← Udah, Aku di Sini

Chapter Thirty Two

Bab 32 — Udah. Aku di Sini.

POV: Nadira


Kami tidak langsung pulang.

Si Lumut terparkir di pinggir jalan di seberang rumah Wiratama, tapi Ryan tidak mengeluarkan kunci. Dia berdiri di trotoar, menatap ujung jalan, dengan tangan di saku dan bahu yang sedikit lebih tinggi di sebelah kanan.

“Jalan sebentar?” tanyanya.

Ryan tidak pernah mengajak jalan. Ryan mengantar. Ryan menjemput. Ryan menunggu di depan kos sampai lampu kamar menyala. Ryan tidak pernah, dalam delapan tahun, bilang jalan sebentar? dengan suara yang terdengar seperti dia takut aku bilang tidak.

“Iya,” kataku.

Kami berjalan.

Menteng di malam hari sepi dengan cara yang berbeda dari Pasar Minggu. Tidak ada gerobak bakso di tengah jalan. Tidak ada anak-anak main layangan. Tidak ada televisi tetangga yang memutar sinetron terlalu keras. Hanya pohon-pohon besar yang berjajar di pinggir jalan, akarnya mengangkat trotoar di beberapa tempat, dan rumah-rumah tua berpagar tinggi dengan lampu taman yang menyala lembut di balik tembok.

Kami berjalan tanpa bicara. Ryan di sisi jalan. Aku di sisi dalam.

Aku membiarkannya. Untuk sekarang.


Taman Suropati, sepuluh menit berjalan kaki, hampir kosong. Hanya ada dua remaja yang duduk di bangku di ujung, berbagi satu earphone, dan seorang bapak tua yang berjalan pelan dengan anjing kecil berbulu putih. Lampu-lampu taman yang bulat dan kuning menerangi jalan setapak, patung-patung logam di tengah rumput, dan air mancur kecil yang gemericik.

Kami duduk di bangku batu di bawah pohon besar. Bangkunya dingin. Daun-daun di atas kami bergoyang pelan ditiup angin malam.

Ryan duduk dengan kaki kiri diluruskan ke depan. Aku duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jarak satu buku catatan.

Aku mengeluarkan buku catatan biru dari tas.

Aku meletakkannya di bangku, di antara kami. Di jarak itu.

Ryan menatapnya.

“Halaman terakhir,” kataku. “Kamu bilang setelah Minggu.”

“Ini masih Minggu.”

“Minggu malam. Hampir Senin.” Aku mengeluarkan pulpen dari tas dan meletakkannya di atas buku. “Secara teknis, ini setelah makan malam Minggu. Kamu nggak bilang setelah hari Minggu. Kamu bilang setelah Minggu.”

Ryan menatapku. Sudut bibirnya bergerak. “Itu interpretasi copywriter.”

“Itu interpretasi yang benar.”

Dia menatap buku itu lagi. Lama. Lalu, pelan, dia mengambilnya. Dia membukanya di halaman terakhir. Putih. Bergaris biru tipis.

Dia mengambil pulpen.

Aku tidak menatapnya waktu dia menulis. Aku menatap air mancur. Aku menatap bapak tua dengan anjing kecil berbulu putih. Aku menatap dua remaja dengan satu earphone. Aku mendengar bunyi pulpen di kertas, pelan, berhenti, mulai lagi, berhenti lebih lama.

Lalu dia menutup buku itu. Dia meletakkannya kembali di bangku, di antara kami.

“Udah,” katanya.

“Boleh aku baca?”

“Nanti.”

“Kapan?”

“Nanti, Nad.” Dia berdiri. “Ayo. Si Lumut di sana.”

Aku menatapnya. Lalu aku mengambil buku itu dan memasukkannya ke tas tanpa membuka. Jantungku berdebar keras sekali. Aku tidak menyalahkan kopi. Aku tidak minum kopi sejak siang.


Kami berjalan kembali ke arah rumah Wiratama, ke Si Lumut. Lewat jalan yang lain. Jalan yang lebih besar, dengan dua jalur dan median kecil berisi pohon palem.

Di ujung jalan, ada penyeberangan. Zebra cross yang catnya sudah pudar. Tidak ada lampu penyeberangan. Si Lumut terparkir di seberang, sedikit ke kiri, hijau lumut di bawah lampu jalan.

Malam itu tidak hujan. Tapi aspalnya masih sedikit basah dari gerimis sore, mengilap di bawah lampu. Sesekali mobil lewat, tidak banyak, tapi cukup cepat. Lampunya memanjang di jalan yang basah.

Kami berhenti di tepi trotoar.

Dan Ryan, seperti biasa, seperti selama delapan tahun, seperti setiap kali, bergerak ke kanan. Ke sisi jalan. Ke antara aku dan arah datangnya kendaraan.

Aku menahan lengannya.

Dia menoleh, kaget.

Aku tidak bilang apa-apa. Aku melangkah melewatinya. Aku berdiri di sisi kanannya. Di sisi jalan. Di antara dia dan lampu-lampu yang datang dari kanan.

Lalu aku meraih tangannya.

Bukan punggung tangan. Bukan kelingking. Bukan ujung lengan kaos. Tangannya. Aku menggenggamnya. Telapak tanganku di telapak tangannya, jari-jariku masuk di antara jari-jarinya. Tangannya besar, kering, hangat, sedikit kasar di bagian dalam. Tangan yang dulu menutupi tanganku di tuas persneling. Tangan yang dulu memeluk kepalaku di aspal basah.

Ryan membeku.

Aku menatap jalan. Mobil lewat. Satu. Lalu kosong.

Dan aku mengatakannya.

Bukan di bawah lampu emas di rooftop. Bukan di atas atap jemuran dengan lampu tumbler di antara daster. Bukan dari naskah Zaza dengan jeda tiga detik untuk efek dramatis.

Di tepi trotoar di Menteng, di depan zebra cross yang catnya pudar, dengan tangan Ryan di genggamanku dan tubuhku di sisi jalan.

“Udah,” kataku. “Aku di sini.”


Ryan tidak bergerak.

Dia tidak bergerak sama sekali. Tangannya di genggamanku berhenti. Napasnya berhenti. Seluruh tubuhnya berhenti, seperti jam yang tiba-tiba lupa cara berdetak.

Aku menoleh dan menatapnya.

Wajahnya di bawah lampu jalan. Putih. Matanya lebar, menatapku, seperti orang yang baru saja mendengar suaranya sendiri keluar dari mulut orang lain.

“Itu kalimatmu,” kataku pelan. “Lima tahun aku nyimpen itu. Buat orang yang salah. Sekarang aku balikin ke yang punya.”

Dia membuka mulut. Tidak ada suara.

“Kamu bilang satu kalimat lagi,” kataku. “Di parkiran BSD. Satu kalimat lagi dan kamu nggak tanggung jawab.”

Aku melihat jakunnya bergerak waktu dia menelan.

“Ini kalimatnya, Yan.”

Mobil lewat di belakangku. Lampunya menyorot punggungku, menyorot wajahnya. Dia tidak melihat mobil itu. Dia hanya melihatku.

Lalu tangannya, di genggamanku, bergerak.

Dia tidak melepaskan. Dia membalik. Dia menggenggam balik. Keras. Sangat keras, seperti orang yang memegang tali di tepi jurang.

“Nad,” katanya. Suaranya hancur. Serak. Pecah di tengah. “Dari bioskop.”

Aku mengedip.

“Tahun kedua. Film robot.” Matanya basah. Dia tidak menyekanya. “Kamu nangis dari menit kelima. Aku kasih kamu tisu. Satu bungkus. Aku nggak bilang apa-apa karena aku nggak tahu harus bilang apa. Dari situ, Nad. Dari menit kelima.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Malam itu aku ngikutin kamu keluar tenda,” katanya. “Bukan kebetulan. Aku ngikutin kamu karena aku selalu ngikutin kamu. Aku mau nawarin payung yang nggak aku punya. Aku mau jalan di sebelahmu sekali. Tanpa ada orang lain.” Suaranya pecah lagi. “Terus mobilnya datang. Terus aku lari. Terus aku bilang itu. Aku nggak ngerencanain. Itu keluar sendiri. Karena itu yang ada di sini—” Dia menekan kepalan tangan yang masih menggenggam tanganku ke dadanya sendiri. “—dari menit kelima.”

“Yan...”

“Lima tahun aku nggak bilang karena aku takut kamu sayang aku karena kakiku. Karena punggungku. Karena utang.” Dia menatapku. “Tapi kamu tulis semuanya. Sebelum kamu tahu. Tanganku di persneling. Ketawaku di stasiun. Kepalaku di bahumu.” Dia tertawa, basah, pecah. “Kamu salahin kopi.”

“Aku salahin kopi,” bisikku.

“Aku juga,” katanya. “Lima tahun aku salahin kopi tubruk.”


Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan.

Aku hanya tahu bahwa aku melepaskan tangannya, dan aku melangkah ke belakangnya, dan aku memeluknya dari belakang. Lenganku melingkar di pinggangnya. Pipiku menempel di punggungnya. Di atas kaos hitam leher bulat. Di atas garis pucat yang aku tahu ada di bawahnya, miring dari belikat ke pinggang. Di atas dua puluh tiga jahitan.

Ryan tersentak. Seluruh tubuhnya menegang di lenganku.

Aku memeluknya lebih erat.

“Punggung ini,” bisikku ke kaos hitamnya. “Lima tahun lalu punggung ini ngelindungin aku. Sekarang giliranku.”

Napasnya bergetar. Aku merasakannya di pipiku, di dadanya yang naik turun di bawah lenganku. Tidak dalam hitungan. Tidak teratur sama sekali.

Lalu tangannya naik. Menutupi tanganku di perutnya. Telapak tangannya yang besar menutupi punggung kedua tanganku. Seperti atap. Seperti di tuas persneling di parkiran BSD.

Kami berdiri seperti itu di tepi trotoar di Menteng. Mobil lewat. Satu. Dua. Lampunya menyorot kami dan pergi. Di taman di belakang kami, bapak tua dengan anjing kecil berbulu putih berhenti berjalan dan menatap kami, lalu tersenyum, lalu berjalan lagi.

Lalu Ryan berbalik.

Pelan. Di dalam lenganku. Sampai dia menghadapku. Sampai lenganku masih melingkar di pinggangnya, tapi sekarang dari depan, dan wajahnya sangat dekat di atas wajahku.

Dia mengangkat tangan. Dia menyentuh wajahku. Ibu jarinya di pipi kiriku.

Di lesung pipi kiriku.

“Lima tahun,” katanya pelan, “aku ngitungin ini.”

“Ngitungin apa?”

“Lesung pipimu.” Ibu jarinya bergerak pelan, melingkar, di tempat lesung pipi itu muncul. “Tiap kali muncul. Di pantry kantor. Empat kali. Aku marah sama diriku sendiri karena ngitung.”

Aku tertawa. Dan lesung pipi itu muncul, di bawah ibu jarinya. Dia merasakannya. Aku melihat matanya berubah.

“Lima,” katanya.

Lalu dia menunduk.

Bibirnya menyentuh pipiku. Di lesung pipi kiri. Pelan sekali. Hangat. Sedikit kasar karena belum bercukur. Lama. Seperti orang yang akhirnya menyentuh sesuatu yang sudah lama dia lihat dari jauh.

Aku memejamkan mata.

Lalu bibirnya bergeser. Pelan. Dari lesung pipi, ke sudut bibirku. Berhenti di sana. Satu senti. Napasnya di bibirku, panas, gemetar.

“Nad,” bisiknya.

“Hm.”

“Lipstikmu.”

“Midnight Confession,” bisikku balik. “Transfer-proof. Katanya.”

“Kita tes.”

Dan dia menciumku.


Bukan ciuman yang dalam. Bukan ciuman di drama Korea dengan kamera yang berputar-putar. Ciuman yang pelan. Hati-hati. Bibirnya di bibirku, lembut, sedikit gemetar, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang dia takut akan pecah. Seperti orang yang belum pernah melakukan ini dan sudah membayangkannya terlalu lama.

Aku membalasnya.

Aku menarik kaos hitamnya dengan dua tangan, di dada, dan mendekatkannya. Aku berjinjit sedikit, karena aku selalu lupa bahwa dia sebenarnya tinggi. Tangannya pindah dari pipiku ke belakang kepalaku. Ke tengkukku. Jari-jarinya masuk ke rambutku, di titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh, dan dia memegangku di sana. Seperti malam itu. Seperti di parkiran BSD.

Kali ini dia tidak berhenti.

Aku tidak tahu berapa lama. Satu menit. Lima menit. Mobil lewat dan pergi. Anjing kecil berbulu putih menggonggong sekali dari taman. Dua remaja di bangku ujung bersiul dengan jari di mulut, panjang dan nyaring.

Ryan melepaskan bibirku. Pelan. Dahinya menempel di dahiku. Napasnya berantakan. Napasku juga.

“Nempel,” katanya, serak.

“Apa?”

“Lipstiknya.” Dia tertawa. Pelan, basah, di dekat bibirku. “Nggak transfer-proof. Mbak SPG-nya bohong.”

Aku membuka mata. Aku menatap bibirnya. Merah tua. Samar, tapi jelas. Midnight Confession, di bibir Ryan Adiputra, di tepi trotoar di Menteng.

Aku tertawa sampai menangis.


Kami menyeberang.

Di zebra cross yang catnya pudar. Tangan bergandengan. Aku di sisi kanan. Di sisi jalan.

Di tengah jalan, Ryan menoleh dan menatapku. Dia melihat di mana aku berdiri. Dia tidak protes. Dia tidak pindah. Dia hanya menggenggam tanganku lebih erat dan membiarkanku menyeberangkannya.

Di seberang, di samping Si Lumut, dia berhenti.

“Nad.”

“Hm.”

“Kita...” Dia berhenti. Telinganya merah di bawah lampu jalan. Bibirnya masih sedikit merah. “Kita apa sekarang?”

Aku menatapnya. Delapan tahun. Delapan tahun laki-laki ini bicara dengan kalimat telegram. Makan. Jalan. Napas. Fokus. Dan sekarang dia berdiri di samping mobil hijau lumutnya, bertanya dengan suara yang terdengar seperti anak SMA.

“Kamu yang nanya,” kataku. “Kamu yang jawab.”

Dia diam. Lalu dia menarik napas. Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.

“Pacaran,” katanya. “Kalau kamu mau.”

“Itu kalimat lengkap pertamamu yang ada kata ‘kalau’-nya.”

“Nad.”

“Mau,” kataku. “Mau, Yan. Dari parkiran BSD. Dari tol. Dari pantry. Dari Puncak. Dari kolom kanan.”

Dia menatapku. Lalu dia tertawa dengan suara. Pendek. Tapi ada. Aku mulai berhenti menghitung berapa kali dia tertawa, karena sekarang aku tahu aku akan punya waktu untuk mendengarnya lagi.

Lalu dia membuka pintu pengemudi Si Lumut.

Dan menyerahkan kuncinya padaku.

“Kamu yang nyetir,” katanya.


Di dalam Si Lumut, dengan mesin menyala dan pemanas yang bekerja dengan sempurna, aku mengeluarkan buku catatan biru dari tas.

Ryan, di kursi penumpang, menatapku.

“Sekarang?” tanyanya.

“Kamu bilang nanti. Ini nanti.”

Dia memalingkan muka ke jendela. Telinganya merah lagi.

Aku membuka halaman terakhir.

Di bagian atas, di tempat aku menulis UTANG dan BUKAN UTANG di halaman pertama, ada judul baru. Ditulis dengan huruf kapital yang rapi dan sedikit miring, huruf orang yang biasa menggambar peta:

SISI JALAN.

Di bawahnya, satu baris:

Dari bioskop. Tahun kedua. Menit kelima. Sampai sekarang. Sampai nanti.

Dan di bawahnya, lebih kecil, dengan tinta yang sedikit ditekan terlalu keras, seperti ditulis setelah berpikir lama:

Kalau kamu mau, gantian. Kadang aku yang berdiri di situ. Kadang kamu.

Aku menutup buku itu. Aku menempelkannya ke dadaku. Aku menatap kaca depan Si Lumut yang sedikit berembun dan lampu-lampu jalan Menteng di luar, dan aku tidak bisa bicara selama satu menit penuh.

Ryan tidak bilang apa-apa. Dia hanya mengulurkan tangan dari kursi penumpang dan menyeka pipiku dengan ibu jarinya.

“Nyetir, Nad,” katanya pelan. “Ibu nunggu.”


Aku menyetir ke Pasar Minggu. Pelan. Dengan tangan di jam sepuluh dan jam dua, di tempat sarung setirnya mengelupas.

Di lampu merah Pancoran, Ryan mengeluarkan ponselnya. Dia mengetik sesuatu. Lalu dia menunjukkan layarnya padaku sebelum mengirim.

Ryan: Bu. Aku pulang sebentar lagi.

Ryan: Aku bawa pisang raja.

Aku menatap layar itu. Lalu menatapnya.

“Pisang raja?” tanyaku.

“Ibu bakal ngerti.”

Dia mengirim pesan itu.

Balasan datang dalam tujuh detik.

Ibu: ALHAMDULILLAH YA ALLAH

Ibu: IBU BIKININ KUE SUS SEKARANG

Ibu: YG NGGAK GOSONG

Ibu: LE KAMU SUDAH MAKAN?? BAWA DIA MAKAN DULU

Ibu: ATAU MAKAN DI SINI AJA IBU MASAKIN

Ibu: SAYUR ASEM ATAU OPOR??

Ibu: OPOR AJA YA. ACARA BESAR HARUS OPOR.

Lampu hijau. Aku jalan. Aku tertawa sampai Si Lumut sedikit oleng, dan Ryan bilang “Fokus” dengan nada persis sama seperti di tol JORR, dan aku bilang “Kamu yang bikin aku nggak fokus”, dan dia bilang “Iya”, dan aku menoleh dan dia sedang menatapku.

Bukan menatap jalan. Bukan menatap spion. Menatapku.

Dengan bibir yang masih sedikit merah tua.

Dengan mata yang tidak datar sama sekali.

“Lihat depan, Yan,” kataku.

“Nggak,” katanya. “Kamu yang nyetir. Aku yang lihat.”

Di luar, Jakarta berkilau seperti sungai lampu. Di dalam Si Lumut, bau debu AC dan pengharum kopi yang sudah lama kehilangan aromanya dan sabun yang sama dengan malam itu.

Aku menyetir pulang ke Pasar Minggu dengan laki-laki yang selalu berdiri di sisi jalan, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, tidak ada yang perlu dihitung.