← Keberatan Ditolak

Chapter Forty One

Epilog — Skor Baru

POV: Lyodra


Ibu jatuh di atas es bulan Januari.

Di kanal kecil di belakang perpustakaan Universitas Leiden, di bawah jembatan tempat aku pernah berdiri sendirian dengan kacamata minus empat dan menangis. Dia menyewa sepeda dari toko di dekat stasiun. Dia mengayuh tiga meter. Lalu ban depannya selip, dan dia jatuh ke samping, dan dia tertawa begitu keras sampai dua mahasiswa Belanda yang lewat berhenti untuk membantunya bangun.

Aku tahu karena aku yang merekamnya. Dari jembatan. Dengan tangan yang gemetar karena tertawa dan karena dingin.

Aku membeli tiketnya. Dua tiket. Ibu dan aku. Sepuluh hari. Ibu menolak tiga kali, dengan tiga argumen yang sangat terstruktur soal biaya dan cuti dan Ibu sudah tua, Ly. Aku membongkar ketiganya. Ibu juara debat nasional tahun sembilan puluh enam. Aku juara debat SMA Jakarta Selatan tahun empat belas. Aku menang.

Di hari ketiga, Ibu berdiri di depan gedung Fakultas Humaniora Universitas Leiden. Gedung bata merah dengan jendela-jendela tinggi. Dia berdiri di sana lama sekali, dengan mantel tebal yang kami beli di Jakarta dan masih kebesaran, dan kerudung biru muda dengan bros perak berbentuk burung kecil.

Dia tidak menangis. Aku pikir dia akan menangis. Dia cuma berdiri, menatap gedung itu, dan tersenyum.

“Dua puluh sembilan tahun,” katanya. “Ibu cuma telat dua puluh sembilan tahun.”

“Ibu nyesel?”

Ibu diam lama.

“Nggak,” katanya akhirnya. “Kalau Ibu ke sini dulu, Ibu nggak punya kamu.”

Lalu dia menggandeng tanganku dan mengajakku mencari sepeda.


Setahun setelah nikahan Sabrina dan Erwin, bulan Mei, aku menikah.

Bukan di bawah pohon kenari di Bogor. Bukan di gedung dengan lampu kristal. Akadnya di masjid kecil di Tebet, lima menit jalan kaki dari pagar besi hijau. Masjid tempat aku belajar mengaji waktu kecil. Ibu yang memilihnya.

Resepsinya di Remah.

Alea menutup toko selama tiga hari. Dia bilang dia tidak pernah menutup toko, bahkan waktu demam berdarah tahun lalu, bahkan waktu Mas Bayu melamarnya di dapur jam setengah lima pagi dengan cincin yang diikat di leher botol susu segar. Tapi untuk ini, katanya, dia menutup toko. Lantai satu jadi ruang makan. Lantai dua jadi ruang dansa. Lantai tiga jadi tempat menyimpan kado.

Seratus tamu. Tidak lebih. Putra yang membuat daftarnya, dengan spreadsheet yang kolomnya berjudul Potensi Drama Keluarga. Bobotnya dua puluh lima persen.

“Kenapa naik?” tanyaku waktu dia menunjukkan spreadsheet itu.

“Karena keluargaku sekarang termasuk ibumu.”

“Ibuku nggak drama.”

“Ibumu ikut lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional tahun sembilan puluh enam dan juara satu. Dia drama dengan struktur argumen yang sangat rapi.”

Itu benar. Aku tidak membantah.


Putra tidak pingsan waktu akad.

Erwin membawa tensimeter digital ke masjid, katanya untuk jaga-jaga. Dia memeriksa tekanan darah Putra lima menit sebelum ijab kabul. Seratus empat puluh lima per sembilan puluh.

“Takikardia situasional,” umumnya ke seluruh barisan keluarga laki-laki. “Kronis. Sudah dua belas tahun. Tidak ada obatnya. Pasien direkomendasikan untuk menikah.”

Bu Wening menangis. Pak Darto membaca koran di dalam masjid. Petugas masjid menegurnya.

Putra mengucapkan qabul dalam satu napas. Suaranya tidak bergetar. Dia mengucapkannya dengan suara yang sama yang dia pakai untuk membacakan hasil uji hipotesis. Datar. Presisi. Setiap kata seperti angka di laporan.

Tapi waktu penghulu bertanya sah?, dan masjid kecil di Tebet bergemuruh dengan sah dari seratus orang, dia menoleh padaku. Di balik tirai pembatas. Dia tidak bisa melihatku dengan jelas karena tirainya tebal.

Dia mengangkat tangan. Mengetuk lantai karpet masjid dua kali.

Tok. Tok.

Aku mengetuk lantai di sisiku.

Ibu, yang duduk di sebelahku dengan gamis putih gading dan kerudung biru muda dan bros burung perak, menutup mulutnya dengan tangan.


Sabrina pulang dari Milan untuk satu hari.

Satu hari. Penerbangan tiga belas jam, transit di Doha, tiba jam enam pagi, akad jam delapan, resepsi jam sebelas, kembali ke bandara jam sembilan malam. Dia bilang jadwal pemotretannya padat, dan agensinya cuma memberi izin dua puluh empat jam, dan dia akan tidur di pesawat.

Dia tidak tidur di pesawat. Dia tiba di Remah jam tujuh pagi dengan wajah yang tetap seperti iklan sampo meski baru tiga belas jam di udara, langsung memelukku, langsung menangis, langsung memarahi Alea karena dekorasi bunganya kurang peoni.

Erwin menjemputnya dari bandara. Erwin sudah ke Milan tiga kali dalam setahun. Spreadsheet hitung mundurnya, yang sekarang conditional formatting-nya dari merah ke hijau, menunjukkan tiga ratus enam puluh lima hari lagi. Separuh jalan.

“Aku nggak nangis,” kata Erwin di parkiran Remah, dengan kacamata hitam. “Ini alergi peoni.”

“Kamu nggak alergi peoni,” kata Alea.

“Sekarang alergi.”


Alea jadi MC.

Dia memakai gaun biru langit dan bando pita, dan di pinggangnya, celemek kelinci. Dia menolak melepas celemek itu. Katanya itu seragam resmi hakim Pengadilan Remah.

Mas Bayu berdiri di barisan tamu paling depan dengan batik dan topi kurir yang dia lupa lepas. Setiap kali Alea mengucapkan kalimat lucu di mikrofon, dia tertawa paling keras. Setiap kali Alea mengucapkan kalimat yang tidak lucu, dia juga tertawa paling keras.

Mereka menikah bulan Desember nanti. Di Remah juga. Putra sudah membuat spreadsheet untuk daftar tamunya.


Ada dua tamu yang tidak ada di daftar Alea, tapi ada di spreadsheet Putra.

Bu Ningsih datang dengan kebaya ungu dan suaminya, laki-laki berkumis tipis yang dulu tiga tahun bermusuhan dengannya sebelum mereka punya empat anak. Bu Ningsih memelukku di pintu Remah, lama, dan berbisik, Mbak, dispensernya sekarang nggak pernah kosong. Pak Putra yang isi sendiri tiap pagi.

Dan Kevin.

Kevin datang dengan kemeja batik yang jelas-jelas pinjaman, karena lengannya terlalu panjang, dan rambut yang, untuk pertama kalinya sejak semester satu, terlihat bertemu sisir. Dia sudah lulus bulan lalu. Skripsinya tentang uji beda dua rata-rata. Bab pembukanya puisi.

Di tengah resepsi, Alea memberinya mikrofon. Putra tidak tahu. Alea yang mengatur.

Kevin berdiri di depan seratus tamu dengan tangan gemetar dan selembar kertas lecek.

“Saya mau bacain puisi,” katanya. “Buat dosen saya. Yang dulu kasih saya nilai penuh.”

Dia membacakan puisinya. Uji Beda Dua Rata-Rata. Tentang dua sampel yang diambil dari populasi yang sama, tapi tidak pernah diukur di hari yang sama. Tentang yang satu selalu menunggu dan yang lain selalu pergi.

Lalu dia membalik kertasnya. Ada bait baru di belakang. Tulisan tangan yang miring dan berantakan.

Revisi, setelah data baru masuk:
Kedua sampel akhirnya diukur di hari yang sama.
Hipotesis nol: mereka berbeda.
Kesimpulan: gagal ditolak.
Mereka memang berbeda.
Yang satu mengaduk bubur, yang lain tidak.
Tapi mereka makan di mangkuk yang sama.

Seratus tamu bertepuk tangan. Bu Wening menangis. Pak Darto menurunkan korannya.

Putra, di sebelahku, membetulkan kacamata tiga kali.

“Nilai?” bisikku.

“Penuh,” katanya. Suaranya serak. “Plus bonus.”


Ibu dan Bu Wening duduk berdampingan di kursi paling depan.

Mereka berbagi satu kotak kue sus. Mereka sudah berbagi banyak hal dalam setahun ini. Resep sop buntut dan sayur asem. Jadwal pengajian. Satu perjalanan ke Bandung naik kereta. Ibu bilang Bu Wening adalah sahabat pertamanya dalam lima belas tahun. Bu Wening bilang Ibu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya kalah debat soal harga cabai di pasar.

Pak Darto duduk di sebelah mereka. Membaca koran.

Di tengah resepsi, aku melihat Pak Darto melipat korannya, membagi dua, dan menyodorkan bagian hukum ke Ibu.

Ibu menerimanya dengan dua tangan.


Malamnya, setelah semua tamu pulang, setelah Sabrina berangkat ke bandara sambil menangis, setelah Erwin pulang ke rumah yang separuh kosong untuk tiga ratus enam puluh lima hari lagi, setelah Alea dan Mas Bayu mencuci piring di lantai satu sambil bernyanyi lagu dangdut dengan suara sumbang, aku dan Putra naik ke lantai dua Remah.

Lampu neon. Meja panjang. Kursi-kursi plastik merah. Sofa satu-satunya.

Di dinding, foto siluet di pantai Anyer dalam bingkai kayu cokelat tua. Dua jari kelingking yang mengait.

Dan di sebelahnya, papan tulis putih.

Bukan papan yang lama. Papan yang lama dibawa Ibu ke rumah Tebet. Ibu menggantungnya di ruang tengah, di dinding di atas kursi rotan, dengan tulisan TIM: 1 yang tidak pernah dia hapus. Dia bilang dia mau melihatnya setiap jam dua pagi, kalau-kalau dia terbangun.

Dia tidak pernah terbangun lagi.

Papan yang baru putih bersih. Alea membelinya minggu lalu. Dia menggantungnya di tempat yang sama. Lalu dia menulis di bagian atasnya, dengan spidol ungu, huruf-huruf yang ditebalkan berkali-kali:

LYODRA & PUTRA

Satu baris. Satu kolom. Di bawahnya, angka.

0

“Nol apa?” tanyaku waktu Alea menunjukkannya.

“Nol debat yang kalian menangkan berdua lawan dunia,” kata Alea. “Kalian satu tim sekarang. Kalian butuh skor baru.”

“Siapa lawannya?”

Alea tersenyum. “Semua orang. Waktu. Takut. Siapa pun yang bilang cinta pasti berakhir.”


Aku berdiri di depan papan putih itu dengan gaun pengantin yang sudah kusut di bagian rok, sepatu yang sudah kulepas sejak jam delapan, dan lipstik merah tua yang kupakai ulang tiga kali sepanjang hari.

Bukan karena gugup. Bukan karena marah. Bukan karena cemburu.

Karena setiap kali Putra menatapku di resepsi, lipstikku entah kenapa harus dipakai ulang.

Putra berdiri di sebelahku. Beskap abu-abu tua yang kancingnya sudah terbuka dua. Kacamata yang sedikit miring. Dia tidak membetulkannya. Dia biarkan miring. Katanya dia ingin tahu berapa lama aku tahan tidak membetulkannya.

Empat menit. Aku membetulkannya.

“Ly.”

“Hm.”

Dia mengambil spidol merah dari tatakan. Spidol merah. Satu-satunya yang masih bisa dipakai, seperti biasa. Alea tidak pernah membeli spidol baru. Katanya itu tradisi.

Dia membuka tutupnya. Lalu menyerahkannya padaku.

“Debat pertama,” katanya. “Kita.”

“Lawan siapa?”

“Lima tahun.”

Aku menatap papan putih. Lalu menatap dia. Lalu, pelan, aku mencoret angka 0 di bawah nama kami.

Dan menulis 1.

“Kita menang?” tanyanya.

“Kita menang.”

“Data?”

Aku menaruh spidol di tatakan. Berbalik. Menatapnya. Dari jarak tiga puluh senti. Lalu dua puluh. Sepuluh. Lima.

“Keberatan?” bisikku.

Dia membetulkan kacamata. Dua kali.

“Ditolak,” katanya.


Di grup Saksi Mata 👁️ malam itu, Sabrina mengirim pesan dari ruang tunggu bandara di Doha.

Sabrina: Udah sampai Doha. Transit 4 jam. Aku nangis di toilet bandara 20 menit. Petugas kebersihannya kasih aku tisu. Wangi melati.

Erwin: SAB

Erwin: SIMPAN TISUNYA

Sabrina: udah sayang. di dompet.

Alea: Hakim mencatat: skor baru Lyodra & Putra, 1. Lawan: lima tahun. Status: menang.

Alea: Catatan tambahan: lipstik Lyodra dipakai ulang tiga kali hari ini. Penyebab: tidak diketahui (diketahui).

Lyodra: Al.

Alea: Itu istilah hukum, Ly. Kamu yang ngajarin.

Putra: 🙂

Erwin: ITU YANG KETIGA MINGGU INI

Putra: Kuota vonis bukan maksimal.

Sabrina: aku sayang kalian semua. aku pulang 365 hari lagi. jangan ada yang nikah lagi sebelum aku pulang.

Alea: Aku nikah Desember.

Sabrina: ALEA

Alea: Keberatan ditolak. 🙂

Aku mematikan ponsel dan menaruhnya di meja panjang lantai dua Remah. Di sebelah papan putih. Di sebelah foto siluet. Di sebelah buku statistik matematika setebal tujuh ratus halaman yang Putra bawa ke resepsi dan letakkan di meja kado dengan pita merah.

Di halaman empat ratus dua belas dan empat ratus tiga belas, mawar kering. Dan di sebelahnya, terselip, sapu tangan biru tua yang membungkus kacamata berbingkai hitam.

Barang bukti. Harus disimpan.

Putra duduk di kursi plastik merah. Aku duduk di sebelahnya. Bahu kami menempel. Tidak ada jarak. Nol.

Dia mengetuk meja panjang dua kali.

Aku membalas.

Lalu dia mengetuk lagi. Dan aku membalas lagi. Dan kami terus melakukannya, di lantai dua Remah, jam satu pagi, di malam pernikahan kami, sampai ketukannya tidak lagi berarti aku di sini.

Ketukannya berarti kita di sini.

Dan tidak ada yang perlu menghitung lagi.


TAMAT