← Keberatan Ditolak

Chapter Twenty One

Parkiran Belakang

POV: Lyodra


Seminggu setelah Anyer, Sabrina belum memutuskan apa-apa soal Milan.

Dia datang ke Remah Sabtu malam dengan senyum yang terlalu lebar dan mata yang terlalu cerah, dan dia berbicara soal undangan dan suvenir dan warna pita untuk kotak kue seolah tidak ada telepon jam sembilan malam di teras vila Anyer. Erwin duduk di sebelahnya dan tertawa di saat-saat yang tepat. Tapi tangannya tidak pernah menyentuh tangan Sabrina sepanjang malam.

Aku melihatnya. Putra juga. Alea juga. Kami semua melihatnya dan tidak ada yang bilang apa-apa, karena circle kami punya aturan tak tertulis yang lebih tua dari Pasal Satu: kalau ada yang belum mau bicara, jangan dipaksa.

Jadi kami membicarakan pita.

“Krem atau terakota?” tanya Sabrina, mengangkat dua gulungan pita satin.

“Terakota,” kataku.

“Krem,” kata Putra.

Pasal tiga.

“Terakota konsisten dengan tema kebaya.”

“Krem lebih netral. Kotak kuenya sudah cokelat. Cokelat ditambah terakota itu terlalu banyak warna tanah. Tamu bakal merasa dikasih souvenir dari tukang batu bata.”

Alea tersedak teh.

“Kamu dosen statistik,” kataku. “Kamu nggak punya otoritas soal warna.”

“Kamu advokat. Kamu juga nggak punya otoritas soal warna.”

“Aku punya mata.”

“Aku juga punya mata. Dua. Dengan koreksi minus empat.”

“Itu bukan argumen yang membantu posisimu.”

Erwin tertawa. Tawa yang sungguhan, pertama malam itu. Sabrina menoleh padanya dan tersenyum, dan untuk sesaat, sesuatu di antara mereka melunak.

Aku menatap Putra. Dia menatapku. Kami berdua tahu kenapa kami berdebat lebih keras dari biasanya malam ini. Bukan cuma pasal tiga. Kami berdebat supaya Erwin tertawa.


Jam setengah sembilan, Alea mengumumkan bahwa dia harus tidur karena besok ada pesanan tiga ratus kue sus untuk acara arisan ibu-ibu pejabat.

“Siapa yang antar siapa?” tanya Sabrina, mengambil tasnya.

Itu pertanyaan rutin. Kami selalu mengatur pulang bareng. Erwin dengan Sabrina. Putra biasanya mengantar Alea kalau sudah terlalu malam, padahal Alea tinggal di lantai tiga Remah. Aku biasanya pulang sendiri, dengan mobilku yang sudah keluar dari bengkel bulan Desember.

Tapi malam ini mobilku di rumah. Aku datang dengan ojek online karena aku tahu, aku sudah tahu sejak pagi, dari pesan Putra jam tujuh: Nanti malam jangan bawa mobil.

Aku tidak tanya kenapa. Pasal empat tidak berlaku di chat pribadi, tapi aku tetap tidak tanya kenapa, karena aku ingin tahu bagaimana rasanya tidak tahu.

“Ly pulang sama siapa?” tanya Sabrina. “Kamu nggak bawa mobil, kan? Mau bareng kami?”

“Aku naik ojek.”

“Jam segini? Nggak. Putra, antar Lyodra.”

Putra berhenti memasukkan laptop ke tas.

“Aku nggak mau satu mobil sama dia malam ini,” kataku. Keras. Dengan nada paling ketus yang bisa kuhasilkan. Pasal tiga. Kami belum debat tiga kali malam ini. Baru dua. Soal pita dan soal apakah croissant Alea yang baru terlalu banyak mentega.

“Kenapa?” tanya Sabrina.

“Karena dia bilang terakota itu warna tukang batu bata.”

“Itu benar,” kata Putra.

“Lihat!”

Putra menutup tasnya. Lalu, tanpa menoleh padaku, dengan nada datar yang sangat meyakinkan, dia berkata:

“Nggak apa-apa. Aku juga nggak mau. Mobilku di parkiran belakang. Aku pulang jam sembilan. Kalau kamu mau ojek, silakan.”

Alea mengangguk-angguk, mencatat. “Debat ketiga. Soal transportasi. Kualitas B.”

Sabrina menghela napas. “Kalian ini. Dua belas tahun. Dua belas tahun dan kalian nggak bisa satu mobil.”

Mobilku di parkiran belakang. Jam sembilan.

Aku menunduk ke tas untuk menyembunyikan wajahku.


Parkiran belakang Remah adalah sebidang tanah sempit di belakang bangunan, diapit tembok rumah tetangga dan pohon mangga yang buahnya selalu jatuh ke atap mobil. Lampunya cuma satu, lampu neon yang berkedip di atas pintu dapur Remah. Jam sembilan malam, tidak ada siapa-siapa di sana. Alea sudah naik ke lantai tiga. Sabrina dan Erwin sudah pergi dari parkiran depan.

Aku keluar lewat pintu depan, berjalan memutari blok, masuk lewat gang kecil di samping rumah tetangga, dan muncul di parkiran belakang dengan napas sedikit terengah dan sandal yang menginjak satu buah mangga busuk.

Mobilnya di sana. Sedan abu-abu tua, mesin menyala, lampu dalam mati.

Aku membuka pintu penumpang. Masuk. Menutupnya.

Dia duduk di kursi pengemudi dengan dua tangan di setir. Tidak menoleh.

“Kamu injak mangga,” katanya.

“Kamu bisa cium dari sini?”

“Aku dengar bunyinya.”

Aku menatap ke depan, ke tembok rumah tetangga yang dicat hijau dan ditempeli stiker partai politik dari pemilu sebelumnya. Dia menatap ke depan juga.

Lalu dia mengetuk setir dua kali.

Aku mengetuk dasbor dua kali.

Lalu tidak ada yang mengetuk lagi.


“Sabrina,” kataku pelan.

“Aku tahu.”

“Dia belum mutusin.”

“Aku tahu.”

“Erwin nggak pegang tangannya semalaman.”

“Aku lihat.”

Diam. Mesin mobil berdengung pelan. Lampu neon di atas pintu dapur Remah berkedip.

“Put.”

“Hm.”

“Kalau aku yang dapat tawaran kayak Sabrina,” kataku, menatap stiker partai politik di tembok, “kamu bakal apa?”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku menghitung. Satu detik. Dua. Tiga. Lima. Delapan.

“Pasal delapan,” katanya.

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban. Kita debat. Sampai sepakat.”

“Kamu bakal debat?”

“Aku selalu debat sama kamu.”

“Bukan soal bubur. Soal hal kayak gitu. Soal yang penting.” Aku menoleh padanya. “Lima tahun lalu kamu nggak debat. Kamu bilang Leiden itu kampus bagus. Kamu bilang kesempatan kayak gitu nggak datang dua kali. Kamu bilang kamu menang dan kamu pergi.”

Dia diam.

“Aku nggak mau itu lagi,” kataku. Suaraku pecah sedikit di ujung. “Kalau ada sesuatu kayak gitu lagi, aku mau kamu melawan. Aku mau kamu bilang data? dan bongkar semua argumenku satu per satu sampai aku nggak punya alasan lagi. Aku mau kamu menang.”

Dia menoleh padaku.

Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip dari luar jendela, wajahnya berubah-ubah. Terang. Gelap. Terang. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa kubaca. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang sepertinya mau keluar, sudah sampai di ujung lidahnya, dan ditelan kembali.

“Ly,” katanya.

“Apa.”

“Kemarin di Anyer. Kemeja itu.”

“Kenapa kemeja itu?”

“Kamu bilang kalau kamu pakai kemejaku, rasanya aku ada di situ terus.”

“Iya.”

“Aku ada di sini terus,” katanya. “Bahkan waktu kamu nggak pakai kemejaku.”

Itu bukan jawaban untuk pertanyaanku. Aku tahu itu bukan jawaban. Advokat dalam diriku mencatatnya, menandainya dengan stabilo merah: saksi mengalihkan pertanyaan.

Tapi perempuan dalam diriku, yang sudah lima tahun menunggu di balik baju zirah bernama musuh, tidak peduli.

Aku melepas sabuk pengaman yang bahkan belum kupasang dengan benar. Aku berbalik sepenuhnya ke arahnya. Aku menarik kerah kemejanya.

Dia sudah setengah jalan menuju aku sebelum tanganku sampai ke kerahnya.


Ciuman di rooftop Langit Selatan adalah ciuman orang yang lima tahun menahan napas.

Ciuman di parkiran belakang Remah adalah sesuatu yang lain.

Tidak pelan. Tidak hati-hati. Tidak teliti. Tangannya di tengkukku, jari-jarinya menyusup ke rambutku yang tadi kusanggul dan sekarang sudah tidak berbentuk sanggul lagi. Tanganku masih mencengkeram kerahnya, lalu pindah ke rahangnya, lalu ke belakang lehernya, menariknya lebih dekat, lebih dalam, sampai rem tangan di antara kursi kami menekan pinggangku dan aku tidak peduli.

Dia menciumku seperti seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa dia boleh. Bahwa tidak ada pasal yang melarang. Bahwa tidak ada musuh di sini, tidak ada circle, tidak ada papan skor, tidak ada siapa-siapa kecuali dua orang dan satu mobil abu-abu tua dan satu lampu neon yang berkedip seperti sedang menghitung.

Kacamatanya miring. Aku melepasnya dengan satu tangan dan meletakkannya di dasbor tanpa melihat.

Dia mengeluarkan suara kecil di tenggorokannya, suara yang belum pernah kudengar darinya, suara yang lebih jujur dari kata apa pun yang pernah dia ucapkan, dan aku merasakan suara itu sampai ke ujung jari kakiku.

Waktu akhirnya kami berhenti, napasku tersengal seperti habis berlari dari Remah ke Tebet. Dahiku menempel di dahinya. Hidungnya menyentuh hidungku. Tanpa kacamata, matanya tidak fokus, tapi dia menatapku dari jarak dua senti dan aku tahu dia bisa melihat cukup jelas.

“Lipstikmu,” bisiknya.

“Kenapa lipstikku?”

“Ada di mana-mana.”

Aku menyalakan lampu dalam mobil. Menatap kaca spion.

Lipstik merah tua yang kupakai dengan sangat rapi jam enam sore tadi sekarang ada di dagu, di sudut kanan bibir yang melebar keluar garis, di pipi kiri. Rambutku berantakan. Wajahku merah.

Aku menoleh padanya. Lipstikku juga ada di bibirnya. Di rahangnya. Di kerah kemeja putihnya, dalam bentuk noda merah tua yang tidak akan pernah hilang dengan deterjen apa pun.

Aku tertawa. Tidak bisa ditahan. Tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan yang juga belepotan merah.

“Kamu kelihatan kayak korban penganiayaan,” kataku.

“Kamu kelihatan kayak pelakunya.”

“Kemejamu.”

Dia menunduk ke kerahnya. Menatap noda merah itu lama. Lalu dia mengangkat kepala, dan sudut bibirnya naik.

“Ini barang bukti,” katanya.

“Barang bukti harus dimusnahkan.”

“Barang bukti harus disimpan. Kamu advokat. Kamu tahu itu.”

Aku mengambil tisu basah dari tas dan mulai membersihkan wajahku di kaca spion. Dia memasang kacamatanya kembali dan memperhatikanku dengan senyum yang tidak turun.

“Ly.”

“Apa.”

“Lima menit.”

“Apa yang lima menit?”

“Kamu baru membersihkan lipstikmu sendiri lima menit. Aku belum.”

Dia menunjuk wajahnya sendiri. Rahang, bibir, leher.

Aku mengambil tisu basah baru. Mencondongkan badan. Mulai membersihkan wajahnya. Pelan. Rahang dulu. Lalu sudut bibir. Lalu leher, di bawah telinga, di tempat yang aku tidak ingat pernah menyentuh tapi jelas pernah kusentuh karena ada bekas merah samar di sana.

Dia menahan napas waktu tisu itu menyentuh lehernya.

“Diam,” bisikku.

“Aku diam.”

“Kamu nggak napas.”

“Itu cara aku diam.”

Pada tisu ketiga, aku mencium ujung hidungnya. Dia membuka mata. Lalu kami harus mulai membersihkan semuanya lagi dari awal.


Esok harinya, Minggu sore, kami kembali ke Remah untuk rapat darurat. Sabrina mengumpulkan semua orang lewat pesan pendek di grup: Rapat jam 4. Penting. Soal undangan. Tapi kami semua tahu ini bukan soal undangan.

Sabrina dan Erwin datang terlambat. Sementara menunggu, Alea menyajikan teh dan kue, dan karena tidak ada yang mau membahas hal yang sebenarnya, kami membahas undangan.

“Daftar tamunya kebanyakan,” kataku, membaca printout. “Lima ratus orang? Itu bukan nikahan. Itu kampanye politik.”

“Ibunya Sabrina punya banyak kenalan,” kata Alea.

“Kita potong jadi tiga ratus.”

“Kamu yang telepon ibunya Sabrina?”

“Putra yang telepon.”

Putra mengangkat kepala dari laptopnya. “Kenapa aku?”

“Karena kamu yang bikin bobot potensi drama keluarga dua puluh persen. Kamu yang paling ngerti risikonya.”

“Itu nggak berarti aku sanggup menghadapi ibunya Sabrina.”

“Kamu sanggup menghadapi aku.”

“Kamu beda.”

“Beda gimana?”

“Kamu cuma berbahaya buat harga diriku. Ibunya Sabrina berbahaya buat nyawaku.”

Alea tertawa. Aku tidak. Aku sedang kesal. Bukan kesal sungguhan, tapi kesal yang dibutuhkan pasal tiga. Kesal yang semakin naik karena dia duduk di seberangku dengan kemeja biru muda yang sangat rapi, kacamata yang sangat lurus, wajah yang sangat datar, seolah semalam di parkiran belakang tidak pernah terjadi. Seolah bukan dia yang membuat bibirku bengkak sampai pagi dan aku harus memakai lip balm tiga kali sebelum berangkat.

“Pokoknya kamu yang telepon,” kataku.

“Kenapa selalu aku yang dapat tugas paling berat?”

“Karena kamu yang selalu bikin semuanya jadi berat!”

“Aku bikin apa?”

“Kamu bikin...” Aku berdiri. Entah kenapa. Debat selalu membuatku berdiri. “Kamu yang bikin lipstikku harus dipakai ulang!”

Hening.

Hening total.

Alea membeku dengan cangkir teh di bibir. Teh di dalamnya bergoyang sedikit.

Putra membeku di depan laptopnya. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard.

Aku membeku di tengah ruangan, berdiri, dengan tangan masih terangkat dalam gestur menunjuk, dan kalimat itu menggantung di udara di antara kami seperti asap yang tidak bisa ditarik kembali ke dalam api.

Kamu yang bikin lipstikku harus dipakai ulang.

Tiga detik.

Lima detik.

Dari ujung tangga, terdengar langkah kaki. Sabrina dan Erwin muncul di lantai dua. Mereka berhenti di ujung tangga, merasakan atmosfer ruangan, dan menatap kami bertiga.

“Kenapa?” tanya Sabrina. “Kok sepi?”

Tidak ada yang menjawab.

Lalu Alea, perlahan, menurunkan cangkir tehnya ke atas tatakan. Bunyinya klik yang sangat pelan.

“Lyodra,” katanya, dengan nada hakim yang sangat sabar, “baru saja kehilangan argumen soal daftar tamu.”

“Oh,” kata Sabrina.

“Dan dia sangat emosional karenanya,” lanjut Alea.

“Oh.”

“Saking emosionalnya,” kata Alea, “dia mengucapkan kalimat yang tidak masuk akal secara logika.”

“Kalimat apa?” tanya Erwin.

Alea menatapku. Aku menatap Alea. Di matanya, ada sesuatu yang sangat tenang, sangat bijak, dan sangat, sangat jahil.

“Bukan apa-apa,” kata Alea. “Kalimat yang tidak relevan. Majelis hakim memutuskan untuk menghapusnya dari notulen.”

Dia mengambil pena dan mencoret sesuatu di buku pinknya. Satu garis. Tegas.

Aku duduk. Pelan. Wajahku terbakar dari dahi sampai leher.

Di seberangku, Putra kembali mengetik di laptopnya. Wajahnya datar. Sangat datar.

Tapi telinganya merah. Merah sampai ke ujung.

Dan sebelum Sabrina mulai bicara soal hal yang sebenarnya, yang membuat kami semua berkumpul di sini, aku melihatnya. Di bawah meja. Tangannya. Jari telunjuknya mengetuk lututnya sendiri.

Tok. Tok.

Aku mengetuk lututku sendiri sebagai balasan.

Alea melihatnya. Aku tahu Alea melihatnya. Dia tidak mencatat apa pun.

Itu yang paling menakutkan.