← Udah, Aku di Sini

Chapter Six

Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem

POV: Nadira


Pukul 05.43, ada mobil hijau berhenti di depan kos.

Aku tahu itu jam 05.43 karena aku sudah berdiri di balik tirai jendela sejak 05.30, memakai sepatu datar, menggenggam sandal jepit di tangan kiri, dan bertanya-tanya kenapa aku menyetujui ide ini. Aku juga tahu mobil itu hijau karena Gilang pernah menamainya Si Lumut, dan nama itu tidak pernah hilang. Hatchback tua, warna hijau tentara yang sudah pudar jadi warna lumut kolam, dengan satu penyok kecil di bemper belakang dan stiker parkir kampus Bandung yang masih menempel di kaca, lima tahun kedaluwarsa.

Ryan tidak membunyikan klakson. Ryan tidak pernah membunyikan klakson di depan kos orang jam segini. Dia cuma mengirim pesan:

Ryan: Depan.

Aku keluar. Udara subuh Jakarta dingin dengan cara yang hanya terjadi sekitar satu jam dalam sehari, sebelum matahari dan knalpot mengambil alih. Ryan membuka pintu penumpang dari dalam. Di dudukan gelas, ada dua cup kopi.

“Punyamu yang kiri,” katanya.

Aku mengambilnya. Kopi susu, gula sedikit. Aku menyesapnya dan menatapnya.

“Kok tahu aku suka gula dikit?”

“Kamu selalu minta gula dipisah, terus cuma pakai setengah.”

“Kamu merhatiin aku pakai gula?”

“Aku merhatiin banyak hal.” Dia memasukkan gigi satu. “Pakai sabuk.”

Aku memakai sabuk. Si Lumut mulai berjalan dengan bunyi seperti kakek-kakek yang bangun dari kursi. Di jok belakang, aku melihat sebuah kantong plastik berisi sepasang sandal jepit baru, ukuran perempuan, warna biru muda, labelnya belum dicopot.

“Itu apa?”

“Cadangan. Kalau kamu lupa bawa.”

Aku mengangkat sandal jepit hitam di tanganku. “Aku bawa.”

“Bagus. Berarti yang itu cadangan dari cadangan.”

Aku tertawa. Masih terlalu pagi untuk tertawa, tapi aku tertawa juga, dan Ryan menatap lurus ke jalan dengan sudut bibir yang bergerak sedikit.


Parkiran belakang mal di BSD, gerbang timur, pukul 06.20 hari Sabtu, ternyata tidak kosong.

Parkiran itu penuh ibu-ibu.

Ibu-ibu senam. Sekitar tiga puluh orang, berbaris rapi di area parkir yang paling lapang, memakai kaos seragam ungu bertuliskan SENAM SEHAT CERIA BSD — KAMI MUDA SELAMANYA. Di depan mereka, seorang instruktur bertubuh kecil dengan rambut dicepol berteriak lewat mikrofon tanpa kabel, dan dari speaker di bagasi mobil SUV mengalun remix dangdut dengan dentuman bass yang terlalu kuat untuk jam segini.

“Yan,” kataku.

“Aku survei Kamis sore,” katanya pelan, menatap ibu-ibu itu seperti orang yang baru saja menemukan bahwa petanya salah. “Kamis sore kosong.”

“Ini Sabtu pagi.”

“Iya.”

“Ibu-ibu senam nggak senam hari Kamis sore, Yan.”

“Sekarang aku tahu.”

Kami diam sebentar, menatap tiga puluh ibu-ibu yang sedang melakukan gerakan yang kelihatannya seperti mengusir ayam dengan kedua tangan.

“Area sebelah sana kosong,” kata Ryan akhirnya, menunjuk ke sudut jauh parkiran, kira-kira seratus meter dari kerumunan. “Masih cukup luas.”

Dia memarkir Si Lumut di sana, mematikan mesin, lalu keluar dan berjalan memutar ke sisi penumpang. Aku menatapnya lewat kaca. Dia membuka pintuku.

“Tukar,” katanya.

Aku tidak bergerak.

Aku sudah membayangkan saat ini sejak Senin malam. Aku membayangkan aku turun dengan anggun, berjalan ke sisi pengemudi, duduk di balik kemudi seperti perempuan dewasa yang punya SIM aktif dan promosi jabatan. Aku membayangkan aku memutar kunci dan semuanya baik-baik saja.

Aku tidak membayangkan bahwa kakiku akan menolak keluar dari mobil.

“Nad.”

“Bentar.”

Ryan tidak memaksa. Dia bersandar ke pintu yang terbuka, kopinya di tangan, dan menunggu. Di kejauhan, instruktur senam berteriak, “Kanan, kanan, kiri, kiri, pinggul, ibu-ibu, PINGGUL!“ dan tiga puluh pinggul bergoyang serempak.

“Kalau aku nggak bisa,” kataku, “kamu jangan marah.”

“Kenapa aku marah?”

“Karena kamu bangun jam empat. Bawa kopi. Beli sandal. Survei parkiran hari Kamis.”

“Aku nggak marah kalau kamu nggak bisa,” katanya. “Aku cuma marah kalau kamu nggak nyoba.”

“Itu sama aja.”

“Beda.” Dia menyesap kopinya. “Kalau kamu duduk di situ terus putar kunci terus panik terus matiin lagi, itu nyoba. Itu boleh. Kita pulang, beli bubur ayam, minggu depan coba lagi.”

Aku menatapnya. Di wajahnya tidak ada apa-apa yang memaksa. Tidak ada ekspektasi. Cuma Ryan, seperti biasa, dengan mata yang sedikit mengantuk dan rambut yang belum disisir dengan benar.

“Bubur ayam yang mana?” tanyaku.

“Yang di depan kantor kelurahan Pasar Minggu. Kuahnya kuning.”

“Diaduk atau nggak diaduk?”

“Nggak diaduk. Aku bukan barbar.”

Aku tertawa. Dan entah bagaimana, di antara tawa itu, kakiku keluar dari mobil.


Duduk di balik kemudi Si Lumut terasa seperti duduk di kursi yang sudah dibentuk oleh tubuh orang lain. Joknya sedikit cekung di tempat yang tidak cocok dengan tubuhku. Setirnya dibungkus sarung kulit sintetis yang sudah mengelupas di bagian jam sepuluh dan jam dua, persis di tempat tangan Ryan biasanya berada. Ada bau yang samar: debu AC, pengharum mobil aroma kopi yang sudah lama kehilangan aromanya, dan sesuatu yang lain, sabun atau deterjen, yang baru kusadari adalah bau Ryan.

Ryan duduk di kursi penumpang dan memundurkan jokku. Lalu memajukannya lagi. Lalu memundurkannya sedikit.

“Kakimu bisa injak kopling sampai habis?”

Aku mencoba. “Bisa.”

“Spion.”

Aku menyesuaikan spion. Spion tengah memantulkan wajahku, dan aku hampir tidak mengenali perempuan itu: pucat, bibir digigit, mata terlalu lebar.

“Sekarang,” kata Ryan, “kuncinya.”

Kunci itu tergantung di lubangnya, dengan gantungan berbentuk peta kecil Pulau Jawa dari akrilik. Aku menatapnya.

Tanganku berkeringat. Aku mengusapnya di celana. Masih berkeringat. Aku mengusapnya lagi.

“Nad,” kata Ryan.

“Iya, iya, bentar.”

“Kamu yang matiin kapan pun kamu mau.”

Aku menoleh.

Dia tidak menatapku. Dia menatap ke depan, ke parkiran kosong, ke barisan ibu-ibu ungu di kejauhan. Suaranya rendah dan datar, seperti orang yang menjelaskan prosedur.

“Mesinnya nyala bukan berarti kamu harus jalan. Kamu bisa nyalain, duduk lima menit, matiin. Kamu bisa nyalain, maju satu meter, matiin. Kamu yang pegang kuncinya. Bukan mesinnya yang pegang kamu.”

Aku menatap profilnya lama. Hidungnya yang lurus. Rahangnya yang tidak dicukur dengan sempurna pagi ini. Bekas kopi di ujung bibirnya.

Lalu aku memutar kunci.

Mesin menyala. Si Lumut bergetar, batuk sekali, lalu bergemuruh pelan.

Dan itu dia. Suara itu. Bukan persis sama, tapi cukup mirip. Dengungan mesin yang menggetarkan kursiku, yang naik dari telapak kaki ke perut ke dada, dan tiba-tiba aku tidak berada di parkiran BSD lagi. Aku berada di jalan depan gerbang kampus, dan lampu jalan berkedip, dan ada sesuatu yang besar dan gelap meraung ke arahku tanpa cahaya—

“Tarik napas,” kata Ryan.

Aku menarik napas. Dangkal. Patah-patah.

“Lagi. Lebih panjang.”

Aku mencoba.

“Kamu pegang kuncinya, Nad.”

Tanganku masih di kunci. Jari-jariku mencengkeramnya seperti mencengkeram pegangan di kereta yang terlalu penuh. Aku bisa memutarnya kembali. Satu gerakan kecil. Mesin akan mati, dan semuanya akan diam.

Aku tidak memutarnya.

Aku duduk di sana, dengan mesin menyala dan tangan gemetar, dan bernapas. Satu menit. Dua menit. Di kejauhan, instruktur senam berteriak, “Tepuk tangan buat diri sendiri, ibu-ibu! Kita hebat!“ dan tiga puluh pasang tangan bertepuk.

Aku tertawa. Gemetar, tapi tertawa.

“Mereka tepuk tangan buat aku,” kataku.

“Iya,” kata Ryan. “Buat kamu.”


Lalu, tentu saja, aku harus benar-benar menjalankan mobilnya.

Ternyata, lima tahun tidak menyetir tidak membuatmu lupa cara menyetir. Lima tahun tidak menyetir membuatmu lupa cara melepas kopling dengan lembut.

Si Lumut melompat.

Bukan bergerak. Melompat. Seperti kodok yang kaget. Maju setengah meter dengan sentakan keras, mesinnya mati, dan kami berdua terdorong ke depan lalu ke belakang seperti boneka di dasbor.

“Maaf! Maaf!”

“Nggak apa-apa,” kata Ryan, menyelamatkan cup kopinya yang hampir tumpah. “Lagi.”

Aku menyalakan lagi. Gigi satu. Lepas kopling.

Si Lumut melompat lagi. Mati lagi.

“Ya Tuhan.”

“Lagi.”

Lompatan ketiga lebih jauh. Lompatan keempat disertai bunyi krek dari arah persneling yang membuatku menjerit kecil. Lompatan kelima membuat sesuatu jatuh dari laci dasbor—sebuah buku catatan kecil, dua pulpen, dan sebungkus permen jahe yang jelas-jelas pemberian Gilang.

Di kejauhan, beberapa ibu-ibu senam berhenti bergerak dan menoleh ke arah kami.

“Mereka lihat,” bisikku.

“Mereka lagi istirahat minum,” kata Ryan. “Kita hiburannya.”

“Yan!”

“Lagi.”

Lompatan keenam. Aku memukul setir dengan frustrasi, dan klaksonnya berbunyi. Panjang. Keras. Tiga puluh ibu-ibu menoleh serempak.

Aku ingin mati. Aku ingin keluar dari mobil, berbaring di aspal parkiran, dan menunggu matahari membakarku sampai hilang.

Lalu salah satu ibu-ibu senam, yang paling gemuk, yang kaosnya ungu paling terang, mengangkat kedua tangan dan berteriak dari jauh:

“AYO, MBAK! SEMANGAT! SAYA DULU JUGA LOMPAT-LOMPAT!“

Lalu ibu yang lain ikut berteriak, “Pelan-pelan lepas koplingnya, Mbak! Kayak lepas mantan!“

Dan seluruh barisan ungu tertawa dan bertepuk tangan, dan instruktur senam mengambil mikrofon dan berkata dengan suara yang menggelegar di seluruh parkiran, “Ibu-ibu, kita doakan mbaknya lulus nyetir! Satu, dua, tiga—SEMANGAAAT!“

Aku menutup muka dengan kedua tangan.

Di sebelahku, untuk pertama kalinya, aku mendengar sesuatu yang aneh. Suara pendek, tertahan, dari tenggorokan. Aku mengintip dari sela jari.

Ryan menutup mulut dengan punggung tangannya. Bahunya bergetar.

“Kamu ketawa,” kataku.

“Nggak.”

“Kamu ketawa, Yan!”

“Aku batuk.”

“Batuk nggak bikin bahu getar kayak gitu!”

Dia berdeham, menurunkan tangannya, dan wajahnya kembali datar. Tapi matanya tidak. Matanya masih tertawa. Aku belum pernah melihat matanya seperti itu. Dalam delapan tahun, aku tidak ingat pernah melihat mata Ryan tertawa.

“Lagi,” katanya.


Pada percobaan kesembilan, Ryan mengubah cara.

“Taruh tangan di persneling,” katanya.

Aku menaruh tangan kiri di tuas persneling. Tuasnya hangat karena sudah kupegang terus sejak tadi.

Lalu tangannya menutup tanganku.

Tidak menggenggam. Tidak juga sekadar menyentuh. Telapak tangannya yang besar dan kering menutupi punggung tanganku sepenuhnya, seperti atap. Jari-jarinya sedikit lebih panjang dari jariku, ujung-ujungnya menyentuh pangkal jariku. Hangat. Kasar di bagian dalam, seperti tangan orang yang sering memegang alat ukur dan peta kertas dan tidak pernah memakai krim tangan.

“Rasain tuasnya,” katanya. Suaranya lebih dekat sekarang. “Waktu kamu lepas kopling, mesinnya bakal mulai narik. Kamu bakal ngerasain getarannya naik ke tuas ini. Pas getarannya mulai, tahan kakimu di situ. Jangan lepas semua. Tahan. Biar dia jalan pelan.”

Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa bicara.

“Siap?”

Aku mengangguk lagi.

Aku melepas kopling pelan. Pelan sekali. Lebih pelan dari bola bowling pertamaku yang hanya menjatuhkan satu pin.

Di bawah telapak tanganku, dan di bawah telapak tangannya, tuas persneling mulai bergetar. Halus, seperti dengkur kucing.

“Itu,” bisik Ryan. “Tahan.”

Aku menahan.

Si Lumut bergerak. Tidak melompat. Bergerak. Maju pelan, mulus, seperti perahu yang didorong arus. Satu meter. Tiga meter. Sepuluh meter.

“Yan,” bisikku. “Yan. Jalan. Dia jalan.”

“Iya.”

“Aku nyetir.”

“Iya.”

“Aku nyetir, Yan!”

“Iya, Nad. Lihat depan.”

Aku melihat depan. Parkiran kosong terbentang di depanku seperti lapangan sepak bola. Di kejauhan, ibu-ibu ungu bersorak lagi, dan kali ini aku tidak menutup muka. Aku tertawa. Aku tertawa dengan mulut lebar dan mata berair, dan Si Lumut terus berjalan pelan di gigi satu, dan tangan Ryan masih di atas tanganku di tuas persneling.

Lalu dia mengangkat tangannya.

Pelan. Tanpa kata. Seperti burung yang terbang dari dahan.

Si Lumut terus berjalan.

Aku menyetir sendiri.


Satu jam kemudian, kami duduk di Si Lumut yang terparkir di bawah pohon ketapang di ujung parkiran, menghabiskan sisa kopi yang sudah dingin. Ibu-ibu senam sudah bubar. Beberapa dari mereka mampir ke jendela mobil sebelum pulang, mengucapkan selamat padaku dengan semangat seolah aku baru saja lulus sidang skripsi, dan salah satunya—ibu yang berteriak soal mantan—memberi Ryan sebungkus kacang rebus dan berkata, “Pacarnya sabar banget, Mbak. Pertahankan.”

Ryan tidak mengoreksinya. Aku juga tidak. Aku terlalu sibuk tersedak kopi.

Sekarang, dalam diam, aku memandang ke luar jendela dan merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.

Jantungku berdetak terlalu cepat. Sudah sejak tadi. Sejak percobaan kesembilan, tepatnya.

Aku menyentuh dadaku pelan, di tempat yang tidak bisa dilihat Ryan.

Kopi, pikirku. Pasti kopi. Aku jarang minum kopi sepagi ini. Kafein di perut kosong memang bisa bikin jantung berdebar. Gilang pernah bilang begitu. Gilang pernah bilang banyak hal, dan setengahnya mungkin benar.

Itu pasti kopi.

“Minggu depan,” kata Ryan, “jalan raya. Komplek dulu. Yang sepi.”

“Minggu depan?”

“Kalau kamu mau.”

Aku menatap tanganku sendiri, tangan kiri, yang masih terasa hangat di bagian punggungnya.

“Mau,” kataku.

Ryan mengangguk. Dia memasukkan kacang rebus pemberian ibu senam ke laci dasbor, di sebelah permen jahe Gilang. Lalu dia menyalakan mesin—dari kursi penumpang, mencondongkan badan sedikit melewati kemudi, cukup dekat sampai aku bisa mencium bau sabunnya lagi—dan berkata:

“Kamu nyetir ke bubur ayam.”

“Ke Pasar Minggu? Yan, itu jauh! Itu jalan raya!”

“Aku bercanda.”

Aku menatapnya. Dia menatap ke depan dengan wajah sangat datar.

“Kamu bisa bercanda?”

“Kadang-kadang.” Dia keluar dari mobil dan berjalan memutar ke sisi pengemudi. “Jarang. Jangan dibiasakan.”

Waktu kami bertukar tempat, kami berpapasan di depan kap mesin. Hanya sebentar. Bahunya hampir menyentuh bahuku, dan aku harus mendongak sedikit untuk melihat wajahnya, karena aku lupa—aku selalu lupa—bahwa Ryan sebenarnya tinggi. Dia selalu berdiri sedikit miring ke kanan, jadi orang lupa betapa tingginya dia.

“Makasih, Yan,” kataku.

“Buat?”

“Kopi. Sandal. Parkiran.” Aku tertawa. “Ibu-ibu senam.”

“Ibu-ibu senam bukan rencanaku.”

“Tapi itu bagian terbaiknya.”

Dia diam sebentar. Lalu, untuk kedua kalinya pagi itu, aku melihat matanya tertawa.

“Iya,” katanya. “Itu bagian terbaiknya.”