← Udah, Aku di Sini

Chapter Twenty

Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira

POV: Evan


Aku hampir mengatakannya.

Dua kata. Tanya Ryan.

Kata pertama sudah keluar. Kata kedua sudah ada di lidahku, sudah terbentuk, sudah setengah jalan menuju bibir. Aku bisa merasakannya, berat dan bulat seperti kelereng yang dulu Ryan menangkan dariku di belakang kantin SMA.

Lalu aku melihatnya.

Sedetik sebelum Nadira menoleh mengikuti arah mataku, Ryan mengangkat kepala dari meja kue. Dia menatapku melintasi rooftop, melewati tiga puluh tamu dan lampu-lampu emas dan asap tipis dari mesin kabut yang Zaza sewa untuk “atmosfer”.

Dan dia menggeleng.

Sangat sedikit. Satu kali. Hampir tidak terlihat. Gerakan yang hanya bisa dibaca oleh orang yang sudah mengenalnya sejak umur lima belas.

Jangan, Van.

Lalu dia menunduk lagi, menatap lantai, menggenggam ujung meja, dan waktu Nadira menoleh, yang dia lihat hanya laki-laki yang sedang menatap lantai.

Aku menelan kata kedua. Rasanya seperti menelan kelereng. Turun pelan-pelan, berhenti di dada, dan tinggal di sana.

Maaf, Nad. Aku nggak bisa.

Aku berjalan pergi. Aku tidak menoleh. Aku pengecut, dan pengecut tidak menoleh.


Di bar, aku memesan wiski.

Bartender, laki-laki muda dengan kumis tipis dan rompi hitam, menatapku dengan alis terangkat. Ini acara ulang tahun dengan tema emas dan mocktail jeruk soda. Wiski bukan bagian dari rundown Zaza.

“Ada, Mas,” katanya. “Tapi nggak dipajang. Kata Mbak Zafrina, yang ulang tahun nggak boleh minum.”

“Yang ulang tahun minta.”

Dia menatapku lama. Lalu dia membungkuk ke bawah meja bar dan mengeluarkan sebotol wiski dan satu gelas kecil.

“Satu aja, Mas.”

Aku minum satu. Lalu aku minta satu lagi. Dia menuangnya, dengan wajah orang yang tahu dia akan dimarahi Zaza nanti.

Wiski itu terbakar di tenggorokan. Panas, pahit, menyebar ke dada, ke tempat kelereng tadi berhenti. Tidak membantu. Kelerengnya masih di sana.

Di sebelah gelas, di meja panjang dekat bar, piramida kue sus emas berkilau di bawah lampu. Kartu kecil di depannya, dengan tulisan tangan yang rapi dan miring.

Semoga selalu jujur dan bahagia.

Bu Ratna. Perempuan yang menyuapiku sup bening di kantin rumah sakit Bandung waktu aku menunggui Ryan dua minggu pertama dan lupa makan. Perempuan yang menepuk pipiku dan bilang Nak Evan anak baik, mau nungguin temennya. Perempuan yang tidak tahu bahwa aku duduk di kursi plastik itu bukan cuma karena aku sahabat yang baik, tapi karena aku tidak bisa pulang. Karena di rumah, di Menteng, ada pintu kamar yang terkunci tiga hari dan garasi dengan satu mobil yang hilang.

Semoga selalu jujur.

Aku minum gelas ketiga.


Dari bar, aku bisa melihat seluruh rooftop.

Aku melihat Nadira keluar dari balik pot tanaman di pojok. Kepalanya menunduk. Langkahnya cepat, terlalu cepat, sedikit tersandung di ujung gaun emasnya. Dia melewati tamu-tamu yang tertawa. Dia melewati pos kesehatan Gilang, dan Gilang berdiri, memanggil namanya, dengan oksimeter masih menjepit jarinya sendiri. Nadira tidak menoleh.

Dia berjalan ke lift.

Dan Ryan bergerak.

Aku melihatnya meninggalkan meja kue. Dia meletakkan piring kertas yang dipegangnya, tanpa melihat di mana dia meletakkannya, dan piring itu jatuh ke lantai, dan dia tidak peduli. Dia berjalan ke arah lift. Cepat. Lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan oleh laki-laki dengan dua pen di kaki kirinya. Langkahnya miring ke kanan, kaki kiri tertinggal, tapi dia tidak berhenti.

Pintu lift menutup sebelum dia sampai.

Ryan berdiri di depan pintu lift yang tertutup. Dia menekan tombolnya. Sekali. Dua kali. Lima kali. Tangannya memukul tombol dengan keras, seperti orang yang memukul pintu.

Angka di atas lift turun. 12. 11. 10.

Lift kedua masih di lantai dasar. Angkanya tidak bergerak.

Ryan menoleh ke kanan, ke pintu tangga darurat di dekat pot tanaman tempat aku baru saja menolak Nadira. Empat belas lantai. Tangga darurat. Kaki kiri yang dipasangi dua pen.

Dia mulai berjalan ke arah pintu itu.

“Yan!” Aku berdiri dari kursi bar. Kepalaku sedikit berputar karena wiski. “Yan, jangan—”

Lift kedua berbunyi. Ting. Pintunya terbuka. Tiga tamu terlambat keluar, tertawa, membawa kado.

Ryan berbalik dan masuk ke lift itu sebelum tamu terakhir selesai keluar. Pintu menutup.

Dia pergi.


Aku duduk lagi di kursi bar.

Bartender menatapku. Aku menatap gelas kosong. Dia tidak menuang lagi. Aku tidak memintanya.

Di panggung, pemain saxophone memainkan lagu jazz yang pelan dan sedih, yang mungkin tidak dimaksudkan untuk terdengar sedih tapi terdengar sedih malam ini. Tamu-tamu masih tertawa. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka teman kantorku, teman SMA, beberapa sepupu yang Zaza undang tanpa persetujuanku. Mereka tidak tahu bahwa di pojok rooftop, sepuluh menit lalu, laki-laki yang ulang tahun baru saja menghancurkan hati sahabatnya dan menelan kebenaran yang sudah dia telan selama lima tahun, untuk kesekian kalinya.

Seseorang duduk di kursi bar di sebelahku.

Aku tidak perlu menoleh. Aku tahu bau parfumnya. Melati dan sesuatu yang pahit, seperti teh yang diseduh terlalu lama. Lima tahun aku tahu bau parfumnya, dan aku tidak pernah sadar aku tahu sampai malam ini.

“Kamu nggak bilang,” kata Zaza.

“Aku hampir.”

“Hampir bukan bilang, Van.”

“Aku tahu.”

Zaza menatap gelas kosong di depanku. Lalu dia menatap bartender. Bartender mundur dua langkah dengan wajah ketakutan dan tiba-tiba sangat sibuk mengelap gelas.

“Berapa?” tanya Zaza.

“Tiga.”

“Kamu nggak pernah minum lebih dari dua.”

“Malam ini ulang tahunku.”

“Malam ini kamu pengecut.” Zaza mengatakannya tanpa nada. Bukan marah. Bukan menghina. Hanya fakta, seperti dia membacakan rundown. “Lagi.”

Aku tertawa. Pendek, tanpa suara. “Kamu bilang pengecut bisa berubah.”

“Bisa.” Zaza mengambil gelas kosongku dan menggesernya jauh-jauh. “Tapi nggak pakai wiski.”


Aku mencoba berdiri. Kakiku tidak sepenuhnya setuju dengan keputusan itu. Dunia bergeser sedikit ke kiri, seperti kapal yang diterpa ombak kecil.

Tangan Zaza menangkap lenganku.

Dia memegang lenganku dengan dua tangan, di siku dan di pergelangan, cukup erat supaya aku tidak jatuh. Tangannya dingin, seperti biasa. Seperti waktu dia memegang gelas es kopi susu di kafe Kemang. Seperti waktu dia menggenggam tangan Nadira di bawah meja.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

Dia tidak melepas tanganku.

Kami duduk di kursi bar, berdampingan, dengan tangan Zaza masih di lenganku. Lampu-lampu emas di atas kepala. Jakarta berkilau di bawah, di balik pagar kaca. Lagu jazz sedih dari panggung.

Aku menatap tangannya di lenganku.

Lima tahun. Lima tahun Zaza berdiri di sebelahku dan aku tidak pernah benar-benar melihat. Dia memarahiku waktu aku telat. Dia menendang kakiku di bawah meja waktu aku bilang hal bodoh. Dia mengirim pesan jam dua pagi, Van kamu oke?, dengan empat kali tiga titik yang muncul dan hilang sebelum itu. Dia menaruh tisu di pangkuanku di jok belakang SUV, tanpa bicara. Dia tidur di bahuku di macet Puncak, dan aku memindahkan bahuku supaya lehernya tidak tertekuk, dan aku tidak tidur sama sekali sepanjang sisa perjalanan karena aku takut kalau aku bergerak dia akan bangun dan pindah.

“Za,” kataku.

“Hm.”

“Aku capek.”

“Aku tahu.”

“Aku capek jadi orang lain.” Suaraku tidak seperti suaraku. Mungkin karena wiski. Mungkin karena kelereng di dadaku. “Lima tahun aku jadi orang yang nyelamatin Nadira. Lima tahun aku jadi anak baik buat Papa. Lima tahun aku jadi kakak yang nggak pernah nanya apa-apa ke Kenzo. Aku capek, Za. Aku nggak tahu lagi aku siapa.”

Zaza tidak menjawab langsung. Dia menatap tangannya sendiri, di lenganku, seolah tangan itu milik orang lain.

“Ya udah,” katanya akhirnya. Pelan. “Jadi dirimu sendiri.”

“Gampang ngomong.”

“Nggak gampang. Aku nggak bilang gampang.” Dia menatapku. Matanya merah, sedikit, di pinggir. Aku tidak tahu kapan matanya mulai merah. “Tapi dirimu sendiri itu nggak seburuk yang kamu kira, Van.”

Aku menatapnya.

Kami sangat dekat. Aku bisa melihat bulu matanya yang sedikit menggumpal karena maskara. Aku bisa melihat bekas jerawat kecil di dagunya yang ditutupi concealer. Aku bisa melihat bibirnya yang sedikit bergetar.

“Za,” kataku lagi.

Dia menunggu.

Aku tidak tahu apa yang mau kukatakan. Aku membuka mulut, dan yang ada di sana bukan kata-kata, hanya sesuatu yang hangat dan berat dan terlalu besar untuk keluar.

Zaza melepas tangannya dari lenganku. Pelan. Satu jari demi satu jari. Seolah dia sedang menghitung.

“Nanti,” katanya. “Kalau kamu udah jadi dirimu sendiri. Bukan sekarang. Bukan pakai wiski.”


Lalu Gilang berteriak.

Bukan teriakan Gilang yang biasa. Bukan teriakan panik karena kucing atau kentang goreng atau jurnal. Teriakan yang tinggi dan pecah, yang membuat pemain saxophone berhenti di tengah nada dan tiga puluh tamu menoleh serempak.

“ITU NADIRA!“

Gilang berdiri di pagar kaca, di sisi rooftop yang menghadap Jalan Senopati. Kedua tangannya menempel di kaca. Oksimeter masih menjepit jarinya.

Aku dan Zaza berlari. Dunia masih bergeser sedikit ke kiri, tapi aku tidak peduli.

Di pagar kaca, empat belas lantai di atas jalan, aku menunduk.

Gerimis. Aspal hitam yang mengilap di bawah lampu jalan. Mobil-mobil kecil seperti mainan, lampunya memanjang di jalan yang basah. Dan di tengah semua itu, di antara jalur-jalur Senopati yang ramai, sebuah titik kecil berwarna emas pucat.

Nadira.

Dia berjalan menyeberang. Tidak di zebra cross. Tidak di lampu penyeberangan. Dia berjalan lurus dari trotoar depan gedung ke tengah jalan, dengan kepala menunduk, dengan langkah yang terlalu cepat, seperti orang yang tidak melihat apa-apa.

Seperti orang yang lupa dia takut.

“Nad!“ teriak Gilang, ke kaca, ke angin, ke empat belas lantai yang tidak akan menyampaikan suaranya. “NAD, LIHAT KIRI!“

Dari kiri, sebuah motor datang. Cepat. Terlalu cepat untuk jalan basah. Lampunya menyorot titik emas di tengah jalan.

Motor itu oleng.

Dan dari lobi gedung, dari pintu putar kaca yang masih berputar, sebuah bayangan hitam keluar. Kemeja hitam. Berlari. Berlari dengan langkah yang miring ke kanan, dengan kaki kiri yang tertinggal, dengan cara yang tidak seharusnya bisa dilakukan oleh laki-laki yang dipasangi dua pen.

Berlari seperti di lintasan merah, lima tahun lalu, waktu kedua kakinya masih bisa terangkat tinggi.

“Ryan,” bisik Zaza di sebelahku. Tangannya mencengkeram lenganku lagi. Keras. Kuku-kukunya masuk ke kulitku. “Ryan.“

Aku tidak bisa bernapas.

Aku pernah melihat ini. Aku tidak melihatnya waktu itu, aku datang terlambat, aku hanya melihat akhirnya. Tapi aku pernah membayangkannya ribuan kali, selama lima tahun, setiap malam, setiap kali aku menutup mata. Hujan. Jalan. Lampu. Sesuatu yang datang terlalu cepat. Dan Ryan, berlari, ke arah yang salah. Ke arah bahaya. Ke arah orang lain.

Di bawah sana, bayangan hitam itu mencapai titik emas.

Lalu Gilang sudah tidak ada di sebelahku. Dia sudah berlari ke lift, dengan kotak P3K oranye di pelukannya, berteriak minggir, minggir, MINGGIR pada tamu-tamu yang menghalangi.

Aku berdiri di pagar kaca, dengan Zaza mencengkeram lenganku dan wiski terbakar di dadaku dan kelereng yang masih tertelan di sana.

Empat belas lantai di bawah, di tengah jalan Senopati yang basah, dua bayangan menjadi satu.

Dan motor itu jatuh.