← Keberatan Ditolak

Chapter Twenty Four

Saksi Mata

POV: Putra


Minggu pagi jam delapan, aku menjemputnya di depan pagar besi hijau untuk mengambil mobilnya di Remah.

Dia keluar dengan mata sembab, kaus oversized, dan kacamata hitam. Kacamata hitam di jam delapan pagi, di gang sempit Tebet yang belum terkena sinar matahari.

“Kamu nggak tidur,” kataku.

“Kamu juga nggak.”

“Aku selalu nggak tidur.”

“Itu bukan prestasi, Put.”

Dia masuk ke mobil. Tidak bicara selama dua puluh menit perjalanan. Tidak menyalakan musik. Cuma menatap jendela dengan kacamata hitam, dan di lampu merah Mampang, mengulurkan tangannya ke tuas rem tangan, telapak menghadap ke atas, persis seperti yang kulakukan semalam.

Aku menaruh tanganku di atasnya.

Kenapa kamu nggak melawan?

Pertanyaan itu duduk di kursi belakang mobilku sejak semalam. Aku bisa merasakannya. Seperti penumpang ketiga yang tidak bicara tapi tidak pernah pergi.


Remah buka jam tujuh di hari Minggu. Etalase penuh croissant dan roti gandum dan kue sus yang masih hangat. Alea di balik meja kasir, celemek kelinci, wajah ceria seperti biasa.

“Pagi!” katanya. “Ambil mobil? Kuncinya di laci meja atas, Ly. Kamu tinggal semalam. Mau kopi dulu? Aku baru bikin.”

“Boleh,” kata Lyodra.

“Naik aja. Aku antar.”

Kami naik ke lantai dua. Ruangan masih berantakan dari semalam. Cangkir teh yang belum dicuci. Proyektor mini yang masih tersambung. Papan tulis dengan tulisan spidol merah: Sabrina & Erwin vs. Takut. Di atasnya, skor kami. 412–413.

Lyodra berjalan ke meja panjang untuk mengambil kunci mobilnya dari laci. Aku mencabut kabel proyektor.

Di meja, tergeletak ponsel Alea. Tersambung ke pengisi daya. Layarnya menghadap ke atas.

Layar itu menyala.

Notifikasi. Dari grup WhatsApp. Pratinjaunya terlihat jelas di layar kunci.

Saksi Mata 👁️ Sabrina: Al, mereka pulang bareng semalam?? Putra antar Lyodra?? 😭😭

Lyodra berhenti. Tangannya masih di laci.

Aku berhenti. Kabel proyektor masih di tanganku.

Layar itu menyala lagi.

Saksi Mata 👁️ Erwin: Konfirmasi dulu sebelum nangis, Sab. Al, kamu lihat dari jendela kan?

Lalu lagi.

Saksi Mata 👁️ Sabrina: aku nggak bisa nggak nangis win. tadi malam Lyodra ngomongin kita tapi sebenarnya dia ngomongin dia sendiri. kamu dengar kan. “aku pernah menyusun argumen yang persis sama.” dia ngomongin putra

Layar itu mati.

Lyodra menatapku. Aku menatapnya. Di antara kami, ponsel Alea, layarnya gelap, menunggu.

“Saksi Mata,” katanya pelan.

Layar menyala lagi.

Saksi Mata 👁️ Erwin: Aku tahu, sayang. Aku dengar. Lima tahun aku nunggu dia ngomong itu.

Dari tangga, terdengar langkah kaki. Ringan. Cepat. Diikuti bunyi cangkir beradu di atas nampan.

“Kopi datang!” kata Alea, muncul di ujung tangga dengan nampan berisi tiga cangkir.

Lalu dia melihat kami. Kami berdua berdiri di dekat meja, membeku, menatap ponselnya.

Nampan di tangannya bergoyang.

“Oh,” kata Alea.


Tiga puluh lima menit kemudian, Sabrina dan Erwin tiba di Remah dengan rambut berantakan dan wajah orang yang dibangunkan dengan telepon panik. Sabrina masih memakai piyama satin dengan jaket di atasnya. Erwin memakai sandal jepit yang berbeda warna, kiri biru dan kanan hitam.

Mereka berdiri di ujung tangga dan menatap kami.

Aku dan Lyodra duduk di sofa satu-satunya. Berdampingan. Tidak bersentuhan. Tapi tidak ada jarak dua meter juga.

Alea duduk di kursi plastik di depan kami, memegang ponselnya dengan dua tangan seperti memegang barang bukti di pengadilan.

“Mereka tahu,” kata Alea dengan suara kecil.

“Mereka tahu apa?” tanya Sabrina, dengan nada orang yang sangat berharap jawabannya bukan yang dia pikirkan.

“Mereka tahu grupnya.”

Sabrina menutup mulut dengan kedua tangan. Erwin menghela napas sangat panjang dan duduk di lantai, bersandar ke tembok, dengan sandal jepit yang berbeda warna menjulur ke depan.

“Win,” kata Alea, menatap kakinya. “Sandalmu.”

Erwin menunduk. Menatap sandal kirinya yang biru dan sandal kanannya yang hitam. “Alea nelepon jam delapan lewat empat puluh dan cuma bilang mereka tahu, mereka tahu, mereka tahu tiga kali terus nangis. Aku pikir ada kebakaran.”

“Aku nggak nangis.”

“Kamu nangis, Al. Aku dokter. Aku tahu bedanya orang nangis sama orang lagi alergi bulu kucing.”

“Sabrina juga nggak sempat ganti baju,” kata Alea, menunjuk piyama satin.

“Aku sempat ganti baju,” kata Sabrina. “Ini baju yang kuganti. Yang tadi lebih parah. Ada gambar beruangnya.”

“Oke,” kata Erwin. “Oke. Oke. Ini lebih cepat dari rencana.”

“Rencana?” kata Lyodra.

Hening.

“Kalian punya rencana?” ulang Lyodra. Suaranya mulai naik. Suara sidang. “Sejak kapan kalian tahu?”

Alea menatap Sabrina. Sabrina menatap Erwin. Erwin menatap langit-langit.

“Tergantung,” kata Alea pelan, “kamu tanya soal yang mana.”

“Yang mana apa?”

“Yang sekarang,” kata Alea, “atau yang lima tahun lalu.”


Lyodra berdiri. Lalu duduk lagi. Lalu berdiri lagi.

“Lima tahun lalu,” katanya. “Kalian tahu lima tahun lalu?”

“Aku tahu di perpustakaan,” kata Alea. Suaranya sangat kecil, seperti anak yang ketahuan mengambil kue sebelum makan malam. “Waktu aku cari buku resep di lantai empat. Kamu bilang kamu sendirian.”

“Aku sendirian.”

“Ada dua roti sobek cokelat di meja.”

“Aku lapar.”

“Ly.” Alea menatapku. Lalu menatap Lyodra lagi. “Ada sepatu di bawah meja. Sneakers abu-abu. Ukuran empat puluh empat. Talinya warna putih, satu lepas. Putra satu-satunya orang yang aku kenal yang pakai sneakers abu-abu dengan tali putih yang selalu lepas.”

Aku menunduk ke kakiku. Aku memakai sneakers abu-abu hari ini. Tali sebelah kiri lepas.

Sabrina, Erwin, dan Alea ikut menunduk ke kakiku. Tiga pasang mata menatap tali sepatu putih yang terurai di lantai kayu Remah.

“Lima tahun,” kata Erwin pelan, “dan kamu masih belum belajar ikat tali sepatu yang benar.”

“Ikatanku benar. Talinya yang nggak kooperatif.”

“Itu yang kamu bilang waktu kelas sepuluh.”

“Dan itu tetap benar.”

Lyodra menutup wajah dengan kedua tangan.

“Kamu nggak bilang apa-apa,” katanya dari balik tangannya. “Lima tahun, Al. Kamu nggak bilang apa-apa.”

“Kalian nggak bilang apa-apa,” jawab Alea. “Aku pikir kalian butuh waktu. Terus tiba-tiba kamu ngusulin Pasal Satu. Terus Putra setuju duluan. Terus kamu ke Leiden. Terus kalian jadi musuh.” Suaranya bergetar. “Aku nggak ngerti. Aku cuma nulis di karton apa yang kalian minta. Aku pikir kalau kalian sendiri yang bikin aturannya, kalian punya alasan.”

“Kami bikin ayat dua,” kata Sabrina tiba-tiba.

Semua kepala menoleh padanya.

“Ayat dua Pasal Satu,” kata Sabrina. Dia duduk di lantai di sebelah Erwin. Piyama satinnya kusut. “Kecuali kalau yakin sampai nikah. Kalian pikir itu buat kami? Itu bukan cuma buat kami. Itu buat kalian juga. Kami bikin pintunya. Kami tunggu kalian lewat.”

“Dua tahun kalian nggak lewat,” kata Erwin.

Lyodra duduk lagi. Kali ini dia tidak berdiri.


“Win,” kataku.

Itu kata pertama yang kuucapkan sejak Alea muncul dengan nampan kopi.

Erwin menoleh padaku dari lantai.

“Kamu bilang di grup,” kataku. “Lima tahun kamu nunggu.”

Erwin diam lama. Dia menatap sandal jepitnya yang berbeda warna. Kiri biru. Kanan hitam.

“Mungkin ini saatnya,” katanya. “Aku janji sama diriku sendiri, aku cerita kalau kalian udah nggak pura-pura lagi. Kalian ketahuan pegangan tangan di bawah meja, ketahuan salah kirim stiker, ketahuan siluet jari kelingking di foto prewedding, dan barusan ketahuan baca grup kami. Aku rasa kalian udah nggak bisa pura-pura lagi.”

Dia mengambil napas.

“Lima tahun lalu. Bulan Agustus. Hari Lyodra berangkat ke Leiden.”

Lyodra menegang di sampingku.

“Kami bertiga ngantar ke bandara,” kata Erwin. “Aku, Sabrina, Alea. Putra bilang ada rapat jurusan. Aku percaya. Putra nggak pernah bohong.” Dia berhenti. “Pulang dari bandara, aku mampir ke kampus Putra. Aku mau ajak dia makan. Kupikir dia sudah selesai rapat.”

Aku tahu apa yang akan dia katakan. Aku menatap lantai.

“Mobilnya di parkiran,” kata Erwin. “Mesinnya mati. Jendelanya tertutup. Aku jalan ke sana. Aku ketuk jendela. Dia nggak buka.”

Hening.

“Aku lihat ke dalam,” kata Erwin. Suaranya turun. “Putra duduk di kursi pengemudi. Tangannya di setir. Kacamatanya di dasbor. Dia nggak gerak. Dia cuma duduk dan menatap ke depan. Dan dia nangis.”

Aku tidak mengangkat kepala.

“Bukan nangis yang keras,” kata Erwin. “Putra nggak pernah ngapa-ngapain dengan keras. Dia nangis kayak dia lagi nyelesaiin soal matematika. Diam. Fokus. Air matanya cuma jatuh terus, dan dia nggak ngelap, dan dia nggak berhenti.”

Di sampingku, Lyodra berhenti bernapas.

“Aku berdiri di sebelah mobil itu lima belas menit,” kata Erwin. “Dia nggak pernah noleh. Aku nggak ketuk lagi. Aku pulang. Aku nggak pernah tanya. Karena aku tahu, kalau aku tanya, dia bakal bilang dia nggak apa-apa.” Erwin menatapku. “Dan intonasinya naik di kata terakhir. Kayak Lyodra.”

Aku membetulkan kacamata. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Tanganku gemetar.

“Malam itu aku tahu,” kata Erwin pelan. “Aku nggak tahu persisnya apa. Aku nggak tahu kenapa kalian pisah. Tapi aku tahu ada sesuatu. Dan aku tahu dia nggak akan pernah cerita sendiri.”


“Kepanitiaan,” kata Lyodra. Suaranya serak. “Itu kamu?”

Erwin mengangguk. “Aku yang bilang ke Sabrina. Seminggu sebelum aku lamar dia. Aku bilang, Sab, kalau kamu bilang iya, tolong tunjuk Lyodra sama Putra jadi ketua panitia. Berdua.“

“Aku nanya kenapa,” kata Sabrina. “Erwin cuma bilang, percaya aja.”

“Aku nggak tahu bakal berhasil,” kata Erwin. “Aku cuma pikir, tujuh bulan kerja berdua, rapat, survei venue, fitting... kalau masih ada sesuatu, itu bakal keluar. Dan kalau nggak ada apa-apa, ya udah, setidaknya nikahanku diurus dua orang paling kompeten di Jakarta.”

“Kamu ngerencanain ini,” kata Lyodra. “Sejak awal.”

“Aku ngerencanain bubur juga,” kata Erwin. “Cincinnya kutaruh di bubur Sabrina karena aku tahu kalian bakal debat soal bubur diaduk. Kalian selalu debat soal bubur. Aku tahu Sabrina bakal disuruh aduk buburnya biar ada yang menang.”

Hening total.

Lalu Alea mulai tertawa. Pelan. Lalu Sabrina. Lalu Erwin. Mereka bertiga tertawa di lantai dua Remah, dengan mata basah, dengan piyama satin dan sandal jepit beda warna dan celemek kelinci.

Lyodra tidak tertawa. Dia menatap papan tulis. Menatap skor kami. Menatap tulisan spidol merah di bawahnya, Sabrina & Erwin vs. Takut.

“Pasal Satu,” katanya. “Lima tahun. Kami jaga Pasal Satu lima tahun. Buat circle. Biar circle nggak pecah kalau kami putus.”

“Ly,” kata Sabrina lembut. “Kami nggak pernah butuh Pasal Satu.”

Lyodra menoleh padanya.

“Kami cuma butuh kalian bahagia,” kata Sabrina. “Circle ini nggak bakal pecah karena kalian pacaran. Circle ini nggak bakal pecah kalau kalian putus. Circle ini cuma bakal pecah kalau kalian terus pura-pura.” Dia menyeka matanya dengan lengan piyama. “Dan kalian udah pura-pura lima tahun. Kami capek nonton.”


Lyodra menangis.

Bukan menangis diam-diam seperti di mobil semalam. Menangis dengan bahu berguncang dan napas tersendat dan tangan menutup wajah. Alea pindah dari kursinya dan memeluknya. Sabrina merangkak dari lantai dan ikut memeluk. Tiga perempuan di sofa satu-satunya di lantai dua Remah, berpelukan dan menangis di bawah papan skor.

Aku duduk di ujung sofa. Erwin di lantai. Kami berdua tidak menangis.

Erwin menatapku.

Aku menatap Erwin.

“Makasih,” kataku. Pelan. Cuma untuk dia. “Udah nggak buka jendela waktu itu.”

“Aku nggak buka karena kamu nggak buka,” kata Erwin. “Aku cuma ngikutin kamu.”

“Itu tetap pilihan.”

“Iya.” Erwin tersenyum. Senyum yang tua. “Semuanya pilihan, Put.”

Dia tidak bertanya kenapa aku menangis di mobil hari itu.

Dia tidak bertanya kenapa kami putus.

Dia cuma tahu ada sesuatu. Dia tidak tahu apa.

Dan di antara semua orang di ruangan ini, cuma aku yang tahu apa.


Aku pulang ke kos jam dua siang.

Aku duduk di kursi meja kerja. Tidak menyalakan laptop. Tidak membuka ponsel.

Di grup circle, ada puluhan pesan baru. Sabrina mengirim foto siluet jari kelingking dari Anyer dengan caption ARSIP CIRCLE: RESMI DIBUKA. Alea mengirim screenshot stiker kucing oranye. Erwin mengirim foto sendok kecil di atas piring kue sus. Lyodra belum membalas apa-apa. Aku juga belum.

Aku duduk di sana sampai matahari bergeser dari jendela kanan ke jendela kiri.

Lima tahun Erwin menyimpan satu hal: dia melihatku menangis. Dia tidak tahu kenapa. Dia menunggu aku cerita.

Lima tahun Alea menyimpan satu hal: dia melihat sepatuku di bawah meja perpustakaan. Dia tidak tahu kenapa kami pura-pura. Dia menunggu kami cerita.

Lima tahun Sabrina membuat pintu bernama ayat dua dan menunggu kami lewat.

Mereka semua menunggu. Mereka semua menyimpan potongan kecil, tidak pernah lengkap, dan menunggu dengan sabar sampai kami sendiri yang menyusunnya.

Dan potongan terakhir, potongan yang membuat semua potongan lain masuk akal, ada di tanganku. Cuma di tanganku.

Hari ini, di lantai dua Remah, semua orang membuka rahasianya.

Kecuali aku.

Aku menatap tanganku di atas meja. Jari telunjukku bergerak sendiri. Mengetuk permukaan meja dua kali.

Tok. Tok.

Tidak ada yang membalas.

Tentu saja tidak. Aku sendirian di kamar ini.

Aku tetap menunggu balasan itu sampai malam.