← Udah, Aku di Sini

Chapter Ten

Bab 10 — Kaki Kiri

POV: Nadira


Rabu pukul tujuh pagi, aku menyetir mobil operasional kantor ke Cikarang.

Aku ingin menulis kalimat itu besar-besar di langit dengan asap pesawat. Aku ingin mencetaknya di kaos. Aku ingin mengirimnya ke grup circle dengan huruf kapital semua dan tiga puluh emoji kembang api, tapi aku tidak bisa, karena grup circle tidak tahu aku belajar nyetir, dan grup circle ada Evan-nya.

Jadi aku cuma mengirimnya ke dua orang.

Ke Zaza: AKU OTW CIKARANG. AKU NYETIR. AKU MASIH HIDUP.

Zaza membalas: Bangga. Jangan chat sambil nyetir, bodoh.

Ke Ryan, aku mengirim foto. Speedometer mobil kantor di angka 70, diambil waktu aku berhenti di rest area kilometer 19. Tanpa keterangan.

Ryan membalas dengan satu jempol.

Lalu, satu menit kemudian:

Ryan: Jangan foto sambil nyetir.

Aku: Aku lagi berhenti!!

Ryan: Bagus.

Aku tersenyum ke ponsel sampai Dimas, yang duduk di kursi penumpang, bertanya apakah aku sedang chat dengan pacar.

“Nggak,” kataku.

“Senyumnya kayak chat sama pacar.”

“Ini senyum profesional.”

“Mbak Nad, aku sudah kerja dua tahun di sebelah mejamu. Senyum profesionalmu kayak orang nahan kentut. Ini bukan senyum itu.”

Tari dari tim kreatif, yang duduk di belakang, tertawa sampai tersedak roti. Aku menyalakan mesin dengan martabat yang tersisa dan menyetir sisa perjalanan ke Cikarang tanpa bicara.


Pitching-nya berjalan baik. Lebih dari baik. Klien otomotif itu ternyata seorang direktur pemasaran perempuan berusia lima puluhan bernama Bu Ratih, yang menyukai konsep kampanye kami tentang “mobil keluarga yang menyimpan cerita”, dan yang tertawa keras waktu Dimas, entah kenapa, membuka presentasi dengan lelucon tentang tanaman plastik.

Di akhir rapat, Bu Ratih mengantar kami sampai ke lobi, lalu menunjuk mobil operasional kantor yang terparkir di depan.

“Itu yang nyetir siapa?”

“Saya, Bu,” kataku.

“Parkirnya rapi,” kata Bu Ratih. “Saya suka orang yang parkirnya rapi. Itu tanda orang yang menghargai ruang orang lain.”

Aku tidak bilang bahwa aku butuh empat kali maju-mundur untuk parkir serapi itu, dan Dimas harus keluar memberi aba-aba sambil berteriak kiri, kiri, kiri dikit lagi, STOP, Mbak, STOP. Aku hanya tersenyum dan bilang terima kasih.

Di perjalanan pulang, Mbak Sinta mengirim pesan di grup tim: Bu Ratih telepon saya. Katanya dia suka tim kita. Katanya Account Manager-nya “tenang dan parkirnya rapi”. Selamat, Nadira. 👏

Dimas membacanya keras-keras dari kursi penumpang, dan Tari bertepuk tangan dari belakang, dan aku menyetir di tol Cikampek pukul tiga sore dengan mata berair.

Tenang.

Lima tahun lalu, aku tidak bisa menyeberang jalan tanpa lututku lupa caranya jadi lutut. Hari ini, seseorang menyebutku tenang.

Aku tahu siapa yang harus kuucapkan terima kasih.


Malam itu, Evan mengirim pesan.

Panjang. Lebih panjang dari pesan apa pun yang pernah dia kirim padaku. Tiga paragraf, tanpa emoji, tanpa stiker.

Dia minta maaf karena membatalkan Kamis lalu. Dia bilang kantornya sedang kacau. Dia bilang dia tidak mau ketemu dalam keadaan pikirannya berantakan, karena apa yang mau dia omongin “penting dan nggak boleh diomongin asal-asalan”. Dia bilang dia akan mengabari lagi setelah sprint review minggu depan.

Paragraf terakhirnya hanya satu kalimat.

Kamu orang baik, Nad. Kamu pantas dapat yang jujur.

Aku membacanya berkali-kali. Pantas dapat yang jujur. Jujur tentang apa? Tentang perasaannya? Tentang lima tahun dia diam? Tentang malam itu?

Aku memutuskan bahwa itu adalah kalimat paling romantis yang pernah dikirim seorang product manager ke perempuan mana pun di Jakarta Selatan.

Aku mengirim tangkapan layarnya ke Zaza.

Zaza membaca. Centang biru. Tidak membalas.

Aku sudah mulai terbiasa dengan itu.


Sabtu malam, Ryan mengajakku latihan nyetir malam hari.

“Kenapa malam?” tanyaku di telepon.

“Kamu bakal pulang dari klien Bekasi jam delapan malam. Kamu harus terbiasa.”

“Kamu hafal jadwal klienku?”

“Kamu ngomel soal jadwal klienmu setiap hari di grup.”

“Aku ngomel di grup circle. Ada Evan-nya.”

“Kamu ngomel nggak nyebut nyetir. Kamu cuma bilang ‘Bekasi jam lima, pulang jam delapan, hidup ini apa’.”

Itu benar. Aku memang menulis itu. Dengan emoji tengkorak.

“Jam tujuh,” kata Ryan. “Tebet. Jalanan kecil, lampu jalannya bagus, nggak terlalu ramai.”

“Kenapa Tebet?”

“Biar dekat sama Gilang kalau kamu nabrak sesuatu.”

“Itu bukan alasan yang menenangkan, Yan.”

“Itu alasan yang realistis.”


Menyetir malam hari ternyata berbeda.

Lampu-lampu kendaraan lain terasa lebih dekat. Bayangan lebih panjang. Setiap kali ada motor yang menyalip dari kiri tanpa lampu, jantungku melompat ke tenggorokan. Tapi aku punya hitungan sekarang. Tarik empat, tahan empat, buang enam. Aku menghitungnya pelan, dengan bibir bergerak tanpa suara, dan Ryan di sebelahku pura-pura tidak melihat.

Kami berputar-putar di jalan-jalan kecil Tebet selama empat puluh menit. Melewati deretan rumah tua dengan pagar besi, warung bakso yang ramai, taman kecil dengan ayunan berkarat. Aku mulai menikmatinya. Aku mulai menyalakan radio. Aku mulai bernyanyi, pelan, mengikuti lagu pop lama yang diputar penyiar dengan suara mengantuk.

Ryan tidak ikut bernyanyi. Tapi waktu bagian reff, aku melihatnya mengetukkan jari ke lutut, mengikuti ketukan.

Di sebuah jalan sepi di dekat kanal, ada mobil yang mogok.

Kijang tua, warna biru tua yang sudah kusam, berhenti di tengah jalan dengan lampu hazard berkedip-kedip lemah. Seorang bapak tua berkemeja batik berdiri di samping pintu pengemudi, menatap kap mesin yang terbuka dengan wajah putus asa. Di kursi penumpang, seorang ibu tua berkerudung menatap ke luar jendela, cemas.

Aku mengerem. Pelan. Aku berhenti di belakang mereka.

“Yan.”

“Aku lihat.” Ryan sudah membuka sabuk pengamannya.

Dia keluar. Aku melihatnya berjalan ke arah bapak tua itu, bicara sebentar, menunduk ke dalam kap mesin. Bapak itu menunjuk-nunjuk sesuatu dengan tangan gemetar. Ryan mengangguk. Lalu dia menutup kap mesin dan berjalan ke belakang Kijang.

Aku membuka jendela. “Kenapa?”

“Akinya lemah. Harus didorong biar nyala.”

“Kamu mau dorong?”

“Bapaknya nggak kuat dorong sendiri.”

“Yan, kakimu—”

Tapi dia sudah meletakkan kedua tangannya di pintu belakang Kijang, menekuk lutut, dan mulai mendorong.

Bapak tua itu duduk di balik kemudi. Kijang mulai bergerak, pelan, sangat pelan. Ryan mendorong dengan tubuhnya condong ke depan, kaki kanan menapak kuat, kaki kiri—aku melihatnya—kaki kiri menapak lebih ringan, lebih hati-hati, tapi tetap menapak. Satu meter. Tiga meter. Lima meter.

“Lagi, Pak!” kata Ryan. “Masukin gigi dua!”

Kijang tersentak. Mesinnya terbatuk. Sekali. Dua kali. Lalu menyala, dengan bunyi gemuruh yang terdengar seperti orang tua yang menang lotre.

Bapak tua itu mengeluarkan kepala dari jendela dan berteriak, “Alhamdulillah! Makasih, Mas! Makasih banyak!“ Ibu tua di sebelahnya melambaikan tangan dengan wajah lega. Kijang itu berjalan pergi, pelan, lampu hazard-nya masih berkedip, menghilang di tikungan.

Ryan berdiri di tengah jalan, tangan di pinggang, napasnya berat.

Lalu dia jatuh.

Bukan jatuh tersungkur. Dia setengah berlutut, setengah duduk, di aspal, dengan satu tangan mencengkeram tulang kering kirinya dan tangan yang lain menapak di jalan.

Aku keluar dari mobil sebelum aku sempat berpikir.


“Yan! Yan, kenapa?!”

“Kram.” Suaranya tipis, keluar di antara gigi yang dikatupkan. “Nggak apa-apa.”

“Itu bukan nggak apa-apa!”

“Kram, Nad. Bentar. Nanti hilang.”

Wajahnya pucat di bawah lampu jalan. Keringat mengalir dari pelipisnya, padahal malam ini sejuk. Rahangnya mengeras. Matanya terpejam. Dan bibirnya—aku melihatnya—bibirnya bergerak tanpa suara, pelan, berirama.

Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.

Dia sedang menghitung.

Aku berlutut di sebelahnya. Aspal dingin dan kasar menembus celana jinsku. Aku menyentuh tangannya yang mencengkeram tulang kering, dan tangannya keras seperti batu.

“Lepas,” kataku.

“Nad—”

“Lepas tanganmu. Aku pijit.”

Dia membuka mata. Menatapku. Lalu, pelan, tangannya mengendur.

Aku menggulung celana panjangnya sampai ke lutut. Betisnya tegang, ototnya mengeras seperti tali yang ditarik terlalu kencang, bergetar di bawah kulit. Aku meletakkan kedua telapak tanganku di sana dan mulai memijat. Pelan dulu. Lalu lebih dalam. Dari bawah ke atas, seperti yang Mama dulu lakukan setiap kali Papa kram setelah main tenis.

Ryan mengeluarkan suara tertahan. Separuh erangan, separuh desah.

“Sakit?”

“Nggak.” Dia menunduk. “Terus.”

Aku terus memijat. Kulitnya hangat, sedikit berkeringat. Rambut halus di betisnya menggesek telapak tanganku. Aku tidak pernah menyentuh kaki laki-laki selain kaki Papa, dan itu waktu aku umur sepuluh tahun. Aku tidak tahu kenapa memikirkannya membuat wajahku panas di tengah malam yang sejuk.

Pelan-pelan, otot di bawah tanganku mulai melunak.

Lalu jari-jariku menyentuh sesuatu.

Di bagian depan tulang keringnya, agak ke samping, di bawah kulit. Garis. Keras, menonjol sedikit, memanjang hampir sepanjang telapak tanganku. Aku menyentuhnya lagi dengan ujung jari. Bukan otot. Bukan tulang biasa. Bekas luka. Bekas luka yang dijahit, lurus, rapi, seperti jalan yang dibuat dengan penggaris.

Dan di ujung atasnya, di bawah lutut, satu lagi. Lebih pendek. Bulat.

Aku menatapnya di bawah lampu jalan. Kulitnya lebih pucat di garis itu, sedikit mengilap.

“Yan,” kataku pelan. “Ini apa?”

Ryan menatap ke kanal di sebelah jalan. Air hitam berkilau di bawah lampu.

“Kecelakaan motor,” katanya. “Dulu.”

“Ini bekas operasi.”

“Iya.”

“Ini panjang banget.”

“Tulangnya patah.”

Aku terus menatap bekas luka itu. Aku menyentuhnya lagi, pelan, dengan ujung jari, seperti menyentuh sesuatu yang mungkin masih sakit. Ryan tidak menarik kakinya. Tapi aku merasakan seluruh tubuhnya menegang, bukan karena kram, tapi karena sesuatu yang lain.

“Kamu nggak pernah cerita separah ini,” kataku.

“Nggak ada yang perlu diceritain.”

“Ada, Yan.”

Dia tidak menjawab.


Gilang datang delapan menit kemudian.

Aku yang meneleponnya. Ryan bilang tidak perlu, tapi tanganku sudah memencet nomor sebelum otakku sempat setuju. Gilang mengangkat di dering pertama, mendengar kata “Ryan” dan “kram” dan “di jalan”, lalu berteriak “JANGAN DIGERAKKAN! AKU OTW!“ dan menutup telepon.

Dia datang naik motor bebek dengan helm yang belum dikancingkan, kotak P3K oranye diikat di jok belakang dengan tali rafia. Dia melompat turun bahkan sebelum motornya benar-benar berhenti.

“Mana! Mana pasiennya!”

“Lang, aku bukan pasien.”

“Semua orang yang ditelepon ke aku jam delapan malam adalah pasien.” Gilang berlutut di aspal, membuka kotak P3K, dan mengeluarkan—tentu saja—oksimeter. Dia menjepitkannya ke jari Ryan sebelum Ryan sempat protes. “Diam. Ini prosedur.”

“Ini kram kaki, Lang. Bukan serangan jantung.”

“Sembilan puluh delapan,” umum Gilang, membaca oksimeter. “Normal. Nadi sembilan puluh. Agak tinggi.” Dia menatap Ryan curiga. “Kamu deg-degan kenapa?”

“Aku habis dorong mobil.”

“Kamu habis apa?”

Aku menjelaskan soal Kijang tua dan bapak berkemeja batik. Gilang mendengarkan dengan wajah yang perlahan berubah dari khawatir menjadi marah, lalu menjadi khawatir lagi.

“Yan,” katanya, dengan nada yang belum pernah kudengar dari Gilang. Bukan nada lucu. Nada seorang apoteker yang serius. “Kaki ini kan pernah dipasang dua pen. Tulang kering sama panggul. Dokter di Bandung sudah bilang jangan dorong beban berat. Kamu inget?”

Aku menatap Gilang.

“Dua pen?”

Gilang menoleh padaku, kaget, seolah baru ingat aku ada di sana. “Iya. Kamu nggak tahu?”

“Aku tahu dia kecelakaan motor.”

“Iya, tapi parah, Nad. Tulang kering patah, panggul retak. Punggungnya juga dijahit. Empat bulan dia di Bandung, dirawat terus rehab. Aku yang nemenin dia wisuda, waktu itu dia masih jalan pakai tongkat.”

Aku diam.

Empat bulan. Tulang kering patah. Panggul retak. Punggung dijahit. Tongkat.

Aku ingat malam itu, dari versi yang selama ini kudengar: Ryan kecelakaan motor waktu pulang. Malam yang sama. Kebetulan yang aneh. Aku ingat aku mengirim buah ke rumah sakitnya, sekali, lewat Gilang, waktu aku sendiri masih pusing karena gegar otak dan sibuk menangisi Evan yang menyelamatkanku. Aku ingat aku tidak pernah menjenguknya. Aku ingat aku bahkan tidak tahu dia dirawat di rumah sakit mana.

Delapan tahun aku mengenal Ryan. Aku tidak tahu kakinya dipasangi dua pen.

“Lang,” kata Ryan pelan.

“Apa?”

“Cukup.”

Gilang menatap Ryan. Lalu menatapku. Lalu menatap Ryan lagi. Sesuatu terlintas di wajahnya, sangat cepat, seperti orang yang baru saja menginjak sesuatu yang tidak terlihat. Lalu dia berdeham dan mengeluarkan sebotol kecil dari kotak P3K.

“Magnesium,” katanya. “Minum dua. Sekarang.”

“Lang—”

“Minum.“

Ryan minum dua.


Lalu, karena hidup selalu punya selera humor yang aneh, Gilang melihat posisi Si Lumut.

Mobil itu terparkir di belakang tempat Kijang tadi mogok. Pintu pengemudinya masih terbuka. Kunci masih menggantung. Dan Ryan duduk di aspal di sisi penumpang.

Gilang menatap pintu pengemudi. Menatapku. Menatap Ryan. Menatapku lagi.

“Nad,” katanya pelan. “Yang nyetir tadi siapa?”

Aku membuka mulut.

“Kamu nyetir?” Matanya melebar. “Kamu nyetir? Nadira Kusumawardhani yang nggak mau duduk di depan kalau naik taksi online? Yang pernah minta turun dari Grab-car karena sopirnya nyalip angkot?”

“Lang—”

“SEJAK KAPAN?!”

“Lang, pelan, ini kompleks orang—”

Gilang berdiri. Dia menunjuk Ryan, lalu aku, lalu Si Lumut, seperti detektif di akhir film yang baru saja menemukan pembunuhnya. “Kalian. Latihan nyetir. Berdua. Diam-diam.”

“Itu rahasia,” kataku cepat. “Lang, please. Jangan bilang siapa-siapa. Terutama—”

“Evan,” sambung Gilang. Dia mengangguk perlahan, dengan wajah orang yang sedang menyusun teka-teki. Lalu dia menatapku lagi, dan aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak lucu. Sesuatu yang hampir seperti kasihan.

“Oke,” katanya. “Aku nggak bilang.”

“Sumpah?”

Gilang mengangkat tangan kanannya. “Sumpah apoteker. Pasal tujuh. Menjaga kerahasiaan pasien.”

“Aku bukan pasien.”

“Semua orang yang nyetir dalam keadaan trauma adalah pasien, Nad.” Dia menurunkan tangannya. Lalu, sebelum aku sempat membalas, dia mengangkat alis ke arah Ryan dua kali, cepat, seperti agen rahasia di film murahan.

Ryan menatapnya tanpa ekspresi. “Lang.”

“Apa? Aku nggak ngomong apa-apa.”

“Alismu ngomong.”


Ryan tidak bisa menyetir pulang. Kaki kirinya yang harus menginjak kopling masih gemetar, dan Gilang melarangnya dengan nada yang tidak bisa dibantah. Gilang tidak bisa mengantar karena dia naik motor.

Jadi aku yang menyetir Ryan pulang ke Pasar Minggu.

Pukul sembilan malam. Jalan raya. Lampu-lampu. Motor yang menyalip dari kiri. Bus yang membunyikan klakson. Semua hal yang membuatku takut selama lima tahun.

Aku menyetir. Tanganku di jam sepuluh dan jam dua. Napasku dalam hitungan.

Ryan duduk di kursi penumpang dengan kaki kiri diluruskan sejauh mungkin, kepala bersandar ke jendela. Dia tidak bicara. Dia tidak memberi instruksi. Sesekali, waktu aku harus berbelok atau berpindah jalur, aku meliriknya, dan dia hanya mengangguk kecil, sekali, seolah bilang bagus.

Di lampu merah Pancoran, dia bicara untuk pertama kalinya.

“Kamu nyetir aku pulang.”

“Iya.”

“Biasanya aku yang nganter.”

“Gantian,” kataku. “Sekali-sekali.”

Dia diam. Lampu hijau. Aku jalan.

“Makasih, Nad,” katanya, sangat pelan, hampir tertelan bunyi mesin.

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku cuma menyetir, dan di dalam dadaku ada sesuatu yang aneh, campuran hangat dan sakit, seperti air panas yang dituang ke gelas yang terlalu dingin.

Aku mengantarnya sampai mulut gang. Dia bilang dia bisa jalan sendiri dari situ, dan aku membiarkannya, walaupun aku menunggu di dalam Si Lumut sampai aku melihat lampu teras sebuah rumah kecil menyala dan seorang perempuan paruh baya bercelemek bebek keluar dan memegang lengannya.

Lalu aku memesan ojol, menitipkan kunci Si Lumut di bawah keset rumah Ryan seperti yang dia minta lewat pesan, dan pulang.


Di jok belakang ojol, dengan helm yang kebesaran dan angin malam yang dingin, aku menatap tanganku sendiri.

Telapak tanganku masih ingat bekas luka itu. Garis lurus yang keras di bawah kulit. Rapi, seperti jalan yang dibuat dengan penggaris.

Empat bulan. Dua pen. Tongkat di hari wisuda.

Malam yang sama denganku.

Aku menutup mata dan menyandarkan dahi ke punggung abang ojol, yang tidak protes, mungkin karena dia sudah biasa membawa penumpang yang terlalu lelah untuk duduk tegak.

Delapan tahun, pikirku. Delapan tahun aku memperhatikan Evan seperti memperhatikan cuaca. Aku tahu jam berapa dia biasanya membalas chat. Aku tahu dia benci pandan. Aku tahu dia mengusap rambut kalau frustrasi dan menggulung lengan kemeja kalau rapatnya alot.

Dan aku tidak tahu bahwa laki-laki yang selama delapan tahun berjalan di sebelahku, di sisi jalan, membawa kakinya yang dipasangi dua pen setiap kali dia mengantarku pulang.

Aku tidak pernah bertanya.

Kenapa aku tidak pernah bertanya?