Chapter Thirty One
Bab 31 — Meja Makan Wiratama
POV: Nadira
Rumah keluarga Wiratama di Menteng punya pagar besi hitam setinggi dua meter dan satpam yang memeriksa nama kami di daftar tamu dengan senter, seperti kami tamu kedutaan.
“Ryan Adiputra,” kata satpam itu, membaca kertas. “Nadira Kusumawardhani.”
“Iya, Pak.”
Dia menyorotkan senter ke wajah kami. Lalu ke Si Lumut, yang diparkir di pinggir jalan di belakang kami, hijau lumut dengan penyok di bemper belakang, di antara sedan-sedan hitam dan SUV-SUV putih milik tetangga. Senternya berhenti di penyok itu sedikit terlalu lama.
“Silakan,” katanya akhirnya. “Mas Evan sudah nunggu.”
Pagar terbuka dengan bunyi mesin yang halus. Di dalamnya, halaman rumput yang luas dan rapi, air mancur kecil berbentuk bunga teratai, jalan setapak dari batu alam yang menuju pintu kayu jati setinggi tiga meter. Dan di sebelah kiri, garasi dengan pintu terbuka. Tiga mobil berjejer di dalamnya.
Sedan hitam. SUV putih. Dan mobil klasik yang ditutupi kain.
Aku menatap sedan hitam itu.
Ryan juga.
Kami berdiri di jalan setapak batu alam, di antara halaman rumput dan air mancur, menatap sedan hitam di garasi. Bukan mobil yang sama. Mobil yang sama sudah lama hilang di Semarang. Tapi model yang sama. Warna yang sama. Lampu depan yang sama, yang malam itu dimatikan.
Tangan Ryan, di sisi tubuhnya, mengepal.
Aku meraihnya. Aku tidak menggandengnya. Aku hanya menyentuh punggung tangannya dengan punggung tanganku. Seperti dia menyentuh tanganku di trotoar Kemang. Ringan. Seperti tidak sengaja.
Kepalan tangannya mengendur.
Evan yang membuka pintu kayu jati. Dia memakai kemeja putih yang dikancing sampai leher, rapi sekali, seperti mau wawancara kerja. Rambutnya disisir ke belakang. Matanya merah di pinggir, tapi kering.
“Kalian datang,” katanya.
“Kami bilang datang,” kata Ryan.
Evan menatapnya. Lalu menatapku. Lalu dia mundur selangkah, membuka pintu lebih lebar, dan kami masuk ke rumah yang lebih besar dari seluruh gang rumah Ryan di Pasar Minggu.
Lantai marmer. Langit-langit tinggi dengan lampu kristal. Lukisan-lukisan besar di dinding, pemandangan gunung dan laut dengan bingkai emas. Tangga melingkar ke lantai dua. Dan keheningan. Keheningan yang mahal, yang tebal, yang membuat suara langkah kaki kami terdengar terlalu keras di lantai marmer.
“Papa di ruang makan,” kata Evan pelan. “Mama juga. Kenzo...” Dia berhenti. “Kenzo di dapur. Dia nggak mau keluar. Dia bilang dia belum siap. Dia bilang dia mau dengar dari dapur.”
“Nggak apa-apa,” kata Ryan.
Evan menatapnya. “Yan. Jangan bilang nggak apa-apa malam ini.”
Ryan diam.
“Satu malam aja,” kata Evan. “Jangan bilang nggak apa-apa ke siapa pun. Termasuk ke aku.”
Ruang makan itu panjang. Meja kayu jati yang mengilap, dua belas kursi. Delapan di antaranya ditutupi sarung kain putih, seperti hantu yang duduk diam. Empat yang lain terbuka.
Di kepala meja, seorang laki-laki berusia enam puluhan dengan rambut putih yang disisir rapi dan wajah yang tidak bergerak. Kemeja batik sutra cokelat tua. Jam tangan emas. Di depannya, piring porselen dengan potongan daging yang dipotong dengan presisi, garpu dan pisau yang diletakkan sejajar.
Pak Hendrawan Wiratama.
Di sebelah kanannya, seorang perempuan dengan rambut disanggul rapi dan cincin kawin yang terlalu besar untuk jarinya yang kurus. Dia menunduk ke piringnya. Waktu kami masuk, dia mengangkat kepala sedikit, menatap kami, lalu menunduk lagi.
Pak Hendrawan tidak berdiri.
Dia menatap kami. Ryan dengan kaos hitam leher bulat dan celana panjang abu-abu. Aku dengan kemeja biru muda dan lipstik merah tua yang kujanjikan. Lalu dia menatap Evan.
“Ini tamunya?” tanyanya. Suaranya rendah, rata, tanpa nada.
“Iya, Pa.”
“Teman kuliahmu?”
“Iya.”
“Duduk,” kata Pak Hendrawan pada kami. Bukan undangan. Perintah. Dia menunjuk dua kursi kosong di sebelah kiri, di sebelah kursi Evan.
Kami duduk. Ryan di sebelah Evan. Aku di sebelah Ryan. Di depanku, piring porselen kosong dengan sendok, garpu, dan pisau perak yang ditata sempurna.
Pak Hendrawan mengambil garpunya. Dia memotong daging. Dia mengunyah. Seolah kami tidak ada.
Evan tidak duduk.
“Pa,” katanya.
Pak Hendrawan mengunyah.
“Pa, ini Ryan.”
“Kamu sudah bilang. Teman kuliah.”
“Ryan Adiputra.” Suara Evan bergetar sedikit. “Mahasiswa yang ditabrak di depan gerbang kampus. Lima tahun lalu. Malam November.”
Garpu Pak Hendrawan berhenti di udara.
“Dan ini Nadira,” lanjut Evan. “Nadira Kusumawardhani. Perempuan yang hampir ditabrak malam itu. Yang Ryan selamatkan.”
Di sebelah Pak Hendrawan, Mama Evan menjatuhkan sendoknya. Bunyinya nyaring di piring porselen, ting, lalu sunyi.
Pak Hendrawan meletakkan garpunya. Pelan. Sejajar dengan pisau. Pukul empat lewat dua puluh.
Dia mengangkat kepala dan menatap Ryan. Lama. Dengan mata yang tidak berkedip. Mata yang aku tahu sekarang, dari cerita Evan, sudah menatap banyak orang dengan cara yang sama. Polisi. Kenalan di bengkel Semarang. Kasir rumah sakit di Bandung.
“Saya sudah bertanggung jawab,” katanya.
Suaranya tetap rata. Tidak ada getaran sama sekali.
“Semua biaya rumah sakit. Operasi. Rehabilitasi. Fisioterapi. Untuk kalian berdua.” Dia menatapku sebentar, lalu kembali ke Ryan. “Saya tidak menghindar. Saya membayar.”
“Lewat yayasan,” kata Evan. “Biar nggak ada yang tahu.”
“Biar tidak ada yang terganggu,” koreksi Pak Hendrawan. “Ada perbedaan.”
“Bu Ratna sujud syukur di musala rumah sakit, Pa,” kata Evan. Suaranya naik. “Dia kira itu keajaiban. Lima tahun dia cerita ke semua orang soal keajaiban. Dia nggak tahu itu uang dari orang yang nyembunyiin mobil yang nabrak anaknya.”
Pak Hendrawan menatap Evan. “Kamu mau ibu itu tahu? Kamu mau dia menuntut? Kamu mau adikmu masuk penjara? Tujuh belas tahun, mabuk, tanpa SIM, tabrak lari. Kamu tahu berapa tahun hukumannya?”
“Dia udah dihukum lima tahun, Pa! Di kamar mandi! Di Bogor!”
“Dan sekarang dia sudah sembuh. Karena saya.” Pak Hendrawan mengambil serbet dari pangkuannya, melipatnya, meletakkannya di sebelah piring. “Saya melindungi keluarga ini. Saya melindungi kamu. Saya melindungi adikmu. Dan saya membayar korban. Itu tanggung jawab. Itu yang dilakukan orang dewasa.”
Lalu dia menatap Ryan lagi. Dari atas ke bawah. Kaos hitam leher bulat. Bahu yang sedikit lebih tinggi di sebelah kanan karena perban. Kaki kiri yang diluruskan sedikit di bawah meja.
“Anak ibu katering,” katanya. Pelan. Seperti membaca data. “Saya sudah cek. Ayahnya meninggal waktu dia sebelas tahun. Rumah di gang di Pasar Minggu. Waktu itu, biaya rumah sakitnya lebih dari penghasilan ibunya tiga tahun.” Dia mengangkat bahu, sangat sedikit. “Tanpa saya, dia tidak akan bisa jalan lagi. Itu fakta.”
Aku tidak ingat aku berdiri.
Aku hanya tahu bahwa satu detik aku duduk di kursi kayu jati dengan piring porselen kosong di depanku, dan detik berikutnya aku sudah berdiri di antara Ryan dan kepala meja.
Bukan di samping Ryan. Di depannya. Di antara dia dan laki-laki berambut putih dengan jam tangan emas. Bahuku sedikit maju. Tubuhku tahu posisinya sendiri.
Seperti sisi jalan.
“Bapak,” kataku.
Pak Hendrawan menatapku. Untuk pertama kalinya sejak kami masuk, alisnya bergerak. Sedikit.
“Bapak bilang Bapak sudah bertanggung jawab,” kataku. Suaraku bergetar, tapi aku tidak berhenti. “Bapak bilang Bapak membayar.”
“Saya membayar.”
“Bapak membayar kasir. Bapak membayar dokter. Bapak membayar yayasan.” Aku menarik napas. Tarik empat. Tahan empat. “Tapi Bapak nggak pernah bayar yang paling mahal.”
“Apa itu?”
“Kebenaran, Pak.”
Ruang makan itu sunyi. Delapan kursi bersarung putih menatap kami seperti hantu-hantu yang menunggu.
“Bapak tahu berapa lama Ryan belajar jalan lagi?” tanyaku. “Empat bulan. Pakai dua tongkat. Terus satu tongkat. Terus pincang. Dia wisuda pakai tongkat, Pak. Setahun setelah teman-temannya. Dan teman-temannya ketawain dia lima tahun. ‘Telat lulus.’ Karena nggak ada yang tahu kenapa dia telat.”
Pak Hendrawan tidak bergerak.
“Bapak tahu dia pelari?” lanjutku. “Juara lima ribu meter. Dapat beasiswa atlet. Pelatihnya bilang dia bisa ke pelatnas. Ada medalinya di rak kaca di rumahnya. Di rumah di gang yang Bapak bilang tadi. Belasan medali. Ibunya bersihin raknya tiap hari, padahal nggak ada debunya.”
Aku mendengar suara kecil dari ujung meja. Mama Evan. Dia menutup mulut dengan serbet.
“Bapak bayar operasinya,” kataku. “Tapi Bapak nggak bisa bayar lintasan larinya. Bapak nggak bisa bayar beasiswanya. Bapak nggak bisa bayar lima tahun dia nggak buka baju di depan siapa pun karena malu sama punggungnya. Bapak nggak bisa bayar lima tahun dia nyimpen rahasia buat aku sendirian, sambil anak Bapak dapat kredit yang bukan punyanya.”
Evan, di sebelah Ryan, menunduk.
“Dan Bapak nggak bisa bayar ibunya yang sujud syukur di musala rumah sakit,” kataku, dan sekarang suaraku pecah, “buat uang yang Bapak kasih supaya dia nggak nanya.”
Pak Hendrawan menatapku lama.
Lalu dia mengambil serbetnya lagi. Membukanya. Melipatnya lagi.
“Anak muda,” katanya. “Kamu tidak mengerti bagaimana dunia bekerja.”
“Saya mengerti, Pak.” Aku tidak mundur. “Saya copywriter. Kerjaan saya bikin orang percaya sesuatu yang dibayar. Saya tahu persis bagaimana dunia Bapak bekerja.”
Di belakangku, aku merasakan sesuatu. Tangan. Di punggungku, di antara tulang belikat. Ringan. Hangat.
Ryan. Masih duduk. Tangannya di punggungku. Bukan menarikku kembali. Hanya ada di sana.
“Pa.”
Evan. Dia berdiri di sebelah kursinya. Tegak. Tangan di sisi tubuh. Seperti anak SMA kurus di belakang kantin, yang lututnya gemetar tapi berdiri juga.
“Aku nggak minta Papa nyerahin Kenzo ke polisi,” katanya. “Ryan nggak mau. Nadira nggak mau. Aku juga nggak mau. Kenzo udah cukup dihukum.” Dia menarik napas. “Tapi aku minta satu hal.”
Pak Hendrawan menatapnya.
“Papa ke rumah Bu Ratna,” kata Evan. “Duduk di kursi rotannya. Bilang sendiri. Pakai mulut Papa. Bahwa uang di rumah sakit itu dari Papa. Kenapa Papa kasih. Dan minta maaf.”
“Minta maaf.” Pak Hendrawan mengulang kata itu seolah dia belum pernah mendengarnya. “Kepada ibu katering.”
“Kepada ibu yang anaknya hampir lumpuh karena anak Papa.”
“Dan kalau saya tidak mau?”
Evan diam sebentar. Lalu dia mengangkat dagu.
“Aku nggak ambil kursi direktur pengembangan,” katanya. “Aku nggak ambil apa pun dari perusahaan. Aku nggak datang makan malam Minggu lagi.” Suaranya bergetar, tapi tidak pecah. “Aku udah lima tahun jadi anak Papa. Diam kayak Papa. Bayar orang biar nggak nanya, kayak Papa. Aku nggak mau lagi.”
Pak Hendrawan menatap anaknya. Lama. Wajahnya tidak bergerak sama sekali.
Lalu dia berdiri.
Dia meletakkan serbet di kursinya. Dia merapikan kemeja batik sutranya. Dia menatap kami bertiga, aku yang berdiri di depan Ryan, Ryan yang duduk dengan tangan di punggungku, Evan yang berdiri tegak di sebelah kursinya.
“Saya ada telepon dari Surabaya,” katanya.
Dan dia berjalan keluar dari ruang makan. Ke lorong. Ke ruang kerja. Pintu tertutup.
Ruang makan itu sunyi lama.
Lalu ada suara dari ujung meja.
Mama Evan. Dia berdiri. Pelan. Seperti seseorang yang sudah lama sekali tidak berdiri dari kursi itu sebelum suaminya. Dia meletakkan serbet di piringnya. Dia menatap pintu ruang kerja yang tertutup. Lalu dia menatap kami.
“Lima tahun,” katanya. Suaranya kecil, serak, seperti suara yang jarang dipakai. “Lima tahun saya duduk di kursi ini dan nggak bilang apa-apa.”
“Ma,” kata Evan.
“Saya tahu, Van. Dari malam itu. Saya lihat mobilnya di basement hotel. Saya lihat Kenzo nangis di kamar mandi. Saya lihat Papa nelepon orang-orang.” Dia memegang sandaran kursinya, kuat-kuat, sampai buku-buku jarinya putih. “Saya diam. Karena saya selalu diam. Karena kalau saya bicara, Papa akan diam ke saya berbulan-bulan, dan saya takut.”
Dia berjalan memutari meja. Melewati delapan kursi bersarung putih. Sampai ke tempat Ryan duduk.
Dia berhenti di sebelahnya. Dia menatap Ryan. Laki-laki yang anaknya hampir lumpuhkan.
Lalu, perlahan, Mama Evan membungkuk. Dalam. Sampai kepalanya hampir menyentuh meja kayu jati.
“Maaf,” katanya. “Maaf, Nak. Saya minta maaf. Untuk anak saya. Untuk suami saya. Untuk saya sendiri yang diam.”
Ryan menatapnya. Dia tidak bergerak.
Lalu, dari pintu dapur di ujung ruang makan, terdengar suara.
Isak. Tertahan. Seperti seseorang yang menutup mulutnya dengan dua tangan dan tidak berhasil.
Kami semua menoleh.
Pintu dapur terbuka sedikit. Di celahnya, seorang laki-laki muda dengan rambut pendek dan kemeja polos yang terlalu rapi berdiri dengan punggung bersandar ke kusen, tangan menutupi mulut, bahu berguncang.
Kenzo.
Dia tidak keluar. Dia tidak bisa keluar. Dia hanya berdiri di sana, di celah pintu dapur, menatap Ryan dari jauh dengan mata yang merah dan basah dan terlalu besar untuk wajahnya.
Ryan menatapnya balik.
Lama. Melintasi ruang makan yang panjang, melintasi delapan kursi bersarung putih dan lampu kristal dan meja kayu jati yang mengilap.
Lalu Ryan mengangguk. Sekali. Pelan.
Bukan nggak apa-apa. Bukan maaf. Hanya anggukan. Seperti orang yang bilang aku lihat kamu.
Kenzo merosot ke lantai di balik pintu dapur, dan kami mendengarnya menangis seperti anak kecil.
Kami keluar dari rumah keluarga Wiratama pukul delapan malam.
Tiga orang. Aku, Ryan, dan Evan.
Evan tidak membawa apa-apa. Tidak tas. Tidak jaket. Dia berjalan di jalan setapak batu alam di antara halaman rumput dan air mancur berbentuk teratai, dengan kemeja putih yang dikancing sampai leher, dan dia tidak menoleh ke belakang sekali pun.
Satpam di pagar menatapnya dengan bingung. “Mas Evan? Mau ke mana, Mas? Mobilnya?”
“Mobilnya punya Papa, Pak,” kata Evan. “Saya jalan aja.”
Pagar terbuka. Kami keluar ke trotoar.
Dan di sana, di pinggir jalan, di belakang Si Lumut yang hijau lumut dengan penyok di bemper belakang, ada mobil lain yang diparkir dengan lampu hazard menyala.
Mobil Zaza.
Zaza bersandar di kap mesinnya, dengan kaos kebesaran dan celana jins dan rambut diikat asal-asalan. Dia menatap kami bertiga keluar dari pagar rumah Wiratama.
Dia menatap Evan.
Evan berhenti di trotoar.
“Kamu ngapain di sini, Za?” tanya Evan. Suaranya hampir tidak terdengar.
Zaza tidak menjawab langsung. Dia menegakkan badan dari kap mesin. Dia berjalan ke arah Evan, pelan, di trotoar Menteng yang sepi, di bawah lampu jalan yang terang.
“Nunggu,” katanya.
“Dari kapan?”
“Dari jam tujuh.” Dia berhenti di depan Evan. “Aku bilang aku jago nunggu.”
Evan menatapnya. Dan aku melihat wajahnya, wajah Evan yang selama lima tahun selalu tersenyum, yang membuat barista menegakkan punggung, yang selalu jadi pusat ruangan. Wajah itu runtuh. Pelan-pelan. Seperti bangunan yang fondasinya akhirnya menyerah.
“Za,” katanya. “Aku nggak punya apa-apa sekarang. Aku baru keluar dari rumah itu. Aku nggak punya mobil. Aku mungkin nggak punya kerjaan bulan depan, kalau Papa telepon bosku.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak punya apa-apa buat dikasih ke kamu.”
Zaza menatapnya lama. Lalu dia mengulurkan tangan dan merapikan kerah kemeja Evan. Pelan. Seperti merapikan kerah pengantin sebelum keluar ke pelaminan.
“Kamu punya dirimu sendiri,” katanya. “Akhirnya.”
Evan menutup mata.
Zaza menarik tangannya. “Masuk mobil. Aku antar kamu pulang.” Dia berbalik ke arah mobilnya. Lalu berhenti. Lalu menoleh. “Tapi kita belum ngobrol. Itu nanti. Kamu masih harus ngomong sesuatu ke aku. Pakai mulutmu sendiri.”
“Iya,” kata Evan. “Iya, Za.”
Dia berjalan ke mobil Zaza dan masuk ke kursi penumpang. Zaza masuk ke kursi pengemudi. Lampu hazard mati. Mesin menyala.
Sebelum pergi, Zaza menurunkan kaca jendela dan menatapku. Lalu menatap Ryan, yang berdiri di sebelahku di trotoar.
“Kalian juga,” katanya. “Belum selesai ngobrol.”
Lalu dia pergi.
Tinggal aku dan Ryan. Di trotoar Menteng yang sepi, di bawah lampu jalan, di depan pagar besi hitam setinggi dua meter.
Ryan menatap ujung jalan tempat mobil Zaza menghilang. Lalu dia menatap pagar rumah Wiratama di belakang kami. Lalu dia menatapku.
“Kamu berdiri di depanku,” katanya pelan.
“Iya.”
“Di meja makan. Di antara aku sama bapaknya Evan.”
“Iya.”
Dia diam lama. Lampu jalan di atas kepala kami berdengung. Di kejauhan, suara kendaraan dari Jalan Diponegoro, samar, seperti sungai yang jauh.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku menatapnya. Aku menatap wajahnya di bawah lampu jalan. Garis merah muda tipis di pipi. Mata yang tidak datar sama sekali malam ini.
“Karena sisi jalan, Yan,” kataku. “Kadang-kadang giliran orang lain yang berdiri di situ.”
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama reading
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan