← Keberatan Ditolak

Chapter Thirty Five

Ibu, Kenapa

POV: Lyodra


Aku pulang jam tujuh malam.

Bukan jam sebelas. Bukan setelah Ibu masuk kamar. Jam tujuh, waktu langit Tebet masih jingga di ujung gang dan tukang bakso masih mendorong gerobaknya melewati pagar besi hijau dengan bunyi mangkuk dipukul sendok.

Lampu ruang tengah menyala.

Ibu duduk di kursi rotan dekat jendela. Bukan dalam gelap. Lampunya menyala terang. Dan di pangkuannya, kotak sepatu tua dengan karton yang sudah lembek di pinggiran.

Dia mengangkat kepala waktu aku membuka pintu.

Kami saling menatap.

Ibu tidak memakai kerudung. Rambutnya, yang biasanya selalu tersembunyi, tergerai sampai bahu. Hitam dengan banyak garis abu-abu. Aku tidak ingat kapan terakhir melihat rambut ibuku tergerai. Mungkin waktu aku SD. Mungkin sebelum malam itu.

“Kamu pulang,” kata Ibu.

“Aku pulang, Bu.”

“Jam tujuh.”

“Iya.”

Ibu menatap kotak sepatu di pangkuannya. Lalu, pelan, dia membuka tutupnya.

“Duduk, Ly,” katanya. “Ibu mau cerita.”


Aku duduk di lantai. Di sebelah kakinya. Seperti malam di bulan Oktober waktu aku bangun jam dua pagi dan menemukannya di sini. Seperti waktu aku kecil.

Ibu mengeluarkan kertas-kertas dari kotak sepatu satu per satu. Pelan. Hati-hati. Seperti mengeluarkan barang bukti dari kantong plastik bersegel.

Yang pertama: ijazah sarjana. Fakultas Sastra, jurusan Sastra Inggris. Nama: Ratna Kusumawardhani. Tahun lulus: sembilan belas sembilan puluh tujuh. Predikat: Cum Laude.

“Ibu nggak pernah bilang Ibu cum laude,” kataku.

“Kamu nggak pernah tanya.”

Yang kedua: sertifikat lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional. Juara satu. Tahun sembilan belas sembilan puluh enam.

Aku menatap sertifikat itu lama.

“Ibu ikut lomba debat?”

“Ibu juara.” Sudut bibir Ibu bergerak sedikit. “Kamu pikir kamu dapat mulut tajammu dari mana?”

Yang ketiga: amplop panjang berwarna krem. Kertasnya sudah menguning. Kop suratnya dalam bahasa Belanda dan Inggris, dengan lambang yang langsung kukenali karena aku melihatnya setiap hari selama satu tahun penuh, di gerbang gedung fakultas, di kartu mahasiswa, di ijazah S2-ku sendiri yang sekarang tergantung di dinding kantor.

Universiteit Leiden.

Aku berhenti bernapas.

Ibu membuka amplop itu. Mengeluarkan surat di dalamnya. Menyerahkannya padaku.

Dear Ms. Ratna Kusumawardhani,

We are pleased to inform you that you have been awarded a full scholarship for the Master of Arts programme in Linguistics, commencing September 1998...

Aku membaca surat itu tiga kali.

“Ibu,” bisikku. “Ibu dapat Leiden.”

“Ibu dapat Leiden,” kata Ibu. Suaranya tenang. Sangat tenang. “Dua puluh tiga tahun. Persis umurmu waktu kamu dapat surat yang sama.”


“Ibu ketemu ayahmu setahun sebelumnya,” kata Ibu.

Dia tidak menatapku. Dia menatap jendela. Kaca nako. Lampu jalan di gang yang mulai menyala satu per satu.

“Dia pegawai bank. Ganteng. Lucu. Pintar ngomong. Ibu suka laki-laki yang pintar ngomong, karena Ibu juga pintar ngomong, dan Ibu pikir dua orang yang pintar ngomong nggak akan pernah kehabisan bahan obrolan.” Ibu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mana-mana. “Ibu salah. Dua orang yang pintar ngomong cuma akan saling berebut bicara.”

“Terus, Bu?”

“Waktu surat ini datang, Ibu cerita ke dia. Ibu senang sekali. Ibu loncat-loncat di depan rumah nenekmu.” Ibu menatap surat di tanganku. “Dia diam. Lama. Terus dia bilang, kalau kamu pergi, aku nggak bisa nunggu.“

Aku menggenggam surat itu lebih erat.

“Dia nggak bilang jangan pergi. Dia nggak bilang aku mau kamu tinggal. Dia nggak minta. Dia cuma bilang dia nggak bisa nunggu. Seperti itu fakta. Seperti cuaca.” Ibu menarik napas. “Dan Ibu, yang juara debat nasional, yang bisa bongkar argumen siapa pun dalam tiga menit, nggak bantah.”

“Kenapa?”

“Karena Ibu takut.” Ibu menatapku akhirnya. Matanya basah. “Ibu takut kalau Ibu pergi, Ibu kehilangan dia. Dan Ibu pikir kehilangan dia lebih buruk dari kehilangan Leiden.”

“Ibu nggak pergi.”

“Ibu nggak pergi. Ibu tulis surat penolakan. I regret to inform you. Ibu kirim.” Ibu tertawa pelan. Tawa yang pahit, seperti tawaku di warung bubur Matraman. “Ibu nikah sama ayahmu enam bulan kemudian. Kamu lahir setahun setelah itu. Ibu nggak pernah kerja. Ayahmu bilang istri pegawai bank nggak perlu kerja. Ibu nggak bantah juga.”

Dia meletakkan tangannya di atas kotak sepatu.

“Dua belas tahun kemudian,” katanya, “ayahmu pergi. Jam dua pagi. Bawa satu koper dan sepasang sepatu pantofel. Dia bilang dia ketemu orang lain. Dia bilang dia nggak bahagia. Dia bilang Ibu terlalu banyak bicara.”

Hening.

“Jam dua pagi,” kata Ibu. “Itu jam dia pergi. Pintu itu.” Dia menunjuk pintu depan. “Dia tutup pelan-pelan supaya kamu nggak bangun. Ibu berdiri di sini. Di tempat kursi ini. Dan Ibu lihat pintu itu tertutup.”

Aku menatap pintu depan rumah kami. Pintu kayu cokelat dengan cat yang mengelupas di bagian gagang.

“Lima belas tahun,” bisikku. “Ibu duduk di sini jam dua pagi.”

“Nunggu pintu itu kebuka lagi.” Ibu menatap pintu itu. “Ibu tahu dia nggak akan balik. Ibu nggak mau dia balik. Tapi Ibu tetap duduk. Karena setiap jam dua pagi, Ibu mikir, kalau aku ke Leiden waktu itu, aku nggak akan berdiri di sini. Dan Ibu nggak bisa tidur lagi.”


Aku menangis. Pelan. Air mataku jatuh ke surat Leiden yang sudah menguning, dan aku buru-buru mengelapnya dengan ujung lengan supaya tintanya tidak luntur.

Ibu tidak menangis. Belum.

“Waktu suratmu datang lima tahun lalu,” katanya, “Ibu senang sekali. Ibu pikir, ini kesempatan. Anakku dapat apa yang Ibu nggak dapat. Ibu pikir kamu bakal pergi dan nggak lihat ke belakang.”

“Tapi aku tulis surat penolakan.”

“Ibu nemu di lacimu. I regret to inform you.“ Ibu menutup mata. “Kalimat yang sama, Ly. Persis kalimat yang sama yang Ibu tulis dua puluh empat tahun sebelumnya. Ibu baca surat itu di kamarmu dan Ibu harus duduk di lantai karena lutut Ibu nggak kuat.”

“Ibu buang?”

“Ibu sobek. Ibu buang ke tempat sampah di ujung gang. Terus Ibu cari tahu kenapa kamu mau tolak.” Ibu membuka mata. “Nggak susah. Kamu sering nyebut namanya. Anak kacamata itu. Ibu pernah lihat dia antar kamu pulang, berhenti lama di depan pagar, nggak turun. Ibu tahu.”

“Jadi Ibu datang ke dia.”

“Jadi Ibu datang ke dia.”

Ibu diam lama.

“Ibu pikir dia kayak ayahmu,” katanya. “Laki-laki yang bikin perempuan nggak pergi. Ibu datang ke ruang dosennya dengan kalimat yang sudah Ibu siapkan semalaman. Ibu siap berdebat. Ibu siap dia marah, dia bantah, dia bilang Ibu ikut campur.” Ibu menggeleng pelan. “Dia nggak bantah, Ly.”

“Dia nggak pernah bantah,” bisikku. “Untuk hal-hal yang penting.”

“Dia cuma tanya satu hal.” Ibu menatapku. “Dia tanya, Bu, kalau dia pergi, dia bakal bahagia?“

Aku berhenti bernapas.

“Ibu bilang iya,” kata Ibu. “Ibu bilang dengan yakin. Ibu bilang, dia akan bahagia di Leiden. Dia akan jadi apa yang dia mau. Dia nggak akan jadi kayak Ibu.”

“Dia bilang apa?”

Ibu menunduk. Dan untuk pertama kalinya malam itu, suaranya bergetar.

“Dia diam lama. Terus dia bilang, kalau gitu saya yang mundur, Bu. Tapi saya nggak akan bilang ke dia dia salah pergi. Dan saya nggak akan bilang ke dia Ibu yang minta. Biar dia nggak benci siapa-siapa.“

Aku menutup mulut dengan kedua tangan.

“Biar dia nggak benci siapa-siapa,” ulang Ibu. “Dia mikirin kamu nggak benci Ibu. Bukan dirinya. Kamu. Biar kamu nggak benci ibumu sendiri.”

Ibu menangis sekarang. Pelan. Tanpa suara. Air matanya jatuh ke kotak sepatu di pangkuannya.

“Ibu salah, Ly. Ibu salah besar. Ibu pikir dia kayak ayahmu. Dia nggak. Ayahmu bikin Ibu tinggal buat dirinya sendiri. Anak itu ngelepas kamu buat kamu.”

Dia mengusap matanya dengan punggung tangan.

“Dan Ibu salah dua kali,” katanya. “Minggu lalu. Ibu lihat tangan kalian di Cikini, dan Ibu panik. Ibu lihat amplop Singapura di meja makan, Ibu lihat kamu nggak tidur dua minggu, dan Ibu pikir, sejarah terulang. Ibu datang lagi ke dia. Ke kursi yang sama. Ibu bilang kalimat yang sama.” Ibu menarik napas yang tersendat. “Ibu nggak belajar apa-apa dalam hampir tiga puluh tahun, Ly. Ibu masih takut. Ibu masih duduk di sini jam dua pagi. Dan Ibu masih mutusin hidup orang lain karena Ibu nggak berani mutusin hidup Ibu sendiri.”


Aku naik dari lantai. Duduk di lengan kursi rotan. Memeluk ibuku.

Tubuhnya kurus. Lebih kurus dari yang kuingat. Rambutnya yang tergerai wangi sampo murah dari warung, sampo yang sama yang dia pakai sejak aku kecil. Dia kaku sebentar dalam pelukanku, seperti orang yang sudah lupa caranya dipeluk.

Lalu dia melemas. Dan menangis di bahuku dengan suara.

Kami menangis lama di ruang tengah rumah petak di Tebet. Dengan lampu menyala. Dengan pintu depan tertutup. Dengan kotak sepatu tua di antara kami, berisi ijazah cum laude dan sertifikat juara debat nasional dan surat dari Leiden yang tidak pernah dipakai.

“Bu,” kataku akhirnya. Ke rambutnya. “Leiden dingin di bulan Januari.”

Ibu tertawa di sela tangisnya. “Ibu baca di brosur. Yang dikirim bareng surat itu. Ibu simpan brosurnya juga. Ibu baca tiap malam selama setahun. Januari di Leiden suhu rata-rata dua derajat. Kanal-kanal kadang membeku. Mahasiswa bersepeda di atas es.“ Ibu menatapku. “Kamu pernah sepedaan di atas es?”

“Sekali, Bu. Jatuh.”

“Ibu pengin jatuh di atas es,” kata Ibu pelan. “Sekali aja.”


“Bu,” kataku, setelah lama. “Kalau Ibu ke Leiden dulu. Ibu bakal bahagia?”

Ibu diam.

Lama sekali. Lebih lama dari yang pernah kulihat Ibu diam untuk pertanyaan apa pun.

“Ibu nggak tahu,” katanya akhirnya.

Aku menatapnya.

“Itu yang paling sakit, Ly,” kata Ibu. “Bukan ayahmu pergi. Bukan lima belas tahun duduk di sini. Yang paling sakit itu Ibu nggak pernah tahu. Ibu nggak pernah tahu Ibu bakal bahagia atau nggak di Leiden, karena Ibu nggak pernah milih. Ayahmu bilang dia nggak bisa nunggu, dan Ibu biarin kalimat itu yang milih buat Ibu.”

Dia menggenggam tanganku.

“Ibu nggak mau kamu kayak Ibu,” katanya. “Tapi Ibu salah paham soal apa artinya kayak Ibu. Ibu pikir artinya nggak pergi karena laki-laki. Ternyata bukan itu.” Dia menatapku lurus. “Kayak Ibu itu artinya biarin orang lain milih buat kamu. Ayahmu milih buat Ibu. Ibu milih buat kamu. Anak itu milih buat kamu karena Ibu minta. Lingkarannya sama terus, Ly.”

Aku menatap tangan kami. Tangannya yang kurus dan berurat. Tanganku yang masih ada sisa tinta pena sidang di sisi jari telunjuk.

“Singapura,” kata Ibu. “Kamu mau pergi?”

“Aku nggak tahu, Bu.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Itu jawaban yang jujur. Ibu nggak pernah dengar kamu jawab aku nggak tahu sejak kamu umur dua belas.” Ibu menghapus air mata di pipiku dengan ibu jarinya. Gerakan yang kaku, yang sudah lama tidak dia lakukan. “Pilih sendiri, Ly. Bukan buat Ibu. Bukan buat anak itu. Bukan buat ngebuktiin kamu bukan Ibu. Buat kamu.”

“Kalau aku pilih tinggal?”

“Ibu nggak akan ikut campur.”

“Kalau aku pilih pergi?”

“Ibu nggak akan ikut campur.”

“Ibu janji?”

Ibu tersenyum. Senyum yang kali ini sampai ke matanya. Senyum perempuan di foto-foto lama dengan rambut panjang dan mata yang menatap ke luar bingkai.

“Ibu juara debat nasional, Ly,” katanya. “Ibu tahu kapan harus berhenti bicara.”


Malam itu, Ibu tidak tidur di kamarnya.

Dia menggelar kasur lipat di ruang tengah. Di depan kursi rotan. Di depan pintu depan yang tertutup. Dan dia memintaku tidur di sebelahnya.

“Kayak dulu,” katanya. “Waktu kamu kecil. Waktu mati lampu.”

Kami berbaring berdampingan di kasur lipat yang tipis. Lampu ruang tengah dimatikan. Cahaya lampu jalan masuk lewat kaca nako, membuat garis-garis kuning di langit-langit.

Ibu bersenandung. Pelan. Lagu lama yang tidak kutahu judulnya, dengan suara yang sedikit sumbang di nada tinggi.

Persis seperti dulu. Persis seperti Bu Wening di tangga pagi itu.

“Bu,” bisikku dalam gelap.

“Hm.”

“Lagu apa itu?”

Ibu berhenti bersenandung.

“Lagu yang Ibu dengar di radio waktu Ibu baca surat dari Leiden,” katanya. “Ibu nyanyi lagu ini sambil loncat-loncat di depan rumah nenekmu.”

Dia mulai bersenandung lagi.

Aku memejamkan mata. Mendengarkan ibuku menyanyikan lagu dari hari paling bahagia dalam hidupnya, di ruang tengah tempat dia duduk menunggu selama lima belas tahun.

Jam dua pagi, aku terbangun.

Ibu tidur di sebelahku. Napasnya pelan dan teratur. Tangannya menggenggam ujung selimutku.

Dia tidak bangun. Dia tidak duduk di kursi rotan. Dia tidak menatap pintu.

Aku berbaring dalam gelap, mendengarkan ibuku tidur, dan untuk pertama kalinya aku tidak menghitung retakan di plafon.

Aku memikirkan sebuah pertanyaan yang diajukan lima tahun lalu di ruang dosen jurusan statistika, oleh seorang laki-laki berkacamata yang tidak pernah minta apa-apa untuk dirinya sendiri.

Bu, kalau dia pergi, dia bakal bahagia?

Dia tidak bertanya apakah dia akan bahagia kalau aku pergi.

Dia cuma bertanya apakah aku akan bahagia.

Dan selama lima tahun, setiap kali aku menyebutnya musuh, dia tetap duduk dua meter dariku setiap Sabtu malam, menunggu jawaban atas pertanyaan itu.