Chapter Nine
Ibu
POV: Lyodra
Ibuku memasak sayur asem setiap hari Kamis.
Sudah lima belas tahun begitu. Sejak aku dua belas tahun, sejak rumah ini cuma berisi dua orang, sejak lemari sepatu di dekat pintu kehilangan sepasang sepatu pantofel hitam ukuran empat puluh dua dan tidak pernah diisi lagi. Setiap Kamis, sayur asem, tempe goreng, ikan asin jambal, sambal terasi. Ibu bilang itu menu paling hemat yang tetap enak. Aku tidak pernah bilang bahwa gajiku sekarang cukup untuk membeli rendang setiap hari. Aku tahu sayur asem hari Kamis bukan soal hemat.
Itu soal sesuatu yang tetap. Satu hal di rumah ini yang tidak pernah pergi.
“Makan, Ly,” kata Ibu. “Jangan lihat HP terus.”
“Iya, Bu.”
Aku tidak berhenti melihat HP. Grup circle sedang meledak. Alea mengirim foto tiga belas desain undangan berbeda dan meminta semua orang memilih dalam lima menit. Sabrina menjawab dengan dua puluh emoji menangis. Erwin bilang semuanya bagus dan dia tidak bisa membedakan. Putra membalas dengan satu pesan:
Putra: Nomor 7 fontnya Comic Sans.
Alea: Itu bukan Comic Sans!! Itu Chalkboard!!
Putra: Kerabat dekat. Dosa yang sama.
Sabrina: HAPUS NOMOR 7
Erwin: aku suka nomor 7 :(
Sabrina: sayang kamu tidak punya hak suara di sini
Erwin: ini nikahanku juga???
Sabrina: hak suaramu dicabut sejak kamu pilih beskap kekecilan
Aku tertawa. Pelan, tapi cukup keras untuk membuat Ibu mengangkat kepala dari piringnya.
“Siapa?”
“Grup, Bu. Soal undangan Sabrina.”
“Oh.” Ibu kembali ke tempenya. Dia makan pelan, teratur, seperti segala sesuatu yang dia lakukan. Ibuku perempuan kurus dengan tulang pipi tinggi yang dulu, kata orang-orang di gang ini, adalah perempuan paling cantik di Tebet. Aku melihat foto-fotonya waktu muda. Rambut panjang, senyum lebar, mata yang selalu menatap ke luar bingkai seolah ada sesuatu yang menarik di sana.
Sekarang matanya selalu menatap ke dalam.
“Kapan nikahnya?” tanya Ibu.
“Mei, Bu.”
“Gedung?”
“Masih survei. Mungkin di Bogor. Outdoor.”
“Outdoor.” Ibu mengangguk. “Bulan Mei masih hujan.”
“Ada pendopo cadangan.”
“Hm.”
Aku menunggu. Ibu selalu punya kalimat kedua. Kalimat pertamanya selalu biasa saja, netral, seperti tes ombak. Kalimat keduanya yang memotong.
“Sabrina itu yang model, kan?”
“Iya, Bu.”
“Calon suaminya dokter.”
“Iya.”
Ibu menyendok kuah sayur asem, meniupnya, menyesapnya. “Semua orang bilang selamanya,” katanya.
Ini dia.
“Bu...”
“Ibu cuma bilang. Semua orang yang nikah bilang selamanya. Di depan penghulu, di depan keluarga, di depan foto. Semua bilang selamanya.” Dia meletakkan sendok. “Ayahmu juga bilang selamanya.”
Aku diam.
Di luar, motor tetangga lewat dengan knalpot bising. Kucing kampung mengeong di atap seng. Jam dinding berdetak di atas televisi yang dimatikan.
“Erwin bukan Ayah, Bu,” kataku pelan.
“Ibu nggak bilang dia sama.” Ibu menatapku. Tatapan yang selalu membuatku merasa seperti saksi yang sedang diperiksa. “Ibu cuma bilang, jangan terlalu percaya kata selamanya. Itu aja. Kamu pengacara. Kamu tahu kontrak bisa diputus.”
“Pernikahan bukan kontrak.”
“Pernikahan adalah kontrak paling lemah di dunia, Ly. Nggak ada denda, nggak ada jaminan. Satu orang tinggal pergi, selesai.” Dia mengambil tempe lagi. “Kamu yang paling tahu itu.”
Aku menunduk ke piringku. Sayur asem itu sudah dingin. Aku menyendoknya juga.
Ibu tidak jahat. Orang-orang yang tidak mengenalnya mungkin berpikir begitu, tapi dia tidak jahat. Dia cuma luka. Luka yang tidak pernah dijahit, yang dibiarkan terbuka lima belas tahun sampai pinggirannya mengeras dan jadi bagian dari tubuhnya. Setiap kali aku menyebut pernikahan, cinta, atau kata selamanya, luka itu bergesekan dengan sesuatu dan dia meringis dengan cara satu-satunya yang dia tahu: dengan kalimat yang memotong.
Dulu, sebelum malam itu, Ibu tidak seperti ini. Aku ingat dia bernyanyi di dapur. Lagu-lagu lama yang aku tidak tahu judulnya, dengan suara yang sedikit sumbang di nada tinggi. Aku ingat dia membantuku mengerjakan PR bahasa Inggris kelas lima dan mengoreksi pengucapanku dengan aksen yang terlalu rapi untuk ibu rumah tangga di gang sempit Tebet. Aku pernah bertanya dia belajar dari mana. Dia cuma bilang, dulu, lalu mengganti topik.
Aku belajar berdebat dari dia. Aku tidak pernah bilang itu ke siapa pun, tapi itu benar. Di meja makan ini, di umur dua belas, tiga belas, empat belas, aku belajar bahwa orang yang kalah adalah orang yang diam. Dan aku memutuskan aku tidak akan pernah diam lagi.
“Kamu masih ketua panitianya?” tanya Ibu.
“Iya.”
“Sama siapa?”
Aku tidak langsung menjawab. Aku tahu ke mana pertanyaan ini akan berjalan. Aku pernah menyebut nama itu di rumah ini, dulu, terlalu sering, dengan nada yang terlalu ringan.
“Ly.”
“Sama Putra, Bu.”
Sendok Ibu berhenti di udara. Sebentar. Cuma sebentar. Lalu turun lagi ke mangkuk.
“Anak kacamata itu,” katanya. “Masih ada di circle kalian?”
“Masih, Bu. Tapi kami musuhan.”
Aku menjawab terlalu cepat. Aku tahu aku menjawab terlalu cepat, karena kalimat itu keluar sebelum Ibu selesai mengucapkan kata kalian. Seperti saksi yang sudah menghafal jawaban sebelum pertanyaannya diajukan.
Ibu menatapku. Lama.
“Musuhan,” ulangnya.
“Iya. Kami berdebat terus. Ada papan skornya. Dia unggul satu poin.”
“Kamu kalah?”
“Sementara.”
Sudut bibir Ibu bergerak. Bukan senyum. Lebih seperti ingatan tentang senyum. “Kamu nggak pernah suka kalah.”
“Nggak ada yang suka kalah, Bu.”
“Ada,” kata Ibu. Dia menunduk ke piringnya. “Ada orang yang mau kalah. Orang yang paling berbahaya.”
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Aku tidak bertanya.
Ibu makan dalam diam selama beberapa menit. Lalu, tanpa mengangkat kepala:
“Jaket abu-abu yang kamu cuci minggu lalu. Punya siapa?”
Sendokku membentur piring dengan bunyi ting yang terlalu keras.
“Punya... teman.”
“Teman siapa?”
“Teman circle.”
“Yang mana? Erwin?”
“Bukan.”
“Alea nggak pakai jaket laki-laki ukuran XL.”
Aku advokat. Aku sudah pernah menghadapi jaksa paling kejam di Jakarta Selatan. Aku sudah pernah berdiri di depan hakim yang membenci perempuan muda dengan lipstik merah. Aku sudah pernah membuat saksi lawan mengakui hal yang tidak ingin dia akui.
Aku tidak pernah menang melawan ibuku sendiri.
“Punya Putra, Bu,” kataku. “AC di tempat rapat terlalu dingin. Dia pinjamin. Udah kubalikin.”
Ibu tidak menjawab. Dia berdiri, mengambil piringnya dan piringku yang masih setengah penuh, dan membawanya ke dapur. Aku mendengar bunyi air keran. Bunyi piring beradu.
Aku duduk sendirian di meja makan.
Di grup circle, Alea sudah memutuskan undangan nomor tiga dengan suara mayoritas. Putra mengirim stiker jempol. Erwin masih berduka atas nomor tujuh.
Aku menatap pesan Putra. Nomor 7 fontnya Comic Sans. Aku membayangkan wajahnya waktu mengetik itu. Datar. Kacamata sedikit melorot. Mungkin dia di ruang dosennya yang dispensernya selalu kosong, dengan mug jelek bertuliskan I’m Mean, Not Average.
Aku tersenyum ke layar.
Dari dapur, bunyi air keran berhenti.
Aku langsung mematikan layar.
Jam sepuluh, Sabrina menelepon video ke tiga orang sekaligus. Wajahnya memenuhi layar, tertutup masker lembaran bergambar panda. Di kotak sebelahnya, Alea sedang menguleni adonan dengan ponsel disandarkan ke toples tepung, sehingga yang terlihat cuma dagunya dan tangan yang penuh terigu.
“Rapat darurat,” kata Sabrina. “Soal undangan nomor tiga. Aku berubah pikiran.”
“Sab, kita baru voting dua jam lalu.”
“Itu Sabrina dua jam lalu. Ini Sabrina sekarang. Sabrina sekarang mau nomor tiga tapi warnanya terakota.”
“Semua harus terakota?” tanya Alea. “Undangan, kebaya, bunga. Nanti tamunya pulang kayak habis dari pabrik genteng.”
Aku tertawa sambil berbaring telungkup di kasur, ponsel di bantal.
“Ly,” kata Sabrina, tiba-tiba menyipitkan mata di balik masker pandanya. “Kenapa kamu senyum-senyum?”
“Aku nggak senyum-senyum.”
“Kamu senyum-senyum. Aku model. Aku tahu semua jenis senyum. Itu bukan senyum karena undangan. Itu senyum karena orang.”
“Itu senyum karena kamu pakai masker panda.”
“Dia lagi baca chat Putra soal Comic Sans,” kata Alea tanpa mengangkat kepala dari adonan. “Aku lihat dia online dari tadi dan dia nggak balas grup. Artinya dia lagi baca ulang.”
“Aku nggak baca ulang apa-apa!”
“Ly.” Sabrina mendekatkan wajahnya ke kamera sampai yang terlihat cuma satu mata panda raksasa. “Jaket abu-abu itu udah kamu balikin?”
“Udah. Minggu lalu.”
“Kamu cuci dulu?”
“...Iya.”
“Pakai pelembut?”
“Itu nggak relevan.”
“Itu sangat relevan,” kata Alea, menggebuk adonan dengan kepalan tangan. Bunyinya bug yang sangat keras. “Orang nggak pakai pelembut buat jaket musuhnya.”
Aku mengakhiri panggilan dengan alasan sinyal jelek. Rumahku di Tebet. Sinyalnya penuh empat garis.
Lima detik kemudian, di grup, Alea mengirim satu stiker kucing yang sedang menyemprotkan pelembut pakaian dengan wajah penuh cinta.
Aku membisukan grup itu selama delapan jam.
Malamnya, aku tidak bisa tidur.
Tentu saja. Rumah ini. Dinding tipis ini. Seminggu lalu aku tidur tujuh jam penuh, setelah empat puluh menit di bahu seseorang di dalam taksi yang berputar-putar di tol lingkar luar. Tapi malam ini aku kembali ke kebiasaan lama: menatap langit-langit, menghitung retakan di plafon, mendengarkan.
Jam dua lewat sepuluh, aku mendengarnya.
Pintu kamar Ibu terbuka. Langkah kaki pelan di lantai keramik. Bunyi kursi ditarik di ruang tengah.
Lalu tidak ada apa-apa.
Ibu duduk di ruang tengah dalam gelap. Seperti biasa. Seperti setiap malam selama lima belas tahun.
Aku berbaring miring, menghadap dinding, dan menutup mata.
Di rumah, dia nggak pernah tidur nyenyak.
Dia ingat. Dari satu kalimat yang kuucapkan lima tahun lalu. Satu kalimat, di satu malam, di satu tempat yang tidak ingin kupikirkan. Dia ingat dan dia menyimpannya dan dia menyuruh sopir taksi berputar empat puluh menit supaya aku bisa tidur.
Aku bangun. Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma bangun, membuka pintu kamar pelan-pelan, dan berjalan ke ruang tengah.
Ibu duduk di kursi rotan dekat jendela. Lampu tidak menyala. Cahaya dari lampu jalan masuk lewat kaca nako, membuat garis-garis kuning di wajahnya. Dia memegang sesuatu di pangkuannya. Kotak sepatu tua, kartonnya sudah lembek di pinggiran.
Dia menoleh waktu mendengar langkahku. Tangannya bergerak menutup kotak itu. Cepat, tapi tidak cukup cepat. Aku sempat melihat kertas-kertas di dalamnya. Kertas tua, kekuningan, dengan cap stempel biru di pojok. Dan satu amplop panjang berwarna krem dengan tulisan bahasa asing di bagian kop.
“Kenapa bangun?” tanya Ibu.
“Haus.”
Aku berjalan ke dapur, mengambil air. Aku minum sambil berdiri di ambang pintu dapur, menatap punggung ibuku yang kurus di kursi rotan.
“Bu.”
“Hm.”
“Ibu kenapa nggak tidur?”
Lama dia tidak menjawab. Lalu: “Ibu sudah tua, Ly. Orang tua susah tidur.”
Ibu lima puluh dua tahun. Dia sudah duduk di kursi itu setiap malam sejak umurnya tiga puluh tujuh.
Aku tidak membantah. Untuk satu kali itu, aku tidak membantah. Aku menaruh gelas di meja dapur, berjalan ke kursi rotan, dan duduk di lantai di sebelah kakinya. Seperti waktu aku kecil. Aku menyandarkan kepala di lututnya.
Ibu diam. Lalu, setelah beberapa detik, tangannya turun ke kepalaku. Mengelus rambutku. Pelan, kaku, seperti tangan yang sudah lama lupa caranya.
Kami duduk seperti itu dalam gelap. Kotak sepatu tua masih di pangkuannya, tertutup, di antara tangannya dan kepalaku.
“Leiden itu dingin ya, Ly,” katanya tiba-tiba. “Bulan Januari.”
Aku mengangkat kepala sedikit. “Ibu tahu dari mana?”
Tangannya berhenti di rambutku.
“Kamu yang cerita. Dulu. Waktu kamu di sana.”
Aku tidak pernah bercerita soal cuaca Leiden ke Ibu. Selama setahun di sana, telepon kami seminggu sekali cuma berisi tiga pertanyaan: sudah makan, uang cukup, kapan pulang. Ibu tidak pernah bertanya soal dingin. Dan aku tidak pernah cerita bahwa Januari di sana membuat jari-jariku mati rasa di jalan menuju perpustakaan.
Tapi aku tidak bertanya. Malam ini, aku tidak mau jadi advokat.
“Iya, Bu,” kataku. “Dingin banget.”
Tangannya mulai mengelus lagi.
Sebelum tidur, aku membuka grup circle sekali lagi. Sudah sepi. Semua orang sudah tidur, kecuali satu titik hijau kecil di sebelah nama Putra. Online.
Jam dua lewat empat puluh.
Aku membuka chat pribadi kami. Chat yang isinya cuma urusan panitia selama tiga minggu terakhir. Dan, kalau aku menggulir terus ke atas, terus, terus, melewati bertahun-tahun pesan soal kumpul Sabtu, ulang tahun Alea, dan foto bubur, ada riwayat yang lebih lama. Yang belum pernah kuhapus. Yang tidak pernah kubaca lagi.
Aku tidak menggulir ke atas.
Aku mengetik: Belum tidur?
Menghapusnya.
Mengetik: Font nomor 7 bukan Comic Sans.
Menghapusnya.
Mengetik: Makasih soal taksi.
Menatapnya lama.
Menghapusnya.
Titik hijau di sebelah namanya masih menyala. Lalu, di bagian atas layar chat kami, muncul tulisan kecil:
mengetik...
Aku berhenti bernapas.
mengetik...
mengetik...
Lalu hilang.
Titik hijau mati.
Tidak ada pesan yang masuk.
Aku meletakkan ponsel di dadaku dan menatap langit-langit. Retakan di plafon. Tujuh belas. Aku sudah menghitungnya ratusan kali.
Di seberang kota, di Rawamangun, seseorang yang tidak bisa tidur juga baru saja mengetik sesuatu kepadaku, lalu menghapusnya.
Itu pikiran yang bodoh. Itu pikiran yang tidak bisa dibuktikan.
Aku tertidur memikirkannya juga.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu reading
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru