← Udah, Aku di Sini

Chapter Twenty One

Bab 21 — Jalan Pulang

POV: Nadira


Lift berhenti di lantai dasar dengan bunyi ting yang terlalu ceria.

Pintunya terbuka ke lobi yang terang dan dingin. Lantai marmer putih, sofa kulit hitam, satpam tua yang terkantuk-kantuk di balik meja resepsionis. Dia mengangkat kepala waktu aku keluar, melihat gaun emas pucat dan maskara yang luntur, lalu buru-buru menunduk lagi, seperti orang yang tahu ada hal-hal yang tidak boleh dia lihat.

Aku berjalan melewati pintu putar kaca.

Di luar, gerimis.

Gerimis tipis, yang hampir tidak terasa di kulit tapi membuat aspal jadi mengilap dan lampu-lampu kendaraan berbayang panjang. Jalan Senopati pukul sembilan malam hari Sabtu, ramai, mobil-mobil merayap pelan, motor-motor menyelip di antaranya, orang-orang berpakaian bagus keluar masuk restoran dan bar dengan payung-payung warna-warni.

Aku tidak membawa payung. Aku tidak membawa apa pun. Tasku masih di rooftop, di kursi dekat bar, dengan ponsel dan dompet dan lipstik dan naskah Zaza yang dicetak di kertas lipat.

Aku tidak peduli.

Aku berjalan ke tepi trotoar. Aku tidak tahu ke mana aku mau pergi. Mungkin ke kos. Mungkin ke mana saja. Mungkin aku hanya ingin berjalan sampai kepalaku berhenti berdenyut, sampai potongan-potongan itu berhenti berputar, sampai aku bisa bernapas lagi.

Aku bukan orang yang kamu kira.

Tanya—

Bukan salahmu, Nad. Bukan salah kamu sama sekali.

Jaket merah. 21:24. Enam belas menit.

Garis pucat di bawah kaos hitam.

Ryan nggak bawa motor ke Bandung.

Aku melangkah turun dari trotoar.

Aku tidak berhenti. Aku tidak membeku. Aku tidak menunggu jalan kosong. Aku tidak menghitung napas. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku lupa bahwa aku takut menyeberang jalan. Aku lupa bahwa aspal basah dan lampu dan gerimis adalah semua hal yang selama lima tahun membuat lututku lupa caranya jadi lutut. Kepalaku terlalu penuh. Tidak ada tempat lagi untuk takut.

Aku berjalan ke tengah jalan Senopati dengan gaun emas pucat yang basah di bagian bawah, dengan kepala menunduk, dengan mata yang tidak melihat apa pun selain potongan-potongan yang berputar.

Lalu ada cahaya.


Cahaya dari kiri. Terang. Terlalu terang. Menyorot langsung ke wajahku, membuat semua yang lain jadi gelap.

Dan suara.

Bukan suara mesin mobil yang meraung tanpa cahaya. Suara mesin motor. Lebih tinggi. Lebih tajam. Diikuti bunyi rem yang mencicit di aspal basah, panjang, putus asa, seperti binatang yang terluka.

Aku menoleh ke arah cahaya.

Waktu melambat. Aku tidak tahu kenapa orang bilang begitu, sampai saat itu. Waktu melambat, dan aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas: lampu motor yang bergoyang ke kiri dan ke kanan, ban depan yang kehilangan cengkeraman di aspal basah, pengendaranya yang memakai jaket ojol hijau dan helm hitam, membuka mulut untuk berteriak. Tetes-tetes gerimis yang tertangkap di sorot lampu seperti bintang kecil yang berjatuhan.

Aku tidak bisa bergerak.

Lututku lupa caranya jadi lutut.

Lalu ada lengan.

Lengan yang datang dari kanan. Dari sisi jalan. Melingkar di kepalaku, kedua-duanya, satu di belakang kepala dan satu di depan wajah, memeluk seperti tembok. Menarik. Memutar.

Dunia berputar. Lampu motor hilang dari pandanganku, digantikan oleh hitam. Hitam kain. Kemeja hitam. Bau sabun dan hujan dan sesuatu yang lain, sesuatu yang kukenal, yang sudah kukenal sangat lama, bau yang sama dengan bau di dalam Si Lumut.

Tubuh itu berputar, membawaku bersamanya, sehingga punggungnya yang menghadap cahaya.

Lalu jatuh.

Kami jatuh. Aspal. Keras dan basah dan dingin. Tapi bukan kepalaku yang menghantamnya. Kepalaku masih di dalam lengan itu, dilindungi, dibungkus. Yang menghantam aspal adalah sesuatu yang lain. Bahu. Punggung. Aku mendengar bunyinya, bunyi tubuh yang membentur jalan, dan bunyi napas yang terputus di dada di bawah pipiku.

Di belakang kami, motor itu tergelincir. Bunyi logam menggesek aspal, panjang dan nyaring, lalu berhenti. Seseorang berteriak. Klakson. Banyak klakson.

Dan di atas semua suara itu, di dekat telingaku, sangat dekat, rendah dan basah dan anehnya tenang:

“Udah. Aku di sini.”


Aku membeku.

Bukan membeku seperti di tepi trotoar. Bukan membeku karena takut. Membeku seperti seluruh tubuhku tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain. Seperti air yang tiba-tiba ingat bahwa dia es.

Empat kata.

Suara itu.

Bukan suara Evan yang renyah. Bukan suara yang dipaksa otakku menempel seperti stiker ke wajah yang salah selama lima tahun. Suara yang ini. Rendah. Sedikit serak. Suara yang bilang makan sambil menggeser piring pisang goreng. Suara yang bilang jalan di tepi trotoar warung sate. Suara yang bilang napas di depan gerbang tol. Suara yang bilang kamu cantik kalau nyetir lalu fokus.

Suara yang di bawah payung di Senopati, tiga minggu lalu, bilang udah— lalu berhenti.

Suara yang sama.

Suara yang sama persis dengan yang kusimpan di bagian belakang kepalaku selama lima tahun, di titik yang dulu benjol sebesar telur puyuh, di antara bau hujan dan warna merah.

Dan di bagian belakang kepalaku itu, sesuatu yang selama lima tahun mengetuk-ngetuk dari balik pintu yang terkunci—

Pintu itu terbuka.

Semuanya masuk sekaligus.

Hujan. Lampu jalan yang berkedip di depan gerbang kampus. Suara mesin yang terlalu dekat dan tidak punya cahaya. Lengan yang datang dari kanan, dari sisi jalan, memeluk kepalaku, kedua-duanya. Tubuh yang berputar. Warna merah memenuhi seluruh pandanganku, karena wajahku menempel di dada orang itu, di jaket merah yang dia pakai, dan aku bisa melihat huruf-huruf putih di dekat mataku, huruf-huruf bordir kecil, E, V, A, N—

Dan suara itu. Di dekat telingaku. Sebelum semuanya jadi putih.

Udah. Aku di sini.

Jaket merah. Bukan karena Evan yang memakainya. Karena jaket itu dipinjamkan. Karena seseorang kedinginan malam itu, kaosnya basah, dan sahabatnya meminjamkan jaketnya.

Enam belas menit kemudian, orang yang kedinginan itu berlari ke jalan.


“Nad.”

Suara itu lagi. Sekarang bukan empat kata yang tenang. Sekarang serak, cepat, terputus-putus.

“Nad. Nad. Kamu luka? Kepalamu? Nad, jawab.”

Lengan itu melonggar. Aku diangkat sedikit. Tangan-tangan menyentuh kepalaku, wajahku, bahuku, dengan cepat, dengan gemetar, memeriksa. Aku membuka mata.

Ryan.

Wajahnya di atasku. Rambutnya basah, menempel di dahi, rapi yang dipaksakan Bu Ratna sudah hilang sama sekali. Ada goresan di pipinya, merah, mulai berdarah. Matanya lebar, liar, tidak tenang sama sekali, mata yang belum pernah kulihat di wajahnya dalam delapan tahun. Dia menatap seluruh wajahku seperti orang yang mencari sesuatu yang hilang.

“Kamu luka?” ulangnya. “Nad. Tolong. Jawab.”

Aku tidak bisa menjawab.

Aku menatapnya. Aku menatap wajahnya yang basah dan tergores dan ketakutan. Aku menatap kemeja hitamnya yang robek di bahu, di mana aku bisa melihat kulit yang tergores aspal, merah dan kotor. Aku menatap dadanya yang naik turun dengan cepat, terlalu cepat, napas yang tidak teratur sama sekali.

Lalu aku melihat bibirnya bergerak tanpa suara. Berirama.

Tarik empat. Tahan empat. Buang enam.

Dia sedang menghitung. Bahkan sekarang. Bahkan di tengah jalan Senopati yang basah, dengan motor yang tergelincir di belakangnya dan klakson di mana-mana dan bahu yang berdarah. Dia sedang menghitung napas, untuk menenangkan diri, supaya bisa memeriksa apakah aku baik-baik saja.

“Yan,” kataku. Suaraku keluar tipis, aneh, seperti dari dalam air.

Dia berhenti menghitung.

“Itu kamu,” kataku.

Ryan diam.

Seluruh tubuhnya diam. Tangannya, yang tadi memeriksa wajahku dengan cepat, berhenti di pipiku. Napasnya berhenti di tengah hitungan. Matanya yang liar tiba-tiba diam, membeku, seperti rusa yang mendengar ranting patah di hutan.

“Malam itu,” kataku. Air mata sudah turun. Aku tidak tahu kapan mulainya. Bercampur dengan gerimis di pipiku, panas dan dingin sekaligus. “Itu kamu. Yang meluk kepalaku. Yang muter badan. Yang bilang... yang bilang itu.”

Dia tidak menjawab.

“Jaket merah itu kamu yang pakai. Bukan Evan. Kamu.”

Dia tidak menjawab.

“Yan.” Aku mengangkat tangan. Gemetar. Aku menyentuh wajahnya, goresan di pipinya, yang basah oleh gerimis dan darah. “Itu kamu. Dari awal. Itu selalu kamu.”

Ryan memejamkan mata.

Dan di bawah tanganku, di pipinya, aku merasakan sesuatu yang bukan gerimis. Hangat. Mengalir. Turun pelan dari sudut matanya yang terpejam, melewati jariku, jatuh ke dagunya, jatuh ke aspal.

Ryan tidak pernah menangis. Aku tahu itu. Delapan tahun, aku tidak pernah sekali pun melihatnya menangis.

Dia tidak bilang ya.

Dia tidak perlu.


Lalu dunia kembali dengan suara keras.

“MINGGIR! MINGGIR! TENAGA MEDIS! MINGGIR!“

Gilang. Berlari dari lobi gedung dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu emas, kotak P3K oranye di pelukannya, oksimeter masih menjepit jarinya sendiri. Dia mendorong kerumunan orang yang mulai berkumpul di tepi jalan. Dia berlutut di aspal basah di sebelah kami tanpa memedulikan celananya.

“Jangan digerakkan! Jangan ada yang gerakin! Nad, kepalamu? Ryan, punggungmu? Siapa yang luka? Semua luka? Ya Allah, kalian berdua berdarah—”

“Aku nggak apa-apa,” kataku.

“Kamu nangis!”

“Aku nggak apa-apa, Lang.”

Gilang menjepitkan oksimeter ke jariku tanpa persetujuan. Lalu ke jari Ryan. Lalu dia menatap layar kecil itu dengan wajah putih. “Sembilan puluh tujuh. Nadi seratus dua puluh. Ryan, nadimu seratus tiga puluh! Kamu mau serangan jantung?!”

“Lang,” kata Ryan pelan. Matanya sudah terbuka lagi. Wajahnya sudah kembali—hampir—datar. Tapi masih basah. “Pengendara motornya.”

Gilang menoleh. Di belakang kami, dua meter jauhnya, pengendara ojol berjaket hijau sedang berusaha berdiri di samping motornya yang tergeletak. Helmnya miring. Dia memegangi siku.

“Mas! Mbak!” teriaknya, dengan suara yang campuran marah dan takut. “Mbaknya nyebrang nggak lihat-lihat! Saya udah rem! Jalannya licin!”

“Iya, Pak,” kata Ryan. “Maaf. Bapak nggak apa-apa?”

“Siku saya—” Pengendara itu berhenti. Dia menatap kami. Menatap Ryan yang tergeletak di aspal dengan bahu robek dan berdarah, memeluk perempuan bergaun emas yang menangis. Menatap Gilang dengan dasi kupu-kupu dan kotak P3K. Wajahnya berubah. “Siku saya nggak apa-apa, Mas. Mas yang luka. Mas yang tadi lari dari sana. Saya lihat. Mas lari kenceng banget.”

“Saya nggak apa-apa, Pak.”

“Bahu Mas berdarah.”

“Nggak apa-apa.”

Gilang sudah berpindah ke pengendara itu, memeriksa sikunya, memberinya plester dinosaurus dan permen jahe sambil menjelaskan dengan cepat soal “trauma ringan” dan “observasi dua puluh empat jam”. Pengendara itu menatapnya dengan bingung, tapi menerima permen jahe.

Lalu ada langkah kaki lagi. Berlari.

Zaza. Evan di belakangnya.

Zaza berhenti di tepi trotoar. Dia menatap kami di aspal. Menatap Ryan yang memelukku. Menatap wajahku yang basah.

Dan dia tahu. Aku melihatnya di wajahnya. Dia tahu bahwa aku tahu.

Dia menutup mulut dengan dua tangan.

Evan berhenti di sebelahnya. Dia tidak menutup mulut. Dia hanya berdiri di sana, di bawah gerimis, dengan kemeja putih ulang tahunnya dan wajah yang tiba-tiba sangat pucat, menatapku dan Ryan di tengah jalan.

Kami saling menatap. Aku dan Evan. Melintasi dua meter aspal basah.

Dia tidak bilang apa-apa. Aku juga tidak.

Tapi di wajahnya, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku melihat sesuatu yang bukan senyum, bukan rasa bersalah, bukan menghindar. Sesuatu yang lebih sederhana dari semua itu.

Lega.


“Kita ke apotekku,” kata Gilang. “Sekarang. Ryan butuh dibersihin. Itu luka aspal. Banyak kerikil. Kalau nggak dibersihin bisa infeksi. Bisa tetanus. Bisa—”

“Lang,” kata Zaza. Suaranya pecah.

“Bisa sepsis, Za! Ini serius!”

“Iya. Iya, Lang. Ayo.”

Ryan mencoba berdiri. Dia melepaskan lengannya dariku, menapak dengan tangan kanan di aspal, menekuk kaki kanan, mencoba mendorong tubuhnya naik.

Kaki kirinya tidak mau.

Aku melihatnya. Aku melihat kaki kiri itu, di balik celana hitam yang sobek di lutut, yang lututnya berdarah dan kotor oleh aspal. Kaki kiri yang dipasangi dua pen. Kaki kiri yang tadi berlari dari pintu putar kaca ke tengah jalan Senopati, secepat di lintasan merah. Kaki kiri itu gemetar, dan tidak mau menekuk, dan Ryan jatuh lagi ke lututnya dengan napas tertahan.

“Yan!”

“Nggak apa-apa.” Rahangnya mengeras. Bibirnya bergerak tanpa suara. “Bentar.”

Evan bergerak. Dia melangkah turun dari trotoar, berlutut di sisi kiri Ryan, dan menarik lengan kiri Ryan ke bahunya. Tanpa bicara. Seperti sudah melakukannya ratusan kali.

Seperti dua minggu pertama di rumah sakit Bandung, yang tidak pernah kulihat.

Aku bergerak juga. Aku berdiri, dengan gaun emas pucat yang basah dan robek di ujung dan lutut yang gemetar, dan aku mengambil lengan kanan Ryan. Aku menariknya ke bahuku.

Ryan menoleh padaku. Matanya masih merah.

“Nad, kamu nggak usah—”

“Diam,” kataku.

Dia diam.

Kami mengangkatnya. Evan di kiri, aku di kanan. Ryan berdiri di antara kami, berat, hangat, berdarah, dengan napas yang dihitung dan kaki kiri yang gemetar. Gilang berjalan di depan, membuka jalan di antara kerumunan, membawa kotak P3K seperti pembawa obor. Zaza berjalan di belakang, memegang ponsel, memesan taksi online dengan jari yang gemetar.

Kami menyeberang.

Di zebra cross, kali ini. Di lampu penyeberangan yang hijau.

Aku berjalan di sisi kanan Ryan. Di sisi jalan. Di antara dia dan arah datangnya kendaraan.

Aku tidak merencanakannya. Tubuhku tahu posisinya sendiri.

Di tengah zebra cross, di bawah gerimis, Ryan menoleh dan menatapku. Dia melihat di mana aku berdiri. Dia melihat tanganku yang memegang lengannya, erat, seperti tidak akan melepaskannya lagi.

Dia tidak bilang apa-apa.

Tapi bahunya, di bawah tanganku, berhenti gemetar.