Chapter One
Skor 411–412
POV: Lyodra
Ada dua hal di dunia ini yang tidak pernah berubah.
Pertama, harga parkir di Kemang, yang naik setiap kali aku lengah.
Kedua, Putra Mahardika, yang selalu salah soal bubur.
“Bubur ayam itu diaduk,” kataku sambil menunjuk mangkuk styrofoam di depannya dengan sendok plastik. “Itu inti filosofinya. Kenapa ada kerupuk, kacang, cakwe, sambal, kecap, dan kaldu kalau ujung-ujungnya dimakan per lapisan kayak arkeolog gali situs purbakala?”
Putra tidak mengangkat kepala. Dia menyendok bagian atas buburnya dengan rapi, ayam suwir dan sedikit kecap, tanpa menyentuh lapisan di bawahnya. Kacamatanya sedikit melorot di batang hidung yang terlalu lurus untuk ukuran laki-laki yang hobinya menghitung standar deviasi.
“Data?” katanya.
Satu kata. Selalu satu kata. Seolah-olah kalimat lengkap itu dijual per huruf dan dia sedang berhemat.
“Data apa? Ini soal rasa.”
“Rasa itu subjektif.” Dia akhirnya menoleh. “Kalau kamu klaim bubur diaduk lebih enak, buktikan. Berapa responden? Metodenya apa? Ada kelompok kontrol?”
“Kelompok kontrolnya kamu. Contoh nyata orang yang hidupnya hambar karena nggak pernah mau mencampur apa pun.”
Di seberang meja, Alea mengetuk-ngetuk spidol ke telapak tangannya seperti hakim garis yang sudah bosan. Dia duduk bersila di kursi plastik, poninya dijepit jepit stroberi, wajahnya bulat dan polos. Orang yang tidak kenal dia pasti mengira dia anak SMA yang salah masuk. Padahal dia pemilik toko kue ini, Remah, dan pemilik lantai dua tempat kami berkumpul setiap Sabtu malam selama tiga tahun terakhir.
Dan dia juga satu-satunya orang yang memegang spidol papan skor.
“Argumen pembuka sudah,” kata Alea. “Lanjut sanggahan. Waktu satu menit. Tolong yang berbobot, aku capek nulis angka.”
Papan tulis putih di dinding belakang Alea sudah agak kekuningan. Di bagian atasnya tertulis dengan huruf yang ditebalkan berkali-kali:
LYODRA 411 — PUTRA 412
Angka itu dimulai di buku tulis bergaris waktu kami kelas sepuluh, di ruang tim debat SMA yang baunya kapur dan keringat. Pindah ke kertas karton waktu kuliah. Lalu naik pangkat jadi papan tulis ketika Alea membuka toko ini dan berkata, “Kalian berdua butuh tempat permanen buat menyelesaikan masalah kalian, dan aku butuh hiburan.”
Empat ratus sebelas kemenanganku. Empat ratus dua belas kemenangannya.
Satu poin.
Sudah delapan bulan dia unggul satu poin, dan setiap kali aku melihat papan itu, ada sesuatu di dadaku yang ingin mencakar dinding.
“Sanggahan,” kataku. Aku memutar badan menghadap Putra sepenuhnya. “Satu, kamu bilang rasa itu subjektif. Setuju. Berarti klaimmu bahwa bubur nggak diaduk lebih enak juga nggak punya data. Kamu sendiri yang menuntut bukti, tapi kamu nggak bawa bukti. Itu standar ganda.”
Putra diam.
“Dua,” lanjutku, “bubur ayam diciptakan sebagai satu kesatuan. Pedagangnya menaruh semua di satu mangkuk, bukan di piring terpisah. Niat pembuatnya jelas. Kamu memakan bubur bertentangan dengan niat penciptanya. Itu, secara hukum, sama dengan melanggar kehendak pewaris.”
Sabrina, yang dari tadi rebahan di sofa dengan masker wajah berwarna emas, mengangkat satu tangan. “Ly, analogi warisanmu itu ngaco banget, tapi aku suka energinya.”
“Terima kasih.”
“Tiga,” aku menyelesaikan. “Kamu memakan bubur per lapisan karena kamu takut. Takut kehilangan kontrol atas rasa. Takut kalau semuanya tercampur, kamu nggak bisa lagi bilang mana yang ayam dan mana yang cakwe. Itu bukan preferensi. Itu trauma.”
Hening.
Alea menutup mulut dengan dua tangan. Sabrina setengah bangun, maskernya retak di bagian pipi.
Putra meletakkan sendoknya. Pelan. Lalu dia membetulkan kacamatanya dengan jari telunjuk.
Satu kali.
Aku tahu artinya kalau dia melakukan itu satu kali. Artinya dia sedang menyusun sesuatu yang akan membuatku ingin melempar mangkuk.
“Tanggapan,” katanya. Suaranya datar, rendah, sedikit serak karena dia mengajar tiga kelas berturut-turut hari ini. Aku tahu karena dia memposting jadwalnya di grup tadi pagi, dan aku tidak sengaja membacanya. Dua kali. “Poin satu, kamu benar. Aku nggak bawa data. Aku nggak pernah klaim versiku lebih enak. Aku cuma bilang kamu nggak bisa klaim versimu lebih enak. Aku nggak perlu membuktikan apa-apa. Beban pembuktian ada di pihak yang mengklaim. Kamu advokat. Kamu tahu itu.”
Brengsek.
“Poin dua, niat pedagang bubur itu efisiensi, bukan filosofi. Satu mangkuk karena lebih murah daripada lima piring. Kalau kita pakai logikamu, nasi padang juga harus diaduk jadi satu karena disajikan di satu piring.”
Alea mengangguk-angguk. Pengkhianat.
“Poin tiga.” Dia menatapku. Lurus. Lensa kacamatanya memantulkan lampu neon, tapi di baliknya, matanya cokelat tua dan terlalu tenang. “Itu bukan argumen. Itu serangan ke pribadi. Ad hominem. Kalau ini lomba, kamu sudah didiskualifikasi.”
“Ini bukan lomba.”
“Terus kenapa ada papan skor?”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
Di bawah meja, lututnya tidak sengaja menyentuh lututku waktu dia bergeser mengambil sambal. Sentuhan itu cuma sepersekian detik, kain celana bahannya bergesek dengan rokku, dan dia langsung menarik kakinya seperti tersengat.
Aku tidak bergerak. Wajahku, kuharap, tetap seperti batu.
Tapi di dalam kepalaku, ada sirene. Sirene ambulans, pemadam kebakaran, dan mobil patroli sekaligus. Satu sentuhan lutut. Satu. Aku sudah dua puluh tujuh tahun, aku sudah pernah berdiri di depan majelis hakim yang membenciku, aku sudah pernah membuat saksi lawan menangis di ruang sidang, dan satu sentuhan lutut dari laki-laki berkacamata yang makan bubur seperti arkeolog membuat seluruh sistem sarafku mengirim sinyal darurat.
Tenang, Ly. Itu lutut. Semua manusia punya lutut.
Tapi itu lututnya.
Diam.
“Oke,” kata Alea, mengangkat spidol. “Aku mau bilang ini menarik, tapi...”
“Tapi apa?” tanyaku dan Putra bersamaan.
Kami saling menoleh. Lalu sama-sama membuang muka.
Alea menahan senyum dengan cara yang sangat tidak meyakinkan. “...tapi Erwin belum datang. Dan dia juri ketiga. Aturan tie-break.”
Seperti dipanggil, pintu tangga terbuka.
Erwin muncul dengan scrub biru yang belum diganti, rambut berantakan, dan wajah ganteng yang tetap ganteng meski jelas belum tidur. Erwin Santoso adalah jenis dokter yang kalau masuk IGD, pasien perempuan langsung lupa sakitnya di mana. Dia tersenyum lebar ke semua orang, lalu senyumnya berhenti lebih lama di Sabrina.
“Maaf, maaf. Ada kecelakaan motor di Pancoran, tiga orang, semua selamat, aku pahlawan, tolong tepuk tangan.”
Kami bertepuk tangan seadanya.
“Kalian lagi debat apa?”
“Bubur,” kataku. “Diaduk atau nggak.”
“Ah.” Erwin menarik kursi. Dia melirik mangkuk-mangkuk di meja, lalu, anehnya, melirik mangkuk Sabrina. Mangkuk yang belum disentuh karena Sabrina masih pakai masker. “Aku tim diaduk.”
“Dua lawan satu,” kataku penuh kemenangan.
“Erwin belum resmi jadi juri,” kata Putra.
“Sab,” kata Erwin, nadanya tiba-tiba aneh. Terlalu santai. Seperti orang yang berlatih santai di depan cermin. “Buburmu dingin. Aduk, gih. Biar Lyodra menang.”
Sabrina mengerang, duduk, mengelupas masker dari wajahnya. Di baliknya, wajah yang sudah membuat tiga merek kosmetik lokal laku keras. Sabrina Gunawan, model, tulang pipi yang bisa memotong kertas, rambut cokelat bergelombang yang selalu tampak seperti habis ditiup angin pantai bahkan kalau dia cuma habis dari minimarket. Dia mengambil mangkuknya, menusukkan sendok, dan mulai mengaduk dengan malas.
Sendoknya membentur sesuatu.
Ting.
Sabrina berhenti. Mengaduk lagi. Mengangkat sendoknya.
Di ujung sendok plastik itu, berlumur kaldu kuning dan sedikit kecap, ada cincin. Cincin emas putih dengan satu berlian kecil yang memantulkan lampu neon seperti bintang yang tercebur ke bubur.
Tidak ada yang bernapas.
Erwin sudah berlutut di samping kursi Sabrina. Entah sejak kapan. Scrub birunya kusut, rambutnya berantakan, dan tangannya sedikit gemetar.
“Makanya,” katanya, suaranya pecah sedikit, “aku tim diaduk.”
Sabrina menjerit.
Alea menjerit.
Aku tidak menjerit, karena aku advokat dan advokat tidak menjerit di depan umum, tapi aku menutup mulut dengan dua tangan dan mataku panas dan aku bisa merasakan suaraku sendiri keluar dalam bentuk yang lebih mirip cicitan.
“Sabrina Gunawan,” kata Erwin. “Aku sudah pacaran sama kamu dua tahun. Aku sudah lihat kamu nangis karena bulu mata palsu lepas di runway. Aku sudah lihat kamu makan seblak level lima terus diare semalaman. Aku sudah lihat kamu marah, takut, cantik, jelek...”
“Aku nggak pernah jelek!”
“...kamu nggak pernah jelek, dan aku mau lihat semuanya sampai kita tua. Kamu mau nikah sama aku?”
Sabrina menangis. Maskaranya tidak ada karena dia habis maskeran, jadi air matanya bersih dan berkilau di bawah lampu. Dia mengangguk berkali-kali, lalu ingat cincinnya masih belepotan bubur, lalu tertawa, lalu menangis lagi, lalu memeluk Erwin sampai mereka berdua hampir jatuh ke lantai.
“Iya. Iya, bodoh. Iya.”
Alea sudah memotret dari enam sudut berbeda. Aku bertepuk tangan dan berusaha keras agar tidak ada air mata yang benar-benar jatuh.
Lalu, karena aku tidak bisa menahan diri, aku menoleh ke samping.
Putra tidak bertepuk tangan. Dia duduk diam, sendok masih di tangan, dan dia sedang menatap Erwin dan Sabrina dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat di wajahnya di depan umum.
Lembut. Itu kata yang paling dekat. Bibirnya hampir tersenyum. Matanya di balik kacamata itu basah di sudut, cuma sedikit, cuma setitik.
Lalu dia sadar aku melihatnya.
Wajahnya kembali datar dalam sedetik. Dia membetulkan kacamata. Dua kali.
Dua kali.
Aku langsung membuang muka ke papan skor, karena kalau aku terus melihatnya, aku akan melakukan sesuatu yang tidak bisa kupertanggungjawabkan di depan majelis mana pun.
Setengah jam kemudian, setelah Sabrina menelepon ibunya dan menangis lagi, setelah Erwin menelepon ibunya dan ibunya juga menangis, setelah Alea membuka sebotol sirup markisa karena “toko kue nggak jual sampanye, terima saja hidup kalian”, Sabrina berdiri di tengah ruangan sambil memegang cincin yang sudah dicuci bersih.
“Oke, oke. Pengumuman. Kami mau nikah bulan Mei.”
“Mei tahun depan?” tanya Alea. “Itu tujuh bulan lagi.”
“Makanya aku butuh panitia. Panitia yang tegas, terorganisir, dan nggak gampang dibohongin vendor.” Sabrina mengedarkan pandangan. Matanya berhenti di aku. Lalu di Putra. Lalu senyumnya melebar dengan cara yang membuatku curiga. “Ketua panitianya: Lyodra dan Putra.”
“Keberatan,” kataku.
“Data?” kata Putra di saat yang sama.
Kami saling menoleh lagi. Satu ruangan tertawa.
“Itu,” kata Sabrina sambil menunjuk kami bergantian. “Itu persis alasannya. Kalian berdua nggak pernah setuju soal apa pun. Artinya setiap keputusan bakal diperdebatkan sampai jadi keputusan terbaik. Lyodra nggak akan biarin vendor nipu kami, Putra nggak akan biarin anggaran jebol. Dan kalau kalian ribut, ya bagus, biar kerasa kayak keluarga.”
“Sab, aku sibuk. Aku punya tiga perkara aktif...”
“Aku juga punya kelas pagi lima hari seminggu...”
“Keberatan ditolak,” kata Sabrina.
Aku melotot. “Itu kalimatku.”
“Sekarang kalimatku. Aku calon pengantin. Calon pengantin boleh pinjam apa saja.” Dia mengedip. “Tolong ya, Bu Advokat. Pak Dosen. Demi aku.”
Aku melirik Putra. Putra melirikku. Untuk sedetik, sesuatu lewat di antara kami, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan bubur, panitia, atau papan skor. Lalu dia mengangkat bahu.
“Terserah,” katanya. “Asal dia nggak ngatur warna.”
“Aku yang ngatur warna. Kamu buta warna estetika.”
“Aku nggak buta warna. Aku cuma nggak suka merah.”
Bohong. Aku pakai blus merah malam ini. Dan dia melirik blus ini tiga kali sejak aku datang. Aku menghitung.
Erwin, yang masih duduk di lantai dengan kepala bersandar di lutut Sabrina, tiba-tiba berdeham. “Ngomong-ngomong,” katanya santai, “Pasal Satu masih berlaku, kan?”
Udara di ruangan berubah sedikit.
Pasal Satu. Aturan tidak tertulis circle kami: sesama anggota tidak boleh pacaran. Supaya kalau putus, tidak ada yang harus memilih. Supaya circle tetap utuh. Dua tahun lalu, waktu Erwin dan Sabrina akhirnya mengaku pacaran, Alea dengan khidmat menambahkan “Pasal Satu ayat dua”: kecuali kalau yakin sampai nikah. Erwin bersumpah di atas sekotak donat bahwa dia yakin.
Malam ini, sumpahnya lunas.
“Kenapa nanya?” tanya Alea, terlalu polos.
“Nggak. Cuma memastikan.” Erwin mengangkat bahu. Dia sama sekali tidak melirik ke arahku atau Putra. Sama sekali. Dengan cara yang sangat disengaja.
“Masih berlaku,” kataku. Terlalu cepat.
“Masih,” kata Putra. Terlalu cepat juga.
Sabrina menatap kami berdua. Alea menatap kami berdua. Erwin menatap langit-langit.
Aku mengambil buburku yang sudah dingin dan mengaduknya dengan kekuatan yang tidak perlu.
Kami bubar jam sebelas. Sabrina dan Erwin pulang duluan, bergandengan seperti remaja yang baru jadian. Alea mengusir kami karena dia harus bangun jam empat untuk memanggang roti.
Aku dan Putra turun tangga terakhir. Tangga Remah sempit dan curam, dindingnya ditempeli foto-foto kami berlima dari zaman SMA sampai sekarang. Lampunya kuning redup dan satu anak tangganya berderit.
Aku di depan. Dia di belakang. Selalu begitu, sejak dulu. Dia selalu turun di belakangku, entah kenapa.
Di anak tangga yang berderit, sepatu hakku tergelincir sedikit.
Tangannya menangkap lenganku. Cepat, kuat, hangat, lalu langsung dilepas.
“Hati-hati,” katanya.
“Aku nggak apa-apa.”
“Aku tahu. Aku cuma nggak mau kamu jatuh terus nyalahin tangga Alea dan nuntut dia.”
“Aku nggak akan nuntut sahabatku sendiri.”
“Kamu pernah nuntut abang tukang fotokopi karena salah jilid.”
“Itu somasi. Bukan tuntutan. Dan dia memang salah.”
Kami sampai di bawah. Toko sudah gelap, cuma lampu etalase yang menyala, menerangi deretan croissant yang sudah dibungkus plastik. Bau mentega dan gula masih menempel di udara.
Putra membuka pintu untukku. Lonceng di atas pintu berbunyi pelan.
Aku melangkah keluar. Dia di belakangku. Udara Kemang malam itu lembap dan hangat, ada bau hujan yang belum turun.
“Ly.”
Aku menoleh.
Dia berdiri di ambang pintu, satu tangan di saku, satu tangan masih memegang gagang pintu. Lampu etalase dari belakang membuat siluetnya terang di pinggir dan gelap di tengah. Kacamatanya memantulkan lampu jalan.
“Bajumu,” katanya.
“Kenapa bajuku?”
Dia diam. Lama. Terlalu lama.
“Nggak apa-apa,” katanya akhirnya. “Hati-hati di jalan.”
Dia masuk lagi untuk membantu Alea mengunci, dan pintu menutup di belakangnya, dan lonceng berbunyi sekali lagi.
Aku berdiri di trotoar seperti orang bodoh.
Bajumu.
Kenapa bajuku.
Nggak apa-apa.
Aku masuk ke mobil, menutup pintu, dan menempelkan dahi ke setir.
Lalu aku menjerit. Pelan. Ke dalam setir. Selama lima detik penuh.
Di kaca spion, lipstik merahku masih sempurna. Pipiku tidak.
Tujuh bulan. Tujuh bulan jadi ketua panitia berdua dengan Putra Mahardika. Rapat, survei venue, telepon vendor, debat anggaran, semua berdua.
Aku menyalakan mesin dan melirik ke jendela lantai dua Remah. Lampunya masih menyala. Di balik kaca, samar-samar, aku bisa melihat papan tulis kekuningan itu.
411 — 412.
Satu poin.
Aku tidak akan kalah. Tidak dari dia. Tidak soal bubur, tidak soal panitia, dan jelas tidak soal apa pun yang membuat jantungku berdetak seperti ini setiap kali dia bilang bajumu lalu tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku menginjak gas.
Di grup WA circle, ponselku bergetar. Alea mengirim foto: cincin di sendok bubur, dengan caption “Hari bersejarah. Bubur diaduk menang. Skor tetap, karena debat dibatalkan oleh lamaran. No contest.”
Di bawahnya, satu pesan dari Putra:
“Data.”
Aku tidak tahu apa maksudnya. Aku membacanya di lampu merah Antasari sebanyak empat kali.
Lalu aku membalikkan ponsel, menaruhnya di jok penumpang, dan menyetir pulang dengan senyum yang tidak akan pernah kuakui di depan majelis hakim mana pun.
- 1 Skor 411–412 reading
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru