Chapter Twenty Nine
Data yang Tidak Diminta
POV: Putra
Setengah detik.
Itu angka yang terus berputar di kepalaku sejak Sabtu malam. Setengah detik antara ketukanku dan balasannya. Dalam dua bulan sejak warung kopi Bu Romlah, rata-rata waktu balasnya nol koma dua detik. Kadang nol koma satu. Kadang dia membalas sebelum ketukan keduaku selesai, seperti dia sudah menunggu.
Sabtu malam, setengah detik.
Satu observasi bukan kesimpulan. Aku dosen statistik. Aku tahu itu.
Tapi ada observasi lain. Dia setuju lagu A Thousand Years. Dia tidak mendengar namanya dipanggil tiga kali. Dia membalas pesan Sabrina di grup dengan cuma capek, dan aku tahu, dari dua belas tahun data, bahwa cuma adalah kata yang dia pakai ketika sesuatu sama sekali bukan cuma.
Dan Rabu sampai Jumat minggu lalu, pesan-pesannya padaku jadi lebih pendek. Lebih lambat. Lebih datar.
Aku mengenali pola itu.
Aku pernah melakukannya. Lima tahun lalu. Bulan Mei.
Selasa pagi, aku ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebagai saksi ahli dalam perkara lain. Sengketa asuransi. Pihak penggugat menyewaku untuk menjelaskan bahwa metode perhitungan premi tergugat mengandung bias. Sidangnya pendek. Hakimnya bukan Ibu Rosalina. Kuasa hukum lawan bukan Lyodra.
Aku keluar dari ruang sidang jam sebelas dan berjalan ke lobi. Ke kantin. Kopi kantin pengadilan. Aku membeli dua gelas, satu gula satu sendok tanpa krimer, sebelum aku sadar aku tidak sedang bersama orang yang minum kopi seperti itu.
Aku berdiri di lobi dengan dua gelas kopi di tangan seperti orang bodoh.
“Pak Putra?”
Aku menoleh. Perempuan muda dengan kacamata bulat dan map biru di dada. Wajahnya kukenal dari suatu tempat. Lalu aku ingat: rapat internal di kantor Lyodra, dari cerita Lyodra. Dita. Associate junior. Rasa ingin tahunya berbahaya. Aku pernah melihatnya sekilas di lobi kantor Lyodra di Kuningan, waktu aku menjemput Lyodra di bulan Januari.
“Dita,” kataku.
“Bapak ingat saya!” Dia tersenyum lebar. “Bapak saksi ahli di perkara koperasi waktu itu, kan? Yang Mbak Lyodra tanya soal lampiran tiga?”
“Iya.”
“Saya baca transkripnya. Keren banget, Pak. Mbak Lyodra bilang Bapak satu-satunya saksi ahli yang pernah dia hadapi yang jujur.”
“Dia bilang begitu?”
“Iya, Pak. Waktu rapat internal. Terus Pak Hadi tanya, kenapa kamu senyum-senyum?“ Dita tertawa. “Waktu itu Mbak Lyodra senyum terus. Sekarang juga senyum terus. Pasti senang banget ya, Pak, sekarang?”
“Senang kenapa?”
Dita mengerjap. “Singapura, Pak.”
Aku tidak bergerak.
“Mbak Lyodra kan dapat tawaran ke kantor Singapura. Dua tahun. Jalur partner.” Dita menatapku dengan wajah polos. “Bapak pasti udah tahu. Bapak kan...” Dia berhenti. Wajahnya berubah sedikit, seperti seseorang yang tiba-tiba sadar dia mungkin menginjak sesuatu. “Bapak... temannya, kan?”
“Iya,” kataku. “Aku temannya.”
“Oh. Oke. Ehm.” Dita mundur satu langkah. “Itu belum resmi diumumkan, Pak. Saya tahu karena saya bantu fotokopi dokumen penawarannya minggu lalu. Mungkin saya nggak seharusnya cerita. Tolong jangan bilang Mbak Lyodra saya yang bilang.”
“Kapan berangkatnya?”
“Juli, Pak.”
“Kapan dia dapat penawarannya?”
“Dua minggu lalu, Pak. Hari Selasa.”
Dua minggu.
Dita pamit dengan wajah yang semakin cemas. Aku berdiri di lobi pengadilan dengan dua gelas kopi di tangan. Satu dengan gula satu sendok. Tanpa krimer.
Dua minggu.
Hari Selasa, dua minggu lalu, dia mengirimiku pesan jam sembilan malam: Ibu masak sayur asem. Padahal ini Selasa. Aneh. Aku membalas dengan Mungkin ibumu sedang senang. Dia tidak membalas lagi malam itu.
Ibunya sedang senang.
Aku membuang kedua gelas kopi itu ke tempat sampah. Penuh. Tidak diminum.
Aku tidak langsung meneleponnya.
Aku kembali ke kampus, karena aku punya kelas jam satu, dan karena aku tidak tahu harus ke mana lagi.
Di depan ruang kelas, Kevin menungguku dengan hoodie yang sama dan selembar kertas di tangan.
“Pak. Saya revisi jawaban nomor empat.”
“Masih puisi?”
“Masih, Pak. Tapi statistiknya sudah benar. Saya janji.”
Aku mengambil kertas itu. Kevin menulis dengan tangan yang miring dan berantakan, dan di atasnya, judul yang digarisbawahi dua kali: Uji Beda Dua Rata-Rata.
Dua sampel diambil dari populasi yang sama,
tapi tidak pernah diukur di hari yang sama.
Rata-rata mereka berbeda,
bukan karena mereka berbeda,
tapi karena yang satu selalu menunggu
dan yang lain selalu pergi.
Hipotesis nol: tidak ada perbedaan.
Kesimpulan: tolak.
Mereka berbeda,
karena tidak ada yang pernah minta mereka diukur bersama.
Di bawahnya, rumus uji-t yang benar. Lengkap. Dengan derajat bebas yang tepat.
Aku membaca puisi itu dua kali di koridor.
“Pak?” Kevin menatapku dengan cemas. “Jelek ya, Pak?”
“Statistiknya benar.”
“Puisinya, Pak?”
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku kemeja.
“Nilai penuh,” kataku.
Kevin menatapku dengan mulut terbuka. “Beneran, Pak? Bapak nggak pernah kasih nilai penuh. Bapak pernah kasih tujuh setengah ke anak yang ikut olimpiade statistik.”
“Beneran.”
“Kenapa, Pak?”
Aku tidak menjawab. Aku masuk ke kelas dan mengajar Statistika Inferensial selama seratus menit tanpa sekali pun menyebut ayam.
Aku pulang ke kos. Duduk di kursi meja kerja. Membuka laptop. Membuka spreadsheet kosong.
Lalu aku duduk di sana dan tidak mengetik apa-apa selama dua jam.
Ada dua hal yang kurasakan, dan aku tidak tahu bagaimana memisahkan keduanya.
Yang pertama adalah sakit. Sederhana. Dia menyembunyikannya dariku dua minggu. Dia yang menulis pasal delapan dengan tekanan pena sampai serbetnya hampir robek. Dia yang bilang lima tahun lalu kita nggak punya pasal ini, lihat hasilnya. Dan dia menyimpan amplop penawaran dari firmanya selama dua minggu sambil menggenggam tanganku di depan circle dan membalas ketukanku setengah detik terlambat.
Yang kedua lebih sulit dinamai.
Singapura. Dua tahun. Jalur partner. Partner sebelum tiga puluh lima.
Itu mimpinya. Aku tahu itu mimpinya. Aku tahu diagram alir lima tahunnya, yang dia gambar di buku tulis bergaris waktu kami kelas dua belas dan yang dia tunjukkan padaku di meja nomor tiga puluh tujuh dengan wajah malu. Partner sebelum tiga puluh lima ditulis dengan huruf kapital dan digarisbawahi dua kali.
Dan lima tahun lalu, di bulan Mei, dia hampir menolak Leiden.
Karena aku.
Aku menatap layar laptop yang kosong.
Lima tahun lalu, di ruang dosen ini, di depan meja yang sama, seseorang duduk di kursi tunggu dan mengucapkan kalimat yang tidak pernah bisa kulupakan. Kalau kamu sayang dia, jangan jadi alasan dia nggak pergi.
Aku tidak menolak kalimat itu. Aku tidak berdebat. Aku menerima kalimat itu seperti menerima hasil uji statistik yang signifikan.
Dan sekarang, lima tahun kemudian, dengan amplop lain dari negeri lain, kalimat itu kembali. Duduk di kursi tunggu yang sama di kepalaku.
Jangan jadi alasan dia nggak pergi.
Jam sembilan malam, aku menjemputnya.
Aku tidak bilang mau ke mana. Aku cuma mengirim pesan: Bubur. Matraman. Jam sepuluh. Dan dia membalas: Oke. Satu kata. Tanpa tanda baca.
Dia masuk ke mobil tanpa bicara. Aku menyetir tanpa bicara. Lampu jalan lewat satu per satu. Tidak ada musik.
Di warung tenda biru Pak Kumis, lampu neon putih berdengung. Jam sepuluh malam, ada empat pelanggan lain: dua sopir ojek, satu pasangan muda yang berbagi satu mangkuk, satu satpam.
Pak Kumis menaruh dua mangkuk di depan kami. Berlapis rapi. Seperti biasa.
Lyodra mengaduk buburnya.
Aku tidak menyentuh buburku.
“Dita,” kataku.
Sendoknya berhenti.
“Aku ketemu Dita di PN Jaksel tadi pagi.”
Dia tidak mengangkat kepala. Menatap buburnya yang setengah teraduk.
“Dia cerita soal Singapura.”
Hening. Lampu neon berdengung. Pasangan muda di meja sebelah tertawa soal sesuatu.
“Aku mau bilang,” kata Lyodra. Suaranya pelan. “Aku mau bilang minggu depan. Aku lagi nyusun...”
“Ambil.”
Dia mengangkat kepala.
Aku mengatakannya sebelum dia selesai. Aku mengatakannya sebelum aku sempat memikirkan apakah aku harus mengatakannya. Kata itu keluar seperti refleks. Seperti otot yang terlatih bertahun-tahun pada gerakan yang sama, lalu ada pemicu dan semuanya kembali.
“Ambil, Ly,” kataku. “Singapura. Partner sebelum tiga puluh lima. Itu yang kamu mau sejak kelas dua belas. Kamu tulis di buku tulis bergaris. Kamu garis bawahi dua kali. Ambil.”
Dia menatapku.
Wajahnya tidak lega. Wajahnya tidak senang. Wajahnya berubah pelan, dari kaget, ke bingung, ke sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu bahkan nggak nanya aku mau apa,” katanya.
“Aku tahu kamu mau apa.”
“Kamu nggak tahu!” Suaranya naik. Dua sopir ojek menoleh. “Aku sendiri belum tahu aku mau apa! Makanya aku belum cerita! Aku butuh waktu buat mikir, buat nyusun argumen, buat...”
“Kamu sembunyiin dua minggu.”
“Aku nggak sembunyiin. Aku menunda.”
“Itu sama, Ly. Pasal delapan. Tidak ada keputusan besar yang diambil sepihak. Kamu yang nulis. Kamu yang tekan pena sampai serbetnya hampir robek.”
“Dan kamu barusan langgar pasal yang sama!”
Aku berhenti.
“Kamu barusan,” kata Lyodra, suaranya bergetar sekarang, “memutuskan buat aku. Dalam satu kata. Ambil. Nggak ada debat. Nggak ada pertanyaan. Nggak ada data? Kamu langsung mutusin aku harus pergi.”
“Aku nggak mutusin. Aku cuma bilang...”
“Kamu bilang hal yang sama kayak lima tahun lalu!” Dia mendorong mangkuk buburnya ke tengah meja. Kuahnya tumpah sedikit. “Leiden itu kampus bagus. Kesempatan kayak gitu nggak datang dua kali. Sekarang ambil, Ly. Kamu nggak pernah berubah. Kamu nggak pernah melawan. Setiap kali ada sesuatu yang penting, kamu langsung mundur dan biarin aku pergi kayak itu hal paling mudah di dunia!”
Pasangan muda di meja sebelah berhenti tertawa.
Pak Kumis berhenti mengaduk panci kaldu.
“Itu bukan hal paling mudah di dunia,” kataku. Pelan.
“Terus kenapa kamu selalu lakuin?”
Aku tidak menjawab.
Aku tidak bisa menjawab. Jawabannya ada di ruang dosen lima tahun lalu, di kursi tunggu di depan mejaku, dan kalau aku mengucapkannya di sini, di warung tenda biru Matraman di bawah lampu neon, di depan dua sopir ojek dan satu satpam dan Pak Kumis, semuanya akan runtuh. Bukan cuma kami. Semuanya.
“Aku nggak mau jadi alasan kamu nggak pergi,” kataku akhirnya.
Lyodra menatapku. Lama. Lalu tertawa. Tawa yang pendek, pahit, sama sekali tidak lucu.
“Erwin,” katanya.
“Apa?”
“Erwin cerita ke Sabrina. Sabrina cerita ke aku. Malam itu, jam tiga pagi, di kosmu. Kamu bilang ke Erwin, itu bukan keputusanmu. Apa yang dia sesali atau nggak sesali, itu keputusan dia. Kamu cuma bisa bilang apa yang kamu mau. Minta. Sekali saja.“ Dia menatapku dengan mata basah. “Itu kata-katamu, Put. Kamu kasih nasihat itu ke sahabatmu. Dan kamu sendiri nggak bisa lakuin.”
Aku menatap mangkuk buburku yang masih berlapis rapi. Ayam suwir di atas. Cakwe di tengah. Kerupuk di pinggir. Tidak tersentuh.
“Kenapa?” bisiknya. “Kenapa kamu bisa bilang itu ke Erwin tapi nggak bisa bilang ke aku? Kenapa kamu nggak bisa minta aku tinggal? Sekali aja?”
Hening yang sangat panjang.
“Lima tahun lalu,” kataku, dan suaraku keluar lebih serak dari yang kuharapkan, “aku belajar sesuatu tentang jadi alasan seseorang nggak pergi. Pelajarannya mahal.”
“Pelajaran apa?”
Aku tidak menjawab.
Dia menunggu. Lima detik. Sepuluh. Dua puluh.
Aku tidak menjawab.
Dia berdiri. Mengambil tasnya. Menaruh uang dua puluh ribu di meja, untuk buburnya sendiri.
“Kamu tahu apa yang paling sakit?” katanya. Dia tidak menatapku. Dia menatap lampu neon di atas tenda. “Lima tahun aku pikir aku yang pergi. Aku yang mutusin. Aku yang menang. Dan aku benci diriku sendiri lima tahun karena itu.” Dia menarik napas yang tersendat. “Malam ini aku sadar. Aku nggak pernah menang. Kamu cuma nggak pernah main.”
Dia berjalan ke pinggir jalan dan melambaikan tangan ke taksi pertama yang lewat.
Aku tidak mengejarnya.
Aku tahu cara mengejarnya. Aku tahu bahwa kalau aku berdiri sekarang, berlari ke pinggir jalan, menahan pintu taksi itu sebelum tertutup, dan bilang tunggu, dia akan berhenti. Dia selalu berhenti kalau aku bilang tunggu. Dia cuma butuh seseorang yang bilang tunggu.
Aku tahu semua itu.
Aku duduk di bangku plastik dan tidak bergerak.
Taksi itu berhenti. Dia masuk. Pintu menutup. Taksi itu pergi ke arah Tebet.
Aku duduk di bangku plastik warung tenda biru Matraman dengan dua mangkuk bubur di depanku. Satu milikku, berlapis rapi, tidak tersentuh. Satu miliknya, setengah teraduk, kuahnya tumpah di meja.
Pak Kumis berjalan pelan dari balik gerobaknya. Dia mengambil lap dan mengelap kuah yang tumpah. Lalu dia berdiri di sampingku sebentar, tangan di pinggang, menatap jalan ke arah taksi itu menghilang.
“Mas,” katanya pelan. “Lima tahun lalu juga begini?”
Aku tidak menjawab.
Pak Kumis mengangguk pelan, seolah aku sudah menjawab. Lalu dia kembali ke gerobaknya dan mematikan radio kecil yang sejak tadi memutar lagu dangdut pelan.
Warung itu sunyi.
Aku menarik mangkuk Lyodra ke depanku. Buburnya setengah teraduk. Ayam suwir separuh tenggelam. Cakwe separuh hancur.
Aku mengambil sendok dan menyelesaikan adukannya.
Lalu aku memakannya. Semuanya. Pelan. Sampai habis.
Mangkukku sendiri, yang berlapis rapi, kubiarkan dingin di meja.
- 1 Skor 411–412
- 2 Data?
- 3 Rapat Pertama
- 4 Satu Payung
- 5 Saksi Ahli
- 6 Takikardia
- 7 Empat Puluh Menit Lebih Jauh
- 8 Fitting
- 9 Ibu
- 10 Bubur
- 11 Mending Jadi Musuhmu
- 12 Empat Bulan
- 13 Pasal Satu
- 14 Lipstik
- 15 Rooftop
- 16 Perjanjian Baru
- 17 Grup Sebelah
- 18 Di Bawah Meja
- 19 Kencan yang Tidak Mungkin
- 20 Prewedding
- 21 Parkiran Belakang
- 22 Kontrak Dua Tahun
- 23 Lyodra Membela
- 24 Saksi Mata
- 25 Sidang Circle
- 26 Kue Gosong
- 27 Sofa
- 28 Tawaran Singapura
- 29 Data yang Tidak Diminta reading
- 30 Dapur Remah
- 31 Kayak Dulu
- 32 Satu Debat yang Kukalahkan
- 33 Musuh Lagi
- 34 Laci
- 35 Ibu, Kenapa
- 36 Argumen untuk Diri Sendiri
- 37 Keputusan Sendiri
- 38 Gladi Resik
- 39 Mosi Terakhir
- 40 Satu Tim
- 41 Epilog — Skor Baru