← Udah, Aku di Sini

Chapter Three

Bab 3 — P3K Seberat Galon

POV: Nadira


“Kenapa,” tanya Zaza dengan nada orang yang sudah kehilangan harapan pada umat manusia, “kamu bawa tensimeter ke tempat bowling?”

Gilang menaruh kotak P3K-nya di atas meja skor dengan bunyi dug yang membuat dua anak SMP di lane sebelah menoleh. Kotak itu berwarna oranye, berbahan plastik tebal, dengan tulisan GILANG — JANGAN DIBUKA KECUALI DARURAT (ATAU AKU NGIZININ) ditempel pakai label printer. Ukurannya kira-kira sebesar galon air mineral yang dipotong setengah.

“Bowling,” kata Gilang dengan suara dosen, “adalah olahraga dengan risiko cedera pergelangan tangan tertinggi ketiga di antara olahraga rekreasi dalam ruangan.”

“Siapa yang bilang?”

“Aku.”

“Berdasarkan?”

“Firasat yang didukung pengalaman.” Dia membuka tutupnya. Di dalamnya, tersusun rapi seperti etalase toko emas: perban elastis tiga ukuran, kasa steril, plester luka dengan gambar dinosaurus, salep memar, semprotan pendingin, minyak kayu putih, minyak tawon, koyo, oksimeter, termometer digital, tensimeter lengan, dan—aku menyipitkan mata—satu bungkus permen jahe.

“Permen jahe buat apa?”

“Mual karena kalah.”

Evan tertawa sampai harus berpegangan pada rak bola. Hari ini dia memakai kaos putih polos dan celana jins, dan aku sudah dua kali memaksa mataku berhenti melihat lengannya waktu dia mengangkat bola nomor empat belas. Dua kali gagal.

Sabtu siang di tempat bowling sebuah mal di Jakarta Selatan. Gilang yang memaksa. Katanya circle perlu “kegiatan fisik terstruktur” karena “kita semua sudah mulai menua dan Ryan sudah pincang duluan”. Ryan, yang sedang mengikat tali sepatu bowling sewaan, cuma bilang, “Terima kasih, Lang,” dengan nada orang yang menerima ucapan belasungkawa.

Aku belum bisa menatap Gilang dengan wajar sejak Jumat malam. Pesannya sudah dihapus, tapi kerusakannya sudah terjadi. Setiap kali dia melihatku, dia mengangkat alis dua kali dengan cepat, seperti agen rahasia di film murahan, dan setiap kali itu juga aku ingin melemparnya dengan bola nomor delapan.

Untungnya, Evan tidak tahu. Setidaknya, dia bersikap seperti tidak tahu. Dia menyapaku seperti biasa waktu datang, menawariku minum seperti biasa, tertawa pada leluconku seperti biasa. Mungkin sedikit kurang menatap mataku. Mungkin. Tapi itu bisa saja imajinasiku yang terlalu sensitif.


Tim dibagi berdasarkan undian, dan undian dibuat oleh Gilang, jadi tentu saja undiannya curang.

“Tim A: aku, Zaza, Evan,” umum Gilang sambil membaca kertas yang jelas-jelas dia tulis sendiri lima detik lalu. “Tim B: Nadira dan Ryan.”

“Kok timnya nggak seimbang?” protesku.

“Ryan dihitung dua orang. Dia diam, tapi dia tenang. Orang tenang skornya stabil.”

“Itu logika dari mana?”

“Jurnal Farmasi Indonesia edisi—”

“Lang,” kata Zaza, “kalau kamu nyebut jurnal lagi, aku masukin kepala kamu ke mesin pengembali bola.”

Ryan berdiri di sebelahku, menatap papan skor yang menampilkan nama kami. Gilang mengetik nama tim kami sebagai TIM TELAT LULUS & SUMBER VITAMIN D. Tim mereka bernama TIM YANG MASIH PUNYA MASA DEPAN.

“Kamu nggak protes?” bisikku.

“Buat apa,” kata Ryan. “Kita bakal menang.”

Aku menatapnya. Dia tidak sedang bercanda. Wajahnya datar, seperti orang yang baru saja menyampaikan prakiraan cuaca.

Ternyata dia benar.

Masalahnya, aku tidak bisa bowling. Bola pertamaku masuk selokan sebelum mencapai setengah lane. Bola keduaku masuk selokan yang lain. Bola ketigaku—aku tidak mau membicarakan bola ketigaku, karena melibatkan aku yang lupa melepas jari dari lubang bola dan hampir ikut terseret ke lane, dan Gilang yang langsung berdiri dengan semprotan pendingin di tangan seperti pemadam kebakaran.

“Aku nggak apa-apa!”

“Pergelangan tanganmu bunyi.”

“Itu bunyi harga diriku.”

Zaza tertawa sampai menangis. Evan tertawa juga, lalu datang ke lane kami dan—jantungku mulai melakukan senam aerobik—berdiri di belakangku.

“Sini, Nad. Pegang bolanya begini.” Tangannya menyentuh tanganku sebentar, membenarkan posisi jariku, lalu langsung mundur. Cepat sekali. Seperti orang yang menyentuh panci panas. “Terus ayun lurus. Jangan dilempar. Lepas aja.”

Aku mengangguk dengan wajah merah sampai ke leher. Aku mengayun. Bola itu menggelinding lurus, pelan sekali, sangat pelan, begitu pelan sampai anak SMP di lane sebelah menonton dengan tegang, dan akhirnya menyentuh pin paling depan dengan lembut, seperti salam perkenalan.

Satu pin jatuh.

“YAAAA!” teriakku, mengangkat kedua tangan.

“Satu,” kata Zaza. “Satu pin. Dari sepuluh.”

“Satu adalah awal dari segalanya, Za.”

Aku tidak sadar apa yang terjadi di sekelilingku waktu itu. Zaza yang memberitahuku, beberapa hari kemudian, di telepon.

“Kamu nggak lihat ya,” katanya, dengan nada orang yang sudah terlalu lama menyaksikan fenomena alam yang sama dan masih belum bisa memutuskan harus kagum atau kesal. “Waktu kamu angkat tangan terus teriak. Setengah tempat bowling berhenti main.”

“Bohong.”

“Anak SMP di lane sebelah nanya ke aku, ‘Kak, itu selebgram ya?’ Bapak-bapak di lane tiga ngelempar bolanya ke selokan karena dia lagi noleh ke kamu. Mas penjaga sepatu sewaan berhenti nyemprot sepatu. Sepatunya masih di tangan. Semprotannya masih di tangan. Dia cuma berdiri di situ, Nad. Kayak patung.”

“Aku cuma jatuhin satu pin, Za.”

“Iya. Kamu jatuhin satu pin. Setengah laki-laki di gedung itu jatuh semua.”

Aku tertawa, karena itu yang selalu kulakukan kalau orang bilang hal-hal seperti itu. Tapi Zaza tidak tertawa. Di ujung telepon, dia diam sebentar.

“Kamu tahu siapa satu-satunya yang nggak berhenti?” tanyanya.

“Siapa?”

“Yang tepuk tangan tiga kali.”

Waktu itu aku tidak mengerti kenapa dia mengatakannya. Aku hanya ingat bahwa, di tempat bowling, di bawah lampu-lampu neon dan bunyi pin berjatuhan dan dangdut dari speaker di langit-langit, dengan rambut yang lepas dari ikatannya dan pipi yang merah karena malu dan tangan yang masih terangkat tinggi untuk satu pin yang menyedihkan—

Waktu aku berbalik, Evan sudah kembali ke kursinya, menatap ponselnya. Ryan bertepuk tangan pelan. Tiga kali. Dengan wajah sangat serius, seolah aku baru saja memenangkan medali olimpiade.

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya.


Tapi Ryan.

Ryan bowling dengan cara yang aneh. Dia tidak berlari ke garis seperti Evan yang melangkah panjang dan percaya diri, atau seperti Gilang yang melompat-lompat kecil seperti kelinci kesurupan. Ryan berjalan. Tiga langkah, pelan, kaki kiri sedikit lebih hati-hati dari kaki kanan. Lalu dia membungkuk, mengayun dengan gerakan yang hampir malas, dan melepas bola.

Strike.

Bola berikutnya. Tiga langkah, pelan. Strike.

Bola berikutnya. Spare.

“Ini nggak adil,” kata Gilang setelah frame kelima. “Kenapa orang pincang lebih jago dari aku?”

“Karena aku nggak pakai tenaga,” kata Ryan. “Aku pakai sudut.”

“Kamu ngomong kayak fisikawan.”

“Aku ngomong kayak orang yang tiap hari ngitung kemiringan lahan.”

Evan tertawa, lalu bilang, “Dari dulu dia begitu. Waktu SMA, main kelereng, dia nggak pernah kalah. Bukan karena kuat, tapi karena dia ngitung.”

“Kamu main kelereng waktu SMA?” Zaza menatap Evan dengan tatapan menghakimi.

“Itu fase.”

“Fase apa?”

“Fase kami nggak punya uang buat main PS di rental.”

Aku menatap Ryan, yang sudah kembali duduk dan sedang meminum air mineral. Aku kenal dia delapan tahun, tapi aku baru tahu dia jago bowling. Aku baru tahu dia main kelereng waktu SMA. Aku baru tahu bahwa caranya berjalan ke garis lane itu—tiga langkah, pelan, hati-hati—mirip caranya berjalan menuruni tangga kos-kosanku dulu, setiap kali dia mengantar fotokopian materi waktu aku sakit.

Ada banyak hal tentang Ryan yang baru kutahu, dan aku mulai merasa sedikit bersalah karena itu.

Skor akhir: Tim Telat Lulus & Sumber Vitamin D menang dengan selisih dua puluh tiga poin. Dua puluh dua dari Ryan, satu dari aku.

“Satu pin itu krusial,” kataku.

“Sangat,” kata Ryan.


Setelah bowling, Gilang mengusulkan makan sate di warung kaki lima seberang mal, yang menurutnya “satenya paling higienis se-Jakarta Selatan karena tukang satenya pakai sarung tangan plastik dan aku sudah cek sendiri”.

“Kamu mengecek kebersihan tukang sate?”

“Aku mengecek kebersihan semua hal yang masuk ke mulutku, Za. Itu tanggung jawab profesi.”

Kami keluar dari pintu samping mal. Langit sudah mulai gelap, dan ternyata gerimis. Gerimis tipis, yang hampir tidak terasa di kulit tapi membuat aspal jadi mengilap dan lampu-lampu kendaraan berbayang panjang.

Warung sate itu ada di seberang jalan. Jalan dua jalur, tidak terlalu lebar, tapi ramai. Ada zebra cross yang catnya sudah pudar di beberapa bagian, dan tidak ada lampu penyeberangan.

Evan dan Gilang menyeberang duluan, mengobrol soal sepak bola. Zaza menyusul di belakang mereka sambil membalas pesan klien.

Aku berhenti di tepi trotoar.

Ini bukan hal baru. Aku sudah lima tahun hidup dengan ini, dan biasanya aku bisa mengaturnya. Aku menunggu jalan benar-benar kosong. Aku menyeberang di belakang orang lain. Aku pakai jembatan penyeberangan kalau ada, walaupun harus jalan tiga ratus meter lebih jauh. Aku tidak pernah menyetir lagi, karena setiap kali duduk di balik kemudi, aku membayangkan lampu jalan yang berkedip dan suara mesin yang tidak punya cahaya.

Tapi malam ini gerimis. Dan gerimis membuat segalanya lebih buruk.

Lututku melupakan cara menjadi lutut. Kakiku menempel di trotoar seperti dilem. Mobil-mobil lewat dengan lampu yang memantul di aspal basah, dan setiap mobil yang lewat membuat dadaku menyempit satu senti. Di seberang, Gilang sudah duduk di bangku plastik warung sate, melambaikan tangan. Evan berdiri di sebelahnya. Dia menoleh ke arahku. Matanya bertemu mataku, lalu—cepat sekali—dia mengalihkan pandangan ke tukang sate.

Aku menarik napas. Satu mobil lewat. Satu motor. Satu angkot yang berhenti mendadak tanpa alasan, lalu jalan lagi.

Ayo, Nad. Ini cuma jalan. Ini cuma jalan dua jalur. Kamu dua puluh tujuh tahun. Kamu sudah pernah presentasi di depan direksi bank. Kamu bisa menyeberang jalan.

Kakiku tidak bergerak.

Lalu ada seseorang di sebelahku.

Aku tidak mendengarnya datang. Tiba-tiba saja dia ada di sana, di sisi kananku—di sisi jalan, di antara aku dan mobil-mobil yang lewat. Dia tidak menyentuhku. Dia tidak bertanya apa aku baik-baik saja. Dia cuma berdiri, tangan di saku jaketnya, menatap lalu lintas dengan wajah datar, seperti orang yang menunggu bus.

Lalu, waktu jalan sedikit lebih lengang, dia bilang satu kata.

“Jalan.”

Bukan pertanyaan. Bukan perintah juga. Lebih seperti pemberitahuan. Seperti ketika dia bilang “Makan” waktu menggeser piring pisang goreng.

Dan kakiku—entah bagaimana—bergerak.

Kami menyeberang. Dia berjalan sedikit di depanku, di sisi kanan, selalu di antara aku dan arah datangnya kendaraan. Langkahnya pelan, cukup pelan untuk aku ikuti tanpa terburu-buru. Waktu sebuah motor membunyikan klakson dari jauh, dia tidak menoleh, tapi bahunya sedikit bergeser, seolah tubuhnya sudah siap menjadi dinding.

Lalu kami sampai di seberang. Aspal berganti jadi trotoar. Kakiku menginjak tanah yang tidak bergerak.

Aku menghembuskan napas yang tidak sadar kutahan sejak tadi.

Ryan sudah berjalan ke bangku plastik, duduk di sebelah Gilang, dan mengambil menu yang dilaminasi. Dia tidak menoleh ke arahku. Dia tidak bilang apa-apa. Seolah yang barusan terjadi tidak lebih penting dari memilih sate kambing atau sate ayam.

“Nad!” Gilang melambai. “Sini. Aku sudah pesan sate ayam dua puluh tusuk tanpa kulit, karena kulit mengandung lemak jenuh yang—”

“Lang,” kata Zaza.

“—yang enak, aku tahu, tapi kita harus bijak.”

Aku duduk. Tanganku masih sedikit gemetar, jadi aku menyembunyikannya di bawah meja. Zaza melirikku, lalu melirik Ryan, lalu kembali ke ponselnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Kamu kenapa?” tanya Gilang, menatapku dengan mata menyipit. “Muka kamu pucat. Tensi dulu.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Tensi.”

“Lang—”

Dia sudah membuka kotak P3K, mengeluarkan tensimeter, dan melilitkan manset ke lenganku sebelum aku sempat menolak. Tukang sate menatap kami dengan heran. Dua pembeli lain menatap kami dengan lebih heran.

“Seratus sepuluh per tujuh puluh,” umum Gilang. “Normal. Tapi nadi seratus dua. Itu agak cepat.” Dia menatapku curiga. “Kamu deg-degan kenapa?”

“Gerimis,” kataku. “Aku nggak suka nyebrang pas gerimis.”

Gilang mengangguk dengan simpati profesional. Evan, yang duduk di seberangku, menunduk menatap piringnya yang masih kosong. Zaza berhenti mengetik.

“Oh iya,” kata Gilang pelan, nadanya berubah. “Sori, Nad. Lupa.”

“Nggak apa-apa.” Aku memaksakan senyum. “Sudah lima tahun. Harusnya aku sudah sembuh.”

“Trauma nggak punya tanggal kedaluwarsa,” kata Gilang, dan untuk sekali itu dia tidak terdengar seperti orang yang mengutip jurnal. “Kamu nggak perlu buru-buru.”

Aku menatapnya, sedikit terharu. Lalu dia menambahkan, “Tapi kalau mau, aku punya permen jahe,” dan momen itu hancur.

Sate datang. Kami makan. Gilang menjelaskan kenapa sambal kacang lebih sehat dari sambal kecap, dan Zaza menjelaskan kenapa Gilang tidak akan pernah menikah. Evan tertawa di tempat yang tepat, tapi sesekali matanya kosong, menatap jalan raya di belakangku.

Ryan makan dalam diam. Waktu aku kehabisan teh botol, dia mendorong teh botolnya sendiri, yang masih separuh, ke arahku. Tanpa bicara.

Waktu itu aku pikir itu cuma Ryan. Ryan yang selalu ada. Ryan yang menggeser piring pisang goreng dan memesan teh tarik kurang manis dan berdiri di sisi jalan.

Aku tidak berpikir lebih jauh dari itu.

Tidak sampai lama, lama kemudian.


Waktu pulang, Evan menawariku tumpangan lagi. Kali ini tidak ada telepon dari ayahnya. Tapi sebelum aku sempat menjawab, Zaza menarik lenganku.

“Nadira pulang sama aku. Kami ada urusan perempuan.”

“Urusan apa?”

“Urusan yang kalau aku jelaskan, kamu bakal pingsan, Van.”

Evan mengangkat tangan menyerah. Zaza menyeretku ke mobilnya. Di dalam mobil, setelah pintu tertutup, dia menyalakan mesin dan tidak langsung jalan.

“Kenapa?” tanyaku.

Dia menatap lurus ke depan, ke kaca depan yang mulai berembun karena gerimis. Di trotoar, di bawah lampu jalan, Ryan dan Evan berdiri berhadapan. Mereka tidak bicara. Atau mungkin bicara, tapi pelan. Evan memasukkan tangan ke rambutnya, gerakan yang dia lakukan kalau sedang frustrasi. Ryan berdiri diam, seperti tiang.

“Nggak apa-apa,” kata Zaza akhirnya. Dia memasukkan gigi dan mobil mulai jalan. “Aku cuma mau nganter kamu pulang.”

“Kamu bilang urusan perempuan.”

“Urusan perempuannya adalah: aku mau nganter kamu pulang.”

Aku menatapnya. Zaza menyetir dengan dua tangan di kemudi, rahang mengeras, dan di lampu merah pertama, dia mengusap matanya dengan punggung tangan, cepat sekali, seolah ada debu.

“Za?”

“Gerimis,” katanya. “Aku juga nggak suka gerimis.”