← Keberatan Ditolak

Chapter Twenty Three

Lyodra Membela

POV: Lyodra


Erwin memang meminta.

Dia cerita sendiri di grup, hari Selasa, dengan pesan panjang yang tidak biasa untuk seseorang yang biasanya cuma mengirim stiker dan keluhan soal beskap. Dia datang ke apartemen Sabrina Senin malam setelah jaga, membawa martabak telor kesukaan Sabrina, duduk di lantai ruang tamu, dan bilang dengan suara yang katanya gemetar kayak mahasiswa koas pertama kali pasang infus: aku mau kamu tinggal. Aku nggak mau dua tahun. Aku egois, aku tahu, tapi aku mau kamu tinggal.

Sabrina menangis. Erwin menangis. Martabaknya dingin.

Lalu, kata Erwin, Sabrina bilang dia butuh waktu.

Empat hari kemudian, Sabtu malam, mereka berdua datang ke Remah bergandengan tangan.

Aku hampir lega melihat tangan mereka. Hampir.

Sebelum mereka datang, setengah jam penuh, kami bertiga menunggu di lantai dua dengan kegelisahan yang disamarkan jadi kesibukan. Alea mengelap meja yang sudah bersih tiga kali. Putra memeriksa spreadsheet vendor yang tidak perlu diperiksa. Aku membaca ulang kontrak katering yang sudah kubaca dua kali.

“Ly,” kata Putra tanpa mengangkat kepala. “Kamu baca halaman yang sama dari tadi.”

“Aku teliti.”

“Kamu baca klausul soal porsi cadangan nasi kuning. Itu klausul paling nggak penting di seluruh kontrak.”

“Nasi kuning itu penting. Kalau nasi kuningnya kurang, tamu Jawa protes.”

“Data?”

“Aku orang Jawa. Aku protes.”

“Kamu lahir di Tebet.”

“Nenekku dari Klaten.”

“Itu nggak bikin kamu ahli nasi kuning.”

“Itu bikin aku punya hak konstitusional atas nasi kuning.”

Alea, yang masih mengelap meja yang sama, berhenti dan menatap kami. “Debat soal nasi kuning,” katanya pelan. “Kualitas D. Kalian lagi gugup.”

Kami berdua diam.

Alea benar. Dia selalu benar soal hal-hal yang tidak ingin kami dengar.

Lalu aku melihat wajah Sabrina.


“Kami mau kasih tahu sesuatu,” kata Sabrina. Dia berdiri di tengah lantai dua, di depan papan skor, dengan Erwin di sampingnya. “Sebelum kalian dengar dari orang lain. Sebelum kalian sibuk ngurus vendor.”

Alea meletakkan spidol. Putra menutup laptop. Aku menaruh cangkir teh.

“Kami tunda nikahnya,” kata Sabrina.

Hening.

“Tunda,” ulang Alea pelan. “Berapa lama?”

“Sampai aku pulang dari Milan. Dua tahun.”

Aku merasakan sesuatu di dadaku jatuh ke lantai dan pecah.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena kami ngobrol empat hari,” kata Erwin. Suaranya tenang, terlalu tenang. “Dan kami pikir, kalau nikah bulan Mei terus Sabrina berangkat bulan Juni, itu nggak adil buat siapa-siapa. Sabrina bakal di Milan dengan rasa bersalah karena ninggalin suami yang baru sebulan dinikahi. Aku bakal di sini sendirian di rumah yang baru dibeli. Lebih baik kita tunda. Biar Sabrina bisa fokus. Biar nggak ada beban.”

“Kamu minta dia tinggal,” kataku. “Kamu bilang di grup.”

“Aku minta.” Erwin tersenyum. Senyum lelah. “Dan dia mau tinggal. Dia bilang dia mau tolak Milan.”

“Terus kenapa...”

“Karena aku nggak bisa biarin dia tolak.” Erwin menatap lantai. “Waktu dia bilang mau tolak, aku lihat mukanya. Dan aku tahu aku bakal lihat muka itu setiap pagi selama sepuluh tahun. Muka orang yang nggak pernah ke Milan.”

“Jadi kalian kompromi,” kata Alea.

“Kami kompromi,” kata Sabrina. Suaranya bergetar. “Dia nggak minta aku tinggal, aku nggak minta dia nunggu. Kami cuma... tunda. Semuanya. Nanti kalau aku pulang, kalau kami masih...”

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Kalau kami masih.

Aku tahu kalimat itu. Aku tahu kalimat yang tidak selesai itu.

Kalau kita lanjut, setahun lagi kita putus dan circle hancur. Mending sekarang.

Aku pernah mengucapkannya dengan versi yang lebih rapi, lebih terstruktur, dengan empat poin dan nada sidang. Tapi isinya sama. Isinya selalu sama.

Takut.


Aku berdiri.

Aku tidak tahu kenapa aku berdiri. Debat selalu membuatku berdiri. Tapi ini bukan debat. Tidak ada mosi. Tidak ada pihak pro dan kontra. Cuma dua orang yang kucintai, berdiri di depan papan skor dengan tangan bergandengan dan wajah yang sudah menyerah.

“Kasih aku sepuluh menit,” kataku.

“Ly...” kata Sabrina.

“Sepuluh menit. Habis itu kalau kalian masih mau tunda, aku diam. Aku bantu batalin semua vendor. Aku yang telepon Mbak Tiara. Aku yang telepon ibumu, Sab. Tapi kasih aku sepuluh menit.”

Sabrina menatap Erwin. Erwin menatap Sabrina.

“Oke,” kata Erwin pelan.

Aku berjalan ke papan tulis. Mengambil spidol merah dari tatakan. Satu-satunya spidol yang masih bisa dipakai, seperti biasa.

Di belakangku, aku mendengar Putra bergeser di kursinya. Aku tidak menoleh.

“Majelis yang terhormat,” kataku, menghadap Alea yang duduk di kursi hakim tidak resminya di ujung meja.

Alea mengerjap. Lalu, pelan-pelan, dia meluruskan punggung. Mengambil buku notulen pinknya. Membukanya ke halaman kosong.

“Silakan, Kuasa Hukum,” katanya.


“Perkara ini,” kataku, “adalah perkara Sabrina Gunawan dan Erwin Santoso melawan Ketakutan Mereka Sendiri.”

Aku menulis di papan tulis, di bawah skor: Sabrina & Erwin vs. Takut.

“Bukti pertama.”

Aku mengeluarkan ponsel. Membuka galeri. Menggulir jauh ke belakang, ke folder yang berisi foto-foto lama yang kupindahkan dari ponsel lama ke ponsel baru setiap kali ganti. Aku menyambungkan ponsel ke proyektor mini Putra yang masih tergeletak di meja sejak rapat WO. Putra, tanpa bilang apa-apa, menyalakannya untukku.

Foto pertama muncul di dinding putih di sebelah papan skor.

Foto buram dari kamera ponsel jadul. Kantin SMA. Sabrina umur enam belas, rambut dikuncir dua, menatap seorang anak laki-laki di meja sebelah yang sedang menumpahkan es teh ke celananya sendiri.

“Kelas sebelas,” kataku. “Kantin. Sabrina bilang ke aku, di hari itu, bahwa dia mau nikah sama laki-laki yang bisa bikin dia ketawa sambil menumpahkan es teh ke celana sendiri. Itu Erwin. Sabrina naksir Erwin sejak hari itu. Sepuluh tahun lalu.”

Erwin menoleh ke Sabrina. “Sab?”

Sabrina menutup wajah dengan kedua tangan.

“Bukti kedua.”

Foto berikutnya. Acara perpisahan SMA. Erwin menggendong Sabrina di punggungnya karena hak sepatu Sabrina patah, dan mereka berdua tertawa sampai wajahnya merah.

“Erwin gendong Sabrina dari aula ke parkiran. Dua ratus meter. Erwin waktu itu kurus kayak tiang listrik dan Sabrina pakai gaun yang beratnya tiga kilo. Dia nggak berhenti sekali pun. Dia bilang ke Putra besoknya, punggungku sakit tiga hari, tapi aku mau gendong dia lagi kapan aja.“

Erwin menoleh ke Putra. “Kamu cerita ke Lyodra?”

“Aku nggak pernah cerita,” kata Putra pelan. “Aku nggak tahu dia tahu.”

Aku melanjutkan tanpa menatap Putra. Aku tidak bisa menatapnya sekarang.

“Bukti ketiga. Empat tahun lalu. Waktu aku masih di Leiden.”

Foto tangkapan layar chat grup. Tanggal empat tahun lalu. Pesan dari Sabrina, jam dua pagi: guys aku patah hati. Fotografer itu ternyata udah punya istri. Aku bodoh. Dan di bawahnya, satu menit kemudian, pesan dari Erwin: Aku di depan apartemenmu. Bawa martabak. Buka pintu.

“Jam dua pagi. Erwin baru selesai jaga. Erwin nyetir empat puluh menit dari rumah sakit. Erwin waktu itu belum pacaran sama Sabrina. Erwin belum pernah bilang apa-apa. Tapi dia datang.” Aku menatap Erwin. “Kenapa kamu datang?”

Erwin tidak menjawab. Rahangnya bergetar.

“Karena kamu nggak bisa nggak datang,” kataku. “Karena Sabrina sedih, dan kamu nggak bisa ada di tempat lain kalau Sabrina sedih.”

Sabrina menangis sekarang. Tidak bersuara. Bahunya berguncang.


Aku meletakkan spidol. Berjalan ke tengah ruangan. Berdiri di depan mereka berdua.

“Ini argumen utamaku,” kataku. “Kalian bilang kalian menunda supaya adil. Supaya nggak ada beban. Supaya Sabrina bisa fokus. Itu semua argumen yang bagus. Rapi. Terstruktur. Aku tahu, karena aku pernah menyusun argumen yang persis sama.”

Aku merasakan semua mata di ruangan itu berpindah padaku. Alea. Erwin. Sabrina.

Dan Putra. Di belakangku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu dia menatapku.

“Tapi argumen itu bohong,” kataku. “Bukan bohong karena kalian jahat. Bohong karena kalian takut. Kalian takut kalau kalian nikah terus berpisah dua tahun, cinta kalian nggak tahan. Kalian takut kalau kalian nikah terus salah satu menyesal, itu salah kalian. Jadi kalian tunda. Kalian bikin pintu darurat. Kalian bilang nanti kalau kami masih.”

Aku menarik napas.

“Jarak nggak membunuh cinta,” kataku. “Dua tahun nggak membunuh cinta. Milan nggak membunuh cinta. Yang membunuh cinta itu keputusan yang diambil sepihak. Ketika satu orang memutuskan untuk dua orang. Ketika satu orang bilang ambil aja karena dia pikir dia tahu apa yang terbaik buat yang lain. Ketika satu orang menyerah duluan supaya nggak perlu kalah belakangan.”

Suaraku pecah di kata terakhir.

Aku tidak berhenti.

“Kalian bukan memilih antara Milan dan Erwin. Kalian memilih antara berani dan takut. Kalau kalian nikah bulan Mei, terus Sabrina ke Milan, terus kalian video call jam dua pagi karena beda zona waktu, terus kalian kangen setengah mati, terus kalian berantem soal hal bodoh karena capek, terus kalian baikan, terus dua tahun lewat, terus Sabrina pulang, itu bukan beban. Itu pernikahan. Itu yang namanya pernikahan.”

Hening.

“Tapi kalau kalian tunda,” kataku, lebih pelan, “karena takut nggak tahan, terus dua tahun lagi kalian ketemu di bandara dan saling senyum dan bilang gimana kabarmu, kayak dua orang yang pernah kenal...” Aku menelan ludah. “Itu lebih sakit dari apa pun yang bisa terjadi di Milan. Percaya aku. Aku...”

Aku berhenti.

Aku hampir mengatakannya. Aku tahu, karena aku pernah melakukannya. Aku hampir mengatakannya di depan circle, di depan papan skor, di depan Alea dengan buku notulen pink dan Sabrina yang menangis dan Erwin yang rahangnya bergetar.

“Aku sudah selesai,” kataku. “Majelis bisa memutuskan.”


Lama tidak ada yang bicara.

Lalu Sabrina melepas tangannya dari genggaman Erwin. Dia berjalan ke arahku. Dia memelukku. Erat. Sangat erat, sampai aku tidak bisa bernapas dan wangi parfum bunga Sabrina memenuhi hidungku.

“Kamu jahat,” bisiknya di bahuku.

“Aku advokat.”

“Itu sama aja.”

Dia melepas pelukan dan kembali ke Erwin. Mereka saling menatap lama.

“Kasih kami waktu seminggu,” kata Erwin akhirnya. Ke aku. Ke circle. “Seminggu buat mikir. Bukan buat tunda. Buat mikir lagi. Dengan benar.”

“Seminggu,” kataku.

“Dan Ly,” kata Erwin. Dia menatapku dengan mata merah. “Terima kasih.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku cuma mengangguk.

Sebelum pulang, Sabrina berhenti di depan papan tulis. Dia menatap tulisan spidol merahku, Sabrina & Erwin vs. Takut, lama sekali. Lalu dia mengambil spidol dan menambahkan satu kata kecil di bawahnya dengan tulisan tangannya yang bulat-bulat.

Belum diputus.

Dia menutup spidol dan meletakkannya di tatakan dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang masih bisa pecah.

Alea, di ujung meja, menutup buku notulen pinknya pelan. Dia tidak menulis skor. Dia tidak bilang keberatan ditolak. Dia cuma menatapku dengan mata yang basah, dan lalu, untuk alasan yang tidak kumengerti, dia menatap Putra.


Sabrina dan Erwin pulang bersama. Alea mengusir kami jam sepuluh dengan alasan pesanan pagi.

Di trotoar depan Remah, aku berdiri sendirian. Aku membawa mobil malam ini. Mobilku di parkiran depan. Aku bisa menyetir pulang sendiri.

Putra berdiri di ambang pintu Remah.

“Aku antar,” katanya.

“Aku bawa mobil.”

“Aku tahu. Aku antar. Mobilmu biar di sini. Besok aku jemput kamu ke sini lagi buat ambil.”

Itu rencana yang sangat tidak efisien. Dia tahu itu. Aku tahu itu.

Di jendela lantai dua, siluet Alea berdiri. Menatap ke bawah. Ke kami.

Aku tidak peduli.

Aku berjalan ke mobilnya dan masuk ke kursi penumpang.


Dia tidak menyalakan musik. Kami menyetir dalam sunyi melewati Kemang, Mampang, Kuningan. Lampu jalan lewat satu per satu. Oranye. Putih. Oranye lagi.

Di lampu merah Pancoran, dia akhirnya bicara.

“Barusan,” katanya pelan, tanpa menoleh, “kamu menang debat lawan dirimu sendiri.”

Aku menatap jendela.

Aku tidak menjawab.

Aku tidak bisa menjawab. Karena dia benar. Dia selalu benar soal hal-hal yang tidak ingin kudengar. Semua yang kukatakan di Remah tadi, setiap poin, setiap bukti, setiap kalimat soal keputusan sepihak dan pintu darurat dan menyerah duluan supaya tidak kalah belakangan, semuanya adalah argumen melawan Lyodra Kirana di rooftop Fakultas Hukum lima tahun lalu.

Dan aku menang.

Lima tahun terlambat.

Lampu berubah hijau. Mobil bergerak. Aku menatap jendela, dan bayanganku di kaca menatap balik, dan air matanya mulai jatuh tanpa suara.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia tidak menyentuhku. Dia cuma menyetir, pelan, lebih pelan dari biasanya, dengan satu tangan di setir.

Tangan yang lain dia letakkan di atas tuas rem tangan di antara kursi kami. Telapak menghadap ke atas. Terbuka.

Aku menatap tangan itu lama.

Lalu aku menaruh tanganku di atasnya.

Jari-jarinya menutup. Pelan. Hangat.

“Put,” bisikku, ke jendela.

“Hm.”

“Waktu itu. Lima tahun lalu. Kalau kamu melawan...”

Jarinya mengencang di tanganku. Sedikit. Seperti tersentak.

“Kalau kamu melawan,” ulangku, “aku pasti kalah.”

Dia tidak menjawab.

Mobil berhenti di depan pagar besi hijau. Lampu teras menyala. Di balik kaca nako ruang tengah, siluet ibuku di kursi rotan.

Aku tidak langsung turun. Aku duduk di kursi penumpang dengan tanganku di tangannya, menatap siluet ibuku di jendela.

“Kenapa kamu nggak melawan?” bisikku.

Hening lama.

“Turun, Ly,” katanya. Suaranya serak. “Ibumu nunggu.”

Itu bukan jawaban.

Aku tahu itu bukan jawaban.

Aku turun juga.