← Keberatan Ditolak

Chapter Thirty Eight

Gladi Resik

POV: Putra


Gladi resik pernikahan Sabrina Gunawan dan Erwin Santoso dijadwalkan hari Jumat, jam dua siang, di Taman Kenari, Bogor.

Mbak Tiara mengirim jadwal gladi resik ke grup panitia dalam format PDF dua belas halaman, dirinci per lima menit, dengan warna berbeda untuk setiap divisi. Di halaman terakhir, ada satu paragraf berhuruf tebal: Rencana Kontinjensi. Kalau ada yang salah, jangan panik. Selalu ada yang salah di gladi resik. Itu gunanya gladi resik.

Aku mencetak PDF itu dan melaminatingnya. Lyodra melihatnya di parkiran Taman Kenari dan tertawa sampai harus bersandar ke mobil.

“Kamu laminating jadwal gladi resik.”

“Cuma yang punyaku.”

“Itu kalimatku dari bulan Oktober.”

“Itu kalimat kita.”

Dia menatapku dengan senyum miring yang memperlihatkan sedikit gigi taringnya. Senyum menang. Lalu dia menggandeng tanganku dan menarikku ke arah pendopo, di mana Mbak Tiara sudah berdiri dengan headset bluetooth dan binder enam senti, menatap jam tangannya.

Dua minggu sejak ruang kelas dan hujan April. Kami belum bicara soal semuanya. Kami sepakat menunggu sampai setelah pernikahan. Tapi tangannya di tanganku. Dan dia membalas ketukanku dalam nol koma satu detik.

Rata-rata historis: nol koma dua.

Lebih cepat dari sebelumnya.


Masalah pertama muncul jam dua lewat lima belas.

Mobil boks vendor bunga dari Kebun Kata datang terlambat lima belas menit. Asisten Mas Bima, laki-laki muda dengan kaus bertuliskan I Love Flowers yang huruf Flowers-nya sudah pudar, membuka pintu belakang mobil boks dengan wajah ceria.

Isinya bunga putih. Banyak. Bertangkai-tangkai, bergumpal-gumpal, menyembul dari ember-ember plastik.

Krisan.

Erwin, yang berdiri tiga meter dari mobil boks, bersin.

Lalu bersin lagi. Lalu lagi. Tujuh kali berturut-turut, dengan suara yang makin keras dan wajah yang makin merah.

“Itu... hatchi... itu krisan... hatchi... aku bilang... hatchi... jangan krisan...”

“Mas,” kata Lyodra ke asisten Mas Bima, dengan suara yang sangat tenang, suara sidang. “Pesanan kami peoni merah muda, mawar, dan baby’s breath. Tanpa krisan. Kontraknya ada di saya.”

Asisten Mas Bima menatap ember-ember krisan. Wajahnya pucat. “Waduh, Mbak. Ini... ini pesanan nikahan sebelah. Di Sentul. Saya salah ambil.”

“Pesanan kami di mana?”

“Kayaknya... di Sentul, Mbak.”

Erwin bersin sembilan kali.

Sabrina, yang sedang mencoba berjalan di lorong tamu dengan sepatu hak untuk hari H, berhenti di tengah lorong. “Bunga kita di Sentul?” katanya. Suaranya naik satu oktaf. “Nikahan orang lain di Sentul pakai bunga kita?”

“Sab, tenang...” kata Erwin di sela bersin.

“Aku tenang! Aku sangat tenang! Aku cuma mau tahu kenapa ada orang di Sentul yang mau nikah besok dengan peoni merah mudaku!”

Lyodra menoleh padaku.

Aku menoleh padanya.

Dulu, di Oktober, kami akan berdebat soal ini selama sepuluh menit. Siapa yang harus menelepon Mas Bima. Siapa yang harus menyetir ke Sentul. Apakah Sentul terlalu jauh atau masih masuk akal. Apakah ada vendor bunga lain di Bogor yang bisa dipanggil darurat. Kami akan berdiri berhadapan dan saling memotong dan Alea akan mencatat skor.

Sepuluh detik.

“Kamu telepon Mas Bima,” kataku. “Aku ke Sentul.”

“Ambil mobilku. Lebih cepat lewat tol. Kuncinya di saku kiri.”

“Kamu yang tenangin Sabrina.”

“Kamu bawa kontraknya, biar vendor di Sentul nggak protes.”

“Kontraknya di tasmu.”

“Map biru. Yang kamu bilang warnanya menenangkan.”

Dia menyerahkan map biru dari tasnya. Aku mengambil kunci mobil dari saku kirinya. Kami tidak saling menatap, tapi tangan kami bergerak seperti satu orang yang punya empat tangan.

Alea, yang berdiri di dekat pendopo dengan buku pink, menulis sesuatu. Lalu mengangkat kepala dan berteriak di atas suara bersin Erwin:

“Koordinasi darurat! Waktu sepuluh detik! Nol debat! Nilai A plus!”

Aku sudah setengah jalan ke parkiran waktu mendengarnya.

Untuk pertama kalinya, Alea memberi nilai A plus untuk sesuatu yang bukan debat.


Aku kembali dari Sentul satu jam empat puluh menit kemudian, dengan bagasi mobil Lyodra penuh ember peoni merah muda, mawar, dan baby’s breath, dan kursi belakang penuh ember krisan yang harus dikembalikan ke Sentul nanti malam.

Mas Bima datang sendiri, menyusul dengan motor, membawa satu ember peoni tambahan sebagai permintaan maaf.

“Peoni,” katanya pada Lyodra dengan suara lembut, menyerahkan ember itu. “Bunga untuk perasaan yang disembunyikan.”

Lyodra menatap peoni merah muda itu.

“Mas Bima,” katanya. “Saya sudah nggak nyembunyiin apa-apa.”

Mas Bima tersenyum. Senyum sabar laki-laki yang sudah merangkai bunga untuk ribuan pasangan. Dia menatap tangan kami yang bergandengan.

“Kalau gitu, Mbak,” katanya, “peoni yang ini buat ngerayain perasaan yang akhirnya berhenti sembunyi.”


Masalah kedua muncul jam empat sore, di gladi akad.

Akad nikah akan dilangsungkan besok pagi di masjid kecil di dekat Taman Kenari. Tapi Mbak Tiara ingin gladinya di pendopo, supaya semua pihak hafal posisi dan urutan. Penghulu belum datang. Ayah Sabrina, Pak Hendro, duduk di kursi wali. Erwin duduk di depannya. Di antara mereka, meja kecil dengan taplak putih.

“Mas Erwin,” kata Mbak Tiara. “Ini latihan. Pak Hendro akan mengucapkan ijab. Mas Erwin menjawab qabul. Satu napas. Jangan terputus.”

Erwin mengangguk. Wajahnya pucat. Hidungnya masih merah karena krisan.

Pak Hendro, laki-laki tegap dengan kumis tebal dan suara seperti komandan upacara, menggenggam tangan Erwin di atas meja.

“Saudara Erwin Santoso bin...”

Hening.

Erwin menatap Pak Hendro.

Pak Hendro menatap Erwin.

“Bin siapa, Nak?” bisik Pak Hendro.

“Bin...” Erwin menelan ludah. “Bin...”

Dia lupa nama ayahnya sendiri.

Lalu, dengan wajah yang berubah dari pucat ke putih ke sesuatu yang mendekati abu-abu, dokter IGD yang sudah menangani ratusan kasus kecelakaan dan serangan jantung dan pasien yang berdarah-darah, yang tidak pernah gemetar memasang infus atau menjahit kepala orang yang ketabrak truk, menutup mata dan miring ke samping.

Dan jatuh dari kursi.

“ERWIN!” Sabrina menjerit.

Aku sudah berlari sebelum Erwin menyentuh lantai. Lyodra juga. Kami sampai di sebelahnya di detik yang sama. Aku memegang kepalanya. Lyodra memegang pergelangan tangannya, mencari denyut nadi dengan dua jari seperti yang Erwin ajarkan ke circle waktu SMA dalam pelatihan P3K yang tidak pernah kami anggap serius.

“Nadinya ada,” kata Lyodra. “Cepat. Tapi ada.”

“Napasnya normal.”

“Angkat kakinya. Lebih tinggi dari kepala.”

“Itu syok. Ini bukan syok. Ini pingsan vasovagal.”

“Kamu dosen statistik. Kamu tahu dari mana?”

“Erwin cerita di grup tahun lalu soal pasien yang pingsan waktu lihat jarum suntik.”

Lyodra mengangkat kaki Erwin. Aku melonggarkan kerah kemeja batiknya. Sabrina berlutut di sebelah kepala Erwin, menepuk-nepuk pipinya dengan panik.

“Sayang. Sayang. Bangun. Sayang, kamu dokter, kamu nggak boleh pingsan, kamu yang harus nolong orang pingsan...”

Erwin membuka mata. Pelan. Mengerjap. Menatap langit-langit pendopo. Lalu menatap wajah Sabrina di atasnya.

“Bambang,” katanya.

“Apa?”

“Nama ayahku. Bambang.” Dia mengerjap lagi. “Bambang Santoso. Aku ingat sekarang.”

Sabrina menatapnya. Lalu tertawa. Lalu menangis. Lalu tertawa sambil menangis, dan memeluk kepala Erwin di pangkuannya, dan Erwin bilang dengan suara lemah bahwa dia baik-baik saja, dia dokter, ini cuma vasovagal, ini normal, satu dari tiga calon pengantin laki-laki pingsan waktu gladi akad, ada penelitiannya.

“Data?” kata Lyodra.

Erwin menatapnya dari pangkuan Sabrina.

“Aku ngarang,” katanya.

Pak Hendro, yang masih duduk di kursi wali dengan kumis tebalnya, menghela napas sangat panjang. Lalu dia membungkuk dan menepuk bahu calon menantunya dengan tangan besar.

“Nak,” katanya dengan suara komandan upacara. “Saya juga pingsan waktu gladi akad. Tahun sembilan puluh tujuh. Saya lupa nama mertua saya.”

Erwin menatapnya. “Beneran, Pak?”

“Beneran. Ibunya Sabrina masih ngetawain saya sampai sekarang.”

Di belakang kami, ibu Sabrina tertawa keras dari kursi tamu.


Gladi akad diulang. Erwin berhasil di percobaan kedua. Satu napas. Saya terima nikahnya Sabrina Gunawan binti Hendro Gunawan dengan mas kawin tersebut, tunai. Suaranya bergetar di kata tunai, tapi tidak putus.

Semua orang bertepuk tangan. Sabrina menangis lagi. Alea menulis di buku pinknya: Erwin lulus gladi akad. Percobaan kedua. Nilai B, karena pingsan dulu.

Lalu Mbak Tiara membalik binder enam sentinya ke halaman berikutnya.

“Sesi sambutan sahabat,” katanya. “Bu Lyodra dan Pak Putra. Waktu itu Bapak dan Ibu bilang terpisah. Masing-masing tiga menit.” Dia mengangkat kepala. Menatap kami. “Masih terpisah?”

Lyodra menatapku. Aku menatapnya.

“Berdua,” kata kami.

Bersamaan. Seperti dulu. Seperti jangan dan musuh dan bukan dan terpisah.

Mbak Tiara mencoret sesuatu di bindernya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tersenyum. Senyum yang tidak efisien sama sekali.

“Enam menit,” katanya. “Saya kasih tujuh.”


Masalah ketiga bukan masalah.

Jam lima sore, sebuah mobil pikap putih masuk ke parkiran Taman Kenari. Di pintunya tertulis Susu Segar Lembang. Seorang laki-laki kurus dengan topi kurir dan jaket hijau turun dari kursi pengemudi.

Mas Bayu.

Dia membawa sepuluh krat susu dan lima karton mentega untuk dapur katering, karena Alea yang memesannya untuk kue pengantin yang akan dia panggang di dapur venue malam ini. Seharusnya diantar kurir lain. Mas Bayu bilang dia sendiri yang minta antar.

Alea berdiri di dekat pendopo dengan celemek kelinci dan buku pink. Waktu dia melihat pikap putih itu, dia menjatuhkan buku pinknya.

Mas Bayu menurunkan krat-krat susu satu per satu. Lalu dia berjalan ke Alea. Kaku. Sopan. Sedikit gugup. Persis seperti di pintu belakang dapur Remah jam setengah lima pagi.

“Mbak Alea,” katanya. “Susunya. Sepuluh krat. Mentega lima karton.”

“Makasih, Mas.”

“Sama-sama.” Mas Bayu ragu. Lalu: “Mbak sudah baca resinya?”

“Resi?”

“Yang saya titip. Di dapur. Bulan lalu.”

Alea menatapnya. Pipinya merah dari dahi sampai leher. Persis seperti waktu dia membaca kertas lipat dua itu di dapur Remah.

“Sudah,” katanya pelan.

“Terus... jawabannya?”

Kami semua diam. Sabrina berhenti menangis. Erwin, yang masih duduk di kursi tamu dengan wajah pucat, menegakkan badan. Lyodra menggenggam tanganku sangat erat.

Alea memungut buku pinknya dari tanah. Membukanya. Membalik ke halaman paling belakang. Ada sesuatu yang diselipkan di sana. Kertas lipat dua dengan tulisan pulpen tinta biru.

Dia menatap kertas itu. Lalu menatap Mas Bayu.

“Iya,” katanya.

Mas Bayu mengerjap. “Iya?”

“Iya, Mas. Makan malam. Hari Selasa. Setelah nikahan ini selesai.” Alea menutup buku pinknya. “Tapi aku yang pilih tempatnya.”

“Siap, Mbak.”

Mas Bayu berjalan kembali ke pikapnya dengan langkah yang sangat lurus dan sangat cepat, seperti orang yang takut kalau dia berhenti, keberaniannya akan habis. Dia masuk ke pikap. Menyalakan mesin. Pergi.

Alea berdiri di dekat pendopo dengan buku pink di dada dan wajah semerah peoni.

Sabrina menjerit. Lyodra menjerit. Erwin bertepuk tangan dengan lemah dari kursinya.

“Al,” kata Lyodra. “Isi resinya apa?”

Alea menatapnya. Lalu, dengan suara sangat kecil:

“Mbak Alea, kue susnya enak. Saya beli tiap Selasa. Bukan buat kuenya. Boleh saya ajak makan malam?“

“Dia beli kue sus tiap Selasa?”

“Kayaknya iya.”

“Dokter Agung juga beli kue sus tiap Selasa,” kata Erwin.

Alea menatap Erwin. “Itu beda.”

“Beda gimana?”

“Dokter Agung beli kuenya buat dimakan.”


Jam enam sore, setelah semua gladi selesai, aku menemukan dua perempuan duduk berdampingan di kursi tamu paling belakang, di bawah pohon kenari terbesar.

Bu Ratna dan Ibuku.

Ibu datang ke gladi resik karena dia bilang dia ingin lihat venue-nya dulu, biar besok nggak nyasar, padahal aku tahu dia ingin bertemu Bu Ratna. Bu Ratna datang karena Lyodra mengajaknya.

Mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

Sekarang mereka duduk berdampingan, berbagi satu kotak kue sus dari Alea, dan berbicara dengan suara pelan seperti dua orang yang sudah kenal lama.

Aku berhenti di belakang pohon kenari. Aku tidak bermaksud menguping.

“...sop buntut itu kuncinya di lada hitam,” kata Ibu. “Jangan pakai lada bubuk. Lada butiran, ditumbuk sendiri.”

“Sayur asem juga,” kata Bu Ratna. “Asamnya harus dari asam jawa yang direndam, bukan yang instan.”

“Anak Ibu suka sayur asem?”

“Dia makan sayur asem tiap Kamis. Lima belas tahun.”

“Anak saya makan sop buntut tiap Minggu. Per lapisan.”

“Per lapisan?”

“Kuah dulu. Kentang. Wortel. Daging. Dari kecil begitu.”

Bu Ratna tertawa. Tawa pelan. Tawa yang tidak pernah kudengar darinya. “Lyodra cerita soal itu. Soal bubur. Dia bilang anak Ibu makan bubur kayak arkeolog.”

Ibu tertawa juga. Lalu diam sebentar.

“Bu Ratna,” kata Ibu. “Anak saya itu nggak pernah minta apa-apa. Dari kecil. Kalau dia mau sesuatu, dia diam. Kalau dia sedih, dia hitung ubin kamar mandi. Saya nggak pernah tahu cara bikin dia minta.”

Bu Ratna menatap kotak kue sus di pangkuan mereka.

“Dia minta, Bu,” katanya pelan. “Minggu lalu. Ke anak saya. Dan ke saya.”

Ibu menoleh pada Bu Ratna. Matanya basah.

“Beneran?”

“Beneran. Dia datang ke rumah saya. Duduk di kursi kayu di depan kursi rotan saya. Dan dia bilang, Lima tahun lalu saya mundur, Bu. Kali ini saya tidak akan mundur.“

Ibu menutup mulut dengan tangan.

Bu Ratna menyentuh bros perak di kerudungnya. Burung kecil dengan sayap terbentang.

“Anak Ibu itu,” katanya, “laki-laki paling baik yang pernah saya temui. Dan saya hampir menghancurkan hidupnya dua kali karena saya takut.”

Ibu menggenggam tangan Bu Ratna. Di atas kotak kue sus.

Aku berbalik dari balik pohon kenari dan berjalan pergi sebelum mereka melihatku.

Di parkiran, Lyodra sedang memasukkan ember-ember krisan ke mobilnya untuk dikembalikan ke Sentul. Dia menoleh waktu aku datang.

“Kamu kenapa?” tanyanya. “Matamu merah.”

“Krisan,” kataku.

“Kamu nggak alergi krisan.”

“Sekarang alergi.”

Dia menatapku lama. Lalu menatap ke arah pohon kenari terbesar, di mana dua ibu duduk berdampingan berbagi kue sus.

Dia tidak bertanya lagi. Dia cuma mengetuk kap mobil dua kali.

Aku membalas.


Malamnya, di grup Saksi Mata 👁️, Sabrina mengirim satu pesan.

Sabrina: Al, besok bawa papan skor ke resepsi ya. Yang dari Remah.

Alea: Buat apa??

Sabrina: Hiburan. 🙂

Erwin: Sab, kamu mau ngapain

Sabrina: Rahasia pengantin.

Lyodra: Sab.

Sabrina: Ly, besok aku pengantin. Pengantin boleh minta apa saja. Keberatan ditolak.

Putra: 🙂

Alea: PUTRA KIRIM EMOJI LAGI. ITU YANG KEDUA MINGGU INI.

Putra: Kuota vonis satu kali per minggu. Bukan maksimal.

Alea: Hakim mencatat.

Aku meletakkan ponsel. Menatap langit-langit kamar penginapan di Bogor. Besok pagi akad. Siang resepsi.

Besok, setelah semuanya selesai, kami akan bicara. Soal semuanya. Soal kacamata.

Aku tidak tahu apa yang Sabrina rencanakan dengan papan skor itu.

Aku tidur dengan senyum yang tidak kutahan, dan untuk pertama kalinya, aku tidak menghitung apa pun sebelum tidur.