Chapter Seventeen
Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
POV: Ryan
Pukul 01.58, ponselku berbunyi.
Aku tidak tidur. Aku sedang berbaring di kasur yang terlalu pendek setengah jengkal, dengan kaki menggantung di ujung, menatap noda bocor berbentuk Pulau Sulawesi di langit-langit, dan menghitung napas yang tidak mau teratur.
Zaza: Keluar.
Aku duduk.
Aku: Kamu di mana?
Zaza: Depan gang. Mobilku nggak bisa masuk. Ada gerobak bakso parkir di tengah jalan.
Gerobak bakso Pak Kasim. Dia selalu memarkirnya di tengah gang setelah jualan, karena katanya di pinggir terlalu dekat got dan “roda gerobak juga butuh martabat”.
Aku memakai jaket dan keluar kamar dengan langkah sepelan mungkin. Ruang tamu gelap. Hanya ada cahaya dari jam dinding yang berdetak terlalu keras. Aku membuka pintu depan pelan-pelan, sangat pelan, supaya engselnya tidak berderit—
“Le?”
Lampu ruang tamu menyala.
Ibu berdiri di pintu kamarnya dengan daster batik dan rambut digerai, menyipitkan mata ke arahku.
“Mau ke mana jam segini?”
“Ada teman, Bu.”
“Teman siapa jam dua pagi?”
Pintu depan, yang sudah setengah terbuka, terbuka sepenuhnya dari luar. Zaza berdiri di sana. Wajahnya pucat, matanya bengkak, rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang. Dia memakai kaos kebesaran dan celana training, seperti orang yang tadinya mau tidur tapi tidak bisa, lalu menyerah dan naik mobil.
Dia melihat Ibu. Dan seluruh wajahnya berubah.
“Bu Ratna,” katanya, dan suaranya pecah di tengah.
“Nak Zafrina!” Ibu langsung bergerak, melewatiku, dan memeluk Zaza di ambang pintu. Zaza yang tingginya hampir sama dengan pintu itu, yang membawa diri seperti jenderal di setiap rapat, yang tidak pernah menangis di depan siapa pun, membungkuk dalam pelukan Ibu yang kecil dan bertubuh bulat, dan bahunya bergetar.
“Ya Allah, Nduk. Kenapa? Kenapa jam segini? Sudah makan?”
“Sudah, Bu,” kata Zaza ke bahu Ibu.
“Bohong. Kamu kurus. Duduk. Ibu bikin teh.”
“Bu, nggak usah—”
“Duduk.“
Zaza duduk.
Aku berdiri di tengah ruang tamu, di antara dua perempuan itu, dan merasa seperti orang yang tersesat di rumahnya sendiri.
Ibu membuat teh manis panas dan mengeluarkan sepiring kue sus dari kulkas. Lalu, setelah memastikan Zaza meminum setidaknya separuh gelas, dia kembali ke kamarnya, tapi tidak menutup pintunya sepenuhnya. Aku tahu dia akan mendengarkan. Ibu selalu mendengarkan.
Zaza duduk di kursi rotan, memegang gelas teh dengan dua tangan, menatap uapnya.
Aku duduk di kursi rotan di depannya. Di antara kami, meja kecil dengan taplak renda dan piring kue sus.
“Sampai kapan?” tanya Zaza.
Dia tidak mengangkat kepala. Dia bertanya pada tehnya.
“Za.”
“Sampai kapan, Yan?” Sekarang dia mengangkat kepala. Matanya merah, bengkak, tapi tajam. “Dia lihat fotonya. Dia lihat kamu pakai jaket merah, enam belas menit sebelum kejadian. Dia lihat cap waktunya. Kamu tahu otaknya. Dia copywriter, Yan. Kerjaannya nyambungin hal-hal yang nggak nyambung jadi satu kalimat. Dia bakal nyambungin ini.”
“Dia udah nyambungin,” kataku. “Salah.”
“Salah?”
“Dia pikir aku balikin jaketnya ke Evan sebelum pulang. Dia pikir mobil yang hampir nabrak dia kabur, terus nabrak aku di jalan lain.” Aku menatap piring kue sus. “Ibu bilang ke dia aku ditabrak mobil, bukan motor.”
Zaza menatapku lama. Lalu dia tertawa. Tawa yang pahit dan basah, tanpa suara, hanya bahu yang bergetar.
“Jadi sekarang,” katanya, “dia ngerasa bersalah karena mobil yang ngejar dia nabrak kamu.”
“Iya.”
“Dan kamu biarin.”
“Lebih baik dia ngerasa bersalah sedikit daripada—”
“Daripada apa, Yan?” Suara Zaza naik. Lalu dia melirik pintu kamar Ibu yang terbuka sedikit dan merendahkan suaranya lagi. “Daripada dia tahu yang sebenarnya? Daripada dia tahu bahwa yang meluk kepalanya malam itu, yang muter badan dan ngasih punggungnya buat ditabrak mobil, itu kamu? Bukan Evan? Itu yang kamu takutin?”
Aku diam.
Jam dinding berdetak. Terlalu keras.
Aku tidak perlu menutup mata untuk mengingat bagian itu. Bagian yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, karena satu-satunya orang lain yang ada di sana adalah Zaza.
Aspal. Dingin dan basah dan kasar di pipiku. Hujan jatuh ke mataku dan aku tidak bisa menutupnya. Aku tidak bisa merasakan kaki kiriku. Aku tidak tahu di mana kaki kiriku. Aku tidak tahu di mana Nadira.
Lalu ada suara langkah kaki. Berlari. Lalu ada tangan di wajahku, gemetar, dan suara perempuan yang memanggil namaku berulang-ulang dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Ryan. Ryan. Ryan, buka mata. Ryan, lihat aku.
Zaza. Rambutnya basah menempel di wajah. Dia berlutut di genangan air di sebelah got, memangku kepalaku di pahanya, satu tangan menekan ponsel ke telinga, satu tangan menahan kepalaku supaya tidak terbentur.
Ambulans. Iya. Di depan gerbang. Iya, dia sadar. Nggak tahu. Nggak tahu! Kakinya—kakinya bengkok, Pak. Kakinya bengkok ke arah yang salah. Cepat. Tolong cepat.
Aku ingat mencoba bicara. Aku ingat bertanya, dengan suara yang keluar seperti dari pipa bocor: Nadira?
Dia sama Evan. Evan udah telepon ambulans. Dia nggak apa-apa, Yan. Dia nggak apa-apa. Kepalanya kebentur tapi dia napas.
Lalu, sebelum ambulans datang, sebelum semuanya jadi putih dan aku tidak ingat apa-apa lagi sampai rumah sakit, aku memegang pergelangan tangan Zaza. Dengan tangan yang gemetar dan berlumur darahku sendiri.
Za. Jangan bilang dia.
Apa?
Jangan bilang Nadira. Jangan bilang aku.
Yan, kamu ngaco—
Janji. Za. Janji.
Dan Zaza, yang tidak pernah berjanji tanpa membaca kontraknya dulu, yang selalu bertanya kenapa sebelum melakukan apa pun, menatapku dengan wajah basah oleh hujan dan air mata, dan bilang: Oke. Oke, Yan. Aku janji. Diam. Jangan ngomong lagi.
Dia menepati janjinya lima tahun.
Dia menjengukku setiap hari selama empat bulan di Bandung. Dia tidak pernah bilang pada siapa pun kenapa. Dia menyuapiku bubur waktu tanganku masih terlalu gemetar untuk memegang sendok. Dia membacakan berita bola dari ponselnya waktu aku tidak bisa tidur karena punggungku terbakar. Dia mendorong kursi rodaku di lorong rumah sakit dan menyumpahi setiap perawat yang terlambat mengganti infus.
Dan setiap kali Nadira bertanya padanya Zaza kenapa jarang jenguk aku, Zaza bilang sibuk skripsi.
“Aku capek, Yan,” kata Zaza sekarang, di kursi rotan di ruang tamu rumahku, jam dua pagi. “Aku capek nyimpen ini.”
“Aku tahu.”
“Nggak, kamu nggak tahu.” Dia meletakkan gelas teh di meja. Terlalu keras. Tehnya tumpah sedikit ke taplak renda. “Kamu nggak tahu rasanya duduk di sebelah Nadira tiap Jumat, dengerin dia cerita soal Evan. Lima tahun, Yan. ‘Evan nyelamatin aku.’ ‘Evan nggak pernah pakai jaket merah lagi, dia rendah hati banget.’ ‘Evan itu laki-laki yang diam soal kebaikannya sendiri.’ Tiap kali dia bilang itu, aku harus nelan. Aku harus senyum. Aku harus ngangguk.”
“Za—”
“Dan tiap kali dia ngomong gitu, aku lihat kamu. Duduk di ujung meja. Ngupasin kacang buat Gilang. Mesenin americano buat Evan. Bayarin semua orang. Diketawain ‘telat lulus’. Dan kamu bilang ‘iya, iya’, dan kamu bayar.” Suaranya pecah. “Aku nggak tahan, Yan.”
Aku menatap tanganku. Tangan yang dulu menggenggam pergelangan tangannya di aspal basah dan memintanya berjanji.
“Maaf,” kataku.
“Aku nggak minta maaf.” Zaza menyeka matanya dengan punggung tangan, kasar. “Aku minta kamu berhenti.”
Lama kami diam. Jam dinding berdetak. Di dalam kamar, aku mendengar Ibu batuk kecil, batuk yang sengaja, batuk yang bilang Ibu masih di sini, Ibu dengar.
“Ada lagi yang mau aku omongin,” kata Zaza akhirnya. Suaranya lebih pelan sekarang. Lebih rapuh.
Aku menunggu.
Zaza menatap piring kue sus. Dia mengambil satu, memutarnya di jari-jarinya, tidak memakannya.
“Kamu tahu kenapa aku nggak bisa nyuruh Evan ngomong?” tanyanya.
“Karena dia janji ke aku.”
“Bukan.” Zaza menggeleng. “Karena kalau Evan ngomong, Evan bebas. Dan kalau Evan bebas...” Dia berhenti. Kue sus di tangannya mulai penyok karena digenggam terlalu erat. “Kalau Evan bebas, dia mungkin nggak bakal lihat ke mana-mana lagi. Dia mungkin cuma pergi.”
Aku menatapnya.
Zaza menatap kue sus yang sudah penyok di tangannya. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, yang hampir tertelan detak jam dinding, dia bilang:
“Aku suka Evan, Yan. Dari tahun pertama. Dari sebelum kita satu kepanitiaan.”
Kalimat itu duduk di antara kami, di atas taplak renda yang basah oleh teh.
“Enam tahun,” lanjutnya. “Enam tahun aku suka dia. Dan dua tahun setelah aku mulai suka dia, Nadira mulai suka dia juga. Karena malam itu.” Dia tertawa, pahit. “Karena malam yang kamu yang ngelakuin, dan Evan yang dapat kreditnya, dan Nadira yang jatuh cinta ke orang yang salah, dan aku yang harus mundur karena Nadira ‘duluan’. Padahal dia nggak duluan, Yan. Aku yang duluan. Tapi Nadira sahabatku, dan dia hampir mati malam itu, dan dia butuh sesuatu buat dipegang. Jadi aku mundur.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak pernah tahu. Aku melihat Zaza setiap Jumat selama delapan tahun. Aku melihatnya memesan es kopi susu dengan gula cair dipisah. Aku melihatnya memarahi Gilang. Aku melihatnya menendang kaki Nadira di bawah meja.
Aku tidak pernah melihatnya melihat Evan.
Atau mungkin aku melihatnya. Mungkin aku melihat dan tidak memperhatikan, seperti Nadira tidak memperhatikan di mana aku berdiri setiap kali kami menyeberang jalan.
“Kenapa kamu cerita sekarang?” tanyaku.
“Karena aku capek.” Zaza menaruh kue sus yang penyok itu di piring. “Dan karena tadi di apotek, waktu Nadira lihat foto itu, aku sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Nadira nggak suka Evan lagi.”
Aku membeku.
“Dia belum sadar,” lanjut Zaza, menatapku lurus. “Tapi aku sadar. Aku WO, Yan. Aku sudah lihat ribuan pengantin. Aku tahu bedanya perempuan yang suka sama laki-laki, dan perempuan yang suka sama ide tentang laki-laki. Lima tahun Nadira suka sama ide Evan. Sama malam itu. Sama jaket merah.”
“Za.”
“Tapi dua bulan terakhir,” Zaza terus bicara, lebih cepat, seolah takut berhenti, “dia nggak ngomongin Evan lagi waktu kami telepon. Dia ngomongin kamu. Kamu jemput dia jam setengah enam. Kamu beliin sandal. Kamu ngajarin napas. Kamu ketawa di parkiran stasiun. Kamu makan ayam gosongnya duluan. Dia bawain kamu kopi tubruk tiap pagi ke Kuningan, Yan. Setengah jam keluar jalur. Tiap pagi.”
“Itu rasa bersalah. Dia pikir mobil yang ngejar dia yang nabrak aku. Dia cuma—”
“Dia gladi resik nembak Evan,” kata Zaza, “dan yang keluar dari mulutnya adalah daftar hal-hal yang kamu lakuin.”
Aku berhenti bernapas.
“Dia ngirim pesan ke aku malam itu,” kata Zaza. “Dari atap jemuran. ‘Yang keluar dari mulutku bukan Evan.’”
Tarik empat.
Aku tidak bisa menahan.
Aku tidak bisa membuang.
Aku duduk di kursi rotan di ruang tamu rumahku, jam dua pagi, dengan teh tumpah di taplak renda dan kue sus penyok di piring, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku lupa cara menghitung.
“Dia cuma kaget,” kataku akhirnya. Suaraku tidak terdengar seperti suaraku. “Dia kecewa sama Evan. Evan ngindarin dia. Aku yang ada. Itu cuma... itu cuma karena aku ada.”
“Mungkin.” Zaza mengangkat bahu. “Atau mungkin karena kamu memang selalu ada, dan dia akhirnya noleh.”
“Kalau dia tahu malam itu, dia bakal ngerasa berutang.”
“Mungkin.”
“Dia bakal sayang aku karena kakiku. Karena punggungku. Bukan karena aku.”
“Mungkin, Yan.” Zaza mencondongkan badan ke depan, siku di lutut. “Tapi kamu nggak tahu. Dan kamu nggak bakal pernah tahu kalau kamu terus mutusin sendiri apa yang boleh dia rasain.”
Aku menatapnya.
“Itu yang paling nyebelin dari kamu,” kata Zaza, lebih lembut sekarang. “Kamu baik. Kamu baik banget. Tapi kebaikanmu itu kayak... kayak kamu berdiri di sisi jalan terus, selamanya, dan nggak pernah ngasih orang lain kesempatan buat berdiri di situ buat kamu.”
Jam dinding berdetak. Di kamar, Ibu batuk kecil lagi.
“Ulang tahun Evan,” kata Zaza, dan berdiri, “tinggal sepuluh hari.”
“Aku tahu.”
“Evan bakal nolak dia. Dia sudah mutusin. Dia bilang ke aku.”
“Dia bilang ke kamu?”
“Kami ngobrol.” Zaza tidak menatapku waktu mengatakannya. “Beberapa malam terakhir.”
Aku ingat Evan di makan malam pecel lele, memotong kue pertama untukku. Kompensasi, katanya. Aku ingat matanya waktu itu.
“Aku kasih kamu waktu sampai hari itu,” kata Zaza. “Sampai Evan nolak dia. Kalau setelah itu dia hancur, kalau setelah itu dia masih percaya Evan nyelamatin dia dan dia ditolak sama pahlawannya sendiri dan dia mikir dia nggak cukup...” Zaza mengambil kunci mobilnya dari meja. “Aku yang ngomong, Yan. Aku nggak peduli janjiku.”
“Za. Jangan.”
“Sepuluh hari.” Dia berjalan ke pintu. Lalu berhenti, berbalik. “Kamu bilang sendiri ke dia, atau aku yang bilang. Itu pilihanmu. Tapi diam bukan pilihan lagi.”
Pintu kamar Ibu terbuka lebih lebar. Ibu keluar dengan daster batik dan rambut digerai, membawa kotak plastik berisi kue sus.
“Nak Zafrina,” katanya. “Bawa ini. Buat besok sarapan.”
Zaza menatap kotak itu. Lalu dia menatap Ibu. Lalu, untuk kedua kalinya malam itu, dia membungkuk dan memeluk Ibu, lama, dan Ibu mengusap punggungnya seperti mengusap punggung anak kecil.
“Makasih, Bu,” bisik Zaza. “Makasih udah selalu baik.”
“Kamu yang baik, Nduk.” Ibu menepuk pipinya. “Kamu yang datang tiap hari ke Bandung. Ibu nggak pernah lupa.”
Zaza pergi. Aku mendengar langkahnya di gang, lalu suaranya, samar, berkata “Permisi, Pak Kasim” pada gerobak bakso yang tentu saja tidak bisa menjawab. Lalu mesin mobil menyala di ujung gang, dan menjauh.
Ibu tidak kembali ke kamarnya.
Dia duduk di kursi rotan yang tadi diduduki Zaza. Dia mengambil gelas teh Zaza yang tinggal separuh dan meminumnya, karena Ibu tidak pernah membuang teh. Lalu dia menatapku.
Lama.
“Nadira,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Nadira yang nangis nonton film robot. Nadira yang datang Sabtu kemarin pesan kue sus emas. Nadira yang nanya kenapa kamu bilang motor.” Ibu meletakkan gelas. “Itu Nadira yang kamu tolong malam itu.”
Bukan pertanyaan. Ibu tidak pernah bertanya kalau dia sudah tahu jawabannya.
Aku menunduk.
“Kamu bilang ke Ibu waktu itu,” kata Ibu pelan, “kamu nolong teman yang mau ketabrak. Ibu tanya siapa. Kamu bilang ‘nggak penting siapa, Bu’. Ibu kira kamu masih ngaco karena obat bius.” Dia menghela napas. “Lima tahun Ibu nggak nanya lagi. Karena Ibu kira kamu yang mau begitu.”
“Aku memang mau begitu, Bu.”
“Iya?” Ibu memiringkan kepala. “Terus kenapa kamu duduk di situ kayak orang mau nangis?”
Aku tidak menangis. Aku tidak pernah menangis. Aku tidak menangis waktu dokter bilang aku mungkin tidak akan berjalan lagi. Aku tidak menangis waktu pelatih klub lari datang menjenguk dan membawa formulir pengunduran diri dari beasiswa. Aku tidak menangis di wisuda, berdiri dengan satu tongkat di antara Ibu dan Gilang.
Aku tidak menangis sekarang.
Tapi Ibu berdiri, berjalan memutari meja kecil dengan taplak renda, dan memeluk kepalaku ke perutnya, seperti waktu aku umur sebelas dan Bapak baru dimakamkan. Dasternya bau minyak kayu putih dan mentega dan tepung.
“Le,” bisiknya, mengusap rambutku. “Kamu itu dari kecil begitu. Kalau punya kue, dikasih ke orang semua. Terus kamu bilang kamu nggak lapar.”
Aku memejamkan mata.
“Kamu lapar, Le,” kata Ibu. “Ibu tahu kamu lapar.”
Ibu kembali ke kamarnya pukul tiga lewat. Aku kembali ke kamarku.
Aku tidak berbaring. Aku duduk di ujung kasur, menarik kotak sepatu dari bawahnya, dan menaruhnya di pangkuan. Aku tidak membukanya. Aku hanya menatap tutupnya, kardus biru tua dengan logo yang sudah pudar.
Sepuluh hari.
Kamu bilang sendiri ke dia, atau aku yang bilang.
Di luar jendela, gerobak bakso Pak Kasim masih diparkir di tengah gang. Lampunya mati. Mangkuk-mangkuknya ditumpuk terbalik di raknya.
Aku membuka ponsel. Aku membuka chat dengan Nadira. Pesan terakhirnya dari kemarin pagi, setelah dia mengantar termos kopi tubruk ke lobi kantorku:
Nadira: besok aku bawa yang ada gula arennya ya!! jangan protes
Aku membaca kalimat itu. Aku membacanya lagi.
Aku mengetik: Nad.
Lalu aku berhenti.
Aku menatap satu kata itu di kolom pesan. Kursor berkedip di belakangnya. Terang. Gelap. Terang. Seperti lampu jalan di depan kos Nadira. Seperti lampu jalan di depan gerbang kampus, lima tahun lalu.
Aku menghapusnya.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Sepuluh hari.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi reading
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan