Chapter Twenty Eight
Tawaran Singapura
POV: Lyodra
Pak Hadiwinata memanggilku ke ruangannya hari Selasa jam empat sore.
Ruangannya di sudut lantai dua puluh tiga, dengan jendela kaca dari lantai sampai langit-langit yang menghadap ke Kuningan. Rak buku kayu jati berisi kodifikasi undang-undang sejak zaman Belanda. Meja kerja besar yang selalu rapi, tidak ada satu kertas pun yang tidak pada tempatnya. Dan di dinding, satu foto berbingkai: Pak Hadiwinata muda bersalaman dengan seorang hakim agung, tahun delapan puluhan, keduanya dengan kacamata besar dan rambut yang terlalu banyak minyak.
“Duduk, Lyodra.”
Aku duduk. Pak Hadiwinata tidak pernah memanggil associate ke ruangannya kecuali untuk dua hal: memarahi, atau memberi perkara besar. Aku sudah menyusun di kepala daftar kesalahan yang mungkin kulakukan bulan ini. Draf memori banding yang terlambat dua hari. Konsep somasi yang typo di nama tergugat.
“Kamu tahu kita buka kantor di Singapura tahun depan,” katanya.
“Tahu, Pak.”
“Kantor kecil. Fokus ke arbitrase internasional dan sengketa lintas batas. Klien-klien kita yang punya bisnis di Asia Tenggara makin banyak. Mereka butuh orang yang ngerti hukum Indonesia, hukum internasional, dan bisa bicara dengan klien asing tanpa kelihatan seperti anak magang.”
Aku menunggu.
“Partner yang pegang kantor itu Pak Wirawan. Kamu kenal. Dia minta satu associate senior dari Jakarta untuk ikut. Dua tahun pertama. Setelah itu, kalau kinerjanya baik, dia direkomendasikan untuk jalur partner.” Pak Hadiwinata melipat tangan di atas meja. “Dia minta kamu.”
Aku tidak bergerak.
“Saya?”
“Kamu lulusan Leiden. Hukum internasional. Kamu menangani perkara koperasi itu dengan sangat baik. Hakim Rosalina menyebut namamu di forum hakim bulan lalu, kata Pak Gunadi, dan Pak Gunadi itu musuhmu di sidang, jadi kalau dia yang cerita, berarti itu benar.” Pak Hadiwinata tersenyum tipis. Senyum yang jarang. “Kamu dua puluh delapan. Kalau kamu ambil ini, kamu bisa jadi partner sebelum tiga puluh lima. Tidak banyak perempuan di firma Jakarta yang bisa begitu.”
Jalur partner.
Dua kata yang sudah kugambar dalam diagram alir rencana lima tahunku sejak semester tiga kuliah. Dua kata yang membuatku mendaftar ke Leiden. Dua kata yang membuatku lembur sampai jam sepuluh malam dan minum tiga gelas kopi kantin pengadilan dengan perut kosong.
“Berangkat kapan, Pak?”
“Juli.”
Juli.
Dua bulan setelah Mei.
“Saya tidak minta jawaban sekarang,” kata Pak Hadiwinata. Dia menyodorkan amplop putih tebal dengan kop surat firma. “Ini penawaran resminya. Paket kompensasi, tunjangan tempat tinggal, rinciannya. Baca. Pikirkan. Saya butuh jawaban akhir April.”
Aku mengambil amplop itu.
Beratnya sama dengan amplop dari Leiden. Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan itu.
Malam itu hari Kamis.
Tidak. Malam itu hari Selasa. Tapi Ibu memasak sayur asem.
Itu pertama kalinya dalam lima belas tahun Ibu memasak sayur asem di hari selain Kamis. Aku berhenti di ambang pintu dapur, tas kerja masih di bahu, dan menatap panci di atas kompor.
“Kok sayur asem, Bu? Ini Selasa.”
“Ibu pengin,” kata Ibu. Dia tidak menoleh. “Duduk. Makan.”
Kami makan. Tempe goreng. Ikan asin jambal. Sambal terasi. Seperti setiap Kamis.
Aku menaruh amplop putih itu di sebelah piringku. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku lupa menyimpannya di tas. Mungkin karena aku ingin Ibu melihatnya.
Ibu melihatnya. Dia melihat kop surat firma di sudut kiri atas. Dia melihat tulisan kecil di bawah alamat penerima: Penawaran Penempatan — Kantor Singapura.
Dia berhenti menyendok.
“Apa itu?”
Aku menceritakannya. Pelan. Semuanya. Kantor Singapura. Pak Wirawan. Dua tahun. Jalur partner. Juli.
Ibu tidak menyela sekali pun. Dia mendengarkan dengan sendok di tangan, menatap amplop itu seperti menatap sesuatu yang dia kenal dari tempat lain.
Waktu aku selesai, dia meletakkan sendoknya.
“Kamu ambil,” katanya.
Bukan pertanyaan.
“Bu, aku belum...”
“Kamu ambil, Ly.” Suara Ibu tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang belum pernah kudengar. Sesuatu yang hidup. Sesuatu yang mendesak. “Partner sebelum tiga puluh lima. Kamu tahu berapa perempuan yang bisa begitu? Kamu tahu berapa perempuan yang dapat kesempatan kayak gini dan nggak ambil karena...”
Dia berhenti.
“Karena apa, Bu?”
Ibu menatapku. Matanya, yang biasanya selalu menatap ke dalam, tiba-tiba menatap ke luar. Ke aku. Lurus.
“Karena laki-laki,” katanya.
Hening.
Jam dinding berdetak. Kucing kampung mengeong di atap seng.
“Pergi, Ly,” kata Ibu. Pelan. “Jangan kayak Ibu.”
Aku menatapnya. “Kayak Ibu gimana?”
Ibu tidak menjawab. Dia berdiri, mengambil piringnya yang masih setengah penuh, dan membawanya ke dapur. Aku mendengar bunyi air keran.
Aku duduk sendirian di meja makan. Menatap amplop putih itu. Menatap sayur asem di hari Selasa.
Jangan kayak Ibu.
Ibu tidak pernah bicara soal masa lalunya. Soal sebelum aku lahir, soal sebelum ayah pergi. Aku tahu potongan-potongan kecil. Aksen bahasa Inggrisnya yang terlalu rapi. Kotak sepatu tua di pangkuannya jam dua pagi, berisi kertas-kertas dengan cap stempel biru dan satu amplop panjang berwarna krem dengan tulisan bahasa asing di kopnya. Kalimat soal Januari di Leiden yang dingin, yang tidak mungkin dia tahu.
Aku tidak pernah menyusun potongan-potongan itu jadi satu gambar.
Malam ini, untuk sedetik, aku hampir melihat bentuknya.
Lalu bunyi air keran berhenti, dan Ibu kembali dari dapur, dan wajahnya sudah kembali seperti biasa. Datar. Seperti membaca berita buruk.
“Kamu mau Ibu bantu packing?” tanyanya. “Juli masih lama, tapi barangmu banyak.”
Ibu tidak pernah menawarkan bantuan untuk apa pun.
“Aku belum mutusin, Bu.”
“Kamu sudah mutusin,” kata Ibu. “Kamu cuma belum tahu.”
Dia masuk ke kamarnya.
Malam itu, jam dua pagi, aku tidak mendengar pintu kamarnya terbuka. Aku tidak mendengar kursi rotan ditarik di ruang tengah.
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, Ibu tidur sampai pagi.
Aku berbaring di kamarku, mendengarkan rumah yang sunyi. Tidak ada pintu yang terbuka. Tidak ada langkah kaki pelan. Tidak ada kursi rotan.
Seharusnya aku lega. Seharusnya aku bahagia, karena ibuku akhirnya tidur.
Tapi ada sesuatu yang dingin di perutku. Seperti seseorang baru saja menyelesaikan kalimat yang sudah lima belas tahun menggantung, dan kalimat itu bukan tentang aku. Kalimat itu tentang dia.
Dan aku belum tahu apa isinya.
Rabu pagi, aku duduk di ruanganku di lantai dua puluh tiga dengan amplop putih di atas meja dan ponsel di tangan.
Chat dengan Putra terbuka.
Pesan terakhirnya jam tujuh pagi: Sidangmu jam sepuluh. Sarapan dulu. Jangan kopi kantin.
Aku mengetik.
Put, ada yang mau aku omongin.
Aku menatap kalimat itu.
Pasal delapan. Tidak ada keputusan besar yang diambil sepihak. Semua keputusan besar harus diperdebatkan terlebih dahulu sampai kedua pihak sepakat. Aku yang menulisnya. Dengan tekanan pena sampai serbetnya hampir robek. Aku yang bilang, lima tahun lalu kita nggak punya pasal ini, lihat hasilnya.
Aku harus memberitahunya. Hari ini. Sekarang.
Tapi kalau aku memberitahunya sekarang, dia akan bertanya apa yang kumau. Dan aku belum tahu apa yang kumau. Aku belum menyusun argumenku. Aku belum menimbang poin-poinnya. Aku belum tahu apakah aku ingin pergi atau tinggal, dan kalau aku datang ke meja debat tanpa tahu posisiku sendiri, aku akan kalah.
Atau lebih buruk.
Dia akan bilang sesuatu seperti Singapura itu kota bagus. Dengan nada datar. Seperti membaca hasil analisis.
Aku menghapus kalimat itu.
Aku akan memberitahunya nanti. Setelah aku menyusun argumenku. Setelah aku tahu posisiku. Setelah aku punya empat poin yang terstruktur dan bukti yang kuat. Satu minggu. Dua minggu paling lama. Lalu aku akan datang ke warung kopi Bu Romlah dengan buku catatan kulit cokelat, dan kami akan berdebat dengan benar, sesuai pasal delapan.
Itu bukan melanggar pasal delapan. Itu cuma menunda pelaksanaannya.
Advokat dalam diriku tahu itu argumen yang lemah. Advokat dalam diriku menandainya dengan stabilo merah.
Aku menutup stabilo itu.
Aku membuka laci meja kerjaku. Laci kanan atas. Tisu basah, permen jahe, lipstik cadangan, minyak angin.
Di pojok belakang, sapu tangan biru tua yang membungkus sesuatu berbentuk persegi panjang dengan dua lingkaran.
Aku memasukkan amplop putih itu ke dalam laci. Di sebelah sapu tangan biru tua.
Dua hal yang tidak pernah kuceritakan pada Putra. Berdampingan di laci yang sama.
Aku menutup laci itu dan pergi ke sidang jam sepuluh.
Aku tidak sarapan. Aku minum kopi kantin.
Kamis siang, Pak Udin menelepon dari pos satpam lantai dasar.
“Mbak Lyodra. Ada Mas yang dulu itu. Yang bawa bubur malam-malam. Sekarang bawa rantang.”
“Rantang?”
“Rantang susun tiga, Mbak. Warna hijau. Kayak punya ibu saya.”
Aku turun ke lobi. Putra berdiri di dekat meja resepsionis dengan kemeja biru muda dan rantang susun tiga berwarna hijau tua di tangan. Rantang yang jelas-jelas milik Bu Wening.
“Ibuku masak kebanyakan,” katanya. “Sayur lodeh, tempe bacem, ayam goreng. Dia suruh aku antar ke kamu. Dia bilang kamu kurus.”
“Aku nggak kurus.”
“Ibuku guru SD. Dia lihat semua anak kurus.”
Di belakangku, pintu lift terbuka dan Dita keluar dengan dua associate lain. Mereka bertiga berhenti. Menatap rantang hijau. Menatap Putra. Menatapku.
“Mbak Lyodra,” kata Dita pelan, dengan senyum yang terlalu lebar. “Itu... Pak Saksi Ahli?”
“Ini urusan pribadi, Dit.”
“Saya nggak tanya apa-apa, Mbak.”
“Kamu senyum.”
“Saya selalu senyum, Mbak. Itu bawaan lahir.”
Mereka bertiga pergi ke arah kantin dengan bahu berguncang.
Kami makan di bangku taman kecil di samping gedung, di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai menguning. Sayur lodeh Bu Wening luar biasa. Tempe bacemnya manis dan legit. Putra makan dengan cara biasanya, per lapisan, dan aku tidak mengomentarinya sekali pun, dan dia menyadarinya.
“Kamu nggak protes soal cara makanku,” katanya.
“Aku capek protes.”
“Kamu nggak pernah capek protes.”
Aku menatap rantang hijau di pangkuanku. Amplop putih ada di laci di lantai dua puluh tiga, empat puluh meter di atas kepala kami.
Sekarang, Ly. Bilang sekarang.
“Put.”
“Hm.”
Aku membuka mulut.
Ponselnya berdering. Kaprodi. Rapat dadakan jam dua. Dia harus kembali ke kampus sekarang.
Dia membereskan rantang dengan cepat, menyisakan susun paling atas untukku, berisi pisang goreng. Dia berdiri. Lalu berhenti.
“Tadi kamu mau bilang apa?”
Aku menatapnya. Di bawah pohon ketapang. Dengan rantang hijau milik ibunya di tangan.
“Bilang makasih ke ibumu,” kataku.
Dia mengangguk dan pergi.
Aku duduk sendirian di bangku taman dengan pisang goreng dan merasa seperti saksi yang baru saja melewatkan kesempatan terakhir untuk mengubah keterangannya.
Sabtu malam di Remah, aku tidak mendengar setengah dari apa yang dibicarakan.
Sabrina membahas daftar lagu untuk resepsi. Erwin protes karena Sabrina mencoret lagu dangdut kesukaannya. Alea mengusulkan pengaturan meja kue pengantin. Putra menyusun ulang jadwal hari H di spreadsheet dengan alokasi waktu per lima menit, mengikuti format Mbak Tiara.
Aku duduk di sebelahnya. Tangannya di tanganku di atas meja, karena sekarang kami boleh, karena sidang circle sudah memutuskan. Dan aku menatap papan skor di dinding.
Empat ratus tiga belas sama.
“Ly.”
Aku menoleh. Putra menatapku.
“Kamu dipanggil tiga kali,” katanya.
“Oh. Maaf. Apa?”
“Sabrina tanya kamu setuju lagu pembuka A Thousand Years atau nggak.”
“Setuju.”
Semua orang menatapku.
“Kamu setuju?” kata Sabrina pelan. “Kamu bilang lagu itu klise. Kamu bilang kalau aku pakai lagu itu, kamu bakal keluar dari gedung.”
“Aku berubah pikiran.”
“Kamu nggak pernah berubah pikiran soal lagu.”
“Sekarang berubah.”
Alea menulis di buku pinknya. Putra tidak menulis apa-apa. Dia cuma menatapku dengan mata cokelat tua di balik kacamata, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Jarinya mengetuk punggung tanganku. Dua kali.
Aku membalas.
Terlambat setengah detik.
Dia menyadarinya. Aku melihatnya menyadarinya. Setengah detik itu terdaftar di suatu tempat di kepalanya yang rapi dan berlabel, di folder yang sama dengan semua data yang dia simpan selama empat ribu lima ratus dua puluh tiga hari.
Dia tidak bertanya.
Dan aku tidak bilang apa-apa.
Malamnya, di grup Saksi Mata 👁️, yang sekarang sudah dibuka untuk lima anggota sejak sidang circle, Alea mengirim pesan.
Alea: Hakim mencatat: Lyodra hari ini setuju lagu A Thousand Years.
Alea: Hakim juga mencatat: Lyodra membalas ketukan dengan delay 0,5 detik.
Alea: Ada yang tahu kenapa?
Erwin: Mungkin capek. Dia sidang tiga kali minggu ini.
Sabrina: ly kamu baik-baik aja?
Aku menatap layar.
Lyodra: Baik. Cuma capek.
Aku membaca pesan itu sendiri.
Intonasinya naik di kata terakhir. Bahkan dalam tulisan.
Di bawahnya, satu pesan dari Putra.
Putra: Tidur, Ly.
Cuma itu. Tidak ada data? Tidak ada pertanyaan.
Dia tidak bertanya.
Aku seharusnya merasa lega.
Aku memeluk bantal dan menatap retakan di plafon. Tujuh belas. Dan untuk pertama kalinya sejak warung kopi Bu Romlah, aku tidak bisa tidur bukan karena dinding tipis, bukan karena Ibu di ruang tengah.
Ibu tidur nyenyak malam ini.
Aku yang tidak.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura reading
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru