Chapter Twenty Six
Bab 26 — Bukan Bayar Utang
POV: Ryan
Aku membuka pintu, dan dia ada di sana.
Gerimis di belakangnya, halus, berkilau di bawah lampu teras yang kuning. Rambutnya sedikit basah di ujung-ujungnya, menempel di pipi. Dia memakai kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, celana jins, sepatu datar. Bibirnya diberi warna merah tua, lebih gelap dari biasanya, warna yang tidak pernah kulihat dia pakai di Jumat malam di kafe Kemang. Di tangannya, dipegang dengan dua tangan seperti tongkat, payung hitam bergagang kayu.
Payung Bapak.
“Hai, Yan,” katanya.
Seminggu. Seminggu aku tidak melihatnya. Seminggu aku bangun jam empat pagi setiap hari dengan alarm yang lupa kumatikan dan berbaring sampai jam enam menatap noda bocor berbentuk Pulau Sulawesi. Seminggu aku makan siang di meja kantor tanpa termos kopi tubruk di sebelah keyboard dan Fajar bertanya Mbak Nadira ke mana, Yan? setiap pagi sampai aku menyuruhnya diam.
Seminggu, dan dia berdiri di teras rumahku dengan bibir merah tua dan payung Bapak.
“Nad,” kataku.
“Aku balikin payungnya.” Dia mengulurkannya.
Aku menerimanya. Gagang kayunya hangat, karena tangannya.
“Itu alasan,” katanya. “Payungnya alasan. Aku nggak datang buat balikin payung.”
Aku tidak bilang apa-apa.
“Boleh masuk?”
Di belakangku, dari dapur, aku mendengar bunyi panci yang diletakkan sangat pelan. Ibu sedang mendengarkan. Ibu selalu mendengarkan.
“Di sini aja,” kataku. Dan aku keluar, menutup pintu di belakangku, dan berdiri di teras kecil dengan tiga pot anggrek dan kursi rotan, di bawah lampu kuning, di depan Nadira.
“Aku dari rumahmu tadi siang,” katanya. “Ketemu Ibu.”
“Ibu bilang.”
“Ibu bilang apa?”
“Ibu bilang kamu datang, nangis, terus pergi.”
Dia tertawa kecil. “Itu ringkasan yang akurat.”
Gerimis menetes dari atap teras, satu-satu, ke pot anggrek. Di gang, gerobak bakso Pak Kasim diam dalam gelap. Jauh di ujung gang, televisi seseorang memutar sinetron dengan volume terlalu keras.
“Yan,” kata Nadira. “Aku mau ngomong sesuatu. Dan kamu nggak boleh motong.”
Aku menatapnya.
“Aku nggak datang ke sini buat bayar utang,” katanya.
Aku diam.
“Aku tahu itu yang kamu takutin. Aku tahu kamu pikir kalau aku datang sekarang, setelah aku tahu soal malam itu, setelah aku lihat punggungmu, itu karena aku kasihan. Karena aku ngerasa bersalah. Karena aku pikir aku harus bayar sesuatu.” Dia menarik napas. “Aku udah mikirin itu seminggu. Aku bikin daftar. Dua kolom. Utang, sama bukan utang.”
“Nad—”
“Nggak boleh motong.”
Aku menutup mulut.
“Kolom utang isinya semua hal yang aku tahu sekarang,” katanya. “Kakimu. Punggungmu. Beasiswamu. Itu semua bikin aku pengen nangis. Itu semua bikin aku pengen minta maaf seribu kali. Itu utang. Aku nggak bohong, Yan, aku memang ngerasa berutang. Aku bakal ngerasa berutang seumur hidup.”
Aku sudah tahu itu. Aku sudah tahu itu lima tahun lalu, di rumah sakit Bandung. Mendengarnya dari mulutnya, sekarang, terasa seperti kerikil kecil di luka aspal di bahuku. Tidak dalam. Tapi tajam.
“Tapi kolom yang satunya,” lanjutnya, dan suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih rendah. “Kolom bukan utang. Isinya lebih banyak. Sampai ke margin. Sampai ke halaman sebelah.”
Dia melangkah maju. Satu langkah. Sekarang dia berdiri sangat dekat, di bawah lampu teras, sampai aku bisa melihat tetes gerimis yang tersangkut di bulu matanya.
“Dan semuanya,” katanya, “terjadi sebelum aku tahu.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Tanganmu di persneling,” katanya. “Itu sebelum aku tahu. Kamu ketawa di parkiran stasiun. Sebelum aku tahu. Kamu bilang aku cantik di tol. Sebelum aku tahu. Kepalamu di bahuku di Puncak. Sebelum aku tahu. Kamu keluar dari lift pakai kemeja hitam dan kue susnya jatuh dan kamu ngelihat aku.” Dia berhenti. “Sebelum aku tahu, Yan. Satu jam sebelum aspal. Jantungku udah kenceng waktu itu. Buat kamu. Bukan buat Evan.”
“Kamu cuma kaget,” kataku. Suaraku keluar serak. “Kamu kecewa sama Evan. Aku yang ada. Kamu nyusun ulang ingatanmu sekarang karena kamu tahu—”
“Aku copywriter, Yan. Kerjaanku nyusun kalimat. Aku tahu bedanya kalimat yang disusun ulang sama kalimat yang memang udah ada dari awal.” Dia menatapku. “Aku tulis semuanya di buku. Kamu mau baca?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku baca, aku bakal percaya.”
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya.
Nadira diam. Dia menatapku dengan mata yang sedikit melebar. Lalu, pelan, sangat pelan, bibirnya—bibir merah tua yang tidak pernah kulihat dia pakai sebelumnya—melengkung ke atas.
Lesung pipi kirinya muncul.
“Oh,” katanya pelan. “Jadi itu masalahnya.”
“Nad.”
“Kamu bukan nggak percaya, Yan. Kamu takut percaya.”
Aku membuka mulut. Menutupnya.
“Oke,” katanya. Dia mundur setengah langkah. Dia memasukkan tangan ke saku celana jinsnya, santai, dan menatapku dengan cara yang tidak pernah dia pakai sebelumnya. Bukan cara Nadira di kafe Kemang, yang tertawa terlalu keras dan menendang kaki Zaza di bawah meja. Bukan cara Nadira di parkiran BSD, yang ketakutan di balik kemudi. Cara yang lain. Cara yang lebih tua, lebih tenang, lebih berbahaya.
“Aku nggak lagi bayar utang, Yan,” katanya. “Aku lagi pengen kamu.”
Gerimis menetes dari atap teras. Satu. Dua.
“Bedanya jelas, kan?”
Aku menatap tangga teras. Aku menatap pot anggrek. Aku menatap gerobak bakso Pak Kasim di gang yang gelap. Aku menatap ke mana pun selain wajahnya.
“Pulang, Nad.”
“Kamu boleh nolak aku,” katanya. Dia melangkah maju lagi. Setengah langkah. “Tapi jangan sambil lihatin bibirku begitu.”
Aku mengalihkan pandangan. Aku tidak sadar aku sedang melihat bibirnya. Aku sadar sekarang. Wajahku panas, dan aku tahu dia melihatnya, karena lesung pipi kirinya makin dalam.
“Aku nggak—”
“Kamu lihatin. Dari aku buka mulut tadi. Aku pakai lipstik ini khusus buat kamu, Yan. Aku beli tadi sore. Di mal. Mbak SPG-nya nanya buat acara apa. Aku bilang buat ngerayu laki-laki yang keras kepala.”
“Nad.”
“Mbaknya bilang warna ini namanya Midnight Confession. Aku hampir beli dua.”
Aku tertawa. Aku tidak mau tertawa. Tapi tawanya keluar, pendek, dari tenggorokan, dan aku harus menutup mulut dengan punggung tangan.
Nadira melihatnya. Matanya berbinar.
“Itu,” katanya. “Itu yang aku tulis di kolom kanan, nomor dua. Ketawamu.”
“Kamu kaget, Nad,” kataku lagi, dengan suara yang tidak lagi meyakinkan, bahkan untuk diriku sendiri. “Seminggu lalu kamu tahu semuanya. Kamu masih kaget. Nanti hilang.”
“Nanti hilang?” Dia memiringkan kepala. “Kamu yakin?”
“Iya.”
“Kalau gitu tes.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu takut aku cuma kasihan,” katanya, pelan, sangat pelan, dan dia melangkah lagi sampai jarak di antara kami tinggal sejengkal, sampai aku bisa mencium bau hujan di rambutnya dan sesuatu yang manis dan hangat di kulitnya, “cium aku sekali.”
Aku berhenti bernapas.
“Satu kali, Yan. Sekarang. Di sini.” Matanya menatap mataku, lalu turun ke bibirku, lalu naik lagi. Tanpa malu. Tanpa ragu. “Rasain sendiri. Itu kasihan atau bukan.”
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Lampu teras berdengung di atas kepala kami. Gerimis menetes. Di dalam rumah, aku mendengar jam dinding berdetak terlalu keras, dan aku mendengar Ibu di dapur, tidak bergerak sama sekali, menahan napas.
Bibirnya sejengkal dari bibirku. Merah tua. Midnight Confession. Sedikit terbuka. Aku bisa melihat napasnya, pelan, di udara malam yang dingin.
Aku menginginkannya.
Aku menginginkannya sejak bioskop di Bandung. Sejak film robot. Sejak dia menangis dari menit kelima dan aku memberinya tisu karena aku tidak tahu harus bilang apa. Aku menginginkannya di setiap Jumat malam di kafe Kemang, di setiap sisi jalan, di setiap pukul 05.45 di depan kosnya. Aku menginginkannya di atap jemuran waktu dia menyebut semua hal yang kulakukan dan menyebutnya salah naskah. Aku menginginkannya di aspal Senopati, waktu dia menyentuh pipiku dan bilang itu kamu.
Aku menginginkannya dengan cara yang membuat kaki kiriku, yang selama lima tahun tidak pernah berhenti bicara, tiba-tiba diam.
Dan karena aku menginginkannya sebesar itu, aku tidak bisa.
Karena kalau aku menciumnya sekarang, seminggu setelah dia tahu, dengan bekas luka di punggungku yang masih segar di ingatannya, dengan perban di bahuku dan plester di pipiku, aku tidak akan pernah tahu. Aku akan menciumnya, dan dia akan membalasnya, dan setiap hari selama sisa hidupku aku akan bangun dan bertanya-tanya apakah dia membalasnya karena aku, atau karena malam itu.
“Nad,” kataku. Suaraku hampir tidak terdengar. “Pulang.”
Dia tidak bergerak.
Lalu, pelan, dia tersenyum. Bukan senyum yang sedih. Bukan senyum yang menyerah. Senyum orang yang baru saja mendengar sesuatu yang dia harapkan.
“Kamu nggak bilang nggak,” katanya.
“Aku bilang pulang.”
“Pulang bukan nggak, Yan.” Dia mundur. Satu langkah. Dua. Sampai ke ujung tangga teras. “Pulang itu artinya nanti.”
“Bukan—”
“Oke. Aku pulang.” Dia turun satu anak tangga. Lalu berhenti, berbalik, menatapku dari bawah, dengan gerimis di rambutnya dan lampu teras di matanya. “Tapi besok aku balik.”
Aku menatapnya.
“Lusa juga. Minggu depan juga.” Dia mengangkat bahu. “Aku udah lima tahun ngejar orang yang salah, Yan. Aku jago ngejar. Aku cuma ganti target.”
“Nad—”
“Simpen payungnya,” katanya, dan menunjuk payung hitam di tanganku. “Nanti aku pinjem lagi. Sama yang punya sekalian.”
Dia turun anak tangga terakhir. Dia berjalan ke gang, di bawah gerimis, tanpa payung. Dia memutari gerobak bakso Pak Kasim. Di ujung gang, di bawah lampu jalan, dia berhenti, menoleh, dan melambaikan tangan.
Lalu dia pergi.
Aku masuk ke rumah. Aku menutup pintu. Aku menyandarkan punggungku ke pintu itu, dan aku merosot pelan-pelan sampai duduk di lantai ruang tamu, dengan payung Bapak di pangkuanku dan perban di bahuku yang menekan kayu pintu dan membuatnya berdenyut.
Tarik empat.
Aku tidak bisa menahan.
Aku tidak bisa membuang.
Aku duduk di lantai, dengan lutut ditekuk dan kepala bersandar ke pintu, dan aku menutup mata, dan yang kulihat di balik kelopak mataku adalah bibir merah tua sejengkal dari bibirku.
“Le.”
Aku membuka mata. Ibu berdiri di pintu dapur, dengan celemek bebek dan sendok kayu di tangan. Dia menatapku duduk di lantai.
“Kamu bodoh,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Bodoh banget.”
“Iya, Bu.”
Ibu berjalan pelan ke kursi rotan dan duduk. Dia menatap foto pernikahan hitam putih di dinding. Bapak dengan kacamata dan wajah yang tidak tersenyum tapi matanya tersenyum.
“Bapakmu,” kata Ibu, “bawa pisang yang salah waktu ngelamar Ibu. Tapi dia datang. Dia berdiri di depan rumah Mbah Putri sambil gemeteran, bawa pisang kepok, dan dia datang.”
Aku diam.
“Kamu,” lanjut Ibu, menunjukku dengan sendok kayu, “didatengin pisang yang bener. Pisang raja. Satu tandan. Diantar sampai ke depan pintu. Pakai lipstik merah.”
“Bu—”
“Dan kamu suruh pulang.” Ibu menggeleng-geleng. “Ibu nggak ngerti. Ibu ngelahirin kamu, Ibu ngerawat kamu, Ibu bolak-balik naik kereta ke Bandung empat bulan, dan Ibu tetap nggak ngerti kamu.”
Aku tertawa. Tawa yang aneh, basah, dari tempat yang dalam.
“Aku takut, Bu,” kataku.
Ibu berhenti menggeleng. Dia menatapku lama.
“Ibu tahu, Le,” katanya, lebih lembut. “Ibu tahu kamu takut. Tapi takut itu bukan alasan buat nutup pintu. Takut itu alasan buat buka pelan-pelan.”
Dia berdiri. Dia berjalan ke arahku, membungkuk, dan mengecup puncak kepalaku. Lalu dia kembali ke dapur.
“Botol air panas di kasurmu,” katanya dari dapur. “Kakimu pasti ngilu. Hujan.”
Kakiku tidak ngilu.
Itu yang aneh. Gerimis di luar, dan kaki kiriku tidak bicara sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, di malam hujan, orang kecil di dalam tulang keringku diam.
Aku berbaring di kasur yang terlalu pendek setengah jengkal, dengan botol air panas yang tidak kubutuhkan di sebelahku, dan ponsel di dada.
Ponselku bergetar.
Nadira: Aku udah di mobil.
Nadira: Mobil rental. Warna merah. Setirnya terlalu ringan. Kamu bakal benci.
Nadira: Aku nyetir sendiri ke Pasar Minggu dua kali hari ini. Pas gerimis. Nggak takut sama sekali.
Nadira: Kamu yang ngajarin itu.
Aku menatap layar.
Nadira: Satu lagi.
Nadira: Bibirku masih nunggu.
Nadira: Selamat tidur, Yan.
Aku menaruh ponsel di wajahku. Layarnya dingin di kulit.
Di balik layar itu, di gelap kamarku, di bawah noda bocor berbentuk Pulau Sulawesi, aku tersenyum seperti orang bodoh, sendirian, dengan payung Bapak di lantai di sebelah kasur dan bau hujan dan lipstik merah tua yang entah bagaimana masih tertinggal di udara.
Besok dia balik.
Aku tidak tahu harus takut atau bersyukur.
Mungkin dua-duanya.
- 1 Bab 1 — Jaket Merah
- 2 Bab 2 — Hitungan Napas
- 3 Bab 3 — P3K Seberat Galon
- 4 Bab 4 — Syarat Promosi
- 5 Bab 5 — Tolak Baik-Baik
- 6 Bab 6 — Pelajaran Pertama: Rem
- 7 Bab 7 — Panitia HUT Evan
- 8 Bab 8 — Hujan Jam Sembilan
- 9 Bab 9 — Tol Pertama
- 10 Bab 10 — Kaki Kiri
- 11 Bab 11 — Evan Kenapa, Sih
- 12 Bab 12 — Kenzo
- 13 Bab 13 — Bekal
- 14 Bab 14 — Empat Bulan
- 15 Bab 15 — Gladi Resik
- 16 Bab 16 — Foto Angkatan
- 17 Bab 17 — Zaza, Jam Dua Pagi
- 18 Bab 18 — Lulus
- 19 Bab 19 — Dua Puluh Delapan
- 20 Bab 20 — Bukan Orang yang Kamu Kira
- 21 Bab 21 — Jalan Pulang
- 22 Bab 22 — Punggung
- 23 Bab 23 — Lima Tahun
- 24 Bab 24 — Kamu Nggak Berhak
- 25 Bab 25 — Utang
- 26 Bab 26 — Bukan Bayar Utang reading
- 27 Bab 27 — Satu Kalimat Lagi
- 28 Bab 28 — Polling Darurat
- 29 Bab 29 — Pengemudinya
- 30 Bab 30 — Kali Ini Nggak
- 31 Bab 31 — Meja Makan Wiratama
- 32 Bab 32 — Udah. Aku di Sini.
- 33 Bab 33 — Hari Pertama
- 34 Bab 34 — Nadira yang Nyetir
- 35 Bab 35 — Rahasia Negara
- 36 Bab 36 — Kondangan
- 37 Bab 37 — Double Date
- 38 Bab 38 — Fisioterapi
- 39 Bab 39 — Interogasi Papa Hadi
- 40 Bab 40 — Dapur Jam Sebelas Malam
- 41 Bab 41 — Jaket Merah
- 42 Bab 42 — Garis Start
- 43 Bab 43 — Kenzo
- 44 Bab 44 — Hujan Lagi
- 45 Bab 45 — Lima Kilometer
- 46 Bab 46 — Garis Finis
- 47 Epilog — Sisi Jalan