← Udah, Aku di Sini

Chapter Thirty Seven

Bab 37 — Double Date

POV: Nadira


Evan pindah ke kos di Tebet.

Kos campur tiga lantai, dua ratus meter dari apotek Gilang, dengan kamar empat kali empat meter, kipas angin berdiri, dan kamar mandi di luar yang dipakai bersama tujuh penghuni lain. Apartemennya di Kuningan ternyata atas nama perusahaan Papa-nya. Satu minggu setelah makan malam di Menteng, datang surat dari pengelola gedung yang sangat sopan dan sangat jelas.

“Aku dikasih waktu tiga hari buat keluar,” kata Evan di grup circle. “Sopan banget suratnya. Ada kata ‘dengan hormat’-nya tiga kali.”

Gilang: KOS DI DEKAT APOTEKKU ADA YANG KOSONG

Gilang: 1,2 JUTA. AIR TERMASUK. LISTRIK TOKEN.

Gilang: IBU KOSNYA PELANGGANKU. DIA BELI OBAT ASAM URAT TIAP MINGGU. AKU BISA NEGO.

Evan: Lang aku nggak pernah tinggal di kos

Gilang: Sekarang pernah.

Pekerjaannya selamat. Bos startup-nya ternyata perempuan muda keras kepala yang, waktu ditelepon seseorang dari kantor Pak Hendrawan dan “disarankan” untuk mempertimbangkan ulang posisi Evan, bilang dengan sangat sopan bahwa perusahaannya tidak menerima saran dari pihak yang tidak punya saham. Evan menceritakannya di grup dengan tiga puluh emoji menangis.

Tapi Evan dan Zaza belum bicara.

Dua minggu. Zaza mengantar Evan pulang dari Menteng malam itu, menurunkannya di depan apartemen yang ternyata bukan miliknya, dan sejak itu mereka berdua bersikap seperti dua orang yang berdiri di dua ujung jembatan dan tidak ada yang mau menyeberang duluan.

Di grup, mereka saling membalas pesan. Sopan. Pendek. Iya, Za. Oke, Van. Seperti rekan kerja.

“Ini nggak bisa dibiarin,” kata Gilang di telepon. “Ini krisis. Aku udah konsultasi ke diriku sendiri.”

“Terus?”

“Kita butuh double date.”


Ternyata double date yang dimaksud Gilang adalah triple date. Gilang memutuskan untuk membawa kencan butanya sendiri.

“Ini efisiensi,” katanya waktu kami semua bertemu di depan restoran Korea di Kemang pada Jumat malam. “Tiga pasangan. Satu meja. Satu tagihan. Aku sudah hitung. Hemat dua belas persen.”

Kencan buta Gilang bernama Laras. Sepupu teman kuliah Gilang di Fakultas Farmasi. Dua puluh enam tahun, guru SD, dengan rambut sebahu dan senyum ramah dan cardigan kuning pastel. Dia terlihat seperti orang yang sangat baik dan sama sekali tidak tahu apa yang akan dia hadapi.

Evan datang dengan kaos polos dan celana jins, tanpa kemeja mahal, tanpa jam tangan. Rambutnya sedikit lebih panjang dari biasanya. Dia terlihat lebih muda, entah kenapa. Atau mungkin lebih ringan.

Zaza datang terakhir. Dia memakai gaun hitam sederhana dan lipstik nude dan wajah yang sangat datar. Dia melihat Evan. Evan melihatnya.

Mereka berdua mengangguk. Sopan. Seperti rekan kerja.

“Ya ampun,” bisik Gilang padaku. “Ini lebih parah dari yang aku kira.”


Restoran Korea itu punya meja panjang dengan panggangan di tengah. Kami duduk berenam. Aku di sebelah Ryan. Zaza di seberang kami. Evan di sebelah Zaza, karena Gilang—dengan kecepatan yang mengejutkan—sudah menarik kursi lain supaya tidak ada pilihan selain itu. Gilang di ujung, dengan Laras di sebelahnya.

Ryan memanggang daging. Tentu saja. Ryan yang selalu memanggang. Dia membalik daging dengan penjepit dengan konsentrasi seorang pembuat peta yang menghitung kemiringan lahan, memotongnya dengan gunting jadi potongan kecil, dan menaruhnya di piring semua orang. Piringku dulu. Lalu Zaza. Lalu Laras. Lalu Evan. Lalu Gilang. Terakhir dirinya sendiri.

“Mas Ryan selalu begini?” tanya Laras, terkesan.

“Selalu,” kata kami berlima serentak.

Lalu Gilang memulai percakapan.

“Jadi, Laras,” katanya, dengan nada seorang apoteker yang sedang mewawancarai pasien. “Ada riwayat alergi?”

Laras mengedip. “Maaf?”

“Alergi. Obat, makanan, debu, bulu kucing. Aku tanya karena aku punya kucing di apotek. Namanya Pak RT. Dia gemuk. Bulunya rontok banyak.”

“Oh.” Laras tersenyum, sedikit bingung. “Nggak ada, Mas. Saya nggak alergi apa-apa.”

“Bagus. Bagus.” Gilang mengangguk. “Riwayat penyakit dalam keluarga? Diabetes? Hipertensi? Asam urat?”

Zaza menendang kaki Gilang di bawah meja. Keras. Aku mendengar bunyinya.

“Lang,” kata Zaza. “Ini kencan. Bukan anamnesis.”

“Itu pertanyaan penting, Za! Kalau mau membangun hubungan jangka panjang, harus tahu faktor risiko kesehatan pasangan—”

Laras meletakkan sumpitnya.

“Mas Gilang,” katanya, dengan senyum yang masih ramah tapi mulai kaku di pinggir. “Tadi di depan restoran Mas tanya golongan darah saya.”

“Itu buat jaga-jaga. Kalau ada kecelakaan.”

“Terus di parkiran Mas tanya saya terakhir tetanus kapan.”

“Kamu guru SD. Anak SD suka main paku.”

Laras menatap Gilang lama. Lalu dia menatap kami semua. Lalu dia tersenyum, sangat sopan, dan berdiri.

“Saya permisi ke toilet sebentar,” katanya.

Dia tidak kembali.

Dua puluh menit kemudian, Gilang menerima pesan. Dia membacanya. Wajahnya turun.

“Dia bilang,” katanya pelan, “ada urusan mendadak. Muridnya. Kecelakaan. Main paku.”

Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang berani.

Lalu Ryan, tanpa bicara, menaruh potongan daging terakhir dari panggangan ke piring Gilang. Potongan yang paling besar. Yang paling banyak lemaknya.

Gilang menatap daging itu.

“Makan, Lang,” kata Ryan.

Gilang makan. Dengan mata yang sedikit basah.


Setelah makan, karaoke. Itu bagian kedua dari rencana Gilang, yang sekarang dia jalankan sendirian, tanpa kencan buta, dengan semangat orang yang menolak menyerah.

Ruang karaoke di lantai dua restoran itu kecil, dengan sofa kulit merah yang sudah robek di beberapa tempat, layar televisi besar, dan dua mikrofon yang kabelnya diselotip. Gilang langsung mengambil satu mikrofon dan memilih lagu dangdut koplo dengan BPM yang, katanya, “optimal untuk mengatasi patah hati”.

Dia menyanyi dengan seluruh jiwanya. Fals. Sangat fals. Dengan gerakan tangan yang dramatis dan mata terpejam dan suara yang naik ke nada yang tidak ada.

Aku tertawa sampai menangis. Ryan, di sebelahku di sofa, menutup mulut dengan punggung tangan dan bahunya berguncang. Evan tertawa dengan kepala ke belakang.

Zaza tidak tertawa.

Zaza duduk di ujung sofa, dengan tangan bersilang di dada, menatap layar televisi tanpa melihat apa-apa.

Lagu Gilang selesai. Dia membungkuk ke penonton yang terdiri dari empat orang. Kami bertepuk tangan. Gilang menyerahkan mikrofon pada Evan.

“Giliranmu, Van.”

Evan menatap mikrofon itu. Lalu dia menatap Zaza. Lalu dia mengambil remote dan memilih lagu.

Bukan dangdut. Bukan pop yang ceria.

Balada lama. Lagu Indonesia tahun sembilan puluhan yang sering diputar di radio waktu kami kuliah. Lagu tentang seseorang yang selalu ada di dekatmu dan tidak pernah kau sadari, sampai suatu hari kau berbalik dan dia sudah lama di sana.

Intro piano mulai. Pelan.

Zaza menegakkan duduknya.

Evan menyanyi. Suaranya tidak bagus. Evan tidak pernah bisa menyanyi. Tapi dia menyanyi dengan mata terbuka, dan matanya tidak menatap layar televisi. Matanya menatap ujung sofa.

Gilang, yang sedang mengunyah keripik, berhenti mengunyah.

Ryan, di sebelahku, menegang. Tangannya menemukan tanganku di sofa dan menggenggamnya.

Zaza menatap Evan. Lalu menatap lantai. Lalu menatap Evan lagi. Rahangnya mengeras. Matanya mulai merah.

Di bagian reff, waktu liriknya bicara tentang orang yang menunggu terlalu lama, Zaza berdiri.

Dia mengambil tasnya. Dia berjalan keluar dari ruang karaoke. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan.

Evan berhenti menyanyi. Musik terus berputar. Lirik terus berjalan di layar, kata-kata putih di latar biru, tanpa ada yang menyanyikan.

“Van,” kataku.

Evan meletakkan mikrofon di meja. Dia menatap pintu.

“Kejar,” kata Ryan.

Evan menoleh.

“Kejar, Van,” ulang Ryan. Pelan. Tegas. “Jangan nunggu dia nyeberang duluan.”

Evan menatap sahabatnya lama. Lalu dia berdiri dan keluar.


Kami bertiga tidak bisa menahan diri.

Kami turun ke lantai dasar, keluar dari pintu samping restoran, ke parkiran. Kami bersembunyi di balik Si Lumut. Aku, Ryan, dan Gilang, berjongkok di balik mobil hijau lumut dengan penyok di bemper belakang, mengintip lewat kaca jendela seperti tiga detektif amatir.

“Ini nggak etis,” bisik Ryan.

“Ini dokumentasi historis,” bisik Gilang.

“Diem,” bisikku. “Aku nggak bisa dengar.”

Di ujung parkiran, di bawah lampu jalan, Zaza berdiri di samping mobilnya. Dia tidak masuk. Dia berdiri dengan punggung bersandar ke pintu mobil, kepala tertunduk, tas di tangan.

Evan berhenti tiga meter darinya.

“Za.”

Zaza tidak mengangkat kepala.

“Za, aku—”

“Kamu nyanyi lagu itu,” kata Zaza. Suaranya rendah, bergetar. “Lagu itu. Di depan semua orang.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak tahu cara lain buat bilang.”

“Kamu product manager, Van. Kerjaanmu bikin presentasi. Kamu bisa bikin slide.”

“Aku nggak mau bikin slide buat ini.”

Zaza akhirnya mengangkat kepala. Di bawah lampu jalan, matanya merah dan basah.

“Terus kamu mau apa?”

Evan melangkah maju. Satu langkah. Dua.

“Kamu bilang di depan rumah Papa,” katanya. “Pakai mulutku sendiri. Kamu bilang kita belum ngobrol. Kamu bilang aku masih harus ngomong sesuatu.”

Zaza diam.

“Dua minggu aku mikirin mau ngomong apa,” kata Evan. “Aku bikin draf. Banyak. Di notes HP. Aku hapus semua. Karena semua drafnya kedengeran kayak aku lagi presentasi ke investor.”

Di balik Si Lumut, Gilang meremas lenganku.

“Jadi aku nggak pakai draf,” kata Evan. Dia berhenti di depan Zaza. Sangat dekat. “Aku pakai mulutku sendiri.”

Dia menarik napas.

“Aku sayang kamu, Za.”

Zaza tidak bergerak.

“Bukan karena kamu nunggu enam tahun,” lanjut Evan. Suaranya bergetar, tapi dia tidak berhenti. “Bukan karena kamu nunggu di depan rumah Papa dari jam tujuh. Bukan karena kamu ngasih aku tisu di jok belakang mobil. Bukan karena kamu tidur di bahuku di macet Puncak dan aku nggak berani gerak sepanjang jalan.”

“Kamu...” Zaza tersedak. “Kamu nggak tidur waktu itu?”

“Aku nggak tidur sedetik pun.” Evan tertawa, basah. “Aku takut kalau aku gerak, kamu bangun dan pindah.”

Zaza menutup mulut dengan tangan.

“Aku sayang kamu,” kata Evan lagi, “karena kamu satu-satunya orang yang nggak pernah minta aku jadi orang lain. Papa minta aku jadi direktur. Nadira lihat aku kayak pahlawan. Semua orang di kafe lihat aku kayak pusat ruangan.” Dia mengusap mata dengan punggung tangan. “Kamu cuma lihat aku. Yang telat. Yang nggak bisa pesan makanan tanpa nanya semua orang. Yang pengecut. Kamu marahin aku. Kamu tendang kakiku. Kamu bilang aku pengecut di depan mukaku.”

“Kamu memang pengecut,” bisik Zaza dari balik tangannya.

“Iya.” Evan tersenyum. “Tapi sekarang aku lagi berusaha nggak.”


Zaza menurunkan tangannya.

Dia menatap Evan. Lama. Di bawah lampu jalan parkiran restoran Korea di Kemang, dengan maskara yang mulai luntur dan bibir yang gemetar.

“Telat enam tahun,” katanya.

“Aku tahu.”

“Enam tahun, Van.”

“Aku belajar dari Ryan.” Evan mengangkat bahu. “Ryan lima tahun. Aku enam. Kami berdua lambat.”

Di balik Si Lumut, Ryan mengeluarkan suara kecil. Separuh tawa, separuh protes.

Zaza tertawa. Pecah. Basah. Dia menutup wajah dengan dua tangan, dan bahunya berguncang, dan dia menangis dan tertawa sekaligus.

Evan tidak bergerak. Dia menunggu.

Lalu Zaza menurunkan tangannya, melangkah maju, meraih kerah kaos polos Evan dengan dua tangan, dan menariknya.

Dan menciumnya.

Di balik Si Lumut, Gilang menjerit tanpa suara. Mulutnya terbuka lebar, tangannya mencengkeram lenganku sampai sakit, kakinya menendang-nendang aspal. Aku menutup mulutnya dengan tangan sebelum suara apa pun keluar.

Ryan, di sebelahku, menatap Evan dan Zaza dengan wajah datar. Tapi matanya basah.

“Aku dari dulu tahu,” bisiknya.

“Kamu tahu Zaza suka Evan?”

“Aku tahu Evan suka Zaza.” Dia menatap sahabatnya di ujung parkiran, yang sekarang memeluk Zaza dengan dua tangan, kepala ditundukkan, bahu berguncang. “Dari tahun ketiga. Dia selalu duduk di sebelah Zaza kalau Zaza lagi marah. Biar dia yang kena.”

Aku menatap Ryan.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

“Bukan rahasiaku.”


Lima menit kemudian, Zaza berjalan kembali ke arah restoran. Dengan tangan Evan di tangannya. Dengan maskara yang sudah sepenuhnya luntur dan wajah merah dan senyum yang dia coba tahan dan tidak berhasil.

Dia melihat kami. Tiga kepala yang mengintip dari balik Si Lumut.

Dia berhenti.

“Kalian,” katanya.

Kami berdiri. Pelan. Gilang dengan lutut yang kotor karena berjongkok di aspal. Ryan dengan kaki kiri yang kaku. Aku dengan wajah yang pasti sama merahnya dengan wajah Zaza.

“Kalian lihat semuanya,” kata Zaza.

“Nggak,” kata Gilang. “Kami lagi ngecek ban.”

“Ban Si Lumut.”

“Bannya kempes. Sedikit. Itu darurat.”

Zaza menatap kami bertiga. Lalu dia menatapku. Matanya merah. Pipinya basah.

“Kamu nangis, Za,” kataku pelan.

“Nggak,” kata Zaza. Dia mengangkat dagu. “Gula cair. Kebanyakan.”

“Kamu nggak minum apa-apa di restoran Korea.”

“Kebanyakan gula cair di jiwaku,” kata Zaza, dan dia tertawa, dan dia menangis lagi, dan aku memeluknya, dan dia memelukku balik, keras, di parkiran restoran Korea di Kemang, dengan tangan yang satunya masih menggenggam tangan Evan.

“Selamat, Za,” bisikku ke bahunya. “Selamat.”

“Kamu duluan,” bisik Zaza balik. “Kamu duluan, terus aku. Kita gantian.”


Gilang pulang terakhir.

Dia berdiri di trotoar depan restoran Korea, dengan minyak kayu putih di tengkuk dan helm yang belum dikancingkan, menatap Evan dan Zaza yang masuk ke mobil Zaza bersama. Menatap aku dan Ryan yang berdiri di samping Si Lumut.

“Jadi,” katanya. “Aku satu-satunya yang jomblo.”

Tidak ada yang tahu harus bilang apa.

“Dua dari empat sahabatku jadian dalam dua minggu,” lanjut Gilang. “Dan kencan butaku kabur lewat toilet karena aku nanya soal tetanus.”

“Lang—”

“Aku nggak apa-apa.” Gilang menarik napas panjang. “Ini secara statistik masuk akal. Probabilitas. Aku cuma di sisi yang kurang beruntung dari kurva distribusi.”

Ryan berjalan ke arahnya. Dia berdiri di sebelah Gilang di trotoar. Lalu dia meletakkan tangan di bahu Gilang. Sekali. Lalu tangannya tetap di sana.

“Lang,” katanya.

“Hm?”

“Lain kali, jangan tanya tetanus di kencan pertama.”

Gilang menatapnya.

“Tanya di kencan ketiga,” kata Ryan. “Biar dia tahu kamu peduli.”

Gilang menatap Ryan lama. Lalu, pelan, dia tertawa. Lalu tawanya pecah jadi sesuatu yang lain, dan dia memeluk Ryan, keras, di trotoar Kemang, dengan helm yang belum dikancingkan miring di kepalanya.

“Kamu tahu nggak, Yan,” katanya ke bahu Ryan. “Kamu yang ngajarin aku jadi orang baik. Dari dulu. Kamu ngupasin kacangku delapan tahun.”

“Kamu malas ngupas.”

“Aku belajar ngupas. Dua minggu terakhir. Tiap malam di apotek. Pak RT jadi saksi.” Gilang melepaskannya. Matanya basah. “Aku udah bisa sepuluh kacang semenit.”

“Bagus, Lang.”

“Kencan ketiga,” ulang Gilang, mengangguk-angguk dengan serius, seperti mencatat resep. “Tetanus di kencan ketiga.”

Dia memakai helmnya, mengancingkannya untuk pertama kalinya dalam sejarah, naik ke motor bebeknya, dan pergi.

Aku dan Ryan berdiri di trotoar, menatap lampu belakang motor Gilang menghilang di ujung jalan.

“Dia bakal nemu seseorang,” kataku.

“Iya.”

“Kamu yakin?”

Ryan menoleh dan menatapku.

“Kamu nemu aku,” katanya. “Lima tahun aku berdiri di sisi jalan. Kamu tetap nemu.”

Dia membuka pintu pengemudi Si Lumut dan menyerahkan kuncinya padaku.

“Kamu yang nyetir,” katanya.

Seperti biasa sekarang.