Chapter Four
Satu Payung
POV: Putra
Aku sampai di depan rumah Lyodra jam enam lima puluh dua.
Rumahnya di gang kecil di Tebet, rumah petak bercat krem dengan pagar besi hijau yang catnya mengelupas di bagian engsel. Rumah ibunya. Dia tinggal di sini lagi sejak pulang dari Belanda empat tahun lalu, padahal gajinya sekarang jelas cukup untuk menyewa apartemen di Kuningan yang lima menit dari kantornya. Aku tidak pernah bertanya kenapa. Aku tahu kenapa.
Aku mematikan mesin dan tidak mengirim pesan. Aku tidak mau dia merasa diburu-buru. Aku juga tidak mau dia tahu aku sudah di sini delapan menit lebih awal.
Jam enam lima puluh delapan, pintu rumah terbuka.
Yang keluar duluan bukan Lyodra. Yang keluar duluan adalah ibunya, Bu Ratna, perempuan kurus berkerudung abu-abu dengan wajah yang selalu tampak seperti sedang membaca berita buruk. Dia berdiri di teras, menatap mobilku. Menatapku melalui kaca depan.
Aku keluar dari mobil dan menunduk sopan. “Pagi, Bu.”
Bu Ratna mengangguk. Satu kali. Pelan. Matanya bergerak dari wajahku, ke mobilku, ke wajahku lagi.
“Nak Putra,” katanya. Tidak ada nada di suaranya. Tidak hangat, tidak dingin. Cuma pengakuan bahwa aku ada.
“Iya, Bu.”
Dia tidak bilang apa-apa lagi. Dia masuk ke dalam. Beberapa detik kemudian, Lyodra keluar.
Dan semua yang ada di kepalaku berhenti.
Dia memakai celana kain krem dan kemeja linen putih yang lengannya digulung, rambut dikepang longgar di satu sisi, kacamata hitam di atas kepala. Tidak ada blazer. Tidak ada rok pensil. Tidak ada merah, kecuali di bibirnya. Dia tampak seperti orang yang akan berlibur, bukan survei gedung pernikahan. Dia tampak lebih muda. Dia tampak seperti...
Dia tampak seperti mahasiswi tingkat akhir yang dulu suka menungguku di depan perpustakaan.
Aku menunduk dan membuka pintu penumpang sebelum ingatan itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
Dia membawa sesuatu di tangan. Jaket abu-abuku, dilipat rapi, dimasukkan ke dalam kantong kertas.
“Nih,” katanya, menyodorkannya. “Udah kucuci.”
“Nggak perlu dicuci.”
“Perlu. Jaketmu bau kapur barus.”
“Itu bukan kapur barus. Itu sabun.”
“Sabun apa yang baunya kayak kapur barus?”
“Sabun yang dijual di koperasi kampus.”
Dia memutar mata dan masuk ke mobil. Aku menutup pintunya, berjalan memutar ke sisi pengemudi, dan berhenti sebentar di belakang mobil. Mengambil napas. Mengeluarkan napas.
Lalu aku membuka kantong kertas itu dan mencium jaketnya.
Bau deterjen. Bau pelembut pakaian aroma lavender. Dan di bawah semua itu, samar, sesuatu yang bersih dan pedas. Jeruk dan lada.
Aku menutup kantong itu dan melemparnya ke jok belakang seolah benda itu menggigitku.
Perjalanan ke Bogor makan waktu satu jam dua puluh menit. Lima puluh menit di antaranya dihabiskan untuk berdebat soal musik.
“Kamu masih dengerin lagu-lagu ini?” tanya Lyodra setelah lagu ketiga di playlist-ku.
“Kenapa?”
“Ini playlist yang sama kayak waktu kita KKN.”
“Kita nggak KKN bareng.”
“Kamu ngirim playlist ini ke grup waktu kamu KKN di Cianjur. Lagu yang sama. Urutan yang sama. Kamu nggak pernah ganti selama enam tahun?”
“Kalau sistemnya berfungsi, kenapa harus diganti?”
“Karena hidup itu dinamis, Put. Ada lagu baru. Ada genre baru. Kamu kayak orang yang masih pakai Nokia 3310 karena ‘masih bisa nelepon’.”
“Nokia 3310 itu tahan banting.”
“Kamu ngebela Nokia?”
“Aku ngebela konsistensi.”
Dia mengambil ponselku dari dudukan dasbor tanpa izin dan mulai mengganti lagu. Aku membiarkannya. Lagu yang dia putar adalah lagu yang tidak kukenal, sesuatu dengan banyak suara perempuan yang berbisik dan ketukan elektronik.
“Ini apa?”
“Musik. Yang dibuat setelah tahun 2018.”
“Ini suara siapa?”
“Penyanyi. Kamu nggak akan kenal.”
“Kenapa dia berbisik terus?”
“Itu gaya, Put.”
“Dia kedengaran kayak lagi sembunyi di lemari.”
Lyodra tertawa. Kepalanya terdorong ke belakang, menempel di sandaran kursi, dan dia tertawa sampai matanya menyipit. Di bawah sinar matahari pagi yang masuk dari jendela, kulit lehernya tampak hangat. Ada tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya.
Aku tahu ada tahi lalat itu di sana. Aku tidak perlu melihatnya untuk tahu.
Aku melihatnya juga.
Aku menatap jalan tol. Fokus ke jalan tol. Batas kecepatan delapan puluh. Jarak aman dua detik. Truk gandeng di lajur kiri. Itu yang penting. Bukan tahi lalat.
Venue pertama adalah Taman Kenari, sebuah taman bergaya kolonial di pinggiran Bogor dengan rumput yang dipangkas seperti karpet, pohon kenari besar yang berderet, dan sebuah pendopo kayu di ujungnya. Pemiliknya, Pak Hartono, laki-laki pensiunan tentara dengan kumis putih tebal, menyambut kami di gerbang.
“Calon pengantinnya?” tanyanya ramah, menunjuk kami berdua.
“Bukan,” kata Lyodra.
“Bukan,” kataku.
“Oh.” Pak Hartono menatap kami bergantian. “Belum?”
“Kami panitia, Pak,” kata Lyodra dengan senyum profesionalnya yang bisa meruntuhkan pertahanan saksi mana pun. “Calon pengantinnya teman kami.”
“Oh, oh. Maaf, maaf. Saya kira...” Dia tertawa. “Soalnya kalian datang berdua. Biasanya yang datang berdua itu calon pengantin. Kalau panitia, datangnya serombongan, ada tantenya, ada sepupunya.”
“Kami efisien, Pak.”
“Iya, iya. Efisien.” Dia mengangguk-angguk dengan senyum yang menunjukkan dia tidak percaya kami efisien. Dia mungkin percaya hal lain. “Mari, saya tunjukkan.”
Kami berkeliling. Lyodra bertanya soal kapasitas, akses listrik, jalur katering, toilet tamu, dan kebijakan pembatalan. Aku mencatat semuanya di aplikasi catatan ponsel dan sesekali bertanya soal data historis curah hujan bulan Mei, yang membuat Pak Hartono menatapku seperti aku berbicara bahasa Mandarin.
Di tengah taman, Lyodra berhenti dan menatap pohon kenari terbesar. Batangnya kokoh, cabangnya menjulur lebar seperti lengan.
“Sabrina bakal suka ini,” katanya pelan. Bukan padaku. Pada dirinya sendiri. “Dia selalu bilang mau nikah di bawah pohon.”
“Dia bilang begitu waktu kelas sebelas,” kataku. “Habis nonton film Korea.”
“Kamu ingat?”
“Dia bilang tiga kali. Satu di kantin, satu di bus study tour Jogja, satu di acara perpisahan.”
Lyodra menoleh padaku. Sinar matahari yang tersaring daun kenari jatuh di wajahnya dalam bintik-bintik terang. “Kamu ingat semua omongan kami?”
“Aku ingat semua yang diulang lebih dari dua kali. Itu bukan omongan lagi. Itu pola.”
“Dan aku? Apa yang kuulang lebih dari dua kali?”
Pertanyaannya ringan. Nadanya bercanda. Tapi matanya tidak.
Banyak. Yang kau ulang lebih dari dua kali banyak sekali.
Kau mengulang kata bodoh setiap kali kau sebenarnya khawatir. Kau mengulang gerakan menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri setiap kali kau gugup, padahal rambutmu tidak menghalangi apa-apa. Kau mengulang lagu yang sama di mobil setiap kali kau sedang sedih, lagu lama yang tidak pernah kau akui kau suka. Kau mengulang kalimat aku nggak apa-apa dengan intonasi yang naik di kata terakhir setiap kali kau sebenarnya sangat apa-apa.
“Kata ‘keberatan’,” kataku. “Rata-rata sebelas kali seminggu.”
Dia mendengus. “Itu aja?”
“Itu yang paling signifikan.”
Dia menatapku sedetik lebih lama. Lalu berbalik dan berjalan ke arah pendopo. “Kamu jelek kalau bohong,” katanya tanpa menoleh.
Aku tidak bohong. Aku cuma tidak menyelesaikan daftarnya.
Itu bukan kebohongan. Itu sampel yang tidak lengkap.
Hujan turun jam sebelas, tepat waktu kami berjalan dari pendopo kembali ke mobil yang diparkir di ujung lain taman. Bogor. Kota hujan. Seharusnya aku sudah memperhitungkannya. Aku bahkan mencatat data curah hujan bulan Mei. Tapi aku tidak mencatat curah hujan hari ini, karena hari ini aku sibuk mencatat hal lain.
Hujannya tidak gerimis dulu. Hujannya langsung turun seperti seseorang di langit membalikkan ember raksasa.
Aku membuka payung lipat dari tasku. Payung hitam, ukuran standar, cukup untuk satu orang dewasa dan setengah orang dewasa lain.
Lyodra menatap payung itu. Lalu menatap hujan. Lalu menatapku.
“Kamu cuma bawa satu?”
“Kamu bawa berapa?”
“Nol. Aku nggak tahu bakal hujan.”
“Ini Bogor.”
“Aku tahu ini Bogor!”
“Terus kenapa nggak bawa payung?”
“Karena aku pikir kamu yang bawa! Kamu yang suka nyatet curah hujan!”
Kami berdiri di bawah atap kecil di samping pendopo. Hujan menderu di sekeliling kami. Mobil berjarak sekitar seratus meter. Rumput sudah mulai tergenang.
“Oke,” kataku. “Kamu pakai payungnya. Aku lari.”
“Nggak. Kamu yang pakai. Kamu yang punya.”
“Kamu pakai kemeja putih. Kalau basah, transparan.”
Dia melotot. “Kamu memperhatikan bahan kemejaku?”
“Aku memperhatikan risiko.”
“Risiko apa?”
Aku tidak menjawab. Telingaku panas. Mungkin karena dingin. Hujan di Bogor memang dingin.
“Kamu pakai kacamata,” balasnya cepat. “Kalau kamu lari, kacamatamu basah, kamu nggak bisa lihat apa-apa, kamu nabrak pohon kenari, kepalamu bocor, dan aku harus jelasin ke Sabrina kenapa ketua panitia nikahannya gegar otak di venue survei pertama.”
“Kacamata bisa dilap.”
“Kamu bisa ketabrak!”
“Ly.”
“Put.”
Kami saling melotot.
Di ujung taman, Pak Hartono berteriak dari jendela kantornya, “Mau saya pinjamkan payung, Mas, Mbak?”
“NGGAK USAH, PAK,” jawab kami berdua serempak.
Pak Hartono mundur dari jendela dengan ekspresi orang yang menyesal sudah bertanya.
Akhirnya, Lyodra merebut gagang payung dari tanganku. Dia membukanya lebih lebar, mengangkatnya di antara kami, lalu melangkah mendekat.
Sangat dekat.
“Kita pakai berdua,” katanya. “Itu solusi yang adil. Masing-masing basah setengah.”
“Itu bukan solusi. Itu kegagalan bersama.”
“Itu namanya kompromi. Kata yang nggak ada di kamusmu.”
Dan dia mulai berjalan.
Aku terpaksa mengikutinya. Bahu kami menempel. Lengan atasku menekan lengan atasnya. Payung itu terlalu kecil, jadi aku miring ke kanan dan dia miring ke kiri dan hasilnya kami berjalan seperti satu makhluk aneh berkaki empat yang mabuk.
Di tengah jalan, aku sadar sesuatu. Payungnya condong ke arahku. Tangannya yang memegang gagang payung sengaja dimiringkan supaya lebih banyak bagian payung yang menaungi kepalaku. Bahu kanannya sudah basah kuyup.
Aku mengambil alih gagang payung dari tangannya. Aku lebih tinggi. Aku memiringkannya ke arah dia.
Dia merebutnya kembali dan memiringkannya ke arahku.
Aku merebutnya lagi.
“Put, lepas.”
“Kamu yang lepas.”
“Aku yang pegang duluan.”
“Itu payungku.”
“Kepemilikan nggak relevan dalam keadaan darurat.”
“Pasal berapa?”
“Pasal aku yang bilang!”
Kami sampai di mobil dalam keadaan basah separuh badan. Persis seperti katanya: masing-masing basah setengah. Bahu kanannya basah sampai ke siku. Bahu kiriku basah sampai ke pinggang. Payung yang kami rebutkan hampir patah salah satu jerujinya.
Aku membukakan pintu penumpang untuknya. Dia masuk. Aku berjalan memutar ke sisi pengemudi dan masuk. Kami duduk di dalam mobil yang sunyi, kaca jendela mengembun, hujan berdentum di atap.
Lalu dia tertawa.
Awalnya pelan. Lalu keras. Dia menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa sampai bahunya berguncang.
“Kita bodoh,” katanya di sela tawa. “Kita dua orang dewasa yang punya gelar S2, dan kita rebutan payung kayak anak SD.”
“Kamu yang mulai.”
“Kamu yang nggak mau ngalah!”
“Kamu juga nggak.”
“Itu intinya, Put!” Dia menurunkan tangan dari wajah, dan pipinya merah karena tertawa, dan rambutnya basah menempel di dahi, dan lipstiknya sedikit pudar di sudut bibir karena dia menyekanya dengan tangan tadi. “Itu intinya. Kita nggak pernah bisa ngalah.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku tidak menjawab.
Kacamataku berembun. Aku melepasnya dan mencari kain lap di dasbor. Tidak ada. Aku lupa membawanya.
“Sini,” kata Lyodra.
Dia mengambil kacamata dari tanganku sebelum aku sempat menolak. Dia menarik ujung syal tipis yang melingkar di lehernya, sesuatu dari sutra berwarna gading, kering karena tadi terlindung di balik kerah. Dia mulai mengelap lensaku. Pelan. Teliti. Satu lensa, lalu yang lain.
Tanpa kacamata, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Wajahnya buram, cuma bentuk dan warna. Tapi aku bisa merasakan dia dekat. Aku bisa mencium wangi jeruk dan lada bercampur bau hujan.
“Minus tiga tiga perempat kiri,” katanya, setengah bergumam, sambil memiringkan lensa ke arah cahaya. “Minus empat kanan. Silinder setengah di kanan. Pantes kamu nabrak tiang di lobi waktu itu.”
Aku membeku.
Dia terus mengelap. Seolah-olah dia tidak baru saja mengucapkan resep kacamataku dengan tepat, sampai ke silindernya.
Aku tidak pernah menyebutkan angka itu ke siapa pun di circle. Erwin tidak tahu. Alea tidak tahu. Sabrina tidak tahu. Orang tuaku tahu, dan optikku tahu.
Dan satu orang lain, yang dulu pernah menemaniku ke optik di Salemba, duduk di kursi tunggu, membaca resep di tanganku keras-keras dan bilang, Pantes kamu sering salah lihat. Salah lihat aku jadi cantik, misalnya.
Dia menyodorkan kacamata itu kembali. Aku memakainya. Wajahnya kembali tajam.
Dia sedang menatapku. Lalu dia sadar dia sedang menatapku. Lalu dia sadar apa yang baru saja dia katakan.
Aku melihat kesadaran itu sampai di wajahnya. Pelan, seperti hujan yang merembes masuk ke tanah. Matanya melebar sedikit. Bibirnya terbuka.
“Aku...” katanya. “Itu... Aku pernah lihat resepmu. Di grup. Kamu pernah...”
“Aku nggak pernah kirim resep ke grup.”
“...Di meja. Di kampus. Waktu itu. Kebetulan.”
“Hm.”
Dia berbalik ke jendela. Dia mengambil cermin kecil dari tasnya, membukanya, dan memakai ulang lipstiknya dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil. Lipstik merah tua. Satu sapuan atas, satu sapuan bawah, satu tekanan bibir. Lalu dia menutup cermin itu dengan bunyi klik yang sangat keras.
“Venue berikutnya,” katanya. “Sentul. Jalan.”
Aku menyalakan mesin.
Kami tidak bicara selama lima belas menit pertama. Hujan masih turun. Lagu penyanyi yang berbisik itu masih diputar dari ponselku, dan untuk pertama kalinya, aku tidak keberatan dia berbisik. Rasanya cocok. Rasanya seperti ada orang lain di mobil ini yang juga sedang menyimpan sesuatu.
Di lampu merah keluar tol, Lyodra akhirnya bicara. Matanya masih ke jendela.
“Kemejaku transparan nggak?”
Aku tidak menoleh. Aku menatap lampu merah dengan konsentrasi penuh. “Nggak.”
“Kamu nggak lihat.”
“Aku nggak perlu lihat.”
“Terus kenapa kamu yakin?”
“Karena,” kataku, “bagian yang basah itu bahu. Bukan yang lain.”
Hening.
“Kamu tahu bagian mana yang basah.”
“Aku tahu payungnya condong ke mana.”
Lampu berubah hijau. Aku menginjak gas.
Dari sudut mata, aku melihat dia menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri. Padahal rambutnya tidak menghalangi apa-apa.
Pola. Diulang lebih dari dua kali.
Aku tidak mencatatnya. Aku tidak perlu. Aku sudah hafal.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung reading
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru