Chapter Thirty Nine
Mosi Terakhir
POV: Lyodra / Putra
Lyodra
Erwin tidak pingsan di akad.
Satu napas. Saya terima nikahnya Sabrina Gunawan binti Hendro Gunawan dengan mas kawin tersebut, tunai. Suaranya tidak bergetar sama sekali. Dia mengucapkannya dengan suara dokter IGD yang mengumumkan pasien selamat.
Penghulu bertanya, sah? Dan masjid kecil di dekat Taman Kenari bergemuruh dengan sah dari seratus orang.
Sabrina menangis. Tentu saja Sabrina menangis. Maskaranya tahan air, dia sudah mengujinya tiga kali di depan cermin dengan menyiram wajahnya pakai air keran. Tapi air matanya terlalu banyak bahkan untuk maskara tahan air.
Erwin juga menangis. Dia menangis sambil tersenyum, sambil memasangkan cincin emas putih dari toko Koh Liong di jari manis Sabrina. Kali ini tangannya tidak gemetar. Cincinnya masuk dengan sempurna.
Aku berdiri di barisan pengiring pengantin dengan kebaya terakota yang dijahit pas di badan, menangis tanpa suara.
Di sebelahku, Putra berdiri dengan beskap abu-abu tua dan kain batik parang. Dia tidak menangis. Dia menatap Erwin dengan wajah lembut. Persis seperti di malam bulan Oktober, waktu Erwin berlutut di samping kursi Sabrina dengan scrub biru yang kusut dan cincin di dalam bubur.
Lalu dia menoleh padaku. Membetulkan kacamatanya. Dua kali.
Di bawah lengan kebayaku, jarinya mencari jariku. Mengait.
Resepsi jam sebelas, di bawah pohon kenari.
Bulan Mei di Bogor masih hujan, kata data historis Putra. Tapi pagi itu langitnya biru bersih, dengan awan putih tipis yang bergerak pelan. Pohon-pohon kenari berderet seperti penjaga, cabang-cabangnya menjulur lebar, daunnya menyaring cahaya matahari jadi bintik-bintik terang di atas rumput yang dipangkas seperti karpet.
Peoni merah muda di setiap meja. Mawar di gapura. Baby’s breath di mana-mana. Nol krisan.
Tiga ratus tamu. Ibu Sabrina tidak jadi mengundang lima ratus, setelah Putra meneleponnya dan menjelaskan soal kapasitas venue dengan data dan grafik yang dia kirim lewat email. Ibu Sabrina, kata Sabrina, membaca email itu dan bilang anak ini lebih menakutkan dari WO.
Ibuku duduk di meja nomor empat. Di sebelah Bu Wening dan Pak Darto.
Dia memakai gamis putih gading yang sama seperti di toko emas Cikini. Kerudung biru muda dengan sulaman kecil di pinggir. Dan di kerudungnya, tepat di bawah dagu, bros perak berbentuk burung kecil dengan sayap terbentang.
Dia tersenyum padaku dari meja nomor empat. Senyum yang sampai ke mata.
Bu Wening di sebelahnya sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya. Mungkin foto Putra bayi di bak mandi plastik. Ibu tertawa. Pak Darto membaca koran. Di pesta pernikahan. Dia membawa koran ke pesta pernikahan.
Sambutan sahabat dijadwalkan jam dua belas lewat dua puluh.
Tujuh menit. Mbak Tiara memberi kami tujuh menit.
Kami berdiri di depan pendopo, di depan pelaminan bunga tempat Sabrina dan Erwin duduk, di depan tiga ratus tamu. Aku memegang mikrofon. Putra di sampingku.
Kami tidak menyiapkan naskah. Kami cuma sepakat: masing-masing bicara bergantian, tidak ada yang boleh lebih dari satu menit per giliran, dan siapa pun yang memotong harus membayar martabak.
Aku bercerita soal kantin SMA dan es teh yang tumpah ke celana Erwin. Putra bercerita soal bungkus tisu wangi melati yang Erwin simpan di dompetnya delapan bulan. Erwin menutup wajahnya dengan dua tangan di pelaminan. Aku bercerita soal Sabrina yang menangis karena bulu mata palsu di runway. Putra bercerita soal Erwin yang menggendong Sabrina dua ratus meter waktu perpisahan SMA dan punggungnya sakit tiga hari.
Kami bercerita soal ayat dua Pasal Satu. Kecuali kalau yakin sampai nikah. Dan soal sumpah Erwin di atas sekotak donat.
“Hari ini,” kata Putra, “sumpahnya lunas.”
Tiga ratus tamu bertepuk tangan. Sabrina menangis lagi.
Kami tidak memotong satu sama lain sekali pun. Tidak ada yang membayar martabak.
Waktu kami selesai, Mbak Tiara mengacungkan jempol dari pinggir panggung. Enam menit lima puluh delapan detik. Dua detik sebelum batas.
Aku menyerahkan mikrofon ke pembawa acara.
Lalu Sabrina berdiri dari pelaminan.
“Tunggu,” kata Sabrina.
Dia mengambil mikrofon dari Alea. Alea, yang hari ini menjadi pembawa acara dengan gaun biru langit dan bando pita, menyerahkannya dengan wajah seperti orang yang sudah tahu ini akan terjadi.
“Tamu-tamu yang terhormat,” kata Sabrina. Suaranya bergetar sedikit. Matanya merah. Maskara tahan airnya mulai menyerah. “Saya mau minta hiburan. Dari dua sahabat saya. Barusan mereka kasih sambutan. Tapi saya pengantin, dan pengantin boleh minta apa saja.”
Dia menoleh pada kami.
“Lyodra. Putra. Dua belas tahun kalian berdebat di depan kami. Bubur. Film horor. Nanas di atas pizza. Warna pita. Photobooth.” Sabrina tersenyum. “Hari ini, saya mau kalian debat sekali lagi. Yang terakhir. Di nikahan saya.”
Dia memberi isyarat ke Alea.
Alea berjalan ke sisi pendopo dan menarik kain putih dari sebuah benda besar di atas penyangga kayu. Benda yang dari tadi pagi kukira dekorasi.
Papan tulis kekuningan dari lantai dua Remah.
LYODRA 413 — PUTRA 413
Tiga ratus tamu menatap papan itu dengan bingung. Ibu Sabrina berbisik ke suaminya. Pak Hendro mengangkat bahu.
Aku menatap papan itu. Lalu menatap Putra. Wajahnya pucat.
“Mosinya,” kata Sabrina, “Dewan ini percaya cinta tidak selalu berakhir.“
Hening.
“Lyodra dan Putra,” kata Sabrina. “Kalian di pihak pro.”
“Dua-duanya?” tanyaku.
“Dua-duanya.” Sabrina menatapku dengan mata basah. “Dua belas tahun kalian selalu di sisi yang berlawanan. Kelas sepuluh, pelatih kalian masukin kalian ke satu tim buat lomba nasional, dan kalian kalah karena kalian debat satu sama lain di atas panggung.” Dia tersenyum. “Hari ini kalian satu tim lagi. Jangan kalah lagi.”
“Terus kontranya siapa?”
Sabrina menunjuk dua kursi kosong di sisi lain pendopo.
“Pihak kontra,” katanya, “sudah menyerah lima tahun lalu. Kursinya kosong. Lawan kalian cuma waktu.”
Aku berdiri di depan pendopo dengan kebaya terakota dan lipstik merah tua. Di depanku, tiga ratus tamu. Di belakangku, pelaminan bunga dan papan skor kekuningan. Di sampingku, laki-laki berkacamata dengan beskap abu-abu tua.
Alea menyerahkan mikrofon padaku.
“Pembicara pertama, pihak pro,” katanya dengan suara hakim. “Silakan.”
Aku menatap mikrofon di tanganku.
Lalu aku menatap meja nomor empat. Ibu. Bros burung di kerudungnya.
“Majelis yang terhormat,” kataku. Suaraku keluar lebih tenang dari yang kukira. “Mosi hari ini: cinta tidak selalu berakhir. Saya akan berargumen dengan satu bukti.”
Aku menarik napas.
“Ibu saya.”
Di meja nomor empat, Ibu menegakkan badan.
“Dua puluh sembilan tahun lalu,” kataku, “ibu saya mendapat beasiswa ke Leiden. Dia menolaknya karena seorang laki-laki bilang aku nggak bisa nunggu. Dia menikah. Dia punya anak. Dua belas tahun kemudian, laki-laki itu pergi jam dua pagi.”
Tamu-tamu diam. Bu Wening menggenggam tangan Ibu di atas meja.
“Selama lima belas tahun, ibu saya percaya cinta selalu berakhir. Dia mengajarkannya ke saya di meja makan setiap Kamis. Pernikahan adalah kontrak paling lemah di dunia. Saya percaya. Saya membawa keyakinan itu ke semua hal. Lima tahun lalu, saya mengakhiri sesuatu yang sangat saya cintai, karena saya pikir lebih baik mengakhirinya sendiri daripada menunggu sampai ia berakhir.”
Aku tidak menatap Putra. Aku tidak bisa menatapnya sekarang.
“Tapi minggu lalu,” kataku, “ibu saya tidur nyenyak. Pertama kali dalam lima belas tahun. Ibu saya bersenandung lagu dari hari paling bahagia dalam hidupnya. Ibu saya duduk di sebelah seorang ibu lain di gladi resik dan berbagi kue sus.” Suaraku mulai bergetar. “Laki-laki itu pergi. Tapi cinta ibu saya ke saya tidak pernah berakhir. Cinta ibu saya ke hidupnya sendiri, yang dia kubur dua puluh sembilan tahun, ternyata juga tidak berakhir. Cuma tertidur. Menunggu dibangunkan.”
Di meja nomor empat, Ibu menangis. Tanpa suara. Bu Wening memeluknya dari samping.
“Itu bukti saya,” kataku. “Cinta tidak selalu berakhir. Kadang cuma menunggu. Lima belas tahun. Lima tahun. Empat ribu lima ratus dua puluh tiga hari.” Aku menurunkan mikrofon sedikit. “Terima kasih.”
Aku menyerahkan mikrofon ke Putra.
Tangannya gemetar waktu menerimanya.
Putra
Aku berdiri dengan mikrofon di tangan di depan tiga ratus orang.
Aku tidak pernah berdiri untuk berdebat. Dua belas tahun, aku selalu duduk. Lyodra yang selalu berdiri. Satu-satunya kali aku berdiri adalah di sidang circle, dengan rolling pin sebagai palu, di lantai dua Remah.
Sekarang aku berdiri. Dan tidak ada kursi di belakangku.
Di meja nomor empat, Ibu dan Bu Ratna saling berpegangan. Di pelaminan, Sabrina dan Erwin. Di sisi pendopo, Alea dengan buku pink. Di belakangku, papan skor.
Di sampingku, Lyodra. Dengan kebaya terakota dan mata basah dan lipstik merah tua.
“Majelis yang terhormat,” kataku. Suaraku keluar datar. Seperti biasa. Seperti membacakan hasil uji hipotesis. Aku tidak bisa mengubahnya. “Pembicara kedua pihak pro tidak akan mengutip data.”
Lyodra menoleh padaku.
“Pembicara kedua,” kataku, “akan berargumen untuk dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya.”
Aku menatap tiga ratus orang yang tidak kukenal. Lalu aku tidak menatap mereka lagi. Aku menoleh ke samping. Ke Lyodra.
“Dua belas tahun lalu,” kataku, “di ruang tim debat SMA, kamu bilang argumenku cacat logika di premis kedua. Kamu benar. Poin pertama di buku tulis bergaris itu punyamu. Dan aku nggak bisa tidur malam itu. Bukan karena kalah. Karena suaramu.”
Lyodra menutup mulut dengan tangannya.
“Lima tahun lalu, aku mundur. Ibumu minta. Aku nurut. Aku pikir itu kebaikan. Aku pikir kalau aku nggak minta apa-apa, kamu bakal bahagia.” Aku menarik napas. “Itu bukan kebaikan. Itu keputusan. Aku ambil sendirian. Untuk hidupmu. Dan aku biarin kamu pikir kamu yang ambil. Itu kesalahan terbesarku. Aku minta maaf.”
Aku menurunkan mikrofon sedikit. Lalu menaikkannya lagi.
“Hari ini aku nggak minta maaf lagi. Hari ini aku minta sesuatu yang lain.”
Hening. Angin bertiup di antara pohon-pohon kenari. Daun-daun bergesekan.
“Aku minta,” kataku, “kamu nggak pernah jadi musuhku lagi.”
Lyodra tidak bergerak.
“Aku minta kamu tetap jadi lawan debatku. Setiap Sabtu. Soal bubur dan pita dan photobooth dan font undangan. Sampai kita tua. Sampai kita lupa skornya.” Suaraku pecah. Aku tidak peduli. “Tapi aku minta kamu nggak jadi musuhku lagi. Aku minta kamu jadi timku.”
Aku melepas kacamataku.
Pelan. Dengan satu tangan. Melipat gagangnya.
Lalu aku menyelipkannya ke dalam lipatan kebaya di bagian dada kirinya. Di atas jantungnya. Seperti di rooftop Langit Selatan. Seperti di rooftop Fakultas Hukum.
Tanpa kacamata, wajahnya kabur. Cuma bentuk dan warna. Terakota dan merah tua dan mata yang basah.
“Kamu nggak bisa lihat apa-apa tanpa kacamata,” bisiknya. Tanpa mikrofon. Cuma untukku.
“Aku bisa lihat kamu.”
Aku mengangkat mikrofon untuk terakhir kalinya. Menatap wajahnya yang kabur.
“Cantik,” kataku. “Banget.”
Dua kata.
Dua kata yang sudah tujuh tahun kusimpan sebelum rooftop pertama. Dua kata yang kuucapkan sekali lima tahun lalu dan kemudian berjanji, pada diriku sendiri, untuk tidak pernah diucapkan lagi, karena musuh tidak boleh mengatakannya. Dua kata yang kuganti dengan lumayan di butik Laras di bulan Februari, lalu aku menabrak pintu kaca.
Dulu kamu lebih jujur.
Hari ini aku jujur lagi.
Aku menurunkan mikrofon. Aku tidak tahu harus menyerahkannya ke siapa. Aku cuma memegangnya di sisi tubuhku.
“Itu argumenku,” kataku pelan. “Aku nggak punya data. Cuma itu.”
Hening yang sangat panjang.
Tiga ratus tamu tidak bergerak. Mbak Tiara berdiri di pinggir panggung dengan binder enam senti yang tertutup. Koh Liong, yang diundang Sabrina karena menjual cincinnya, menatap kami dengan kacamata pembesar di satu mata.
Lalu Lyodra mengambil mikrofon dari tanganku.
Dia tidak berbicara ke tiga ratus tamu. Dia tidak berbicara ke majelis. Dia berbicara ke aku. Dengan mikrofon yang terangkat, sehingga semua orang di bawah pohon kenari bisa mendengarnya.
“Pihak pro,” katanya, “pembicara pertama, minta izin bicara lagi.”
Alea, di sisi pendopo, mengangguk dengan mata basah. “Diizinkan.”
Lyodra menatapku. Dengan kacamataku di lipatan kebayanya, di atas jantungnya.
“Dua belas tahun,” katanya, “papan skor itu berjalan. Empat ratus tiga belas lawan empat ratus tiga belas. Aku menang empat ratus tiga belas kali. Kamu menang empat ratus tiga belas kali. Dan ada satu debat yang nggak pernah tercatat. Rooftop. Bulan Juni. Kamu kalah dengan sengaja.”
Aku menunggu.
“Hari ini,” kata Lyodra, “aku mau debat itu dicatat. Dengan hasil yang sebenarnya.”
Dia menarik napas.
Lalu dia mengucapkan dua kata yang belum pernah, sekali pun, dalam dua belas tahun, kudengar keluar dari mulutnya. Dua kata yang tidak pernah dia ucapkan di lomba debat, di Remah, di ruang sidang, di mana pun. Dua kata yang dia benci lebih dari kopi kantin pengadilan.
“Aku kalah.”
Dunia berhenti.
Tidak ada angin. Tidak ada daun. Tidak ada tiga ratus tamu. Cuma perempuan dengan kebaya terakota di depanku, dengan wajah yang kabur karena aku tidak memakai kacamata, yang baru saja mengucapkan dua kata yang tidak pernah dia ucapkan.
“Aku kalah,” ulangnya. Suaranya pecah. “Dua belas tahun aku nggak mau ngaku. Aku kalah di kelas sepuluh. Aku kalah di meja nomor tiga puluh tujuh. Aku kalah di rooftop, dua kali. Aku kalah di parkiran belakang, di dapur Remah, di warung bubur Matraman. Aku kalah setiap Sabtu malam selama lima tahun waktu aku duduk dua meter dari kamu dan pura-pura benci.” Air matanya jatuh. “Aku kalah, Put. Sama kamu. Dari dulu. Dan aku nggak mau menang lagi.”
Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Aku tidak perlu.
Aku melangkah maju. Satu langkah. Dia sudah setengah jalan ke arahku.
Di bawah pohon kenari terbesar, di depan pelaminan bunga, di depan papan skor kekuningan dan tiga ratus tamu dan dua ibu yang berpelukan di meja nomor empat, aku menciumnya.
Atau dia menciumku. Aku tidak tahu siapa yang mulai. Aku tidak peduli. Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, dan tidak ada yang menghitung.
Kacamataku di lipatan kebayanya menekan di antara kami. Gagangnya menusuk sedikit. Aku tidak peduli.
Tiga ratus tamu meledak.
Sabrina menjerit dari pelaminan. Erwin berdiri di atas kursi pengantin dan bersiul dengan dua jari. Ibu Sabrina bertanya pada suaminya siapa mereka. Pak Hendro bilang panitia. Koh Liong bertepuk tangan dengan kacamata pembesar yang jatuh dari matanya.
Di meja nomor empat, Ibuku dan Bu Ratna menangis dalam pelukan satu sama lain. Pak Darto menurunkan korannya.
Waktu kami berhenti, Lyodra memasangkan kacamataku kembali. Pelan. Dengan dua tangan. Sampai duduk lurus di batang hidungku.
Wajahnya kembali tajam. Basah. Merah. Lipstiknya berantakan di sudut bibir. Paling cantik yang pernah kulihat.
“Kacamatamu miring,” katanya. Padahal tidak.
Aku membetulkannya. Dua kali.
Di sisi pendopo, Alea berjalan ke papan tulis kekuningan. Dia mengambil penghapus dari tatakan. Dan, di depan tiga ratus tamu, dia menghapus papan skor itu.
LYODRA 413 — PUTRA 413
Hilang. Dua belas tahun angka, hilang dalam tiga usapan penghapus.
Alea mengambil spidol. Spidol merah. Satu-satunya yang masih bisa dipakai, seperti biasa.
Dan dia menulis, dengan huruf besar yang ditebalkan berkali-kali:
TIM: 1
Lalu dia berbalik ke tamu-tamu. Mengangkat buku pinknya tinggi-tinggi seperti palu sidang.
“Dengan ini,” katanya, suaranya bergetar, “sidang paripurna Pengadilan Remah memutuskan: Pasal Satu Konstitusi Circle resmi dicabut. Untuk selamanya.”
Dia menurunkan buku pinknya.
“Utangnya lunas,” katanya. Ke aku. Pelan.
Sabrina, di pelaminan, menangis begitu keras sampai Erwin harus menutupi wajahnya dengan saputangan pengantin.
Lyodra menggenggam tanganku.
Aku tidak mengetuk dua kali.
Aku tidak perlu. Dia tahu aku di sini.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir reading
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru