← Keberatan Ditolak

Chapter Seven

Empat Puluh Menit Lebih Jauh

POV: Putra / Lyodra


Putra

Rapat dengan vendor katering di BSD selesai jam sepuluh lewat empat puluh menit malam.

Seharusnya selesai jam delapan. Tapi pemilik katering, Bu Endang, perempuan bertubuh bulat dengan suara nyaring dan semangat yang tidak pernah habis, bersikeras kami mencicipi semua dua puluh tiga menu yang dia tawarkan. Satu per satu. Dengan penjelasan sejarah setiap resep.

“Rendang ini resep nenek saya dari Payakumbuh. Dimasak delapan jam. Mbak harus coba yang bagian pinggir, itu yang paling meresap.”

“Sup kimlo ini resep tante saya yang menikah dengan orang Solo. Kuahnya bening, tapi rasanya dalam.”

“Puding sagu ini saya kreasikan sendiri waktu anak saya ulang tahun ke tujuh. Dia sekarang sudah kerja di Singapura, tapi masih minta puding ini tiap pulang.”

Lyodra mencicipi semuanya dengan serius. Dia mencatat di buku kecilnya. Dia bertanya soal harga per porsi, porsi cadangan, waktu pengiriman, dan kebijakan kalau ada tamu yang alergi kacang. Bu Endang terpesona.

“Mbaknya teliti sekali. Kayak calon pengantin beneran.”

“Saya panitia, Bu.”

“Panitia yang teliti itu langka, Mbak. Biasanya panitia cuma mau cepat pulang.” Bu Endang menoleh padaku. “Mas-nya beruntung.”

“Kami bukan...” kataku.

“Kami musuh, Bu,” kata Lyodra.

Bu Endang tertawa sampai perutnya bergoyang, lalu menambahkan tiga potong puding sagu ke piring Lyodra “untuk musuhnya Mas.”

Kami pulang naik taksi online.

Mobilku dipinjam Erwin sejak siang. Mobil Erwin mogok di parkiran rumah sakit, dan dia punya jaga malam, dan dia meneleponku dengan suara memohon yang sangat tidak cocok dengan wajahnya. Aku bilang iya karena aku memang selalu bilang iya kalau Erwin minta tolong. Baru setelah menutup telepon, aku sadar artinya aku dan Lyodra harus pulang dari BSD berdua tanpa mobil.

Erwin tidak menunjukkan tanda-tanda menyesal soal itu. Dia malah mengirim stiker jempol.

Taksi kami datang jam sebelas kurang sepuluh. Sopirnya laki-laki paruh baya berkopiah bernama Pak Jaja, menurut aplikasi, dengan mobil sedan perak yang bau pengharum jeruk sangat kuat. Lyodra masuk duluan ke kursi belakang. Aku menyusul.

Kami duduk berdampingan. Ada jarak sejengkal di antara kami. Tas kerja Lyodra di pangkuannya. Kotak puding sagu di pangkuanku.

“Tujuannya ke Tebet dulu, terus ke Rawamangun, ya, Pak,” kataku.

“Siap, Mas.”

Mobil bergerak. Lampu jalan BSD lewat satu per satu di jendela, oranye, putih, oranye lagi. Radio memutar lagu dangdut lama dengan volume rendah.

Lyodra tidak bicara. Dia bersandar di jok, kepala miring ke arah jendela, matanya setengah terpejam. Hari ini dia sidang dari pagi, lalu rapat dengan klien, lalu langsung ke BSD tanpa makan siang. Aku tahu karena dia mengeluh di grup jam satu siang dan aku tidak membalas karena aku tidak tahu harus bilang apa yang tidak terdengar terlalu khawatir.

Aku membuka ponsel. Menutupnya. Membuka lagi.

Di tol, kira-kira lima belas menit kemudian, kepalanya jatuh.

Bukan ke jendela. Ke arahku.

Dia tertidur. Kepalanya merosot pelan dari sandaran jok, miring, miring, lalu mendarat di bahu kiriku dengan berat yang tidak seberapa dan dampak yang tidak bisa diukur dengan satuan apa pun yang kuketahui.

Aku berhenti bernapas.

Rambutnya menyentuh leherku. Wangi jeruk dan lada, sekarang bercampur sisa bau rendang dan pengharum mobil. Napasnya pelan dan teratur. Satu tangannya masih memegang tali tas kerjanya, jari-jarinya mengendur pelan-pelan.

Aku tidak bergerak. Aku duduk tegak seperti tiang bendera, bahu kiri dikunci di posisinya, kotak puding sagu di pangkuan, tidak berani menggeser satu otot pun.

Pak Jaja melirik dari spion. Lalu tersenyum. Lalu mengecilkan volume radio.

Ponselku bergetar di saku. Aku mengeluarkannya dengan tangan kanan, pelan, tanpa menggeser bahu kiri satu milimeter pun. Gerakan yang membutuhkan konsentrasi setara dengan menjinakkan bom.

Erwin: Udah sampai?

Aku: Belum.

Erwin: Lyodra masih hidup? Kalian nggak saling bunuh di taksi?

Aku menatap kepala di bahuku. Lalu mengetik dengan satu ibu jari, sangat lambat, karena setiap ketukan terasa terlalu keras.

Aku: Dia tidur.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lalu:

Erwin: Di mana?

Aku tidak membalas. Aku mematikan layar dan memasukkan ponsel kembali ke saku. Dua detik kemudian ponselku bergetar lagi, lalu lagi, lalu lagi, empat kali berturut-turut. Aku tidak perlu membacanya untuk tahu isinya kira-kira huruf kapital dan banyak tanda seru.

Aku menghitung. Itu yang selalu kulakukan kalau tidak tahu harus melakukan apa. Aku menghitung lampu jalan. Aku menghitung napasnya. Dua belas napas per menit. Pelan. Dalam. Orang yang benar-benar lelah.

Dua puluh menit kemudian, mobil keluar dari tol dalam kota. Aku melihat papan petunjuk jalan. Tebet. Sepuluh menit lagi.

Sepuluh menit lagi, mobil akan berhenti di depan pagar besi hijau yang catnya mengelupas. Aku harus membangunkannya. Dia akan kaget, malu karena tertidur di bahuku, dan langsung menjauh. Dia akan bilang sesuatu yang tajam untuk menutupi rasa malunya. Lalu dia akan turun, menutup pintu, dan masuk ke rumah tempat ibunya menunggu dengan wajah yang selalu tampak seperti membaca berita buruk.

Dan dia akan tidur di kamarnya sendiri, sendirian, setelah hari yang terlalu panjang.

Aku mencondongkan badan ke depan. Pelan. Sangat pelan, supaya bahuku tidak bergeser.

“Pak,” bisikku.

Pak Jaja menoleh sedikit. “Ya, Mas?”

“Bisa muter dulu? Lewat lingkar luar. Agak jauh nggak apa-apa.”

Pak Jaja menatapku dari spion. Lalu menatap kepala Lyodra di bahuku. Lalu menatapku lagi.

“Argonya nambah lho, Mas.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

“Kira-kira mau berapa lama?”

Aku berpikir. Orang dewasa butuh sekitar sembilan puluh menit untuk menyelesaikan satu siklus tidur lengkap. Tapi itu terlalu lama, dan ibunya akan khawatir. Empat puluh menit cukup untuk mengistirahatkan tubuh tanpa masuk ke tidur terlalu dalam sampai susah dibangunkan.

“Empat puluh menit,” kataku.

Pak Jaja tersenyum. Senyum yang sama seperti Bu Endang, seperti Pak Hartono, seperti Bu Ningsih. Senyum orang tua yang merasa sudah melihat sesuatu yang tidak kami lihat sendiri.

“Pacarnya capek banget ya, Mas.”

Aku membuka mulut untuk mengoreksi. Bukan pacar. Musuh. Kalimat yang sudah kuucapkan ratusan kali dengan nada yang sudah sangat terlatih.

Tapi di bahuku, Lyodra bergerak sedikit dalam tidurnya. Hidungnya menempel di kain kemejaku. Dia menghela napas pelan, seperti orang yang akhirnya menemukan posisi nyaman.

Aku menutup mulut.

“Iya, Pak,” kataku pelan. “Dia capek.”

Pak Jaja menyalakan lampu sein ke kiri, menjauh dari arah Tebet, dan masuk kembali ke jalan tol.


Lyodra

Aku bangun di menit kedua puluh lima.

Aku tahu menit kedua puluh lima karena jam digital di dasbor taksi itu terlihat dari sudut mataku yang setengah terbuka, dan aku ingat kami keluar dari BSD jam sebelas kurang lima. Sekarang jam sebelas dua puluh. Seharusnya kami sudah sampai di Tebet.

Kami tidak di Tebet.

Kami di tol. Lampu jalan masih lewat satu per satu. Radio masih memutar dangdut, lebih pelan dari sebelumnya.

Dan kepalaku di bahu Putra.

Kesadaran itu datang pelan, seperti air hangat yang naik dari kaki. Pertama aku sadar ada kain di pipiku. Kain katun, agak kasar, wangi sabun yang dia bilang bukan kapur barus. Lalu aku sadar kain itu naik-turun pelan, bergerak dengan napas seseorang. Lalu aku sadar seseorang itu duduk sangat, sangat diam. Seperti patung. Seperti dia takut kalau dia bergerak sedikit saja, aku akan bangun.

Lalu aku sadar aku tidak mau dia tahu aku sudah bangun.

Aku tidak membuka mata.

Ly. Kamu dua puluh tujuh tahun. Kamu advokat. Kamu nggak boleh pura-pura tidur di bahu laki-laki di taksi online kayak tokoh drama Korea jam sembilan malam.

Lima menit lagi.

Ly.

Tiga menit.

Aku mendengar Pak Jaja bersenandung pelan mengikuti lagu di radio. Aku mendengar mesin mobil, bunyi ban di atas sambungan aspal, dug-dug, dug-dug. Aku mendengar jantung Putra.

Tidak. Aku tidak mendengar jantungnya. Itu tidak mungkin dari posisi ini. Kepalaku di bahunya, bukan di dadanya.

Tapi aku bisa merasakannya. Detaknya terasa sampai ke tulang bahu tempat pipiku menempel. Cepat. Terlalu cepat untuk orang yang sedang duduk santai di taksi jam sebelas malam.

Seratus empat puluh lima, kata Erwin di kepalaku. Kamu yakin itu kue sus, Put?

Aku menahan napas supaya tidak tersenyum.

“Pak,” kata Pak Jaja pelan, tiba-tiba, dari kursi depan. “Ini sudah dua puluh lima menit muter. Lanjut?”

Diam sebentar. Bahu di bawah pipiku menegang.

“Lanjut, Pak,” bisik Putra. “Lima belas menit lagi.”

Muter?

Aku hampir membuka mata. Hampir. Kami tidak tersesat. Kami tidak salah jalan. Dia sengaja menyuruh sopirnya memutar.

Supaya aku bisa tidur lebih lama.

Ada sesuatu di dadaku yang meremas. Pelan, tapi kuat. Seperti seseorang menggenggam jantungku dengan dua tangan dan tidak berniat melepasnya.

“Mas,” kata Pak Jaja lagi. “Saya boleh nanya?”

“Boleh, Pak.”

“Kenapa nggak dibangunin aja? Kan bisa tidur di rumah. Lebih enak.”

Putra diam lama. Begitu lama sampai aku pikir dia tidak akan menjawab.

“Di rumah,” katanya akhirnya, sangat pelan, “dia nggak pernah tidur nyenyak.”

Aku membeku.

Bagaimana dia tahu itu?

Aku tidak pernah bilang ke siapa pun. Tidak ke Alea, tidak ke Sabrina. Aku tidak pernah bilang bahwa di rumah petak di Tebet itu, dengan dinding tipis yang membuat setiap suara dari kamar sebelah terdengar, aku jarang bisa tidur lebih dari empat jam. Bahwa aku mendengar ibuku bangun jam dua pagi dan duduk di ruang tengah dalam gelap, tidak melakukan apa-apa, cuma duduk. Bahwa aku sudah mendengar itu sejak umur dua belas tahun, sejak malam ayahku pergi dan tidak kembali.

Aku tidak pernah bilang ke siapa pun.

Kecuali satu orang. Satu kali. Lama sekali. Di tempat yang tidak ingin kuingat.

Dia masih ingat.

Mataku panas. Aku menekan wajahku lebih dalam ke bahunya, supaya kalau ada yang basah, kain kemejanya yang menyerapnya. Aku pura-pura itu gerakan orang tidur. Aku tidak tahu apakah dia percaya.

Dia tidak bergerak. Tapi sesuatu berubah. Bahunya, yang sejak tadi tegang seperti tiang, perlahan melunak. Sedikit. Cukup untuk membuat kepalaku tenggelam lebih nyaman.

Lalu, sangat pelan, aku merasakan sesuatu di puncak kepalaku.

Bukan tangan. Bukan bibir. Cuma pipinya. Dia menyandarkan pipinya di atas kepalaku, ringan sekali, hampir tidak ada beratnya, seperti orang yang meletakkan benda rapuh di atas benda rapuh lainnya.

Aku berhenti bernapas.

Lima detik.

Lalu pipinya terangkat lagi, seolah dia sendiri kaget dengan apa yang baru saja dia lakukan.

Aku menghitung sisa lima belas menit itu dengan napas. Satu, dua, tiga. Seratus delapan puluh napas, kira-kira. Aku menghitung semuanya, karena aku tahu kalau aku berhenti menghitung, aku akan melakukan sesuatu yang bodoh. Seperti membuka mata. Seperti mengangkat kepala dan menatapnya dari jarak lima senti. Seperti mengatakan sesuatu yang sudah lima tahun kukunci rapat-rapat di laci.

Di menit keempat puluh, mobil berhenti di depan pagar besi hijau.

“Ly.” Suaranya pelan. Tangannya menyentuh bahuku, ringan. “Ly. Sampai.”

Aku membuka mata pelan-pelan, mengerjap, pura-pura bingung. Aku advokat. Aku sudah pernah melihat ratusan saksi berpura-pura. Aku tahu cara melakukannya dengan baik.

Aku mengangkat kepala dari bahunya dan langsung menjauh, menempel ke pintu.

“Aku ketiduran?”

“Sebentar.”

“Berapa lama?”

Dia menatap ke depan, ke jalan gang yang sepi. “Nggak lama.”

Pembohong. Pembohong yang sangat buruk dan sangat baik.

Aku melihat argo di layar ponsel Pak Jaja yang terpasang di dasbor. Angka yang hampir dua kali lipat dari perkiraan aplikasi.

“Argonya mahal,” kataku.

“Macet.”

“Jam sebelas malam.”

“Jakarta.”

Aku menatapnya. Dia menatap jalan. Pak Jaja menatap kami berdua melalui spion dengan wajah orang yang sedang menonton final sepak bola.

“Bajumu,” kataku tiba-tiba. “Bahumu basah.”

Dia menoleh ke bahunya sendiri. Ada noda basah kecil di kain kemeja putihnya, tepat di tempat pipiku tadi menempel.

“Kamu ngiler,” katanya.

“Aku nggak ngiler!”

“Itu bukti fisik, Ly.”

“Bukti bisa dipalsukan!”

“Oleh siapa? Aku?” Dia mengangkat alis. “Aku duduk diam empat puluh...” Dia berhenti. Terlalu terlambat.

“Empat puluh apa?”

“Empat puluh... detik. Kamu tidur empat puluh detik.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tertawa sampai Pak Jaja ikut tertawa, sampai lampu teras rumahku menyala dan aku tahu ibuku sudah bangun.

Aku membuka pintu taksi. Turun. Membungkuk ke jendela yang terbuka.

“Makasih,” kataku. “Udah jadi bantal.”

“Kamu bayar setengah argonya.”

“Kamu yang suruh muter. Kamu bayar semua.”

Dia berkedip. Satu kali. Lalu dia sadar.

Wajahnya berubah. Dari datar, ke kaget, ke sesuatu yang lebih merah, lalu kembali datar dengan usaha yang terlihat sangat keras.

“Aku nggak tahu kamu ngomong apa,” katanya.

“Selamat malam, Put.”

Aku menutup pintu taksi dan berjalan ke pagar tanpa menoleh. Aku mendengar Pak Jaja tertawa keras sekali di dalam mobil, dan suara Putra yang memintanya untuk “tolong, Pak, jalan aja.”

Di teras, ibuku berdiri dengan daster dan kerudung, menatap taksi yang menjauh.

“Siapa?” tanyanya.

“Putra, Bu. Pulang rapat.”

Ibu tidak bilang apa-apa. Dia masuk ke dalam.

Malam itu, di kamarku yang dindingnya tipis, aku tidur tujuh jam penuh tanpa terbangun sekali pun.

Itu pertama kalinya dalam lima tahun.