← Keberatan Ditolak

Chapter Ten

Bubur

POV: Lyodra


Sidang perkara koperasi berlanjut dua minggu kemudian, dan kali ini tidak ada saksi ahli berkacamata yang bisa membuat hariku lebih menarik.

Yang ada cuma maraton.

Sidang pertama jam sembilan pagi di PN Jakarta Selatan. Sidang kedua jam satu siang di PN Jakarta Pusat, perkara lain, klien lain, hakim lain yang tidak suka perempuan muda dengan lipstik merah. Lalu rapat dengan klien koperasi di kantor sampai jam enam. Lalu menyusun kesimpulan untuk sidang minggu depan sampai jam sembilan malam.

Aku tidak makan siang. Aku tidak makan malam. Aku minum tiga gelas kopi kantin pengadilan, yang semuanya biadab, dan satu botol teh kemasan yang kubeli dari pedagang asongan di depan PN Jakarta Pusat.

Jam sembilan lewat sedikit, lambungku memutuskan sudah cukup.

Rasanya seperti ada yang meremas perutku dari dalam dengan tangan yang dingin dan basah. Lalu panas. Lalu dingin lagi. Keringat dingin keluar di dahi dan tengkuk. Kepalaku berat. Ruangan kantorku di lantai dua puluh tiga gedung di Kuningan, yang biasanya terasa luas dan terang, tiba-tiba terasa terlalu sempit dan terlalu silau.

Aku menempelkan dahi ke meja. Kaca meja itu dingin. Itu satu-satunya hal yang terasa baik.

Kantor sudah sepi. Pak Hadiwinata pulang jam tujuh. Associate lain pulang satu per satu. Cuma ada aku, lampu meja, layar laptop yang menampilkan draf kesimpulan setengah jadi, dan satpam lantai bawah yang mungkin sedang menonton sepak bola di pos jaganya.

Aku mengambil ponsel. Aku tidak tahu kenapa. Aku membuka grup circle dan menekan tombol mikrofon.

Lalu aku mengomel.

Aku mengomel soal hakim di PN Jakarta Pusat yang memotong argumenku tiga kali. Soal kopi kantin yang seharusnya dilarang oleh BPOM. Soal pedagang asongan yang menjual teh kemasan dengan harga dua kali lipat. Soal lambungku yang tidak tahu diri. Soal draf kesimpulan yang belum selesai. Soal AC kantor yang terlalu dingin. Soal hidup. Soal semuanya.

Hidungku mampet. Suaraku sengau. Aku tahu itu karena aku bisa mendengarnya sendiri. Aku tetap mengomel.

Aku melepaskan tombol mikrofon. Pesan terkirim.

Durasinya tujuh menit dua belas detik.

Aku menatap angka itu. Lalu aku tertawa, lemah, dengan kepala masih di atas meja kaca.

Kamu kalau flu ngomelnya pakai voice note. Panjangnya tujuh menit. Hidungmu mampet. Aku nggak sanggup.

Dia benar. Dia selalu benar soal hal-hal kecil yang tidak penting, dan itu sangat menyebalkan.


Grup circle bereaksi dalam satu menit.

Alea: LY KAMU KENAPA

Alea: aku dengerin 30 detik pertama dan kamu kedengeran kayak bebek sakit

Sabrina: sayangku kamu sakit??? kamu di mana??

Erwin: Ly, suaramu sengau, kamu demam? Nyeri ulu hati? Mual? Kapan terakhir makan?

Lyodra: Pagi. Roti.

Erwin: PAGI??? Ly ini jam 9 malam

Erwin: Itu gastritis. Kamu butuh makanan lunak dan obat lambung. Aku lagi jaga IGD, nggak bisa keluar. Ada yang bisa ke tempat Lyodra?

Sabrina: aku lagi di Bandung pemotretan 😭😭😭

Alea: aku lagi bikin adonan buat besok pagi, tanganku penuh mentega, kalau aku tinggal adonannya mati

Alea: Put?

Hening.

Satu menit. Dua menit. Putra tidak membalas.

Aku menatap layar. Titik hijau di sebelah namanya tidak menyala. Terakhir dilihat: jam delapan malam.

Tentu saja dia tidak membalas. Dia mungkin sudah tidur. Dia mungkin sedang memeriksa ujian. Dia mungkin tidak peduli, dan kenapa dia harus peduli? Kami musuh. Musuh tidak mengantar makanan ke musuhnya yang sakit.

Lyodra: Aku nggak apa-apa. Cuma maag. Bentar lagi pulang.

Erwin: Jangan nyetir kalau pusing!!!

Lyodra: Aku naik taksi.

Erwin: Makan dulu sebelum pulang. Apa aja yang lunak. Bubur, roti, pisang. Bukan kopi!!

Aku tidak membalas. Aku meletakkan ponsel menghadap ke bawah dan menempelkan dahi ke meja kaca lagi.

Bubur.

Aku tidak punya energi untuk turun ke lobi, berjalan ke pinggir jalan, mencari pedagang bubur yang buka jam sembilan malam di Kuningan. Aku cuma mau tidur di sini, di atas meja kaca yang dingin, sampai besok pagi.

Aku memejamkan mata.


Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Yang aku tahu, aku terbangun karena suara ketukan.

Tok. Tok.

Dua kali. Di kaca pintu ruanganku.

Aku mengangkat kepala. Pandanganku buram sebentar. Lalu fokus.

Putra berdiri di balik pintu kaca. Kemeja biru muda yang lengannya digulung, celana kain abu-abu, kacamata. Rambutnya berantakan seperti dia mengacaknya berkali-kali di perjalanan. Satu tangannya memegang kantong plastik putih. Tangan yang lain masih terangkat, buku jarinya di permukaan kaca.

Di belakangnya, Pak Udin, satpam lantai bawah, berdiri dengan wajah sangat curiga.

“Mbak Lyodra,” kata Pak Udin dari balik pintu. “Ini katanya teman Mbak. Saya sudah cek KTP-nya. Katanya bawa makanan. Saya nggak izinkan naik sendiri, jadi saya antar.”

Aku berdiri terlalu cepat. Kepalaku berputar. Aku memegang pinggiran meja.

Putra mendorong pintu kaca dan masuk dalam dua langkah. Dia tidak menyentuhku. Dia cuma berdiri sangat dekat, cukup dekat untuk menangkapku kalau aku jatuh, dengan tangan setengah terangkat di udara.

“Duduk,” katanya.

“Kamu ngapain di sini?”

“Duduk dulu.”

“Kamu nggak balas di grup.”

“Aku lagi nyetir.” Dia menarik kursi kerjaku dan memutarnya ke arahku. “Duduk, Ly.”

Aku duduk. Bukan karena dia menyuruh. Karena lututku sudah tidak kuat.

Pak Udin masih berdiri di ambang pintu. “Mbak, beneran kenal?”

“Kenal, Pak.”

“Pacar?”

“Musuh,” kataku dan Putra bersamaan.

Pak Udin menatap kami berdua. Lalu menatap kantong plastik di tangan Putra. Lalu menatapku yang pucat di kursi. Lalu menghela napas panjang seperti orang tua yang sudah terlalu lama hidup di dunia yang tidak masuk akal.

“Saya di bawah ya, Mbak. Kalau ada apa-apa, telepon pos.”

Dia pergi. Pintu kaca menutup pelan.

Putra menaruh kantong plastik di meja. Dia mengeluarkan isinya satu per satu dengan gerakan teratur, seperti sedang menyusun peralatan laboratorium. Satu styrofoam bubur ayam. Satu botol air mineral. Satu strip obat maag. Satu kotak susu cair. Satu sendok plastik, satu sendok besi yang dibungkus tisu. Dua pisang.

Dia membawa sendok besi dari rumah.

“Kamu dari mana?” tanyaku.

“Rawamangun.”

“Rawamangun ke Kuningan jam segini empat puluh menit.”

“Tiga puluh lima. Aku lewat Pramuka.”

“Kamu beli bubur di mana jam segini?”

“Warung bubur di Matraman. Buka sampai jam dua belas.”

Dia membuka tutup styrofoam. Uap tipis naik. Wangi kaldu ayam, bawang goreng, seledri. Perutku meremas, kali ini bukan karena sakit.

Aku menatap isinya.

Buburnya diaduk.

Bukan diaduk asal. Diaduk rata, sempurna, semua lapisan bercampur jadi satu warna kuning pucat yang seragam, dengan ayam suwir dan cakwe yang sudah terpotong kecil-kecil tersebar merata. Kerupuk dipisah di plastik kecil supaya tidak lembek. Sambal juga dipisah.

Aku menatap bubur itu. Lalu menatap Putra.

“Diaduk,” kataku.

“Iya.”

“Kamu yang aduk?”

“Iya. Di mobil. Di lampu merah Pramuka.”

“Kamu benci bubur diaduk.”

“Aku nggak benci. Aku nggak memilih.” Dia mendorong styrofoam itu ke arahku. “Orang yang lagi sakit lambung harus makan bubur yang teksturnya rata. Lebih mudah dicerna. Gumpalan cakwe utuh bisa memicu kontraksi lambung yang...”

“Jangan kutip literatur.”

Dia berhenti. Menutup mulut.

Lalu, dengan suara yang lebih pelan:

“Diaduk. Karena kamu lagi sakit. Bukan karena kamu benar.”

Aku menunduk ke bubur itu supaya dia tidak melihat wajahku.


Tanganku gemetar waktu mencoba memegang sendok. Bukan gemetar karena perasaan. Gemetar karena lambung kosong dua belas jam dan tiga gelas kopi kantin pengadilan.

Sendok itu jatuh ke meja. Bubur sedikit tumpah.

Putra mengambil sendok besi yang dia bawa dari rumah. Mengelapnya dengan tisu. Menyendok bubur. Meniupnya.

Lalu menyodorkannya ke arahku.

Aku menatap sendok itu. “Apa ini?”

“Sendok.”

“Aku tahu ini sendok.”

“Buka mulut.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Anak kecil nggak minum tiga gelas kopi kantin pengadilan dengan perut kosong. Itu kebodohan orang dewasa.”

“Kamu tahu aku minum tiga gelas?”

“Kamu bilang di voice note. Menit kedua, detik empat puluh.”

“Kamu dengerin voice note-ku?”

“Semuanya. Tujuh menit dua belas detik.”

Aku menatapnya. Dia menatap sendok. Bubur di ujung sendok itu mulai berhenti beruap.

“Kamu dengerin semuanya,” ulangku, “terus nggak balas di grup, terus langsung nyetir ke Matraman, beli bubur, aduk bubur di lampu merah, terus ke sini.”

“Itu urutan yang efisien.”

“Kenapa nggak balas di grup dulu?”

“Karena kalau aku balas, kamu bakal bilang nggak usah.” Dia akhirnya menoleh padaku. “Dan aku nggak mau debat soal itu.”

Diam.

“Buka mulut, Ly. Buburnya dingin.”

“Aku bisa makan sendiri.”

“Tanganmu gemetar.”

“Aku bisa pakai dua tangan.”

“Kamu advokat yang sudah sidang dua kali hari ini, rapat empat jam, nulis kesimpulan tiga jam, dan sekarang mau debat soal cara makan bubur.” Dia masih memegang sendok itu di udara, stabil, sabar. “Kamu yakin itu argumen yang mau kamu menangkan malam ini?”

Aku membuka mulut untuk membantah.

Dia memasukkan sendok itu.

Bubur hangat. Gurih. Kaldu ayam dan bawang goreng dan sedikit jahe. Teksturnya rata dan lembut dan lambungku yang memberontak sepanjang malam tiba-tiba diam, seperti anak kecil yang akhirnya diberi apa yang dia mau.

Aku mengunyah. Menelan.

“Curang,” kataku.

“Efisien.”

Dia menyendok lagi. Meniup. Menyodorkan.

Kali ini aku membuka mulut tanpa disuruh.

Kami tidak bicara selama beberapa menit. Cuma bunyi sendok di styrofoam, bunyi dia meniup, bunyi AC kantor yang terlalu dingin. Lampu kota Jakarta berkelip di jendela besar di belakangnya. Wajahnya serius, fokus, seperti sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting. Setiap kali menyuapkan, matanya mengikuti sendok sampai ke bibirku, lalu turun lagi ke styrofoam.

Setiap kali.

Aku menghitung. Sebelas suapan. Dia meniup setiap suapan dua kali. Dua puluh dua tiupan.

Di suapan kedua belas, sedikit bubur menempel di sudut bibirku.

Dia melihatnya. Tangannya bergerak, setengah terangkat, seperti mau mengelapnya dengan ibu jari.

Lalu berhenti di udara.

Dia mengambil tisu dan menyodorkannya padaku.

Aku mengambil tisu itu dan mengelap bibirku sendiri. Kami berdua tidak membahas tangan yang berhenti di udara itu.


Setelah bubur habis, dia memberiku obat maag dan segelas air.

“Kunyah dulu. Jangan langsung telan.”

“Aku tahu cara minum obat maag.”

“Kamu nggak tahu cara makan siang. Aku nggak yakin soal yang lain.”

Aku mengunyah tablet itu sambil menatapnya dengan wajah paling tajam yang bisa kuhasilkan dalam kondisi lemah. Rasanya kapur dan mint. Aku menelannya dan minum air.

“Aku butuh minyak angin,” kataku. “Di laci.”

Aku memutar kursi dan membuka laci meja kerjaku. Laci kanan atas. Laci yang isinya barang-barang pribadi: tisu basah, permen jahe, lipstik cadangan, minyak angin, obat sakit kepala.

Dan di pojok belakang, terbungkus sapu tangan biru tua yang sudah kusam, ada sesuatu yang lain.

Bentuknya terlihat dari balik kain. Persegi panjang, tipis, dengan dua lingkaran. Ujung sapu tangan itu sedikit terbuka, dan dari celahnya, aku bisa melihat sepotong bingkai plastik hitam.

Tanganku berhenti.

Aku mengambil minyak angin dan menutup laci itu. Cepat. Terlalu cepat. Bunyinya keras di ruangan yang sunyi.

Putra tidak melihat. Dia sedang membereskan styrofoam bekas bubur, memasukkannya ke kantong plastik, mengikatnya rapi. Dia tidak menoleh ke laci.

Aku menghela napas pelan dan membuka tutup minyak angin. Mengoleskannya ke pelipis. Wangi kayu putih memenuhi ruangan, menutupi bau kaldu ayam dan jeruk dan lada dan semua hal lain.

“Kamu bisa pulang sekarang?” tanya Putra. “Aku antar.”

“Aku belum selesai kesimpulan.”

“Kesimpulanmu bisa diselesaikan besok. Lambungmu nggak bisa diganti.”

“Itu argumen yang...”

“Data?”

Aku menatapnya.

Dia menatapku.

Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak membalas. Aku menutup laptop. Mengambil tas. Berdiri, pelan, dengan tangannya setengah terangkat di sampingku seperti tadi, tidak menyentuh, cuma siap.

“Oke,” kataku. “Kamu menang.”

Dia mengerjap. Sekali.

“Itu dihitung?” tanyanya.

“Nggak ada saksi circle.”

“Ada Pak Udin.”

“Pak Udin bukan circle.”

“Bu Ningsih juga bukan circle, tapi kamu pakai dia sebagai saksi.”

Aku tertawa. Lemah, sengau, tapi tertawa. “Oke. Satu poin. Aku sendiri yang lapor ke Alea.”

“Kamu nggak akan lapor.”

“Aku advokat. Aku jujur.”

“Kamu advokat,” katanya. “Itu bukan jaminan.”

Dia mengambil tasku dari tanganku sebelum aku sempat protes, dan berjalan ke pintu kaca. Membukanya. Menahannya untukku.

Aku berjalan keluar. Melewatinya. Bahu kami hampir bersentuhan.

Di belakangku, aku mendengar pintu kaca menutup. Dan sebelum itu, sangat pelan, hampir tidak terdengar, dua ketukan di kaca.

Tok. Tok.

Aku tidak menoleh.


Di mobilnya, sepanjang jalan ke Tebet, aku tidak tertidur. Aku menatap jendela dan membiarkan lampu jalan lewat satu per satu. Putra menyetir dalam diam. Playlist lamanya diputar pelan. Lagu yang sama, urutan yang sama, sejak enam tahun lalu.

Tidak, sejak lebih lama dari itu.

Aku tahu lagu ketiga sebelum lagu itu mulai. Aku tahu lagu kelima akan dimulai dengan gitar akustik dan suara laki-laki yang berbisik soal kota yang hujan. Aku tahu lagu ketujuh adalah lagu yang dulu, di suatu malam, di suatu tempat yang tinggi dan berangin, diputar dari ponsel seseorang sementara aku...

Aku mematikan pikiran itu sebelum selesai.

Dia mengantarku sampai pagar besi hijau. Dia tidak turun. Dia cuma menunggu sampai aku masuk ke teras dan lampu menyala, seperti setiap kali.

Aku masuk ke kamarku. Menutup pintu. Duduk di tepi tempat tidur dalam gelap.

Lalu aku mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Alea.

Lyodra: Malam ini Putra menang satu poin. Saksi: Pak Udin, satpam kantorku. Tolong dicatat.

Alea membalas dalam sepuluh detik.

Alea: ???????

Alea: LY KAMU SAKIT PARAH YA

Alea: kamu nggak pernah lapor kekalahan sendiri dalam 12 tahun

Alea: aku telepon Erwin sekarang

Lyodra: Catat aja, Al.

Alea: ...oke. Pak Udin diakui sebagai saksi sementara. Skor: 411–413.

Aku meletakkan ponsel.

Empat ratus sebelas lawan empat ratus tiga belas. Dua poin. Selisih terbesar dalam dua belas tahun.

Seharusnya aku marah. Seharusnya ada sesuatu di dadaku yang ingin mencakar dinding.

Tapi yang ada di dadaku cuma rasa hangat bubur diaduk, dan suara dua ketukan pelan di kaca pintu yang sudah tertutup.

Dan di laci kantor di lantai dua puluh tiga, terbungkus sapu tangan biru tua, ada sepasang kacamata berbingkai hitam yang sudah lima tahun tidak dipakai siapa pun.

Lima tahun.

Aku berbaring dan menatap langit-langit. Retakan di plafon. Tujuh belas.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku membiarkan diriku mengingat.