Chapter Fifteen
Bab 15 — Gladi Resik
POV: Nadira
Selama satu minggu, aku membawakan Ryan kopi tubruk setiap pagi.
Senin, aku membelinya di warung kopi dekat kosku, dalam gelas plastik dengan tutup yang tidak terlalu rapat, dan sampai di lobi kantornya di Kuningan dengan setengah isinya tumpah di rok. Mbak Lia di resepsionis menatapku dengan pandangan curiga yang sudah berkurang sepuluh persen dari minggu lalu.
Selasa, aku membeli termos kecil.
Rabu, Mbak Lia sudah tersenyum padaku.
Kamis, Fajar menunggu di lobi dan berkata, “Mbak Nadira! Ryan lagi rapat. Biar aku yang antar.” Lalu dia menatap termos di tanganku dengan mata penuh harap. “Mbak, besok bawa dua nggak?”
Jumat, aku membawa dua. Satu untuk Ryan, satu untuk Fajar. Dan Tiara, yang kebetulan lewat lobi dengan dua cangkir kopi dari mesin pantry yang setengah rusak, berhenti, menatap termosku, menatap cangkirnya sendiri, dan berjalan pergi tanpa bicara.
Aku tidak merasa bersalah. Aku hanya merasa sedikit, sedikit sekali, menang.
Lalu aku merasa aneh karena merasa menang.
Kenapa aku harus merasa menang? Aku cuma mengantar kopi untuk sahabat. Sebagai terima kasih. Sebagai—
Sebagai apa?
Aku tidak tahu. Aku membawakan kopi tubruk ke Kuningan setiap pagi, setengah jam keluar dari jalur ke kantorku sendiri, dan aku tidak tahu kenapa. Setiap kali aku melihat Ryan turun dari lift yang berhenti dua detik terlalu lama di setiap lantai, berjalan ke arahku di lobi dengan langkah yang sedikit miring ke kanan, aku merasa sesuatu di dadaku mengencang, lalu mengendur. Dan setiap kali aku melihat kaki kirinya, aku teringat foto di rak kaca. Lintasan merah. Kedua kaki terangkat tinggi.
Mobil yang sama. Mobil yang mengejarku.
Aku tidak pernah bilang apa-apa padanya soal itu. Aku cuma menyerahkan termos, dan dia menerimanya, dan dia bilang “makasih, Nad”, dan setiap pagi aku berbalik dan berjalan kembali ke ojol dengan mata yang sedikit perih.
Ini rasa bersalah, pikirku. Pasti ini rasa bersalah.
Rasa bersalah tidak membuat jantung berdebar setiap kali seseorang keluar dari lift.
Tapi aku tidak memikirkan itu.
“Kamu butuh gladi resik,” kata Zaza di telepon hari Jumat malam.
“Gladi resik?”
“Aku WO, Nad. Nggak ada acara yang sukses tanpa gladi resik. Pengantin yang nggak gladi resik bakal salah sebut nama di ijab kabul. Aku pernah lihat. Mempelai prianya nyebut nama mantannya. Keluarga perempuannya ngamuk. Kateringnya kena lempar sambal.”
“Ini bukan ijab kabul, Za.”
“Ini lebih susah dari ijab kabul. Ijab kabul ada naskahnya. Kamu nggak punya naskah.” Bunyi ketikan keyboard. “Aku kirimin naskah.”
“Kamu nulis naskah buat aku nembak orang?”
“Aku nulis naskah buat semua hal. Itu namanya profesionalisme.”
Lima menit kemudian, Zaza mengirim dokumen dua halaman berjudul PERNYATAAN PERASAAN — DRAF 1 (REVISI DIPERBOLEHKAN). Formatnya persis seperti rundown acara pernikahan. Ada kolom waktu. Ada kolom “pembicara”. Ada kolom “catatan teknis”, yang berisi hal-hal seperti jeda 3 detik untuk efek dramatis dan jangan menangis sebelum menit kedua.
Lalu Gilang, yang entah bagaimana tahu, mengirim pesan pribadi.
Gilang: Nad aku dengar kamu lagi nyusun naskah
Aku: Dengar dari mana??
Gilang: Zaza screenshot naskahnya ke aku. Minta pendapat.
Gilang: Saranku: pakai analogi farmasi. “Van, kamu kayak paracetamol. Kamu turunin demamku.”
Aku: Lang itu jelek banget
Gilang: “Van, kamu kayak antibiotik. Harus dihabisin, nggak boleh setengah-setengah.”
Aku: LANG
Gilang: Oke oke. Aku cuma mau bantu. Semangat. Aku siapin P3K di hari H.
Aku menatap naskah Zaza. Aku menatap saran Gilang. Aku menutup muka dengan bantal.
Lalu aku mengirim pesan ke Ryan.
Aku: Yan. Kamu sibuk malam ini?
Ryan: Nggak.
Aku: Bisa ke kos? Aku butuh bantuan.
Ryan: Bantuan apa?
Aku: Jangan ketawa.
Ryan: Aku jarang ketawa.
Aku: Kamu ketawa minggu lalu di parkiran stasiun.
Ryan: Itu pengecualian.
Aku: Aku mau latihan ngomong ke Evan. Aku butuh orang yang berdiri di depanku dan pura-pura jadi Evan.
Tanda centang biru. Lalu tidak ada apa-apa.
Satu menit. Tiga menit. Lima menit.
Aku mulai menyesal. Aku mulai mengetik nggak apa-apa kalau nggak bisa, lalu menghapusnya, lalu mengetiknya lagi.
Lalu:
Ryan: Jam berapa?
Kos-kosanku punya atap datar di lantai tiga yang dipakai untuk menjemur pakaian. Ada tali-tali jemuran yang direntangkan dari tiang ke tiang, toren air biru di pojok, dan dua kursi plastik yang entah milik siapa. Dari sana, kau bisa melihat atap-atap rumah tetangga, kabel-kabel listrik yang semrawut, dan, di kejauhan, lampu-lampu gedung Senopati yang berkilau.
Sore itu aku membeli lampu tumbler di minimarket. Lampu kecil-kecil warna kuning hangat, yang biasa dipakai orang untuk dekorasi kamar di Instagram. Aku memasangnya di tali jemuran, di antara dua daster milik Bu Kos dan seprai milik penghuni kamar empat.
Hasilnya tidak terlalu romantis. Tapi kalau kau menyipitkan mata dan pura-pura daster itu adalah tirai, lumayan.
Ryan datang pukul delapan. Dia naik tangga ke atap dengan langkah yang hati-hati di tangga besi yang curam, dan waktu dia sampai di atas, dia berhenti dan menatap lampu tumbler di tali jemuran.
“Ini apa?”
“Suasana.”
Dia menatap daster Bu Kos yang tergantung di antara lampu-lampu. “Suasana apa?”
“Suasana rooftop. Pesta Evan kan di rooftop.” Aku melambaikan tangan ke seluruh atap jemuran. “Bayangin ini rooftop di Senopati. Lampu emas. Tamu tiga puluh orang. Musik jazz.”
Ryan menatap toren air biru. “Ini toren air.”
“Bayangin itu bar.”
Dia menatapku. Lalu, tanpa protes, dia berjalan ke tengah atap dan berdiri di sana, di bawah lampu tumbler, dengan tangan di saku jaketnya.
“Oke,” katanya. “Aku Evan.”
Masalahnya, Ryan sama sekali tidak mirip Evan.
Evan berdiri dengan bahu tegak dan dada sedikit maju, seperti orang yang selalu siap jadi pusat perhatian. Ryan berdiri dengan bahu sedikit miring ke kanan dan tangan di saku, seperti orang yang selalu siap tidak diperhatikan. Evan tersenyum dengan seluruh wajahnya. Ryan tersenyum dengan sudut bibir, kadang-kadang, kalau kau beruntung. Evan memakai kemeja biru muda dengan lengan digulung. Ryan memakai kaos abu-abu dan jaket hitam yang sudah agak pudar di bagian siku.
“Kamu harus lebih... Evan,” kataku.
“Gimana caranya?”
“Senyum.”
Ryan tersenyum. Sudut bibirnya bergerak dua milimeter.
“Lebih lebar.”
Sudut bibirnya bergerak tiga milimeter.
“Yan, itu kayak orang yang nahan bersin.”
“Aku nggak bisa senyum kayak Evan, Nad. Mukaku nggak didesain buat itu.”
Aku tertawa. Dia tidak tertawa, tapi matanya tertawa. Lampu tumbler memantul di matanya, kecil-kecil, seperti bintang yang tertangkap di genangan air.
“Oke,” kataku. “Lupain senyumnya. Berdiri aja. Aku mulai.”
Aku membuka naskah Zaza di ponsel. Aku menarik napas. Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
“Van,” kataku.
Ryan diam. Menunggu.
“Van. Ada yang mau aku omongin.” Aku membaca dari ponsel. “Lima tahun lalu—jeda tiga detik untuk efek dramatis—”
“Kamu nggak usah baca catatan teknisnya.”
“Oh. Iya.” Aku mengulang. “Lima tahun lalu...”
Aku diam tiga detik. Untuk efek dramatis.
“Lima tahun lalu, malam hujan itu...” Aku mengangkat mata dari ponsel dan menatap wajahnya.
Dan itu kesalahan.
Karena waktu aku mengangkat mata, aku tidak melihat Evan. Aku melihat Ryan. Ryan, di bawah lampu tumbler, dengan mata tenang dan rambut sedikit berantakan dan bekas kopi tubruk yang tidak sengaja masih ada di ujung bibirnya. Ryan, yang bangun jam empat pagi untuk menjemputku. Ryan, yang membelikan sandal jepit cadangan dari cadangan. Ryan, yang menaruh tangannya di atas tanganku di tuas persneling. Ryan, yang menyuruhku menarik napas di depan gerbang tol. Ryan, yang mendorong mobil orang asing di tengah malam dengan kaki yang dipasangi dua pen.
Ryan, yang kakinya hancur oleh mobil yang mengejarku, dan yang bilang motor selama lima tahun supaya aku tidak tahu.
“Lima tahun lalu,” kataku lagi, dan suaraku pecah.
Ryan tidak bergerak. Dia tidak membantuku. Dia hanya berdiri di sana, di bawah lampu tumbler, dan menunggu.
Aku menatap naskah lagi. Kalimat berikutnya: Kamu nyelamatin aku, Van. Dan sejak malam itu, aku nggak bisa berhenti mikirin kamu.
Aku membuka mulut.
“Kamu—”
Aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengatakan kamu nyelamatin aku sambil menatap wajah Ryan. Rasanya seperti berbohong. Rasanya seperti meletakkan sesuatu di tempat yang salah.
Aku menunduk. Aku meninggalkan naskah. Aku mulai bicara tanpa membaca.
“Kamu selalu ada,” kataku. “Itu yang aku suka. Kamu selalu ada. Kamu yang datang duluan. Kamu yang mesenin minuman semua orang tanpa ditanya. Kamu yang tahu aku suka gula dikit. Kamu yang beliin sandal cadangan, terus cadangan dari cadangan. Kamu yang nunggu sampai lampu kamarku nyala sebelum pulang. Kamu yang selalu berdiri di sisi jalan—”
Aku berhenti.
Di atap jemuran, hanya ada bunyi angin dan suara televisi dari kamar tetangga, samar-samar, siaran sinetron yang sedang memutar adegan menangis.
Aku mengangkat kepala.
Ryan masih berdiri di tempat yang sama. Tapi wajahnya sudah tidak datar. Rahangnya mengeras. Tangannya keluar dari saku, menggantung di sisi tubuhnya, jari-jarinya sedikit menekuk seolah tidak tahu harus berbuat apa. Dan matanya—
Aku tidak bisa membaca matanya. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku benar-benar tidak bisa membaca apa yang ada di sana.
“Eh,” kataku. Wajahku tiba-tiba panas. “Eh. Itu. Itu salah naskah.”
“Salah naskah,” ulang Ryan, pelan.
“Iya. Aku... aku kebalik. Itu bukan Evan. Itu...” Aku tertawa, gugup, terlalu keras. “Itu kamu. Aku nyebut hal-hal yang kamu lakuin. Bodoh banget. Karena kamu yang berdiri di situ. Otakku bingung.”
“Iya.”
“Aku ulang.”
“Nggak usah.”
Aku menatapnya.
Ryan menarik napas. Aku melihatnya. Dada yang naik pelan, berhenti, turun lebih pelan. Empat. Empat. Enam.
Lalu wajahnya kembali datar. Sempurna. Seperti pintu yang ditutup dengan sangat hati-hati supaya tidak berbunyi.
“Evan pasti senang,” katanya.
Kalimat itu jatuh di atap jemuran seperti batu yang dilempar ke kolam. Tidak keras. Tapi riaknya menyebar.
“Evan pasti senang,” ulangku.
“Kalau kamu ngomong kayak tadi. Nggak pakai naskah. Dia pasti senang.”
“Tapi tadi itu bukan tentang Evan, Yan.”
“Kamu ganti aja contohnya.” Dia memasukkan tangan ke saku lagi. “Pakai hal-hal yang Evan lakuin.”
Aku membuka mulut untuk menyebutkan hal-hal yang Evan lakukan.
Evan... Evan menyelamatkanku malam itu. Evan duduk di samping ranjangku di rumah sakit. Evan tidak pernah memakai jaket merah lagi.
Lalu? Evan menyapaku “hai, Nad” di kafe. Evan tertawa pada leluconku. Evan mengajariku memegang bola bowling, lalu mundur seperti menyentuh panci panas. Evan menawariku tumpangan lalu mengangkat telepon ayahnya. Evan duduk di ujung meja.
Aku menutup mulut.
Lima tahun. Lima tahun aku memuja laki-laki itu. Dan kalau aku harus menyebut hal-hal yang dia lakukan untukku, aku hanya bisa menyebut satu malam.
Satu malam yang bahkan tidak kuingat dengan jelas. Hanya warna merah dan empat kata.
“Yan,” kataku, setelah lama.
“Hm.”
“Boleh aku tanya sesuatu?”
Dia tidak menjawab, yang biasanya berarti boleh.
“Kecelakaanmu.” Aku menarik napas. “Ibu bilang bukan motor.”
Ryan membeku.
Aku melihatnya. Seluruh tubuhnya, dari bahu sampai ujung kaki, menegang dalam satu detik. Seperti rusa yang mendengar ranting patah di hutan.
“Ibu bilang kamu nggak bawa motor ke Bandung. Ibu bilang kamu ditabrak mobil. Malam-malam. Hujan. Mobilnya kabur.”
Ryan tidak bicara. Lampu tumbler berkedip di belakangnya, dan aku melihat bayangannya di lantai atap bergetar.
“Itu malam yang sama,” kataku. Suaraku bergetar. “Malam yang sama kayak aku. Mobil yang kabur. Itu mobil yang sama kan, Yan? Yang hampir nabrak aku. Abis Evan narik aku, mobilnya kabur, terus dia nabrak kamu waktu kamu jalan pulang.”
Ryan menatapku. Wajahnya putih di bawah lampu kuning.
“Kamu bilang motor,” lanjutku, dan sekarang air mata sudah naik ke mataku, panas, dan aku tidak bisa menahannya. “Lima tahun kamu bilang motor. Supaya aku nggak tahu. Supaya aku nggak ngerasa bersalah. Iya kan?”
Dia membuka mulut.
Lama. Dia membuka mulut, dan tidak ada suara yang keluar, dan aku melihat sesuatu di matanya bergerak, berputar, bertarung, seperti ikan besar di bawah permukaan air yang tenang yang sedang berusaha naik ke atas.
Lalu dia menutup mulutnya.
“Aku nggak ingat mobilnya,” katanya akhirnya. Pelan. Serak.
“Yan—”
“Aku nggak ingat, Nad. Semuanya putih. Aku cuma ingat aspal.”
“Maaf.” Air mata jatuh. Aku tidak menyekanya. “Maaf, Yan. Maaf aku nggak pernah jenguk. Maaf aku nggak pernah nanya. Maaf aku ketawa tiap Gilang bilang telat lulus. Maaf mobil itu—maaf mobil itu ngejar aku dan malah kamu yang—”
“Nad.”
Dia melangkah maju. Satu langkah. Lalu berhenti, seolah ada garis di lantai atap yang tidak boleh dia lewati.
“Bukan salahmu,” katanya.
“Tapi—”
“Bukan salahmu, Nad.” Suaranya rendah, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang retak di dalamnya. “Bukan salah kamu sama sekali. Nggak ada satu pun dari malam itu yang salah kamu. Dengar?”
Aku menatapnya. Dia menatapku. Jarak di antara kami dua langkah, di bawah tali jemuran dan lampu tumbler dan daster Bu Kos yang bergoyang pelan ditiup angin.
Aku mengulurkan tangan dan memegang ujung lengan jaketnya. Hanya ujungnya. Kain hitam yang sudah pudar di siku. Aku menggenggamnya erat, seperti anak kecil menggenggam baju ibunya di pasar yang ramai.
Ryan tidak menarik lengannya.
Kami berdiri seperti itu lama. Aku menangis diam-diam, menggenggam ujung jaketnya. Dia berdiri diam, menatap lampu-lampu gedung Senopati di kejauhan, dan bernapas pelan-pelan, dalam hitungan.
Aku menghitung bersamanya.
Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.
Dia pulang pukul sepuluh. Aku mengantarnya sampai ke bawah, sampai ke Si Lumut yang diparkir di depan kos, dan berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip lemah sampai mobil hijau itu menghilang di ujung gang.
Dia tidak menunggu lima belas menit di dalam mobil yang gelap kali ini. Dia langsung pergi.
Aku naik kembali ke atap jemuran. Lampu tumbler masih menyala. Daster Bu Kos masih bergoyang. Naskah Zaza masih terbuka di ponselku, dengan kalimat yang tidak sanggup kuucapkan: Kamu nyelamatin aku, Van.
Aku duduk di salah satu kursi plastik yang entah milik siapa dan memeluk lutut.
Lalu aku membuka chat dengan Zaza.
Aku: Za.
Aku: Aku tadi gladi resik.
Aku: Sama Ryan. Dia pura-pura jadi Evan.
Aku: Tapi yang keluar dari mulutku bukan Evan.
Aku menatap pesan-pesan itu. Aku tidak tahu kenapa aku mengirimnya. Aku tidak tahu apa artinya. Aku hanya tahu bahwa ada sesuatu di dadaku yang terlalu besar untuk ditahan sendirian.
Biasanya Zaza membutuhkan lima menit, sepuluh menit, kadang setengah jam untuk membalas pesan-pesan seperti ini. Biasanya dia membaca, dan membiarkan centang biru menggantung, dan membuatku gelisah.
Kali ini, balasannya datang dalam tiga detik.
Zaza: Aku tahu.
Aku menatap dua kata itu.
Aku: Tahu apa?
Tiga titik. Muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Muncul lagi, lama sekali, seperti dia sedang mengetik paragraf yang sangat panjang.
Lalu:
Zaza: Tidur, Nad.
Lampu tumbler berkedip di atas kepalaku. Kuning hangat, kecil-kecil, di antara daster dan seprai dan tali jemuran yang bergoyang.
Aku tidak tidur sampai pagi.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik reading
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan