Chapter Twenty Two
Bab 22 — Punggung
POV: Nadira
Apotek Gilang sudah tutup sejak jam sembilan.
Papan hijau APOTEK SEHAT SENTOSA sudah mati lampunya. Rolling door setengah turun. Gilang mengangkatnya dengan bunyi gemeretak logam yang membangunkan Pak RT, yang sedang tidur di atas etalase vitamin dan langsung mendesis pada kami semua dengan bulu berdiri.
“Pak RT,” kata Gilang, “maaf. Darurat medis.”
Pak RT menatap kami. Lima orang basah kuyup di pintu apoteknya pada pukul sepuluh malam, satu di antaranya bergaun emas yang robek dan satu lagi berdarah di bahu dan lutut, dipapah dua orang lain. Kucing itu mengedip sekali, pelan, lalu turun dari etalase dan berjalan ke ruang belakang dengan ekor tegak, seolah dia yang memimpin jalan.
Ruang belakang apotek Gilang kecil. Meja kayu, komputer tua, rak berisi kardus-kardus obat. Dinding yang ditempeli puluhan foto lama kami. Gilang menyingkirkan semua kertas dari meja, menggelar handuk bersih di atasnya, menyalakan lampu meja yang terang, dan membuka kotak P3K-nya lebar-lebar seperti dokter bedah yang membuka tas instrumennya.
“Duduk,” katanya pada Ryan. “Di kursi. Hadap ke lampu.”
Ryan duduk. Evan melepas lengan kiri Ryan dari bahunya dan mundur ke dekat pintu, bersandar ke rak kardus, dengan kemeja putih ulang tahunnya yang sekarang kotor di bagian bahu. Zaza berdiri di sebelahnya. Dia tidak bicara sejak di jalan Senopati. Dia hanya memegang ponselnya dengan dua tangan, terlalu erat, buku-buku jarinya putih.
Aku berdiri di samping kursi Ryan. Aku tidak melepas tangan kananku dari lengannya. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tidak bisa.
“Nad,” kata Gilang. “Kamu dulu. Kamu luka di mana?”
“Nggak luka.”
“Kamu jatuh di aspal.”
“Ryan yang jatuh di aspal. Aku jatuh di Ryan.”
Gilang menatapku. Lalu menatap Ryan. Lalu, untuk sekali itu, dia tidak berdebat. Dia hanya mengangguk, mengambil kapas dan cairan antiseptik, dan berlutut di depan Ryan.
Lutut dulu.
Celana hitam Ryan robek di lutut kiri, robekan lebar yang memperlihatkan kulit yang terkelupas, merah, dengan butiran-butiran kerikil kecil hitam yang tertanam di dalamnya. Gilang membersihkannya dengan pinset, satu per satu, dengan konsentrasi seorang tukang jam yang memperbaiki mesin kecil. Setiap kali pinset menyentuh luka, otot di rahang Ryan berkedut. Dia tidak bersuara. Bibirnya bergerak tanpa suara.
Aku menghitung bersamanya. Di dalam kepala. Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Lalu pipinya. Goresan panjang dari tulang pipi ke rahang, tidak dalam, tapi kotor. Gilang membersihkannya dengan kapas, pelan sekali, dan menempelkan plester. Plester dinosaurus. Satu-satunya jenis yang dia punya.
“Lang,” kata Ryan.
“Diam. Itu steril.”
“Itu tyrannosaurus.”
“Itu tyrannosaurus yang steril.”
Di dekat pintu, Evan mengeluarkan suara kecil. Separuh tawa, separuh isak. Zaza menyikutnya.
Lalu tangannya. Telapak tangan kanan Ryan, yang tadi menapak di aspal waktu dia jatuh, tergores di bagian pangkal. Gilang membersihkannya. Ryan tidak melihat tangannya. Ryan melihat lantai.
Lalu Gilang berdiri.
“Bahu,” katanya. “Sama punggung. Kemejamu robek di belakang. Aku harus lihat.”
Ryan tidak bergerak.
“Yan. Buka kemejanya.”
“Nanti di rumah.”
“Nanti di rumah kamu nggak bakal bersihin. Kamu bakal tidur dan besok bangun dan kerikilnya udah masuk lebih dalam dan infeksi.” Gilang mengangkat pinset seperti senjata. “Buka. Sekarang.”
Ryan diam. Lalu, pelan, dia mengangkat kepala.
Dia menatapku.
Bukan menatap Gilang yang memegang pinset. Bukan menatap Evan di dekat pintu. Dia menatapku. Lama. Dengan mata yang meminta sesuatu, dan aku tahu apa yang dia minta, karena aku sudah melihat kaos hitam leher bulat yang tertutup sampai tengkuk, karena aku sudah melihat dia berenang dengan kaos di kolam villa Puncak, karena aku sudah melihat dua atau tiga senti garis pucat di bawah kerah.
Dia memintaku keluar.
“Nad,” kata Zaza dari dekat pintu. Suaranya lembut, hati-hati. “Mungkin kamu tunggu di depan dulu—”
“Nggak,” kataku.
Aku tidak melepas tanganku dari lengan Ryan.
“Aku di sini,” kataku.
Dan di ruangan kecil itu, dengan lampu meja yang terang dan foto-foto lama kami di dinding dan Pak RT yang duduk di atas rak kardus seperti hakim, semua orang mendengar kalimat itu. Semua orang mendengar betapa miripnya kalimat itu dengan kalimat yang lain.
Ryan menutup mata.
Lalu, pelan, dengan tangan kiri yang tidak terluka, dia mulai membuka kancing kemejanya.
Satu. Dua. Tiga.
Kemeja hitam itu dikancing sampai satu di bawah leher. Bu Ratna pasti yang menyuruhnya. Bu Ratna pasti berdiri di depannya di ruang tamu kecil itu, merapikan kerahnya, dan bilang kamu ganteng kalau rapi, Le.
Empat. Lima. Enam.
Kemeja itu terbuka di depan. Dadanya, di bawah lampu meja yang terang. Kulit cokelat, sedikit lebih pucat dari wajahnya karena tidak pernah terkena matahari. Ada memar mulai muncul di sisi kanan rusuknya, merah keunguan, di tempat tadi tubuhnya membentur aspal.
Dia menarik kemeja itu dari bahunya. Pelan. Dari bahu kiri dulu. Lalu bahu kanan, yang robek dan berdarah, dan dia meringis waktu kain yang menempel di luka itu tertarik.
Kemeja itu jatuh ke kursi di belakangnya.
Lalu, dengan kepala menunduk, Ryan memutar badannya. Memunggungi lampu. Memunggungiku.
Aku melihatnya.
Garis itu mulai dari tulang belikat kanan.
Dari sana, dia turun. Miring. Melintasi punggungnya seperti diagonal di peta, seperti jalan yang dibuat dengan penggaris oleh seseorang yang marah. Melewati tulang belakang. Melewati otot-otot yang menegang di bawah kulit. Turun terus, sampai ke pinggang kiri, di atas tali celana.
Dua puluh lima senti. Mungkin lebih. Pucat, lebih terang dari kulit di sekitarnya, sedikit menonjol, mengilap di bawah lampu. Di sepanjang garis itu, titik-titik kecil di kedua sisinya. Bekas jahitan. Aku tidak menghitungnya. Aku tidak perlu. Bu Ratna sudah memberitahuku angkanya.
Dua puluh tiga.
Dan di atas garis lama itu, di bahu kanan, luka yang baru. Kulit yang terkelupas oleh aspal malam ini, merah, kotor, berdarah. Luka baru di atas luka lama. Di tempat yang sama. Di punggung yang sama, yang dua kali memunggungi sesuatu yang datang terlalu cepat.
Ruangan itu sunyi.
Bahkan Pak RT tidak bergerak.
Gilang berdiri dengan pinset di tangan, menatap punggung Ryan. Wajahnya tidak kaget. Gilang pernah melihat luka ini. Gilang menemani Ryan wisuda. Gilang tahu punggungnya dijahit.
“Untung nggak kebuka,” kata Gilang pelan, setengah ke dirinya sendiri, dengan nada seorang apoteker yang sedang menilai luka. Dia mendekat, memeriksa bahu kanan Ryan dengan mata menyipit. “Yang baru ini cuma di atas. Bekas yang lama aman. Nggak kena.” Dia menyentuh pinggir bekas luka lama itu dengan ujung jari bersarung tangan, sangat pelan. “Ini bekas kecelakaan motor yang malam keakraban itu kan, Yan? Yang dari kaca spion?”
Ryan tidak menjawab.
Gilang menunggu. Lalu dia mengangkat kepala, dan melihat wajah kami semua.
Wajah Zaza, yang menutup mulut dengan dua tangan. Wajah Evan, yang bersandar ke rak kardus dengan mata terpejam. Wajahku.
“Kenapa?” tanya Gilang. Bingung. “Kenapa muka kalian begitu?”
“Yan,” kataku.
Suaraku tidak seperti suaraku. Suaraku keluar dari tempat yang sangat jauh, dari bagian belakang kepalaku yang selama lima tahun mengetuk-ngetuk dari balik pintu yang terkunci.
Ryan tidak berbalik. Dia masih memunggungiku. Bahunya naik turun, pelan, dalam hitungan.
“Malam itu,” kataku. “Yang meluk kepalaku. Yang muter badan. Yang punggungnya kena mobil.”
Ryan diam.
“Itu kamu?”
Aku sudah tahu. Aku tahu sejak aspal di Senopati, sejak empat kata itu, sejak pintu di belakang kepalaku terbuka. Aku tahu sejak air mata yang bukan gerimis turun ke jariku dari sudut matanya yang terpejam.
Tapi aku perlu mendengarnya. Aku perlu dia mengatakannya. Dengan suaranya sendiri. Dengan mulutnya sendiri. Satu kali, setelah lima tahun.
Ryan tidak bergerak untuk waktu yang lama.
Lalu, sangat pelan, dia memutar badan. Dia duduk menghadapku, di kursi kayu, tanpa kemeja, dengan plester tyrannosaurus di pipi dan lutut yang dibalut kasa dan memar ungu di rusuk dan bekas luka yang tidak bisa kulihat lagi karena sekarang ada di belakangnya. Dia mengangkat kepala dan menatapku.
Wajahnya tidak datar. Wajahnya telanjang, seperti punggungnya. Semua yang selama ini disembunyikan di bawah permukaan danau yang terlalu tenang, sekarang ada di sana. Lelah. Takut. Sakit. Dan sesuatu yang lain, sesuatu yang sangat besar, yang membuat matanya merah dan basah dan tidak bisa berpaling dariku.
“Iya,” katanya.
Satu kata.
Lima tahun.
Di dekat pintu, sesuatu jatuh.
Botol antiseptik. Dari tangan Gilang. Botol plastik putih yang jatuh ke lantai, memantul sekali, menggelinding ke bawah meja, menumpahkan cairannya ke ubin dengan bau tajam yang memenuhi ruangan.
Gilang tidak memungutnya.
Dia berdiri di sana, dengan sarung tangan karet dan pinset di tangan dan dasi kupu-kupu emas yang miring, menatap Ryan. Lalu menatapku. Lalu menatap Evan di dekat pintu.
“Apa?” katanya. Suaranya kecil. Suara anak bungsu dari lima bersaudara. “Apa maksudnya?”
Tidak ada yang menjawab.
“Malam itu?” ulang Gilang. “Malam keakraban? Yang Nadira hampir ketabrak? Itu...” Dia menatap Evan. “Van. Kamu yang nyelamatin dia. Kan? Semua orang bilang kamu.”
Evan membuka mata.
“Bukan aku, Lang,” katanya. Pelan. Jelas. Seperti orang yang akhirnya meletakkan sesuatu yang sangat berat setelah membawanya terlalu lama. “Nggak pernah aku. Itu Ryan. Dari awal itu Ryan.”
Gilang menatapnya. Mulutnya terbuka, lalu tertutup, lalu terbuka lagi. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Gilang tidak punya kata-kata. Tidak ada jurnal. Tidak ada teori. Tidak ada vitamin.
Dia menatap punggung Ryan lagi. Bekas luka itu. Dan aku melihat wajah Gilang berubah, pelan-pelan, seperti foto yang dicetak di kertas foto murah, yang warnanya muncul sedikit demi sedikit.
“Aku,” kata Gilang. Suaranya pecah. “Aku yang paling sering bilang telat lulus.”
Aku tidak ingat aku bergerak.
Aku hanya tahu bahwa satu detik aku berdiri di samping kursi, dan detik berikutnya aku berlutut di lantai di depan Ryan, di antara kakinya, di atas ubin yang basah oleh antiseptik, dengan gaun emas pucat yang robek dan kotor, dan tanganku di wajahnya. Kedua tanganku. Memegang wajahnya seperti tadi di aspal. Ibu jariku di bawah matanya, di samping plester tyrannosaurus, di tempat yang basah.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia menatapku dari atas. Matanya basah.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Dia membuka mulut. Menutupnya.
“Lima tahun, Yan. Lima tahun. Aku sayang Evan lima tahun karena malam itu. Aku bilang ke semua orang dia pahlawan. Aku bilang dia rendah hati. Aku ketawa tiap Gilang bilang kamu telat lulus. Aku bahkan...” Suaraku pecah. “Aku bahkan nggak pernah jenguk kamu. Kamu empat bulan di rumah sakit dan aku nggak pernah jenguk. Aku kirim buah sekali lewat Gilang. Sekali. Karena aku sibuk nangisin Evan yang nyelamatin aku.”
Ryan diam. Air mata turun dari matanya, satu, pelan, dan jatuh ke ibu jariku.
“Kenapa, Yan?”
Lama. Lama sekali. Di belakangku, aku mendengar Zaza mulai menangis, isak kecil yang ditahan. Aku mendengar Evan menarik napas panjang. Aku mendengar Pak RT turun dari rak kardus dan berjalan pelan ke kaki Ryan, menggosokkan kepalanya ke betisnya yang dibalut kasa.
“Karena aku nggak mau,” kata Ryan akhirnya, dengan suara yang sangat pelan dan sangat serak, “kamu lihat aku kayak kamu lihat aku sekarang.”
Aku menatapnya.
“Kayak gimana?”
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku. Menatap mataku yang basah dan tanganku di wajahnya dan aku yang berlutut di lantai apotek di depannya dengan gaun pesta yang robek.
Dan aku mengerti.
Kasihan. Rasa bersalah. Utang. Itu yang dia lihat di mataku sekarang. Itu yang dia takutkan selama lima tahun.
Aku tidak tahu apakah dia benar.
Aku tidak tahu apa yang ada di mataku. Aku hanya tahu bahwa dadaku terasa seperti dibelah dua, dan bahwa di dalam belahannya ada sesuatu yang begitu besar dan begitu panas dan begitu berantakan sampai aku tidak bisa memberinya nama.
Aku melepaskan wajahnya.
Aku berdiri. Lututku gemetar. Gaun emas pucat itu menempel di kakiku, basah oleh antiseptik dan aspal dan gerimis.
“Nad,” kata Ryan.
Aku tidak menoleh.
Aku berjalan keluar dari ruang belakang. Melewati Evan, yang tidak menahanku. Melewati Zaza, yang mengulurkan tangan lalu menariknya lagi. Melewati etalase vitamin dan stiker kucing oranye di jendela. Melewati rolling door yang setengah terbuka.
Di luar, gerimis masih turun. Jalan di depan apotek Gilang sepi, hanya ada lampu jalan dan genangan air dan suara jangkrik dari got.
Aku berdiri di trotoar, sendirian, dengan gaun emas pucat yang robek dan tanpa tas dan tanpa ponsel, dan aku menatap jalan kosong di depanku.
Aku tidak takut menyeberang.
Aku tidak takut apa-apa lagi. Tidak ada tempat untuk takut.
Di dalam dadaku, ada terlalu banyak hal yang lain.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung reading
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan