Chapter Twelve
Empat Bulan
POV: Putra
Dia tidak membalas.
Aku mengetuk meja dua kali Sabtu malam itu, di lantai dua Remah, di depan dua kotak martabak dan tiga orang yang sibuk merebutnya. Dan Lyodra, yang berdiri di depan papan skor dengan punggung menghadapku, tidak membalas.
Itu wajar. Itu seharusnya. Itu yang kami sepakati lima tahun lalu.
Aku tidak tahu kenapa rasanya seperti ditinju di ulu hati.
Minggu siang, aku makan di rumah orang tuaku di Rawamangun.
Itu ritual. Setiap Minggu, jam dua belas, Ibu memasak opor ayam atau semur daging atau sop buntut tergantung suasana hatinya, dan Bapak duduk di ujung meja membaca koran yang sudah dia baca pagi tadi, dan aku datang dari kos dosenku yang cuma sepuluh menit jalan kaki untuk makan dan mendengarkan Ibu bercerita soal tetangga.
Minggu ini sop buntut. Artinya suasana hati Ibu sedang sangat baik, atau sangat berbahaya.
“Put,” kata Ibu sambil menyendokkan kuah ke mangkukku. “Kamu kenal Dinda?”
“Dinda siapa, Bu?”
“Anaknya Bu Harjo. Yang rumahnya cat hijau di ujung gang. Dia baru pulang dari Australia. S2 farmasi. Cantik, pintar, sopan.”
“Nggak kenal, Bu.”
“Nanti kenalan, ya. Bu Harjo sudah setuju.”
Aku berhenti menyendok. “Setuju apa?”
“Setuju kalian makan malam bareng. Kamis depan. Di rumah ini. Ibu yang masak.”
“Bu.”
“Dinda juga suka statistik, katanya.”
“Farmasi, Bu. Bukan statistik.”
“Farmasi pakai statistik, kan? Uji klinis? Ibu baca di internet.”
Bapak menurunkan korannya. Menatapku. Menatap Ibu. Lalu mengangkat korannya lagi dengan gerakan yang sangat pelan, seperti tentara yang mundur dari medan perang yang tidak bisa dimenangkan.
“Pak,” kataku, minta tolong.
“Bapak nggak ikut-ikut,” kata Bapak dari balik koran.
“Bapak yang bilang ke Ibu soal Dinda,” kata Ibu.
Koran Bapak bergetar sedikit.
“Put, kamu itu dua puluh delapan,” kata Ibu, menaruh sendok sayur dengan bunyi klang yang dramatis. “Teman-temanmu sudah nikah. Erwin mau nikah bulan Mei. Ibu dengar dari ibunya Erwin waktu ketemu di pengajian. Erwin itu dulu waktu SMA nakalnya minta ampun, sekarang mau nikah sama model. Kamu? Kamu sopan, kamu dosen, kamu nggak pernah bawa pulang siapa-siapa. Sejak kuliah. Satu pun.”
“Aku sibuk, Bu.”
“Sibuk apa? Ngajar jam tujuh pagi, pulang jam empat. Habis itu kamu ngapain? Hitung-hitung?”
Itu sebenarnya cukup akurat.
“Atau,” Ibu menyipitkan mata, mencondongkan badan ke depan, “kamu sudah punya seseorang dan nggak bilang Ibu?”
Sendok di tanganku berhenti di udara. Setengah detik. Mungkin kurang.
Ibu melihatnya. Ibu selalu melihat semuanya. Ibuku guru SD selama tiga puluh tahun. Dia bisa membaca wajah anak umur tujuh tahun yang menyembunyikan permen di saku celana dari jarak sepuluh meter. Wajahku tidak lebih sulit dibaca.
“Nggak ada, Bu,” kataku.
“Hm.”
“Beneran.”
“Bapak,” kata Ibu tanpa menoleh. “Anakmu bohong.”
“Bapak nggak ikut-ikut,” kata Bapak.
Aku makan sop buntutku. Kuahnya enak. Gurih, sedikit pedas dari lada, dengan wortel dan kentang yang lembut. Aku memakannya per lapisan: kuah dulu, lalu kentang, lalu wortel, lalu daging. Ibu menatapku makan dengan ekspresi yang sudah dia pakai sejak aku kecil, ekspresi yang bilang anak ini aneh, tapi anakku.
“Kamis depan,” kata Ibu akhirnya. “Kenalan aja. Kalau nggak cocok, nggak apa-apa.”
Aku tidak menjawab. Aku tahu tidak ada gunanya.
Tapi malam itu, di kamar kosku yang kecil, aku membuka kalender dan menandai Kamis depan dengan satu kata: Dinda. Lalu aku menatap kata itu lama sekali.
Lalu aku menghapusnya dan menulis: Rapat vendor bunga.
Tidak ada rapat vendor bunga Kamis depan. Tapi akan ada, kalau aku mengusulkannya ke Lyodra besok pagi.
Ada satu hal yang perlu dipahami tentang empat bulan itu.
Aku tidak jatuh cinta di empat bulan itu. Aku sudah jatuh cinta jauh sebelumnya. Di ruang tim debat SMA, kelas sepuluh, waktu seorang perempuan dengan rambut dikuncir tinggi berdiri di depan kelas dan membongkar argumenku dalam tiga menit dengan suara yang tidak gemetar sedikit pun. Aku kalah telak. Pelatih kami memberinya poin. Alea, yang waktu itu cuma penonton, menulis angka pertama di buku tulis bergaris.
Lyodra satu, Putra nol.
Aku pulang hari itu dan tidak bisa tidur. Bukan karena kalah. Karena aku tidak bisa berhenti memikirkan suaranya.
Tujuh tahun aku menyimpannya. Di SMA, di kuliah. Tujuh tahun berdebat dengannya setiap Sabtu dan menghitung setiap kali dia menyebut namaku tanpa kata bodoh di dekatnya. Tujuh tahun aku tidak pernah bilang apa-apa, karena aku tahu Lyodra. Aku tahu dia tidak percaya pada hal-hal yang tidak bisa dia menangkan.
Lalu suatu malam di bulan Desember, aku naik ke lantai empat perpustakaan pusat untuk mencari jurnal pertanian, dan dia sedang duduk di meja nomor tiga puluh tujuh, sendirian, tertidur di atas tumpukan putusan Mahkamah Agung dengan pipi menempel di halaman yang terbuka.
Aku duduk di seberangnya. Aku tidak membangunkannya. Aku cuma duduk dan membuka laptop dan pura-pura bekerja sampai dia bangun satu jam kemudian dan kaget melihatku.
Besoknya, aku membeli dua roti sobek cokelat.
Tidak ada diskon. Aku bohong soal diskon. Roti sobek cokelat di koperasi kampus harganya sama, beli satu atau beli dua. Itu satu-satunya kebohongan yang kuucapkan ke dia selama empat bulan itu, dan aku tidak pernah menyesalinya.
Ketukan dua kali itu bukan rencana. Aku datang terlambat suatu malam karena dosen pembimbingku menahanku dua jam untuk merevisi bab tiga. Aku berlari dari gedung FMIPA ke perpustakaan, naik tangga empat lantai, dan dia masih di sana. Dia menungguku. Dia tidak bilang begitu, tapi buku-bukunya sudah dirapikan dan tasnya sudah ditutup, seperti orang yang sudah siap pulang sejak tadi dan memutuskan untuk tidak pulang.
Aku ingin bilang sesuatu. Tapi itu perpustakaan, dan pustakawan di lantai empat terkenal galak, dan aku tidak tahu kalimat apa yang tepat.
Jadi aku mengetuk meja. Dua kali. Aku di sini.
Dan dia membalas.
Aku tidak pernah menceritakan ini ke siapa pun, tapi malam itu aku pulang dan duduk di dalam mobil di parkiran kos selama setengah jam, tidak bisa keluar, karena tanganku gemetar dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan sebesar itu di dalam tubuh sekecil ini.
Aku ingat semua detail empat bulan itu. Itu bukan pilihan. Itu cara kerja otakku. Aku menyimpan data, dan data yang paling penting kusimpan di tempat yang paling sulit dihapus.
Aku ingat dia menggigit ujung pena setiap kali membaca putusan yang argumennya lemah. Aku ingat dia membenci hujan karena merusak rambutnya, tapi suka bau tanah setelah hujan. Aku ingat dia tertidur di jok penumpang mobilku selama dua jam di depan pagar besi hijau, dan aku tidak bergerak sama sekali, dan kaki kiriku kesemutan sampai aku tidak bisa merasakan jari-jarinya. Aku ingat dia membacakan resep kacamataku keras-keras di optik Salemba dan seluruh ruang tunggu menoleh. Aku ingat dia jongkok di sebelahku waktu aku sembunyi di bawah meja perpustakaan dari Alea, setelah Alea pergi, dan berbisik, kamu kayak kucing yang masuk kardus, lalu tertawa sampai kami berdua ditegur.
Aku ingat rooftop.
Aku ingat dia memegang mawar layu seperti memegang piala. Aku ingat angin. Aku ingat aku melepas kacamata karena aku ingin melihatnya tanpa ada apa pun di antara kami, bahkan selembar kaca, meskipun itu artinya wajahnya jadi kabur. Aku ingat aku mengucapkan dua kata yang sudah tujuh tahun kusimpan, dan aku ingat aku tidak menyesal sedetik pun.
Cantik. Banget.
Aku ingat dia berbisik data? sesudahnya dan aku menjawab signifikan dan dia tertawa dengan dahi di daguku.
Empat bulan itu adalah satu-satunya periode dalam hidupku di mana aku tidak menghitung apa pun. Aku cuma ada.
Lalu ada bulan Mei dan Juni.
Ada bagian dari bulan Mei dan Juni yang tidak akan kuceritakan di sini. Bukan karena itu tidak penting. Karena kalau kuceritakan, aku harus memikirkannya lagi dengan jelas, dan aku sudah lima tahun berlatih untuk tidak memikirkannya dengan jelas.
Yang bisa kuceritakan adalah ini.
Dia memberi tahu aku soal Leiden di meja nomor tiga puluh tujuh, dengan suara yang sangat kecil, seperti orang yang mengaku melakukan kejahatan. Dia bilang dia mau menolaknya. Dan aku tahu, dengan kepastian yang sama seperti aku tahu dua tambah dua sama dengan empat, bahwa dia akan menolaknya karena aku.
Lalu aku harus memutuskan sesuatu.
Malam di rooftop bulan Juni, dia berdiri di depanku dengan argumen yang sudah dia susun seminggu. Aku melihatnya di wajahnya sebelum dia membuka mulut. Dahinya sedikit berkerut di sebelah kiri. Jari kanannya mengetuk-ngetuk sisi pahanya dengan ritme tiga ketukan. Itu ekspresinya sebelum lomba. Itu ekspresinya sebelum sidang skripsi.
Malam itu aku kalah, dan aku tahu sebelum dia mulai bicara.
Dia bicara selama sebelas menit. Empat poin. Struktur yang sempurna. Aku membantah sedikit, karena kalau aku tidak membantah sama sekali, dia akan curiga, dan Lyodra yang curiga adalah Lyodra yang tidak akan berhenti bertanya sampai menemukan jawabannya.
Lalu aku bilang dia menang.
Dan dia mengucapkan kalimat itu. Mending jadi musuhmu seumur hidup daripada jadi mantanmu.
Aku bilang oke.
Aku selalu bilang oke untuk hal-hal yang dia putuskan. Dia pikir itu sifatku. Itu bukan sifatku. Itu pilihan. Setiap kali, itu pilihan.
Seminggu kemudian dia mengusulkan Pasal Satu di depan circle, dengan nada bercanda, dan aku orang pertama yang mengangkat tangan. Aku melihat wajahnya waktu aku bilang setuju. Ada sesuatu di sana. Kilatan kecil, cepat, seperti seseorang yang baru saja tersandung tapi berhasil tidak jatuh.
Kalau aku tidak setuju, dia akan bertanya kenapa. Kalau dia bertanya kenapa, aku harus menjawab. Dan aku tidak punya jawaban yang bisa kuucapkan.
Jadi aku setuju. Dan aku menjadi musuhnya.
Aku menjadi musuh yang setia. Aku datang ke wisudanya bulan Juli, duduk di barisan keluarga undangan di antara Alea dan Erwin, dan aku menghitung peniti di kebayanya yang sobek. Tujuh. Aku menghitung karena kalau aku tidak menghitung sesuatu, aku akan berdiri dan berjalan ke panggung dan melakukan sesuatu yang tidak bisa kupertanggungjawabkan.
Aku tidak mengantarnya ke bandara bulan Agustus. Alea, Sabrina, dan Erwin yang mengantar. Aku bilang ada rapat jurusan. Tidak ada rapat jurusan. Aku duduk di mobilku di parkiran kampus selama tiga jam, dari jam pesawatnya seharusnya berangkat sampai jam pesawatnya seharusnya sudah melewati wilayah udara Indonesia. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku cuma duduk.
Seseorang mengetuk jendela mobilku di jam kedua. Aku tidak membukanya. Aku tidak melihat siapa.
Aku tidak tahu bahwa itu penting.
Lima tahun kemudian, aku duduk di kamar kosku jam sebelas malam, menatap layar ponsel. Grup circle. Alea mengirim foto papan skor dengan angka baru.
LYODRA 411 — PUTRA 413
Di bawahnya, Alea menulis: Lyodra melaporkan kekalahannya sendiri. Ini kejadian pertama dalam sejarah. Hakim mencatat kejadian ini sebagai anomali statistik.
Erwin: Bubur diaduk punya efek samping ternyata
Sabrina: Ly kamu masih sakit?? kamu nggak kerasukan kan??
Lyodra: Aku sehat. Aku cuma jujur.
Alea: Dalam 12 tahun ini pertama kalinya kamu jujur soal kekalahan
Lyodra: Dalam 12 tahun ini pertama kalinya aku kalah dengan adil.
Aku membaca kalimat terakhir itu tiga kali.
Pertama kalinya aku kalah dengan adil.
Dia tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa ada satu debat yang tidak pernah tercatat di papan itu, dan dia tidak memenangkannya dengan adil. Aku yang membiarkannya menang.
Dan selama lima tahun, setiap kali dia menyerangku di Remah, setiap kali dia berdebat soal bubur dan warna sepatu dan font undangan, aku membalas dengan sungguh-sungguh. Aku tidak pernah mengalah lagi. Satu kali sudah cukup. Satu kali sudah menghabiskan semua yang kupunya.
Aku mengetik di chat pribadi kami.
Kamis depan bisa rapat vendor bunga?
Kirim.
Balasannya datang dalam dua menit.
Lyodra: Kenapa tiba-tiba? Vendor bunga dijadwalkan bulan Januari.
Aku: Lebih awal lebih baik. Harga naik menjelang Valentine.
Lyodra: Data?
Aku: Data menunjukkan harga mawar naik 40% di minggu Valentine.
Lyodra: Rapat vendor bunga bulan Desember nggak ada hubungannya sama harga mawar bulan Februari.
Aku: Ada. Kalau kita booking lebih awal, harga dikunci.
Tiga titik. Hilang. Tiga titik lagi.
Lyodra: Kamu lagi kabur dari sesuatu ya?
Aku menatap pesan itu.
Dia selalu tahu. Dari dulu. Dari meja nomor tiga puluh tujuh sampai sekarang. Dia selalu tahu kapan aku sedang menyembunyikan sesuatu. Dia cuma tidak pernah tahu apa.
Aku: Ibuku mau jodohin aku sama anak tetangga. Kamis depan.
Hening lama. Satu menit. Dua menit. Tiga.
Lyodra: Kamis jam tujuh. Remah. Bawa spreadsheet vendor bunga.
Lyodra: Bukan buat kamu. Buat Sabrina.
Aku: Oke.
Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit kamar kos. Tidak ada retakan di plafonnya. Aku tidak punya apa pun untuk dihitung.
Jadi aku menghitung hal lain. Lima tahun. Enam puluh bulan. Dikurangi satu tahun dia di Leiden, sekitar dua ratus Sabtu malam, di mana aku duduk dua meter darinya dan berdebat dan tidak mengatakan apa pun yang penting.
Musuh yang setia.
Itu yang dia minta. Itu yang kuberikan.
Aku masih memberikannya.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan reading
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru