Chapter Seven
Bab 7 — Panitia HUT Evan
POV: Nadira
Kantor Zaza ada di lantai tiga sebuah ruko di Cipete, di atas toko kain dan di sebelah klinik gigi yang selalu memutar lagu-lagu Peterpan. Tangganya sempit, curam, dan dilapisi karpet merah tua yang sudah botak di bagian tengah karena terlalu banyak calon pengantin naik turun membawa harapan dan contoh undangan.
Di pintu kaca kantornya, ada stiker emas: ZAFRINA ALATAS WEDDING & EVENT — “Hari Bahagiamu, Pekerjaan Kami.”
Di bawahnya, seseorang menambahkan stiker kecil dengan spidol: “Dan Kami Benar-Benar Bekerja, Bukan Cuma Senyum.”
“Itu tulisan Gilang,” kata Zaza waktu aku menunjuknya. “Dia nempel itu waktu mampir bulan lalu. Aku belum sempat copot.”
“Kamu sengaja nggak copot.”
“Aku sibuk.”
“Za.”
“Itu lucu, oke? Klien suka. Ada yang ngefoto buat Instagram.”
Ruang rapat Zaza adalah ruang tamu yang disulap: sofa beludru hijau zamrud, meja kaca dengan tumpukan album portofolio, dinding penuh foto pelaminan, dan papan tulis putih di pojok yang biasanya berisi rundown acara. Hari ini, papan tulis itu bertuliskan dengan huruf besar:
RAPAT PERDANA PANITIA HUT EVAN KE-28 (JANGAN BILANG EVAN) Agenda: 1. Tema 2. Tempat 3. Kue 4. ~~Hal Sangat Penting~~ [DIHAPUS ATAS PERMINTAAN SEBAGIAN ANGGOTA]
Gilang sudah duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan. Ryan duduk di ujung sofa yang lain, tangan bersilang, menatap papan tulis seperti sedang membaca peta yang ditulis orang mabuk.
Aku duduk di tengah, di antara mereka. Aku tidak memilih tempat itu. Itu satu-satunya yang kosong. Tapi waktu aku duduk, bantal sofa yang empuk membuatku sedikit melorot ke arah Ryan, dan lenganku menempel di lengannya selama satu detik sebelum aku membetulkan posisi.
Satu detik. Tidak penting. Aku tidak tahu kenapa aku menghitungnya.
“Baik,” kata Zaza, berdiri di depan papan tulis dengan spidol di tangan seperti jenderal di depan peta perang. “Konsep.”
Dia membalik papan tulis. Di sisi belakangnya sudah ada sketsa yang rumit, lengkap dengan panah, kotak, dan coretan warna-warni.
“Tema: Golden Twenty-Eight. Emas dan putih. Tempat: rooftop lounge di Senopati, aku punya kenalan manajernya, kita dapat diskon tiga puluh persen asal aku mau bikin konten Instagram buat mereka. Dresscode: putih, aksen emas. Kapasitas: tiga puluh orang. Rundown—”
“Za,” kata Gilang.
“—rundown ada empat belas segmen. Pembukaan, welcome drink, sambutan dari panitia, slideshow perjalanan hidup Evan, speech dari sahabat terdekat—”
“Za.”
“—potong kue, toast, first dance—”
“First dance?“ kataku. “Za, ini ulang tahun. Bukan resepsi.”
Zaza menatapku dengan wajah orang yang tidak bisa dihentikan. “Setiap acara adalah resepsi, Nad, kalau kamu cukup berani.”
“Evan mau dansa sama siapa?”
Zaza diam. Matanya melirik padaku sepersekian detik, lalu kembali ke papan tulis. “Itu,” katanya, “segmen opsional.”
Gilang menutup mulutnya dengan tangan dan mengeluarkan suara seperti panci presto. Aku menendang kakinya. Dia menjerit.
Ryan tidak bereaksi. Dia hanya menatap papan tulis. Lalu, dengan suara datar, dia bertanya, “Segmen sepuluh apa?”
Zaza melihat papan tulisnya. “Segmen sepuluh: kejutan.”
“Kejutan apa?”
“Kejutan.”
“Isinya?”
“Kalau aku kasih tahu, namanya bukan kejutan, Yan.”
“Kamu ketua panitia. Kamu harus tahu isinya.”
“Aku tahu isinya.” Zaza mengetuk-ngetuk spidol ke telapak tangan. “Isinya terserah yang mau ngisi.”
Semua orang di ruangan itu menatapku. Aku menatap foto pelaminan di dinding seolah itu karya seni paling menarik di dunia.
Bagian Gilang lebih kacau.
“Aku,” umum Gilang sambil memutar laptopnya ke arah kami, “bertanggung jawab atas dua hal. Satu: slideshow. Dua: pos kesehatan.”
“Pos kesehatan,” ulang Zaza.
“Rooftop. Tiga puluh orang. Minuman beralkohol, kemungkinan besar, karena ini Senopati. Lantai licin. Tepi gedung. Angin kencang. Kalau kita nggak siap, kita bisa kehilangan satu atau dua tamu.”
“Kehilangan—”
“Secara metaforis! Atau literal. Pokoknya, aku bawa P3K.”
“Kamu selalu bawa P3K.”
“Kali ini P3K versi pesta. Ada antasida, ada pereda mabuk, ada plester buat kaki lecet karena sepatu hak tinggi, ada—” dia mengklik laptopnya, “—ini, dokumen tiga halaman tentang manajemen risiko acara rooftop.”
Zaza merebut laptopnya, membaca sekilas, lalu mengembalikannya. “Lang. Halaman dua ada sub-bab ‘Protokol Evakuasi Jika Terjadi Gempa Bumi’.”
“Jakarta ada di zona seismik.”
“Kita nggak butuh protokol gempa buat ulang tahun.”
“Kamu juga bilang nggak butuh payung di nikahan klienmu yang outdoor, terus hujan. Ingat?”
Zaza menutup mulut. Gilang tersenyum menang.
“Slideshow,” kataku cepat, sebelum mereka bertengkar lebih jauh. “Slideshow-nya isinya apa?”
“Ah.” Mata Gilang berbinar. “Ini proyek pribadiku. Aku sudah mulai digitalisasi semua foto lama kita. Dari tahun kedua kuliah. Dari kamera digital Zaza yang waktu itu masih empat megapiksel. Dari hape Nokia Evan. Dari album-album yang kita cetak di Bandung. Semuanya.”
“Semuanya?” Ryan menoleh. Hanya sedikit, tapi aku melihatnya.
“Semuanya. Aku sudah scan seratus dua puluh foto. Masih ada mungkin dua ratus lagi. Ada foto Zaza waktu masih poni rata.”
“Hapus,” kata Zaza.
“Ada foto Nadira nangis di depan mesin fotokopi waktu deadline makalah.”
“Hapus,” kataku.
“Ada foto Ryan tidur di sekretariat dengan muka ditempel stiker.”
Ryan tidak bilang hapus. Dia hanya bertanya, “Sampai tahun berapa?”
“Sampai lulus. Termasuk malam keakraban.”
Ruangan itu tiba-tiba sedikit lebih sunyi. Atau mungkin itu cuma aku. Malam keakraban. Malam itu. Aku tidak tahu ada foto dari malam itu. Aku tidak ingat ada yang memotret. Ingatanku tentang malam itu dimulai dari hujan dan berakhir di kamar rumah sakit, dan semua yang di antaranya hanya warna merah dan empat kata.
Zaza meletakkan spidolnya. Pelan.
“Foto malam keakraban nggak usah dimasukin,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena...” Zaza melirikku. “Karena malam itu nggak enak buat sebagian orang, Lang. Pakai otak.”
Gilang membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia menatapku, lalu Ryan, lalu menunduk ke laptopnya. “Oh. Iya. Sori. Oke. Nggak dimasukin.”
“Nggak apa-apa,” kataku, dan memaksakan senyum. “Serius. Itu cuma foto.”
Di sebelahku, Ryan diam. Tangannya yang bersilang di dada sedikit mengencang. Aku melihat jari-jarinya mencengkeram lengan bajunya sendiri, lalu melepasnya.
Bagian Ryan paling singkat.
“Ryan,” kata Zaza, “logistik dan transportasi.”
“Oke.”
“Kamu jemput Evan dari rumahnya, bawa dia ke rooftop dengan alasan palsu. Kamu juga yang bawa kue, dekorasi tambahan, sound system cadangan—”
“Kita punya sound system cadangan?”
“Gilang punya speaker portabel.”
“Speaker itu buat senam pagi, Za,” kata Gilang. “Bass-nya nggak kuat.”
“Ryan,” lanjut Zaza, mengabaikan Gilang, “kamu juga yang antar tamu pulang yang nggak bisa nyetir.”
“Oke.”
“Kamu nggak protes?”
“Buat apa,” kata Ryan. “Aku memang selalu nganter.”
Itu benar. Aku tidak pernah memikirkannya, tapi itu benar. Setiap acara circle—ulang tahun, buka puasa, tahun baru, perpisahan sebelum Gilang buka apotek—selalu Ryan yang terakhir pulang. Selalu Ryan yang memastikan Gilang tidak naik motor setelah minum tiga gelas soda gembira. Selalu Ryan yang menunggu di depan kos sampai lampu kamarku menyala.
Aku tidak pernah bertanya kenapa. Aku cuma menerimanya, seperti menerima matahari terbit.
Rapat bubar pukul delapan malam. Zaza harus menerima telepon dari klien yang sedang menangis karena kateringnya mendadak membatalkan kontrak, dan Gilang harus pulang karena “sudah melewati jam makan malam optimal”. Aku dan Ryan turun tangga sempit itu bersama.
Aku turun duluan. Karpet merahnya licin di beberapa tempat, jadi aku berpegangan pada pegangan tangga yang dingin.
Di belakangku, langkah Ryan terdengar berbeda.
Aku tidak langsung menyadarinya. Lalu, di anak tangga ketujuh, aku mendengarnya: ritmenya. Tap. Taaap. Tap. Taaap. Satu langkah cepat, satu langkah lambat. Seperti orang yang menuruni tangga dengan satu kaki yang tidak mau ditekuk terlalu dalam.
Aku menoleh.
Ryan sedang menuruni anak tangga dengan tangan kanan mencengkeram pegangan. Kaki kanannya turun duluan. Kaki kirinya menyusul, pelan, lurus, dengan lutut yang hanya sedikit ditekuk. Wajahnya datar. Tapi di pelipisnya ada butir keringat kecil, padahal tangga itu dingin karena AC dari klinik gigi bocor ke lorong.
Dia melihatku menoleh, dan langkahnya langsung berubah. Lebih rata. Lebih normal. Seperti orang yang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kakimu.”
“Kenapa kakiku?”
“Kamu jalan aneh.”
“Kebanyakan duduk.” Dia melewati aku di anak tangga terakhir dan membuka pintu ruko ke trotoar. Udara malam Cipete menyerbu masuk, bau gorengan dan knalpot dan hujan yang belum turun. “Sofa Zaza terlalu empuk. Bikin kaku.”
“Itu kaki yang dulu kecelakaan motor?”
Ryan berhenti sebentar di ambang pintu. Hanya sebentar. Lalu dia melangkah keluar.
“Iya,” katanya. “Dulu.”
Aku menyusulnya ke trotoar. Si Lumut diparkir di seberang jalan, dan Ryan sudah berdiri di tepi trotoar, di sebelah kiriku, di sisi jalan, menunggu mobil-mobil lewat.
“Masih sering sakit?” tanyaku.
“Kalau hujan. Kalau capek. Kalau kebanyakan duduk di sofa beludru hijau.”
“Kamu nggak pernah cerita.”
“Nggak ada yang perlu diceritain.”
“Ada, Yan. Kamu kecelakaan sampai telat lulus setahun. Itu bukan nggak ada.”
Dia diam. Jalan lengang. Dia mulai menyeberang, dan aku mengikutinya, dan seperti di depan warung sate minggu lalu, dia berjalan sedikit di depanku, di sisi kanan, di antara aku dan arah datangnya kendaraan. Kali ini aku tidak membeku. Kakiku bergerak sendiri, mengikuti punggungnya.
Di seberang, di samping Si Lumut, dia berbalik.
“Kamu nyebrang barusan,” katanya.
Aku mengedip. Aku menoleh ke belakang, ke jalan yang baru saja kulewati. Jalan dua jalur. Malam. Ada motor lewat.
Aku menyeberang. Tanpa berpikir.
“Oh,” kataku.
“Kemajuan,” kata Ryan, dan membuka pintu penumpang untukku.
Aku duduk, dan aku lupa sama sekali bahwa aku baru saja menanyakan sesuatu tentang kakinya yang tidak dia jawab.
Minggu itu, Evan berubah.
Bukan perubahan besar. Kalau kamu tidak memperhatikan, kamu tidak akan sadar. Tapi aku memperhatikan. Aku selalu memperhatikan Evan, dengan cara yang sama seperti orang memperhatikan cuaca sebelum keluar rumah.
Dia membalas chat-ku lebih lama. Biasanya lima menit, sekarang dua jam. Kadang tiga. Balasannya lebih pendek. Biasanya dia mengirim stiker atau lelucon, sekarang cuma “haha iya” atau “oke nad”. Waktu aku mengirim meme tentang product manager yang dibenci developer, dia cuma membalas dengan satu emoji tertawa. Satu. Biasanya dia membalas dengan meme balasan dan tiga paragraf analisis kenapa meme itu “akurat secara organisasional”.
Jumat itu, dia membatalkan kumpul di kafe. “Ada rapat sama bokap,” tulisnya di grup. Gilang mengirim tiga puluh emoji menangis. Zaza tidak membalas. Ryan menulis “Oke” dan tidak ada yang lain.
Aku menatap pesan Evan lama di kamar kos, dan aku tahu.
Dia tahu.
Gilang pasti sudah membocorkannya. Atau Evan menebak sendiri dari grup panitia. Atau dari caraku menatapnya di tempat bowling. Bagaimanapun caranya, dia tahu bahwa aku akan bicara di ulang tahunnya, dan sekarang dia menjaga jarak.
Seharusnya itu membuatku takut. Tapi tidak.
Karena aku ingat caranya menyentuh tanganku di tempat bowling. Cepat sekali, lalu mundur, seperti menyentuh panci panas. Aku ingat caranya mengalihkan pandangan di warung sate. Aku ingat telepon dari ayahnya di depan kafe, dan wajahnya yang berubah seperti awan lewat.
Evan menjaga jarak karena dia gugup.
Evan—laki-laki yang memunggungi mobil untukku, laki-laki yang tidak pernah membanggakan itu, laki-laki yang selalu diam tentang kebaikannya sendiri—sedang gugup. Karena dia juga tidak tahu harus bagaimana. Karena mungkin, selama lima tahun ini, dia juga menunggu.
Aku memeluk guling dan tersenyum ke langit-langit.
Malam Minggu, waktu aku sedang menonton ulang drama Korea yang sudah kutonton tiga kali, ponselku bergetar.
Evan.
Bukan di grup. Pesan pribadi.
Evan: Nad.
Evan: Kamu ada waktu minggu depan? Berdua aja.
Evan: Ada yang mau aku omongin.
Aku duduk tegak di kasur. Drama Korea di laptopku terus berjalan, pemeran utama laki-lakinya sedang berlari di bawah hujan, dan aku tidak peduli sama sekali.
Berdua aja. Ada yang mau aku omongin.
Aku membaca tiga kalimat itu dua puluh kali. Lalu aku mengambil tangkapan layar dan mengirimnya ke Zaza, dengan tangan gemetar, disertai tujuh tanda seru.
Zaza membaca. Centang biru.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Tidak ada balasan.
Aku menunggu sepuluh menit, lalu menelepon. Tidak diangkat. Aku mengirim pesan lagi: ZA?? KAMU HIDUP?? Centang biru. Tidak ada balasan.
Akhirnya, setengah jam kemudian:
Zaza: Nad. Jangan berharap apa-apa dulu.
Aku: Kenapa??
Zaza: Pokoknya jangan. Dengerin dulu dia mau ngomong apa.
Aku: Za, dia ngajak ketemu BERDUA. Itu bukan pertanda baik menurutmu?
Zaza: Menurutku itu pertanda dia mau ngomong sesuatu.
Zaza: Udah. Tidur. Kamu besok jam 6 nyetir sama Ryan kan.
Aku menatap pesan terakhir itu dengan dahi berkerut. Aku tidak pernah memberi tahu Zaza jadwal latihanku. Aku cuma bilang aku sudah minta tolong Ryan.
Aku: Kok tahu jam 6?
Zaza: Ryan selalu jam 6.
Zaza: Tidur, Nad.
Aku tidak tidur. Aku berbaring sampai pukul dua pagi, menatap tiga kalimat dari Evan sampai hurufnya terasa berubah bentuk, membayangkan seratus versi berbeda dari minggu depan.
Di semua versi itu, Evan bilang hal yang sama. Kalimat yang sudah kutunggu lima tahun.
Di semua versi itu, aku tidak sekali pun membayangkan bahwa yang dia mau omongin adalah sesuatu yang lain.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan reading
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan