Chapter Twenty Five
Bab 25 — Utang
POV: Nadira
Seminggu, aku tidak bicara dengan Ryan.
Tidak ada kopi tubruk di termos. Tidak ada latihan nyetir hari Sabtu. Tidak ada pesan Nad sudah sampai? di grup circle, karena grup circle juga diam. Tidak ada yang mengirim apa-apa. Tidak ada foto kucing dari Gilang. Tidak ada keluhan vendor dari Zaza. Tidak ada meme product manager dari Evan. Grup itu seperti ruang tamu setelah pemakaman: semua orang masih ada di sana, tapi tidak ada yang tahu harus bilang apa.
Jumat malam, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, tidak ada yang mengusulkan kumpul di kafe Kemang.
Aku bekerja. Itu caraku, Ryan bilang begitu dulu, dan dia benar. Kalau aku kecewa, aku lembur. Aku menyetir mobil operasional kantor ke Cikarang hari Senin untuk rapat lanjutan dengan Bu Ratih, yang memuji parkirku lagi. Aku menyetir ke Bekasi hari Rabu, pulang pukul delapan malam, sendirian, di tol yang gelap, dengan tangan di jam sepuluh dan jam dua dan napas dalam hitungan.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Setiap kali aku menghitung, aku mendengar suaranya. Napasmu pendek. Tangannya yang naik dan turun di udara seperti dirigen orkestra.
Setiap kali aku menyalakan lampu sein tiga detik sebelum pindah jalur, aku mendengar suaranya.
Setiap kali aku melihat sisi jalan, aku melihat dia berdiri di sana.
Dimas, di meja sebelah, memperhatikan.
“Mbak Nad,” katanya hari Kamis, waktu aku menatap layar laptop selama dua puluh menit tanpa mengetik apa pun. “Mbak putus ya?”
“Aku nggak pacaran.”
“Sama yang dibawain kopi tiap pagi itu.”
“Itu bukan pacar.”
“Mbak bawain kopi tiap pagi selama dua minggu ke Kuningan, Mbak. Pakai termos. Termos yang ada stiker kucingnya.” Dimas menatapku dengan simpati yang dibuat-buat. “Terus tiba-tiba berhenti. Termosnya nganggur di meja Mbak. Udah seminggu.”
Aku menatap termos di sudut mejaku. Termos stainless kecil dengan stiker kucing memberi hormat yang kutempel sendiri. Kosong.
“Itu nggak ada hubungannya sama apa-apa,” kataku.
“Oke.” Dimas mengangguk. Lalu, lebih pelan: “Tapi kalau Mbak butuh cerita, aku punya tanaman plastik. Dia pendengar yang baik.”
Aku tertawa. Pertama kali dalam seminggu. Tawanya pendek dan pahit, tapi tawa.
Malam itu, di kos, aku mengambil buku catatan.
Buku catatan kosong, sampul biru, yang kubeli untuk mencatat ide kampanye dan tidak pernah kupakai. Aku membukanya di halaman pertama. Aku membuat dua kolom.
Di kolom kiri, aku menulis: UTANG.
Di kolom kanan, aku menulis: BUKAN UTANG.
Ini cara copywriter berpikir. Kalau kau tidak tahu apa yang kau rasakan, kau tulis. Kau pisahkan. Kau beri label. Kau lihat mana yang bertahan setelah dipotong klien.
Di kolom UTANG, aku menulis:
Dia nyelamatin aku. Kakinya rusak karena aku. Punggungnya dijahit 23 kali karena aku. Dia kehilangan beasiswa lari karena aku. Dia wisuda pakai tongkat dan aku nggak datang. Aku ngerasa bersalah tiap lihat dia naik tangga.
Aku menatap kolom itu lama. Semuanya benar. Semuanya membuat dadaku sesak. Semuanya membuatku ingin berlari ke Pasar Minggu dan berlutut di depannya dan bilang maaf seribu kali.
Ini yang dia takutkan. Aku mengerti sekarang. Kalau semua yang kurasakan ada di kolom kiri, dia benar. Aku hanya akan menjadi orang yang membayar utang seumur hidup.
Lalu aku menatap kolom kanan. Kosong.
Aku memegang pulpen. Aku memikirkan sesuatu yang kurasakan tentang Ryan yang tidak ada hubungannya dengan malam itu.
Lalu aku sadar sesuatu.
Aku mulai menulis.
Tangannya di atas tanganku di persneling. Parkiran BSD. Ibu-ibu senam. Jantungku kenceng. Aku salahin kopi.
Itu Sabtu pertama. Delapan minggu lalu. Aku belum tahu apa-apa waktu itu. Aku masih sayang Evan. Aku masih percaya Evan yang menyelamatkanku. Dan jantungku kencang karena tangan Ryan di atas tanganku.
Dia ketawa di parkiran stasiun Pondok Ranji. Keras. Ada suaranya. Aku belum pernah dengar. Aku pengen dengar lagi.
Sabtu ketiga. Masih belum tahu.
“Kamu cantik kalau nyetir.” Setirnya oleng. Mukaku panas sampai keluar tol. Aku nggak minum kopi waktu itu. Kopinya udah habis dua jam sebelumnya. Aku nggak tahu harus nyalahin apa.
Masih belum tahu.
Dia makan ayam gosongku duluan. Biar yang enak terakhir. Aku lihat dia makan dan aku pengen nangis dan aku nggak tahu kenapa.
Belum tahu. Aku bahkan belum mendengar kata mobil dari Bu Ratna.
Tiara bikinin dia kopi tiap pagi. Aku langsung bawa termos besoknya. Aku ngerasa menang waktu Tiara lihat termosku. Itu bukan perasaan sahabat.
Belum tahu.
Gladi resik. Aku harus nyebut hal-hal yang Evan lakuin. Yang keluar semuanya Ryan. Sandal cadangan. Sisi jalan. Nunggu lampu kamarku nyala.
Belum tahu. Aku masih mengira mobil yang sama menabraknya di jalan lain.
Kepalanya di bahuku di macet Puncak. Rambutnya di leherku. Aku nggak gerak sama sekali sepanjang antrean. Bahuku pegel dua hari. Aku nggak nyesel.
Belum tahu. Aku baru melihat dua senti garis pucat di bawah kerahnya. Aku masih belum menyambungkan apa pun.
Dia keluar dari lift di rooftop pakai kemeja hitam, terus berhenti, terus kue susnya jatuh, terus dia lihat aku. Jantungku ngelakuin sesuatu yang bodoh. Bukan karena Evan.
Satu jam sebelum aspal di Senopati.
Satu jam sebelum aku tahu.
Aku berhenti menulis. Aku menatap halaman itu.
Kolom kanan penuh. Lebih penuh dari kolom kiri. Tulisanku makin kecil di bagian bawah karena tidak muat, merambat ke pinggir halaman, ke margin, ke halaman sebelah.
Dan semuanya, setiap baris, terjadi sebelum aku tahu.
Aku jatuh duluan.
Aku jatuh di parkiran BSD, di tol JORR, di parkiran stasiun, di pantry kantor Kuningan, di atap jemuran, di macet Puncak, di rooftop Senopati. Aku jatuh pelan-pelan, seperti Si Lumut yang bergerak di gigi satu, tanpa lompatan kodok, tanpa sadar, sampai tiba-tiba aku sudah sepuluh meter jauhnya dan aku tidak ingat kapan aku mulai bergerak.
Aku jatuh pada laki-laki yang mengupas kacang untuk Gilang. Yang meminum americano yang tidak dia suka supaya Evan tidak merasa bersalah. Yang bangun jam empat pagi. Yang menghitung napas. Yang selalu berdiri di sisi jalan.
Aku jatuh sebelum aku tahu dia punya bekas luka di punggung.
Utang tidak bisa datang sebelum kau tahu kau berutang.
Aku menutup buku catatan biru itu dan menangis. Tapi kali ini, tangisnya berbeda. Bukan tangis di aspal Senopati, yang terbelah dan berantakan. Bukan tangis di kasur Zaza, yang pahit. Tangis yang lain. Yang lega. Seperti orang yang akhirnya menemukan kunci yang dia cari di saku jaket yang dia pakai selama ini.
Sabtu pagi, aku menyetir ke Pasar Minggu.
Bukan Si Lumut. Aku tidak punya Si Lumut. Aku menyewa mobil dari rental dekat kos, hatchback merah kecil yang AC-nya terlalu dingin dan setirnya terlalu ringan. Aku menyetir sendiri, untuk pertama kalinya tanpa Ryan di kursi penumpang, tanpa kantor yang menyuruh, tanpa tujuan selain satu.
Gang rumah Ryan cukup lebar untuk satu mobil dan satu gerobak bakso, tapi tidak keduanya sekaligus. Gerobak bakso Pak Kasim diparkir di tengah jalan. Aku memarkir mobil di mulut gang dan berjalan.
Bukan rumah Ryan yang kutuju. Bukan dulu.
Aku mengetuk pintu rumah nomor 17. Papan kayu kecil di sampingnya masih ada: KUE BU RATNA — TERIMA PESANAN. NGGAK GOSONG (BIASANYA).
Pintu terbuka.
Bu Ratna berdiri di sana, dengan celemek bebek dan tangan bertepung. Dia menatapku.
Dia tidak tersenyum seperti terakhir kali. Dia tidak bilang masuk, panas, Ibu udah siapin es teh. Dia hanya menatapku, lama, dengan mata yang sama dengan mata Ryan. Tenang. Sedikit mengantuk. Dan di bawahnya, sesuatu yang tajam yang tidak melewatkan apa pun.
“Ryan lagi ke apotek Nak Gilang,” katanya. “Ganti perban.”
“Saya nggak cari Ryan, Bu,” kataku. “Saya cari Ibu.”
Bu Ratna menatapku lebih lama.
Lalu dia membuka pintu lebih lebar.
Kami duduk di kursi rotan di ruang tamu kecil itu. Es teh manis di meja. Sepiring kue sus. Jam dinding yang berdetak terlalu keras.
“Ibu tahu,” kata Bu Ratna. “Dua minggu lalu. Nak Zafrina datang jam dua pagi. Ibu dengar dari kamar.”
“Ryan nggak pernah cerita ke Ibu?”
“Ryan bilang dia nolong teman. Itu aja. Ibu tanya siapa, dia bilang nggak penting.” Bu Ratna mengambil kue sus, memutarnya di jari, tidak memakannya. Persis seperti Zaza di malam itu, kata Ryan. “Lima tahun Ibu nggak nanya lagi. Ibu kira itu maunya dia.”
“Bu,” kataku. Suaraku bergetar. “Maaf.”
“Buat apa?”
“Buat kakinya. Buat beasiswanya. Buat empat bulan Ibu bolak-balik naik kereta. Buat Ibu nangis di koridor rumah sakit pakai daster.”
Bu Ratna berhenti memutar kue sus.
“Kok kamu tahu Ibu nangis di koridor?”
“Ryan cerita ke Gilang. Gilang cerita ke aku.” Aku menyeka mata. “Gilang cerita semuanya. Dia nangis waktu cerita.”
Bu Ratna diam lama. Lalu dia menaruh kue sus itu kembali di piring.
“Nduk,” katanya. “Sini.”
Aku tidak mengerti. Dia menepuk kursi rotan di sebelahnya. Aku pindah. Dia memegang tanganku dengan tangannya yang bertepung, hangat dan kasar, seperti tangan Ryan di tuas persneling.
“Kamu dengar baik-baik,” katanya. “Ibu nggak pernah nyalahin kamu. Nggak sekali pun. Anak Ibu lari ke jalan karena dia mau. Bukan karena kamu minta. Kamu nggak minta apa-apa. Kamu cuma mau beli roti.”
“Roti sobek,” bisikku. “Cokelat.”
“Roti sobek cokelat.” Bu Ratna tersenyum sedikit. “Itu bukan dosa, Nduk.”
Aku menangis. Dia membiarkanku menangis, sambil memegang tanganku, sambil jam dinding berdetak terlalu keras.
“Tapi Ibu mau bilang satu hal,” katanya, setelah aku agak tenang. Suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih tajam. “Dan kamu harus dengar, karena Ibu ini ibunya.”
Aku menatapnya.
“Kamu boleh sayang sama anak Ibu,” kata Bu Ratna. “Boleh juga nggak. Itu hakmu. Ibu nggak ikut campur. Tapi jangan sekali-kali kamu datang ke dia karena merasa berutang.” Dia meremas tanganku. “Anak Ibu itu bukan tagihan, Nduk. Dia nggak bisa ditagih. Kalau kamu datang ke dia buat bayar, dia bakal nerima, karena dia memang begitu, dia nerima apa aja yang dikasih orang. Tapi dia bakal mati pelan-pelan di dalam. Ibu kenal dia. Dia lebih milih nggak punya apa-apa daripada punya sesuatu yang dikasih karena kasihan.”
Aku mengangguk. Air mata masih turun.
“Jadi kamu tanya dirimu sendiri dulu,” kata Bu Ratna. “Baik-baik. Jujur. Sebelum kamu ke dia.”
Aku melepaskan tanganku dari tangannya. Pelan. Aku membuka tas. Aku mengeluarkan buku catatan biru.
Aku membukanya di halaman pertama. Dua kolom. UTANG. BUKAN UTANG.
Aku menyerahkannya pada Bu Ratna.
Bu Ratna membaca lama.
Dia membaca kolom kiri dulu, dengan bibir bergerak tanpa suara. Lalu kolom kanan. Lalu dia memiringkan buku itu untuk membaca tulisan kecil yang merambat ke margin. Lalu dia membalik halaman, membaca sisanya di halaman sebelah.
Dia membaca ayam gosong. Dia membaca Tiara. Dia membaca kepalanya di bahuku di macet Puncak. Dia membaca kue susnya jatuh.
Lalu dia menutup buku itu. Dia meletakkannya di pangkuannya. Dia menatap foto pernikahan hitam putih di dinding, foto dia dengan kebaya di sebelah laki-laki kurus berkacamata yang wajahnya mirip sekali dengan Ryan.
“Bapaknya Ryan,” katanya, “bawa pisang yang salah waktu lamaran.”
“Ryan pernah cerita.”
“Pisang kepok. Mbah Putri mau pisang raja.” Bu Ratna tersenyum ke arah foto. “Semua orang nyuruh Ibu nolak. Kata mereka, laki-laki yang nggak bisa bedain pisang itu nggak bakal bisa bedain apa-apa. Tapi Ibu terima.” Dia menatapku. “Kamu tahu kenapa?”
Aku menggeleng.
“Karena waktu dia datang ke rumah dengan pisang yang salah itu, Ibu sudah suka dia tiga tahun. Ibu suka dia sebelum dia bawa pisang. Ibu suka dia waktu dia nemenin Ibu nunggu angkot di depan pasar tiap sore tanpa ngomong apa-apa. Ibu suka dia waktu dia ngasih payungnya ke Ibu terus dia sendiri jalan kehujanan.” Bu Ratna mengusap sampul buku biru di pangkuannya. “Pisang yang salah itu nggak ngubah apa-apa. Ibu sudah jatuh duluan.”
Aku tidak bisa bicara.
Bu Ratna menyerahkan buku catatan itu kembali padaku.
“Kamu jatuh duluan,” katanya. “Sebelum kamu tahu soal kakinya. Sebelum kamu tahu soal punggungnya.” Dia mengetuk sampul buku dengan jari bertepung. “Ini nggak bisa dipalsuin, Nduk. Ibu bisa bedain. Ibu sudah bikin kue tiga puluh tahun. Ibu tahu bedanya kue yang dibikin pakai hati sama yang dibikin karena pesanan.”
Aku pulang dari rumah Bu Ratna pukul empat sore. Ryan belum pulang dari apotek Gilang.
Aku tidak menunggunya. Bukan hari ini. Hari ini aku perlu menyetir. Aku menyetir mobil rental merah kecil itu berkeliling Jakarta tanpa tujuan, melewati Pejaten, Kemang, Senopati, Kuningan. Aku melewati gedung tua di Rasuna Said, yang liftnya berhenti dua detik terlalu lama di setiap lantai. Aku melewati warung pecel lele di Tebet. Aku melewati apotek dengan papan hijau dan stiker kucing oranye di jendela, dan aku melihat Si Lumut terparkir di depannya, hijau lumut dengan penyok kecil di bemper belakang.
Aku tidak berhenti.
Aku menyetir sampai matahari terbenam. Sampai lampu-lampu jalan menyala. Sampai gerimis mulai turun, pelan, membuat aspal mengilap dan lampu-lampu kendaraan berbayang panjang.
Aku tidak takut.
Pukul delapan malam, aku memarkir mobil rental di mulut gang di Pasar Minggu lagi. Gerobak bakso Pak Kasim masih di tengah jalan, lampunya sudah mati, mangkuknya ditumpuk terbalik.
Aku berjalan memutari gerobak itu. Aku berjalan di gang yang sejuk karena atap-atap rumah hampir bertemu di atas kepala. Aku berjalan sampai ke rumah nomor 17.
Lampu teras menyala. Lampu dapur juga. Itu artinya Bu Ratna belum tidur.
Lampu kamar di samping, kamar dengan jendela kecil yang menghadap gang, juga menyala.
Aku berdiri di depan pintu.
Payung hitam bergagang kayu ada di tanganku. Aku membawanya dari kos. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin untuk mengembalikannya. Mungkin karena gerimis. Mungkin karena aku butuh sesuatu untuk dipegang, dan lebih baik memegang sesuatu yang miliknya daripada tidak memegang apa pun.
Aku menarik napas.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Aku mengetuk.
Di dalam, aku mendengar suara Bu Ratna, samar: Le. Ada tamu.
Lalu langkah kaki. Pelan. Satu cepat, satu lambat. Tap. Taaap. Tap. Taaap.
Mendekat ke pintu.
Aku mencengkeram gagang kayu payung itu dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak menunggu siapa pun bicara duluan.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang reading
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan