← Keberatan Ditolak

Chapter Twenty Two

Kontrak Dua Tahun

POV: Putra


Sabrina duduk di sofa satu-satunya di lantai dua Remah dengan kedua tangan memegang cangkir teh yang tidak diminum.

“Aku belum mutusin,” katanya. “Aku cuma mau kalian tahu dulu. Semua.”

Kami semua sudah tahu. Kami ada di teras vila Anyer malam itu. Tapi tidak ada yang bilang begitu. Kami cuma mendengarkan.

Kontrak dari agensi modeling di Milan. Dua tahun. Brand-brand besar. Pekan mode. Kesempatan yang, kata Sabrina dengan suara yang sedikit bergetar, cuma datang ke satu dari seribu model Indonesia. Mulai bulan Juni. Sebulan setelah pernikahan.

“Mbak Indri bilang mereka nggak bisa nunda,” katanya. “Kalau aku nggak berangkat Juni, mereka ambil model lain. Ada daftar tunggunya.”

“Dua tahun itu lama,” kata Alea pelan.

“Aku tahu.”

“Kamu bisa pulang-pergi?”

“Sesekali. Mungkin tiga bulan sekali. Kalau jadwal pemotretan nggak padat.”

Hening.

Erwin duduk di sebelah Sabrina di sofa. Jarak di antara mereka sejengkal. Aku menghitungnya, karena itu yang kulakukan. Dua puluh senti. Biasanya jarak mereka nol.

“Win,” kata Sabrina tanpa menoleh. “Kamu belum ngomong apa-apa sejak Anyer.”

Erwin menatap cangkir teh di tangan Sabrina.

“Ambil aja, Sab,” katanya.

Aku merasakan sesuatu di perutku jatuh.

Sabrina menoleh pelan padanya. “Apa?”

“Ambil aja.” Erwin tersenyum. Senyum yang biasa dia pakai di IGD waktu harus memberi tahu keluarga pasien sesuatu yang tidak ingin mereka dengar. Senyum yang menenangkan. Senyum yang bohong. “Itu kesempatan besar. Kamu sudah kerja keras sepuluh tahun buat ini. Aku nggak mau jadi alasan kamu nggak berangkat.”

“Jadi kamu mau aku pergi?”

“Aku mau kamu bahagia.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban yang...”

“Kamu bahkan nggak minta aku tinggal,” kata Sabrina. Suaranya naik. “Kamu nggak bilang kamu bakal kangen. Kamu nggak bilang dua tahun itu kelamaan. Kamu nggak bilang apa-apa. Kamu cuma bilang ambil aja kayak aku nanya mau pesan martabak manis atau telor.”

“Sab...”

“Kamu dokter, Win. Kamu tiap hari ketemu orang yang mau mati dan kamu berjuang mati-matian biar mereka hidup. Tapi buat aku, kamu nggak berjuang sama sekali?”

Erwin membuka mulut. Menutupnya.

Di seberangku, Lyodra memegang cangkir tehnya sangat erat sampai buku jarinya putih.

Aku tidak menatapnya. Aku tidak bisa menatapnya. Karena aku tahu dia sedang mendengar kalimat yang sama yang kuucapkan lima tahun lalu dalam versi lain. Leiden itu kampus bagus. Kesempatan kayak gitu nggak datang dua kali. Dan aku tahu dia sedang mengingat apa yang dia katakan di mobilku semalam. Lima tahun lalu kamu nggak debat.

Sabrina berdiri. Menaruh cangkir teh di meja dengan bunyi keras.

“Aku pulang sendiri,” katanya.

“Sab, aku antar...”

“Aku naik taksi.”

Dia turun tangga. Kami mendengar langkahnya, cepat, di setiap anak tangga, termasuk anak tangga yang dulu berderit dan sekarang tidak lagi. Lonceng pintu depan berbunyi. Lalu sunyi.

Erwin duduk di sofa sendirian. Menatap tempat yang tadi diduduki Sabrina.

“Win,” kata Alea.

“Aku nggak apa-apa,” kata Erwin.

Intonasinya naik di kata terakhir.

Alea menatapku. Lyodra menatap cangkir tehnya. Tidak ada yang bilang apa-apa, karena tidak ada kalimat di dunia ini yang bisa membuat situasi itu lebih baik, dan kami berempat sudah terlalu lama saling kenal untuk berpura-pura ada.

Erwin akhirnya berdiri, mengambil kunci mobilnya, dan pergi tanpa pamit.


Jam tiga pagi, seseorang mengetuk pintu kamar kosku.

Bukan dua kali. Lima kali. Keras. Tidak sabar.

Aku membuka pintu. Erwin berdiri di koridor kos dengan scrub biru yang kusut, rambut berantakan, mata merah. Dia membawa kantong plastik minimarket berisi dua bungkus mi instan dan dua kaleng kopi susu.

“Aku baru selesai jaga,” katanya. “Aku nggak bisa pulang ke rumah. Kalau aku pulang, aku bakal telepon Sabrina, dan kalau aku telepon Sabrina jam tiga pagi, aku bakal ngomong hal yang salah lagi.”

“Masuk.”

Kamar kosku sempit. Satu kasur, satu meja kerja, satu rak buku yang terlalu penuh, satu kursi, dan satu kompor listrik kecil di sudut yang menurut aturan kos tidak boleh ada. Erwin tidak menunggu dipersilakan. Dia langsung ke kompor, mengisi panci kecil dengan air dari galon, dan mulai merebus mi.

“Kamu punya telur?”

“Di kulkas mini.”

“Kamu punya cabai rawit?”

“Nggak.”

“Kamu dosen umur dua puluh delapan dan kamu nggak punya cabai rawit?”

“Aku nggak suka pedas.”

“Itu bukan alasan. Cabai rawit itu kebutuhan pokok.” Dia membuka kulkas mini dan mengambil dua butir telur. Mengamati isinya. “Put, kenapa kulkasmu isinya cuma susu, telur, dan roti sobek cokelat?”

Aku tidak menjawab.

Erwin menutup kulkas pelan. Menatapku. Lalu kembali ke mi-nya tanpa bilang apa-apa.

Sambil menunggu air mendidih, dia bersandar ke meja kerjaku dan menatap rak buku yang terlalu penuh.

“Put, kamu ingat kantin SMA? Kelas sebelas?”

“Banyak hal terjadi di kantin SMA kelas sebelas.”

“Hari aku numpahin es teh ke celana sendiri.”

“Kamu numpahin es teh ke celanamu sendiri setidaknya enam kali di kelas sebelas.”

“Yang pertama. Yang waktu Sabrina duduk di meja sebelah.” Erwin tersenyum ke panci yang mulai beruap. “Dia ketawa. Bukan ketawa ngejek. Ketawa yang kaget, kayak dia nggak nyangka ada orang sebodoh itu di dunia. Terus dia kasih aku tisu. Satu bungkus. Yang wangi melati.”

“Aku ingat. Kamu simpan bungkus tisunya di dompet.”

Erwin menoleh dengan mata melebar. “Kamu tahu?”

“Kamu ngeluarin dompet buat bayar bakso tiap hari. Bungkus tisu itu kelihatan setiap kali. Delapan bulan.”

“Kamu ngitung?”

“Aku selalu ngitung.”

Erwin tertawa. Tawa yang pertama malam itu. Lalu tawanya pelan-pelan hilang, dan dia menatap panci.

“Aku masih simpan,” katanya. “Bungkus tisunya. Sekarang di laci meja kerja di rumah sakit. Udah lecek, wanginya udah hilang dari sepuluh tahun lalu. Tapi aku simpan.”

Dia memasukkan mi ke air mendidih. Mengaduknya dengan sumpit.

“Bodoh, ya,” katanya. “Laki-laki dua puluh delapan tahun, dokter, nyimpan bungkus tisu bekas dari SMA.”

Aku tidak menjawab. Aku memikirkan rak buku di belakang Erwin. Rak paling atas. Buku teks statistik matematika setebal tujuh ratus halaman yang tidak pernah kubuka lagi sejak lulus. Di antara halaman empat ratus dua belas dan empat ratus tiga belas, ada mawar merah yang kelopaknya sudah layu waktu dibeli di lampu merah, yang tertinggal di dasbor mobilku malam setelah rooftop Fakultas Hukum, dan sekarang sudah kering dan pipih dan berwarna cokelat tua seperti kertas tua.

Lima tahun aku tidak membuka halaman itu.

“Nggak bodoh,” kataku.


Kami makan mi instan di lantai kamar kos, punggung bersandar ke rangka kasur. Erwin makan dengan cepat, seperti orang yang sudah dua belas jam tidak makan, yang mungkin memang benar. Aku makan per lapisan: kuah dulu, lalu mi, lalu telur.

“Kamu masih makan kayak gitu,” kata Erwin.

“Kayak apa?”

“Per bagian. Kayak takut semuanya tercampur.” Dia menunjuk mangkukku dengan sumpit. “Tapi minggu lalu aku lihat kamu makan bubur diaduk di Remah. Lyodra yang aduk.”

Aku berhenti mengunyah.

“Aku nggak lihat apa-apa,” tambah Erwin cepat. “Itu cuma observasi klinis.”

“Win.”

“Hm.”

“Kenapa kamu bilang ambil aja?”

Dia berhenti makan. Menaruh mangkuk di lantai. Menatap dinding kamar kosku, yang ditempeli satu poster tabel distribusi normal dan satu kalender dari toko fotokopi.

“Karena aku takut,” katanya.

“Takut apa?”

“Takut kalau aku minta dia tinggal, dia tinggal. Dan suatu hari, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dia bangun pagi dan lihat aku di sebelahnya, dan dia mikir gara-gara laki-laki ini aku nggak pernah ke Milan.” Dia menarik napas panjang. “Aku nggak mau jadi alasan dia menyesal, Put. Aku lebih baik dia pergi dan benci aku karena nggak minta dia tinggal, daripada dia tinggal dan benci aku karena itu.”

Aku menatap mangkuk mi di tanganku.

Aku tahu kalimat itu. Aku tidak pernah mengucapkannya dengan kata-kata yang sama, tapi aku tahu kalimat itu. Kalimat itu sudah lima tahun tinggal di dadaku, di tempat yang sama dengan semua data yang tidak pernah kuanalisis.

“Itu bukan keputusanmu,” kataku.

Erwin menoleh.

“Apa yang dia sesali atau nggak sesali,” kataku pelan. “Itu bukan keputusanmu. Itu keputusan dia. Kamu nggak bisa memutuskan apa yang bakal dia rasakan sepuluh tahun lagi. Kamu nggak punya data itu. Nggak ada yang punya.”

“Tapi...”

“Kamu cuma bisa bilang apa yang kamu mau. Sekarang. Jujur. Habis itu, dia yang mutusin.” Aku menaruh mangkukku. “Bilang kamu mau dia tetap di sini. Minta. Sekali saja.”

Erwin menatapku lama. Sangat lama.

“Kamu ngomong,” katanya akhirnya, “kayak orang yang pernah nggak minta.”

Hening.

Kipas angin kecil di sudut kamar berputar ke kiri dan ke kanan. Di luar, seekor kucing mengeong di atap kos.

Aku tidak menjawab.

Erwin tidak mendesak. Dia mengambil kaleng kopi susu dan membukanya. Bunyi cess yang terlalu keras di kamar yang terlalu sunyi.

“Put,” katanya pelan. “Aku mau cerita sesuatu.”

Aku menunggu.

Dia membuka mulut. Menatap kaleng kopi susunya. Lalu menutup mulut lagi.

“Nanti,” katanya. “Belum sekarang. Aku janji sama diriku sendiri.”

“Janji apa?”

“Janji buat nunggu sampai kamu sendiri yang cerita duluan.”

Aku tidak bertanya apa maksudnya. Aku tidak perlu bertanya. Erwin sudah menjadi sahabatku sejak SMA. Dia tahu kapan aku berbohong. Dia tahu kapan aku diam karena tidak punya jawaban dan kapan aku diam karena punya jawaban yang tidak bisa kuucapkan.

Dan malam itu, di lantai kamar kosku jam tiga pagi, aku tahu Erwin tahu sesuatu. Aku tidak tahu seberapa banyak. Aku tidak tahu sejak kapan.

Aku cuma tahu dia menunggu.


Erwin tertidur di kasurku jam setengah lima, masih memakai scrub, dengan satu kaki menggantung ke lantai. Aku menyelimutinya dengan selimut yang biasa kupakai dan duduk di kursi meja kerja, menatap laptop yang tidak kunyalakan.

Ponselku bergetar.

Lyodra: Kamu bangun?

Aku: Iya.

Lyodra: Aku nggak bisa tidur.

Aku: Aku tahu.

Lyodra: Gimana kamu tahu?

Aku: Karena kalau kamu bisa tidur, kamu nggak ngetik ini.

Lyodra: Itu kalimatku. Kamu nyontek.

Aku: Kamu yang nyontek. Itu kalimatku dari bulan Desember.

Tiga titik. Lama.

Lyodra: Erwin bilang ambil aja.

Aku: Aku tahu.

Lyodra: Itu sama kayak kamu.

Aku menatap pesan itu.

Lyodra: Lima tahun lalu. Leiden itu kampus bagus. Itu sama.

Lyodra: Aku lihat muka Sabrina tadi. Dan aku sadar, itu mukaku. Lima tahun lalu. Di rooftop. Waktu kamu bilang kamu menang.

Aku tidak bisa membalas. Jariku di atas layar tidak bergerak.

Lyodra: Kamu masih di sana?

Aku: Aku di sini.

Lyodra: Aku nggak marah. Aku cuma... aku baru ngerti sesuatu malam ini.

Aku: Apa?

Lyodra: Aku selalu pikir aku yang mutusin pergi. Aku yang menang. Tapi lihat Erwin tadi, aku jadi mikir. Mungkin aku cuma menang karena kamu nggak mau melawan.

Lyodra: Dan itu bukan menang namanya.

Aku menatap layar sampai lampunya mati sendiri.

Di kasur, Erwin bergumam dalam tidurnya. Sesuatu yang terdengar seperti nama Sabrina.

Aku menyalakan layar lagi.

Ada sesuatu yang harus kukatakan. Aku tahu ada sesuatu yang harus kukatakan. Tentang bulan Mei. Tentang Juni. Tentang satu sore di ruang dosen jurusanku, lima tahun lalu, dan seseorang yang duduk di kursi tunggu di depan mejaku dan meminta satu hal yang tidak bisa kutolak.

Pasal yang tidak kutulis.

Aku mengetik.

Aku: Ly, ada yang mau aku bilang soal lima tahun lalu.

Aku menatap kalimat itu.

Di kasur, Erwin bergumam lagi. Di luar, kucing berhenti mengeong. Langit di jendela kamar kos mulai berubah dari hitam ke biru tua.

Kalau aku mengirim kalimat ini, dia akan bertanya. Kalau dia bertanya, aku harus menjawab. Kalau aku menjawab, dia akan tahu. Dan kalau dia tahu sekarang, jam lima pagi, sendirian di kamarnya yang dindingnya tipis, dengan ibunya yang duduk di ruang tengah dalam gelap, dua dinding darinya...

Aku menghapus kalimat itu.

Huruf demi huruf.

Aku: Tidur, Ly. Kamu sidang jam sembilan.

Lyodra: Kamu tahu jadwal sidangku?

Aku: Kamu pasang di kalender bersama panitia. Kamu lupa set privat.

Lyodra: ...

Lyodra: Itu pelanggaran privasi.

Aku: Itu kelalaian administratif dari Pihak Pertama.

Dia mengirim stiker kucing oranye yang memeluk sesuatu.

Aku tidak membalas dengan apa-apa. Aku cuma menatap stiker itu sampai matahari naik, dan Erwin bangun, dan Erwin bertanya kenapa mataku merah, dan aku bilang aku tidak tidur karena dia mendengkur.

Erwin tidak percaya. Tapi dia tidak bertanya lagi.

Sebelum pulang, di ambang pintu kamar kos, Erwin berhenti.

“Put.”

“Hm.”

“Makasih soal minta, sekali saja.” Dia tersenyum, senyum yang sungguhan kali ini. Kecil, lelah, tapi sungguhan. “Aku mau coba.”

“Bagus.”

“Kamu juga.”

“Aku juga apa?”

Erwin tidak menjawab. Dia cuma menepuk bahuku dua kali dan berjalan menyusuri koridor kos, masih memakai scrub biru yang kusut, menuju matahari pagi.

Aku menutup pintu.

Lalu aku duduk di lantai, bersandar ke pintu, dan menatap kalender toko fotokopi di dinding.

Mei. Empat bulan lagi.

Aku tidak menghitung apa pun pagi itu. Aku cuma duduk.