← Keberatan Ditolak

Chapter Five

Saksi Ahli

POV: Lyodra


Ada dua jenis advokat di dunia ini.

Jenis pertama membaca daftar saksi lawan seminggu sebelum sidang, menyiapkan pertanyaan, dan tidur nyenyak.

Jenis kedua membaca daftar saksi lawan seminggu sebelum sidang, melihat nama di baris ketiga, membeku di kursinya selama satu menit penuh, lalu menghabiskan tujuh malam berikutnya menyiapkan pertanyaan sambil sesekali berteriak ke bantal.

Aku jenis kedua. Setidaknya minggu ini.

Saksi ahli pihak tergugat: Putra Mahardika, S.Si., M.Stat. Dosen Statistika. Bidang keahlian: metodologi sampling dan inferensi statistik.

Perkaranya sengketa wanprestasi. Klienku, Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera Bersama, menggugat PT Dana Lekas Nusantara, perusahaan fintech yang menjual sistem penilaian kredit otomatis kepada koperasi. Sistem itu menolak empat puluh persen anggota koperasi yang mengajukan pinjaman. Koperasi bilang sistemnya cacat. Dana Lekas bilang sistemnya akurat dan didukung analisis statistik.

Analisis statistik yang dibuat oleh, tentu saja, Putra Mahardika.

Aku sudah bertanya ke atasanku, Pak Hadiwinata, apakah ada konflik kepentingan. Dia mengangkat alis dan bertanya, “Saksi ini pacarmu?”

“Bukan, Pak.”

“Saudaramu?”

“Bukan, Pak.”

“Mantanmu?”

Aku diam satu detik terlalu lama. “Teman SMA, Pak.”

“Teman SMA bukan konflik kepentingan. Kecuali kamu mau mundur.”

Aku tidak mundur. Lyodra Kirana tidak pernah mundur.

Tapi aku juga tidak memberi tahu siapa pun di circle. Dan dia juga tidak. Grup WA kami minggu ini cuma berisi foto venue, perdebatan soal warna undangan, dan stiker kucing dari Alea. Tidak ada satu pun pesan yang menyinggung bahwa hari Kamis jam sepuluh pagi, di ruang sidang tiga Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, aku dan Putra akan berhadapan secara resmi untuk pertama kalinya di depan hakim sungguhan.

Yang aku tahu, dia tahu. Karena hari Selasa, waktu kami rapat panitia membahas daftar tamu, dia menatapku agak lama sebelum pulang.

“Kamis,” katanya.

“Kamis,” kataku.

Cuma itu. Alea menatap kami seperti menonton bahasa sandi. Sabrina sibuk dengan undangan. Erwin sedang jaga.

Satu kata. Kamis. Dan kami berdua tahu.


Kamis pagi, aku datang ke pengadilan memakai setelan hitam terbaikku, blus putih, dan lipstik merah tua yang kupakai cuma untuk sidang yang penting. Rambutku digelung rapat di tengkuk. Toga di lengan. Berkas di tas kerja.

Aku melihatnya di lorong sebelum ruang sidang.

Dia berdiri di dekat jendela, memakai setelan abu-abu tua yang tidak pernah kulihat sebelumnya, kemeja putih, dasi biru tua. Rambutnya disisir lebih rapi dari biasanya. Kacamatanya sama. Dia memegang map biru dan sedang berbicara dengan kuasa hukum Dana Lekas, Pak Gunadi, laki-laki gemuk dengan suara keras yang terkenal suka menyerang saksi lawan sampai menangis.

Putra mendengarkan Pak Gunadi dengan wajah datar. Mengangguk sesekali. Lalu, seolah merasakan sesuatu, dia menoleh.

Mata kami bertemu dari jarak sepuluh meter.

Dia memakai setelan. Putra Mahardika, yang biasanya cuma punya tiga kemeja yang dipakai bergantian, memakai setelan yang dijahit pas di bahunya, yang membuatnya tampak seperti seseorang yang bisa memecatmu tanpa berkedip.

Tolong. Siapa pun di surga. Tolong beri aku kekuatan.

Dia tidak tersenyum. Aku juga tidak. Kami saling mengangguk, sekali, sopan, profesional, seperti dua orang asing yang kebetulan bekerja di gedung yang sama.

Lalu dia membetulkan kacamata. Satu kali.

Satu kali artinya dia sedang menyusun sesuatu.

Bagus. Aku juga.


Ruang sidang tiga adalah ruangan dengan langit-langit tinggi, kipas angin yang berputar malas, dan bangku pengunjung kayu yang keras. Majelis hakim terdiri dari tiga orang. Ketuanya Ibu Hakim Rosalina, perempuan berusia enam puluhan dengan kacamata baca bertali emas dan reputasi tidak bisa ditipu oleh siapa pun.

Putra dipanggil ke kursi saksi. Dia disumpah. Suaranya tenang dan jelas, setiap kata diucapkan dengan presisi seperti angka di laporan.

Pak Gunadi memeriksanya duluan. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah dilatih. Putra menjelaskan metodologinya: dia menganalisis data historis lima ribu peminjam dari tiga tahun terakhir, membangun model, mengujinya, dan menyimpulkan bahwa sistem penilaian Dana Lekas punya akurasi delapan puluh tujuh persen dalam memprediksi gagal bayar.

Delapan puluh tujuh persen. Angka yang bagus. Angka yang membuat hakim mengangguk.

Lalu giliranku.

Aku berdiri. Merapikan toga. Berjalan ke depan, ke posisi di mana aku bisa melihat saksi dan majelis sekaligus.

“Saudara Saksi,” kataku. “Selamat pagi.”

“Selamat pagi.”

Suaranya biasa saja. Wajahnya biasa saja. Tapi aku melihat jarinya di atas map biru. Diam. Terlalu diam. Putra yang santai selalu memainkan pena. Putra yang tegang tidak bergerak sama sekali.

“Saudara tadi menyebutkan bahwa Saudara menganalisis data lima ribu peminjam dari tiga tahun terakhir. Benar?”

“Benar.”

“Data itu diberikan kepada Saudara oleh siapa?”

“Oleh tim data PT Dana Lekas.”

“Saudara tidak mengumpulkan data sendiri?”

“Tidak. Itu bukan praktik standar untuk saksi ahli. Saya menganalisis data yang ada.”

“Baik.” Aku berjalan dua langkah ke samping. “Dari lima ribu peminjam itu, berapa yang berasal dari koperasi?”

Jeda. Satu detik. Mungkin kurang.

“Saya perlu cek.”

“Silakan.”

Dia membuka map biru. Membalik halaman. Aku menunggu. Ibu Hakim Rosalina menunggu. Pak Gunadi mulai gelisah.

“Seratus dua belas,” kata Putra.

“Seratus dua belas dari lima ribu. Itu berapa persen, Saudara Saksi?”

“Dua koma dua empat persen.”

“Dan sisanya?”

“Peminjam individual dari aplikasi Dana Lekas.”

“Peminjam individual. Yang sebagian besar tinggal di kota besar, punya rekening bank, punya riwayat transaksi digital.” Aku menatapnya. “Benar?”

“Saya tidak punya data demografis rinci.”

“Tapi Saudara punya data lokasi. Ada di lampiran tiga laporan Saudara.”

Diam.

Dia menatapku. Aku menatapnya. Ruang sidang terasa sangat sunyi, cuma suara kipas angin yang berdecit di atas kepala.

“Ada,” katanya. “Delapan puluh satu persen di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan Medan.”

“Sementara anggota koperasi klien kami,” kataku, mengangkat berkas, “sembilan puluh persen tinggal di desa-desa di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Petani, pedagang pasar, buruh harian. Sebagian besar tidak punya riwayat transaksi digital sama sekali.”

Aku berjalan lebih dekat ke kursi saksi. Tidak terlalu dekat. Profesional. Tapi cukup dekat sampai aku bisa melihat garis halus di sudut matanya, dan setitik kecil luka cukur di rahangnya. Dia bercukur pagi ini. Terburu-buru.

“Saudara Saksi,” kataku, lebih pelan. “Menurut keahlian Saudara, apakah model yang dibangun dari data peminjam kota bisa akurat memprediksi perilaku peminjam desa yang karakteristiknya sangat berbeda?”

Ini pertanyaan ketiga. Pertanyaan yang kusiapkan selama tujuh malam.

Dan Putra menatapku dengan ekspresi yang aneh. Bukan marah. Bukan terpojok.

Bangga.

Hanya sepersekian detik. Sudut bibirnya bergerak, nyaris tidak terlihat, seperti orang yang baru saja melihat langkah catur yang bagus dari lawannya.

Lalu wajahnya kembali datar.

“Tidak bisa dipastikan,” katanya. “Masalah yang Saudara sebut dalam statistik disebut sampling bias. Model saya valid untuk populasi yang diwakili oleh sampelnya. Untuk populasi lain, akurasinya harus diuji ulang dengan data dari populasi itu.”

Pak Gunadi berdiri. “Keberatan, Yang Mulia! Kuasa hukum penggugat menggiring saksi!”

“Saya tidak menggiring, Yang Mulia. Saya bertanya tentang keahlian saksi. Dan saksi menjawab berdasarkan keahliannya.”

Ibu Hakim Rosalina menurunkan kacamata bertali emasnya dan menatap kami berdua bergantian. Aku dan Putra. Matanya menyipit.

“Keberatan ditolak,” katanya. “Saksi menjawab dengan jujur, dan itu yang kita butuhkan di sini.”

Pak Gunadi duduk dengan wajah merah.

Aku menunduk sedikit. “Terima kasih, Yang Mulia. Tidak ada pertanyaan lagi.”

Aku berbalik untuk kembali ke mejaku. Tapi Ibu Hakim Rosalina belum selesai.

“Saudara Kuasa Hukum.”

Aku berhenti. “Ya, Yang Mulia?”

“Saudara dan saksi ini saling kenal?”

Ruang sidang hening. Di bangku pengunjung, dua orang staf Dana Lekas saling berbisik.

“Kami teman SMA, Yang Mulia,” kataku. Suaraku stabil. Aku sangat bangga suaraku stabil.

“Teman SMA.” Ibu Hakim Rosalina memiringkan kepala. “Majelis ini sudah empat puluh tahun di pengadilan. Saya sudah lihat suami-istri yang mau cerai saling interogasi dengan suasana yang lebih santai daripada kalian berdua.”

Seseorang di bangku pengunjung tertawa, lalu cepat-cepat berhenti.

“Tidak ada masalah pribadi yang perlu majelis ketahui?”

“Tidak, Yang Mulia,” kataku.

“Tidak, Yang Mulia,” kata Putra dari kursi saksi.

Ibu Hakim Rosalina menatap kami satu kali lagi, lama, dengan ekspresi nenek-nenek yang sudah melihat semua drama di dunia dan masih belum bosan. Lalu dia memasang kembali kacamatanya.

“Baik. Sidang diskors lima belas menit.”


Lobi pengadilan negeri di jam sebelas pagi adalah tempat paling tidak romantis di Jakarta. Lantainya keramik krem yang sudah retak di beberapa titik. Bau kopi sachet bercampur bau keringat dan kertas fotokopi. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah tegang: terdakwa, keluarga terdakwa, pengacara, wartawan, tukang parkir yang tersesat.

Aku berdiri di dekat jendela, memeriksa ponsel tanpa benar-benar membacanya. Tanganku masih sedikit gemetar. Adrenalin sidang selalu begitu. Aku butuh lima belas menit untuk turun dari puncaknya.

“Ly.”

Aku menoleh.

Putra berdiri di depanku. Dua gelas kopi plastik di tangannya. Kopi dari kantin pengadilan, yang terkenal rasanya seperti air rebusan kaus kaki.

Dia menyodorkan satu gelas padaku.

“Apa ini?”

“Kopi.”

“Aku tahu ini kopi.”

“Gula satu sendok. Tanpa krimer.”

Aku mengambilnya. Gula satu sendok. Tanpa krimer. Cara aku minum kopi sejak SMA, sejak aku memutuskan kopi dengan krimer itu untuk orang yang tidak serius dalam hidup.

“Kamu nggak marah?” tanyaku.

“Kenapa harus marah?”

“Aku baru aja ngehancurin kesaksianmu di depan hakim.”

“Kamu nggak ngehancurin. Kamu nemuin celahnya.” Dia menyesap kopinya, lalu meringis. Kopi kantin pengadilan memang biadab. “Pertanyaan ketigamu bagus. Aku nggak nyangka kamu baca lampiran tiga.”

“Aku baca semua lampiran.”

“Aku tahu. Kamu selalu baca semua lampiran.” Dia menatap kopinya. “Kamu menang.”

Aku berkedip.

Kamu menang.

Dua kata. Dia mengucapkannya dengan santai, tanpa beban, seperti orang menyebutkan cuaca. Putra Mahardika, yang selama dua belas tahun tidak pernah sekali pun mengakui kekalahan tanpa memperdebatkannya sampai titik darah penghabisan, baru saja bilang kamu menang sambil menyerahkan kopi dengan gula satu sendok.

Ada sesuatu yang aneh di dadaku. Bukan senang. Bukan bangga. Sesuatu yang lebih mirip rasa tidak nyaman. Seperti dejavu. Seperti aku pernah mendengar dia mengucapkan kalimat yang mirip, dengan nada yang mirip, di suatu tempat yang tidak ingin kuingat.

Aku menyingkirkan perasaan itu.

“Kamu sengaja?” tanyaku. “Kamu sengaja jawab jujur biar aku menang?”

“Aku disumpah, Ly. Aku jawab jujur karena itu jawabannya.” Dia mengangkat bahu. “Modelku valid. Cuma bukan untuk orang desa. Itu bukan kekalahan. Itu batas.”

“Tapi klienmu kalah.”

“Klienku Dana Lekas. Bukan aku. Aku cuma dibayar untuk bilang apa yang ditunjukkan data.” Dia menatapku. “Dan data bilang kamu benar.”

Kamu benar. Kamu menang. Dua kalimat yang tidak pernah dia ucapkan dalam satu hari selama dua belas tahun.

Aku menyesap kopiku, karena aku perlu melakukan sesuatu dengan mulutku selain tersenyum seperti orang idiot. Kopinya biadab. Gula satu sendok tidak cukup untuk menyelamatkannya.

“Setelanmu,” kataku tiba-tiba.

“Kenapa setelanku?”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Setelanmu membuat semua orang di ruang sidang tahu kamu bisa jadi lebih dari dosen yang makan bubur per lapisan. Setelanmu membuatku hampir lupa pertanyaan kedua. Setelanmu harusnya dilarang di gedung pengadilan karena mengganggu konsentrasi penegak hukum.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dia menatapku. Lama. Lalu sudut bibirnya bergerak, pelan, dan aku tahu dia tahu. Dia tahu persis apa yang terjadi, karena dia mengucapkan kalimat yang sama dengan nada yang sama di depan pintu Remah dua minggu lalu.

Bajumu. Nggak apa-apa.

Satu sama.

“Kita impas,” katanya pelan.

“Kita nggak impas. Aku menang di dalam.”

“Di dalam. Di luar, kita impas.”

Pak Hadiwinata muncul dari ujung lorong, melambai padaku. Pak Gunadi muncul dari ujung lain, melambai pada Putra. Skors hampir habis.

Putra mengangguk padaku, sekali, lalu berbalik. Lalu berhenti. Lalu menoleh setengah.

“Lipstikmu,” katanya.

Jantungku berhenti.

“Kenapa lipstikku?”

“Ada di gelasmu.”

Aku menunduk. Bekas bibir merah tua di tepi gelas plastik kopi kantin pengadilan.

Waktu aku mengangkat kepala, dia sudah berjalan pergi.


Malamnya, di Remah, aku mengumumkan kemenanganku dengan dramatis kepada circle.

“Aku,” kataku, berdiri di depan papan skor dengan tangan di pinggang, “menang debat melawan Putra Mahardika di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Debat paling resmi dalam sejarah umat manusia. Saksi: tiga hakim, dua panitera, satu kuasa hukum lawan, enam pengunjung. Hakim Ketua bilang dia jujur. Putra sendiri bilang aku menang.”

Sabrina menjerit. “KALIAN KETEMU DI PENGADILAN?! Kenapa nggak ada yang cerita?!”

“Rahasia klien,” kataku dan Putra bersamaan.

Erwin, yang baru pulang jaga, menatap kami dengan senyum sangat lebar. “Kalian rahasiain dari kami. Berdua. Kompak.”

“Itu etika profesi,” kata Putra.

“Hm,” kata Erwin.

“Jadi,” kataku, menoleh ke Alea dengan penuh harap, “skornya jadi empat ratus dua belas sama.”

Alea menatap papan skor. Lalu menatapku. Lalu menatap Putra. Lalu mengetuk-ngetuk spidol ke dagunya seperti hakim yang sedang menimbang.

“Tidak dihitung,” katanya.

“APA?!”

“Pengadilan negeri bukan yurisdiksi papan ini. Papan ini cuma mengakui debat yang terjadi di wilayah circle atau dengan saksi circle. Hakim Rosalina bukan anggota circle.”

“Itu konyol!”

“Itu konstitusi. Konstitusi Remah. Pasal Tiga.” Alea menunjuk sebuah kertas kecil yang ditempel di pojok papan tulis, ditulis tangan dengan spidol ungu, dan yang selama ini tidak pernah kubaca karena aku pikir itu daftar belanja tepung. “Lagipula, Putra nggak debat. Dia jawab jujur. Itu bukan kekalahan. Itu kesaksian.”

“Alea!”

“Keberatan ditolak,” kata Alea, Sabrina, dan Erwin bersamaan.

Aku menoleh ke Putra, siap memintanya mendukungku. Siap memintanya mengakui di depan circle bahwa aku menang, seperti yang dia akui tadi siang di lobi.

Dia sedang makan kue cokelat Alea. Pelan. Per lapisan.

“Kamu bilang aku menang,” kataku.

“Di lobi,” katanya. “Di luar yurisdiksi.”

Aku melempar bantal sofa ke kepalanya. Dia menangkapnya dengan satu tangan tanpa mengangkat kepala.

Papan skor tetap: LYODRA 411 — PUTRA 412.

Satu poin.

Di perjalanan pulang, aku membuka galeri ponselku. Foto yang kuambil diam-diam di lorong pengadilan pagi tadi, dengan alasan “dokumentasi sidang”. Putra di dekat jendela, setelan abu-abu tua, dasi biru, cahaya pagi dari samping. Fotonya sedikit buram karena tanganku gemetar.

Aku menatap foto itu sampai lampu merah berganti hijau tiga kali dan pengemudi di belakangku membunyikan klakson.

Lalu aku tidak menghapusnya.

Kamu menang.

Dua kata itu terus berputar di kepalaku sampai aku tertidur. Dan entah kenapa, setiap kali berputar, rasanya semakin mirip dengan sesuatu yang tidak ingin kuingat.