Chapter Eighteen
Di Bawah Meja
POV: Putra
Wedding organizer yang dipilih Sabrina bernama Janji Suci, dan pemiliknya, Mbak Tiara, adalah perempuan paling efisien yang pernah kutemui.
Aku mengatakan itu dengan rasa hormat yang dalam. Mbak Tiara datang ke Remah jam tujuh tepat, tidak satu menit lebih awal, tidak satu menit lebih lambat, dengan dua asisten, satu laptop, satu proyektor mini yang lebih kecil dari punyaku, dan sebuah binder setebal enam senti berisi jadwal hari H yang dirinci per lima menit. Dia memakai blazer hitam, rambut dipotong bob sangat rapi, dan headset bluetooth di satu telinga yang tidak pernah dia lepas sepanjang rapat.
“Saya sudah baca spreadsheet Bapak,” katanya padaku sebelum duduk. “Bobot potensi drama keluarga dua puluh persen. Saya setuju. Saya biasanya pakai dua puluh lima.”
Aku menatapnya dengan perasaan yang mungkin mirip dengan yang dirasakan astronom ketika menemukan planet baru.
“Lyodra,” bisikku. “Dia pakai dua puluh lima.”
“Diam,” bisik Lyodra.
Kami duduk bersebelahan di meja panjang di lantai dua Remah. Itu bukan pilihan kami. Itu pilihan Alea, yang mengatur kursi sebelum rapat dengan alasan ketua panitia harus duduk di tengah biar kelihatan kompak di depan WO. Sabrina dan Erwin duduk di ujung kiri. Alea di ujung kanan, dengan buku notulen pinknya. Mbak Tiara dan dua asistennya di seberang.
Lyodra di sebelah kiriku. Jarak bahu kami lima belas senti.
Enam hari sejak warung kopi Bu Romlah. Enam hari pasal-pasal di serbet kertas itu berlaku. Ini pertama kalinya kami duduk bersebelahan di depan circle sejak itu.
Aku sudah menghitung risikonya. Rapat dengan WO biasanya berlangsung dua sampai tiga jam. Dalam dua sampai tiga jam, dengan lima orang yang mengenal kami lebih dari dua belas tahun, probabilitas salah satu dari kami melakukan sesuatu yang mencurigakan adalah...
Tinggi. Sangat tinggi.
Rapat berjalan baik selama empat puluh menit.
Mbak Tiara mempresentasikan alur acara. Akad jam delapan pagi di masjid dekat venue. Resepsi jam sebelas di Taman Kenari, Bogor, dengan pendopo cadangan kalau hujan. Lyodra bertanya soal kontrak dengan venue dan klausul force majeure. Aku bertanya soal rencana mitigasi kalau curah hujan bulan Mei melebihi rata-rata historis. Mbak Tiara menjawab kedua pertanyaan itu tanpa membuka binder.
Sabrina menangis sedikit waktu melihat simulasi dekorasi pendopo. Erwin menenangkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya seperti menepuk punggung bayi yang mau bersendawa.
“Untuk MC,” kata Mbak Tiara, “biasanya pasangan pilih dari teman dekat. Ada usulan?”
“Alea,” kata Sabrina dan Erwin bersamaan.
Alea mengangkat kepala dari notulennya dengan wajah seperti baru dinobatkan jadi ratu. “Aku? Beneran?”
“Kamu yang paling nggak bisa diam di circle,” kata Erwin. “Itu kualifikasi utama MC.”
“Itu pujian atau hinaan?”
“Itu data,” kataku.
Alea menulis sesuatu di notulennya. Aku melihat dari samping: MC: Alea (Yang Mulia). Catatan: Putra menghina hakim. Poin dikurangi.
Lalu, di menit keempat puluh satu, di bawah meja, sesuatu menyentuh punggung tangan kiriku.
Jari kelingking. Lyodra.
Aku tidak menoleh. Aku terus menatap layar proyektor Mbak Tiara, yang sedang menampilkan denah meja tamu.
Jari kelingking itu bergeser. Mengait jari kelingkingku. Pelan. Ragu.
Lalu, pelan-pelan, seperti seseorang yang meraba-raba dalam gelap, seluruh tangannya menyelinap ke dalam tanganku.
Di bawah meja panjang Remah, di antara lutut kami, tangan kiriku menggenggam tangan kanannya.
Aku menatap denah meja tamu dengan konsentrasi seorang ahli bom yang memotong kabel merah.
Lyodra menatap denah meja tamu dengan konsentrasi yang sama.
Di layar, Mbak Tiara menunjuk meja nomor tujuh. “Ini meja untuk keluarga besar mempelai pria. Kapasitas dua belas orang. Ibu Erwin di kursi roda, jadi kami siapkan akses di sini...”
“Bagus,” kata Lyodra. Suaranya stabil. Sangat stabil. Terlalu stabil.
Tangannya di tanganku tidak stabil sama sekali. Jari-jarinya bergerak terus, mengusap sela-sela jariku, mencengkeram, mengendur, mencengkeram lagi. Seperti orang yang memegang sesuatu dan takut benda itu akan hilang kalau dia berhenti memastikan.
Aku membalas cengkeramannya. Sekali. Pelan. Aku di sini.
Jari-jarinya berhenti bergerak.
Masalah pertama muncul di menit kelima puluh.
“Pak Putra,” kata Mbak Tiara, “tolong dicatat ya, untuk konfirmasi jumlah porsi katering cadangan. Saya perlu angka pastinya minggu depan.”
Aku mengangguk. Aku mengambil pena dengan tangan kanan dan mulai menulis di buku catatan.
Aku bisa menulis. Aku tidak kidal. Tangan kananku bebas. Tidak ada masalah.
Masalahnya Lyodra.
Mbak Tiara menoleh padanya. “Bu Lyodra, untuk kontrak venue, tolong dicatat juga ya, klausul tambahan soal jam bongkar dekorasi.”
Lyodra mengangguk. Dia mengambil pena.
Dengan tangan kiri.
Karena tangan kanannya ada di bawah meja. Di tanganku.
Aku melihatnya dari sudut mata. Lyodra Kirana, yang tulisan tangannya miring dan tajam dan rapi seperti tanda tangan hakim, memegang pena dengan tangan kiri seperti anak TK yang baru belajar menulis. Jari-jarinya kaku. Penanya miring ke arah yang salah.
Dia menulis.
Hasilnya terlihat seperti cacing yang sedang kejang.
Di ujung meja, Alea, yang matanya tidak pernah melewatkan apa pun yang terjadi di meja ini, berhenti menulis notulen. Dia menatap buku catatan Lyodra. Lalu menatap tangan kiri Lyodra yang memegang pena. Lalu menatap bahu kanan Lyodra yang anehnya tidak bergerak sama sekali.
“Ly,” kata Alea. “Kamu nulis pakai tangan kiri?”
“Latihan,” kata Lyodra.
“Latihan apa?”
“Ambidekstrus. Kemampuan menulis dengan dua tangan. Bagus untuk otak. Ada penelitiannya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak minggu ini.”
“Kenapa?”
“Karena...” Lyodra berhenti. Matanya bergeser ke arahku, cuma sepersekian detik. “Karena Putra bilang orang kidal lebih kreatif.”
Aku tidak pernah bilang itu.
Semua kepala menoleh padaku.
“Ada literaturnya,” kataku. Suaraku keluar datar. Aku sangat bangga suaraku keluar datar. “Korelasi lemah antara dominansi tangan kiri dan pemikiran divergen.”
“Korelasi lemah?” tanya Alea.
“Lemah. Tapi signifikan.”
Alea menatap kami berdua. Lama. Lalu kembali menulis notulen.
Di bawah meja, Lyodra mencengkeram tanganku sangat keras sampai buku-buku jariku berbunyi.
Masalah kedua muncul di menit ketujuh puluh.
Alea mengangkat kepala dari notulennya. Dia mengetuk-ngetuk pena di sampul pink bukunya.
“Hm,” katanya.
“Kenapa, Al?” tanya Sabrina.
“Aku lagi ngitung.” Alea menatap halaman notulennya. “Rapat sudah tujuh puluh menit. Lyodra dan Putra baru debat satu kali. Soal mitigasi curah hujan. Itu pun cuma tiga kalimat.”
Hening.
“Rata-rata historis mereka tiga koma dua kali per pertemuan,” lanjut Alea, dengan nada guru yang membacakan nilai ujian. “Hari ini satu koma nol. Dalam tujuh puluh menit. Itu anomali.”
Pasal tiga.
Kami lupa pasal tiga.
Aku merasakan tangan Lyodra menegang di tanganku. Lalu, dalam satu gerakan yang sangat cepat, dia memutar badan ke arahku.
“Putra,” katanya dengan suara keras. “Kenapa kamu pilih warna map biru buat berkas vendor? Biru itu warna yang depresif.”
Aku menatapnya. Dia menatapku. Matanya panik.
“Biru itu warna yang menenangkan,” kataku, dengan suara yang juga terlalu keras. “Ada penelitian psikologi warna.”
“Penelitian dari mana?”
“Data?”
“Kamu yang harusnya kasih data! Kamu yang klaim!”
“Beban pembuktian ada di pihak yang mengklaim. Kamu yang klaim biru depresif.”
“Oke! Oke. Satu lagi. Kenapa kamu duduk di sebelah kiriku? Kamu biasanya duduk di sebelah kanan.”
“Alea yang atur kursi.”
“Kamu bisa protes!”
“Kamu juga bisa protes!”
“Aku sibuk!”
“Aku juga sibuk!”
Kami berdua berhenti. Terengah.
Seluruh meja menatap kami. Mbak Tiara dengan alis terangkat. Kedua asistennya dengan mulut terbuka. Sabrina dengan tangan di dada. Erwin dengan senyum yang ditahan sangat keras sampai pipinya bergetar.
Alea menulis di notulennya. Lama. Lalu mengangkat kepala.
“Tiga,” katanya. “Oke. Rata-rata kembali normal.” Dia menatap kami dengan wajah sangat polos. “Tapi debat soal warna map dan posisi duduk, itu kualitasnya rendah. Aku kasih nilai C.”
“Nilai C?”
“Biasanya kalian dapat A. Debat soal bubur, A plus. Debat soal photobooth, A minus. Debat soal map biru...” Alea menggeleng-geleng. “C. Kalian kelihatan kayak lagi terburu-buru.”
“Kami nggak terburu-buru,” kataku dan Lyodra bersamaan.
“Hm,” kata Alea.
Di bawah meja, tangan Lyodra masih di tanganku. Kami tidak melepasnya bahkan selama debat soal map biru itu. Bahkan waktu kami saling berteriak.
Masalah ketiga muncul di menit kedelapan puluh lima.
Erwin, yang dari tadi makan kue sus dengan sendok kecil, tiba-tiba menjatuhkan sendoknya.
Ting.
Sendok itu jatuh ke lantai. Memantul sekali. Berguling ke bawah meja.
Ke arah kaki kami.
“Aduh,” kata Erwin dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. “Sendokku.”
Dia membungkuk. Kepalanya menghilang di bawah meja.
Aku membeku. Lyodra membeku.
Aku harus melepas tangannya. Sekarang. Dalam satu detik. Erwin sedang di bawah meja dan tangan kami ada di bawah meja dan Erwin punya mata dan Erwin dokter yang terlatih melihat detail anatomis.
Tapi kalau aku melepasnya terlalu cepat, gerakannya akan terlihat. Gerakan tiba-tiba di bawah meja lebih mencurigakan daripada tidak ada gerakan.
Itu analisis yang bagus. Itu juga alasan yang sangat nyaman untuk tidak melepasnya.
Aku tidak melepasnya.
Lyodra tidak melepasnya.
Kepala Erwin berada di bawah meja selama tiga detik. Empat. Lima. Terlalu lama untuk mengambil satu sendok kecil.
Lalu kepalanya muncul kembali di atas meja.
Wajahnya datar.
Benar-benar datar. Datar seperti dinding. Datar seperti kertas. Datar dengan cara yang tidak pernah kulihat di wajah Erwin Santoso, laki-laki yang wajahnya selalu bergerak, selalu tersenyum, selalu menggoda.
Dia memegang sendok kecil itu di tangannya. Mengelapnya dengan tisu. Menaruhnya di atas piring kue sus. Mengambil kue sus. Menggigitnya.
Mengunyah. Lambat sekali.
Dia tidak menatapku. Dia tidak menatap Lyodra. Dia menatap layar proyektor Mbak Tiara dengan mata kosong, seperti pasien yang baru selesai dibius.
“Dapat sendoknya, sayang?” tanya Sabrina.
“Dapat,” kata Erwin. Suaranya juga datar.
“Kenapa lama?”
“Sendoknya,” kata Erwin, masih mengunyah, masih menatap layar, “ada di tempat yang tidak terduga.”
Hening.
Sabrina menatap Erwin. Alea menatap Erwin. Mbak Tiara menatap Erwin dan, untuk pertama kalinya sepanjang rapat, terlihat bingung.
Di bawah meja, tangan Lyodra gemetar di tanganku.
Aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kupikirkan.
Aku melepaskan genggaman dengan pelan, sangat pelan, dan memindahkan tanganku ke lututnya. Di atas kain celananya. Lalu jari telunjukku mengetuk lututnya.
Tok. Tok.
Dua kali. Aku di sini.
Dia berhenti gemetar.
Lalu, di bawah meja, tangannya turun ke atas tanganku di lututnya, dan jari telunjuknya mengetuk punggung tanganku.
Tok. Tok.
Pasal tujuh. Wajib.
Rapat selesai jam setengah sepuluh. Mbak Tiara dan asistennya pulang dengan janji akan mengirim kontrak final minggu depan. Sabrina dan Erwin pulang duluan. Alea mulai membereskan piring.
Aku dan Lyodra turun tangga. Terpisah. Dia duluan, aku lima menit kemudian, sesuai pasal dua catatan kaki.
Di parkiran depan Remah, aku membuka pintu mobilku. Ponselku bergetar.
Erwin.
Bukan di grup circle. Chat pribadi.
Erwin: Put.
Aku: Hm.
Erwin: Sendokku jatuh tadi.
Aku: Aku lihat.
Erwin: Aku ambil.
Aku: Aku lihat.
Erwin: Lama ya ngambilnya.
Aku: Lima detik.
Erwin: Kamu ngitung?
Aku: Aku selalu ngitung.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Erwin: Aku cuma mau bilang satu hal.
Erwin: Aku nggak lihat apa-apa.
Aku: Oke.
Erwin: Aku serius. Aku nggak lihat apa-apa. Aku dokter. Dokter punya sumpah kerahasiaan.
Aku: Kamu nggak lagi kerja.
Erwin: Sumpahnya berlaku seumur hidup, Put.
Aku menatap pesan itu lama.
Aku: Makasih, Win.
Erwin: Buat apa? Aku nggak lihat apa-apa.
Erwin: Btw tangan kirimu pegangannya kurang kenceng. Kalau mau nggak ketahuan, pegang lebih erat. Biar nggak ada yang bergerak waktu orang lain nunduk.
Erwin: Itu saran medis.
Aku menutup ponsel. Masuk ke mobil. Duduk di kursi pengemudi dengan kedua tangan di setir dan dahi di atas tangan.
Lalu, setelah lama, aku tertawa. Sendirian. Di dalam mobil yang mesinnya belum menyala.
Tangan kiriku masih hangat.
Interlude
Saksi Mata 👁️ (3 anggota)
Erwin: Konfirmasi.
Erwin: Tangan kiri.
Sabrina: WIN
Sabrina: TANGAN KIRI APA
Erwin: Tangan kiri Putra. Tangan kanan Lyodra. Jari saling mengunci. Posisi: di bawah meja, di atas lutut kiri Lyodra.
Alea: Makanya dia nulis pakai tangan kiri.
Alea: “Ambidekstrus.” Ya Allah.
Sabrina: aku mau nangis
Sabrina: aku mau teriak
Sabrina: aku mau nangis sambil teriak
Erwin: Jangan dulu sayang. Kita sudah janji.
Alea: Pasal tiga mereka bocor. Debat cuma 1x dalam 70 menit. Mereka panik terus debat soal map biru.
Alea: Nilai C. Aku nggak pernah kasih nilai C sejak SMA.
Erwin: Aku chat Putra barusan. Aku bilang aku nggak lihat apa-apa.
Sabrina: dia percaya?
Erwin: Dia bilang makasih.
Alea: Itu artinya dia nggak percaya. Tapi dia terima.
Erwin: Itu artinya dia lega. Ada orang yang tahu dan nggak ngomong apa-apa.
Erwin: Dia sudah lama nggak punya itu.
Sabrina: sejak kapan?
Erwin: Sejak dia duduk tiga jam di parkiran kampus dan nggak mau buka jendela mobil.
Sabrina: ...win?
Alea: Itu waktu Lyodra berangkat ke Leiden?
Erwin: Nanti aku cerita. Belum sekarang.
Erwin: Aku janji sama diriku sendiri, aku cerita kalau mereka udah nggak pura-pura lagi.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja reading
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru