Chapter Five
Bab 5 — Tolak Baik-Baik
POV: Ryan
Rooftop parkiran gedung kantor Evan di SCBD adalah tempat paling tidak romantis di Jakarta untuk membicarakan perasaan.
Lantainya beton abu-abu dengan garis kuning pudar. Ada genangan oli di pojok dekat tangga darurat. Angin malam membawa bau knalpot dan sate padang dari gerobak di bawah. Dan ada Pak Udin, satpam parkir berusia enam puluhan dengan kumis seperti sapu ijuk, yang sejak kami datang terus mondar-mandir dengan senter, menatap kami dengan curiga seolah kami komplotan pencuri spion.
“Mas-mas ini nunggu siapa?” tanyanya untuk ketiga kalinya.
“Nggak nunggu siapa-siapa, Pak,” kata Evan. “Cuma ngobrol.”
“Ngobrol di parkiran?”
“Iya, Pak.”
“Kenapa nggak di kafe?”
“Di kafe ada orang, Pak.”
Pak Udin menatap kami bergantian, lalu menatap mobil-mobil yang tersisa, lalu kembali ke kami. Senternya menyorot sepatu Evan, lalu sepatuku. “Saya awasi,” katanya, dan berjalan menjauh dengan langkah yang sengaja dikeraskan.
Evan menghela napas dan bersandar ke pagar pembatas. Di bawah kami, Jalan Sudirman berkilauan seperti sungai lampu. Di kejauhan, gedung-gedung kaca menyala dengan jendela-jendela kantor orang-orang yang belum pulang.
“Aku sudah mikirin ini empat hari,” kata Evan.
“Aku tahu.”
“Aku nggak bisa tidur.”
“Aku tahu. Kamu kirim pesan jam tiga pagi kemarin.”
“Pesan apa?”
“Gambar kucing pakai kacamata. Nggak ada konteksnya.”
Evan menggosok wajahnya. “Aku lagi nggak waras.”
Aku berdiri di sebelahnya, tidak bersandar ke pagar. Kaki kiriku sedang tenang malam ini, tapi berdiri lama di beton yang dingin bukan ide bagus. Aku memindahkan berat badan ke kaki kanan, sedikit saja. Evan melihatnya. Dia selalu melihatnya.
“Kakimu?”
“Baik.”
“Mau duduk? Ada bangku di dekat lift.”
“Ada Pak Udin di dekat lift.”
Evan tertawa pendek, tanpa suara. Lalu tawanya hilang, dan dia menatap jalanan lagi.
“Yan,” katanya. “Dia mau nembak aku.”
“Aku tahu.”
“Di ulang tahunku. Di depan semua orang.”
“Mungkin nggak di depan semua orang. Nadira bukan orang yang suka pamer.”
“Gilang sudah bikin grup panitia. Kalau Gilang terlibat, itu otomatis jadi di depan semua orang. Gilang mungkin bakal sewa sound system.”
Itu benar. Aku tidak membantah.
“Aku nggak bisa,” lanjut Evan. Suaranya pecah sedikit di ujung, seperti gelas yang retak tapi belum jatuh. “Lima tahun, Yan. Lima tahun dia lihat aku kayak aku pahlawan. Setiap kali dia senyum ke aku, aku merasa kayak maling. Setiap kali dia bilang makasih buat apa pun—makasih buat traktir, makasih buat jemput, makasih buat bales chat—aku dengar makasih yang lain. Makasih yang bukan buat aku.”
Aku diam.
“Dan sekarang dia mau bilang suka. Ke aku. Ke orang yang nggak pernah ngelakuin apa-apa.” Evan menoleh ke arahku, dan di bawah lampu parkiran, matanya merah. “Lima tahun cukup, Yan. Aku mau bilang semuanya ke dia.”
Angin bertiup. Di bawah, seseorang membunyikan klakson panjang.
“Jangan,” kataku.
“Yan—”
“Tolak baik-baik. Bilang kamu sayang dia sebagai sahabat. Bilang kamu nggak mau ngerusak circle. Itu jujur kan? Kamu nggak suka dia kayak gitu.”
“Itu bukan intinya.”
“Itu intinya, Van. Kamu nggak suka dia. Jadi tolak. Selesai.”
“Dan biarin dia tetap percaya aku yang nyelamatin dia? Seumur hidup?” Evan menggeleng keras. “Itu lebih kejam. Dia bakal ditolak sama pahlawannya sendiri. Kamu tahu rasanya ditolak sama orang yang kamu kira nyelamatin hidupmu? Dia bakal mikir ada yang salah sama dia. Dia bakal mikir dia nggak cukup.”
Aku tahu. Aku sudah memikirkan itu juga. Aku sudah memikirkan semua kemungkinan, selama empat hari, setiap malam, di bawah noda bocor berbentuk Pulau Sulawesi.
“Dia bakal sedih sebentar,” kataku. “Terus dia bakal lanjut. Nadira itu kuat. Dia cuma nggak tahu dia kuat.”
“Dan kalau aku bilang yang sebenarnya, dia bakal lanjut ke mana? Ke kamu?”
Aku tidak menjawab.
Evan menatapku lama. Lalu suaranya melunak. “Itu yang kamu takutin, kan. Bukan dia sedih. Kamu takut dia ke kamu karena merasa berutang.”
“Aku nggak takut apa-apa.”
“Kamu bohong, Yan. Kamu cuma jago bohong dengan muka datar.”
Pak Udin lewat lagi dengan senternya. Kali ini dia tidak bertanya apa-apa, hanya menyorotkan senter ke wajah kami bergantian selama tiga detik, lalu berjalan pergi sambil bersenandung lagu dangdut.
Kami menunggu sampai senandungnya menjauh.
“Waktu itu,” kataku pelan, “kamu janji.”
Evan memejamkan mata.
Aku tidak perlu mengatakan lebih banyak. Kami berdua ingat. Kamar rumah sakit di Bandung, tiga hari setelah malam itu. Bau antiseptik dan sup bening yang dingin di nampan. Kakiku dipasangi pen dan digantung dengan tali. Punggungku terasa seperti dibakar setiap kali aku bernapas terlalu dalam. Evan duduk di kursi plastik di samping ranjang, dengan baju yang sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi.
Dia kira kamu, kataku waktu itu.
Aku tahu. Aku mau bilang ke dia. Aku sudah mau bilang—
Jangan.
Yan—
Jangan bilang, Van. Biar dia kira kamu.
Evan menatapku waktu itu dengan wajah yang tidak pernah kulupakan. Wajah orang yang tahu dia sedang diminta melakukan sesuatu yang salah, dan sedang menimbang-nimbang apakah dia akan melakukannya. Lalu wajah itu berubah. Seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut runtuh. Waktu itu aku tidak mengerti apa. Aku cuma lega waktu dia mengangguk.
Oke, katanya. Oke, Yan. Aku janji.
Sekarang, di rooftop parkiran, Evan membuka matanya. “Aku janji karena waktu itu kamu habis operasi dan aku pikir kamu ngomong ngaco karena obat bius.”
“Aku nggak ngaco.”
“Aku tahu. Makanya aku tepati.” Dia menarik napas panjang. “Tapi aku nggak janji selamanya.”
“Kamu janji, Van.”
“Aku nggak bilang selamanya!”
Suaranya meninggi. Pak Udin muncul lagi dari balik pilar, senter teracung seperti pedang.
“Mas-mas! Jangan ribut! Ini parkiran, bukan sinetron!”
Kami berdua diam. Pak Udin menatap kami dengan kumis yang bergetar, lalu, setelah yakin kami tidak akan saling memukul, mundur ke balik pilar lagi.
Evan menunduk. Bahunya turun. Dan untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat bukan seperti Evan yang bintang circle, Evan yang membuat barista menegakkan punggung, Evan yang tertawanya renyah. Dia terlihat seperti anak SMA kurus yang dulu berdiri di depanku di belakang kantin, lututnya gemetar, berpura-pura berani.
“Ada yang lain juga, Yan,” katanya pelan.
“Apa?”
Dia membuka mulut. Menutupnya lagi. Rahangnya mengeras, lalu mengendur.
“Nggak,” katanya. “Bukan apa-apa.”
“Van.”
“Bukan apa-apa.” Dia mengusap wajahnya dengan dua tangan, lalu menatapku dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Oke. Oke. Aku tolak baik-baik. Sebelum hari H. Biar dia nggak malu di depan orang.”
“Makasih.”
“Jangan makasih. Aku nggak ngelakuin ini buat kamu.” Dia menendang kerikil kecil di lantai beton. Kerikil itu menggelinding ke genangan oli dan tenggelam. “Aku ngelakuin ini karena aku pengecut. Itu beda.”
“Kamu bukan pengecut.”
“Kamu nggak tahu semuanya, Yan.”
Aku menatapnya. Ada sesuatu di sana, di balik matanya yang merah. Sesuatu yang sudah lama, mungkin selama lima tahun, mungkin lebih. Tapi Evan selalu punya ruang-ruang yang tidak dia buka, terutama yang berhubungan dengan ayahnya, dan aku sudah belajar untuk tidak mengetuk pintu yang tidak mau dibuka.
“Kalau kamu mau cerita,” kataku, “aku di sini.”
Evan tertawa. Pendek, getir, hampir seperti batuk. “Itu kalimatmu, ya.”
Aku diam.
“‘Aku di sini’,” ulangnya pelan. “Kamu ngomong itu ke semua orang, Yan. Kamu tahu nggak? Ke aku. Ke Gilang waktu dia diputusin. Ke Zaza waktu bapaknya sakit. Kamu nggak sadar, tapi kamu ngomong itu ke semua orang.”
“Itu cuma kalimat.”
“Bukan, Yan. Itu bukan cuma kalimat.” Dia menatapku. “Itu kalimat yang dia simpan lima tahun. Buat aku.”
Ponsel Evan berbunyi. Dia melihat layar, lalu tertawa, kali ini tawa yang sedikit lebih sungguhan.
“Gilang,” katanya, dan memutar voice note.
Suara Gilang memenuhi rooftop, terlalu keras dan terlalu bersemangat untuk jam sepuluh malam:
“Van, ini pertanyaan penting dan aku butuh jawaban jujur. Kue ulang tahun kamu: pandan, atau red velvet? Sebelum kamu jawab, pertimbangkan: red velvet mengandung pewarna merah yang secara historis kontroversial. Pandan lebih alami tapi kamu pernah bilang pandan rasanya kayak sabun cuci piring. Aku butuh keputusan sebelum Jumat karena Zaza sudah ngancam mau blacklist aku sebagai vendor. Oh iya. Ini kejutan. Pura-pura nggak tahu ya. Bye.”
Evan menatap ponselnya. Aku menatap Evan.
“Dia nanya kue ulang tahun,” kataku, “ke yang ulang tahun.”
“Untuk kejutan ulang tahun yang nggak boleh aku tahu.”
“Lewat voice note.”
“Dengan instruksi buat pura-pura nggak tahu.”
Kami berdua diam selama tiga detik. Lalu Evan tertawa, kali ini sungguh-sungguh, sampai harus berpegangan pada pagar. Aku tidak tertawa sekeras itu, tapi bibirku bergerak, dan itu cukup.
Pak Udin muncul lagi dari balik pilar. Dia tidak bilang apa-apa kali ini. Dia hanya menatap kami, lalu menggeleng-geleng pelan seperti orang tua yang kecewa, dan mematikan senternya.
“Pandan,” kata Evan sambil mengetik balasan. “Biar dia senang. Dia sudah susah payah.”
“Kamu benci pandan.”
“Aku benci banyak hal yang aku lakuin demi orang lain, Yan.” Dia mengirim pesan, lalu memasukkan ponsel ke saku. “Kamu yang ngajarin aku itu.”
Kami berjalan ke lift. Pak Udin menekan tombol lift untuk kami, mungkin supaya kami cepat pergi, dan waktu pintu lift menutup, dia melambaikan tangan dengan wajah lega.
Di dalam lift, Evan bersandar ke dinding cermin.
“Yan.”
“Hm.”
“Kenapa kamu nggak pernah suka cewek?”
Aku menatap angka lantai yang turun. P4. P3.
“Aku suka cewek.”
“Maksudku, kenapa kamu nggak pernah ngejar siapa-siapa? Tiga belas tahun aku kenal kamu. Kamu nggak pernah pacaran serius. Nggak pernah cerita naksir siapa.”
P2.
“Nggak sempat.”
“Bohong.”
P1.
“Ada yang kamu suka?” tanya Evan.
Pintu lift terbuka. Basement parkiran, lebih dingin, lebih gelap, bau ban dan beton basah.
Aku melangkah keluar duluan.
“Mobilku di sana,” kataku, menunjuk ke ujung.
Evan tidak mengejar pertanyaannya. Dia hanya berdiri di depan lift yang terbuka, menatap punggungku, dan aku tahu—aku selalu tahu—bahwa dia sudah tahu jawabannya sejak lama. Sejak kamar rumah sakit itu. Sejak aku memintanya berjanji, dan dia menatapku dengan wajah orang yang akhirnya mengerti sesuatu.
“Hati-hati di jalan, Yan,” katanya.
“Kamu juga.”
Aku sampai di rumah pukul sebelas lewat. Ibu sudah tidur. Ada piring berisi tiga kue sus sisa pesanan Bu Lurah di meja makan, ditutup tudung saji, dengan secarik kertas di atasnya: LE, INI BUAT KAMU. YANG SATU GOSONG, JANGAN PROTES.
Aku makan yang gosong duluan.
Di kamar, aku membuka kalender ponsel. Sabtu. Pukul 05.45. Aku sudah menandainya sejak Senin malam. Di bawahnya, aku mengetik catatan kecil: kopi (punya Nad: susu, gula dikit). Sendal cadangan (pinjam punya Ibu?). Rute: parkiran belakang mal BSD, gerbang timur.
Lalu aku menghapus “pinjam punya Ibu”, karena Ibu akan bertanya kenapa, dan kalau Ibu bertanya kenapa, aku akan berbohong dengan muka datar, dan Ibu adalah satu-satunya orang di dunia yang tidak pernah termakan bohongku.
Aku memasang alarm. 04.30.
Aku menatap angka itu lama.
Lima tahun terakhir, aku menjalani minggu demi minggu dengan cara yang sama. Senin sampai Jumat kerja. Jumat malam kafe. Sabtu pagi tidur lebih lama dari biasanya, karena kaki kiriku butuh istirahat. Sabtu siang membantu Ibu mengantar pesanan. Minggu entah apa.
Aku tidak pernah menantikan apa pun. Bukan karena hidupku menyedihkan. Hidupku baik-baik saja. Hidupku tenang, rapi, seperti peta yang garis-garisnya sudah diukur dengan teliti dan tidak ada yang keluar batas.
Tapi malam ini, di kamar dengan noda bocor berbentuk Pulau Sulawesi, dengan sisa rasa kue sus gosong di lidah dan bunyi hujan rintik di genteng, aku sadar sesuatu yang membuatku sedikit takut.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku menantikan hari Sabtu.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Itu tidak membantu sama sekali.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik reading
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan