Chapter Forty
Satu Tim
POV: Putra
Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3, jam sembilan malam, bulan Juni.
Sabrina berangkat ke Milan dengan dua koper besar, satu ransel, satu tas jinjing berisi tiga belas lipstik, dan seorang suami yang sudah menangis sejak di parkiran.
“Aku nggak nangis,” kata Erwin. Dia memakai kacamata hitam di dalam terminal bandara jam sembilan malam. “Ini alergi. Bandara ini pakai pengharum ruangan aroma krisan.”
“Bandara ini nggak pakai pengharum krisan, Win,” kata Alea.
“Kamu nggak tahu. Kamu nggak pernah ke Terminal 3.”
“Aku ke Terminal 3 bulan lalu. Antar Mas Bayu jemput tantenya dari Jeddah.”
Kami semua menoleh ke Alea. Alea menunduk ke ponselnya dengan pipi merah.
“Dia ngajak kamu jemput tantenya?” tanya Lyodra. “Kalian baru makan malam sekali.”
“Tiga kali,” kata Alea. “Hakim tidak wajib melaporkan jadwal pribadinya.”
Sabrina tertawa di tengah tangisnya. Dia memeluk Alea. Lalu memeluk Lyodra lama sekali, sampai petugas bandara melirik ke arah kami karena antrean di belakang mulai panjang. Lalu dia memelukku. Singkat. Erat.
“Put,” bisiknya di bahuku. “Jaga dia.”
“Dia bisa jaga dirinya sendiri.”
“Aku tahu. Makanya aku minta kamu jaga dia. Bukan dari bahaya. Dari dirinya sendiri. Kalau dia mulai nyerang duluan lagi.”
“Oke.”
“Jangan bilang oke.”
“Aku janji.”
Sabrina melepas pelukan dan menatapku dengan mata merah dan maskara tahan air yang sudah menyerah sepenuhnya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tas jinjingnya. Bingkai foto. Kayu sederhana, cokelat tua. Dia menyerahkannya pada Lyodra.
Di dalamnya, foto siluet di pantai Anyer. Dua jari kelingking yang mengait di depan matahari terbenam.
“Buat Remah,” kata Sabrina. “Tempelin di sebelah papan. Arsip circle. Biar setiap kali aku video call dari Milan, aku lihat.”
Lyodra menatap foto itu lama. Lalu memeluk bingkai itu di dada.
Erwin mengantar Sabrina sampai pintu pemeriksaan imigrasi. Kami bertiga berdiri di belakang garis kuning dan melihat mereka berpelukan di depan pintu kaca. Lama. Petugas imigrasi berdeham dua kali.
Lalu Sabrina melangkah masuk. Menoleh sekali. Melambai.
Pintu kaca menutup.
Erwin berdiri di depan pintu kaca itu dengan kacamata hitam dan bahu yang berguncang.
Aku berjalan ke sampingnya. Berdiri di sebelahnya. Tidak bilang apa-apa.
Lima tahun lalu dia berdiri di samping mobilku lima belas menit dan tidak mengetuk lagi.
Malam ini aku berdiri di sampingnya sampai dia selesai.
“Dua tahun,” katanya akhirnya, dengan suara serak. “Tujuh ratus tiga puluh hari. Aku bikin spreadsheet hitung mundur. Ada conditional formatting-nya. Hijau ke merah.”
“Kebalik,” kataku. “Harusnya merah ke hijau. Makin dekat, makin bagus.”
Erwin melepas kacamata hitamnya. Matanya bengkak. Dia menatapku.
“Kamu benar,” katanya. “Aku ganti nanti.”
“Aku bantuin.”
Jam sebelas malam, kami kembali ke Remah. Berdua. Alea pulang duluan, katanya ada telepon penting dari seseorang yang jemput tante dari Jeddah, dan dia naik ke lantai tiga dengan langkah yang terlalu cepat.
Erwin pulang ke rumahnya. Rumah baru di Pondok Labu yang dia beli dengan Sabrina, yang sekarang kosong. Dia bilang dia mau tidur di sofa malam ini. Dia bilang kasurnya terlalu besar.
Lantai dua Remah sunyi.
Lampu-lampu neon. Meja panjang. Kursi-kursi plastik merah. Sofa satu-satunya. Dan di dinding, papan tulis kekuningan yang sudah kembali dari Bogor.
TIM: 1
Lyodra berdiri di depan papan itu. Dia memaku bingkai foto siluet dari Sabrina di dinding sebelahnya. Satu paku. Tepat di tengah. Lalu mundur dua langkah dan menatap keduanya. Papan dan foto. Berdampingan.
Aku duduk di kursi plastik merah di depan meja panjang.
“Ly.”
Dia menoleh.
“Kita harus bicara,” kataku. “Kita janji. Habis nikahan Sabrina.”
Dia diam sebentar. Lalu mengangguk. Berjalan ke meja. Duduk di kursi di seberangku.
Lalu dia membuka tas kanvasnya dan mengeluarkan sesuatu. Menaruhnya di atas meja di antara kami.
Sapu tangan biru tua. Kusam. Terlipat rapi.
Dia membukanya. Pelan.
Kacamata berbingkai hitam. Lensanya bersih. Dia membersihkannya sebelum datang ke sini. Gagangnya dilipat rapi.
Aku menatap kacamata itu.
Lima tahun.
“Aku nemu ini di tasku,” kata Lyodra. “Di bandara Schiphol. Waktu cari paspor. Kantong dalam ransel abu-abu.” Dia menatapku. “Lima tahun aku nggak tahu kenapa ini ada di sana. Aku pikir ketinggalan. Aku pikir kebetulan. Aku pikir terselip di antara buku-buku waktu kita di perpustakaan.”
Aku tidak menjawab.
“Aku simpan lima tahun,” katanya. “Di Leiden, di laci meja asrama. Di Jakarta, di laci kantor. Aku nggak pernah pakai. Kecuali...”
Dia berhenti.
“Kecuali?”
Dia menunduk ke kacamata itu.
“Januari,” katanya. “Di Leiden. Kanalnya beku. Semua orang sepedaan di atas es. Aku nggak punya teman. Aku sendirian di jembatan di dekat perpustakaan universitas. Dingin banget. Jari-jariku mati rasa.” Dia menarik napas. “Aku pakai kacamata ini. Sekali. Di jembatan itu. Dan semuanya jadi kabur. Kanalnya, sepedanya, orang-orangnya, lampu-lampunya. Semua jadi bentuk dan warna.”
Matanya basah.
“Dan aku nangis,” katanya. “Karena aku pikir, begini rasanya lihat dunia dari matanya. Kabur. Nggak pasti. Dan dia nggak pernah ngeluh.”
Aku menatapnya.
“Kamu yang masukin?” tanyanya. Pelan. “Ke tasku?”
Aku membetulkan kacamata yang kupakai. Satu kali.
“Malam perpisahan di toko roti,” kataku. “Lima belas menit. Aku datang, aku nggak ngomong sama kamu. Ranselmu di kursi. Kantong dalamnya terbuka. Semua orang lagi foto di depan.”
Dia menunggu.
“Aku nggak bisa ikut,” kataku. “Tapi aku mau ada sesuatu dari aku yang bisa lihat Leiden. Biar kalau kamu salah lihat sesuatu di sana, ada lensa yang bisa kamu pinjam.” Aku menatap kacamata di atas sapu tangan biru tua. “Itu bodoh. Kamu nggak minus. Kamu nggak butuh lensa minus empat.”
“Aku butuh,” kata Lyodra.
Dia menatapku.
“Di jembatan itu,” katanya, “aku butuh.”
Hening.
Lalu dia menutup kacamata itu dengan sapu tangan biru tua lagi. Melipatnya. Mendorongnya ke seberang meja. Ke arahku.
“Ini punyamu,” katanya.
Aku tidak mengambilnya.
Aku membuka tas kerjaku. Mengeluarkan buku teks statistik matematika setebal tujuh ratus halaman. Menaruhnya di meja, di sebelah sapu tangan biru tua.
Lyodra menatap buku itu dengan alis berkerut.
Aku membukanya. Halaman empat ratus dua belas.
Mawar itu masih di sana. Kering. Pipih. Cokelat tua. Kelopaknya hampir transparan di bawah lampu neon Remah.
Lyodra berhenti bernapas.
“Itu...”
“Rooftop Fakultas Hukum,” kataku. “Mawar layu dari lampu merah. Yang kamu pegang kayak piala. Yang tertinggal di dasbor mobilku malam itu.”
Dia menyentuh kelopak mawar itu dengan ujung jari. Sangat pelan. Seperti menyentuh sesuatu yang bisa hancur kalau disentuh terlalu keras.
“Halaman empat ratus dua belas,” bisiknya.
“Sama empat ratus tiga belas.”
Dia mengangkat kepala. Menatapku. Mengerti.
“Kamu taruh di antara...” Dia menatap papan tulis di dinding. Yang sekarang bertuliskan TIM: 1. Lalu kembali ke buku. “Kamu taruh di antara skor kita.”
“Aku nggak sengaja. Itu halaman pertama yang kebuka malam itu.” Aku menatap judul bab yang dicetak tebal di atas halaman. Bab 9: Uji Hipotesis dan Kesalahan Tipe II. “Tapi lima tahun aku nggak pernah pindahin.”
Lyodra membaca judul bab itu.
“Kesalahan Tipe Dua,” katanya. “Apa itu?”
“Gagal menolak hipotesis yang salah. Diam waktu seharusnya bicara.”
Dia menatapku lama.
“Kamu taruh mawar kita,” katanya pelan, “di bab tentang kesalahanmu sendiri.”
“Aku baru sadar bulan lalu.”
Dia tertawa. Basah. Lalu menangis. Lalu tertawa lagi.
Lalu aku berdiri.
Dia menatapku dengan alis berkerut. Aku berjalan ke tangga. Turun. Ke dapur Remah, di mana Alea sudah meninggalkan sesuatu di atas meja stainless steel sejak jam delapan tadi, sebelum kami berangkat ke bandara, atas permintaanku. Ditutup tudung saji.
Aku mengangkat tudung saji itu.
Dua mangkuk styrofoam. Bubur ayam dari warung tenda biru Pak Kumis di Matraman. Masih hangat, karena Alea menaruhnya di dalam oven yang dimatikan.
Aku membawa keduanya ke atas.
Lyodra menatap mangkuk-mangkuk itu waktu aku meletakkannya di meja. Satu di depannya. Satu di depanku.
Berlapis rapi. Ayam suwir di atas. Cakwe di tengah. Kerupuk di pinggir. Seperti biasa. Seperti Pak Kumis selalu menyajikannya.
“Bubur,” katanya. “Jam sebelas malam.”
“Matraman.”
“Kamu beli kapan?”
“Alea yang beli. Jam setengah delapan. Aku minta.”
Dia mengambil sendok. Menatap buburnya. Lalu menatapku dengan mata menyipit.
“Kenapa kamu senyum?”
“Aku nggak senyum.”
“Kamu senyum, Put. Pasal empat nggak berlaku di sini.”
Dia menusukkan sendoknya ke bubur. Mulai mengaduk.
Sendoknya membentur sesuatu.
Ting.
Dia berhenti.
Dia menatapku. Aku menatap buburku sendiri, yang belum kusentuh, dengan konsentrasi seorang ahli bom.
Pelan-pelan, dia mengaduk lagi. Mengangkat sendoknya.
Di ujung sendok plastik itu, berlumur kaldu kuning dan sedikit kecap, ada cincin. Emas putih. Polos. Dengan satu berlian kecil yang memantulkan lampu neon Remah seperti bintang yang tercebur ke bubur.
Koh Liong. Cikini. Tiga minggu lalu. Aku pergi sendirian. Dia bilang toko itu sudah menjual cincin tunangan untuk empat generasi keluarga. Dia bilang aku pelanggan pertama yang membawa spreadsheet perbandingan karat dan potongan berlian.
Lyodra menatap cincin itu.
“Kamu,” katanya. Suaranya hampir tidak keluar. “Kamu nyontek Erwin.”
“Iya.”
“Kamu dosen statistik. Kamu nggak pernah nyontek.”
“Data menunjukkan metode ini seratus persen berhasil.”
“Sampelnya satu orang!”
“Sampel kecil,” kataku. “Tapi signifikan.”
Aku berdiri dari kursi.
Aku berjalan memutari meja. Berhenti di sampingnya. Dan, pelan, karena lututku gemetar dan aku tidak mau jatuh seperti Erwin di gladi akad, aku berlutut di lantai kayu lantai dua Remah.
Lyodra menatapku dari kursinya. Cincin di ujung sendok plastik. Bubur di mangkuk. Mata yang sudah sangat basah.
Aku tidak menyiapkan pidato. Aku sudah menyiapkan dua belas versi di spreadsheet, lalu menghapus semuanya tadi pagi. Aku cuma punya satu kalimat. Format yang dia kenal. Format yang membuat kami bertemu di ruang tim debat SMA, kelas sepuluh, hari Rabu jam tiga sore.
“Mosi,” kataku.
Dia menutup mulut dengan tangan.
“Dewan ini,” kataku, “akan menikah dengan Putra Mahardika.”
Hening.
Aku membetulkan kacamata. Satu kali.
“Data?” tanyaku.
Lyodra menatapku. Lama. Dengan mata merah dan pipi basah dan lipstik merah tua yang mulai luntur di sudut bibir. Dengan cincin di ujung sendok plastik dan bubur yang setengah teraduk di depannya.
Lalu dia tersenyum. Senyum miring ke kiri, yang memperlihatkan sedikit gigi taringnya.
Senyum menang.
“Keberatan,” katanya pelan, “ditolak.”
Dia memasangkan cincinnya sendiri. Bukan karena aku tidak mau. Karena tanganku gemetar terlalu keras dan cincinnya jatuh ke dalam mangkuk bubur dua kali. Dia mengambilnya dari mangkuk, mengelapnya dengan tisu, dan memasangkannya di jari manisnya sambil tertawa dan menangis.
Pas. Tentu saja pas. Bulan Maret dia melepas cincin perak tipis dari jari tengahnya dan meninggalkannya di dasbor mobilku. Aku membawanya ke Koh Liong, dan Koh Liong menghitung selisih ukuran jari tengah ke jari manis dengan kacamata pembesar dan tabel yang dia bilang sudah dipakai sejak zaman kakeknya. Aku memeriksa tabelnya. Tabelnya akurat.
Lalu dia turun dari kursi. Berlutut di lantai di depanku. Memegang wajahku dengan dua tangan.
“Data,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Data,” kataku.
Dua belas tahun, kata itu adalah ejekan. Lalu godaan. Lalu pertanyaan yang kutanyakan pada diriku sendiri di dinding kamar kos.
Malam ini, di lantai kayu Remah, kata itu adalah pengakuan. Satu-satunya yang kami butuhkan.
Dia menciumku.
Di ujung tangga, sesuatu bergerak.
Kami berdua menoleh.
Alea berdiri di anak tangga paling atas. Dengan piyama motif kelinci dan ponsel di tangan, layar menyala, kamera aktif. Di belakangnya, di anak tangga yang lebih rendah, Erwin. Dengan kaus oblong dan celana pendek dan mata bengkak. Dia tidak tidur di sofa rumahnya. Dia di sini.
Dan di layar ponsel Alea, dalam panggilan video, wajah Sabrina. Di kursi pesawat. Dengan masker mata di dahi dan earphone di telinga dan air mata yang mengalir deras.
“Aku masih di landasan,” kata Sabrina dari ponsel. Suaranya pecah. “Pesawatnya delay satu jam. Alea video call aku. Aku lihat semuanya. Semuanya. Bubur. Cincin. Mosi.” Dia menangis. “Keberatan ditolak. Ya Allah. Ly. Ya Allah.”
Lyodra menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kalian ngintip,” kataku.
“Kami Saksi Mata,” kata Erwin. “Itu tugas kami.”
“Kamu bilang mau tidur di sofa.”
“Sofaku terlalu kosong, Put.” Erwin tersenyum dengan mata bengkak. “Jadi aku ke sini. Alea bilang ada yang mau kamu lakuin malam ini. Dia bilang kamu minta dia beli bubur. Aku langsung tahu.”
Alea berjalan ke papan tulis. Melewati kami yang masih berlutut di lantai. Mengambil spidol merah.
Di bawah tulisan TIM: 1, dengan huruf kecil yang rapi, dia menulis:
Status: tunangan.
Saksi: Alea Putri (hakim), Erwin Santoso (saksi ahli), Sabrina Gunawan (jaksa, via video call dari landasan Terminal 3).
Catatan hakim: debat terpendek dalam sejarah Remah. Dua kata. Nilai: A plus plus.
Dia menutup spidol. Menoleh pada kami.
“Utangnya lunas,” katanya. “Bunganya juga.”
Jam dua pagi, setelah Erwin pulang dan Alea naik ke lantai tiga dan Sabrina akhirnya terbang ke Milan dengan pesan terakhir di grup, kalian jangan nikah sebelum aku pulang, atau aku cerai sama Erwin sebagai bentuk protes, aku dan Lyodra duduk di anak tangga Remah.
Anak tangga yang dulu berderit. Dia di anak tangga atas. Aku di bawahnya. Kepalanya bersandar di bahuku.
Cincin di jarinya memantulkan lampu kuning tangga.
Di pangkuanku, buku statistik matematika. Tertutup. Mawar di dalamnya. Di halaman empat ratus dua belas dan empat ratus tiga belas.
Di pangkuannya, sapu tangan biru tua. Kacamata cadangan di dalamnya. Dia tidak mau mengembalikannya. Dia bilang itu barang bukti, dan barang bukti harus disimpan.
“Put.”
“Hm.”
“Mangkukmu belum diaduk.”
Aku menatap mangkuk styrofoam di anak tangga di sebelahku. Bubur yang tidak kusentuh. Berlapis rapi. Dingin.
“Iya,” kataku.
“Mau aku aduk?”
Aku menatapnya.
“Kita aduk bareng,” kataku.
Dia mengambil sendoknya. Aku mengambil sendokku. Kami mengaduk bubur dingin di anak tangga Remah jam dua pagi, dua sendok di satu mangkuk, sampai semua lapisan tercampur dan jadi satu warna yang seragam.
Lalu kami memakannya. Bergantian. Satu sendok dia, satu sendok aku.
Bubur itu dingin. Teksturnya lembek. Kerupuknya sudah melempem.
Bubur paling enak yang pernah kumakan.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim reading
- 41 Epilog — Skor Baru