Chapter Fourteen
Lipstik
POV: Putra
Seminar itu sudah dijadwalkan sebulan sebelumnya, sebelum kafe bunga, sebelum saksi cemburu, sebelum aku berjalan keluar dari Kebun Kata dan menyetir keliling Kemang selama satu jam tanpa tujuan.
Judulnya Angka di Ruang Sidang: Statistik sebagai Alat Bukti dalam Perkara Perdata. Kaprodi kami, Pak Sudirman, ingin menghadirkan praktisi hukum sebagai narasumber kedua di samping dosen statistik. Dia bertanya padaku apakah aku kenal advokat yang pernah memakai analisis statistik di persidangan.
Aku menyebut satu nama. Waktu itu rasanya masuk akal. Dia memang pernah. Dia memang yang terbaik yang kukenal. Itu pertimbangan profesional.
Sekarang, seminggu setelah kafe bunga, dengan grup circle yang tiba-tiba sangat sunyi setiap kali namaku dan namanya muncul di layar yang sama, pertimbangan profesional itu terasa seperti keputusan yang dibuat oleh orang yang sangat bodoh.
Aku berdiri di depan auditorium jurusan jam delapan pagi, memeriksa proyektor untuk ketiga kalinya.
“Pak Putra.”
Aku menoleh. Dr. Sasti Prameswari, dosen biostatistik yang bergabung dengan jurusan kami dua tahun lalu setelah selesai doktoral di Melbourne, berjalan ke arahku dengan sepatu hak tinggi yang bunyinya menggema di lorong kosong. Dia memakai blus satin warna krem dan rok hitam yang membuatnya tampak lebih seperti presenter berita daripada dosen. Rambutnya disanggul rapi. Wanginya bunga, kuat, manis.
“Bu Sasti.”
“Sasti aja. Kita kan seumuran.” Dia berhenti di depanku. Terlalu dekat. Lalu, tanpa izin, tangannya naik ke kerah kemejaku. “Kerahnya kelipat, Pak. Masa moderator seminar kerahnya kelipat.”
Dia merapikan kerahku dengan dua tangan. Pelan. Lebih lama dari yang diperlukan untuk merapikan satu kerah.
“Terima kasih,” kataku, mundur satu langkah.
“Nanti makan siang bareng ya, Pak? Ada warung soto baru di belakang gedung rektorat. Katanya enak.”
“Saya lihat nanti, Bu.”
“Sasti.”
“Saya lihat nanti.”
Dia tersenyum. Senyum yang sudah dia pakai untuk beberapa dosen laki-laki lajang di jurusan ini sejak dia datang, dengan tingkat keberhasilan yang, menurut gosip di ruang dosen, cukup tinggi. Lalu dia berbalik dan masuk ke auditorium.
Aku berbalik ke proyektor.
Dan melihat Lyodra berdiri di ujung lorong.
Dia memakai gaun hitam selutut yang pas di badan, dengan potongan sederhana dan lengan sampai siku. Blazer abu-abu di lengannya. Rambutnya diikat rendah di tengkuk. Lipstik merah tua.
Dia sudah berdiri di sana berapa lama?
Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Dia berjalan ke arahku dengan langkah profesional, sepatu hak pendeknya berbunyi teratur di lantai.
“Pagi, Pak Moderator,” katanya.
“Pagi, Bu Narasumber.”
Dia melewatiku tanpa berhenti dan masuk ke auditorium.
Dua langkah setelah melewatiku, dia membuka tasnya, mengeluarkan lipstik, dan memakainya ulang sambil berjalan. Satu sapuan atas. Satu sapuan bawah.
Satu kali.
Aku mencatatnya.
Erwin dan Alea datang jam sembilan kurang sepuluh, duduk di barisan ketiga, di antara mahasiswa semester lima yang wajib hadir untuk mendapat poin keaktifan.
“Kenapa kalian di sini?” bisikku waktu lewat di samping kursi mereka.
“Dukung Lyodra,” kata Alea, memegang spanduk kecil dari kertas karton bertuliskan GO LYODRA dengan huruf-huruf glitter.
“Ini seminar akademik, Al. Bukan konser.”
“Aku libur jaga,” kata Erwin. “Dan Sabrina bilang kalau aku nggak dateng, aku nggak boleh pilih menu katering.”
“Kamu memang nggak boleh pilih menu katering.”
“Makanya aku dateng. Buat negosiasi.”
Seminar dimulai. Aku membuka sebagai moderator, memperkenalkan kedua narasumber. Dr. Sasti duluan, karena dia dosen senior di bidang yang relevan. Lalu Lyodra.
“Lyodra Kirana, S.H., LL.M., associate di firma hukum Hadiwinata dan Rekan. Lulusan Universitas Leiden. Spesialis litigasi perdata.”
Aku membaca dari kertas. Aku tidak menatap dia waktu membaca. Tapi aku tahu namanya terdengar berbeda di mulutku dibanding nama Dr. Sasti. Aku bisa mendengarnya sendiri. Sedikit lebih pelan. Sedikit lebih hati-hati. Seperti seseorang yang memegang barang pecah belah.
Di barisan ketiga, Erwin menyikut Alea.
Dr. Sasti presentasi selama tiga puluh menit tentang kesalahan umum dalam interpretasi statistik di ruang sidang. Presentasinya bagus. Profesional. Dia menyebut namaku dua kali sebagai contoh, seperti yang sering didiskusikan Pak Putra di rapat jurusan, dan setiap kali dia menyebut namaku, dia menoleh ke kursi moderator dan tersenyum.
Lyodra duduk di kursi narasumber di sebelah podium. Kakinya menyilang. Tangannya di pangkuan. Wajahnya tenang.
Di menit ke dua puluh, dia mengeluarkan cermin kecil dan lipstik dari tas. Memakainya ulang. Diam-diam, menunduk, cepat.
Dua kali.
Aku mencatatnya.
Lipstiknya tidak pudar. Aku duduk tiga meter darinya. Aku bisa melihat warna merah tua itu dari sini, masih utuh di bibirnya, tidak ada yang hilang.
Dia memakainya ulang bukan karena pudar.
Aku tahu kebiasaan itu. Aku sudah memperhatikannya selama dua belas tahun. Lyodra memakai ulang lipstik ketika dia butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangannya supaya tangannya tidak melakukan hal lain. Ketika dia marah dan tidak bisa berteriak. Ketika dia gugup sebelum sidang. Ketika dia...
Ketika dia cemburu.
Aku tidak menyimpulkan. Satu observasi bukan kesimpulan. Dua observasi juga bukan. Aku dosen statistik. Aku tahu itu.
Tapi aku mencatatnya.
Lalu giliran Lyodra.
Dia berdiri, berjalan ke podium, dan seluruh auditorium berubah.
Aku sudah pernah melihatnya berbicara di depan orang banyak. Di lomba debat SMA. Di ruang sidang PN Jakarta Selatan. Tapi aku belum pernah melihatnya berbicara di ruangan ini, di jurusanku, di depan mahasiswaku, di tempat aku menghabiskan delapan jam sehari setiap hari.
Dia bercerita tentang perkara koperasi. Tentang petani di Garut dan Tasikmalaya yang ditolak pinjaman oleh algoritme yang tidak pernah mengenal mereka. Tentang bagaimana satu pertanyaan soal sampel bisa mengubah nasib ratusan keluarga. Dia tidak menyebut namaku, tapi dia menyebut saksi ahli pihak lawan yang menjawab dengan jujur, dan kejujuran itulah yang membuat kebenaran bisa ditemukan.
Mahasiswaku, yang biasanya berkedip enam kali per menit dengan durasi tiga detik, duduk tegak. Kevin, di barisan tengah dengan hoodie yang sama, mencatat. Kevin tidak pernah mencatat di kelasku.
Aku duduk di kursi moderator dan menatapnya.
Aku tidak bisa berhenti menatapnya.
Dia berjalan dari satu sisi podium ke sisi lain waktu menjelaskan. Gaun hitam itu mengikuti gerak tubuhnya. Di pinggangnya ada sabuk tipis berwarna merah tua, sewarna lipstiknya. Waktu dia berbalik untuk menunjuk layar proyektor, cahaya lampu panggung jatuh di garis pinggangnya yang...
Aku menatap pinggangnya.
Aku sadar aku sedang menatap pinggangnya.
Aku menatap layar proyektor.
Terlambat. Di barisan ketiga, Alea menutup mulut dengan spanduk GO LYODRA. Erwin menatapku dengan alis terangkat sampai hampir menyentuh garis rambut.
Lyodra tidak melihat. Dia sedang berbicara ke arah mahasiswa.
Atau kupikir dia tidak melihat.
Sesi tanya jawab. Kevin mengangkat tangan duluan.
“Bu Lyodra, saya mau tanya. Kalau dua orang di pengadilan, kuasa hukum sama saksi ahli, ternyata saling kenal, terus pura-pura nggak kenal di depan hakim, itu ada pasalnya nggak, Bu?”
Auditorium tertawa. Beberapa mahasiswa menoleh ke kursi moderator.
Lyodra tersenyum. Senyum profesional yang sempurna. “Pertanyaan yang bagus. Kalau ada hubungan yang memengaruhi independensi saksi, itu harus diungkapkan. Kalau cuma teman SMA, itu bukan konflik kepentingan.”
“Kalau lebih dari teman SMA, Bu?”
Tawa di auditorium makin keras.
“Kevin,” kataku dari kursi moderator. “Pertanyaanmu keluar dari topik.”
“Maaf, Pak. Saya cuma penasaran, Pak. Akademis.”
Lyodra menatap Kevin. Lalu, cuma sepersekian detik, matanya bergeser ke kursi moderator.
“Kalau lebih dari teman SMA,” katanya, “saksinya harus mengaku. Di bawah sumpah.”
Auditorium hening sebentar. Lalu tertawa lagi, lebih keras, karena mereka mengira itu lelucon.
Aku membetulkan kacamata.
Rehat kopi di lobi auditorium. Ada meja panjang dengan kue-kue kecil dan termos teh dan kopi. Mahasiswa berkerumun di sekitar meja. Dr. Sasti berdiri di dekatku dengan cangkir kopi, bicara soal sesuatu yang tidak kudengar.
“...jadi gimana, Pak? Soto?”
“Maaf?”
“Soto. Makan siang. Di belakang rektorat.”
“Oh. Saya...”
Lyodra muncul di sampingku. Dari mana, aku tidak tahu. Seperti dia muncul dari udara.
“Pak Moderator,” katanya. Suaranya manis. Terlalu manis. Suara yang dia pakai untuk Bu Ningsih, untuk Pak Udin, untuk hakim yang tidak menyukainya. “Boleh pinjam waktu sebentar? Ada yang mau saya klarifikasi soal sesi tanya jawab tadi.”
Dr. Sasti menatap Lyodra. Lyodra menatap Dr. Sasti. Senyum kedua perempuan itu sama lebarnya dan sama-sama tidak sampai ke mata.
“Silakan, Bu Lyodra,” kata Dr. Sasti. “Pak Putra, nanti kabari soal soto ya.”
Dia pergi.
Lyodra menarikku dua langkah ke samping, ke dekat jendela lobi, di samping meja kue, tempat Erwin dan Alea kebetulan sedang berdiri dengan piring kecil berisi kue lapis. Kebetulan sekali.
Dia berdiri di depanku. Menatapku. Lalu, dengan nada resmi, dengan postur sidang, dengan tangan kanan sedikit terangkat seperti sedang menunjuk saksi:
“Saudara Putra Mahardika. Saya tuduh Saudara menatap pinggang klien saya selama empat detik di sesi presentasi tadi.”
Erwin, yang sedang menggigit kue lapis, berhenti mengunyah.
Aku menatapnya. Dia menatapku. Senyumnya miring. Matanya menyala, berbahaya, menantang. Itu Lyodra yang menyerang duluan. Lyodra yang selalu menyerang duluan.
Dan aku, karena aku tidak pernah membiarkan dia memenangkan apa pun dengan data yang salah, menjawab:
“Tiga.”
Hening.
Satu detik.
Lalu senyum Lyodra melebar perlahan. Dari miring jadi lebar. Dari lebar jadi sesuatu yang terlalu cerah, terlalu menang.
“Jadi Saudara mengaku,” katanya.
“Aku mengoreksi data. Bukan mengaku.”
“Di pengadilan,” katanya, mencondongkan badan sedikit, suaranya turun jadi bisikan yang cuma untukku tapi cukup keras untuk terdengar oleh dua orang di sebelah meja kue, “itu namanya mengaku, Sayang.”
Sayang.
Kata itu jatuh di antara kami seperti gelas yang lepas dari tangan.
Dia membeku. Aku melihatnya membeku. Senyumnya masih di bibirnya, tapi matanya melebar, dan aku bisa melihat kesadaran menghantamnya dari dalam, seperti seseorang yang baru sadar dia sudah melangkah keluar dari tebing.
Sayang.
Dulu dia memanggilku begitu. Di meja nomor tiga puluh tujuh. Di mobil di depan pagar besi hijau. Di rooftop. Pelan, setengah mengejek, setengah serius. Sayang, kamu salah lagi soal bubur. Sayang, kacamatamu miring. Sayang, data?
Lima tahun aku tidak mendengar kata itu keluar dari mulutnya.
Di samping kami, Erwin menjatuhkan sendok kecil dari piring kuenya.
Ting.
Sendok itu memantul di lantai keramik lobi, sekali, dua kali, lalu berputar dan berhenti di dekat sepatu Lyodra.
Tidak ada yang mengambilnya.
Alea berdiri sangat diam dengan piring kue lapis di tangan, mulutnya terbuka sedikit. Erwin menatap sendoknya di lantai seperti sendok itu baru saja mengucapkan sesuatu yang sangat penting.
Lyodra mundur satu langkah.
“Itu,” katanya. Suaranya sudah tidak resmi lagi. Sudah tidak manis. Sudah tidak apa-apa. “Itu kebiasaan. Di kantor. Partnerku manggil semua orang sayang. Aku ketularan.”
“Pak Hadiwinata manggil semua orang sayang?” tanya Alea pelan.
“...Iya.”
“Pak Hadiwinata yang umurnya enam puluh dua tahun dan pernah somasi tetangganya karena pohon mangga?”
“Iya, Al.”
Diam.
Lyodra membuka tasnya. Mengeluarkan lipstik. Memakainya ulang. Tangannya gemetar sedikit, cukup sampai sapuan bawahnya keluar garis setengah milimeter.
Tiga kali.
Aku mencatatnya.
“Aku ke toilet,” katanya, dan dia pergi dengan langkah cepat, sepatu hak pendeknya berbunyi seperti hitungan mundur di lantai lobi.
Kami bertiga berdiri di dekat jendela lobi tanpa bicara.
Erwin membungkuk, mengambil sendok kecil dari lantai, mengelapnya dengan tisu, dan menaruhnya kembali di piringnya. Gerakannya pelan. Sangat pelan. Seperti dokter yang menaruh alat bedah setelah operasi yang berjalan tidak sesuai rencana.
“Put,” katanya.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Jangan ngomong apa-apa.”
Erwin menatapku lama. Lalu dia mengangguk. Satu kali.
“Oke,” katanya. “Aku nggak ngomong apa-apa.” Dia menggigit kue lapisnya. Mengunyah. Menelan. “Tapi tolong kamu catat, aku sudah nggak ngomong apa-apa selama...” Dia berhenti. Menatap kue lapisnya. “...lama.”
“Selama apa?”
Erwin tidak menjawab. Dia cuma tersenyum, senyum yang lebih tua dari biasanya, dan berjalan ke meja kue untuk mengambil kue lagi.
Alea menatapku. Matanya bulat dan cerah dan sangat, sangat tahu.
“Kamu mau soto sama Bu Sasti?” tanyanya.
“Nggak.”
“Kenapa?”
Aku menatap pintu toilet perempuan di ujung lorong. Masih tertutup.
“Aku sudah ada janji,” kataku.
“Sama siapa?”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke pintu toilet perempuan, berdiri di dinding seberangnya, dan menunggu.
Lima menit kemudian, pintu terbuka. Lyodra keluar. Lipstiknya sudah rapi. Wajahnya sudah kembali seperti batu. Dia berhenti waktu melihatku.
“Kamu ngapain di sini?”
“Nungguin kamu.”
“Kenapa?”
“Kamu belum makan siang,” kataku. “Kamu tadi sidang pagi sebelum ke sini. Kamu cuma minum kopi. Aku lihat.”
Dia menatapku. Lama.
“Ada warung bubur di belakang gedung rektorat,” kataku. “Buka sampai jam tiga.”
“Bu Sasti ngajak kamu soto.”
“Aku nggak suka soto.”
“Kamu suka soto. Kamu makan soto tiap Jumat di kantin FMIPA waktu kuliah.”
“Aku berhenti suka soto.”
“Sejak kapan?”
“Sejak tadi pagi.”
Dia mengerjap. Sekali. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak. Tidak cukup untuk disebut senyum. Cukup untuk disebut sesuatu.
“Buburnya diaduk,” katanya.
“Punyamu.”
“Punyamu?”
“Per lapisan.”
“Kita nggak bisa makan bareng kalau caranya beda.”
“Kita sudah dua belas tahun makan bareng dengan cara yang beda, Ly.”
Dia diam.
Lalu dia berjalan melewatiku, ke arah tangga keluar, dan berkata tanpa menoleh:
“Kamu yang bayar. Itu hukuman karena menatap pinggang klien saya.”
“Tiga detik.”
“Empat.”
Aku mengikutinya keluar.
Di belakang kami, aku mendengar Alea berkata ke Erwin dengan suara yang sangat pelan: “Win, kamu catat?”
Dan Erwin menjawab: “Al, aku nggak pernah berhenti nyatet.”
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik reading
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru