Chapter Thirty Six
Argumen untuk Diri Sendiri
POV: Putra
Kelas Statistika Inferensial hari Kamis selesai jam sembilan pagi.
Empat puluh dua mahasiswa keluar dari ruangan dengan kecepatan orang yang baru dibebaskan dari penjara. Kevin keluar paling akhir, seperti biasa, karena dia selalu harus mencari pulpennya yang jatuh di bawah meja.
Aku tidak keluar.
Aku berdiri di depan papan tulis putih yang masih penuh rumus uji-t dari kuliah tadi. Aku mengambil penghapus. Menghapus semuanya. Rumus, grafik, contoh soal, tulisan Signifikan ≠ pasti benar yang kutulis di bulan Oktober dan tidak pernah kuhapus karena mahasiswaku bilang itu kalimat yang bagus untuk dijadikan stiker.
Papan tulis itu putih bersih.
Aku mengambil spidol hitam. Membuka tutupnya.
Di bagian paling atas, aku menulis kalimat yang sudah empat hari tertulis di dinding kamar kosku. Kalimat yang dikelilingi cat baru warna krem dari Ibu, yang tidak kututup.
Data apa yang bilang aku harus mundur?
Aku menatap pertanyaan itu.
Lalu, di bawahnya, aku mulai menulis.
Hipotesis nol (H₀): Kalau aku minta dia tinggal, aku jadi alasan dia tidak pergi. Kalau dia tidak pergi karena aku, suatu hari dia akan menyesal.
Sumber data H₀: 1. Bu Ratna, lima tahun lalu dan dua minggu lalu. 2. Pengalaman Bu Ratna sendiri dengan ayah Lyodra (sumber: Lyodra, via Erwin, via Sabrina, via grup). 3. Asumsiku sendiri.
Aku berhenti. Menatap poin tiga.
Asumsiku sendiri.
Aku menggarisbawahinya. Dua kali.
Uji terhadap H₀:
Sumber 1 sudah mencabut datanya. Bu Ratna sendiri yang bilang ke Lyodra, kata Alea di grup tadi malam, satu kalimat pendek tanpa emoji: Ibu Lyodra minta maaf. Ke semua orang. Termasuk ke dirinya sendiri.
Sumber 2 bukan data tentang Lyodra. Itu data tentang seorang laki-laki yang bilang aku nggak bisa nunggu untuk dirinya sendiri, dan seorang perempuan yang tidak membantah. Populasinya berbeda. Mengaplikasikan data itu ke Lyodra adalah sampling bias. Aku menjelaskan konsep ini ke hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan di bulan Oktober, di bawah sumpah, dan Lyodra sendiri yang menemukan celahnya.
Sumber 3.
Aku menatap tulisan asumsiku sendiri lama sekali.
Lalu aku menulis di bawahnya:
Sumber 3 tidak pernah diuji. Sumber 3 adalah keyakinan bahwa yang terbaik untuk orang yang kucintai adalah aku tidak meminta apa-apa. Keyakinan ini kupegang sejak lima tahun lalu tanpa sekali pun bertanya pada orang yang bersangkutan apakah itu benar.
Itu bukan data. Itu ketakutan yang diberi label data.
“Pak?”
Aku menoleh. Kevin berdiri di ambang pintu kelas. Pulpen di tangannya. Hoodie yang sama.
Dia menatap papan tulis.
Aku tidak menghapusnya. Aku tidak menyembunyikannya. Aku cuma berdiri di sana dengan spidol di tangan dan membiarkan mahasiswa barisan tengah membaca uji hipotesis tentang hidupku.
Kevin membaca lama. Bibirnya bergerak sedikit, seperti orang yang mengeja.
“Pak,” katanya akhirnya. “Ini... tugas buat kami?”
“Bukan.”
“Oh.” Dia menatap papan lagi. “Ini punya Bapak?”
“Iya.”
Kevin menatapku. Wajahnya, yang biasanya penuh lelucon dan pertanyaan yang salah dengan cara kreatif, tiba-tiba sangat serius.
“Pak,” katanya pelan. “Hipotesis alternatifnya belum ditulis.”
Aku menatap papan tulis. Dia benar. H₀ ada. Ujinya ada. Kesimpulannya belum. Dan hipotesis alternatifnya, H₁, belum kutulis.
“Saya boleh kasih saran, Pak?”
“Silakan.”
Kevin berjalan ke depan kelas. Mengambil spidol biru dari tatakan. Dan di bawah tulisanku, dengan tulisan tangan yang miring dan berantakan, dia menulis:
H₁: Kalau Bapak minta, Ibu Lyodra bisa milih sendiri. Minta ≠ mutusin.
Dia menutup spidol. Menatapku.
“Itu dari puisi saya, Pak,” katanya. “Yang Bapak kasih nilai penuh. Mereka berbeda karena tidak ada yang pernah minta mereka diukur bersama. Saya nulis itu buat Bapak. Saya lihat Bapak di pameran itu.”
Aku menatapnya.
“Saya juga lihat Ibu Lyodra di seminar,” kata Kevin. “Waktu dia bilang saksinya harus mengaku, di bawah sumpah. Dia lihat ke Bapak. Satu kelas lihat. Kami semua tahu, Pak. Grup kelas sudah tahu sejak Oktober.”
“Sejak Oktober?”
“Bapak nulis signifikan ≠ pasti benar di papan, terus Bapak bilang dalam hidup juga begitu. Bapak nggak pernah ngomong soal hidup di kelas.” Kevin tersenyum. “Itu data, Pak. Signifikan.”
Dia mengambil tasnya dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti.
“Pak. Kalau nanti Bapak minta, terus Ibu Lyodra tetap pergi ke Singapura...”
“Hm?”
“Bapak tetap kasih nilai penuh buat puisi saya, kan?”
Aku hampir tertawa. “Nilai penuh.”
“Makasih, Pak.”
Dia pergi.
Aku menatap papan tulis. Tulisanku dalam hitam. Tulisan Kevin dalam biru.
Minta ≠ mutusin.
Lima tahun lalu aku tidak membedakan keduanya. Aku pikir kalau aku minta, aku memutuskan. Jadi aku tidak minta. Dan dengan tidak minta, aku tetap memutuskan. Aku memutuskan dia tidak perlu tahu apa yang kumau.
Aku mengambil spidol hitam lagi. Di bagian paling bawah papan, aku menulis kesimpulan.
Kesimpulan: Tolak H₀. Mundur bukan kebaikan. Mundur juga keputusan. Dan aku tidak punya hak mengambilnya sendirian.
Malam itu, aku makan bubur di Matraman dengan Erwin.
Jam sepuluh. Warung tenda biru. Lampu neon putih. Pak Kumis menatap kami dengan alis terangkat waktu kami duduk.
“Mas,” katanya padaku. “Bukan sama Mbak-nya?”
“Bukan, Pak.”
“Mas-nya ini siapa?”
“Saksi,” kata Erwin. “Saksi ahli medis.”
Pak Kumis menatap Erwin dengan wajah orang yang sudah menyerah memahami pelanggannya, lalu menaruh dua mangkuk di depan kami. Berlapis rapi.
Aku menatap mangkukku. Ayam suwir di atas. Cakwe di tengah. Kerupuk di pinggir.
Lalu aku mengambil sendok dan mengaduknya.
Pelan. Sampai rata. Sampai semua lapisan tercampur dan jadi satu warna kuning pucat yang seragam.
Erwin berhenti makan. Menatap mangkukku. Lalu menatapku.
“Kamu aduk sendiri,” katanya.
“Iya.”
“Nggak ada Lyodra.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menyendok bubur yang sudah teraduk. Memakannya. Mengunyah. Menelan.
“Karena aku mau,” kataku.
Erwin menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum yang sungguhan. Dan dia mengaduk buburnya sendiri, yang sudah dia aduk dari tadi, sekali lagi, seperti bersulang.
Jumat jam sepuluh pagi, aku berdiri di depan pagar besi hijau di gang sempit Tebet.
Lyodra di kantor. Aku tahu, karena dia memasang jadwal sidang di kalender panitia dan lupa set privat lagi. Sidang jam sembilan di PN Jakarta Pusat. Dia tidak akan pulang sampai sore.
Aku tidak datang untuk dia.
Aku mengetuk pagar. Tiga kali. Bukan dua. Dua kali bukan untuk rumah ini.
Bu Ratna membuka pintu.
Dia tidak memakai kerudung. Rambutnya yang hitam bergaris abu-abu diikat sederhana di tengkuk. Dia memakai daster batik dan sandal jepit. Wajahnya tidak seperti membaca berita buruk. Wajahnya seperti seseorang yang baru tidur nyenyak dua malam berturut-turut dan belum tahu harus bagaimana dengan rasa itu.
Dia menatapku lama dari teras.
“Nak Putra.”
“Bu. Boleh saya bicara sebentar?”
Dia diam. Lalu membuka pintu pagar.
Kami duduk di ruang tengah. Dia di kursi rotan dekat jendela. Aku di kursi kayu di seberangnya. Di antara kami, meja kecil dengan dua gelas teh manis yang dia buat tanpa bertanya.
Kursi rotan itu. Aku menatapnya. Lyodra menceritakannya di meja nomor tiga puluh tujuh, lima tahun lalu. Ibu duduk di ruang tengah dalam gelap setiap jam dua pagi. Aku membayangkannya selama lima tahun. Kursi itu lebih kecil dari yang kubayangkan. Rotannya sudah mengelupas di bagian lengan, di tempat tangan seseorang bertumpu ribuan malam.
“Ibu sudah bicara sama Lyodra,” kata Bu Ratna sebelum aku sempat membuka mulut. “Rabu malam. Semuanya. Leiden. Ayahnya. Jam dua pagi.”
“Saya tahu, Bu. Alea cerita.”
“Alea.” Bu Ratna tersenyum tipis. “Anak itu tahu segalanya.”
“Dia hakim, Bu.”
Bu Ratna menatap teh di gelasnya.
“Ibu minta maaf, Nak Putra,” katanya. “Dua kali Ibu duduk di kursi plastik biru itu dan minta kamu ngelakuin sesuatu yang bukan urusan Ibu. Dua kali kamu nggak bantah. Ibu kira itu karena kamu setuju. Ternyata itu karena kamu terlalu sopan buat bilang Ibu salah.”
“Bukan cuma sopan, Bu.”
“Terus apa?”
Aku menatap kursi rotan itu. Lengan yang mengelupas.
“Karena saya pikir Ibu tahu sesuatu yang saya nggak tahu,” kataku. “Ibu kenal Lyodra lebih lama. Ibu ibunya. Saya pikir kalau Ibu bilang dia bakal bahagia di Leiden, Ibu pasti benar. Saya nggak pernah tanya ke dia. Saya tanya ke Ibu.”
Bu Ratna menutup mata.
“Itu kesalahan saya, Bu,” kataku. “Bukan kesalahan Ibu. Ibu cuma minta. Saya yang mutusin buat nurut. Saya yang mutusin buat nggak nanya ke Lyodra. Saya yang mutusin buat bikin dia pikir dia yang pergi. Ibu nggak nyuruh saya bohong selama lima tahun. Itu saya sendiri.”
Hening. Jam dinding berdetak. Kucing kampung mengeong di atap seng.
“Saya datang bukan buat minta maaf, Bu,” kataku. “Walaupun saya juga minta maaf. Saya datang buat bilang satu hal. Tujuh kata. Yang nggak bisa saya ucapkan dua minggu lalu.”
Bu Ratna membuka mata.
Aku menarik napas. Menatapnya lurus.
“Lima tahun lalu saya mundur, Bu,” kataku. “Kali ini saya tidak akan mundur.”
Itu lebih dari tujuh kata. Aku menghitung. Sebelas. Aku tidak peduli.
“Saya akan bilang ke dia apa yang saya mau,” lanjutku. “Saya akan minta. Sekali. Dengan jujur. Tapi keputusannya ada di Lyodra, Bu. Bukan di saya. Dan bukan di Ibu.”
Bu Ratna menatapku lama.
Lalu dia tersenyum. Senyum yang sampai ke mata. Senyum yang sama dengan senyum perempuan di foto ijazah cum laude yang Lyodra ceritakan di grup.
“Ibu tahu,” katanya. “Ibu sudah bilang ke dia hal yang sama Rabu malam. Pilih sendiri. Ibu juara debat nasional, Nak Putra. Ibu tahu kapan harus berhenti bicara.”
Sebelum aku pulang, Bu Ratna menahanku di ambang pintu.
“Nak Putra. Ibu mau tanya satu hal.”
“Silakan, Bu.”
“Kacamata itu.” Dia menatap kacamataku. “Lyodra bawa pulang kacamata bingkai hitam dari kantornya. Ibu lihat di tasnya waktu Ibu bantu beresin cucian. Dibungkus sapu tangan biru. Itu punyamu?”
Aku diam.
“Dia bilang dia nemu di tasnya di bandara Schiphol,” kata Bu Ratna. “Lima tahun lalu. Dia nggak tahu kenapa ada di sana.”
Aku menatap gang sempit di depan pagar besi hijau. Tukang bakso lewat. Mangkuk dipukul sendok.
“Malam sebelum dia berangkat,” kataku pelan, “Alea bikin acara perpisahan di toko roti. Saya datang. Lima belas menit. Saya nggak ngomong sama dia. Tasnya di kursi. Ransel abu-abu. Kantong dalamnya terbuka.”
Bu Ratna menunggu.
“Saya masukin kacamata cadangan saya ke situ,” kataku. “Diam-diam. Waktu semua orang lagi foto bareng di depan.”
“Kenapa?”
Aku membetulkan kacamata. Satu kali.
“Karena saya nggak bisa ikut, Bu,” kataku. “Tapi saya mau ada sesuatu dari saya yang bisa lihat Leiden. Biar kalau dia salah lihat sesuatu di sana, ada lensa yang bisa dia pinjam.”
Bu Ratna tidak bicara. Dia cuma mengulurkan tangan, dan, untuk pertama kalinya, menyentuh lenganku. Ringan. Sebentar.
“Kamu bilang ke dia,” katanya. “Nanti. Bukan Ibu yang bilang.”
“Iya, Bu.”
“Dan Nak Putra.”
“Iya?”
“Tolong jangan tunggu lima tahun lagi.”
Malam itu, di kamar kos, aku duduk di depan dinding dengan tulisan spidol hitam yang dikelilingi cat krem baru.
Di sebelahnya, aku menempelkan selembar kertas dengan selotip. Halaman yang dirobek dari buku catatan kulit cokelat. Poin kenapa aku mau kamu minta aku tinggal. Tiga poin. Tulisan tangan miring yang tajam.
Aku membaca poin tiga untuk keseratus kalinya.
Karena kalau kamu minta, sekali saja, aku bakal tahu bahwa aku cukup penting buat kamu lawan.
Aku membuka chat kami.
Jangan ngetuk. Jangan dulu.
Aku tidak mengetuk.
Aku mengetik. Pelan. Tidak menghapus apa pun.
Ly. Ini bukan ketukan. Aku nggak minta kamu balas. Aku cuma mau kamu punya data yang lengkap sebelum kamu mutusin apa pun soal Singapura.
Aku mau kamu tinggal.
Bukan karena aku nggak bisa nunggu. Aku bisa nunggu. Dua tahun, lima tahun, empat ribu lima ratus dua puluh tiga hari lagi. Aku bisa.
Aku mau kamu tinggal karena aku mau sarapan bubur diaduk sama kamu tiap Sabtu pagi. Karena aku mau debat soal warna pita sama kamu sampai kita tua. Karena aku mau kamu marah-marah ke aku pakai voice note tujuh menit kalau kamu flu. Karena empat ribu lima ratus dua puluh tiga hari itu bukan angka yang mau aku hitung jauh dari kamu.
Itu yang aku mau. Itu bukan keputusan. Itu cuma data.
Keputusannya punyamu. Kalau kamu pilih pergi, aku nggak akan bilang Singapura itu kota bagus. Aku bakal bilang aku sedih, karena itu jujur. Terus aku bakal beli tiket pesawat tiap ada libur semester, karena itu juga jujur.
Kali ini aku melawan. Bukan buat menang. Buat kamu tahu kamu cukup penting buat aku lawan.
Poin tiga. Aku baca.
Aku menatap pesan itu sekali lagi.
Lalu aku menekan kirim.
Centang satu. Centang dua. Abu-abu.
Aku tidak menunggu centang biru. Aku meletakkan ponsel menghadap ke bawah di meja, mematikan lampu, dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, aku tidur.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri reading
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru