doang.”

Dia berjalan keluar dari tenda. Melewati gerbang fakultas. Ke arah jalan.

Aku tidak tahu kenapa aku mengikutinya. Mungkin karena aku ingin menawarinya payung yang tidak kupunya. Mungkin karena aku ingin berjalan di sebelahnya, sekali, tanpa ada orang lain. Mungkin karena aku hanya selalu mengikutinya, tanpa sadar, seperti jarum kompas.

Aku berhenti di gerbang fakultas. Dia sudah di tepi jalan, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip lemah. Jalan di depan gerbang kampus itu jalan dua jalur yang lurus, sepi di malam hari, dengan minimarket bercahaya putih di seberangnya.

Dia melangkah turun dari trotoar.

Dan aku mendengarnya.


Bukan cahaya. Tidak ada cahaya. Itu yang paling aneh. Aku mendengarnya sebelum aku melihatnya. Suara mesin, terlalu keras, terlalu cepat, dari arah kanan, dari tikungan di ujung jalan.

Lalu aku melihatnya. Mobil hitam. Sedan. Lampunya mati. Melaju di jalan basah, oleng ke kiri, oleng ke kanan, seperti orang mabuk yang tidak bisa berjalan lurus.

Nadira ada di tengah jalan. Menatap ke arah minimarket. Tidak menoleh.

Aku berlari.

Aku tidak berpikir. Itu yang ingin kukatakan pada semua orang selama lima tahun, kalau aku pernah mengatakannya: aku tidak berpikir. Tidak ada keputusan. Tidak ada pertimbangan. Kakiku sudah berlari sebelum otakku sempat bertanya kenapa.

Aku pelari. Itu satu-satunya hal yang aku tahu dengan pasti waktu itu. Aku tahu berapa detik yang kubutuhkan untuk seratus meter. Aku tahu bagaimana mendorong tubuhku dari posisi diam ke kecepatan penuh dalam tiga langkah. Aku tahu bagaimana mengangkat lutut tinggi-tinggi dan menapak di ujung kaki dan membiarkan seluruh tubuh condong ke depan, ke garis finis.

Nadira adalah garis finis.

Lima belas meter. Sepuluh. Lima.

Aku mencapainya. Lenganku melingkar di kepalanya. Dua-duanya. Satu di belakang kepala, satu di depan wajah. Aku tidak tahu kenapa kepala. Aku hanya tahu, dalam sepersekian detik itu, bahwa kepala adalah yang paling penting. Jangan kepalanya. Apa pun, jangan kepalanya.

Aku menariknya ke dadaku. Aku memutar badan. Aku memutar seluruh tubuhku sehingga dia ada di depan dan aku ada di belakang, sehingga yang menghadap mobil itu adalah punggungku.

Dia sangat ringan. Gemetar. Rambutnya basah di bawah daguku.

Aku tidak tahu kenapa aku bilang apa yang aku bilang. Itu keluar sendiri. Seperti napas. Seperti sesuatu yang sudah lama ada di dadaku, menunggu, dan akhirnya menemukan jalan keluar.

“Udah. Aku di sini.”

Lalu mobil itu datang.


Aku tidak ingat rasa sakitnya. Itu yang aneh. Aku ingat semua hal lain, tapi aku tidak ingat sakitnya. Hanya bunyi. Bunyi logam dan kaca dan sesuatu yang patah di dalam tubuhku, bunyi yang terdengar seperti dari tempat lain, dari tubuh orang lain.

Lalu aku terbang.

Aku melepaskan Nadira. Aku tidak mau, tapi tubuhku tidak bertanya. Aku melihat dia jatuh ke trotoar di depanku, berguling sekali, kepalanya membentur pinggir trotoar—tidak keras, tidak sekeras kalau tidak ada lenganku, tapi membentur—dan berhenti. Jaket merah robek di bahuku, tersangkut sesuatu, spion atau bemper, dan terlepas dari tubuhku, dan jatuh di aspal di dekatnya.

Dan aku terus terbang. Sepuluh meter. Ke seberang jalan. Ke dekat got.

Lalu aspal.

Dingin. Basah. Kasar di pipiku. Hujan jatuh ke mataku dan aku tidak bisa menutupnya. Aku tidak bisa merasakan kaki kiriku. Aku melihatnya, di sudut mataku, tertekuk ke arah yang tidak seharusnya kaki bisa tertekuk.

Mobil hitam itu tidak berhenti. Aku mendengar mesinnya menjauh, meraung, oleng, menghilang di tikungan di ujung jalan.

Aku tidak tahu berapa lama aku tergeletak di sana. Satu menit. Sepuluh menit. Satu jam.

Lalu Zaza.


“Rumah sakit A,” kataku pada Gilang, di ruang belakang apoteknya, lima tahun kemudian. “Nadira ke rumah sakit B. Ambulansnya beda. Evan yang telepon ambulans buat dia. Zaza yang telepon buat aku.”

Gilang tidak bicara. Dia duduk di lantai, menatapku dengan mata yang sudah basah sejak tadi, dengan dasi kupu-kupu emas yang sekarang dia remas-remas di pangkuannya.

“Aku operasi enam jam,” lanjutku. “Tulang kering kiri patah di dua tempat. Panggul retak. Punggung robek dari spion. Waktu aku bangun, Ibu ada di koridor. Aku lihat dia dari pintu yang setengah terbuka. Dia duduk di kursi plastik, sendirian, pakai daster batik yang sama kayak waktu dia berangkat dari Jakarta jam tiga pagi naik kereta pertama. Dia nggak nangis waktu masuk ke kamarku. Dia senyum. Dia bilang Le, kamu ganteng meskipun bengkak. Tapi aku lihat dia di koridor sebelum dia masuk. Dia nangis. Sendirian. Pakai daster.”

Pak RT mendengkur di pangkuanku. Aku mengusap kepalanya. Tanganku gemetar.

“Hari ketiga, Evan datang. Dia bilang Nadira udah sadar. Dia bilang Nadira kira dia yang nyelamatin. Karena jaketnya. Karena dia yang ada di samping ranjang waktu Nadira buka mata.”

“Terus kamu bilang jangan bilang,” kata Gilang pelan.

“Iya.”

“Kenapa, Yan?”

Aku menatap foto di dinding. Nadira di bioskop. Mata bengkak, hidung merah, setumpuk tisu di tangan.

“Karena aku kenal dia, Lang,” kataku. “Aku kenal dia dari sebelum kita semua satu kepanitiaan. Dia nangis kalau lihat kucing kehujanan. Dia nangis kalau lihat robot ditinggal sendirian di bumi. Dia nangis kalau Gilang diputusin, padahal kamu sendiri nggak nangis.”

Gilang mengeluarkan suara kecil, setengah tawa, setengah isak.

“Kalau dia tahu ada orang yang kakinya rusak buat dia,” kataku, “dia bakal nanggung itu seumur hidup. Dia bakal ngerasa berutang. Dia bakal datang tiap hari ke rumah sakit, bukan karena dia mau, tapi karena dia merasa harus. Dia bakal lihat aku jalan pincang dan ngerasa bersalah. Tiap hari. Tiap Jumat di kafe. Tiap kali aku naik tangga. Aku bakal jadi utang yang nggak pernah lunas di hidupnya.”

“Tapi kalau dia sayang kamu—”

“Dia nggak sayang aku, Lang. Waktu itu dia nggak sayang aku. Dia nggak tahu aku ada.” Aku tertawa, pendek, pahit. “Kalau dia tahu, dan terus dia sayang aku, aku nggak bakal pernah tahu itu sayang beneran atau cuma utang. Aku lebih baik nggak dipandang sama sekali daripada dipandang karena kasihan.”


“Pelatih klub datang minggu kedua,” kataku. “Bawa formulir. Pengunduran diri dari beasiswa atlet. Dia bilang dia nyesel. Dia bilang aku pelari terbaik yang dia latih dalam sepuluh tahun. Dia bilang kalau nanti kakiku sembuh, pintu klub selalu terbuka.” Aku menatap kaki kiriku, yang sekarang dibalut kasa di lutut, di celana yang robek. “Aku tanda tangan. Aku tahu kakiku nggak bakal sembuh kayak dulu.”

“Yan...”

“Empat bulan. Mbak Ayu, fisioterapisnya, ngajarin aku napas. Tarik empat, tahan empat, buang enam. Katanya napas itu satu-satunya yang bisa aku kontrol waktu badanku nggak mau nurut. Aku belajar jalan lagi pakai dua tongkat. Terus satu tongkat. Terus nggak pakai tongkat, tapi pincang.” Aku menarik napas. “Zaza datang tiap hari. Nyuapin aku bubur. Bacain berita bola. Dorong kursi roda. Dia nggak pernah bilang ke siapa-siapa kenapa. Dia janji ke aku di aspal malam itu, waktu aku masih sadar, dan dia nepatin.”

“Aku datang seminggu sekali,” kata Gilang kecil. “Bawa vitamin.”

“Kebanyakan vitamin.” Aku tersenyum sedikit. “Ibu masih nyimpen botol-botolnya. Ada yang belum dibuka.”

Gilang tertawa. Lalu tawanya berubah jadi tangis, dan dia menutup wajah dengan dasi kupu-kupu emas, dan bahunya berguncang.


“Habis itu lima tahun,” kataku, setelah dia agak tenang. “Wisuda sendirian. Pindah ke Jakarta. Kerja. Jumat malam kafe. Lihat dia sayang sama Evan. Lihat dia cerita ke Zaza soal malam itu, soal jaket merah, soal Evan yang rendah hati. Aku dengar dari ujung meja. Aku kupasin kacang buat kamu. Aku pesenin americano buat Evan.”

“Kenapa kamu tahan, Yan?” bisik Gilang. “Lima tahun. Kenapa kamu tahan?”

Aku tidak langsung menjawab. Pak RT menguap di pangkuanku, lebar, memperlihatkan semua giginya, lalu menempelkan kepalanya ke perutku.

“Karena dia bahagia,” kataku. “Dia punya sesuatu buat dipegang. Malam itu bikin dia takut jalan, takut nyetir, takut hujan. Tapi malam itu juga ngasih dia Evan. Pahlawan. Seseorang yang dia kagumi. Aku nggak mau ngambil itu dari dia.”

“Tapi itu bohong.”

“Iya.”

“Kamu biarin dia sayang sama kebohongan.”

Aku menatap Gilang. Dia menatapku balik dari lantai, dengan mata merah dan dasi kupu-kupu di tangan dan wajah yang tidak lucu sama sekali.

“Aku tahu, Lang,” kataku. “Aku tahu.”

“Dan kamu...” Gilang menelan. “Kamu sayang dia. Dari dulu. Dari bioskop.”

Aku tidak menjawab.

Aku tidak perlu.


Pukul tiga pagi, Gilang tertidur di lantai.

Dia tertidur duduk, bersandar ke kaki meja, dengan dasi kupu-kupu emas di dada dan mulut sedikit terbuka. Aku mengambil handuk dari kotak P3K-nya dan menyelimutinya. Pak RT turun dari pangkuanku dan meringkuk di sebelahnya, di tempat yang hangat.

Aku duduk di kursi kayu, tanpa kemeja, dengan perban di bahu dan kasa di lutut dan plester tyrannosaurus di pipi, di bawah lampu meja yang terang, di depan dinding penuh foto.

Ponselku ada di saku celana. Layarnya retak di satu sudut karena jatuh di aspal. Aku membukanya.

Satu pesan. Dari Zaza. Dikirim pukul 01.47.

Zaza: Dia di kosku. Aku nggak bawa dia ke kosnya sendiri. Dia nggak mau ngomong. Nggak mau makan. Nangis terus dari tadi. Udah tidur sekarang.

Zaza: Tasnya aku ambil dari rooftop. Hapenya ada di sini. Banyak notif dari kamu. Aku nggak buka.

Zaza: Jangan datang malam ini, Yan. Besok.

Aku menatap pesan itu lama.

Banyak notif dariku. Aku tidak ingat mengirim apa pun. Lalu aku melihat riwayat chat dengan Nadira, dan aku melihatnya. Tujuh pesan. Dikirim antara pukul 22.30 dan 01.00, waktu Gilang membersihkan lukaku dan waktu aku bercerita padanya dan waktu aku mengira aku tidak menyentuh ponsel sama sekali.

Nad.

Nad kamu di mana.

Kamu luka?

Maaf.

Maaf.

Maaf, Nad.

Aku di sini.

Aku tidak ingat mengetik satu pun. Jari-jariku pasti melakukannya sendiri, seperti kakiku yang berlari sendiri lima tahun lalu, seperti tubuhku yang selalu tahu di mana sisi jalan.

Pesan terakhir itu. Tiga kata. Bukan empat.

Aku tidak menulis udah.

Karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak tahu apakah semuanya sudah.


Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi kayu dan menatap langit-langit apotek Gilang. Langit-langit itu tidak punya noda bocor berbentuk Pulau Sulawesi. Hanya cat putih dan lampu neon yang berdengung pelan.

Tarik empat.

Tahan empat.

Buang enam.

Lima tahun aku menyimpan satu kalimat. Aku menyimpannya di bawah kasur, bersama sepatu lari biru tua yang solnya aus di bagian depan. Aku menyimpannya di balik kaos hitam leher bulat. Aku menyimpannya di jaket merah yang tergantung di lemari kamar Evan dalam plastik dry cleaning yang menguning. Aku menyimpannya di setiap langkah di sisi jalan.

Malam ini, di tengah jalan Senopati, di bawah gerimis, kalimat itu keluar lagi. Sendiri. Seperti napas. Tanpa izin.

Dan sekarang kalimat itu bukan milikku lagi.

Kalimat itu ada di bagian belakang kepala seorang perempuan yang sedang tidur di kos sahabatnya di Cipete, dengan gaun emas pucat yang robek, dengan mata bengkak, dengan pintu yang sudah terbuka dan tidak akan pernah bisa ditutup lagi.

Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan dengan kalimat itu.

Aku hanya tahu bahwa aku sudah tidak bisa memintanya kembali.