Chapter Twenty Seven
Sofa
POV: Lyodra
“Ibuku mau ketemu kamu,” kata Putra.
Dia mengatakannya hari Senin, di telepon, jam sebelas malam, dengan nada yang sama yang dia pakai untuk membacakan hasil uji hipotesis. Datar. Faktual. Tanpa emosi.
Aku hampir menjatuhkan ponsel ke wajahku sendiri.
“Ibumu tahu?”
“Ibuku tahu sejak bulan Desember.”
“Bulan Desember? Kita baru jadian bulan Desember!”
“Dia nanya kenapa aku nggak mau dijodohin sama Dinda. Aku bilang nanti Ibu tahu.” Jeda. “Itu kesalahan taktis. Ibuku guru SD. Kalimat nanti Ibu tahu itu kayak nyiram bensin ke api. Dia nanya setiap Minggu. Dua bulan.”
“Terus kamu bilang?”
“Aku bilang setelah sidang circle. Karena kamu sudah bilang pacarku di depan majelis. Itu dokumen resmi.”
“Itu bukan dokumen resmi! Itu sidang pura-pura pakai rolling pin!”
“Alea bikin berita acaranya. Aku punya PDF-nya.”
Aku menutup wajah dengan bantal.
“Sabtu,” kata Putra. “Makan malam. Rumah orang tuaku di Rawamangun. Ibuku masak sop buntut.”
“Sop buntut itu artinya apa?”
“Artinya suasana hatinya sangat baik.” Jeda. “Atau sangat berbahaya. Aku belum bisa membedakannya.”
Aku menghabiskan lima hari mempersiapkan diri seperti mempersiapkan sidang banding.
Aku bertanya ke Erwin, yang sudah kenal keluarga Putra sejak SMA, soal kebiasaan Bu Wening. Erwin bilang Bu Wening suka orang yang makan banyak, benci orang yang menolak tambah nasi, dan punya album foto masa kecil Putra yang akan dikeluarkan dalam lima belas menit pertama, siap-siap. Erwin juga bilang Pak Darto jarang bicara dan hampir selalu membaca koran, dan kalau Pak Darto bicara lebih dari dua kalimat, itu artinya dia sangat menyukaimu atau sangat tidak menyukaimu.
“Gimana bedanya?” tanyaku.
“Kalau dia suka, dia nawarin kamu koran,” kata Erwin.
“Kalau nggak suka?”
“Dia nggak nawarin koran.”
Aku bertanya ke Sabrina soal baju. Sabrina menyarankan gaun bunga-bunga yang manis dan sopan, kesan menantu idaman. Aku menolak. Aku tidak punya gaun bunga-bunga. Aku punya blazer, rok pensil, dan banyak sekali benda berwarna merah.
“Jangan merah,” kata Sabrina. “Ibu-ibu generasi itu kadang mikir merah itu terlalu berani.”
“Aku memang berani.”
“Ly, ini bukan sidang.”
“Semua tempat adalah pengadilan kalau kamu cukup kompeten.”
Sabrina memutar mata dan mengirimiku tautan toko daring yang menjual blus krem.
Akhirnya aku memakai blus putih sederhana, rok kain abu-abu, dan sepatu datar. Riasan tipis. Rambut diikat rendah.
Lipstik merah tua.
Itu satu-satunya hal yang tidak bisa kunegosiasikan.
Rumah orang tua Putra di Rawamangun adalah rumah dua lantai bercat kuning pucat dengan pagar rendah yang dipenuhi tanaman dalam pot. Kembang sepatu, anggrek, lidah mertua, dan satu pohon jeruk nipis kecil yang buahnya menggantung di dekat pintu. Ada sepeda motor tua di garasi dan sepasang sandal jepit di teras yang terlalu besar untuk kaki siapa pun di rumah itu kecuali Pak Darto.
Bu Wening membuka pintu sebelum kami sempat mengetuk.
Dia perempuan kecil, lebih pendek dariku setengah kepala, dengan wajah bulat dan pipi yang selalu merah dan mata yang menyipit kalau tersenyum. Mata yang sama dengan mata Putra. Dia memakai daster batik dan kerudung instan berwarna ungu, dan dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dalam waktu kurang dari dua detik.
Lalu dia tersenyum. Lebar sekali.
“Ini Lyodra,” katanya. Bukan pertanyaan. “Ya Allah. Cantik sekali. Put, kamu nggak bilang dia secantik ini.”
“Aku bilang, Bu.”
“Kamu bilang lumayan.”
Aku menoleh ke Putra pelan-pelan. Dia sedang menatap pohon jeruk nipis dengan konsentrasi orang yang sedang menghitung jumlah buahnya.
“Lumayan,” ulangku.
“Itu kata yang dia pakai buat semua hal yang dia suka banget,” kata Bu Wening, menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah seperti menggandeng cucu. “Sop buntut Ibu, lumayan. Nilai IPK-nya waktu wisuda S2, lumayan. Kamu, lumayan. Ibu sudah hafal. Kalau Putra bilang lumayan, artinya dia nggak bisa ngomong yang sebenarnya karena takut kelihatan terlalu senang.”
Di belakangku, aku mendengar Putra menabrak sesuatu. Mungkin pot lidah mertua.
Ruang makan rumah keluarga Mahardika adalah ruangan kecil dengan meja kayu panjang yang permukaannya penuh goresan halus, kursi-kursi yang tidak seragam, dan dinding yang dipenuhi foto. Foto pernikahan Bu Wening dan Pak Darto, hitam putih, Bu Wening memakai kebaya putih dan sanggul tinggi. Foto Putra bayi, telanjang di bak mandi plastik. Foto Putra SD dengan kacamata pertamanya yang terlalu besar untuk wajahnya. Foto Putra SMA dengan seragam putih abu-abu, berdiri di samping piala lomba debat.
Aku berhenti di depan foto itu.
Di foto itu, Putra berdiri sendirian dengan piala. Tapi di pinggir bingkai, terpotong setengah, ada bahu seorang perempuan dengan rambut dikuncir tinggi. Bahu yang memakai seragam yang sama. Bahu yang menghadap ke arah lain, seperti sedang marah.
“Itu kamu?” tanya Bu Wening di sampingku.
Aku menatap bahu itu. Kuncir tinggi. Aku memakai kuncir tinggi setiap hari di SMA.
“Iya, Bu.”
“Putra cerita soal lomba itu. Kalian satu tim, tapi kalian kalah karena kalian debat satu sama lain di atas panggung.” Bu Wening tertawa. “Dia pulang hari itu dan nggak mau makan. Ibu tanya kenapa. Dia bilang, Bu, ada orang yang selalu menang lawan aku. Ibu bilang, ya udah, kalahin dia. Dia bilang, nggak bisa, Bu. Aku nggak mau ngalahin dia.“
Aku menoleh pelan ke Bu Wening.
“Waktu itu Ibu nggak ngerti,” kata Bu Wening. “Sekarang Ibu ngerti.”
Di ruang makan, Pak Darto menurunkan korannya sedikit. Menatap kami. Lalu mengangkatnya lagi.
Sop buntutnya luar biasa.
Kuahnya bening tapi dalam, gurih, sedikit manis dari wortel, sedikit pedas dari lada hitam yang ditumbuk kasar. Dagingnya lepas dari tulang hanya dengan disentuh sendok. Ada emping goreng, sambal kecap dengan irisan cabai rawit, dan nasi putih yang masih mengepul.
Aku makan dua mangkuk. Bu Wening menambahkan nasi ke piringku tiga kali tanpa bertanya, dan aku tidak menolak sekali pun, karena Erwin bilang begitu, dan karena sop buntutnya memang luar biasa.
Bu Wening bertanya soal pekerjaanku. Aku menjelaskan soal perkara koperasi, soal petani di Garut dan Tasikmalaya, soal saksi ahli lawan yang menjawab dengan jujur. Bu Wening menoleh ke Putra dengan alis terangkat.
“Saksi ahli lawan itu kamu?”
“Iya, Bu.”
“Kamu kalah sama dia?”
“Klienku kalah, Bu. Bukan aku.”
“Sama aja.” Bu Wening menepuk tanganku di atas meja. “Bagus. Anak ini perlu kalah sekali-sekali. Dari kecil dia nggak pernah mau kalah. Main ular tangga sama sepupunya, kalau kalah, dia hitung ulang semua langkahnya buat nyari kesalahan.”
“Biasanya ada kesalahan, Bu,” kata Putra.
“Diam, Put. Ibu lagi ngomong sama calon...” Bu Wening berhenti. Tersenyum. “Sama tamu.”
Aku menunduk ke sop buntutku dengan wajah panas.
Di ujung meja, Pak Darto melipat korannya. Untuk pertama kalinya malam itu, dia menatapku langsung. Wajahnya keriput dan tenang, dengan kumis tipis abu-abu, dan dia memakai kacamata baca yang mirip, sangat mirip, dengan kacamata Putra.
“Nak Lyodra,” katanya.
“Iya, Pak?”
“Kamu suka baca koran?”
Aku mengerjap. “Suka, Pak. Rubrik hukum.”
Pak Darto mengangguk pelan. Lalu dia mengulurkan koran yang baru dia lipat, menyeberangi meja, ke arahku.
“Ini bagian hukum,” katanya. “Bapak sudah selesai.”
Aku menerimanya dengan dua tangan.
Di sebelahku, Putra berhenti mengunyah. Bu Wening menutup mulut dengan tangan. Erwin, kalau dia ada di sini, pasti sudah jatuh dari kursi.
Itu dua kalimat. Dan dia menawarkanku koran.
Jam sembilan, hujan turun.
Bukan hujan biasa. Hujan Februari yang deras, yang membuat jalan di depan rumah langsung tergenang dalam sepuluh menit dan membuat bunyi atap seperti seribu orang mengetuk sekaligus.
“Nggak usah pulang dulu,” kata Bu Wening. “Tunggu reda. Nonton film aja. Ibu sama Bapak mau tidur. Besok Bapak ada pengajian pagi.”
“Bu, kami bisa...”
“Put, kamu mau bawa anak orang nyetir di hujan kayak gini? Banjir di Pramuka. Ibu lihat di berita.”
Itu argumen yang tidak bisa dibantah. Aku sudah belajar bahwa argumen Bu Wening, seperti argumen anaknya, selalu punya data.
Ruang tengah keluarga Mahardika kecil dan hangat. Ada sofa panjang berwarna cokelat tua yang bantalnya sudah kempis di bagian tengah, menunjukkan bertahun-tahun orang duduk di tempat yang sama. Ada televisi tabung tua yang dipajang di atas rak sebagai hiasan dan televisi layar datar baru di sebelahnya. Ada selimut rajutan berwarna-warni yang dilipat di ujung sofa.
Bu Wening dan Pak Darto naik ke lantai dua. Sebelum menghilang di tangga, Bu Wening menoleh.
“Nak Lyodra,” katanya. “Kalau ngantuk, tidur aja. Nggak apa-apa. Selimutnya di situ.”
Lalu dia menatap Putra dengan tatapan yang tidak bisa disalahartikan oleh siapa pun di dunia ini. Tatapan seorang ibu yang bilang jaga dia baik-baik atau Ibu potong uang jajanmu, meskipun kamu sudah dua puluh delapan dan tidak dapat uang jajan lagi.
Lalu dia naik.
Kami menonton film. Sebuah film romantis Korea yang Putra pilih secara acak dari layanan streaming dan yang, setelah dua puluh menit, ternyata tentang dua orang yang saling mencintai tapi pura-pura bermusuhan.
“Ganti,” kataku.
“Kenapa?”
“Ini terlalu dekat dengan dakwaan.”
“Kamu takut?”
“Aku keberatan.”
“Keberatan ditolak.”
Dia tidak mengganti filmnya.
Kami duduk di sofa cokelat tua. Awalnya di ujung masing-masing, dengan jarak satu bantal. Lalu, setelah setengah jam, bantal itu entah ke mana. Lalu, setelah satu jam, kepalaku di bahunya, dan selimut rajutan Bu Wening menutupi kaki kami berdua, dan hujan masih mengetuk atap dengan seribu jari.
Dia mengusap rambutku. Pelan. Berulang. Dari puncak kepala sampai ke tengkuk.
Aku tidak ingat kapan aku tertidur.
Aku bangun jam dua pagi.
Ruang tengah gelap. Televisi sudah mati. Seseorang mematikannya. Hujan sudah reda, tinggal gerimis halus yang bunyinya seperti bisikan di atap.
Aku berbaring di sofa cokelat tua. Kepalaku di dada Putra, bukan di bahunya lagi. Satu lengannya melingkari pinggangku. Napasnya pelan dan teratur. Dia tertidur. Kacamatanya terlepas, tergeletak di meja kecil di sebelah sofa, dilipat rapi.
Selimut rajutan Bu Wening menutupi kami berdua sampai ke dada. Dan di atasnya, ada selimut kedua. Selimut tebal bermotif kotak-kotak yang tadi tidak ada.
Seseorang turun dari lantai dua, mematikan televisi, dan menyelimuti kami dengan selimut kedua.
Aku menatap langit-langit ruang tengah keluarga Mahardika. Tidak ada retakan di plafonnya. Plafonnya putih bersih, dengan satu lampu gantung kecil berbentuk bunga.
Aku tidak bisa menghitung apa-apa.
Lalu aku mendengarnya.
Bunyi jam dinding di ruang makan. Bunyi kulkas berdengung di dapur. Bunyi gerimis. Bunyi napas Putra di bawah telingaku, pelan dan teratur. Bunyi jantungnya, yang sekarang benar-benar bisa kudengar, karena kepalaku di dadanya, bukan di bahunya.
Tidak ada bunyi pintu kamar yang terbuka jam dua pagi. Tidak ada bunyi langkah kaki pelan di lantai keramik. Tidak ada bunyi kursi rotan ditarik di ruang tengah yang gelap.
Rumah ini tidur.
Seluruh rumah ini tidur nyenyak.
Aku mulai menangis.
Tidak bersuara. Air mataku jatuh ke kemeja Putra, dan aku tidak mengelapnya, dan aku tidak berhenti. Aku menangis karena rumah ini hangat. Karena Bu Wening menambahkan nasi ke piringku tiga kali tanpa bertanya. Karena Pak Darto menawariku koran. Karena seseorang turun dari lantai dua jam sebelas malam untuk menyelimuti dua orang dewasa yang tertidur di sofa seperti anak kecil.
Karena aku tidak tahu rumah bisa seperti ini.
Lalu, di bawah tangis itu, sesuatu yang lain mulai naik. Dingin. Pelan. Dari perut ke dada ke tenggorokan.
Semua orang pada akhirnya pergi.
Ibuku pernah tinggal di rumah seperti ini. Aku melihat foto-fotonya waktu muda. Senyum lebar, mata yang menatap ke luar bingkai. Ibuku pernah punya sofa yang bantalnya kempis di tengah karena dua orang duduk di tempat yang sama bertahun-tahun.
Lalu suatu malam, sepasang sepatu pantofel hitam ukuran empat puluh dua menghilang dari lemari sepatu dekat pintu.
Aku memegang kemeja Putra lebih erat.
Ini terlalu bagus. Terlalu hangat. Terlalu nyaman. Ini persis jenis hal yang Ibu bilang tidak boleh terlalu dipercaya. Pernikahan adalah kontrak paling lemah di dunia, Ly. Nggak ada denda, nggak ada jaminan.
Ponselku bergetar di meja kecil di sebelah kacamata Putra.
Aku mengambilnya pelan, tanpa mengangkat kepala dari dadanya.
Ibu: Kamu di mana? Sudah jam 2.
Aku menatap pesan itu.
Ibu di ruang tengah. Di kursi rotan. Dalam gelap. Seperti setiap malam. Dan malam ini, aku tidak ada di kamarku di balik dinding tipis. Ibu duduk sendirian di rumah petak di Tebet dan anaknya tidak ada.
Aku mengetik.
Lyodra: Di rumah Sabrina, Bu. Hujan. Nggak bisa pulang. Besok pagi aku pulang.
Kirim.
Aku menatap pesan itu lama. Kebohongan pertama ke ibuku dalam lima tahun. Kebohongan pertama sejak aku bilang aku baik-baik saja waktu kembali dari Leiden.
Ibu: Oke. Hati-hati.
Cuma itu.
Aku meletakkan ponsel kembali di meja. Di sebelah kacamata Putra yang dilipat rapi.
Di bawah telingaku, jantungnya masih berdetak. Pelan. Teratur. Tidak terburu-buru.
Aku tidak tahu kenapa aku tidak bilang yang sebenarnya pada Ibu. Aku tidak tahu kenapa nama Putra tidak bisa keluar dari jariku. Aku cuma tahu ada sesuatu di cara Ibu menyebut anak kacamata itu di meja makan, sesuatu yang membuatku ingin menyimpan malam ini di tempat yang tidak bisa dia sentuh.
Aku memejamkan mata.
Aku tidak tidur lagi sampai pagi. Tapi aku juga tidak bergerak. Aku cuma berbaring di sana, mendengarkan rumah yang tidur, dan menghitung detak jantung di bawah telingaku sampai matahari naik dan Bu Wening turun dari tangga sambil bersenandung lagu lama dengan suara yang sedikit sumbang di nada tinggi.
Persis seperti ibuku, dulu, sebelum semuanya.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa reading
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru