← Keberatan Ditolak

Chapter Thirty Three

Musuh Lagi

POV: Putra


Hari pertama, dia tidak membalas pesan.

Aku mengirim satu. Jam sembilan malam. Kamu sampai rumah? Seperti setelah Matraman. Seperti setiap kali.

Centang dua. Abu-abu. Lalu biru jam sebelas. Tidak ada balasan.

Hari kedua, aku tidak mengirim apa-apa. Aku menatap chat kami dari jam enam sore sampai jam dua pagi. Titik hijau di sebelah namanya menyala jam satu lewat dua puluh. Mati jam satu lewat dua puluh tiga.

Hari ketiga, di grup circle, Sabrina mengirim jadwal rapat final dengan Mbak Tiara. Sabtu jam tujuh malam. Remah.

Lyodra membalas dalam lima menit: Hadir.

Aku membalas dalam lima menit: Hadir.

Tidak ada yang mengirim pesan lain. Tidak ada emoji popcorn dari Alea. Tidak ada stiker dari Erwin. Grup itu sunyi setelah dua kata hadir yang identik, seperti dua orang asing yang kebetulan menjawab absen di kelas yang sama.

Hari keempat, Alea datang ke kampus.

Dia tidak pernah datang ke kampusku. Dia berdiri di depan ruang dosen dengan celemek kelinci yang belum dilepas, tepung di pipi, dan kantong kertas cokelat di tangan.

“Dari Lyodra,” katanya. “Dia titip.”

Aku mengambil kantong itu.

Di dalamnya, kemeja biru muda. Kemejaku. Yang dia ambil dari mobilku di bulan Januari dan dia pakai ke prewedding Anyer. Dicuci. Disetrika. Dilipat rapi dengan lengan dimasukkan ke dalam, persis seperti cara toko baju melipat kemeja baru.

Aku membuka lipatannya sedikit. Mencium kainnya.

Deterjen. Pelembut pakaian aroma lavender.

Tidak ada jeruk. Tidak ada lada.

Dia mencucinya dua kali.

“Put,” kata Alea. Suaranya kecil. “Kalian kenapa?”

Aku melipat kemeja itu kembali. Persis seperti lipatannya semula.

“Nggak apa-apa, Al.”

Alea menatapku lama.

“Lyodra juga bilang gitu,” katanya. “Dengan intonasi yang sama.”

Dia pergi tanpa menunggu jawabanku.

Siang itu, waktu aku kembali ke ruang dosen dari kelas, ada segelas teh hangat di mejaku. Gelas kaca dengan tatakan, bukan mug I’m Mean, Not Average. Di sebelahnya, sepiring kecil pisang goreng.

Dispenser di sudut ruangan, yang airnya selalu habis sejak aku mulai bekerja di sini, penuh.

Bu Ningsih tidak bilang apa-apa. Dia mengetik di komputernya dengan kecepatan normal, tidak menoleh.

“Bu,” kataku.

“Teh manis, Pak. Gulanya satu sendok. Saya lupa Bapak suka manis atau nggak.”

“Terima kasih, Bu.”

Bu Ningsih berhenti mengetik. Dia masih tidak menoleh.

“Lima tahun lalu, Pak,” katanya pelan, “waktu ibu itu datang pertama kali, Bapak duduk di kursi itu sampai jam sembilan malam. Lampu nggak dinyalakan. Saya pulang jam empat. Waktu saya balik ambil payung yang ketinggalan jam tujuh, Bapak masih di situ.” Dia mulai mengetik lagi. “Saya nggak bilang siapa-siapa. Saya cuma isi dispenser besoknya. Tapi Bapak nggak pernah minum.”

Aku menatap dispenser yang penuh itu.

Lima tahun aku mengira dispenser itu selalu kosong karena tidak ada yang peduli.


Rapat final dengan Mbak Tiara adalah rapat paling efisien yang pernah dialami circle kami.

Dua jam. Tidak ada debat. Tidak ada satu pun.

Mbak Tiara mempresentasikan jadwal hari H yang dirinci per lima menit. Lyodra bertanya soal kontrak pembatalan vendor dekorasi kalau hujan. Aku bertanya soal kapasitas genset cadangan. Mbak Tiara menjawab keduanya. Lyodra mencatat. Aku mencatat. Kami tidak saling menatap.

Lyodra duduk di ujung kiri meja panjang. Di sebelah Sabrina. Aku duduk di ujung kanan. Di sebelah Erwin. Alea mengatur kursi seperti itu tanpa ada yang meminta, dan tidak ada yang protes.

Jarak kami empat meter. Aku menghitungnya. Lebih jauh dari dua meter lima tahun terakhir. Lebih jauh dari tiga puluh senti bulan Oktober. Lebih jauh dari nol.

“Bu Lyodra,” kata Mbak Tiara di menit kelima puluh. “Untuk urutan acara resepsi, saya butuh konfirmasi siapa yang akan memberi sambutan dari pihak sahabat.”

“Saya,” kata Lyodra.

“Dan dari pihak sahabat pria?”

Semua kepala menoleh padaku.

“Saya,” kataku.

Mbak Tiara mengangguk, mencatat. “Durasi masing-masing tiga menit. Mohon jangan lebih. Kalau Bapak dan Ibu mau kolaborasi, bisa berdua dalam satu sesi enam menit.”

“Terpisah,” kata Lyodra.

“Terpisah,” kataku.

Kami mengatakannya bersamaan. Seperti dulu. Seperti jangan waktu Erwin memanggil kami Pak Ketua dan Bu Ketua di rapat pertama bulan Oktober. Seperti musuh waktu Bu Ningsih bertanya. Seperti bukan waktu Pak Hartono di Bogor.

Bedanya, tidak ada yang tertawa.

Mbak Tiara mengangkat kepala dari binder enam sentinya. Menatap Lyodra. Menatapku. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, perempuan paling efisien di Jakarta itu terlihat ragu.

“Baik,” katanya pelan. “Terpisah.”

Di ujung meja, Alea tidak menulis apa-apa di buku pinknya. Pena di tangannya, tapi halaman di depannya kosong. Dia menatap halaman kosong itu seperti menatap sesuatu yang hilang.

Dua jam. Nol debat.

Rata-rata historis: tiga koma dua per pertemuan.

Anomali.

Tidak ada yang menyebutnya.


Rapat selesai jam sembilan. Mbak Tiara pulang. Lyodra pulang lima menit setelahnya, dengan alasan sidang besok pagi, tanpa menatap siapa pun.

Di ujung tangga, dia berhenti.

Aku menunggu. Satu detik. Dua.

Dia tidak menoleh. Dia turun.

Bunyi langkahnya di anak tangga. Di anak tangga yang dulu berderit, yang kuperbaiki dengan paku dan lem kayu di bulan Oktober supaya dia tidak tergelincir lagi.

Anak tangga itu tidak berderit.

Aku tidak tahu kenapa aku berharap anak tangga itu berderit. Aku yang memperbaikinya.

Lonceng pintu depan berbunyi. Lalu sunyi.


Sabrina menangis setelah Lyodra pergi.

Dia tidak menangis di depan Mbak Tiara. Dia tidak menangis waktu Lyodra bilang terpisah. Dia menunggu sampai pintu depan Remah tertutup, lalu dia menutup wajah dengan kedua tangan di sofa satu-satunya di lantai dua dan menangis dengan bahu berguncang.

“Tiga minggu lagi,” katanya dari balik tangannya. “Tiga minggu lagi aku nikah. Dan dua orang yang paling aku sayang di dunia ini selain Erwin duduk empat meter dan nggak saling ngomong.”

“Sab,” kata Erwin pelan.

“Aku nggak minta kalian cerita apa yang terjadi.” Sabrina menurunkan tangannya. Matanya merah. Menatapku. “Aku cuma mau tahu satu hal. Kalian masih bisa baikan?”

Aku tidak menjawab.

“Put.”

“Aku nggak tahu, Sab.”

Sabrina menangis lagi. Erwin memeluknya. Alea duduk di lantai di depan papan skor dengan buku pink kosong di pangkuan.

“Aku nggak tulis skor malam ini,” kata Alea pelan. Ke papan. Bukan ke kami. “Pertama kalinya dalam dua belas tahun aku nggak tulis apa-apa.”

Papan skor di dinding: LYODRA 413 — PUTRA 413.

Seri.

Delapan bulan lalu aku unggul satu poin. Dia bilang ada sesuatu di dadanya yang ingin mencakar dinding setiap kali dia melihat papan ini. Lalu dia melaporkan kekalahannya sendiri. Lalu dia menang soal photobooth. Lalu dia menang soal ulang tahun kedua puluh delapan.

Seri. Untuk pertama kalinya sejak buku tulis bergaris di kelas sepuluh.

Dan tidak ada yang merayakannya.


Sabrina dan Erwin pulang jam sepuluh. Alea naik ke lantai tiga. Dia berhenti di tangga dan bilang aku boleh tinggal selama yang aku mau, lampu bisa dimatikan dari saklar dekat tangga, pintu depan otomatis terkunci kalau ditutup.

Aku duduk sendirian di lantai dua Remah.

Di kursi plastik merah, di depan meja panjang, menghadap papan tulis kekuningan.

413–413.

Di bawahnya, tulisan-tulisan lama yang belum dihapus. Kertas karton bertuliskan SIDANG PERKARA PASAL SATU, dengan spidol ungu. Tulisan spidol merah Lyodra, Sabrina & Erwin vs. Takut, dengan coretan tulisan Sabrina Belum diputus dan tulisan baru di sebelahnya, Sudah diputus. Berani menang.

Berani menang.

Aku menatap tulisan itu lama.

Lalu tanganku bergerak sendiri. Jari telunjuk kanan. Mengetuk permukaan meja panjang.

Tok. Tok.

Ruangan sunyi.

Tidak ada yang membalas. Tentu saja tidak ada. Aku sendirian.

Aku mengetuk lagi.

Tok. Tok.

Lima tahun lalu, di meja nomor tiga puluh tujuh, dia membalas ketukan pertamaku. Lima tahun aku tidak mengetuk. Lalu di bulan Oktober, di ruang dosenku, jariku mengetuk sendiri dan dia berhenti setengah detik dan tidak membalas. Lalu di warung kopi Bu Romlah, aku menulis pasal tujuh. Wajib. Dan dia membalas, setiap kali, selama empat bulan.

Jangan ngetuk. Jangan dulu.

Aku mengetuk ketiga kalinya.

Tok. Tok.


“Put.”

Aku tidak menoleh.

Erwin berdiri di ujung tangga. Dia sudah pulang. Dia kembali. Dia masih memakai kemeja batik dari rapat tadi, dan dia membawa dua kaleng kopi susu dari minimarket di sudut jalan.

“Aku antar Sabrina dulu,” katanya. “Terus aku balik. Aku tahu kamu masih di sini.”

“Gimana kamu tahu?”

“Mobilmu masih di parkiran belakang. Di bawah pohon mangga. Ada mangga jatuh di kap mesinnya.”

Dia berjalan ke meja panjang. Menarik kursi plastik merah di sebelahku. Duduk. Membuka satu kaleng kopi susu dan menaruhnya di depanku. Membuka kaleng kedua untuk dirinya sendiri.

Kami duduk diam, menatap papan skor.

“Lima tahun lalu,” kata Erwin akhirnya, “aku berdiri di samping mobilmu lima belas menit. Aku nggak ketuk lagi. Aku pulang.”

“Aku tahu.”

“Malam ini aku nggak mau pulang.”

Aku menatap kaleng kopi susu di depanku.

“Aku nggak minta kamu cerita,” kata Erwin. “Kamu tahu aku nggak bakal minta. Aku cuma mau duduk di sini sampai kamu mau ngomong, atau sampai kamu mau pulang. Mana yang duluan.”

Kami duduk.

Lima menit. Sepuluh. Lima belas.

Lalu aku bicara.

Aku menceritakan semuanya. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ke siapa pun. Hari Selasa tanggal empat belas Mei jam dua siang. Kursi plastik biru dengan sandaran retak. Surat penolakan Leiden yang ditemukan Bu Ratna di laci meja belajar Lyodra. Kalau kamu sayang dia, jangan jadi alasan dia nggak pergi. Biar dia pikir itu keputusannya. Bulan Mei, menjauh pelan-pelan. Bulan Juni, rooftop, sebelas menit, empat poin. Kamu menang. Dua kata yang kuucapkan dengan sengaja. Pasal Satu. Tangan pertama yang terangkat. Bandara. Parkiran kampus. Tiga jam.

Lalu bulan Oktober. Bubur. Papan skor. Ketua panitia. Payung. Kopi gula satu sendok. Rooftop lagi. Serbet kertas. Pasal delapan, yang tidak kutulis. Kue gosong. Sofa di rumah orang tuaku. Singapura. Ambil. Dapur Remah. Kali ini aku melawan. Aku janji.

Senin. Kursi plastik biru yang sama. Kamu sudah pernah melepas dia sekali.

Tujuh kata yang tidak bisa kuucapkan.

Jangan ngetuk. Jangan dulu.

Erwin mendengarkan tanpa menyela sekali pun. Kaleng kopi susunya tidak dia minum. Dia cuma memegangnya, menatap papan skor, dan mendengarkan.

Waktu aku selesai, jam sudah lewat tengah malam.

Erwin diam lama.

“Jadi lima tahun lalu,” katanya pelan, “aku salah.”

“Salah apa?”

“Aku pikir kamu nangis di mobil karena ditinggal.” Dia menatapku. “Ternyata kamu nangis karena kamu yang ngelepas.”

Aku menunduk.

“Itu beda, Put,” kata Erwin. “Orang yang ditinggal, dia boleh sedih. Dia boleh marah. Dia nggak salah apa-apa. Tapi orang yang ngelepas...” Dia berhenti. “Orang yang ngelepas harus bawa keputusan itu sendirian. Seumur hidup. Nggak ada yang bisa bantu bawa, karena nggak ada yang tahu.”

“Sekarang kamu tahu.”

“Sekarang aku tahu.”

Dia meletakkan kaleng kopi susunya di meja. Lalu menepuk bahuku. Dua kali. Pelan.

“Put. Jam tiga pagi di kosmu. Kamu bilang ke aku, itu bukan keputusanmu. Apa yang dia sesali atau nggak sesali, itu keputusan dia. Bilang kamu mau dia tetap di sini. Minta. Sekali saja.“

“Aku ingat.”

“Aku minta. Ke Sabrina. Aku hampir mati gemetar. Tapi aku minta.” Erwin menatapku. “Sekarang giliranmu.”

“Dia bilang jangan ngetuk.”

“Dia bilang jangan dulu. Itu beda.”

Aku menatapnya.

“Kamu dosen statistik,” kata Erwin. “Kamu tahu bedanya nol sama belum.”


Aku pulang ke kos jam satu.

Aku tidak menyalakan lampu. Aku berjalan dalam gelap ke rak buku di sudut kamar. Rak paling atas. Buku teks statistik matematika setebal tujuh ratus halaman yang kubawa kembali dari ruang dosen hari Senin, setelah semuanya.

Aku membukanya di halaman empat ratus dua belas.

Mawar itu masih di sana. Kering. Pipih. Cokelat tua seperti kertas tua. Kelopaknya hampir transparan di bawah cahaya lampu jalan yang masuk dari jendela.

Lima tahun aku tidak membuka halaman ini.

Di halaman empat ratus dua belas, di samping mawar, ada judul bab yang dicetak tebal. Aku tidak pernah memperhatikannya. Aku cuma memilih halaman itu secara acak lima tahun lalu, malam setelah rooftop, karena itu halaman pertama yang terbuka waktu aku membuka buku dengan tangan yang gemetar.

Bab 9: Uji Hipotesis dan Kesalahan Tipe II.

Kesalahan Tipe II. Gagal menolak hipotesis nol yang salah. Tidak bertindak ketika seharusnya bertindak. Diam ketika seharusnya bicara.

Aku mengajarkan konsep ini setiap semester. Aku menjelaskannya ke mahasiswa dengan contoh ayam dan matahari terbit.

Aku menatap mawar kering di halaman itu sampai matahari naik.

Lalu aku menutup buku itu, mengambil spidol hitam dari meja kerja, dan menulis satu kalimat di dinding kamar kosku. Di sebelah kalender toko fotokopi. Di sebelah poster tabel distribusi normal.

Ibu kos akan marah. Aku akan mengecatnya ulang nanti.

Data apa yang bilang aku harus mundur?

Aku menatap kalimat itu.

Aku tidak punya jawaban.

Itu pertama kalinya dalam hidupku aku senang tidak punya jawaban.