Chapter Thirty Eight
Bab 38 — Fisioterapi
POV: Nadira
Klinik fisioterapi di Kemang itu ada di lantai dua sebuah ruko, di atas toko roti yang membuat seluruh tangga berbau mentega dan kayu manis.
Ryan yang menemukannya. Bukan karena dekat. Bukan karena murah. Karena nama di papan praktik yang tergantung di samping pintu kaca, ditulis dengan huruf biru sederhana:
Ayu Lestari, S.Ft. — Fisioterapis Muskuloskeletal & Rehabilitasi Olahraga.
“Mbak Ayu,” kataku, waktu Ryan menunjukkan papan itu padaku hari Senin. “Mbak Ayu yang di Bandung? Yang ngajarin napas?”
“Dia pindah ke Jakarta dua tahun lalu. Aku lihat di Instagram.”
“Kamu follow fisioterapismu di Instagram?”
Ryan diam. Lalu, dengan telinga yang mulai merah: “Dia posting tips peregangan. Berguna.”
Aku menatapnya. Lima tahun dia tidak bicara pada siapa pun soal kakinya. Lima tahun dia bilang nggak apa-apa. Dan selama itu, diam-diam, dia mengikuti akun fisioterapis lamanya dan menyimpan tips peregangan.
Lalu dia melihat brosur oranye di gedung pernikahan Fajar. Dan sekarang dia berdiri di depan klinik ini.
“Kamu mau lari lagi,” kataku pelan.
Dia tidak menjawab. Dia membuka pintu kaca.
Mbak Ayu ternyata perempuan berusia tiga puluhan dengan rambut pendek sebahu, kulit sawo matang, dan tangan yang terlihat kuat. Dia memakai kaos polo putih dengan logo klinik dan celana training hitam. Waktu Ryan masuk, dia sedang menulis sesuatu di papan klip.
Dia mengangkat kepala.
Lalu papan klip itu jatuh ke lantai.
“Ryan?” Dia berdiri. “Ryan Adiputra? Pasien kamar 207? Yang tulang keringnya dua tempat?”
“Iya, Mbak.”
“Ya Allah.” Mbak Ayu berjalan memutari meja dan berhenti di depannya, menatapnya dari atas ke bawah, seolah memeriksa apakah semuanya masih di tempat. Matanya berhenti di kaki kiri. “Kamu jalan. Tanpa tongkat.”
“Iya, Mbak.”
“Masih pincang.”
“Kalau capek.”
“Masih ngitung napas?”
Ryan diam sebentar. “Masih, Mbak.”
Mbak Ayu tersenyum. Lebar. Matanya basah. “Saya kira kamu nggak bakal balik. Setelah kamu keluar dari rehab, kamu nggak pernah kontrol lagi. Saya telepon ke rumah, ibumu bilang kamu udah pindah ke Jakarta, udah kerja, udah sehat.” Dia mengusap mata. “Saya tahu itu bohong. Nggak ada pasien patah tulang kering dua tempat yang sehat tanpa kontrol.”
“Maaf, Mbak.”
“Jangan maaf ke saya.” Mbak Ayu menatapnya. Lalu matanya bergeser padaku. Pada tanganku, yang menggandeng tangan Ryan. Alisnya naik. “Ini siapa?”
“Nadira,” kataku.
“Pacar saya,” kata Ryan.
Dia mengatakannya begitu saja. Tanpa jeda. Tanpa telinga merah. Seperti orang yang mengatakan fakta, seperti mengatakan langit itu biru atau kopi tubruk itu pahit.
Aku tidak bisa bicara selama sepuluh detik.
Mbak Ayu menatap kami bergantian. Lalu dia tertawa. Pendek, keras, dengan kepala ke belakang.
“Saya ingat,” katanya. “Waktu kamu di rehab. Bulan ketiga. Kamu ngelindur waktu tidur siang di ruang terapi. Kamu bilang satu nama. Saya nanya ke ibumu siapa. Ibumu bilang, ‘Teman kuliahnya. Yang suka nangis nonton film kartun.’”
Aku menatap Ryan.
Ryan menatap lantai.
“Jadi,” kata Mbak Ayu, mengambil papan klipnya dari lantai, “kenapa kamu ke sini?”
Ryan mengangkat kepala. Dia menarik napas. Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
“Aku mau lari lagi, Mbak,” katanya. “Lima kilometer. Tiga bulan lagi.”
Mbak Ayu memeriksanya selama satu jam.
Aku duduk di kursi plastik di pojok ruang terapi, memperhatikan. Ryan berbaring di ranjang terapi. Mbak Ayu menekuk lututnya, meluruskannya, memutar pergelangan kakinya, menekan-nekan otot betisnya dengan ibu jari, mengukur sudut tekukan lututnya dengan alat seperti busur derajat.
Setiap kali dia menekan di tempat tertentu, Ryan menahan napas. Rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram pinggir ranjang.
Aku menghitung bersamanya. Di dalam kepala.
“Otot betismu kaku kayak kayu,” kata Mbak Ayu. “Hamstring-mu pendek. Panggulmu miring dua derajat ke kanan, makanya kamu jalan miring. Lututmu nggak bisa nekuk penuh. Pen di tulang keringmu masih bagus, tapi ototnya udah lima tahun nggak dilatih.”
“Bisa lari?” tanya Ryan.
Mbak Ayu tidak menjawab langsung. Dia menulis sesuatu di papan klip. Lama.
“Lima kilometer,” katanya akhirnya. “Bisa. Kalau kamu disiplin. Tiga kali seminggu terapi. Latihan beban. Peregangan tiap hari. Jogging pelan mulai bulan kedua.”
Ryan mengangguk.
“Tapi, Yan.” Mbak Ayu meletakkan papan klip. Dia menatapnya. “Bukan enam belas menit.”
Ryan diam.
“Kamu tahu itu, kan? Bukan enam belas lima puluh dua. Bukan juara. Bukan lintasan merah.” Suaranya lembut, tapi tegas. “Kalau kamu bisa selesai lima kilometer dalam empat puluh menit, itu udah luar biasa. Mungkin empat puluh lima. Mungkin kamu harus jalan di kilometer ketiga. Mungkin kakimu nyerah di kilometer keempat.”
“Aku tahu, Mbak.”
“Kamu yakin? Karena saya ingat kamu di rehab. Kamu nggak mau pakai tongkat waktu baru bisa berdiri. Kamu jatuh tiga kali di lorong. Kamu nggak mau jalan pelan.” Mbak Ayu menghela napas. “Kamu harus mau jalan pelan, Yan. Kalau nggak, kamu bakal cedera lagi.”
Ryan menatap langit-langit ruang terapi. Lama.
Lalu dia menoleh padaku. Di pojok, di kursi plastik.
“Aku udah belajar jalan pelan, Mbak,” katanya, tanpa melepas mata dariku. “Dari orang yang belajar nyetir di gigi satu.”
Setelah terapi, Mbak Ayu membawa kami ke ruang latihan di lantai tiga. Ruangan luas dengan cermin besar di satu dinding, matras-matras biru di lantai, rak berisi beban kecil, bola karet, dan pita elastis warna-warni.
“Latihan pertama,” kata Mbak Ayu. “Hari ini cuma pengenalan. Peregangan. Sedikit penguatan.” Dia menatapku. “Mbak Nadira mau bantu?”
“Bantu gimana?”
“Jadi pelatih pendamping. Di rumah. Pastiin dia peregangan tiap hari. Saya tahu dia. Kalau nggak ada yang ngawasin, dia bakal bilang ‘nggak apa-apa’ dan nggak ngelakuin apa-apa.”
“Mbak—” kata Ryan.
“Mau,” kataku.
Mbak Ayu tersenyum. Dia menunjukkan padaku cara memegang kaki Ryan waktu dia meregangkan hamstring. Cara menahan lututnya supaya tidak tertekuk. Cara menghitung detik. Lalu dia bilang dia harus menerima pasien lain di lantai dua, setengah jam, dan dia akan kembali.
“Lima set,” katanya di pintu. “Setiap peregangan tahan tiga puluh detik. Mbak Nadira yang hitung.” Dia menatap Ryan. “Dan jangan curang.”
Dia pergi.
Ruangan latihan itu sunyi. Hanya ada kami berdua, dan cermin besar di dinding, dan musik pop pelan dari speaker di langit-langit.
Ryan berbaring telentang di matras biru. Aku berlutut di sebelahnya. Aku mengangkat kaki kirinya, pelan, lurus, sampai membentuk sudut dengan lantai. Satu tanganku di belakang tumitnya. Satu tanganku di atas lututnya, menahannya supaya tetap lurus.
“Bilang kalau sakit,” kataku.
“Hm.”
Aku mendorong kakinya sedikit lebih tinggi. Pelan. Aku merasakan otot di belakang pahanya menegang di bawah telapak tanganku, seperti tali yang ditarik.
Ryan menahan napas.
“Sakit?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
“Satu,” kataku. “Dua. Tiga.”
Aku menghitung sampai tiga puluh. Pelan. Lalu aku menurunkan kakinya. Dia membuang napas panjang.
“Set kedua,” kataku.
“Nad.”
“Mbak Ayu bilang lima set.”
“Aku tahu.”
Aku mengangkat kakinya lagi. Kali ini aku mendorongnya sedikit lebih tinggi. Aku merasakan dia menegang. Aku melihat bibirnya bergerak tanpa suara. Tarik empat. Tahan empat.
“Yan,” kataku, dengan suara yang sengaja kurendahkan, sambil menahan kakinya di udara. “Tahu nggak, posisi ini agak...”
Dia membuka mata. Menatapku.
“Agak apa?”
Aku tersenyum. Aku berlutut di antara kakinya yang satu terangkat dan satu lurus di matras, dengan tangan di belakang tumitnya dan tangan yang lain di atas lututnya, mencondongkan badan ke depan supaya kakinya tetap terangkat.
“Agak gimana gitu,” kataku. “Kalau ada yang lihat dari pintu.”
Ryan menatapku. Lalu dia menatap cermin besar di dinding. Lalu dia melihat apa yang kulihat: kami berdua, di matras biru, dalam posisi yang kalau dilihat sekilas dari pintu memang... agak gimana gitu.
Wajahnya merah. Dari leher sampai dahi.
“Lima belas,” kataku, tanpa berhenti menghitung. “Enam belas.”
“Nad, turunin.”
“Belum tiga puluh. Mbak Ayu bilang jangan curang.”
“Nad.”
“Tujuh belas. Delapan belas.”
Dia menutup wajah dengan dua tangan. Aku tertawa, dan kakinya bergetar di tanganku karena tawaku, dan dia mengerang dari balik tangannya.
Setelah lima set peregangan, latihan penguatan.
Mbak Ayu sudah menuliskan daftarnya di papan klip. Squat setengah, 3x10. Angkat tumit, 3x15. Push-up modifikasi, 3x10.
“Push-up?” tanya Ryan. “Buat kaki?”
“Mbak Ayu bilang core harus kuat. Biar larinya stabil.” Aku membaca catatan kecil di bawahnya. “Push-up modifikasi. Lutut boleh di lantai.”
“Aku bisa push-up biasa.”
“Mbak Ayu bilang modifikasi.”
Ryan menatapku. Lalu dia turun ke matras, telungkup, dengan tangan di samping dada. Dia tidak menaruh lututnya di lantai. Dia melakukan push-up biasa. Lurus dari kepala sampai tumit. Turun. Naik.
Satu. Dua. Tiga.
Aku duduk bersila di matras di depannya dan menghitung. Lengannya menegang di balik kaos abu-abu. Punggungnya lurus, dan aku tahu di bawah kaos itu ada garis pucat yang sekarang kuhafal, dua puluh tiga titik, dan aku melihat kaosnya mulai basah di bagian punggung, tepat di sepanjang garis itu.
Tujuh. Delapan. Sembilan.
Di push-up kesepuluh, lengannya mulai gemetar.
“Udah,” katanya, terengah. “Sepuluh.”
“Itu set pertama.”
“Nad—”
“Tiga set. Mbak Ayu bilang.”
Dia menatapku dari posisi push-up, dengan lengan gemetar dan keringat di pelipis.
Aku menatapnya balik. Lalu, pelan, aku berbaring.
Telentang. Di matras. Di bawahnya. Tepat di bawah wajahnya.
Ryan membeku di posisi push-up. Lengannya lurus, gemetar. Wajahnya tiga puluh senti di atas wajahku.
“Push-up sekali lagi,” kataku.
Dia tidak bergerak.
“Aku di bawah,” kataku, dengan suara yang sangat rendah dan sangat tenang, dengan lesung pipi kiri yang muncul pelan-pelan. “Biar ada motivasi.”
Lengannya gemetar lebih keras.
“Nad,” katanya. Serak.
“Turun, Yan.”
Dia turun.
Pelan. Sangat pelan. Lengannya menekuk, dan wajahnya mendekat ke wajahku. Tiga puluh senti. Dua puluh. Sepuluh. Lima.
Napasnya di wajahku. Panas. Terengah karena push-up. Atau bukan karena push-up.
Dia berhenti di dua senti.
“Satu,” bisikku.
Dia tidak naik.
Lengannya gemetar di samping kepalaku. Dia menatapku dari dua senti. Matanya gelap.
Lalu lengannya menyerah. Sengaja atau tidak, aku tidak tahu. Dia jatuh, pelan, menahan berat tubuhnya dengan siku di samping kepalaku, dan bibirnya jatuh ke bibirku.
Ruang ganti di lantai tiga klinik itu kosong.
Aku tidak ingat siapa yang menarik siapa ke sana. Aku hanya ingat bahwa satu detik kami di matras biru dengan bibir yang baru saja bertemu, dan detik berikutnya Ryan sudah berdiri dan menarikku berdiri juga, dan kami berjalan—setengah berjalan, setengah tersandung—ke pintu di ujung ruangan yang bertuliskan RUANG GANTI, dan dia mendorong pintunya dengan bahu, dan pintunya menutup di belakang kami.
Ruangan kecil. Loker-loker besi abu-abu di satu dinding. Bangku kayu panjang di tengah. Bau sabun dan karet matras.
Dia mendorongku ke loker.
Pelan. Tapi tegas. Punggungku menyentuh pintu loker yang dingin, dan logamnya berbunyi pelan, klang, dan Ryan berdiri di depanku dengan tangan di kedua sisi kepalaku, menempel di loker, mengurungku di antara lengannya.
Kaosnya basah oleh keringat. Rambutnya basah. Napasnya terengah. Dia menatapku dari atas, dan matanya bukan mata yang datar. Bukan mata danau di hari tanpa angin. Matanya terbakar.
“Kamu curang,” katanya.
“Kamu udah bilang itu tiga kali.”
“Empat kali sekarang.”
“Masih berlaku?”
“Selalu berlaku.”
Dia menciumku.
Bukan ciuman di pantai Ujung Genteng, yang lambat dan dalam dan penuh garam. Bukan ciuman di sofa rumah Bu Ratna, yang panas dan berantakan karena demam. Ini sesuatu yang lain. Ini ciuman orang yang baru saja push-up sepuluh kali dengan perempuan yang dia sayangi berbaring di bawahnya, dan yang sudah kehabisan semua kesabaran yang dia simpan selama lima tahun.
Keras. Dalam. Tangannya meninggalkan loker dan pindah ke wajahku, dua-duanya, memegang rahangku, memiringkan kepalaku, dan dia menciumku seperti orang yang haus. Bibirnya. Lidahnya. Giginya di bibir bawahku, lebih lama dari di pantai, lebih keras, sampai aku mengeluarkan suara yang belum pernah kudengar dari mulutku sendiri.
Aku mencengkeram kaosnya yang basah. Di pinggang. Aku menariknya lebih dekat, sampai tubuhnya menekanku ke loker, sampai aku bisa merasakan jantungnya di dadaku, keras dan cepat dan tidak dalam hitungan sama sekali.
Tanganku masuk ke bawah ujung kaosnya. Ke kulit punggungnya. Panas. Basah. Jariku menemukan garis itu, di pinggang kiri, ujung bawahnya, titik yang kedua puluh tiga.
Dia menggeram. Ke bibirku. Rendah. Dari dada.
Tangannya turun dari wajahku. Ke leher. Ke bahu. Ke pinggangku. Mencengkeram. Menarikku dari loker ke arahnya, dan—
Krek.
Pintu ruang ganti terbuka.
Mbak Ayu berdiri di ambang pintu dengan papan klip di tangan.
Dia menatap kami. Ryan dengan kaos basah yang tersingkap di pinggang karena tanganku masih di dalamnya. Aku dengan punggung di loker dan bibir yang pasti merah dan bengkak dan rambut yang sudah lepas dari ikatannya. Tangan Ryan di pinggangku.
Tidak ada yang bergerak selama tiga detik.
Lalu Mbak Ayu menatap papan klipnya. Membaca sesuatu. Menulis sesuatu.
“Squat setengah,” katanya, tanpa mengangkat kepala, dengan nada yang sangat profesional, “tiga kali sepuluh. Angkat tumit, tiga kali lima belas. Push-up modifikasi, tiga kali sepuluh.”
Dia mengangkat kepala. Menatap Ryan.
“Itu yang saya tulis,” katanya. “Saya nggak nulis ini.”
“Mbak—”
“Kardio,” kata Mbak Ayu, menulis lagi di papan klip, “nggak termasuk dalam program rehabilitasi minggu pertama.”
Lalu dia berbalik dan keluar. Pintu tertutup.
Dari balik pintu, kami mendengarnya. Tertawa. Keras. Dengan kepala ke belakang, aku yakin. Sampai seseorang di lantai dua—pasien lain, mungkin—bertanya, Mbak Ayu, kenapa?, dan Mbak Ayu menjawab, Nggak apa-apa, Pak. Pasien lama saya. Akhirnya nemu motivasi.
Aku menyandarkan kepala ke loker dan menutup wajah dengan dua tangan.
Ryan menyandarkan dahinya ke loker di sebelah kepalaku. Bahunya berguncang. Dia tertawa, tanpa suara, dengan napas yang masih berantakan dan kaos yang masih basah dan tanganku yang—baru kusadari—masih di punggungnya, di bawah kaos, di garis itu.
Aku menariknya keluar. Pelan.
“Yan,” bisikku dari balik tanganku.
“Hm.”
“Kita harus balik ke sini tiga kali seminggu.”
“Iya.”
“Selama tiga bulan.”
“Iya.”
“Mbak Ayu bakal lihat kita tiap kali.”
Dia mengangkat kepala dari loker. Dia menatapku. Matanya masih gelap, tapi sekarang ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang tertawa.
“Nad,” katanya. “Kamu bilang di parkiran BSD. Kaki ini masih kuat nggak.”
Aku menurunkan tanganku dari wajah.
“Tiga bulan lagi,” katanya, “aku tunjukin.”
Kami kembali ke ruang latihan. Ryan melakukan squat setengah, tiga kali sepuluh. Angkat tumit, tiga kali lima belas. Push-up modifikasi, tiga kali sepuluh. Dengan lutut di lantai. Dengan aku yang duduk sangat jauh, di bangku di pojok, menghitung dengan suara yang sangat profesional.
Mbak Ayu datang lagi di akhir sesi. Dia memeriksa catatan kami. Dia mengangguk.
“Bagus,” katanya. “Rabu jam lima. Jangan telat.” Dia menatap Ryan. Lalu menatapku. “Dan Mbak Nadira.”
“Iya, Mbak?”
“Kamu pelatih pendamping yang baik.” Dia tersenyum. “Motivasinya efektif. Saya lihat dari detak jantungnya.”
“Mbak lihat dari mana?”
Mbak Ayu menunjuk ke langit-langit. Ke sudut ruang latihan.
Ada kamera kecil di sana. Hitam. Dengan lampu merah yang berkedip.
“CCTV,” kata Mbak Ayu. “Buat ngawasin pasien biar nggak cedera.”
Aku tidak bisa bicara.
“Ruang ganti nggak ada,” tambahnya, dengan wajah yang sangat datar. “Privasi pasien.”
Dia pergi.
Ryan, di sebelahku, menatap kamera itu. Lalu menatapku. Lalu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, dia yang menutup wajah dengan dua tangan duluan.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi reading
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan