Chapter Four
Bab 4 — Syarat Promosi
POV: Nadira
“Nadira, duduk. Aku punya kabar baik dan kabar yang... bukan kabar buruk, tapi kabar yang membutuhkan penyesuaian.”
Mbak Sinta, Group Head kami, adalah perempuan yang tidak pernah menyampaikan kabar buruk. Dia hanya punya “kabar yang membutuhkan penyesuaian”, “tantangan yang menarik”, dan “peluang untuk tumbuh”. Dua tahun lalu, waktu klien air mineral memutuskan kontrak sepihak dan tim kami harus lembur tiga minggu untuk mencari pengganti, Mbak Sinta menyebutnya “momen refleksi kolektif”.
Jadi waktu dia bilang “kabar yang membutuhkan penyesuaian”, aku langsung menegakkan punggung.
Senin pagi, ruang rapat kecil di lantai tujuh kantor agensi kami di Senopati. Dindingnya kaca, dan di luar kaca itu seluruh lantai bisa melihat kami. Dimas dari tim desain sedang pura-pura membetulkan tanaman hias di dekat pintu supaya bisa menguping. Aku tahu itu karena tanaman hias itu plastik.
“Kabar baiknya,” kata Mbak Sinta sambil membuka laptop, “kamu dipromosikan. Account Manager. Efektif bulan depan. Gaji naik, tentu saja, dan kamu pegang tiga klien sendiri. Termasuk klien otomotif yang baru kita menangkan.”
Aku menatapnya. Lalu aku menatap jendela. Lalu kembali ke Mbak Sinta.
“Serius?”
“Aku nggak pernah bercanda soal struktur organisasi.”
Aku ingin berteriak. Aku ingin memeluknya. Aku ingin keluar dan menendang tanaman plastik Dimas sambil menari. Lima tahun aku jadi copywriter. Lima tahun menulis kalimat-kalimat yang dipotong klien jadi setengah, diganti, dikembalikan, dipotong lagi. Lima tahun membuat caption “Rasakan kesegaran yang menyegarkan” karena klien tidak mau kata lain selain “segar”.
“Mbak,” kataku dengan suara yang sedikit bergetar, “makasih. Makasih banyak. Aku—”
“Tunggu. Kabar yang membutuhkan penyesuaian.” Mbak Sinta mengangkat satu jari. “Account Manager di tim kita wajib visit klien. Minimal dua kali seminggu. Klien otomotif ada di Cikarang. Klien properti di BSD. Klien F&B di Bekasi dan Bogor.” Dia menatapku di atas kacamatanya. “Kamu bisa nyetir kan, Nad?”
Senyumku membeku di tempat.
“Kantor punya mobil operasional,” lanjutnya. “Kita nggak bisa terus pakai ojol untuk visit klien otomotif. Kamu bayangkan. Kita mau pitching kampanye mobil keluarga, terus kita datang naik ojol. Itu kontradiksi branding.”
“Itu...” Aku menelan ludah. “Itu masuk akal.”
“Jadi kamu bisa nyetir.”
Aku membuka mulut.
Di luar kaca, Dimas berhenti pura-pura menyiram tanaman plastik dan menatapku terang-terangan.
“Bisa,” kataku.
Mbak Sinta tersenyum. “Bagus. SIM masih aktif?”
“Masih.” Itu benar. Aku memperpanjangnya setiap lima tahun dengan disiplin seorang perempuan yang tidak pernah memakainya. SIM-ku seperti gaun pesta di lemari: ada, bersih, tidak pernah keluar rumah.
“Bagus. Visit pertama ke Cikarang, tiga minggu lagi. Kamu bawa mobil operasional, sekalian bawa dua orang dari tim kreatif.” Dia menutup laptop. “Selamat, Nadira. Kamu pantas.”
Aku keluar dari ruang rapat dengan senyum yang dipaksakan dan langsung masuk ke toilet perempuan di ujung lorong. Aku masuk ke bilik paling ujung, mengunci pintu, duduk di atas tutup kloset, dan menatap ubin.
Tiga minggu.
Aku belum menyetir sejak umur dua puluh dua. Sebelum malam itu, aku menyetir dengan biasa saja. Bukan jago, tapi biasa. Aku menyetir mobil tua Papa dari Bandung ke Jakarta waktu liburan semester. Aku bahkan pernah menyetir di tol Cipularang malam-malam sambil karaoke lagu dangdut bersama Zaza.
Setelah malam itu, setiap kali aku duduk di balik kemudi, tanganku berkeringat. Aku pernah mencoba sekali, enam bulan setelah kejadian, di parkiran rumah. Aku memutar kunci, mesin menyala, dan tiba-tiba aku mendengar suara mesin yang lain—mesin yang tidak punya cahaya, yang meraung dari kegelapan—dan aku mematikan mobil dengan tangan gemetar dan tidak pernah mencobanya lagi.
Aku membuka ponsel. Aku membuka grup circle. Lalu menutupnya lagi. Aku tidak mau semua orang tahu. Terutama Evan. Aku tidak mau Evan melihatku sebagai perempuan yang masih ketakutan pada jalanan lima tahun setelah dia menyelamatkanku. Itu seperti menunjukkan padanya bahwa pengorbanannya belum selesai.
Aku membuka chat pribadi dengan Zaza.
Aku: Za. Darurat.
Zaza: Seberapa darurat. Skala 1 sampai pengantin kabur.
Aku: 8.
Zaza: Makan siang. Sushi depan kantormu. Jam 12.
Restoran sushi di depan kantorku punya konveyor yang terlalu cepat. Piring-piring melesat lewat seperti mereka sedang terlambat ke suatu tempat. Zaza mengambil tiga piring salmon tanpa melihat, dengan refleks seorang perempuan yang setiap hari harus menangkap kekacauan di udara.
“Promosi,” kataku. “Account Manager.”
“Wah. Selamat. Itu bukan darurat delapan, Nad, itu darurat sampanye.”
“Aku harus nyetir.”
Zaza berhenti mengunyah.
“Tiga minggu lagi,” kataku. “Ke Cikarang. Bawa mobil kantor. Bawa dua orang tim kreatif. Kalau aku nggak bisa, Mbak Sinta bakal tahu aku bohong, dan dia bakal mempertimbangkan ulang, dan Dimas bakal tahu, dan kalau Dimas tahu, seluruh lantai tujuh tahu, dan aku bakal jadi Account Manager yang ke klien otomotif naik ojol, dan itu kontradiksi branding—”
“Nad. Napas.”
Aku bernapas.
Zaza menelan salmonnya. Dia mengambil satu piring lagi dari konveyor, kali ini tamago, dan meletakkannya di depanku. “Makan. Kamu kalau panik pasti lupa makan.”
“Kamu kayak Ryan.”
Zaza berhenti sebentar dengan sumpit di udara. Lalu dia meletakkan sumpitnya.
“Ryan,” katanya pelan, seolah baru saja menemukan sesuatu.
“Kenapa Ryan?”
“Minta Ryan ngajarin kamu.”
Aku menatapnya. “Ngajarin nyetir?”
“Iya.”
“Kenapa Ryan?”
Zaza mulai menghitung dengan jari, seperti sedang mempresentasikan vendor kepada calon pengantin. “Satu. Ryan sabar. Ryan adalah manusia paling sabar yang pernah aku kenal. Dia pernah dengerin Gilang ngejelasin sistem pencernaan sapi selama empat puluh menit tanpa memotong.”
“Itu bukan sabar. Itu Ryan nggak dengar.”
“Dua. Ryan punya mobil manual tua yang remnya sudah dimodif. Kalau kamu nabrak sesuatu, yang rusak cuma mobil yang sudah rusak.”
“Itu bukan argumen yang menenangkan, Za.”
“Tiga.” Zaza menatapku lurus. “Ryan nggak akan cerita ke siapa-siapa. Ryan itu lemari besi. Kamu bisa titip rahasia ke dia, dan rahasia itu bakal dikunci sampai kiamat.”
Aku memikirkannya. Itu benar. Selama delapan tahun, aku tidak pernah mendengar Ryan membocorkan apa pun. Tidak gosip, tidak keluhan, tidak cerita yang bukan miliknya. Kalau Gilang adalah pengeras suara masjid, Ryan adalah kotak kayu yang dikubur di halaman belakang.
“Kenapa nggak Evan aja?” tanyaku, dan langsung menyesal karena wajahku memanas.
Zaza menatapku dengan tatapan yang bisa melelehkan kaca. “Nad. Kamu mau nembak Evan, atau nabrak Evan?”
“Za!”
“Serius. Bayangin. Kamu belajar nyetir sama orang yang kamu taksir. Tanganmu keringetan. Jantungmu deg-degan. Mobil mundur ke tiang listrik. Evan kena gegar otak. Ulang tahunnya dirayakan di IGD. Gilang bawa tensimeter. Itu skenario yang mau kamu tulis?”
Aku tidak bisa membantah. Itu terlalu masuk akal, dan terlalu mungkin.
“Lagian,” lanjut Zaza, lebih pelan sekarang, mengaduk shoyu dengan sumpitnya, “kalau kamu belajar sama Evan, kamu bakal fokus ke Evan. Bukan ke jalan. Kamu butuh orang yang bikin kamu fokus ke jalan.”
“Dan Ryan bikin aku fokus ke jalan?”
“Ryan bikin semua orang fokus ke hal yang benar. Itu bakat dia.” Zaza menatap konveyor yang terus berputar. “Bakat yang nggak pernah dihargai.”
Ada sesuatu dalam cara dia mengatakannya. Sesuatu yang berat, seperti piring yang terlalu lama di konveyor. Tapi sebelum aku sempat bertanya, dia sudah mengambil piring unagi dan berkata dengan nada biasa, “Telepon dia sekarang. Sebelum kamu berubah pikiran.”
Aku tidak meneleponnya sekarang. Aku meneleponnya malam hari, dari kamar kos, setelah dua jam menatap kontaknya dan menyusun kalimat pembuka dalam kepala seperti sedang menulis naskah iklan.
Hai Yan, apa kabar, sibuk nggak, ini aku mau minta tolong, tapi kalau kamu nggak bisa nggak apa-apa, tapi aku berharap kamu bisa, tapi—
Dia mengangkat di dering kedua.
“Nad.”
Hanya itu. Suaranya rendah dan sedikit serak, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu dan tidak bicara selama berjam-jam. Di latar belakang, aku mendengar bunyi ketikan keyboard berhenti.
“Hai, Yan. Lagi sibuk?”
“Nggak.”
“Kamu lagi ngetik.”
“Lagi nggak sibuk sambil ngetik.”
Aku tertawa. Lalu aku berhenti tertawa, karena kalimat pembuka dalam kepalaku sudah lenyap.
“Aku dipromosiin,” kataku.
“Selamat.”
“Jadi Account Manager.”
“Pantas.”
“Tapi aku harus nyetir.”
Diam. Bunyi kursi berderit, seperti dia sedang bersandar.
“Ke klien,” lanjutku, terlalu cepat. “Cikarang. Tiga minggu lagi. Dan aku... kamu tahu kan aku... sejak...” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Aku tidak pernah bisa. Aku tidak pernah bilang sejak kecelakaan itu dengan suara keras, karena kata itu terasa seperti membuka pintu yang di baliknya ada lampu jalan berkedip.
Ryan tidak memaksaku menyelesaikannya.
“Kapan mau mulai?” tanyanya.
Aku menatap langit-langit kamar kos. “Kamu belum dengar aku minta tolong apa.”
“Kamu mau aku ngajarin kamu nyetir.”
“Kok tahu?”
“Kamu telepon aku jam sembilan malam hari Senin. Kamu cuma telepon aku jam segini kalau butuh sesuatu yang nggak bisa diminta ke orang lain.”
Itu benar. Itu memalukan, tapi benar. Aku menelepon Ryan jam sembilan malam waktu kucingku sakit dan aku tidak tahu klinik hewan yang buka. Aku menelepon Ryan jam sembilan malam waktu laptopku mati sehari sebelum deadline. Aku menelepon Ryan jam sembilan malam waktu aku putus dengan pacar yang sebenarnya tidak terlalu kusukai, dan aku tidak menangis, tapi aku butuh mendengar seseorang bilang, “Dia bodoh,” dengan nada yang meyakinkan.
Ryan bilang, “Dia bodoh,” waktu itu. Dengan nada yang sangat meyakinkan.
“Maaf,” kataku. “Aku kayak cuma nelpon kamu kalau ada maunya.”
“Nggak apa-apa.”
“Itu jahat, Yan.”
“Itu efisien.” Aku mendengar senyumnya. Aku tidak tahu bagaimana bisa mendengar senyum seseorang lewat telepon, tapi aku mendengarnya. “Aku lebih suka ditelepon kalau dibutuhkan daripada ditelepon buat ditanya ‘lagi apa’.”
“Memangnya ada yang nanya kamu ‘lagi apa’?”
“Gilang. Setiap Selasa. Jam sepuluh malam.”
“Kenapa Selasa?”
“Katanya Selasa adalah hari paling sepi secara emosional.”
Aku tertawa lagi. Ryan menunggu sampai tawaku reda.
“Sabtu,” katanya. “Jam enam pagi. Parkiran kosong di BSD. Aku jemput.”
“Jam enam pagi? Yan, itu subuh.”
“Jalanan kosong. Parkirannya kosong. Kamu nggak perlu takut nabrak orang.”
“Kamu bisa nabrak aku kalau aku ngantuk.”
“Aku bawain kopi.”
Aku menggulung ujung selimut di jariku. “Yan.”
“Hm.”
“Satu lagi.” Aku menelan ludah. “Jangan bilang siapa-siapa. Terutama Evan.”
Jeda. Lebih lama dari jeda-jeda Ryan yang biasa. Cukup lama sampai aku mengira sambungannya terputus.
“Yan?”
“Kenapa?” Suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu di bawahnya. Seperti air di bawah es. “Kenapa terutama Evan?”
“Karena...” Aku menutup mata. Rasanya bodoh mengatakannya, tapi aku sudah terlalu jauh. “Karena dia yang nyelamatin aku malam itu. Kalau dia tahu aku masih takut, dia bakal merasa usahanya sia-sia. Aku mau dia tahu aku baik-baik aja. Aku mau...” Aku tertawa kecil, malu. “Aku mau dia lihat aku nyetir ke ulang tahunnya sendiri. Kayak... kejutan. Kayak bilang ‘lihat, aku sudah sembuh, makasih ya.’ Bodoh kan?”
Di ujung sana, Ryan diam. Aku mendengar napasnya. Panjang. Pelan. Seperti dia sedang menghitung sesuatu.
“Nggak bodoh,” katanya akhirnya.
“Kamu nggak bakal bilang?”
“Nggak bakal.”
“Janji?”
“Aku jago nyimpan rahasia, Nad.”
Aku tersenyum ke langit-langit. “Iya. Zaza bilang kamu lemari besi.”
“Zaza bilang begitu?”
“Iya. Lemari besi yang dikubur sampai kiamat.”
Ryan mengeluarkan suara yang mungkin setengah tawa. “Zaza berlebihan.”
“Zaza selalu berlebihan. Tapi biasanya dia benar.”
“Iya,” kata Ryan pelan. “Biasanya dia benar.”
Setelah telepon ditutup, aku berbaring lama menatap langit-langit kos yang catnya mengelupas di pojok. Ponselku bergetar sekali.
Ryan: Sabtu. 05.45 aku di depan kos. Pakai sepatu datar. Bawa sendal buat jaga-jaga.
Aku: Sendal buat apa?
Ryan: Kalau sepatumu nggak enak buat injak kopling.
Aku: Kok kamu kepikiran sampai sendal?
Ryan: Aku kepikiran banyak hal.
Aku menatap kalimat terakhir itu. Lalu, karena aku tidak tahu harus membalas apa, aku mengirim stiker kucing yang memberi hormat.
Ryan membalas dengan satu jempol.
Tentu saja. Ryan dan jempolnya. Ryan yang kalau ditanya “kamu kenapa” jawabnya “nggak apa-apa”, kalau ditanya “kamu suka filmnya” jawabnya “lumayan”, kalau dikirim stiker kucing balasnya jempol. Ryan yang hidupnya seperti telegram: singkat, efisien, tanpa kata yang tidak perlu.
Aku kepikiran banyak hal.
Aku memeluk guling. Di luar, motor tetangga kos baru pulang, mesinnya menderum sebentar lalu mati. Biasanya suara mesin di malam hari membuatku tegang.
Malam ini, entah kenapa, tidak.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi reading
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan