Chapter Seventeen
Grup Sebelah
POV: Lyodra
Ada dua grup WhatsApp di ponselku yang paling sering kubuka.
Yang pertama bernama Circle Remah 🍞, berisi lima orang, dengan foto profil papan skor kekuningan dan deskripsi grup yang ditulis Alea tiga tahun lalu: Tempat curhat, debat, dan pengumuman kalau ada yang mau nikah (Erwin, sudah lunas).
Yang kedua bukan grup. Itu chat pribadi. Isinya cuma dua orang. Tapi sejak Sabtu pagi di warung kopi Bu Romlah, aku membukanya lebih sering daripada aplikasi email kantor, dan itu masalah serius untuk seorang advokat yang sedang menangani empat perkara aktif.
Aku sudah mengganti nama kontaknya tiga kali dalam lima hari.
Hari Sabtu: Putra Mahardika. Nama lengkap, seperti biasa, seperti yang sudah tertulis di ponselku sejak SMA.
Hari Minggu: Pihak Kedua. Karena itu lucu, dan karena kalau ada yang melihat layar ponselku, mereka akan mengira itu urusan kantor.
Hari Rabu: aku menggantinya lagi. Aku tidak akan bilang jadi apa. Aku advokat. Aku punya hak untuk tidak memberatkan diri sendiri.
Yang bisa kukatakan adalah apa yang terjadi Rabu malam itu.
Jam sebelas, aku sudah di kasur dengan lampu mati. Ibu sudah masuk kamarnya. Dinding tipis. Aku tidak bisa menelepon. Jadi kami mengetik.
Pihak Kedua: Udah tidur?
Lyodra: Belum. Kamu?
Pihak Kedua: Kalau aku udah tidur, aku nggak ngetik ini.
Lyodra: Itu jawaban yang sangat menyebalkan.
Pihak Kedua: Itu jawaban yang logis.
Lyodra: Kenapa kamu belum tidur?
Tiga titik. Lama. Hilang. Muncul lagi.
Pihak Kedua: Aku lagi koreksi ujian. Ada mahasiswa yang jawab soal nomor empat pakai puisi.
Lyodra: Kevin?
Pihak Kedua: Kevin.
Lyodra: Puisinya bagus?
Pihak Kedua: Rimanya bagus. Statistiknya salah semua.
Lyodra: Kasih nilai berapa?
Pihak Kedua: Aku kasih setengah poin. Buat keberanian.
Aku tertawa ke bantal, pelan, supaya Ibu tidak dengar.
Lyodra: Kamu lembek.
Pihak Kedua: Aku nggak lembek. Aku menghargai usaha.
Lyodra: Kamu nggak pernah kasih aku poin buat usaha. Waktu debat soal film horor tiga tahun lalu, aku usaha mati-matian, kamu tetap bilang argumenku lemah.
Pihak Kedua: Argumenmu memang lemah.
Pihak Kedua: Tapi usahamu bagus.
Pihak Kedua: Aku cuma nggak bisa bilang itu waktu itu.
Aku menatap tiga pesan itu lama. Lalu aku membuka pengaturan kontak dan mengganti nama Pihak Kedua menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak akan kukatakan pada siapa pun, termasuk pada majelis hakim mana pun.
Lalu aku mematikan layar dan tidur enam jam penuh di rumah yang dindingnya tipis.
Kamis siang, jam satu, aku sedang rapat internal dengan Pak Hadiwinata dan dua associate junior di ruang rapat kecil lantai dua puluh tiga. Kami membahas strategi banding perkara koperasi. Dana Lekas mengajukan banding setelah kalah di tingkat pertama. Pak Hadiwinata sedang menjelaskan sesuatu soal yurisprudensi dengan suara rendah yang membuat semua orang mengantuk setelah makan siang.
Ponselku bergetar di atas meja.
Circle Remah 🍞
Sabrina: guys aku butuh keputusan hari ini soal photobooth. Vendor kasih diskon kalau booking minggu ini
Sabrina: photobooth atau nggak?? jawab dong pliss
Aku melirik Pak Hadiwinata. Dia sedang menulis di papan tulis. Aku mengetik cepat di bawah meja.
Lyodra: Photobooth. Wajib. Tamu butuh kenang-kenangan.
Sepuluh detik kemudian.
Putra: Nggak perlu. Semua tamu punya kamera di HP. Photobooth itu pemborosan anggaran.
Aku menatap pesan itu. Pasal tiga. Di hadapan circle, Pihak Pertama dan Pihak Kedua wajib tetap berdebat dengan frekuensi minimal tiga kali per pertemuan. Grup WA dihitung sebagai pertemuan. Kami sudah sepakat soal itu juga, di catatan kaki pasal tiga yang ditulis di pinggir serbet kedua.
Lyodra: Foto di HP itu buram, gelap, dan nggak ada yang cetak. Photobooth itu cetak langsung. Fisik. Nyata.
Putra: 87% foto cetakan photobooth berakhir di laci dalam 6 bulan.
Lyodra: Data dari mana?
Putra: Riset pribadi. Laciku.
Lyodra: Itu karena kamu nggak punya rasa sentimental.
Putra: Aku punya rasa sentimental. Aku cuma nggak menyimpannya dalam bentuk kertas foto ukuran 4R.
Alea: 🍿🍿🍿
Erwin: aku suka photobooth tapi aku takut ngomong
Sabrina: sayang kamu boleh ngomong
Erwin: aku suka photobooth
Putra: Hak suaramu sudah dicabut sejak beskap.
Erwin: ITU UDAH LAMA
Di layar yang sama, ada notifikasi lain. Dari chat pribadi.
Aku melirik Pak Hadiwinata. Dia masih menulis di papan. Aku membuka chat pribadi itu di bawah meja.
Putra: Kamu lagi rapat?
Lyodra: Iya. Pak Hadiwinata lagi ngomong soal yurisprudensi. Aku mau mati.
Putra: Jangan mati. Kita belum kencan pertama.
Aku menunduk lebih dalam ke ponsel. Aku menggigit bibir bawah supaya tidak tersenyum.
Lyodra: Itu kalimat yang sangat tidak romantis.
Putra: Itu fakta.
Lyodra: Kamu baru aja bilang photobooth pemborosan di grup.
Putra: Pasal tiga.
Lyodra: Kamu terlalu menikmati pasal tiga.
Putra: Kamu juga.
Itu benar. Aku sangat menikmati pasal tiga. Ada sesuatu yang sangat memuaskan dari berdebat sengit dengan seseorang di grup sementara tahu bahwa di saat yang sama, di layar yang lain, dia sedang bilang jangan mati karena kami belum kencan pertama.
Grup circle bergetar lagi.
Sabrina: OKE jadi keputusannya apa?? Ly sama Put nggak boleh debat terus, kasih keputusan
Lyodra: Photobooth.
Putra: Nggak.
Lyodra: Photobooth, Put.
Putra: Data?
Lyodra: Sabrina mau photobooth. Itu data.
Sabrina: aku belum bilang aku mau
Lyodra: Kamu nanya. Orang yang nggak mau sesuatu nggak nanya.
Sabrina: ...oke itu benar
Chat pribadi bergetar.
Putra: Sebenarnya photobooth bagus.
Lyodra: APA
Putra: Aku cuma butuh alasan buat debat. Pasal tiga.
Lyodra: Kamu barusan bilang 87% foto berakhir di laci!
Putra: Itu karena aku nggak pernah foto di photobooth dengan orang yang tepat.
Aku berhenti bernapas.
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Di bawah meja ruang rapat. Di depan Pak Hadiwinata yang sedang menjelaskan putusan Mahkamah Agung tahun 2015 dengan suara seperti dengung lebah.
Itu karena aku nggak pernah foto di photobooth dengan orang yang tepat.
“Lyodra?”
Aku mengangkat kepala. Pak Hadiwinata menatapku dari depan papan tulis. Kedua associate junior, Dita dan Bayu, juga menatapku.
“Ya, Pak?”
“Pendapatmu soal yurisprudensi ini?”
Aku tidak mendengar apa pun soal yurisprudensi itu sejak lima belas menit lalu. Aku menatap papan tulis. Ada nomor putusan. Ada tahun. Ada panah yang menghubungkan beberapa kata.
“Saya pikir,” kataku, dengan suara paling profesional yang bisa kuhasilkan, “yurisprudensi itu relevan, tapi kita perlu memperhatikan perbedaan faktanya, Pak. Konteks perkaranya berbeda.”
Itu jawaban yang selalu benar untuk pertanyaan soal yurisprudensi apa pun.
Pak Hadiwinata mengangguk pelan. “Bagus. Itu yang saya mau dengar.”
Dia kembali ke papan tulis.
Dita, associate junior di sebelahku, perempuan dua puluh tiga tahun dengan kacamata bulat dan rasa ingin tahu yang berbahaya, berbisik tanpa menoleh: “Mbak, kenapa senyum-senyum?”
“Aku nggak senyum-senyum.”
“Mbak senyum dari tadi. Mbak nggak pernah senyum waktu Pak Hadi ngomong yurisprudensi.”
“Aku senyum karena yurisprudensinya bagus.”
“Mbak, yurisprudensinya tentang sengketa tanah kuburan.”
Rapat selesai jam dua. Aku kembali ke ruanganku, menutup pintu kaca, dan duduk.
Grup circle sudah memutuskan: photobooth, dengan suara tiga lawan satu (Sabrina, Alea, aku; Putra menolak; Erwin abstain karena hak suaranya dicabut). Alea menulis di grup bahwa dia akan mencatat ini sebagai kemenanganku. Skor jadi empat ratus dua belas lawan empat ratus tiga belas.
Aku menang. Tapi aku tahu kemenangan itu bukan kemenangan, karena lawanku sengaja kalah.
Tidak. Bukan sengaja kalah. Dia berdebat dengan sungguh-sungguh. Dia cuma, di layar yang lain, bilang sesuatu yang membuatku lupa untuk peduli siapa yang menang.
Aku membuka chat pribadi.
Lyodra: Kamu bilang hal kayak gitu waktu aku lagi rapat. Itu sabotase.
Putra: Hal kayak apa?
Lyodra: Kamu tahu hal kayak apa.
Putra: Aku cuma menyampaikan fakta tentang photobooth.
Lyodra: Aku hampir ketahuan Pak Hadi.
Putra: Kamu ketahuan?
Lyodra: Dita nanya kenapa aku senyum-senyum.
Putra: Kamu senyum-senyum?
Aku menatap pesan itu. Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan seumur hidupku.
Aku membuka koleksi stiker.
Aku punya koleksi stiker. Semua orang punya. Tapi aku tidak pernah memakainya di grup circle, karena stiker itu tidak serius, dan Lyodra Kirana adalah orang yang serius. Aku memakai stiker cuma dengan Alea, di chat pribadi, kalau sedang bergosip soal klien yang menyebalkan.
Ada satu stiker kucing. Kucing oranye gemuk yang memeluk sesuatu dengan dua kaki depannya, mata terpejam, dengan hati-hati merah kecil yang mengambang di sekitar kepalanya. Alea mengirimkannya padaku dua tahun lalu dan aku menyimpannya karena kucingnya mirip kucing kampung yang sering tidur di atap seng rumahku.
Aku menekan stiker itu.
Kirim.
Lalu aku melihat layarnya.
Stiker itu tidak terkirim ke chat pribadi.
Stiker itu terkirim ke Circle Remah 🍞.
Kucing oranye gemuk, memeluk sesuatu, mata terpejam, hati-hati merah mengambang. Di grup lima orang. Tepat di bawah pesan Alea soal skor empat ratus dua belas lawan empat ratus tiga belas.
Jantungku berhenti.
Aku menekan stiker itu. Lama. Menu muncul. Hapus untuk semua orang.
Tekan.
Stiker itu hilang. Diganti tulisan abu-abu kecil: Pesan ini telah dihapus.
Waktu dari kirim ke hapus: dua detik.
Aku menatap layar dengan tangan gemetar. Dua detik. Tidak ada yang akan melihat dalam dua detik. Tidak mungkin. Semua orang sedang bekerja. Sabrina sedang pemotretan. Erwin sedang jaga. Alea sedang memanggang roti. Putra sedang...
Chat pribadi bergetar.
Putra: ?
Satu tanda tanya.
Lyodra: Salah kirim.
Putra: Ke grup?
Lyodra: Iya.
Putra: Stiker apa?
Lyodra: Bukan urusanmu.
Putra: Aku lihat notifikasinya. Cuma tulisan “Lyodra: stiker”. Nggak sempat buka.
Lyodra: Bagus.
Putra: Stiker buat siapa?
Lyodra: Bukan urusanmu, Pihak Kedua.
Putra: Kalau bukan urusanku, kenapa salah kirimnya ke grup yang ada aku?
Aku membuang ponsel ke tumpukan berkas di meja dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Lima menit kemudian, aku mengambilnya lagi. Pelan. Seperti mengambil granat.
Grup circle sunyi. Tidak ada yang bertanya soal pesan yang dihapus. Tidak ada emoji. Tidak ada Ly kamu hapus apa? Tidak ada apa-apa.
Grup circle tidak pernah sunyi selama lima menit. Tidak pernah. Alea selalu membalas sesuatu dalam tiga puluh detik. Sabrina selalu mengirim emoji. Erwin selalu bertanya.
Kesunyian itu terasa seperti tatapan.
Aku membuka chat pribadi lagi.
Lyodra: Grupnya diem.
Putra: Semua orang lagi kerja.
Lyodra: Alea nggak pernah diem lima menit.
Putra: Mungkin dia lagi mindahin roti dari oven.
Lyodra: Mungkin.
Putra: Ly.
Lyodra: Apa.
Putra: Stikernya kucing?
Aku menatap pesan itu.
Lyodra: Kamu bilang nggak sempat buka!
Putra: Aku nggak sempat buka. Tapi kamu cuma punya satu stiker di koleksi yang pernah kamu pakai. Kucing oranye. Alea yang kasih. Kamu kirim ke aku sekali, lima tahun lalu, waktu aku lulus sidang skripsi.
Aku tidak bernapas.
Aku lupa. Aku benar-benar lupa. Lima tahun lalu, malam setelah dia sidang skripsi di bulan Mei, sebelum semuanya berantakan, aku mengirim satu stiker kucing oranye gemuk yang memeluk sesuatu dengan mata terpejam. Tanpa kata-kata. Cuma stiker itu.
Dia ingat.
Putra: Nggak apa-apa, Ly. Kirim ke sini aja.
Aku menatap pesan itu lama sekali. Lalu, dengan jari yang masih sedikit gemetar, aku membuka koleksi stiker, menemukan kucing oranye gemuk itu, dan mengirimnya.
Ke tempat yang benar kali ini.
Tanda centang dua. Biru.
Lima detik kemudian, balasannya datang.
Bukan stiker. Bukan kata-kata.
Satu emotikon senyum.
Pihak Kedua dilarang tersenyum di grup WA.
Ini bukan grup WA.
Interlude
Saksi Mata 👁️ (3 anggota)
Alea: Konfirmasi. Stiker kucing oranye. Peluk. Hati-hati merah. Dikirim ke grup jam 14:07:32, dihapus jam 14:07:34.
Alea: Saya punya screenshot.
Sabrina: AL KAMU SCREENSHOT DALAM 2 DETIK???
Alea: Aku pegang HP terus sejak rooftop. Refleksku sudah terlatih.
Erwin: Kucing oranye yang dulu kamu kirim ke Lyodra?
Alea: Yang itu. Dia cuma pernah pakai satu kali sebelumnya. Lima tahun lalu. Bulan Mei.
Sabrina: ke siapa??
Alea: Aku nggak tahu ke siapa waktu itu. Aku cuma tahu dia minta stikernya jam 11 malam, terus bilang “buat seseorang yang baru selesai sesuatu.”
Erwin: Putra sidang skripsi bulan Mei.
Sabrina: ...
Sabrina: WIN
Erwin: Aku cuma bilang fakta. Kayak Putra.
Sabrina: tunggu tunggu
Sabrina: kalian sadar nggak sih sejak rooftop Putra nggak pernah lagi bilang “musuh”?
Alea: Sadar. Aku catat. Terakhir dia bilang “musuh” itu di Bogor, ke Pak Hartono pemilik venue. Sejak rooftop: nol.
Erwin: Lyodra juga. Dia bilang “kami” terus sekarang. “Kami udah cek venue.” “Kami udah hubungi WO.”
Sabrina: KAMI 😭
Alea: Grup sebelah sudah sunyi 6 menit. Aku nggak balas apa-apa. Biar mereka panik.
Sabrina: kamu kejam
Alea: Aku hakim.
Erwin: Dan aku masih nggak boleh ngomong?
Sabrina: belum sayang
Erwin: Sampai kapan?
Alea: Sampai mereka sendiri yang ngomong.
Erwin: Itu bisa lima tahun lagi.
Alea: Kita sudah nunggu lima tahun, Win. Kita bisa nunggu sedikit lagi.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah reading
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru