Chapter One
Bab 1 — Jaket Merah
POV: Nadira
Ada satu kalimat yang kusimpan selama lima tahun.
Bukan di buku harian. Aku bukan tipe perempuan yang menulis buku harian; aku tipe perempuan yang menulis caption iklan sabun cuci piring lalu dibayar untuk itu. Kalimat itu kusimpan di tempat yang lebih aneh: di bagian belakang kepala, tepat di titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh, di antara bau hujan dan warna merah.
Udah. Aku di sini.
Hanya itu. Empat kata. Kadang aku mendengarnya waktu mau tidur. Kadang waktu menyeberang jalan dan lututku tiba-tiba lupa caranya jadi lutut. Kadang—ini yang paling memalukan—waktu Evan Wiratama tertawa di seberang meja, dan suaranya yang renyah itu tidak mirip sama sekali, tapi tetap saja otakku menempelkan kalimat itu ke wajahnya seperti stiker.
Malam itu hujan. Aku menyeberang ke minimarket di depan gerbang kampus karena ingin beli roti sobek cokelat, alasan paling bodoh untuk hampir mati. Aku ingat lampu jalan yang berkedip. Aku ingat suara mesin yang terlalu dekat dan tidak punya cahaya. Lalu ada lengan yang memeluk kepalaku, ada tubuh yang berputar, ada warna merah memenuhi seluruh pandanganku, dan ada suara itu, rendah dan basah dan anehnya tenang.
Udah. Aku di sini.
Waktu aku sadar di rumah sakit, Evan duduk di kursi samping ranjang. Rambutnya basah. Matanya merah. Jaket varsity merahnya—satu-satunya jaket merah di angkatan kami, dengan nama EVAN dibordir kecil di dada kiri—tergeletak di sandaran kursi, berlumur darah yang sudah mulai cokelat.
Semua orang bilang Evan yang menyelamatkanku.
Evan tidak pernah membantah. Dia juga tidak pernah membanggakannya. Dia cuma bilang, “Yang penting kamu nggak apa-apa, Nad,” lalu sejak malam itu dia tidak pernah memakai jaket merah lagi.
Kalau kalian tanya kenapa aku jatuh cinta pada laki-laki itu, jawabannya ada di sana. Bukan karena dia ganteng, walaupun dia memang ganteng dengan cara yang membuat kasir minimarket lupa memberi kembalian. Tapi karena dia menyelamatkan nyawaku, lalu memilih diam tentang itu.
Laki-laki yang diam tentang kebaikannya sendiri. Coba bilang padaku perempuan mana yang tidak akan jatuh.
“Nad. Naaad. Nadira Kusumawardhani, kamu kesurupan atau lagi nunggu wangsit?”
Aku mengedip. Gilang melambai-lambaikan tangan di depan wajahku, dan karena tangan Gilang selalu bau hand sanitizer, aku jadi sadar sepenuhnya.
Jumat malam, pukul delapan lewat sedikit. Kafe langganan kami di Kemang, yang namanya sudah ganti tiga kali tapi kursinya tetap sama-sama goyang. Meja paling pojok, dekat jendela, di bawah lampu gantung yang kabelnya ditempel selotip. Meja kami.
“Nggak kesurupan,” kataku. “Lagi mikirin brief klien.”
“Bohong,” kata Zaza tanpa mengangkat mata dari ponselnya. “Kamu cuma bengong kayak gitu kalau mikirin satu hal. Dan hal itu belum datang.”
“Zaza.”
“Apa? Aku cuma bilang fakta. Aku wedding organizer, Nad, aku kerjanya baca muka orang yang pura-pura bahagia. Muka kamu sekarang itu muka pengantin yang nungguin mempelai pria telat.”
Gilang tertawa sampai kursinya oleng. Aku melempar sedotan kertas ke arahnya, meleset, dan sedotan itu mendarat di cangkir kopi orang yang duduk di sebelah Gilang.
Orang itu tidak bereaksi. Dia cuma mengambil sedotan itu dengan dua jari, meletakkannya di tisu, lalu menggeser piring pisang goreng sedikit ke arahku.
“Makan,” kata Ryan. “Kamu belum makan dari siang.”
“Kok tahu?”
“Kamu ngomel di grup jam satu soal klien yang minta logonya ‘lebih gede tapi lebih kecil’. Jam empat kamu masih ngomel. Orang yang sempat makan nggak ngomel tiga jam.”
Gilang menunjuk Ryan dengan garpu. “Detektif. Aku bilang dari dulu, ini orang harusnya kerja di BIN, bukan bikin peta.”
“Aku bikin peta tata ruang,” kata Ryan, tanpa nada.
“Sama aja. Sama-sama ngintip orang dari atas.”
Aku mengambil pisang goreng. Masih hangat. Ryan pasti sudah datang paling awal, seperti biasa, dan memesan duluan, seperti biasa. Teh tarik kurang manis untukku. Es kopi susu dengan gula cair dipisah untuk Zaza, karena Zaza suka mengontrol segala hal, termasuk tingkat kemanisan hidupnya. Air putih hangat untuk Gilang, karena Gilang sedang “detoks”, minggu ini, sampai minggu depan dia ganti teori lagi. Dan untuk kursi kosong di sebelahku, americano dingin tanpa gula.
Kursi Evan.
Kami berlima sudah bersama sejak tahun kedua kuliah, di Bandung, waktu kami semua terjebak di kepanitiaan acara angkatan yang tidak ada satu pun dari kami yang mau ikut. Lima orang dari jurusan yang berbeda, dipaksa membagi satu ruang sekretariat yang atapnya bocor. Entah bagaimana kami bertahan. Entah bagaimana, delapan tahun kemudian, kami masih di sini, di meja goyang yang sama, setiap Jumat yang bisa kami usahakan.
Evan, yang selalu datang terakhir dan selalu jadi pusat ruangan begitu dia datang.
Gilang, apoteker yang membawa kotak P3K ke mana-mana dan sungguh-sungguh percaya bahwa suatu hari nanti kafe ini akan menjadi lokasi bencana massal.
Zaza, yang bisa merencanakan resepsi untuk seribu tamu dalam tiga minggu tapi tidak bisa memesan makanan tanpa membaca ulasan seluruh menu.
Ryan, yang—yah. Ryan adalah Ryan. Orang yang kalau kamu tanya “Ryan itu orangnya kayak apa?”, kamu akan diam sebentar, lalu bilang, “Dia selalu ada.” Dan itu terdengar seperti pujian yang kecil, sampai kamu sadar betapa langkanya orang yang benar-benar selalu ada.
Lalu aku.
Aku tidak tahu aku apa di circle ini. Mungkin yang paling berisik. Mungkin yang paling sering nangis di film animasi. Gilang pernah bilang aku “sumber vitamin D” kelompok ini, dan aku memutuskan untuk menganggap itu pujian karena kalau dari Gilang, apa pun yang berhubungan dengan vitamin adalah pujian.
“Evan telat lagi,” kata Gilang sambil melihat jam. “Ini sudah kali ketujuh bulan ini. Aku catat. Aku punya spreadsheet.”
“Kamu punya spreadsheet keterlambatan Evan?” tanya Zaza.
“Aku punya spreadsheet untuk semua hal. Itu namanya manajemen risiko.”
“Itu namanya kamu nggak punya pacar, Lang.”
Gilang memegangi dadanya seolah tertembak. “Jahat. Padahal aku bawain kamu koyo kemarin.”
“Aku nggak minta koyo.”
“Kamu bilang punggungmu pegal habis angkat-angkat bunga dekor. Itu permintaan koyo yang tersirat.”
Aku tertawa.
Lalu seorang pelayan berhenti di samping meja kami, membawa sepiring kecil kue cubit setengah matang yang masih mengepul, dan meletakkannya di depanku dengan sikap orang yang sedang menjalankan misi rahasia.
“Dari mas di meja tengah, Kak,” bisiknya. “Sama ini.”
Selembar tisu, dilipat dua. Zaza merebutnya sebelum aku sempat menyentuhnya, membukanya, dan membacanya keras-keras dengan suara datar seorang pembawa berita yang mengumumkan harga cabai.
“Maaf ganggu. Tapi dari tadi lampu kafe ini kalah terang sama ketawamu.“
Gilang mengeluarkan ponsel. “Itu yang keempat bulan ini. Aku catat.”
“Kamu punya spreadsheet untuk itu juga?”
“Kolom C. Di sebelah keterlambatan Evan.”
Aku menoleh ke meja tengah. Seorang laki-laki berkemeja flanel buru-buru menunduk ke laptopnya, telinganya merah. Aku tersenyum padanya, senyum sopan, senyum yang sudah kupakai ribuan kali sejak SMA untuk kasir yang lupa memberi kembalian, untuk satpam kantor yang tiba-tiba hafal namaku di hari kedua, untuk ibu-ibu di angkot yang menepuk lututku dan bilang, Neng, kalau senyum jangan lama-lama, nanti supirnya nabrak.
Orang selalu bilang aku cantik. Aku menerimanya seperti orang menerima nama panggilan yang tidak pernah mereka pilih sendiri: ada, menempel, dipakai orang lain untuk memanggilku, tapi tidak pernah benar-benar terasa milikku. Rambut sebahu yang bergelombang tanpa perlu dicatok. Lesung pipi di sebelah kiri saja, yang kata Mama muncul waktu aku umur tiga tahun dan menolak pergi. Mata yang kata Zaza “kelihatan kayak lagi nyimpen lelucon bahkan waktu kamu lagi sedih”. Aku tahu semua itu dari cermin dan dari orang lain. Aku tidak pernah tahu harus berbuat apa dengannya.
Di pantulan jendela kafe, di antara lampu gantung yang kabelnya ditempel selotip dan lalu lintas Kemang yang mengalir di luar seperti sungai cahaya, aku melihat perempuan dengan teh tarik di tangan dan lesung pipi yang belum mau hilang. Dan di belakangnya, buram, di ujung meja, aku melihat Ryan.
Dia tidak menatap meja tengah. Dia tidak menatap tisu di tangan Zaza. Dia sedang menatap pantulanku di kaca jendela, dengan ekspresi orang yang membaca sesuatu yang sudah dia hafal di luar kepala.
Lalu dia mengedip, mengambil piring kue cubit dari depanku, dan menaruhnya di tengah meja.
“Buat semua,” katanya.
Gilang langsung mengambil dua.
Aku tertawa lagi, dan di tengah tawa itu pintu kafe berbunyi.
Evan masuk.
Aku tidak akan berpura-pura bahwa aku tidak memperhatikan. Kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Rambut yang sedikit acak-acakan seperti habis diusap-usap tangan sendiri karena rapat yang alot. Senyum yang muncul begitu dia melihat meja kami, senyum yang tidak dibuat-buat. Dua perempuan di meja tengah berhenti mengobrol. Barista mendadak menegakkan punggung.
“Maaf, maaf,” katanya sambil menarik kursi di sebelahku. “Rapat sprint planning. Developer-ku debat soal warna tombol empat puluh menit.”
“Kali ketujuh,” kata Gilang.
“Kamu masih bikin spreadsheet itu?”
“Sampai kamu tobat.”
Evan tertawa, lalu menoleh padaku. “Hai, Nad.”
“Hai.”
Hanya itu. Hai, Nad. Hai. Delapan tahun bersahabat, lima tahun memendam, dan yang keluar dari mulutku cuma tiga huruf. Zaza menendang kakiku di bawah meja. Aku menendang balik. Dia menendang lebih keras. Aku memutuskan untuk berhenti sebelum betisku memar dan Gilang mengeluarkan kotak P3K.
Evan meraih americano-nya, lalu berhenti, menatap gelasnya. “Siapa yang pesan?”
“Ryan,” jawab kami bertiga serentak.
“Thanks, Yan.”
Ryan mengangguk sedikit. Dia sedang mengupas kacang rebus, satu per satu, dan menaruh isinya di piring kecil yang—baru kusadari—digeser pelan-pelan ke arah Gilang, karena Gilang malas mengupas tapi rakus memakan.
Kami mengobrol tentang hal-hal biasa. Klien Zaza yang ingin dekorasi pernikahan bertema “luar angkasa tapi syar’i”. Pasien Gilang yang datang ke apotek minta obat untuk “patah hati yang terasa di lambung” dan Gilang sungguh-sungguh memberinya antasida. Proyek Evan, aplikasi pembayaran yang katanya akan “mengubah cara orang Indonesia membayar parkir”, dan Zaza bertanya apakah aplikasinya juga bisa membuat tukang parkir muncul waktu kita datang dan bukan cuma waktu kita mau pergi.
“Itu fitur fase dua,” kata Evan dengan serius, dan semua tertawa.
Ryan tidak banyak bicara, tapi dia tidak pernah banyak bicara. Dia tertawa di tempat yang tepat—maksudku, bibirnya bergerak sedikit, yang untuk Ryan setara dengan tertawa terbahak-bahak. Sekali, waktu Gilang menjelaskan teori bahwa kopi menyebabkan “kegelisahan eksistensial”, Ryan bilang, “Itu bukan kopinya, Lang. Itu cicilan motormu,” dan Gilang tersedak air putih hangatnya sendiri.
Lalu tagihan datang, dan seperti biasa ada perdebatan tentang siapa yang bayar.
“Aku,” kata Evan.
“Kamu bayar minggu lalu,” kata Zaza.
“Aku,” kata Gilang, lalu menambahkan, “tapi transfer tanggal dua lima.”
“Aku aja.” Ryan sudah mengeluarkan dompet.
Gilang langsung menyambar. “Nah! Biarin Ryan. Dia butuh latihan bayar tepat waktu. Kan orangnya telat lulus.”
Semua tertawa, termasuk aku. Itu lelucon lama. Ryan lulus setahun setelah kami, gara-gara kecelakaan motor yang membuatnya dirawat lama di semester akhir. Dia kecelakaan malam yang sama denganku, sebenarnya—kebetulan yang aneh, seolah malam itu Tuhan sedang ingin menguji seberapa kuat kepanitiaan kami. Tapi Ryan tidak pernah suka membicarakannya, jadi kami mengubahnya jadi lelucon. Ryan Si Telat Lulus. Ryan yang wisudanya cuma dihadiri ibunya dan Gilang, karena kami bertiga sudah mulai kerja di Jakarta.
Ryan tidak pernah tersinggung. Dia cuma bilang, “Iya, iya,” lalu membayar.
Seperti sekarang.
“Iya, iya,” katanya, dan menyerahkan kartu ke pelayan.
Waktu yang laki-laki pergi ke kasir dan toilet, aku mendekat ke Zaza.
“Za.”
“Hm.”
“Aku mau ngomong sesuatu.”
“Kamu mau resign dan jadi petani alpukat.”
“Bukan.”
“Kamu mau potong poni.”
“Za, serius.”
Dia menurunkan ponselnya. Matanya yang tajam, yang sudah mengukur ribuan pengantin dan tahu mana yang akan cerai dalam dua tahun, menatapku lurus. “Oke. Serius.”
Aku menarik napas. “Enam minggu lagi ulang tahun Evan.”
“Yang ke-28. Iya. Gilang sudah bikin grup panitia. Aku sudah dimasukin tanpa persetujuan.”
“Aku mau ngomong ke dia.”
“Ngomong apa?”
“Za.”
Zaza diam. Lalu, dengan lambat, dia meraih es kopi susunya, menyedot, dan tersedak. Bukan tersedak lucu seperti di sinetron. Tersedak sungguhan, sampai matanya berair dan dia harus memukul-mukul dadanya sendiri.
“Za! Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak—” Dia batuk. “Nggak apa-apa. Gula cairnya. Kebanyakan.”
“Gula cairnya kan kamu yang tuang sendiri.”
“Makanya. Aku yang salah.” Dia mengelap mata dengan tisu. Lalu, setelah batuknya reda, dia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Itu langka. Zaza selalu bisa dibaca; dia tidak pernah berusaha menyembunyikan apa pun. Tapi saat itu wajahnya tertutup, seperti pintu yang dikunci dari dalam.
“Nad,” katanya pelan. “Kamu yakin?”
“Lima tahun, Za. Aku sudah nunggu lima tahun. Aku sudah dua puluh tujuh. Kalau aku nggak ngomong sekarang, aku bakal jadi tante-tante di pernikahannya yang nangis di pojok sambil makan puding.”
“Itu bukan alasan buat yakin. Itu alasan buat panik.”
“Ya udah, aku panik dan yakin.”
Zaza membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia melirik ke arah kasir, tempat ketiga laki-laki itu berdiri. Evan sedang tertawa dengan barista. Gilang sedang membaca label komposisi biskuit di rak dekat kasir. Ryan sedang menunggu struk, tangannya di saku, punggungnya sedikit miring ke kanan seperti biasa kalau dia berdiri lama.
“Kamu sayang dia karena dia, atau karena malam itu?” tanya Zaza.
Pertanyaan itu menusuk dengan cara yang tidak kuduga. Aku tertawa, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
“Memangnya beda?”
“Beda, Nad. Beda banget.”
“Malam itu kan bagian dari dia.”
Zaza menatapku lama. Lalu dia menghela napas dan menggenggam tanganku di atas meja. Tangannya dingin karena gelas es.
“Oke,” katanya. “Kalau kamu sudah mutusin, aku dukung. Tapi kamu harus janji satu hal.”
“Apa?”
“Apa pun yang terjadi di ulang tahun itu—apa pun yang dia bilang—kamu jangan langsung benci siapa-siapa. Termasuk dirimu sendiri.”
“Kenapa aku harus benci siapa-siapa?”
“Janji aja.”
“Oke. Janji.” Aku memiringkan kepala. “Kamu aneh malam ini.”
“Aku selalu aneh. Kamu baru sadar.” Dia melepas tanganku, mengambil ponsel lagi, dan wajahnya kembali jadi Zaza yang biasa. “Satu lagi. Jangan bilang Gilang.”
“Kenapa?”
“Karena dalam sepuluh menit seluruh Jakarta Selatan bakal tahu.”
Kami keluar pukul sepuluh kurang. Udara Kemang lembap, sisa hujan sore masih menempel di aspal dan memantulkan lampu-lampu toko. Mobil Zaza diparkir di depan kafe. Gilang naik motor, dan sebelum memakai helm dia mengoleskan minyak kayu putih ke tengkuk “untuk mencegah masuk angin struktural”, apa pun itu.
Evan menunjuk ujung jalan. “Mobilku di parkiran minimarket. Nad, kamu ojol?”
“Iya. Sudah pesan, nunggu di depan apotek sana.”
“Mau kuantar?”
Jantungku melakukan sesuatu yang bodoh. Tapi sebelum aku sempat bilang iya dengan nada yang terlalu bersemangat, ponsel Evan berdering. Dia melihat layar, wajahnya sedikit berubah—sedikit saja, seperti awan lewat—lalu dia tersenyum minta maaf.
“Bokap. Aku angkat dulu ya. Hati-hati, Nad.”
Dia berjalan menjauh sambil menempelkan ponsel ke telinga. Aku menatap punggungnya. Punggung yang lebar, yang lima tahun lalu—menurut semua orang—memunggungi sebuah mobil untukku.
“Ayo,” kata Ryan. “Apoteknya ke arah sana.”
Kami berjalan. Trotoar Kemang sempit dan tidak rata, penuh lubang dan pedagang kaki lima yang sudah mulai membereskan dagangan. Ryan berjalan di sebelah kiriku, dekat jalan, seperti biasa. Langkahnya sedikit lebih pelan dari biasanya, mungkin karena trotoarnya licin. Dia tidak bicara, dan aku tidak keberatan. Diamnya Ryan bukan jenis diam yang canggung. Diamnya Ryan lebih seperti jaket: ada, hangat, tidak perlu dikomentari.
“Yan.”
“Hm.”
“Kamu sama Evan kan paling dekat.”
Ryan tidak langsung menjawab. Sebuah motor lewat terlalu cepat, mencipratkan air dari genangan, dan entah bagaimana tidak setetes pun kena aku. Ryan mengibaskan ujung celananya yang basah dengan santai.
“Kami semua dekat,” katanya akhirnya.
“Tapi kamu sama dia paling lama. Dari SMA, kan?”
“Dari SMA.”
“Menurut kamu...” Aku menggigit bibir. “Menurut kamu, Evan suka cewek yang kayak gimana?”
Langkah Ryan tidak berubah. Tapi ada jeda, satu detik, mungkin dua, sebelum dia menjawab. Di jeda itu, dia menatap lurus ke depan, ke lampu apotek yang berkedip hijau di ujung jalan.
“Yang jujur,” katanya.
“Itu aja?”
“Itu yang paling susah.”
Aku mendengus. “Jawaban kamu kayak kue kering lebaran. Kelihatannya sederhana, tapi bikin seret.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Ryan benar-benar tersenyum. Hanya sudut bibirnya, tapi aku melihatnya di bawah lampu jalan, dan itu membuatku merasa menang sesuatu.
“Ojolmu,” katanya, menunjuk motor yang berhenti di depan apotek.
“Makasih, Yan. Hati-hati pulang. Jangan kecelakaan motor lagi, nanti telat lulus jilid dua.”
“Aku sudah lulus, Nad.”
“Telat lulus dari hidup, maksudnya.”
Dia menggeleng pelan, seperti orang yang sudah terlalu sering menghadapi kebodohanku dan memutuskan bahwa melawan tidak ada gunanya. “Kirim pesan kalau sudah sampai.”
“Iya, Ayah.”
Aku naik ke motor. Waktu motor mulai berjalan, aku menoleh ke belakang. Ryan masih berdiri di depan apotek, tangan di saku, menunggu sampai motorku berbelok. Di ujung jalan sana, kecil di bawah lampu minimarket, Evan masih berbicara di telepon, kepalanya tertunduk, satu tangannya mengusap wajah.
Enam minggu lagi, pikirku.
Enam minggu lagi aku akan berdiri di depan laki-laki yang menyelamatkan hidupku, dan akhirnya mengembalikan empat kata yang sudah lima tahun kusimpan.
Udah. Aku di sini.
Kali ini giliranku yang bilang.
Ponselku bergetar waktu aku sampai di kos. Aku membuka grup circle, siap mengetik sudah sampai, dan menemukan pesan baru dari Gilang di grup yang dia beri nama Panitia HUT Evan ke-28 (JANGAN BILANG EVAN).
Gilang: GAES. Rapat perdana minggu depan. Agenda: tema, tempat, kue, dan satu hal SANGAT PENTING yang aku dengar dari sumber terpercaya 👀👀👀
Aku membeku.
Zaza: Lang. Sumber terpercaya siapa.
Gilang: Rahasia jurnalistik.
Zaza: Kamu apoteker.
Gilang: Apoteker juga punya kode etik. Pasal 7: menjaga kerahasiaan pasien.
Zaza: Siapa pasiennya.
Gilang: ...
Gilang: Pokoknya ada yang mau ngomong sesuatu ke Evan di hari H 🫢
Aku menutup muka dengan bantal dan berteriak tanpa suara.
Bagaimana dia tahu? Aku cuma bilang ke Zaza. Di meja pojok. Waktu Gilang di kasir, membaca komposisi biskuit, sepuluh meter jauhnya—
Biskuit.
Kasir di dekat meja pojok.
Kaca kasir yang memantulkan meja kami.
Gilang bisa membaca gerak bibir. Dia pernah bilang itu waktu kuliah, katanya “skill bertahan hidup anak bungsu dari lima bersaudara”, dan kami semua tidak percaya.
Aku mengetik dengan jari gemetar.
Aku: GILANG.
Gilang: Aku nggak nyebut nama 🤐
Zaza: Kamu barusan nyebut nama dengan cara paling bodoh yang mungkin.
Gilang: Grup ini kan nggak ada Evan-nya. Aman.
Aku menggulir daftar anggota grup. Gilang. Zaza. Aku. Ryan.
Ryan sudah membaca. Tanda centang biru itu ada di sana, tenang, seperti dirinya.
Dia tidak membalas apa-apa.
Lalu, satu menit kemudian, di grup circle yang biasa—yang ada Evan-nya—muncul satu pesan.
Ryan: Nad sudah sampai?
Aku menatap pesan itu lama sekali sebelum menjawab sudah, dan aku tidak tahu kenapa dadaku mendadak terasa hangat dan sesak sekaligus, seperti teh tarik yang diminum terlalu cepat.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah reading
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan