Chapter Thirty Nine
Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
POV: Ryan
Orang tua Nadira tinggal di Bandung.
Aku tahu itu. Aku tahu sejak tahun kedua kuliah, waktu dia pulang setiap akhir pekan dengan mobil tua ayahnya dan kembali hari Senin dengan rantang berisi rendang dari ibunya, yang dia bagikan ke seluruh sekretariat. Aku tahu alamatnya, kira-kira, di daerah Antapani. Aku pernah mengantarnya sampai ke mulut komplek sekali, waktu mobil ayahnya mogok dan dia menelepon jam sembilan malam.
Aku tidak pernah masuk ke rumahnya.
“Papa mau ketemu kamu,” kata Nadira hari Selasa, di kursi penumpang Si Lumut, di lampu merah Pancoran. Aku yang menyetir hari itu. Kakiku sedang bagus. “Sabtu ini. Makan malam.”
“Papa kamu.”
“Iya.”
“Papa Hadi.”
“Kamu tahu namanya?”
“Kamu cerita. Delapan tahun lalu. Papamu galak, tapi lucu. Kamu bilang dia interogasi semua cowok yang pernah nganter kamu pulang.”
Nadira menatapku. “Aku cerita itu kapan?”
“Di sekretariat. Tahun kedua. Kamu bilang ada cowok anak teknik yang nganter kamu ke rumah, terus Papa kamu nanya dia IPK-nya berapa, golongan darahnya apa, dan kenapa dia milih teknik sipil bukan teknik elektro.”
Nadira menutup mulut dengan tangan. “Aku lupa aku pernah cerita itu.”
“Aku nggak lupa.”
Dia menatapku lama. Lampu hijau. Aku jalan.
“Yan,” katanya. “Kamu nervous?”
“Nggak.”
“Tanganmu di persneling.”
“Itu tempat tangan pengemudi.”
“Kamu mindahin gigi dari tiga ke dua padahal kita lagi lurus.”
Aku melihat ke bawah. Persneling di gigi dua. Si Lumut menggerung protes.
“Nervous,” kataku.
Kami berangkat ke Bandung hari Sabtu pukul sepuluh pagi. Nadira menyetir. Ibu membekali kami dengan dua kotak kue sus emas untuk orang tua Nadira, dengan pesan yang ditulis di secarik kertas di atas tutupnya: Untuk Bu Wulan dan Pak Hadi. Dari Ratna, ibunya Ryan. Maaf anak saya lambat. Tapi dia baik.
“Bu,” kataku, membaca pesan itu. “Ini apa?”
“Pengantar,” kata Ibu. “Biar orang tuanya tahu dari awal.”
“Tahu apa?”
“Bahwa kamu lambat.” Ibu merapikan kerahku. Lagi. “Tapi baik.”
Tol Cipularang siang itu lancar. Nadira menyetir dengan kecepatan delapan puluh, dengan tangan di jam sepuluh dan jam dua, dengan sesekali tangan kiri yang pindah ke lututku. Aku duduk di kursi penumpang dengan dua kotak kue sus di pangkuan dan jantung yang sejak Cikampek tidak mau berdetak dengan normal.
Dia pernah menyetir di tol ini, katanya, sebelum malam itu. Sambil karaoke dangdut dengan Zaza.
Dia menyetir di tol ini lagi sekarang. Tanpa takut.
Waktu kami keluar di Pasteur, dan Bandung menyambut dengan udara yang sedikit lebih sejuk dan macet yang sama parahnya dengan Jakarta, Nadira tidak langsung menyetir ke Antapani.
Dia berbelok ke arah lain.
Aku tahu jalan ini. Aku tahu jalan ini lebih baik dari jalan mana pun di Bandung. Aku berjalan di jalan ini setiap hari selama tiga tahun, dari kos ke kampus, dari kampus ke kos. Aku berlari di jalan ini setiap pagi jam lima, sebelum matahari terbit, sebelum lintasan atletik dibuka.
“Nad,” kataku.
Dia tidak menjawab. Dia menyetir pelan. Melewati deretan warung fotokopi dan kos-kosan dan toko alat tulis. Melewati minimarket dengan cahaya putih.
Lalu dia berhenti. Di pinggir jalan. Di seberang gerbang kampus.
Di bawah lampu jalan.
Siang hari. Lampu jalan itu mati. Tiang besinya sudah dicat ulang, abu-abu, tidak lagi hijau seperti lima tahun lalu. Tapi itu tiang yang sama. Di tempat yang sama. Di depan jalan dua jalur yang lurus, dengan minimarket bercahaya putih di seberangnya.
Nadira mematikan mesin.
Kami duduk diam di dalam Si Lumut. Menatap jalan. Mobil-mobil lewat. Motor. Mahasiswa-mahasiswa dengan ransel menyeberang di zebra cross yang baru dicat, putih dan tebal.
Ada zebra cross sekarang. Lima tahun lalu tidak ada.
“Aku nggak pernah balik ke sini,” kata Nadira pelan. “Sejak malam itu. Waktu wisuda, aku minta Papa lewat jalan belakang kampus. Biar nggak lewat sini.”
Aku tidak bicara.
“Kamu?”
“Aku lewat sini tiap hari,” kataku. “Setahun. Sampai aku wisuda. Kosku di sana.” Aku menunjuk ujung jalan. “Satu-satunya jalan ke kampus.”
Nadira menoleh padaku.
“Tiap hari?”
“Pakai tongkat. Terus nggak pakai tongkat.”
“Kamu nggak takut?”
Aku menatap jalan. Tiang lampu yang sudah dicat abu-abu. Minimarket bercahaya putih. Zebra cross yang baru.
“Aku nggak inget takut,” kataku. “Aku cuma inget, tiap kali lewat sini, aku berdiri lebih lama di tepi trotoar. Ngelihat kiri. Ngelihat kanan. Ngelihat kiri lagi. Baru nyebrang.” Aku diam sebentar. “Kayaknya dari situ kebiasaannya mulai. Berdiri di sisi jalan.”
Nadira tidak menjawab.
Dia membuka pintu. Dia keluar dari Si Lumut. Dia berjalan ke tepi trotoar, di bawah tiang lampu yang sudah dicat abu-abu, dan berdiri di sana, menatap jalan.
Aku keluar juga. Aku berdiri di sebelahnya.
Di sisi jalan. Seperti biasa.
Dia tidak menghentikanku kali ini. Dia hanya mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku.
“Di sini,” katanya. Pelan. Menatap aspal di depan kami. “Di sini kamu lari.”
“Iya.”
“Lima belas meter.”
“Dari gerbang fakultas. Lima belas meter ke sini. Ke kamu.”
Dia menggenggam tanganku lebih erat.
Lalu, tanpa bicara, dia melangkah turun dari trotoar. Ke zebra cross. Dengan tanganku di tangannya.
Kami menyeberang. Pelan. Di siang hari, di Bandung, di jalan yang sama, dengan mahasiswa-mahasiswa yang lewat dan tidak tahu apa-apa. Di tengah jalan, di tempat yang lima tahun lalu dia berdiri menatap minimarket dan tidak menoleh, dia berhenti.
Satu detik. Dua detik.
Lalu dia melanjutkan. Sampai ke seberang. Sampai ke depan minimarket bercahaya putih.
Dia masuk ke minimarket.
Dia keluar satu menit kemudian dengan kantong plastik kecil. Di dalamnya, sebungkus roti sobek. Cokelat.
“Aku nggak pernah sempat beli,” katanya. Matanya basah. Tapi dia tersenyum. Lesung pipi kiri. “Lima tahun aku pengen roti sobek cokelat.”
Kami makan roti sobek cokelat itu di bangku plastik di depan minimarket, di seberang gerbang kampus, di bawah matahari siang Bandung, sambil menatap tiang lampu yang sudah dicat abu-abu.
Rotinya biasa saja. Terlalu manis. Cokelatnya seperti lilin.
Nadira menghabiskannya sambil menangis dan tertawa sekaligus.
Rumah orang tua Nadira di Antapani kecil dan rapi, dengan pagar besi hijau, taman kecil penuh bunga mawar, dan carport yang diisi mobil tua berwarna biru tua. Mobil yang sama dengan yang dulu dia setir dari Bandung ke Jakarta waktu liburan semester. Mobil yang sama yang dulu mogok.
Papa Hadi membuka pintu sebelum kami mengetuk.
Laki-laki berusia enam puluhan, tidak terlalu tinggi, berperut sedikit buncit, dengan kumis tebal yang sudah setengah putih dan kacamata baca yang diturunkan ke ujung hidung. Dia memakai kemeja batik dan sarung, dan dia berdiri di ambang pintu dengan tangan bersilang di dada, menatapku dari atas ke bawah.
Lama.
“Ini,” katanya.
“Iya, Pa,” kata Nadira.
“Yang pincang.”
“Papa.“
“Papa cuma deskriptif.” Papa Hadi tidak melepaskan matanya dariku. “Nama?”
“Ryan, Om. Ryan Adiputra.”
“Umur?”
“Dua puluh delapan.”
“Kerja?”
“GIS analyst. Konsultan tata ruang. Di Kuningan.”
“GIS itu apa?”
“Sistem informasi geografis, Om. Bikin peta.”
Papa Hadi memicingkan mata. “Peta. Peta kayak di buku atlas?”
“Peta digital, Om. Buat perencanaan wilayah. Zonasi. Tata guna lahan.”
“Hmm.” Papa Hadi menatapku lebih lama. “Golongan darah?”
“O, Om.”
“Rhesus?”
“Positif.”
“IPK?”
“Papa, ini bukan seleksi beasiswa!”
“Tiga koma enam satu, Om,” kataku.
Papa Hadi menatapku. Lalu dia menatap Nadira. Lalu dia menatapku lagi.
“Kamu jawab semua.”
“Om nanya.”
“Cowok anak teknik dulu cuma jawab dua. Dia nggak tahu rhesusnya.”
“Saya tahu rhesus saya, Om. Saya pernah donor darah.”
“Berapa kali?”
“Dua belas kali.”
Papa Hadi diam. Kumisnya bergerak. Aku tidak tahu apakah itu senyum atau sesuatu yang lain.
Lalu dia melihat kotak kue sus di tanganku. Dia melihat kertas di atas tutupnya. Dia mengambil kotak itu, mengangkat kacamata dari ujung hidung, dan membaca pesan Ibu.
Untuk Bu Wulan dan Pak Hadi. Dari Ratna, ibunya Ryan. Maaf anak saya lambat. Tapi dia baik.
Dia membacanya dua kali. Lalu dia menatapku.
“Lambat,” katanya.
“Iya, Om.”
“Seberapa lambat?”
Aku menatap Nadira. Nadira menatapku. Lalu aku menatap Papa Hadi lagi.
“Delapan tahun, Om,” kataku.
Papa Hadi diam lama sekali.
Lalu dia membuka pintu lebih lebar.
“Masuk,” katanya. “Mama udah masak dari jam enam pagi. Kalau kamu nggak habisin, kamu yang Papa interogasi sampai subuh.”
Mama Wulan tidak seperti yang kubayangkan.
Aku membayangkan perempuan yang cerewet dan ekspresif, seperti Nadira. Ternyata Mama Wulan pendiam. Kecil, bertubuh ramping, dengan rambut pendek yang sudah memutih seluruhnya dan mata yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis. Dia menyambutku dengan senyum kecil dan anggukan, dan dia tidak bicara banyak selama makan.
Tapi dia memperhatikan.
Aku melihatnya. Dia memperhatikan caraku duduk, dengan kaki kiri sedikit diluruskan di bawah meja. Dia memperhatikan caraku mengambil nasi, setelah Nadira, setelah Papa Hadi, setelah dia. Dia memperhatikan caraku memotong ayam goreng di piring Nadira jadi potongan kecil, karena Nadira selalu malas memotong dan aku sudah melakukannya tanpa sadar sejak tahun kedua kuliah.
Dia memperhatikan semuanya, dengan mata yang tenang di balik kacamata, dan dia tidak bilang apa-apa.
Papa Hadi, sebaliknya, bicara terus.
“Mobilmu itu,” katanya, menunjuk ke arah carport dengan garpu. “Yang hijau. Umur berapa?”
“Lima belas tahun, Om.”
“Lima belas tahun.” Papa Hadi mengunyah. “Lebih tua dari hubunganmu sama anak saya.”
“Pa,” kata Nadira.
“Papa cuma ngitung.”
“Hubungan kami baru sebulan, Pa. Semuanya lebih tua dari hubungan kami.”
“Persahabatan delapan tahun,” kata Papa Hadi. “Papa ngitung yang itu juga. Mobilnya tetap lebih tua.” Dia menatapku. “Mobil tua itu remnya bagus?”
“Udah dimodif, Om.”
“Siapa yang modif?”
“Saya.”
“Kamu bisa modif rem?”
“Saya belajar dari YouTube, Om. Terus dicek bengkel.”
Papa Hadi diam. Lalu dia mengangguk pelan, seperti orang yang mencatat sesuatu di buku besar di kepalanya.
“Nadira bilang kamu yang ngajarin dia nyetir lagi.”
“Iya, Om.”
“Pakai mobil itu?”
“Iya, Om.”
“Lima tahun dia nggak mau nyetir,” kata Papa Hadi. Garpunya berhenti di udara. “Lima tahun Papa nawarin. Papa beliin mobil baru, dia nggak mau. Papa daftarin kursus nyetir, dia bolos. Papa bilang Papa yang temenin, dia nangis.”
Aku tidak bicara.
“Terus kamu,” lanjut Papa Hadi. Pelan. Suaranya berubah. “Kamu ngajarin dia dua bulan. Pakai mobil umur lima belas tahun. Jam enam pagi tiap Sabtu.”
“Om—”
“Kok kamu bisa?”
Aku menatap piringku. Ayam goreng. Sambal terasi. Lalapan.
“Saya cuma duduk di sebelahnya, Om,” kataku. “Nadira yang belajar.”
Setelah makan, Mama Wulan mengajak Nadira ke dapur untuk mencuci piring.
Aku tahu itu bukan tentang piring. Aku tahu dari cara Mama Wulan menatap Nadira, lalu menatap pintu dapur, lalu menatap Nadira lagi. Nadira juga tahu. Dia menatapku sebelum pergi, dengan mata yang bilang maaf, dan aku tidak tahu kenapa dia minta maaf sampai lima menit kemudian.
Aku duduk di ruang tamu dengan Papa Hadi. Dia menyalakan televisi, menonton berita, dan tidak bicara.
Dari dapur, suara air mengalir. Lalu berhenti.
Lalu suara Nadira. Pelan. Aku tidak bisa mendengar kata-katanya. Tapi aku mendengar nadanya. Nada orang yang menceritakan sesuatu yang panjang dan sulit.
Lalu sunyi.
Lalu suara piring yang jatuh ke lantai. Pecah.
Papa Hadi berdiri dari kursinya.
Lalu pintu dapur terbuka, dan Mama Wulan keluar.
Dia berjalan ke ruang tamu. Pelan. Dengan tangan yang masih basah oleh air cucian. Kacamatanya miring. Matanya merah di balik kacamata.
Dia berhenti di depanku.
Aku berdiri. Aku tidak tahu kenapa. Tubuhku tahu sebelum aku tahu.
Mama Wulan menatapku. Dari dekat. Dengan mata yang tajam dan tenang dan sekarang basah. Dia menatap wajahku. Dia menatap bahuku, yang sedikit lebih tinggi di sebelah kanan. Dia menatap kaki kiriku.
Lalu dia mengangkat tangan. Basah. Dingin karena air cucian. Dan dia menyentuh pipiku.
“Kamu,” katanya. Suaranya pelan. Hancur. “Kamu yang meluk kepala anak saya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Lima tahun,” kata Mama Wulan. “Lima tahun saya nggak tahu. Saya kira Evan. Saya kirim surat terima kasih ke rumah Evan. Saya doain Evan tiap habis salat.” Air mata turun di balik kacamatanya. “Saya doain orang yang salah, Nak. Lima tahun.”
“Bu—”
“Kepala anak saya.” Dia menangis sekarang. Tangannya yang basah masih di pipiku. “Dokter bilang kalau kepalanya kebentur lebih keras, dia bisa... dia bisa...” Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. “Dokter bilang ada yang ngelindungin kepalanya. Saya kira itu jaket. Saya kira itu keberuntungan.”
Dia menatapku.
“Itu kamu.”
Lalu Mama Wulan memelukku.
Perempuan kecil dengan rambut putih dan tangan basah oleh air cucian, memelukku di ruang tamu rumahnya di Antapani. Erat. Lama. Kepalanya di dadaku, karena dia hanya setinggi bahuku. Tangannya di punggungku. Di garis itu. Dia tidak tahu garis itu ada di sana. Dia hanya memeluk, dan tangannya kebetulan berada di sana, di antara belikat, menekan pelan, dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang selama lima tahun mengeras seperti batu, retak.
“Terima kasih,” bisik Mama Wulan ke kemejaku. “Terima kasih, Nak. Terima kasih udah meluk kepalanya.”
Aku tidak menangis waktu dokter bilang aku mungkin tidak akan berjalan lagi. Aku tidak menangis waktu menandatangani formulir pengunduran diri dari beasiswa. Aku tidak menangis di wisuda dengan satu tongkat.
Aku menangis di ruang tamu rumah Mama Wulan di Antapani, dalam pelukan perempuan kecil berambut putih dengan tangan basah oleh air cucian.
Di pintu dapur, Nadira berdiri dengan tangan menutup mulut.
Papa Hadi tidak bilang apa-apa selama sisa sore itu.
Dia duduk di kursinya dan menonton berita. Lalu menonton sinetron. Lalu mematikan televisi dan menatap layar yang hitam.
Waktu matahari mulai terbenam dan Nadira bilang kami harus kembali ke Jakarta, Papa Hadi berdiri.
“Ryan,” katanya. “Ikut Papa sebentar. Ke garasi.”
Nadira menatapku dengan mata lebar. Mama Wulan menatap suaminya.
Aku mengikuti Papa Hadi ke carport. Ke mobil tua berwarna biru tua. Dia membuka bagasi mobil itu. Di dalamnya, kardus-kardus. Dia membuka satu. Dia mengeluarkan sesuatu.
Sebuah parsel. Parsel lebaran. Keranjang rotan berisi sirup, kue kaleng, biskuit, kacang mete, dibungkus plastik bening dengan pita merah. Di kartunya, tulisan tangan yang besar dan miring:
Untuk Nak Evan dan Keluarga. Terima kasih telah menyelamatkan putri kami. Semoga Allah membalas kebaikan Nak Evan. Dari Keluarga Hadi Kusumawardhana.
Aku menatap parsel itu.
“Lima tahun,” kata Papa Hadi. Dia tidak menatapku. Dia menatap parsel di tangannya. “Tiap lebaran, Papa kirim parsel ke rumah keluarga Wiratama di Menteng. Lima tahun. Ini yang keenam. Udah Papa beli dari bulan lalu. Belum sempat dikirim.”
“Om...”
“Satpamnya selalu nerima. Nggak pernah ada balasan. Papa pikir mereka orang kaya, sibuk, nggak apa-apa. Papa tetap kirim.” Dia tertawa, pendek, tanpa suara. “Papa bangga tiap kali kirim. Papa bilang ke teman-teman di masjid. ‘Anak saya diselamatkan anak orang Menteng. Orang kaya tapi baik.’”
Aku tidak bicara.
Papa Hadi menatap parsel itu lama. Lalu dia merobek kartunya. Pelan. Dua kali. Empat kali. Dia memasukkan potongan-potongan kertas itu ke saku sarungnya.
Lalu dia menyerahkan parsel itu padaku.
“Mulai tahun ini,” katanya, “parselnya pindah alamat.”
Aku menatap parsel di tanganku. Sirup. Kue kaleng. Biskuit. Kacang mete. Pita merah.
“Om, saya nggak—”
“Papa nggak tahu harus bilang apa.” Papa Hadi akhirnya menatapku. Kumisnya bergetar. Matanya, di balik kacamata baca yang diturunkan ke ujung hidung, merah. “Papa ini orang yang bisa nanya golongan darah, rhesus, IPK. Papa nggak tahu cara bilang terima kasih ke orang yang nyelametin nyawa anak Papa dan nggak bilang apa-apa lima tahun.”
“Om nggak perlu bilang apa-apa.”
“Papa perlu.” Dia menarik napas. Panjang. “Tapi Papa nggak bisa. Jadi Papa kasih parsel. Itu yang Papa bisa.”
Aku memegang parsel itu dengan dua tangan. Plastiknya berkeresek.
“Terima kasih, Om.”
“Jangan Om,” kata Papa Hadi. Dia berbalik, menutup bagasi mobil tua birunya dengan bunyi keras. “Papa.”
Aku menatap punggungnya.
“Kalau kamu bisa jawab rhesus, kamu bisa panggil Papa,” katanya, tanpa menoleh. “Itu aturan.”
Di Si Lumut, di tol Cipularang, dengan Nadira yang menyetir dan parsel lebaran di pangkuanku dan kotak kosong bekas kue sus Ibu di jok belakang, aku tidak bicara selama satu jam.
Nadira tidak memaksaku. Tangannya pindah dari setir ke lututku setiap lima menit. Tinggal di sana sebentar. Pindah lagi.
Di rest area kilometer sembilan puluh, dia berhenti. Dia mematikan mesin. Dia menoleh padaku.
“Yan.”
“Hm.”
“Mama nangis di dapur. Pas aku cerita. Dia jatuhin piring.”
“Aku dengar.”
“Papa nggak pernah nangis. Seumur hidupku. Bahkan waktu Eyang meninggal.”
“Papa kamu nggak nangis tadi.”
“Matanya merah, Yan. Aku lihat dari jendela.”
Aku menatap parsel di pangkuanku. Pita merah. Plastik bening.
“Papa bilang aku boleh manggil Papa,” kataku.
Nadira tidak bicara. Dia menatapku lama. Lalu dia mencondongkan badan, melewati tuas persneling, dan mencium pipiku. Di tempat yang tadi disentuh tangan basah Mama Wulan.
“Kamu jawab rhesus,” bisiknya. “Nggak ada yang pernah bisa jawab rhesus.”
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi reading
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan