← Udah, Aku di Sini

Chapter Twenty Seven

Bab 27 — Satu Kalimat Lagi

POV: Nadira


Senin pagi, termos dengan stiker kucing memberi hormat kembali ke lobi gedung tua di Kuningan.

Kali ini, ada catatan kecil yang ditempel di tutupnya. Kertas sticky note kuning, ditulis dengan spidol hitam, huruf besar-besar supaya terbaca dari jauh:

BUKAN UTANG. CUMA KOPI. (SAMA AKU, KALAU MAU.)

Aku tidak menyerahkannya langsung pada Ryan. Aku menitipkannya ke Mbak Lia di resepsionis, yang sudah tersenyum padaku sejak minggu kedua, lalu aku pergi sebelum lift yang berhenti dua detik terlalu lama di setiap lantai sempat turun.

Pukul 09.14, ponselku bergetar. Bukan Ryan.

Fajar.

Fajar: MBAK NADIRA

Fajar: AKU BACA STICKY NOTE-NYA

Fajar: KERAS-KERAS

Fajar: DI DEPAN SEMUA ORANG

Fajar: PAK BONDAN DENGAR

Fajar: PAK BONDAN BILANG “RYAN. HABISKAN.”

Fajar: TIARA LANGSUNG PERGI KE PANTRY DAN NGGAK KELUAR-KELUAR

Fajar: RYAN MUKANYA MERAH MBAK. MERAH. KAYAK SAMBAL MBAK YANG WAKTU ITU.

Fajar: Mbak ini hari bersejarah. Aku sudah 3 tahun kerja di sini dan belum pernah lihat Ryan merah.

Aku tertawa di dalam ojol sampai abangnya menoleh.

Pukul 09.31, pesan dari Ryan.

Ryan: Nad.

Aku: Pagi, Yan 🙂

Ryan: Kamu nggak bisa nempel tulisan begitu di termos.

Aku: Kenapa?

Ryan: Fajar baca.

Aku: Aku tahu. Fajar udah lapor.

Ryan: Kamu kenal Fajar?

Aku: Aku punya nomornya sejak minggu kedua. Dia minta kopi.

Ryan: ...

Aku: Kopinya diminum kan?

Ryan: Diminum.

Aku: Sampai habis?

Ryan: Pak Bondan nyuruh.

Aku: Kalau Pak Bondan nggak nyuruh?

Ryan: Tetap habis.

Aku menatap pesan itu sampai ojolku sampai di Senopati. Lalu aku menulis sticky note untuk besok.


Selasa: KOPINYA TETAP BUKAN UTANG. AKU JUGA BUKAN.

Rabu: HARI INI AKU PAKAI LIPSTIK YANG SAMA. KALAU PENASARAN, KAMU TAHU DI MANA CARINYA.

Fajar mengirim laporan setiap pagi. Rabu, katanya, Ryan membaca sticky note itu, melipatnya, dan memasukkannya ke saku kemeja. Fajar bertanya kenapa. Ryan bilang biar nggak kamu baca keras-keras. Fajar bilang tapi aku sudah baca, Yan. Ryan bilang makanya.

Kamis, Fajar melaporkan bahwa saku kemeja Ryan sudah berisi tiga sticky note kuning.

“Dia nggak buang,” tulis Fajar. “Mbak, dia nyimpen semuanya.”


Selasa sore, aku muncul di apotek Gilang.

Gilang yang memberitahuku jadwalnya. Gilang, yang setelah malam itu di lantai apoteknya berubah dari pengeras suara masjid menjadi agen ganda paling setia yang pernah ada.

Gilang: Selasa jam 5 sore. Ganti perban bahunya. Aku sengaja kosongin jadwal.

Gilang: Datang jam 5 lewat 5 biar dia udah buka baju.

Aku: LANG

Gilang: Itu strategi farmakologis. Pasien lebih kooperatif kalau sudah dalam posisi terapi.

Aku datang pukul 17.05.

Ryan sudah duduk di kursi kayu di ruang belakang apotek, menghadap lampu meja, dengan kaos hitam tergeletak di pangkuannya. Punggungnya ke arah pintu. Gilang berdiri di sampingnya, membuka kotak P3K.

Pintu ruang belakang berderit waktu aku masuk.

Ryan tidak menoleh. “Lang, siapa?”

“Pasien lain,” kata Gilang, dengan wajah sangat datar yang jelas dia pelajari dari Ryan sendiri.

“Apotekmu tutup jam lima.”

“Pasien darurat.”

Aku melangkah masuk. Pak RT, yang tidur di atas rak kardus obat, membuka satu mata, menatapku, lalu menutupnya lagi dengan ekspresi kucing yang sudah terlalu tua untuk drama manusia.

Ryan menoleh.

Dia melihatku. Dan dia membeku, setengah memutar badan, dengan kaos hitam di pangkuan dan punggung telanjang dan perban di bahu kanan.

“Nad.”

“Hai, Yan.”

“Lang,” kata Ryan, tanpa melepaskan mata dariku. “Kamu.”

“Aku apoteker, Yan. Aku nggak bisa nolak pasien yang datang ke apotekku.” Gilang menyerahkan pinset dan gunting perban padaku. “Nad, kamu mau belajar ganti perban? Penting buat... kesehatan masyarakat.”

“Mau,” kataku.

“Lang—”

“Aku mau ngecek stok,” kata Gilang. “Di gudang. Lama.” Dia berjalan ke pintu. “Mungkin satu jam. Gudangnya berantakan. Banyak kardus. Mungkin ada tikus.”

“Kamu nggak punya gudang, Lang.”

“Sekarang punya.” Gilang keluar. Pintu tertutup. Aku mendengar langkahnya ke depan, lalu bunyi kursi plastik ditarik di dekat etalase vitamin, lalu, samar-samar, video YouTube tentang interaksi obat yang diputar dengan volume pelan.

Ryan menatap pintu yang tertutup. Lalu menatapku.

“Gilang di pihakmu,” katanya.

“Semua orang di pihakku, Yan.” Aku menarik kursi plastik ke belakangnya. “Sekarang balik badan.”


Dia tidak langsung balik badan.

Dia menatapku lama, dengan wajah yang mencoba sangat keras untuk datar dan tidak berhasil. Telinganya merah. Lalu, pelan, dia memutar badan, memunggungiku, menghadap lampu meja.

Aku menatap punggungnya.

Aku pernah melihatnya sekali, di ruangan ini, di bawah lampu yang sama, dengan antiseptik tumpah di lantai dan semua orang menangis. Aku pernah melihatnya, tapi aku tidak benar-benar melihat. Malam itu aku terlalu hancur untuk melihat apa pun.

Sekarang aku melihat.

Garis pucat dari belikat kanan ke pinggang kiri. Titik-titik bekas jahitan di kedua sisinya, kecil, teratur, seperti jahitan di kain yang dijahit terburu-buru oleh tangan yang gemetar. Otot-otot punggungnya yang menegang di bawah kulit, karena dia tahu aku melihat. Tulang belakangnya, garis lurus yang memotong bekas luka itu di tengah. Kulit yang lebih pucat dari wajahnya, karena tidak pernah kena matahari, karena dia tidak pernah membuka kaos di pantai, di kolam, di mana pun.

Dan di atasnya, di bahu kanan, perban putih. Luka baru di atas luka lama.

Aku menggunting plester di ujung perban. Pelan. Aku melepas perbannya, lapis demi lapis, melingkar dari ketiak ke bahu. Di bawahnya, luka aspal sudah mulai kering, merah muda, dengan kerak tipis di beberapa tempat.

“Sakit?” tanyaku.

“Nggak.”

Aku membersihkannya dengan kapas dan antiseptik, seperti yang kulihat Gilang lakukan. Pelan. Ryan tidak bersuara. Tapi waktu kapas menyentuh pinggir luka, otot di punggungnya berkedut, dan aku melihat tangannya di pangkuan mencengkeram kaos hitam.

Aku memasang kasa baru. Aku membalutnya dengan perban, melingkar, seperti yang Gilang ajarkan lewat WhatsApp tadi pagi dengan tujuh belas foto tutorial. Lapis pertama. Lapis kedua. Waktu aku harus melingkarkan perban ke depan, di bawah ketiaknya, aku harus mendekat. Dadaku hampir menyentuh punggungnya. Lenganku hampir melingkar di tubuhnya.

Aku berhenti di sana.

Aku tidak melanjutkan lapisan ketiga. Aku hanya berdiri, sangat dekat, dengan perban di tangan dan napasku menyentuh tengkuknya.

Ryan tidak bergerak. Napasnya berhenti.

“Yan,” bisikku.

“Hm.” Suaranya serak.

Aku menatap bekas luka itu, sangat dekat sekarang, sampai aku bisa melihat setiap titik jahitannya. Aku mengangkat tangan. Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya membiarkan ujung jariku melayang di atas garis pucat itu, satu senti dari kulitnya, mengikuti arahnya. Dari belikat. Turun. Miring. Ke pinggang.

Aku bisa merasakan hangat kulitnya dari jarak satu senti.

“Bekas lukamu ini,” kataku, sangat pelan, ke tengkuknya. “Aku pengen hafal.”

Dia menahan napas.

“Satu-satu,” kataku. “Dua puluh tiga jahitan. Aku pengen hafal semuanya. Di mana mulainya. Di mana belokannya. Di mana kamu paling sakit waktu itu.” Ujung jariku terus melayang, satu senti di atas kulitnya, turun ke pinggang. “Pelan-pelan. Kalau kamu ngizinin.”

“Nad.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Perban.”

“Apa?”

“Perbannya. Lapis ketiga.”

Aku tertawa. Pelan, dekat sekali dengan telinganya. Aku melihat kulit di lehernya meremang.

Lalu aku menyelesaikan lapis ketiga, melingkar ke depan, dengan lenganku yang hampir memeluknya, dan menempelkan plester di ujungnya dengan ibu jari yang kutekan sedikit lebih lama dari yang perlu.

“Udah,” kataku.

Dia tidak langsung bergerak. Dia duduk di sana, memunggungiku, dengan bahu naik turun pelan dalam hitungan, dan telinga yang merah sampai ke ujung.

Lalu dia memakai kaos hitamnya, cepat sekali, sampai kepalanya tersangkut sebentar di lubang leher.


Rabu malam, pukul sebelas, aku mengirim pesan.

Aku: Yan. Udah tidur?

Ryan: Belum.

Aku: Lagi apa?

Ryan: Gilang nanya itu tiap Selasa. Ini Rabu.

Aku: Aku bukan Gilang. Aku nanya tiap hari.

Ryan: Lagi baca.

Aku: Baca apa?

Ryan: Dokumen zonasi.

Aku: Jam sebelas malam?

Ryan: Nggak bisa tidur.

Aku: Kenapa?

Lama. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.

Ryan: Nggak tahu.

Aku: Aku juga nggak bisa tidur.

Aku: Aku lagi pakai kaos. Kaos lama. Kegedean.

Aku: Bukan punyamu. Tapi aku bayangin punyamu.

Centang biru. Lalu tidak ada apa-apa. Satu menit. Tiga menit. Lima.

Ryan: Nad. Tidur.

Aku: Nggak bisa.

Ryan: Kenapa?

Aku: Ada yang nyuruh aku tidur tapi nggak mau nemenin.

Centang biru.

Tidak ada balasan. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Aku hampir menyerah, hampir menaruh ponsel dan mematikan lampu.

Lalu, pukul 23.38:

Ryan: Kamu curang.

Aku: Aku belajar dari yang terbaik.

Aku: Lima tahun kamu curang ke aku. Sekarang giliranku.

Ryan: Selamat tidur, Nad.

Aku: Selamat tidur, Yan. Mimpiin bibirku.

Ryan: Nad.

Aku: Itu bukan perintah. Itu prediksi.

Dia tidak membalas lagi. Tapi tanda online di bawah namanya tidak hilang sampai pukul satu pagi.


Sabtu pukul 05.43, ada mobil merah berhenti di mulut gang di Pasar Minggu.

Mobil rental. Hatchback merah kecil dengan setir terlalu ringan. Aku memarkirnya di belakang gerobak bakso Pak Kasim, yang tentu saja masih diparkir di tengah jalan, dan aku mengirim pesan.

Aku: Depan.

Satu menit. Dua menit. Lalu sosok yang kukenal muncul dari balik pagar rumah nomor 17. Kaos abu-abu. Celana training. Rambut berantakan karena baru bangun. Dia berjalan ke mulut gang, memutari gerobak bakso, dan berhenti di samping mobil merah itu, menatapku lewat jendela.

Aku menurunkan kaca.

“Pagi, Yan.”

“Kamu ngapain?”

“Latihan nyetir.”

“Kamu udah lulus.”

“Aku belum bisa parkir paralel.” Aku tersenyum. “Masih harus latihan. Mbak Sinta bilang klien properti di BSD suka mobilnya diparkir paralel di depan gedung. Itu kontradiksi branding kalau nggak rapi.”

Ryan menatapku. Lalu menatap mobil merah kecil itu. Lalu menatap dudukan gelas di sebelah kemudi, di mana ada dua cup kopi. Kopi tubruk untuknya. Kopi susu gula sedikit untukku.

“Punyamu yang kanan,” kataku.

Dia diam lama. Lalu, pelan, dia membuka pintu penumpang dan masuk.


Parkiran belakang mal di BSD, gerbang timur, pukul 06.20 hari Sabtu, penuh ibu-ibu.

Kaos ungu. SENAM SEHAT CERIA BSD — KAMI MUDA SELAMANYA. Remix dangdut dari speaker di bagasi SUV. Instruktur bertubuh kecil dengan rambut dicepol berteriak lewat mikrofon tanpa kabel.

“Kamu sengaja,” kata Ryan.

“Aku survei Kamis sore,” kataku dengan wajah sangat datar, menirukannya. “Kamis sore kosong.”

Dia menoleh padaku. Matanya tertawa.

Aku memarkir mobil merah di sudut jauh parkiran, di bawah pohon ketapang yang sama, seratus meter dari barisan ibu-ibu ungu. Aku mematikan mesin. Aku tidak keluar. Aku tidak menyuruhnya keluar.

“Parkir paralelnya mana?” tanya Ryan.

“Nanti.”

“Nad.”

Aku melepas sabuk pengaman. Pelan. Bunyi klik-nya terdengar sangat keras di dalam mobil kecil itu.

Lalu aku memutar badan, menghadapnya.

“Aku nggak lagi parkir, Yan,” kataku. “Aku lagi deketin kamu.”

Ryan menatap ke depan, ke kaca depan, ke pohon ketapang, ke ibu-ibu ungu di kejauhan. Rahangnya mengeras. Tangannya di pangkuan, mengepal.

“Nad, ini parkiran umum.”

“Kamu yang milih parkiran ini dulu. Delapan minggu lalu. Kamu yang bilang ‘kamu pegang kuncinya, Nad, bukan mesinnya yang pegang kamu’.” Aku mencondongkan badan sedikit. Satu jengkal. “Sekarang aku pegang kuncinya.”

Dia diam. Napasnya mulai tidak teratur. Aku melihat bibirnya bergerak tanpa suara.

Tarik empat.

“Lipstikku,” kataku pelan, “yang nggak luntur. Yang Midnight Confession. Aku pakai lagi pagi ini. Jam lima. Di depan cermin. Sambil mikirin kamu.”

Tahan empat.

“Mbak SPG-nya bilang ini transfer-proof. Nggak nempel di gelas. Nggak nempel di masker.” Aku mencondongkan badan lagi. Setengah jengkal. Aku bisa mencium bau sabunnya, bau yang sama dengan Si Lumut, bau yang sama dengan malam itu. “Aku penasaran. Nempel nggak di tempat lain.”

Buang enam.

Dia tidak membuang napas. Napasnya tersangkut. Aku melihatnya. Dadanya berhenti naik turun.

“Mau ngetes seberapa nggak lunturnya, Yan?”


Aku mengangkat tangan. Pelan. Aku menyentuh rahangnya, dengan ujung jari, di sisi wajah yang tidak ada plesternya. Kulitnya kasar karena belum bercukur. Hangat. Aku merasakan ototnya berkedut di bawah jariku.

Dia tidak menyingkirkan tanganku.

Aku menurunkan tangan yang satunya. Ke kakinya. Ke paha kirinya, di atas lutut yang masih dibalut kasa di bawah celana training. Aku meletakkan telapak tanganku di sana. Di kaki yang lari untukku. Di kaki yang dipasangi dua pen.

Seluruh tubuhnya menegang.

“Kaki ini,” kataku. Suaraku turun, rendah, lebih rendah dari yang pernah kudengar dari mulutku sendiri. “Kaki ini yang lari buat aku. Lima belas meter. Lima tahun lalu.”

Jari-jariku bergerak sedikit. Di paha kirinya, di atas kain training yang tipis. Pelan. Melingkar.

“Aku pengen tahu,” bisikku, “kaki ini masih kuat nggak...”

Ryan menoleh.

Wajahnya sangat dekat sekarang. Sejengkal. Kurang dari sejengkal. Aku bisa melihat bekas luka kecil di alis kirinya. Aku bisa melihat bulu matanya. Aku bisa melihat matanya, dan matanya tidak tenang, tidak datar, tidak seperti danau. Matanya gelap, dan liar, dan terbakar.

“...kalau aku duduk di pangkuanmu,” aku menyelesaikan kalimatku.

Tangannya bergerak.

Bukan untuk menyingkirkanku. Tangannya naik, cepat, ke tengkukku. Jari-jarinya masuk ke rambutku di bagian belakang kepala, di titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh, dan dia memegangku di sana. Tidak keras. Tapi tegas. Seperti dia memegang kepalaku malam itu.

Dia menarikku sedikit. Ke arahnya.

Bibirnya dua senti dari bibirku. Satu senti. Aku bisa merasakan napasnya. Panas. Tidak dalam hitungan sama sekali. Tidak teratur sama sekali. Napas orang yang sudah lupa cara menghitung.

Aku memejamkan mata.

Lalu dia berhenti.

Tangannya di tengkukku tidak melepaskan. Tapi dia berhenti menarik. Bibirnya berhenti di satu senti. Dahinya menyentuh dahiku. Dan aku mendengarnya, sangat dekat, serak, dalam, suara yang belum pernah kudengar dari Ryan sebelumnya. Suara yang terdengar seperti tali yang ditarik sampai batasnya.

“Satu kalimat lagi,” katanya, “dan aku nggak tanggung jawab.”

Aku membuka mata.

Matanya sangat dekat. Gelap. Menatapku.

Aku tersenyum. Pelan. Bibirku hampir menyentuh bibirnya waktu aku bicara.

“Itu ancaman,” bisikku, “atau janji?”


Tok. Tok. Tok.

Seseorang mengetuk jendela.

Kami tersentak. Ryan melepas tengkukku. Aku melepas pahanya. Kami berdua mundur ke kursi masing-masing secepat mungkin, seperti dua anak SMA yang ketahuan guru BK.

Di luar jendela pengemudi, seorang ibu berkaos ungu menempelkan wajahnya ke kaca. Ibu yang paling gemuk. Ibu yang dulu berteriak soal mantan.

Aku menurunkan kaca dengan tangan gemetar.

“Mas! Mbak!” katanya, dengan wajah antara marah dan sangat, sangat senang. “Ini parkiran keluarga! Ada CCTV-nya lho!”

“Iya, Bu,” kataku. “Maaf, Bu.”

Ibu itu memicingkan mata. Dia menatapku. Lalu menatap Ryan, yang menatap lurus ke depan dengan wajah merah sampai ke leher.

Lalu wajahnya berubah. Matanya melebar.

“Lho! Mbak yang dulu! Yang lompat-lompat! Yang kayak lepas mantan!”

“I... iya, Bu.”

“Sama Mas yang sabar itu!” Ibu itu menepuk tangannya. “Ya ampun! Masih sama! Alhamdulillah!” Dia menoleh ke belakang, ke barisan ibu-ibu ungu di kejauhan, dan berteriak dengan suara yang bisa membangunkan seluruh BSD: “IBU-IBU! INI MBAK YANG DULU! MASIH SAMA MAS-NYA!“

Tiga puluh ibu-ibu ungu menoleh serempak.

Lalu bertepuk tangan.

Instruktur senam mengambil mikrofon. “Ibu-ibu, kita doakan Mas dan Mbak-nya langgeng! Satu, dua, tiga—“

“LANGGEEENG!“

Aku menutup muka dengan kedua tangan.

Di sebelahku, aku mendengar suara aneh. Suara pendek, tertahan, dari tenggorokan.

Aku mengintip dari sela jari.

Ryan menutup wajahnya dengan dua tangan juga. Bahunya berguncang. Dan suara yang keluar dari balik tangannya bukan napas yang dihitung. Bukan batuk. Bukan keselek martabak.

Dia tertawa. Keras. Sampai mobil kecil itu ikut bergetar.


Kami tidak latihan parkir paralel hari itu.

Aku menyetir pulang ke Pasar Minggu. Ryan duduk di kursi penumpang dengan kepala bersandar ke jendela, telinga masih merah, dan tidak bicara sepanjang tol. Tapi waktu aku melirik, setiap kali, sudut bibirnya bergerak.

Di mulut gang, di belakang gerobak bakso Pak Kasim, aku berhenti.

Dia membuka pintu. Dia tidak langsung keluar.

“Nad.”

“Hm.”

“Kamu curang,” katanya. Lagi.

“Kamu udah bilang itu Rabu malam.”

“Masih berlaku.”

“Aku nggak curang, Yan. Aku cuma jujur.” Aku menatapnya. “Kamu yang nggak biasa sama orang jujur.”

Dia diam. Lalu dia keluar. Dia berdiri di samping mobil merah kecil itu, di mulut gang, dan menatapku lewat jendela yang terbuka.

“Satu kalimat lagi,” katanya pelan. “Itu masih berlaku juga.”

Lalu dia berbalik dan berjalan ke gang, memutari gerobak bakso, dengan langkah yang sedikit miring ke kanan.

Aku duduk di balik kemudi mobil rental merah dan menatap punggungnya sampai dia menghilang di balik pagar rumah nomor 17.

Lalu aku menyandarkan dahi ke setir dan tertawa sendirian, sampai klakson berbunyi tanpa sengaja dan Pak Kasim, yang ternyata tidur di balik gerobaknya, terbangun dan berteriak “Baksonya belum buka, Mbak!”