Chapter Thirty Four
Laci
POV: Lyodra
Seminggu setelah ruang dosen, aku hampir tidak pulang.
Aku pulang. Secara teknis. Aku tidur di kamarku setiap malam di rumah petak di Tebet dengan dinding tipis. Tapi aku pulang jam sebelas malam, setelah Ibu masuk kamar, dan aku berangkat jam enam pagi, sebelum Ibu keluar. Aku makan di kantor. Aku mandi di rumah dalam waktu tujuh menit. Aku tidak pernah lewat ruang tengah kalau lampunya menyala.
Ibu tidak mengetuk pintu kamarku. Ibu tidak mengirim pesan. Ibu tidak memasak sayur asem hari Kamis.
Tapi jam dua pagi, setiap malam, aku mendengarnya lagi.
Pintu kamar Ibu terbuka. Langkah kaki pelan di lantai keramik. Bunyi kursi rotan ditarik di ruang tengah.
Dua minggu Ibu tidur nyenyak. Dua minggu, sejak amplop Singapura. Lalu Senin itu, Ibu pulang dari kampus Putra dan malam itu kursi rotan kembali ditarik.
Aku berbaring miring menghadap dinding dan mendengarkan ibuku duduk dalam gelap. Di sisi lain dinding tipis yang sama. Dua orang yang tidak tidur, terpisah satu dinding, tidak saling bicara.
Seperti lima belas tahun terakhir. Cuma lebih buruk.
Selasa malam, ponselku berdering. Nomor yang tidak kusimpan dengan nama, tapi kukenali dari tiga digit terakhirnya, karena dua minggu lalu aku meneleponnya untuk belajar resep tempe bacem.
“Nak Lyodra? Ini Ibu. Ibunya Putra.”
Aku duduk tegak di kasur. “Iya, Bu.”
“Ibu cuma mau tanya. Tempe bacemnya jadi?”
“Jadi, Bu. Gosong sedikit di pinggir.”
“Wah, nggak apa-apa. Gosong sedikit itu tanda masaknya pakai hati.” Bu Wening tertawa. Lalu tawanya pelan-pelan hilang. “Nak. Putra nggak pulang makan hari Minggu kemarin. Pertama kali dalam tiga tahun. Katanya sakit. Ibu telepon, suaranya kayak orang yang belum tidur seminggu.”
Aku memegang ponsel lebih erat.
“Ibu nggak mau ikut campur,” kata Bu Wening. “Ibu cuma mau bilang, anak itu dari kecil kalau sedih nggak pernah nangis di depan orang. Dia duduk di kamarnya terus ngitung sesuatu. Waktu SD, kucingnya mati, dia ngitung ubin kamar mandi tiga kali.” Jeda. “Kemarin Ibu ke kosnya bawa sop buntut. Dia lagi ngecat dinding kamarnya. Ibu tanya kenapa. Dia bilang ada tulisan yang harus ditutup. Tapi dia nggak nutup tulisannya. Dia ngecat sekelilingnya. Tulisannya dibiarin.”
“Tulisan apa, Bu?”
“Ibu nggak baca. Ibu nggak pakai kacamata.” Bu Wening menghela napas. “Nak, kalau kalian lagi berantem, nggak apa-apa. Ibu sama Bapak dulu berantem juga. Tapi kalau kamu sempat, tolong kirim dia pesan. Satu aja. Apa aja. Biar dia tahu dia masih boleh berhenti ngitung.”
Setelah telepon itu selesai, aku membuka chat kami. Pesan terakhirnya masih di sana. Kamu sampai rumah? Seminggu lalu. Belum kubalas.
Aku mengetik. Aku sampai.
Aku menatapnya lama. Lalu menghapusnya.
Aku belum bisa. Belum.
Rabu siang, Alea dan Sabrina datang ke kantorku.
Aku tidak mengundang mereka. Mereka muncul di lobi lantai dasar jam dua belas, dan Pak Udin menelepon pos dengan suara bingung: Mbak, ada dua Mbak cantik, satu tinggi banget satu pendek banget, katanya teman Mbak, bawa kue sama nangis-nangis.
Aku turun. Sabrina memang menangis. Matanya merah, maskaranya luntur sedikit. Alea memegang kotak kue sus dari Remah dan wajahnya sangat serius, wajah yang biasanya dia pakai waktu menjatuhkan vonis.
“Kami mau makan siang sama kamu,” kata Alea.
“Aku sibuk.”
“Kamu nggak sibuk. Dita bilang kamu nggak ada sidang hari ini. Dita bilang kamu cuma duduk di ruanganmu sejak jam delapan dan nggak ngetik apa-apa.”
“Kalian ngomong sama Dita?”
“Dita turun ke lobi waktu kami datang,” kata Sabrina, mengusap mata. “Dia anak baik. Dia khawatir sama kamu. Dia bilang kamu nggak pakai lipstik tiga hari.”
Aku menyentuh bibirku. Kering. Aku tidak ingat kapan terakhir memakainya.
Lyodra Kirana tidak pernah keluar rumah tanpa lipstik. Sejak SMA. Bahkan waktu demam berdarah di semester lima, dia memakai lipstik ke rumah sakit.
“Naik,” kataku.
Mereka duduk di dua kursi di depan meja kerjaku. Alea membuka kotak kue sus dan menaruhnya di tengah meja. Sabrina menatap ke sekeliling ruanganku: jendela kaca yang menghadap Kuningan, rak buku penuh kodifikasi, tumpukan berkas perkara, dan satu foto berbingkai di sudut meja. Foto circle, kelas dua belas, di depan sekolah. Lima orang dengan seragam putih abu-abu, tersenyum ke kamera. Putra berdiri paling pinggir. Aku berdiri di sebelahnya.
Kami tidak bersentuhan di foto itu. Ada sejengkal jarak di antara bahu kami.
Sabrina menatap foto itu lama.
“Kamu masih pajang ini,” katanya.
“Itu foto circle.”
“Aku tahu. Aku juga punya. Di kamar. Tapi aku punya yang ini juga.” Dia mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan layarnya. Foto siluet di pantai Anyer. Dua jari kelingking yang mengait di depan matahari terbenam. “Ini wallpaper-ku. Sejak Januari. Erwin cemburu.”
Aku memalingkan muka.
“Ly,” kata Alea. “Kamu nggak harus cerita kalau kamu nggak mau.”
“Erwin sudah cerita?”
“Erwin nggak cerita apa-apa,” kata Sabrina. “Dia pulang jam dua pagi Sabtu kemarin. Dia bilang dia balik ke Remah, duduk sama Putra sampai tengah malam. Aku tanya ada apa. Dia nggak mau cerita. Dia bilang itu bukan ceritanya.”
“Dia cuma bilang satu kalimat,” kata Alea. “Sabrina, ulangi.”
Sabrina menarik napas. “Dia bilang, Putra nggak sejahat yang Lyodra pikir. Dan nggak sebaik yang Putra pikir.“
Aku menatap meja.
Aku menceritakannya.
Aku tidak berencana menceritakannya. Tapi Alea menatapku dengan wajah hakim yang sabar, dan Sabrina menangis tanpa alasan yang jelas, dan aku sudah tiga hari tidak memakai lipstik, dan ternyata aku tidak punya kekuatan untuk menyimpannya lebih lama.
Ibu. Kursi plastik biru dengan sandaran retak. Mei, lima tahun lalu. Surat penolakan Leiden yang hilang dari laciku. Kalau kamu sayang dia, jangan jadi alasan dia nggak pergi. Putra yang menjauh sengaja. Rooftop. Dua kata yang dia akui di ruang dosen. Senin minggu lalu, Ibu duduk di kursi yang sama dan minta hal yang sama. Putra yang tidak bisa mengucapkan tujuh kata.
Halaman buku catatan yang kurobek dan kutinggalkan di mejanya.
Jangan ngetuk. Jangan dulu.
Waktu aku selesai, Sabrina tidak menangis lagi. Dia menatapku dengan mulut terbuka. Alea menutup kotak kue sus pelan-pelan, seperti menutup peti.
“Ibumu,” bisik Sabrina. “Ibumu yang...”
“Ibu yang datang ke dia. Dua kali.”
“Dan Putra...”
“Putra yang ngelepas aku. Dan biarin aku pikir aku yang ninggalin dia.”
Hening.
Di luar jendela, Kuningan siang hari. Mobil-mobil di jalan layang. Gedung-gedung kaca yang memantulkan matahari.
“Lima tahun,” kata Alea pelan. “Lima tahun dia biarin kamu benci dirimu sendiri.”
“Iya.”
“Dan dia duduk dua meter dari kamu setiap Sabtu.”
“Iya.”
“Dan dia nggak pernah bilang.”
“Iya, Al.”
Alea menatap kotak kue sus yang tertutup. Lalu dia mengangkat kepala, dan ada sesuatu di wajahnya yang tidak kuduga. Bukan marah untukku. Bukan simpati.
Sesuatu yang lebih mirip pertanyaan.
“Ly,” katanya. “Pasal Satu.”
“Kenapa Pasal Satu?”
“Siapa yang ngusulin?”
Aku diam.
“Kamu,” kata Alea. “Di toko roti, sebelum Remah. Kamu ngusulin. Dengan nada bercanda. Kamu bilang circle terlalu berharga untuk dirusak drama percintaan.” Dia menatapku lurus. “Putra cuma setuju.”
“Dia setuju karena dia sudah mutusin buat ngelepas aku.”
“Iya. Dan kamu ngusulin karena kamu sudah mutusin buat jadi musuhnya.” Alea mencondongkan badan ke depan. “Mending jadi musuhmu seumur hidup daripada jadi mantanmu. Itu kalimatmu, kan? Kamu cerita di sidang circle.”
“Itu...”
“Itu keputusan buat dua orang, Ly. Kamu yang ambil. Sendirian. Di rooftop. Kamu nggak nanya dia mau jadi musuhmu atau nggak. Kamu bilang. Dan dia bilang oke.”
Aku membuka mulut. Menutupnya.
“Aku nggak bilang dia benar,” kata Alea cepat. “Dia salah. Dia salah besar. Dia biarin ibumu mutusin hidupmu dan dia ikut. Itu salah. Tapi...” Dia berhenti. Suaranya melembut. “Tapi kamu juga bikin keputusan buat dia, Ly. Lima tahun lalu. Kamu nggak tahu kamu lagi bikin keputusan itu, karena kamu pikir kamu yang ditinggal. Tapi kamu bikin. Dan dia jalanin. Lima tahun.”
Aku tidak bisa menjawab.
Aku advokat. Aku selalu bisa menjawab. Tapi ada sesuatu di argumen Alea yang tidak punya celah. Tidak ada premis yang cacat. Tidak ada data yang salah. Cuma kebenaran yang sangat sederhana dan sangat tidak nyaman.
Sabrina berdiri. Berjalan ke sisi mejaku.
“Ly, kamu punya tisu? Mataku...”
“Laci kanan atas.”
Dia membuka laci itu.
Aku lupa.
Aku lupa apa yang ada di laci kanan atas.
Sabrina membeku. Tangannya di dalam laci. Matanya menatap sesuatu.
Pelan-pelan, dia mengeluarkan sapu tangan biru tua. Ujungnya terbuka sedikit, dan dari celahnya terlihat bingkai plastik hitam. Dua lensa.
Di bawahnya, amplop putih tebal dengan kop surat firma. Penawaran Penempatan — Kantor Singapura.
Sabrina meletakkan keduanya di atas meja. Pelan. Berdampingan.
Alea menatap sapu tangan itu. Menatap bingkai hitam di dalamnya.
“Itu...” Alea memiringkan kepala. “Itu kacamata Putra? Yang bingkai hitam? Kenapa ada di...”
“Cadangan,” kataku. Suaraku keluar sangat kecil. “Dia beli dua di optik Salemba. Lima tahun lalu. Waktu aku nemenin dia. Satu dia pakai. Satu cadangan.”
“Kenapa ada di lacimu?”
“Aku nemu di tasku. Di bandara Schiphol. Waktu cari paspor.”
“Lima tahun lalu?”
“Lima tahun lalu.”
Sabrina membuka sapu tangan itu sepenuhnya. Kacamata hitam berbingkai plastik. Lensanya sedikit berdebu. Gagangnya dilipat rapi.
“Kamu simpan lima tahun,” kata Sabrina. Bukan pertanyaan.
“Aku nggak tahu harus diapain.”
“Kamu bisa balikin.”
“Aku nggak bisa balikin. Kalau aku balikin, dia tahu aku simpan.”
“Kamu bisa buang.”
Aku menatap kacamata itu. Minus tiga tiga perempat kiri. Minus empat kanan. Silinder setengah.
“Aku nggak bisa buang,” bisikku.
Sabrina duduk di pinggir mejaku. Di sebelah kacamata dan amplop. Dia mengambil tanganku. Menggenggamnya.
“Ly. Aku mau bilang sesuatu. Kamu boleh marah.”
“Apa.”
“Kamu marah karena dia milih buat kamu,” kata Sabrina pelan. “Dia sama ibumu mutusin hidupmu, dan biarin kamu pikir kamu yang mutusin. Itu salah. Kamu berhak marah. Aku juga marah. Aku pengin nampar dia pakai sepatu hak tujuh senti.”
Aku hampir tertawa.
“Tapi,” kata Sabrina, “kamu juga nggak pernah kasih dia kesempatan buat milih kamu.”
Aku menatapnya.
“Lima tahun lalu kamu bilang mending jadi musuhmu. Kamu nggak nanya. Bulan Desember kamu bikin perjanjian, kamu yang nyusun semua pasalnya, kamu yang jadi Pihak Pertama. Bulan Maret kamu dapat tawaran Singapura, kamu sembunyiin dua minggu karena kamu mau mutusin sendiri dulu baru bilang. Minggu lalu kamu datang ke ruang dosennya dengan poin-poin yang sudah kamu tulis.” Sabrina mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. “Bahkan poin-poin itu, Ly. Poin kenapa aku mau kamu minta aku tinggal. Kamu yang nulis poinnya. Kamu yang nentuin apa yang harus dia bilang.”
“Itu...”
“Kalian berdua sama,” kata Sabrina. “Kamu mutusin buat dia dengan cara nyerang duluan. Dia mutusin buat kamu dengan cara mundur duluan. Kalian berdua nggak pernah, sekali pun, duduk di meja yang sama dan nanya satu sama lain: kamu mau apa?“
Alea mengangguk pelan di kursinya.
Aku menatap kacamata di atas meja. Amplop putih di sebelahnya. Dua hal yang tidak pernah kuceritakan pada Putra. Berdampingan.
Tiga hal, kalau aku menghitung Pasal Satu.
Empat, kalau aku menghitung poin-poin.
Aku menghitung. Aku tidak bisa berhenti menghitung. Kebiasaan yang kupelajari dari seseorang yang menghitung segalanya.
Mereka pulang jam dua siang.
Di pintu kaca ruanganku, Alea berhenti. Menoleh.
“Ly. Satu hal lagi.”
“Apa.”
“Anak tangga Remah. Yang dulu berderit. Yang kamu tergelincir di bulan Oktober.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu siapa yang benerin?”
Aku menggeleng.
“Putra,” kata Alea. “Hari Minggu setelah kamu tergelincir. Dia datang jam tujuh pagi bawa paku sama lem kayu. Dia bilang ke aku itu buat keamanan tamu. Dia minta aku jangan bilang siapa-siapa.” Alea menatapku. “Dia nggak pernah minta apa-apa buat dirinya sendiri, Ly. Dua belas tahun aku kenal dia, dia nggak pernah minta apa-apa. Tapi dia selalu benerin hal-hal yang bikin kamu tergelincir. Diam-diam. Tanpa bilang.”
Dia pergi.
Aku duduk sendirian di ruanganku di lantai dua puluh tiga.
Lalu aku mengambil kacamata itu. Membuka gagangnya. Menatap lensanya ke arah jendela. Kuningan jadi buram, bengkok, terbalik.
Aku memakainya.
Dunia jadi kabur. Minus tiga tiga perempat kiri, minus empat kanan. Aku tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas. Gedung-gedung di luar jendela berubah jadi bentuk-bentuk tanpa garis. Meja kerjaku jadi warna cokelat yang berenang. Amplop Singapura jadi persegi putih tanpa tulisan.
Begini rasanya melihat dunia lewat matanya. Kabur. Tidak pasti. Penuh hal yang tidak bisa diukur dengan benar.
Pantas dia menghitung segalanya. Kalau dunia sekabur ini, angka adalah satu-satunya hal yang tetap jelas.
Aku melepas kacamata itu. Melipatnya. Membungkusnya kembali dengan sapu tangan biru tua.
Tapi aku tidak memasukkannya kembali ke laci.
Aku memasukkannya ke tas.
Lalu aku mengambil lipstik dari laci, membukanya, dan memakainya di depan cermin kecil. Satu sapuan atas. Satu sapuan bawah.
Untuk pertama kalinya dalam tiga hari.
Bukan karena aku gugup. Bukan karena marah. Bukan karena cemburu.
Karena aku mau pulang. Dan aku mau bertanya pada ibuku, dengan bibir yang tidak kering, kenapa.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci reading
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru