Chapter Thirty
Dapur Remah
POV: Lyodra
Empat hari kami tidak bicara.
Bukan diam karena marah. Diam karena tidak tahu harus mulai dari mana. Aku membuka chat pribadi kami setiap malam dan menatap pesan terakhirnya, yang dia kirim satu jam setelah aku naik taksi dari Matraman: Kamu sampai rumah? Aku membalas: Sampai. Dan setelah itu tidak ada apa-apa.
Di grup circle, kami tetap ada. Kami tetap membalas soal vendor dan jadwal fitting akhir. Pasal tiga. Tapi debat kami tidak ada isinya. Alea memberi nilai D dua kali berturut-turut dan, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, berhenti mengirim emoji popcorn.
Hari Kamis jam dua pagi, Alea meneleponku.
“Ly. Aku butuh bantuan.”
“Al, ini jam dua pagi.”
“Aku tahu. Aku dapat pesanan lima ratus kue sus buat acara pernikahan anak pejabat di Menteng. Jam sepuluh pagi harus kirim. Asistenku sakit. Aku sendirian.”
“Aku nggak bisa bikin kue.”
“Kamu bisa isi vla. Itu cuma pencet plastik segitiga. Bahkan anak TK bisa.”
“Al...”
“Ly.” Suaranya berubah. Lebih pelan. “Tolong.”
Aku menatap langit-langit. Retakan di plafon. Tujuh belas.
“Aku ke sana,” kataku.
Dapur Remah di jam dua empat puluh pagi terang benderang. Lampu neon di atas meja stainless steel menyala semua. Oven besar di dinding berdengung. Ada puluhan loyang berisi kulit kue sus yang sudah dipanggang, berderet di rak beroda seperti tentara kecil berwarna cokelat keemasan. Ada baskom besar berisi vla vanila. Ada tumpukan kantong plastik segitiga.
Dan ada Putra.
Dia berdiri di depan meja stainless steel dengan celemek kelinci Alea yang terlalu kecil, mengisi kulit kue sus dengan vla menggunakan kantong plastik segitiga, dengan konsentrasi seperti sedang mengerjakan soal ujian doktoral.
Dia mengangkat kepala waktu aku masuk. Kacamatanya sedikit berembun karena uap oven.
Kami saling menatap.
Di belakangku, Alea masuk dari pintu tangga dengan celemek merah bergambar palu hakim, hadiah ulang tahunku yang kukembalikan padanya karena aku tidak pernah memasak. Dia menatap kami berdua.
“Oh, kalian berdua dateng,” katanya dengan nada yang sama sekali tidak terkejut. “Kebetulan.”
“Al,” kataku.
“Lima ratus kue sus. Jam sepuluh. Aku urus kulitnya, kalian urus isinya. Dua ratus lima puluh per orang. Kalau ada yang bocor vlanya, ulang.” Dia mengambil satu loyang dari rak dan berjalan ke oven. “Aku nggak mau dengar apa-apa kecuali bunyi plastik segitiga ditekan.”
Aku berdiri di ambang pintu dapur.
“Kamu tahu dia di sini,” kataku ke punggung Alea.
“Aku cuma tahu aku butuh dua orang yang nggak bisa tidur.” Alea tidak menoleh. “Dan kebetulan kalian berdua dua-duanya nggak bisa tidur empat hari ini. Aku hakim. Aku lihat.”
Lalu dia naik ke lantai dua dengan alasan mengambil sesuatu dan tidak turun lagi.
Aku berdiri di sisi meja stainless steel yang berseberangan dengan Putra. Mengambil kantong plastik segitiga. Mengisinya dengan vla. Mengambil satu kulit kue sus. Menusukkan ujung plastik ke lubang kecil di bawahnya. Menekan.
Vla menyembur dari sisi lain kulit kue itu dan mengenai pipiku.
Putra berhenti menekan.
Aku menatap kue sus yang bocor di tanganku. Vla menetes dari pipiku ke celemek.
“Kamu nusuk terlalu dalam,” katanya. Suaranya pelan. Hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas es tipis.
“Aku tahu.”
“Cuma satu senti. Ujungnya cuma masuk satu senti.”
“Kamu ukur?”
“Alea ukur. Aku cuma ikutin.”
Aku mengelap pipiku dengan punggung tangan. Mengambil kulit kue sus lain. Menusukkan ujung plastik. Satu senti. Menekan.
Kali ini tidak bocor.
Kami bekerja dalam diam selama dua puluh menit. Bunyi plastik segitiga ditekan. Bunyi kulit kue sus diletakkan di nampan. Bunyi oven berdengung. Bunyi kipas angin di sudut dapur.
Lalu aku bicara. Ke kue sus di tanganku. Bukan ke dia.
“Aku langgar pasal delapan.”
Bunyi plastik di seberang meja berhenti.
“Aku nyembunyiin dua minggu,” kataku. “Aku bilang itu menunda. Itu bukan menunda. Itu nyembunyiin. Aku advokat. Aku tahu bedanya.” Aku menaruh kue sus di nampan. “Aku nggak cerita karena aku takut. Aku takut kamu bakal bilang hal yang sama kayak lima tahun lalu. Dan kamu bilang. Dan aku marah. Tapi aku yang mulai duluan.”
Hening.
“Aku langgar pasal delapan juga,” katanya.
Aku mengangkat kepala.
Dia tidak menatapku. Dia menatap kue sus di tangannya. Vla sedikit meleleh dari lubangnya karena dia lupa berhenti menekan.
“Ambil,“ katanya. “Satu kata. Nggak ada debat. Itu keputusan sepihak. Aku nggak nanya kamu mau apa.” Dia meletakkan kue sus itu di nampan. Pelan. “Aku minta maaf.”
Aku menatapnya. Dua belas tahun. Dua belas tahun dan aku belum pernah mendengar Putra Mahardika minta maaf dalam debat. Dia mengoreksi data. Dia mengakui argumennya lemah. Dia bilang kamu benar di ruang dosennya, sekali, soal bobot aksesibilitas. Tapi minta maaf? Tidak pernah.
“Kamu minta maaf,” ulangku.
“Iya.”
“Dalam debat?”
“Ini bukan debat.”
“Terus apa?”
Dia akhirnya menatapku. Di bawah lampu neon dapur, dengan celemek kelinci yang terlalu kecil dan kacamata yang sedikit berembun dan noda vla di lengan kemejanya, wajahnya terlihat sangat lelah. Lebih lelah dari yang pernah kulihat.
“Ini aku yang salah,” katanya.
Kami menyelesaikan seratus kue sus sebelum bicara lagi.
Lalu aku meletakkan kantong plastik segitiga dan bersandar ke meja stainless steel.
“Pasal delapan,” kataku. “Kita mulai ulang.”
“Mulai ulang?”
“Kita debat. Dengan benar. Soal Singapura. Bukan di warung bubur jam sepuluh malam waktu aku masih kaget. Bukan di dapur jam tiga pagi waktu kita belum tidur empat hari. Minggu depan. Warung kopi Bu Romlah. Jam tujuh pagi. Bawa poin-poin.”
“Aku nggak punya poin.”
“Susun.”
“Poin apa?”
“Poin kenapa aku harus tinggal.” Aku menatapnya. “Aku bakal bawa poin kenapa aku harus pergi. Kamu bawa poin kenapa aku harus tinggal. Terus kita debat. Dan kamu nggak boleh kalah dengan sengaja.”
Dia diam lama.
“Itu yang kamu mau?” tanyanya. “Aku melawan?”
“Itu yang aku mau dari lima tahun lalu, Put.”
Dia menatapku. Matanya di balik kacamata berubah. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang dulu kulihat di parkiran belakang di bawah lampu neon berkedip, dan di mobil di depan pagar besi hijau waktu aku bertanya kenapa kamu nggak melawan.
“Oke,” katanya.
“Jangan bilang oke.”
“Kenapa?”
“Karena kamu selalu bilang oke untuk hal-hal yang aku putuskan.” Aku mengambil satu langkah memutari meja stainless steel. Lalu satu langkah lagi. “Aku nggak mau oke. Aku mau janji.”
Dia menatapku mendekat.
“Aku janji,” katanya pelan. “Kali ini aku melawan.”
Aku berdiri di depannya. Di sisi meja yang sama. Lima belas senti.
“Data?” bisikku.
Dia menatapku lama. Lalu mengangkat tangan dan, dengan ibu jarinya, mengusap noda vla yang masih tertinggal di pipiku. Pelan. Satu usapan.
“Signifikan,” katanya.
Aku tidak tahu siapa yang mulai.
Mungkin aku, karena aku yang selalu menyerang duluan. Mungkin dia, karena tangannya sudah di pipiku. Yang aku tahu, satu detik kami berdiri lima belas senti, dan detik berikutnya punggungku menempel di pinggir meja stainless steel yang dingin dan dia menciumku seperti seseorang yang sudah empat hari tidak bisa bernapas.
Tangannya di pinggangku. Mengangkatku sedikit sampai aku duduk di pinggir meja, di antara nampan kue sus yang sudah terisi dan baskom vla yang tinggal setengah. Tanganku di rambutnya, di belakang lehernya, menariknya lebih dekat. Celemek kelincinya kusut di antara kami. Ada tepung di mana-mana. Ada vla di jari-jariku yang sekarang ada di rambutnya.
Kacamatanya miring. Aku melepasnya dan meletakkannya di atas tumpukan kulit kue sus tanpa melihat.
Dia membuat suara kecil di tenggorokannya lagi. Suara yang paling jujur.
Aku menciumnya dengan semua yang tidak bisa kukatakan empat hari ini. Semua marah dan takut dan kangen dan bingung. Semua kenapa kamu nggak melawan dan aku juga salah. Semua amplop putih di laci kantor, di sebelah sapu tangan biru tua.
Lipstikku. Tentu saja lipstikku. Merah tua di bibirnya, di rahangnya, di kerah celemek kelinci Alea.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu belakang dapur. Tiga kali. Bukan dua.
Kami membeku.
Jam di dinding dapur: empat lewat dua puluh delapan.
“Mbak Alea?” suara laki-laki dari balik pintu. Kaku. Sopan. Sedikit gugup. “Susu, Mbak. Kiriman pagi.”
Mas Bayu. Kurir susu. Laki-laki yang setiap pagi jam setengah lima mengantar tiga puluh liter susu segar ke pintu belakang Remah dan yang, menurut Sabrina, membuat Alea mengganti celemeknya dua kali sebelum membuka pintu.
Putra menatapku. Aku menatapnya.
Wajahnya berlumur lipstik. Rambutnya berantakan dan penuh vla. Kacamatanya di atas tumpukan kulit kue sus. Aku duduk di atas meja stainless steel dengan rok yang berantakan dan tepung di pipi.
“Mbak Alea?” Ketukan lagi.
Putra melakukan satu-satunya hal yang otaknya bisa proses dalam satu detik.
Dia berlari ke pintu gudang bahan di sudut dapur, membukanya, masuk, dan menutupnya dari dalam.
Seorang laki-laki setinggi seratus delapan puluh senti, melipat diri ke dalam gudang bahan kue seluas satu kali satu meter, di antara karung tepung dan kardus telur, seperti kertas origami.
Seperti lima tahun lalu di bawah meja perpustakaan.
Aku turun dari meja. Menyambar kacamatanya dari atas tumpukan kulit kue sus dan menyembunyikannya di saku celemek. Mengelap bibir dengan punggung tangan, yang hanya membuat lipstiknya menyebar ke pipi. Merapikan rambut dengan tangan yang penuh tepung.
Aku membuka pintu belakang.
Mas Bayu berdiri di sana. Laki-laki kurus dengan topi kurir dan jaket hijau, memegang dua krat susu. Dia membuka mulut untuk bilang sesuatu. Lalu melihatku.
Dia menutup mulut.
Aku tahu persis apa yang dia lihat. Perempuan dengan celemek merah bergambar palu hakim, tepung di pipi, lipstik merah tua yang menyebar dari bibir ke dagu, rambut berantakan dengan vla di beberapa helai.
“Saya teman Alea,” kataku. “Bantu bikin kue sus. Lima ratus. Untuk pernikahan.”
“Oh,” kata Mas Bayu.
“Ada kecelakaan dengan vla.”
“Oh.”
“Dan lipstik.”
Mas Bayu menatap wajahku. Lalu menatap ke dalam dapur, ke meja stainless steel yang berantakan, ke nampan kue sus yang miring, ke pintu gudang bahan yang tertutup rapat, dari bawahnya terlihat ujung sneakers abu-abu dengan tali putih yang lepas.
Dia menatap sneakers itu cukup lama.
Lalu dia menaruh dua krat susu di lantai dalam dapur. Pelan. Sangat pelan, seperti menaruh bom.
“Ini susunya, Mbak,” katanya. “Tiga puluh liter.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.” Dia ragu sebentar. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Secarik kertas kecil yang dilipat dua. “Mbak, ini, tolong kasih ke Mbak Alea, ya. Bukan apa-apa. Cuma... resi.”
“Resi?”
“Resi susu.”
Resi susu tidak dilipat dua dengan rapi. Resi susu tidak ditulis dengan pulpen tinta biru dengan tulisan tangan yang sangat hati-hati.
“Saya kasih,” kataku.
“Terima kasih, Mbak.” Mas Bayu mundur satu langkah. Lalu berhenti. Menatap sneakers abu-abu di bawah pintu gudang sekali lagi. “Mbak. Kalau boleh tahu. Mas-nya nggak apa-apa di dalam? Gudangnya sempit. Kadang ada tikus.”
Dari dalam gudang, terdengar bunyi karung tepung bergeser. Lalu bunyi sesuatu jatuh. Mungkin kardus telur.
“Dia baik-baik saja,” kataku.
“Oke, Mbak.” Mas Bayu mengangguk. “Selamat pagi.”
Dia pergi.
Aku menutup pintu belakang. Bersandar di sana. Menutup wajah dengan kedua tangan.
Pintu gudang bahan terbuka pelan. Putra keluar. Ada tepung di bahunya. Ada sesuatu yang kuning dan lengket di sneakersnya. Telur. Satu kardus telur pecah.
“Kardus telur,” katanya.
“Aku dengar.”
“Satu lusin.”
“Aku dengar, Put.”
Kami saling menatap. Lalu aku tertawa. Dia tertawa. Kami tertawa di dapur Remah jam setengah lima pagi, berlumur tepung dan vla dan telur dan lipstik, sampai Alea turun dari lantai dua dengan wajah sangat datar dan melihat satu kardus telur pecah di lantai gudangnya.
“Kalian,” kata Alea, “utang dua belas butir telur.”
Aku menyerahkan kertas lipat dua dari Mas Bayu.
Alea menatap kertas itu. Membukanya. Membaca.
Wajahnya, yang biasanya bulat dan ceria dan jahil, tiba-tiba berubah merah dari dahi sampai leher.
“Utang telurnya dihapus,” katanya cepat, dan dia naik lagi ke lantai dua sambil memegang kertas itu di dada.
Kami menyelesaikan lima ratus kue sus jam delapan pagi.
Di mobilnya, di depan pagar besi hijau, sebelum aku turun, aku menyandarkan kepala di sandaran jok.
“Minggu depan,” kataku. “Warung kopi. Jam tujuh.”
“Aku bawa poin.”
“Kamu janji melawan.”
“Aku janji.”
Aku menatap rumahku. Lampu teras masih menyala dari semalam. Di balik kaca nako, ruang tengah kosong. Tidak ada siluet di kursi rotan.
“Ibu tidur nyenyak,” kataku. “Sejak aku cerita soal Singapura. Dua minggu ini. Ibu nggak pernah bangun jam dua pagi lagi.”
Di sampingku, Putra diam.
“Ibu seneng banget,” kataku. “Aku belum pernah lihat Ibu seneng kayak gitu. Dia masak sayur asem di hari Selasa. Dia nawarin bantu packing. Dia bilang...” Aku berhenti. “Dia bilang jangan kayak Ibu. Aku nggak ngerti maksudnya.”
Aku menoleh ke Putra.
Wajahnya pucat.
Bukan pucat karena kurang tidur. Pucat yang lain. Pucat seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang dia takutkan sejak lama.
“Put?”
Dia membetulkan kacamata. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
“Nggak apa-apa,” katanya.
Intonasinya naik di kata terakhir.
Aku menatapnya. Aku advokat. Aku tahu kalau saksi berbohong.
“Sabtu,” katanya cepat, sebelum aku bisa bertanya. “Ambil cincin Sabrina. Toko emas di Cikini. Jam sebelas. Kamu ikut?”
“Ikut. Ibu juga mau ikut.”
Tangannya berhenti di setir.
“Ibumu?”
“Ibu mau beli bros. Katanya buat dipakai di nikahan Sabrina. Ibu diundang. Ibu belum pernah ke nikahan siapa pun sejak...” Aku tidak menyelesaikan kalimatnya. “Ibu mau dandan. Pertama kali dalam lima belas tahun.”
Putra menatap lurus ke depan. Ke pagar besi hijau. Ke lampu teras yang masih menyala.
“Oke,” katanya.
Aku tidak bilang jangan bilang oke. Aku terlalu lelah. Aku cuma turun dari mobil, berjalan ke pagar, dan menoleh sebelum masuk.
Dia masih di sana. Tangan di setir. Menatap rumahku.
Tidak. Menatap jendela ruang tengah. Kursi rotan yang kosong.
Aku masuk.
Aku tidak melihatnya menyetir pergi. Tapi aku mendengarnya. Lama sekali setelah aku menutup pintu, mesin mobilnya masih menyala di depan pagar besi hijau.
Lima menit. Sepuluh. Lima belas.
Lalu pergi.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah reading
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru