Chapter Forty Three
Bab 43 — Kenzo
POV: Ryan
Seminggu sebelum lomba, hari Minggu sore, sebuah sedan hitam berhenti di mulut gang rumahku.
Aku tidak melihatnya datang. Aku sedang di teras, duduk di kursi rotan dengan kaki kiri di atas bangku kecil, melakukan peregangan pergelangan kaki yang Mbak Ayu ajarkan. Nadira duduk di kursi rotan yang lain, membaca dokumen klien di ponselnya dengan kaki diselonjorkan di pangkuanku.
Pak Kasim yang melihatnya duluan.
“Mas Ryan,” katanya dari balik gerobak bakso, dengan suara yang tidak biasa. Pelan. Hati-hati. “Ada tamu. Mobilnya nggak bisa masuk. Saya nggak geser gerobak.”
Aku menoleh ke mulut gang.
Sedan hitam. Model yang sama. Warna yang sama. Lampu depan yang menyala, kali ini.
Pintu belakangnya terbuka.
Pak Hendrawan Wiratama keluar.
Dia memakai kemeja batik cokelat tua dan celana bahan gelap. Tidak ada jam tangan emas. Rambut putihnya disisir rapi, tapi wajahnya terlihat lebih tua dari malam di Menteng. Lebih kurus. Dengan kantung mata gelap seperti orang yang sudah berminggu-minggu duduk di ruang kerja sampai jam dua pagi.
Dia berdiri di mulut gang, di depan gerobak bakso Pak Kasim, dan menatap gang yang sempit itu. Atap-atap rumah yang hampir bertemu di atas kepala. Got di pinggir jalan. Anak-anak yang berhenti main layangan dan menatapnya dengan mulut terbuka.
Lalu pintu depan sedan itu terbuka, dan Evan keluar.
Lalu pintu yang lain. Kenzo.
Nadira menurunkan kakinya dari pangkuanku. Pelan. Dia meletakkan ponselnya di meja kecil di antara kursi rotan.
“Yan,” bisiknya.
“Aku lihat.”
“Kamu bilang setelah lari.”
“Aku nggak ngundang mereka.”
Nadira menatapku. Lalu menatap ketiga laki-laki di mulut gang. Lalu dia berdiri, berjalan ke pintu rumah, dan membukanya.
“Bu,” panggilnya ke dalam. “Bu Ratna. Ada tamu.”
Ibu keluar dari dapur dengan celemek bebek dan tangan bertepung. Dia berdiri di ambang pintu, di sebelah Nadira, dan menatap ke mulut gang.
Dia tidak bergerak lama.
Pak Hendrawan mulai berjalan. Di gang yang sempit itu, memutari gerobak bakso Pak Kasim, dengan sepatu kulit yang tidak cocok sama sekali untuk aspal berlubang dan genangan air sisa hujan kemarin. Evan di belakangnya. Kenzo paling belakang, dengan kepala tertunduk dan tangan di saku.
Mereka berhenti di depan pagar rumah nomor 17. Di depan papan kayu kecil: KUE BU RATNA — TERIMA PESANAN. NGGAK GOSONG (BIASANYA).
Pak Hendrawan membaca papan itu. Lama.
Lalu dia mengangkat kepala dan menatap Ibu.
“Ibu Ratna,” katanya.
Ibu tidak menjawab.
“Saya Hendrawan Wiratama.” Dia berhenti. Seperti orang yang tidak terbiasa memperkenalkan diri pada siapa pun. Seperti orang yang biasanya diperkenalkan oleh orang lain. “Ayah Evan. Dan Kenzo.”
Ibu menatapnya. Lalu menatap Evan di belakangnya. Lalu menatap Kenzo, yang tidak berani mengangkat kepala.
“Saya tahu,” kata Ibu.
Pak Hendrawan mengangguk pelan.
“Ibu bilang,” katanya, “Ibu mau saya datang ke sini. Duduk di kursi rotan Ibu. Dan bilang sendiri.”
Ibu tidak menjawab.
“Saya datang,” kata Pak Hendrawan.
Ibu mempersilakan mereka masuk.
Dia tidak tersenyum. Dia tidak bilang masuk, panas, Ibu udah siapin es teh. Dia hanya membuka pintu lebih lebar dan berdiri di sampingnya, dan Pak Hendrawan masuk, dan Evan masuk, dan Kenzo berhenti di ambang pintu.
Kenzo tidak masuk.
Dia berdiri di teras, di antara tiga pot anggrek yang bunganya sedang mekar, ungu dengan bintik putih. Dia menatapku. Aku masih duduk di kursi rotan, dengan kaki kiri di atas bangku kecil.
Dia tidak bicara. Dia hanya berdiri di sana, dua puluh dua tahun, dengan kemeja polos yang terlalu rapi dan rambut yang dipotong pendek, menatap kakiku.
Lalu, pelan, dia berlutut.
Di lantai teras. Di atas keramik yang sudah retak di beberapa tempat. Lututnya menyentuh lantai dengan bunyi pelan, dan dia menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lantai juga.
“Kak Ryan,” katanya. Suaranya hancur. “Maaf.”
Aku tidak bergerak.
“Maaf,” ulangnya. Bahunya mulai berguncang. “Tiga tahun aku latihan bilang ini ke kursi kosong. Di Bogor. Tiap Kamis. Konselorku bilang aku nggak bakal sembuh beneran sampai aku bisa bilang langsung.” Dia menarik napas, tersendat. “Aku nggak tahu harus bilang apa lagi selain maaf. Aku udah nyusun banyak. Aku lupa semua.”
Di ambang pintu, Nadira menutup mulut dengan tangan.
Di dalam rumah, aku mendengar Ibu berhenti bergerak.
“Aku mabuk,” kata Kenzo ke lantai. “Aku nggak punya SIM. Aku ambil kunci mobil Papa. Aku nggak nyalain lampu. Aku lihat cewek di tengah jalan. Aku banting setir. Aku kena sesuatu.” Dia tersendat lagi. “Aku kena kamu, Kak. Aku denger bunyinya. Aku denger bunyinya tiap malam lima tahun.”
Aku menurunkan kaki kiriku dari bangku kecil.
“Dan aku nggak berhenti,” kata Kenzo. Sekarang dia menangis. Terang-terangan. Dengan isak yang keluar dari dada, seperti anak kecil. “Aku nggak berhenti. Aku nyetir terus. Aku ninggalin kamu di aspal. Aku ninggalin Kak Nadira di trotoar. Aku pulang ke hotel dan bangunin Papa dan Papa bilang aku nggak lihat apa-apa. Dan aku percaya. Aku mau percaya. Karena kalau aku nggak lihat apa-apa, berarti aku nggak ngelakuin apa-apa.”
Aku berdiri.
Pelan. Dengan tangan di lengan kursi rotan. Kaki kiriku menapak di lantai teras. Tidak ada ngilu. Tidak ada orang kecil yang mengetuk dari dalam tulang kering. Hanya kaki. Kakiku sendiri. Dengan pen di dalamnya, dan otot yang selama tujuh minggu dilatih Mbak Ayu, dan sepatu biru tua dengan tali putih yang menguning, menunggu di kamar.
Aku berjalan ke arah Kenzo. Tiga langkah. Pelan.
Aku berdiri di depannya.
Dia tidak mengangkat kepala.
“Ken,” kataku.
Bahunya berguncang lebih keras.
Aku tidak bilang nggak apa-apa.
Itu yang ingin kukatakan. Itu yang selalu kukatakan. Itu yang ada di ujung lidahku sejak aku melihatnya keluar dari sedan hitam di mulut gang. Nggak apa-apa, Ken. Udah. Lupain. Kamu udah dihukum cukup. Aku maafin. Pulang. Tidur.
Itu yang akan membuatnya merasa lebih baik. Itu yang akan membuatnya bisa tidur malam ini.
Dan aku yang tidak akan bisa tidur.
Di ambang pintu, Nadira menatapku. Dia tidak bilang apa-apa. Tapi aku tahu apa yang dia pikirkan. Aku tahu, karena dia sudah mengatakannya padaku di depan pintu rumah ini dengan tangan terbentang di kusen. Kamu selalu nanggung sendiri. Kali ini nggak.
Aku berlutut.
Kaki kiriku menekuk. Lebih dalam dari yang pernah dia tekuk dalam enam tahun. Lututku menyentuh lantai teras, di depan Kenzo, sejajar dengannya. Squat setengah, empat kali sepuluh, tujuh minggu.
Kenzo mengangkat kepala. Kaget. Matanya merah dan basah dan terlalu besar untuk wajahnya.
“Kak—”
“Dengerin aku, Ken,” kataku. “Sekali. Baik-baik.”
Dia diam.
“Aku maafin kamu,” kataku.
Wajahnya hancur.
“Tapi bukan biar kamu nggak sedih lagi,” lanjutku. Pelan. Jelas. “Kamu bakal tetap sedih. Kamu boleh tetap sedih. Itu punyamu. Aku nggak bisa ngambil itu dari kamu, dan aku nggak mau.”
Kenzo menatapku.
“Aku maafin kamu,” kataku, “biar aku bisa lari minggu depan tanpa bawa kamu di punggungku.”
Ibu, di dalam rumah, mengeluarkan suara kecil.
“Lima tahun,” kataku, “aku bawa semua orang di punggungku. Nadira. Evan. Zaza. Ibu. Kamu juga, Ken, walaupun aku nggak tahu itu kamu. Aku bawa orang yang nyetir mobil itu. Aku nggak pernah marah sama dia. Aku cuma bawa dia. Diam-diam. Biar nggak ada yang perlu tahu.”
Aku menarik napas. Empat. Empat. Enam.
“Aku capek, Ken,” kataku. “Aku mau lari. Aku nggak bisa lari kalau punggungku penuh.”
Kenzo menatapku lama. Air mata turun di wajahnya tanpa suara.
“Jadi aku maafin kamu,” kataku. “Dan aku taruh kamu di sini. Di lantai teras rumah Ibu. Dan aku nggak bawa kamu lagi.” Aku mengulurkan tangan. “Kamu yang bawa dirimu sendiri sekarang. Bisa?”
Kenzo menatap tanganku.
Lalu dia mengambilnya.
Aku berdiri. Pelan. Menarik Kenzo berdiri bersamaku. Kaki kiriku mendorong dari lantai, dan tidak gemetar.
Kami berdiri di teras, di antara tiga pot anggrek. Kenzo masih menggenggam tanganku. Dia menatapku seperti orang yang baru saja diberi sesuatu yang tidak dia tahu cara memegangnya.
“Kak,” bisiknya. “Minggu depan. Lari.”
“Iya.”
“Aku boleh datang?”
Aku menatapnya.
“Garis finis,” kataku. “Bawa air. Aku bakal haus.”
Di ruang tamu, Pak Hendrawan duduk di kursi rotan.
Kursi rotan yang dulu diduduki Evan waktu dia membongkar semuanya. Di depan meja kecil dengan taplak renda dan bekas noda teh di sudutnya yang tidak pernah hilang. Di depan rak kaca di pojok, penuh medali dengan pita yang mulai pudar.
Dia duduk dengan punggung tegak. Tangan di lutut. Seperti orang yang sedang menunggu vonis.
Ibu duduk di kursi rotan di depannya.
Ibu sudah melepas celemek bebeknya. Dia memakai daster batik dan kerudung sederhana yang dia pakai untuk pengajian. Tangannya, yang tadi bertepung, sudah dicuci. Di meja kecil, dia meletakkan dua gelas teh manis dan sepiring kue sus.
Aku berdiri di ambang pintu ruang tamu, dengan Kenzo di sebelahku. Nadira di sebelahku yang lain, tangannya menemukan tanganku dan menggenggamnya. Evan berdiri di dekat jendela, menatap ayahnya dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Pak Hendrawan menatap rak medali.
“Lima ribu meter,” katanya pelan. Membaca salah satu pita. “Juara satu.”
“Pekan Olahraga Mahasiswa,” kata Ibu. “Jawa Barat. Enam tahun lalu. Sebulan sebelum anak saya ditabrak mobil Bapak.”
Pak Hendrawan menunduk.
Lama, tidak ada yang bicara. Jam dinding berdetak terlalu keras.
Lalu Pak Hendrawan mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja batiknya. Amplop. Cokelat. Tebal.
“Ini,” katanya, dan meletakkannya di meja, di sebelah piring kue sus. “Semua kuitansi. Dari rumah sakit di Bandung. Dari yayasan. Saya simpan semuanya. Lima tahun. Di laci ruang kerja.” Dia menatap amplop itu. “Saya baca ulang semuanya. Tiap malam. Tiga minggu terakhir.”
Ibu tidak menyentuh amplop itu.
“Dan ini,” kata Pak Hendrawan. Amplop kedua. Putih. Lebih tipis. “Cek. Kompensasi. Untuk beasiswa yang hilang. Untuk...” Dia berhenti. “Untuk semuanya. Saya nggak tahu berapa yang pantas. Saya tulis angka yang saya pikir—”
“Pak,” kata Ibu.
Pak Hendrawan berhenti.
Ibu menatap amplop putih itu. Lalu dia mengulurkan tangan, mengambilnya, dan—tanpa membukanya—meletakkannya kembali di depan Pak Hendrawan. Di sisi meja yang lain. Di depan gelas tehnya.
“Ibu nggak mau uang,” kata Ibu.
Pak Hendrawan menatapnya.
“Lima tahun lalu Bapak kasih Ibu uang,” kata Ibu. Suaranya pelan. Rata. Seperti suara Pak Hendrawan sendiri di meja makan di Menteng. “Lewat kasir. Lewat yayasan. Ibu sujud syukur di musala rumah sakit. Ibu cerita ke semua orang. Ibu bilang itu keajaiban.” Ibu menatapnya. “Ibu nggak mau uang lagi, Pak. Uang Bapak udah bikin Ibu malu lima tahun.”
Pak Hendrawan tidak bergerak.
“Ibu minta Bapak datang ke sini,” kata Ibu, “bukan buat ngasih uang. Ibu minta Bapak bilang. Pakai mulut Bapak sendiri.”
Jam dinding berdetak.
Pak Hendrawan menatap amplop putih di depannya. Lalu dia menatap rak medali. Lalu dia menatap Ibu.
Aku melihat wajahnya. Wajah yang di meja makan di Menteng tidak bergerak sama sekali. Wajah yang menyebutku anak ibu katering dengan nada orang yang membaca data.
Wajah itu bergerak sekarang. Sedikit. Di sudut mulut. Di kantung mata yang gelap.
“Saya,” kata Pak Hendrawan. Berhenti. Mencoba lagi. “Saya minta maaf, Bu.”
Ibu tidak menjawab.
“Saya membayar rumah sakit anak Ibu,” kata Pak Hendrawan, “supaya Ibu tidak bertanya. Supaya Ibu tidak menuntut. Supaya anak saya tidak masuk penjara. Supaya nama keluarga saya tidak masuk koran.” Suaranya bergetar. Sedikit. Untuk pertama kalinya. “Saya sebut itu tanggung jawab. Itu bukan tanggung jawab. Itu membeli diam.”
Dia menatap tangannya sendiri, di lututnya.
“Anak Ibu kehilangan kakinya,” katanya. “Beasiswanya. Larinya. Lima tahun hidupnya. Dan saya beli diam Ibu dengan kuitansi.”
Dia mengangkat kepala.
“Saya minta maaf,” katanya lagi. Lebih pelan. “Saya nggak tahu cara lain buat bilang. Saya sudah enam puluh tiga tahun. Saya nggak pernah bilang maaf ke siapa pun. Bahkan ke istri saya.” Dia menelan. “Tiga minggu saya duduk di ruang kerja, belajar kalimat ini. Saya masih nggak bisa bilang dengan benar.”
Ibu menatapnya lama.
Lalu Ibu mengambil piring kue sus dari meja. Dia memilih satu. Yang di pinggir. Yang bagian bawahnya cokelat gelap, hampir hitam.
Yang gosong.
Dia meletakkannya di piring kecil, dan menyerahkannya pada Pak Hendrawan.
“Makan,” kata Ibu.
Pak Hendrawan menatap kue sus gosong di piring kecil itu.
“Itu yang gosong,” kata Ibu. “Ibu sengaja.”
Di ambang pintu, Nadira mengeluarkan suara kecil. Separuh isak, separuh tawa. Evan, di dekat jendela, menutup mulut dengan tangan.
Pak Hendrawan menatap kue itu. Lalu dia mengambilnya. Dia memakannya. Pelan. Seluruhnya. Termasuk bagian bawahnya yang hitam dan pahit.
Dia tidak protes. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya makan kue sus gosong buatan Ibu, di kursi rotan di ruang tamu kecil di gang di Pasar Minggu, di depan rak medali anak yang dihancurkan kakinya oleh mobilnya.
Waktu dia selesai, Ibu mengambil kue sus lain dari piring. Yang tidak gosong. Yang kulitnya cokelat keemasan sempurna. Dia meletakkannya di piring kecil Pak Hendrawan.
“Yang ini,” kata Ibu, “yang enak.”
Pak Hendrawan menatap kue itu.
“Anak saya selalu makan yang gosong duluan,” kata Ibu. “Biar yang enak terakhir.” Dia menatap Pak Hendrawan. “Bapak udah makan yang gosong. Sekarang boleh makan yang enak.”
Pak Hendrawan Wiratama, enam puluh tiga tahun, yang tidak pernah bilang maaf pada siapa pun, menunduk di atas piring kecil berisi kue sus yang tidak gosong.
Dan bahunya bergetar.
Mereka pergi pukul enam sore.
Di teras, sebelum pergi, Pak Hendrawan berhenti di depanku. Dia menatap kakiku. Lalu menatap wajahku.
“Minggu depan,” katanya. “Lari. Evan bilang.”
“Iya, Pak.”
Dia diam sebentar. “Saya nggak akan datang,” katanya. “Itu bukan tempat saya.”
Aku mengangguk.
“Tapi saya akan nunggu kabar,” katanya. Dia menatap rak medali lewat pintu yang terbuka. “Kalau kamu selesai.”
“Saya selesai, Pak.”
Pak Hendrawan menatapku lama. Lalu dia mengangguk. Sekali. Kaku. Dan berjalan ke gang.
Di mulut gang, di depan gerobak bakso, Pak Kasim sedang menuang kuah ke mangkuk untuk pelanggan terakhir.
Pak Hendrawan berhenti.
Dia menatap gerobak itu. Mangkuk-mangkuk yang ditumpuk. Uap yang naik dari panci kaldu. Bawang goreng di toples plastik.
“Pak,” kata Pak Kasim, dengan nada yang tidak terlalu ramah dan tidak terlalu dingin. “Mau bakso?”
Pak Hendrawan menatapnya.
Evan, di belakang ayahnya, menahan napas.
“Satu,” kata Pak Hendrawan.
Dan dia makan semangkuk bakso Pak Kasim. Berdiri. Di mulut gang di Pasar Minggu. Dengan kemeja batik cokelat tua dan sepatu kulit yang basah oleh genangan. Sendok plastik di tangan kanan. Garpu plastik di tangan kiri. Kuah yang menetes ke dagunya.
Kenzo berdiri di sebelahnya. Lalu, tanpa disuruh, dia juga minta satu mangkuk.
Lalu Evan.
Tiga laki-laki keluarga Wiratama, berdiri di depan gerobak bakso di mulut gang sempit di Pasar Minggu, makan bakso dalam diam, sementara matahari terbenam di atas atap-atap rumah yang hampir bertemu di atas kepala mereka.
Nadira, di teras di sebelahku, menyandarkan kepala ke bahuku.
“Yan,” bisiknya.
“Hm.”
“Kamu nggak bilang nggak apa-apa.”
“Iya.”
“Ke Kenzo. Ke bapaknya. Kamu nggak bilang sekali pun.”
Aku menatap gerobak bakso. Tiga punggung dalam kemeja yang terlalu rapi. Uap kaldu yang naik ke langit oranye.
“Aku belajar,” kataku. “Dari orang yang ngehalangin pintu.”
Dia menggenggam tanganku lebih erat.
Di mulut gang, Pak Kasim menolak uang dari Pak Hendrawan. Tiga kali. Lalu, pada percobaan keempat, dia mengambil uang itu, dan dari tempatku berdiri aku melihatnya memasukkan uang itu ke kotak kecil bertuliskan SUMBANGAN MASJID yang ditempel di samping gerobak.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo reading
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan